Tafsir Surat Al-Muddatstsir Ayat-17

17. سَأُرْهِقُهُۥ صَعُودًا

sa`ur-hiquhụ ṣa’ụdā
17. Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan.

Tafsir :

إرهاق artinya membuat payah, sedangkan صَعُودًا artinya adalah sambil naik ([1]). Ada yang menyebutkan bahwa maksudnya adalah Allah ﷻ akan memberikan siksaan yang bertambah-tambah, semakin sulit dan semakin sulit ([2]). Ada pula yang mengatakan bahwa maksudnya adalah Allah ﷻ akan memberinya azab berupa perintah panjat sebuah gunung yang sangat panas di neraka jahannam yang jika dia meletakkan tangan di gunung tersebut maka tangannya akan meleleh ([3]).

Setelah Allah ﷻ menyebutkan tentang nasib Al-Walid Ibnul Mughirah di neraka, maka Allah ﷻ menyebutkan alasan dia disiksa, yaitu dia berbicara dengan serampangan (ngawur) ([4]). Kata Allah ﷻ,

إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ

Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya).” (QS. Al-Muddatstsir : 18)

Ayat ini turun tentang Al-Walid Ibnul Mughirah tatkala dia tertarik dengan dakwah Nabi ﷺ. Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwasanya Al-Walid Ibnul Mughirah senang mendengar bacaan-bacaan Nabi ﷺ (Alquran). Terkadang dia datang ke rumah Abu Bakar radhiallahu ‘anhu untuk mendengar bacaan Alqurannya. Dari Ikrimah radhiallahu ‘anhu, bahwa Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata,

أَنَّ الْوَلِيدَ بْنَ الْمُغِيرَةِ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَرَأَ عَلَيْهِ الْقُرْآنَ، فَكَأَنَّهُ رَقَّ لَهُ فَبَلَغَ ذَلِكَ أَبَا جَهْلٍ، فَأَتَاهُ فَقَالَ: يَا عَمُّ، إِنَّ قَوْمَكَ يَرَوْنَ أَنْ يَجْمَعُوا لَكَ مَالًا. قَالَ: لَمَ؟ قَالَ: لِيُعْطُوكَهُ فَإِنَّكَ أَتَيْتَ مُحَمَّدًا لِتُعْرِضَ لِمَا قِبَلَهُ، قَالَ: قَدْ عَلِمَتْ قُرَيْشٌ أَنِّي مِنْ أَكْثَرِهَا مَالًا. قَالَ: فَقُلْ فِيهِ قَوْلًا يَبْلُغُ قَوْمَكَ أَنَّكَ مُنْكِرٌ لَهُ أَوْ أَنَّكَ كَارِهٌ لَهُ، قَالَ: وَمَاذَا أَقُولُ «فَوَاللَّهِ مَا فِيكُمْ رَجُلٌ أَعْلَمَ بِالْأَشْعَارِ مِنِّي، وَلَا أَعْلَمَ بِرَجَزٍ وَلَا بِقَصِيدَةٍ مِنِّي وَلَا بِأَشْعَارِ الْجِنِّ وَاللَّهِ مَا يُشْبِهُ الَّذِي يَقُولُ شَيْئًا مِنْ هَذَا وَوَاللَّهِ إِنَّ لِقَوْلِهِ الَّذِي يَقُولُ حَلَاوَةً، وَإِنَّ عَلَيْهِ لَطَلَاوَةً، وَإِنَّهُ لَمُثْمِرٌ أَعْلَاهُ مُغْدِقٌ أَسْفَلُهُ، وَإِنَّهُ لَيَعْلُو وَمَا يُعْلَى وَإِنَّهُ لَيَحْطِمُ مَا تَحْتَهُ» قَالَ: لَا يَرْضَى عَنْكَ قَوْمُكَ حَتَّى تَقُولَ فِيهِ. قَالَ: فَدَعْنِي حَتَّى أُفَكِّرَ

Al-Walid bin Al-Mughirah datang menemui Nabi . Kemudian Rasulullah membacakan Alquran kepadanya. Sepertinya Alquran itu melembutkannya (membuatnya tertarik). Kabar ini pun sampai kepada Abu Jahal([5]). Ia pun datang menemui Al-Walid dan berkata, ‘Wahai paman, sesungguhnya kaummu ingin mengumpulkan harta untukmu’. Al-Walid berkata, ‘Untuk apa?’. Abu Jahal berkata, ‘Untuk diberikan kepadamu, karena engkau datang menemui Muhammad untuk menentang ajaran sebelumnya (ajaran nenek moyang)’. Al-Walid berkata, ‘Orang-orang Quraisy telah mengetahui bahwa aku termasuk yang paling banyak hartanya’. Abu Jahal berkata, ‘Maka ucapkanlah tentangnya suatu ucapan yang menjelaskan kepada kaummu bahwa engkau mengingkarinya atau membencinya’. Al-Walid berkata, ‘Apa yang harus aku katakan? Demi Allah, tidak ada seorang pun di antara kalian yang lebih paham dariku tentang sya’ir-sya’ir. Tidak ada yang lebih paham dariku tentang rajaznya (irama sajak) juga qasidahnya, juga sya’ir jin. Demi Allah, perkataannya sama sekali tidak menyerupai itu semua. Dan Demi Allah, ucapan yang diucapkannya itu manis, dan padanya ada kenikmatan. Sesungguhnya perkataannya itu, bagian atasnya berbuah dan bagian bawahnya subur. Ucapannya itu tinggi dan tidak ada yang mengunggulinya, serta bisa menghancurkan semua yang berada di bawahnya’. Abu Jahal berkata, ‘Kaummu tidak akan senang sampai engkau mengatakan sesuatu tentang Alquran’. Maka Al-Walid berkata, ‘Tinggalkan aku, biarkan aku berpikir’.”([6])

