Berjihad Melawan Ujub dan Riya’

Berjihad Melawan Ujub dan Riya’

Sesungguhnya berjihad melawan Riya’ dan ujub dalam rangka mempertahankan keutuhan keihklasan merupakan jihad yang sangat berat. Kalau berjihad mengangkat senjata melawan musuh tidaklah dilakukan sepanjang hidup, adapun jihad melawan Riya’ dan ujub adalah jihad yang berkepanjangan dan butuh kewasapadaan setiap saat, dan tidak akan pernah selesai kecuali jika telah datang ajal.

Ingatlah bahwasanya Allah tidak menuntut dan tidak membebani kita untuk mencabut rasa suka pujian dari hati kita. Karena hal ini merupakan pembebanan yang mustahil. Allahlah yang telah menciptakan kita sebagai makhluk yang senang untuk dipuji dan disanjung. Justru disinilah letak peribadatan dan pembebanan tatkala dalam jiwa manusia ada kecintaan akan pujian namun ia harus melawannya, meskipun perlawanan ini terjadi berulang-ulang …bahkan sepanjang hidupnya.

Hal ini sebagaimana Allah telah menyatakan bahwa peperangan adalah suatu perkara yang dibenci oleh tabi’at manusia. Tabi’at munusia suka akan perdamaian dan suka untuk tidak membunuh manusia yang lain. Akan tetapi Allah menysyari’atkan adanya jihad untuk berperang melawan orang-orang kafir. Allah berfirman

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ (٢١٦)

Diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS Al-Baqoroh : 216)

Kita hanya berusaha semaksimal mungkin untuk ikhlas dan melawan Riya’ dan ujub, adapun hasilnya kita serahkan kepada Allah Yang Maha membolak-balikan hati manusia.

Seseorang yang telah berusaha semaksimal mungkin untuk ikhlas dan tidak riya serta tidak ujub, namun ia masih merasa kedua penyakit tersebut tidak juga sirna dari hatinya insyaa Allah ia tidak berdosa. Karena Allah berfirman

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS Al-Baqoroh : 286).

Allah juga berfirman

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu (QS At-Taghoobun : 16)

Bahkan ia akan mendapatkan ganjaran dari Allah atas usahanya yang terus menerus untuk melawan Riya’ dan ujub meskipun ia merasa tidak berhasil. Wallahu A’lam bi as-Showaab.

Ditulis oleh Ustadz DR. Firanda Andirja, MA
Judul: Berjihad Melawan Riya’ (Series)