Quran Surat Al-Jin

1. قُلْ أُوحِىَ إِلَىَّ أَنَّهُ ٱسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ ٱلْجِنِّ فَقَالُوٓا۟ إِنَّا سَمِعْنَا قُرْءَانًا عَجَبًا

qul ụḥiya ilayya annahustama’a nafarum minal-jinni fa qālū innā sami’nā qur`ānan ‘ajabā
1. Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan,

2. يَهْدِىٓ إِلَى ٱلرُّشْدِ فَـَٔامَنَّا بِهِۦ ۖ وَلَن نُّشْرِكَ بِرَبِّنَآ أَحَدًا

yahdī ilar-rusydi fa āmannā bih, wa lan nusyrika birabbinā aḥadā
2. (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami,

3. وَأَنَّهُۥ تَعَٰلَىٰ جَدُّ رَبِّنَا مَا ٱتَّخَذَ صَٰحِبَةً وَلَا وَلَدًا

wa annahụ ta’ālā jaddu rabbinā mattakhaża ṣāḥibataw wa lā waladā
3. dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak.

4. وَأَنَّهُۥ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى ٱللَّهِ شَطَطًا

wa annahụ kāna yaqụlu safīhunā ‘alallāhi syaṭaṭā
4. Dan bahwasanya: orang yang kurang akal daripada kami selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah,

5. وَأَنَّا ظَنَنَّآ أَن لَّن تَقُولَ ٱلْإِنسُ وَٱلْجِنُّ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا

wa annā ẓanannā al lan taqụlal-insu wal-jinnu ‘alallāhi każibā
5. dan sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah.

6. وَأَنَّهُۥ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ ٱلْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ ٱلْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

wa annahụ kāna rijālum minal-insi ya’ụżụna birijālim minal-jinni fa zādụhum rahaqā
6. Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.

7. وَأَنَّهُمْ ظَنُّوا۟ كَمَا ظَنَنتُمْ أَن لَّن يَبْعَثَ ٱللَّهُ أَحَدًا

wa annahum ẓannụ kamā ẓanantum al lay yab’aṡallāhu aḥadā
7. Dan sesungguhnya mereka (jin) menyangka sebagaimana persangkaan kamu (orang-orang kafir Mekah), bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang (rasul)pun,

8. وَأَنَّا لَمَسْنَا ٱلسَّمَآءَ فَوَجَدْنَٰهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيدًا وَشُهُبًا

wa annā lamasnas-samā`a fa wajadnāhā muli`at ḥarasan syadīdaw wa syuhubā
8. dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api,

9. وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَٰعِدَ لِلسَّمْعِ ۖ فَمَن يَسْتَمِعِ ٱلْءَانَ يَجِدْ لَهُۥ شِهَابًا رَّصَدًا

wa annā kunnā naq’udu min-hā maqā’ida lis-sam’, fa may yastami’il-āna yajid lahụ syihābar raṣadā
9. dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).

10. وَأَنَّا لَا نَدْرِىٓ أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَن فِى ٱلْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا

wa annā lā nadrī asyarrun urīda biman fil-arḍi am arāda bihim rabbuhum rasyadā
10. Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.

11. وَأَنَّا مِنَّا ٱلصَّٰلِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَٰلِكَ ۖ كُنَّا طَرَآئِقَ قِدَدًا

wa annā minnaṣ-ṣāliḥụna wa minnā dụna żālik, kunnā ṭarā`iqa qidadā
11. Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.

12. وَأَنَّا ظَنَنَّآ أَن لَّن نُّعْجِزَ ٱللَّهَ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَن نُّعْجِزَهُۥ هَرَبًا

wa annā ẓanannā al lan nu’jizallāha fil-arḍi wa lan nu’jizahụ harabā
12. Dan sesungguhnya kami mengetahui bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (daripada)Nya dengan lari.

13. وَأَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا ٱلْهُدَىٰٓ ءَامَنَّا بِهِۦ ۖ فَمَن يُؤْمِنۢ بِرَبِّهِۦ فَلَا يَخَافُ بَخْسًا وَلَا رَهَقًا

wa annā lammā sami’nal-hudā āmannā bih, fa may yu`mim birabbihī fa lā yakhāfu bakhsaw wa lā rahaqā
13. Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al Quran), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan.

14. وَأَنَّا مِنَّا ٱلْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا ٱلْقَٰسِطُونَ ۖ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ تَحَرَّوْا۟ رَشَدًا

wa annā minnal-muslimụna wa minnal-qāsiṭụn, fa man aslama fa ulā`ika taḥarrau rasyadā
14. Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus.