Dalam riwayat yang lain Al-Walid Ibnul Mughirah berkata,

فَوَاللَّهِ مَا هُوَ بِشِعْرٍ وَلَا بِسَحْرٍ وَلَا بهذْي مِنَ الْجُنُونِ، وَإِنَّ قَوْلَهُ لِمَنْ كَلَامِ اللَّهِ. فَلَمَّا سَمِعَ بِذَلِكَ النفرُ مِنْ قُرَيْشٍ ائْتَمَرُوا فَقَالُوا: وَاللَّهِ لَئِنْ صَبَا الْوَلِيدُ لتصْبُوَنَّ قُرَيْشٌ

Demi Allah, apa yang dikatakannya bukanlah syair, bukan sihir, bukan pula kata-kata orang gila, tetapi sesungguhnya ucapannya itu benar-benar Kalam Allah.” Ketika segolongan orang-orang Quraisy mendengar ucapan Al-Walid Ibnul Mughirah itu, maka mereka menebar hasutan dan mengatakan kepada orang-orang Quraisy, ‘Demi Allah, jika Al-Walid masuk agama baru, benar-benar orang-orang Quraisy pun akan mengikuti jejaknya’.”([7])

Karena orang-orang Quraisy khawatir Al-Walid akan masuk Islam, maka sebagaimana riwayat sebelumnya, Abu Jahal datang untuk memprovokasi al-Walid sehingga Al-Walid pun terprovokasi untuk berfikir keras bagaimana cara mencela al-Qur’an dengan celaan yang menurutnya masuk akal dan logis.

_________________________________________

Footnote :

([1]) Lihat: At-Tahrir wat Tanwir 29/306-307

([2]) Lihat: Tafsir At-Thobari 23/426

([3]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 19/73

([4]) Lihat: At-Tahrir wat Tanwir 29/306

([5])  Abu Jahal dan Al-Walid Ibnul Mughirah adalah sama-sama berasal dari Bani Makhzum. Sementara kabilah Makhzum adalah saingan bagi kabilah Bani Hasyim yang merupakan kabilah Nabi ﷺ. Kedua kabilah ini senantiasa bersaing untuk meraih ketenaran dan kemuliaan di hadapan kabilah-kabilah Arab Quraisy secara khusus dan kabilah Arab seluruhnya, sehingga kedua kabilah ini terus bersaing dan tidak ada yang bisa menyaingi kabilah Bani Hasyim kecuali kabilah Bani Makhzum. Jika Bani Hasyim memberi makan bagi jamaah haji, maka Bani Makhzum juga akan bersedekah memberi makan bagi jamaah haji. Jika Bani Hasyim banyak membantu orang-orang susah, maka Bani Makhzum juga akan membantu orang-orang susah. Maka tatkala muncul seorang Nabi dari Bani Hasyim bernama Muhammad bin Abdullah, maka Bani Makhzum tidak bisa memiliki Nabi. Untuk menyaingi Bani Hasyim dalam hal ini (memiliki Nabi) agar persaingan tetap setara, maka Bani Makhzum berupaya untuk tidak mengakui Nabi dari Bani Hasyim dan harus didustakan. Jika Nabi Muhammad ﷺ dari Bani Hasyim tidak didustakan, maka Bani Makhzum akan kalah. Dan yang jadi masalah ketika itu adalah pemimpin Bani Makhzum Al-Walid Ibnul Mughirah sudah mulai bermain-main untuk bertemu dengan Nabi Muhammad ﷺ. Maka Abu Jahal menganggap bahwa kedatangan Al-Walid Ibnul Mughirah kepada Nabi ﷺ adalah malapetaka bagi Bani Makhzum, karena jika sampai Al-Walid Ibnul Mughirah masuk Islam, maka semua Bani Makhzum akan masuk Islam.

([6])  HR. Al-Hakim no. 3872 dalam Al-Mustadrak, juga disebutkan dalam Syu’abul Iman no. 133

([7])  Tafsir Ibnu Katsir 8/267