Tafsir Surat Nuh Ayat-12

12. وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَٰلٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّٰتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَٰرًا

wa yumdidkum bi`amwāliw wa banīna wa yaj’al lakum jannātiw wa yaj’al lakum an-hārā
12. dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.

Tafsir :

Masih lanjutan dari ayat sebelumnya, ayat ini juga menjadi dalil bahwa dengan beristighfar kepada Allah ﷻ, seseorang tidak hanya mendapatkan ganjaran ukhrawi, akan tetapi juga mendapatkan ganjaran duniawi. Dan secara umum, semua bentuk ketakwaan itu tidak hanya dijanjikan dengan ganjaran ukhrawi tetapi juga ganjaran duniawi([1]). Oleh karena itu, sebagian ulama mengatakan bahwa di antara bentuk suuzan kepada Allah ﷻ adalah menyangka bahwa ketika seseorang bertakwa maka dia akan diberi ganjaran ukhrawi semata. Karena telah jelas dalam firman Allah ﷻ bahwa orang yang bertakwa juga akan mendapatkan ganjaran duniawi. Di antaranya Allah ﷻ berfirman,

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. At-Thalaq : 2-3)

Allah ﷻ juga berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d : 28)

Terdapat sebuah atsar dari Al-Hasan Al-Bashri yang berkaitan dengan ayat ini. diriwayatkan dari Ibnu Shubaih,

شَكَا رَجُلٌ إِلَى الْحَسَنِ الْجُدُوبَةَ فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ اللَّهَ. وَشَكَا آخَرُ إِلَيْهِ الْفَقْرَ فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ اللَّهَ. وَقَالَ لَهُ آخَرُ. ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَرْزُقَنِي وَلَدًا، فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ اللَّهَ. وَشَكَا إِلَيْهِ آخَرُ جَفَافَ بُسْتَانِهِ، فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ اللَّهَ. فَقُلْنَا لَهُ فِي ذَلِكَ؟ فَقَالَ: مَا قُلْتُ مِنْ عِنْدِي شَيْئًا، إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ فِي سُورَةِ” نُوحٍ”: اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كانَ غَفَّاراً. يُرْسِلِ السَّماءَ عَلَيْكُمْ مِدْراراً

Seorang datang mengeluhkan kepada Al-Hasan tentang kekeringan, maka Al-Hasan berkata, ‘Beristighfarlah kepada Allah’. Kemudian seorang yang lain datang mengeluhkan tentang kemiskinan, maka Al-Hasan berkata, ‘Beristighfarlah kepada Allah’. Dan orang yang lain berkata kepadanya, ‘Berdoalah kepada Allah agar Dia menganugerahkan anak kepadaku’, maka Al-Hasan berkata, ‘Beristighfarlah kepada Allah’. Kemudian seorang yang lain datang mengeluhkan kebunnya yang kering, maka Al-Hasan berkata kepadanya, ‘Beristighfarlah kepada Allah’. Maka kami (muridnya) bertanya kepada Al-Hasan tentang perbuatannya itu. Maka Al-Hasan berkata, ‘Aku sama sekali tidak berpendapat dengan pendapat pribadi, sesungguhnya Allah berfirman dalam surah Nuh, “Mohonlah ampunan kepada Rabb-mu, sesunnguhnya dia adalah Maha Pengampun, niscaya dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai” (QS. Nuh : 10-12)’.”([2])

Benarlah apa yang dinasihatkan oleh Al-Hasan Al-Basri ini. Bahkan apa yang disebutkan oleh Nabi Nuh ‘alaihissalam dalam surah ini hanya beberapa contoh keutamaan istighfar, dan kebetulan permasalahan tersebut adalah permasalahan yang sedang dialami oleh kaumnya Nabi Nuh ‘alaihissalam. Adapun pada dasarnya segala permasalahan solusinya adalah istighfar. Karena tidak ada suatu masalah yang menimpa diri kita kecuali karena dosa-dosa kita. Oleh karenanya dalam sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,

مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya.”([3])

Apa-apa yang disebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits ini menunjukkan bahwa tidaklah seseorang akan mengalami hal tersebut kecuali karena dosa-dosanya.  Segala kesedihan yang menimpa diri kita, permasalahan yang terjadi di dalam keluarga, di masyarakat, dan di tempat kerja, itu semua karena dosa-dosa kita sendiri. Allah ﷻ berfirman,

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi.” (QS. An-Nisa’ : 79)

Allah ﷻ juga berfirman,

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura : 30)

Oleh karenanya dalam sebuah atsar dikatakan,

مَا نَزَلَ البَلَاء إِلَّا بِذَنْبٍ، وَلَا رَفَعَ إِلَّا بِتَّوْبَةْ

Tidaklah bencana turun kecuali karena dosa, dan tidaklah bencana tersebut diangkat kecuali dengan taubat.

Oleh karenanya istighfar adalah solusi segala permasalahan. Maka seseorang hendaknya berusaha beristighfar dengan baik, bertaubat dengan baik, dan mengenali betul kesalahannya. Dengan demikian niscaya Allah ﷻ akan memberikan kepadanya solusi. Maka ketika kita mendapati segala permasalahan, maka segera kita memperbanyak istighfar, karena hal itu bisa menghilangkan masalah kita, dan Allah ﷻ Maha Tahu dengan istighfar kita. ([4])

Perhatikan pula, bahwa yang diajak untuk beristighfar oleh Nabi Nuh ‘alaihissalam adalah kaumnya yang masih kafir, jika mereka beristighfar maka mereka akan diberi berbagai macam kenikmatan duniawi. Kalau orang yang kafir saja akan diberikan berbagai macam kemudahan duniawi, maka bagaimana lagi jika yang beristighfar itu adalah seorang mukmin? Namun adapun kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam tetap tidak ingin beristighfar meskipun telah dijanjikan duniawi. Ini semua menunjukkan tentang betapa baiknya Allah ﷻ, dimana seseorang yang bermaksiat kemudian bertaubat kepada Allah, maka bukan hanya dosa-dosanya dihapuskan, akan tetapi juga diberi bonus berbagai kenikmatan di dunia dan di akhirat. Siapa yang lebih baik dari Allah ﷻ?

___________________

Footnote :

([1])  Lihat: Tafsir Al-Mawardiy 6/101.

([2])  Tafsir Al-Qurthubi 18/302

([3])  HR. Bukhari no. 5641

([4])  Lihat: Tafsir Ar-Raziy 30/652.