15. وَأَمَّا ٱلْقَٰسِطُونَ فَكَانُوا۟ لِجَهَنَّمَ حَطَبًا

wa ammal-qāsiṭụna fa kānụ lijahannama ḥaṭabā
15. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam.

16. وَأَلَّوِ ٱسْتَقَٰمُوا۟ عَلَى ٱلطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَٰهُم مَّآءً غَدَقًا

wa al lawistaqāmụ ‘alaṭ-ṭarīqati la`asqaināhum mā`an gadaqā
16. Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).

17. لِّنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَمَن يُعْرِضْ عَن ذِكْرِ رَبِّهِۦ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا

linaftinahum fīh, wa may yu’riḍ ‘an żikri rabbihī yasluk-hu ‘ażāban ṣa’adā
17. Untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat.

18. وَأَنَّ ٱلْمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدًا

wa annal-masājida lillāhi fa lā tad’ụ ma’allāhi aḥadā
18. Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.

19. وَأَنَّهُۥ لَمَّا قَامَ عَبْدُ ٱللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا۟ يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا

wa annahụ lammā qāma ‘abdullāhi yad’ụhu kādụ yakụnụna ‘alaihi libadā
19. Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.

20. قُلْ إِنَّمَآ أَدْعُوا۟ رَبِّى وَلَآ أُشْرِكُ بِهِۦٓ أَحَدًا

qul innamā ad’ụ rabbī wa lā usyriku bihī aḥadā
20. Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya”.

21. قُلْ إِنِّى لَآ أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا

qul innī lā amliku lakum ḍarraw wa lā rasyadā
21. Katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan”.

22. قُلْ إِنِّى لَن يُجِيرَنِى مِنَ ٱللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِن دُونِهِۦ مُلْتَحَدًا

qul innī lay yujīranī minallāhi aḥaduw wa lan ajida min dụnihī multaḥadā
22. Katakanlah: “Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya”.

23. إِلَّا بَلَٰغًا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِسَٰلَٰتِهِۦ ۚ وَمَن يَعْصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَإِنَّ لَهُۥ نَارَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا

illā balāgam minallāhi wa risālātih, wa may ya’ṣillāha wa rasụlahụ fa inna lahụ nāra jahannama khālidīna fīhā abadā
23. Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.

24. حَتَّىٰٓ إِذَا رَأَوْا۟ مَا يُوعَدُونَ فَسَيَعْلَمُونَ مَنْ أَضْعَفُ نَاصِرًا وَأَقَلُّ عَدَدًا

ḥattā iżā ra`au mā yụ’adụna fa saya’lamụna man aḍ’afu nāṣiraw wa aqallu ‘adadā
24. Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka, maka mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya.

25. قُلْ إِنْ أَدْرِىٓ أَقَرِيبٌ مَّا تُوعَدُونَ أَمْ يَجْعَلُ لَهُۥ رَبِّىٓ أَمَدًا

qul in adrī a qarībum mā tụ’adụna am yaj’alu lahụ rabbī amadā
25. Katakanlah: “Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Tuhanku menjadikan bagi (kedatangan) azab itu masa yang panjang?”.

26. عَٰلِمُ ٱلْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِۦٓ أَحَدًا

‘ālimul-gaibi fa lā yuẓ-hiru ‘alā gaibihī aḥadā
26. (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.

27. إِلَّا مَنِ ٱرْتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُۥ يَسْلُكُ مِنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦ رَصَدًا

illā manirtaḍā mir rasụlin fa innahụ yasluku mim baini yadaihi wa min khalfihī raṣadā
27. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.

28. لِّيَعْلَمَ أَن قَدْ أَبْلَغُوا۟ رِسَٰلَٰتِ رَبِّهِمْ وَأَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَأَحْصَىٰ كُلَّ شَىْءٍ عَدَدًۢا

liya’lama ang qad ablagụ risālāti rabbihim wa aḥāṭa bimā ladaihim wa aḥṣā kulla syai`in ‘adadā
28. Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.

Asbabun Nuzul Surat Al-Jin

Surah Al-Jin adalah surah Makkiyah, yaitu surah yang diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum Nabi berhijrah ke kota Madinah ([1]). Adapun Topik dari surah ini adalah untuk menunjukkan kemuliaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak hanya diutus untuk umat manusia, namun juga untuk bangsa jin. Dan untuk menegaskan bahwa tidak ada Rasul dari kalangan bangsa jin, sehingga Rasul bagi bangsa jin merupakan Rasul bagi manusia yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Mengenai sebab turunnya surah ini, para ulama Ahli Tafsir menyebutkan dua kisah.

