Ujub dengan Kecerdasan dan Akal

Ujub dengan Kecerdasan dan Akal

Al-Ghozali rahimahullah berkata : “Ujub dengan akal, kecerdasan, kecerdikan, dan kepandaian terhadap perkara-perkara yang pelik dari kemaslahatan agama dan dunia. Buah dari ujub ini adalah keras kepala dengan pendapatnya dan meninggalkan musyawarah, dan membodoh-bodohkan orang-orang yang menyelisihinya dan menyelisihi pendapatnya. Juga menyebabkan kurangnya ia mendengarkan para ulama, berpaling dari mereka karena merasa sudah cukup dengan pendapat, akal sendiri, dan merendahkan mereka.

Obatnya adalah hendaknya ia bersyukur kepada Allah atas akal/kecerdasan yang telah Allah anugerahkan kepadanya, dan hendaknya ia merenungkan bahwasanya bisa saja dengan penyakit yang sangat ringan menyerang otaknya maka bagaimana akhirnya iapun menjadi orang yang terganggu dan gila sehingga jadi bahan tertawaan, maka hendaknya ia tidak merasa aman bahwa akalnya bisa dihilangkan oleh Allah jika ia ujub dengan akalnya lantas tidak menjalankan konsekuensi rasa syukur atas anugerah akalnya tersebut.

Hendaknya ia merasa kurang akalnya dan sedikit ilmunya, dan hendaknya ia mengetahui bahwasanya ia tidak dianugerahi kecuali hanya sedikit ilmu. Meskipun ilmunya luas akan tetapi apa yang dia tidak ketahui dari perkara-perkara yang diketahui manusia lebih banyak dari apa yang diketahuinya, maka bagaimana lagi dengan ilmu dari Allah yang juga tidak diketahui oleh manusia?.

Hendaknya ia mencurigai akalnya dan hendaknya ia melihat orang-orang dungu yang ta’jub dengan akal mereka padahal orang-orang menertawakan mereka, maka dia waspada jangan sampai ia termasuk orang-orang dungu tersebut tanpa dia sadari, karena seseorang yang akalnya pendek tidak sadar akan pendeknya akalnya, maka hendaknya ia mengetahui (*hakekat) kadar akalnya dari orang lain, bukan dari dirinya sendiri, dan mengetahui kadar akalnya dari musuh-musuhnya bukan dari teman-temannya, karena barangsiapa yang berbasa-basi dengannya akan memujinya sehingga akan menambah sikap ujubnya, padahal ia tidak memandang pada dirinya kecuali kebaikan, dan dia tidak sadar akan kebodohan dirinya, maka semakin bertambahlah ujubnya terhadap akalnya” (Ihyaa ‘Uluumiddiin 3/375)

Ditulis oleh Ustadz DR. Firanda Andirja, MA
Judul: Berjihad Melawan Riya’ (Series)