Kisah pertama terdapat dalam sebuah hadits, dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,

انْطَلَقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي طَائِفَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ عَامِدِينَ إِلَى سُوقِ عُكَاظٍ، وَقَدْ حِيلَ بَيْنَ الشَّيَاطِينِ وَبَيْنَ خَبَرِ السَّمَاءِ، وَأُرْسِلَتْ عَلَيْهِمُ الشُّهُبُ، فَرَجَعَتِ الشَّيَاطِينُ إِلَى قَوْمِهِمْ، فَقَالُوا: مَا لَكُمْ؟ فَقَالُوا: حِيلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَ خَبَرِ السَّمَاءِ، وَأُرْسِلَتْ عَلَيْنَا الشُّهُبُ، قَالُوا: مَا حَالَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ خَبَرِ السَّمَاءِ إِلَّا شَيْءٌ حَدَثَ، فَاضْرِبُوا مَشَارِقَ الأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا، فَانْظُرُوا مَا هَذَا الَّذِي حَالَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ خَبَرِ السَّمَاءِ، فَانْصَرَفَ أُولَئِكَ الَّذِينَ تَوَجَّهُوا نَحْوَ تِهَامَةَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ بِنَخْلَةَ عَامِدِينَ إِلَى سُوقِ عُكَاظٍ، وَهُوَ يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ صَلاَةَ الفَجْرِ، فَلَمَّا سَمِعُوا القُرْآنَ اسْتَمَعُوا لَهُ، فَقَالُوا: هَذَا وَاللَّهِ الَّذِي حَالَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ خَبَرِ السَّمَاءِ، فَهُنَالِكَ حِينَ رَجَعُوا إِلَى قَوْمِهِمْ، وَقَالُوا: يَا قَوْمَنَا: {إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا، يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ، فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا} [الجن: 2]، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الجِنِّ} [الجن: 1] وَإِنَّمَا أُوحِيَ إِلَيْهِ قَوْلُ الجِنِّ

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersama sekelompok sahabat berangkat menuju pasar ‘Ukazh. Saat itu telah ada penghalang antara syaithan dan berita-berita langit, dan mereka dilempari bintang sebagai penghalang. Maka syaithan-syaithan kembali menemui kaumnya. Lalu kaumnya berkata, ‘Apa yang terjadi dengan kalian?’ Syaithan-syaithan tersebut menjawab, ‘Telah ada penghalang antara kami dan berita-berita langit dengan dikirimnya bintang’. Kaumnya berkata, ‘Tidak ada penghalang antara kalian dan berita-berita langit kecuali telah ada sesuatu yang terjadi. Pergilah kalian ke seluruh penjuru timur bumi dan baratnya, lalu perhatikanlah apa penghalang antara kalian dan berita-berita langit’. Maka berangkatlah syaithan-syaithan yang ada di Tihamah untuk mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau yang sedang berada di pasar ‘Ukazh. Saat itu beliau dan para sahabat sedang melaksanakan shalat subuh. Ketika syaithan-syaithan itu mendengar Alquran, mereka menyimaknya dengan baik hingga mereka pun berkata, ‘Demi Allah, inilah yang menjadi penghalang antara kalian dan berita-berita langit’. Dan perkataan ini pula yang disampaikan ketika mereka kembali kepada kaum mereka. Lantas mereka berkata kepada kaumnya, ‘Wahai kaumku, sesungguhnya kami telah mendengarkan Alquran yang menakjubkan. Yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami (Qs. Al Jin: 1-2)’. Maka kemudian Allah menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam: ‘Katakanlah (Muhammad): Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya telah mendengarkan (Alquran) sekumpulan jin (Qs. Al Jin: 1)’. Yakni diwahyukan kepada beliau perkataan jin.”(([2]))

Inilah sebab pertama diturunkannya surah Al-Jin

Kisah kedua, disebutkan oleh Thahir Ibnu ‘Asyur([3]), dan disebutkan pula oleh Muhammad bin Ishaq dalam sirahnya, bahwasanya surah Al-Jin turun kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah beliau pulang dari berdakwah di kota Thaif. Dan sebagaimana kita ketahui bahwa tatkala beliau berdakwah di kota Thaif, ternyata dakwah beliau di tolak dan dihina. Bahkan beliau mendatangi tiga orang pembesar kota Thaif, di antaranya adalah Abdul Yalail untuk menawarkan Islam, akan tetapi mereka menolak dengan keras. Bahkan salah seorang di antara mereka berkata,

أَمَا وَجَدَ اللَّهُ أَحَدًا أَرْسَلَهُ غَيْرَكَ؟

Apakah Allah tidak menemukan seorang untuk diutus menjadi seorang Rasul selain engkau?”(([4]))

Sungguh ini adalah penghinaan yang berat bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Intinya akhirnya mereka mengusir Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari kota Thaif dengan penuh kesedihan, dan ketika itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berjalan dengan Zaid bin Haritsah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari kota Thaif dengan merasa amat terhina, terlebih lagi beliau keluar dengan disambut oleh anak-anak kecil dan orang gila yang melempari beliau dengan batu. Dan hal itu merupakan cara orang-orang Arab dalam menghina seseorang. Datang dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa tatkala terusir dari kota Thaif, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa,

اللَّهمّ إلَيْكَ أَشْكُو ضَعْفَ قُوَّتِي، وَقِلَّةَ حِيلَتِي، وَهَوَانِي عَلَى النَّاسِ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، أَنْتَ رَبُّ الْمُسْتَضْعَفِينَ، وَأَنْتَ رَبِّي، إلَى مَنْ تَكِلُنِي؟ إلَى بَعِيدٍ يَتَجَهَّمُنِي؟ أَمْ إلَى عَدُوٍّ مَلَّكْتَهُ أَمْرِي؟ إنْ لَمْ يَكُنْ بِكَ عَلَيَّ غَضَبٌ فَلَا أُبَالِي

Ya Allah, hanya kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, dan sedikitnya upayaku, serta hinanya diriku di hadapan manusia. Ya Arhamar-Rahimin, Engkau adalah Rabb orang-orang yang lemah dan juga Rabbku. Kepada siapa Engkau serahkan diriku? Kepada orang jauh yang menerimaku dengan muka masam? Ataukah kepada musuh yang menguasai urusanku? Jika tidak ada kemurkaan-Mu terhadapku, maka aku tidak peduli.”([5])

Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan. Karena saking sedihnya, beliau berjalan tanpa sadar sehingga tiba di suatu tempat bernama Ats-Tsa’alib. Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di tempat itu, Allah Subhanahu wa ta’ala kemudian mengutus malaikat Jibril dan malaikat gunung. Kemudian malaikat gunung berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

يَا مُحَمَّدُ، إِنَّ اللهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ، وَأَنَا مَلَكُ الْجِبَالِ وَقَدْ بَعَثَنِي رَبُّكَ إِلَيْكَ لِتَأْمُرَنِي بِأَمْرِكَ، فَمَا شِئْتَ، إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمُ الْأَخْشَبَيْنِ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

Wahai Muhammad, Sungguh Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu, dan aku malaikat penjaga gunung telah diutus oleh Rabbmu untuk menemuimu guna melaksanakan apa yang engkau kehendaki. Jika Anda menghendaki, maka aku akan menutupkan dua gunung ini kepada mereka’. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, ‘Bahkan aku sangat berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang-tulang sulbi mereka orang yang mau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun’.” ([6])

Muhammad bin Ishaq kemudian mendatangkan suatu riwayat bahwa setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi kota Thaif, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian shalat. Dalam shalat beliau tersebut, beliau sedih. Namun tiba-tiba datang sekelompok jin mendengar lantunan bacaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa ta’ala disebutkan,

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ، قَالُوا يَاقَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ، يَاقَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ، وَمَنْ لَا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءُ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu (Muhammad) segerombongan jin yang mendengarkan (bacaan) Alquran, maka ketika mereka menghadiri (pembacaan)nya mereka berkata, ‘Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)’. Maka ketika telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata, ‘Wahai kaum kami, sungguh kami telah mendengarkan Kitab (Alquran) yang diturunkan setelah Musa, membenarkan (kitab-kitab) yang datang sebelumnya, membimbing kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Wahai kaum kami, terimalah (seruan) orang (Muhammad) yang menyeru kepada Allah. Dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Dia akan mengampuni dosa-dosamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan barangsiapa tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah (Muhammad) maka dia tidak akan dapat melepaskan diri dari siksa Allah di bumi padahal tidak ada pelindung baginya selain Allah. Mereka berada dalam kesesatan yang nyata’.” (QS. Al-Ahqaf: 29-32)

Dalam ayat ini, yang menakjubkan adalah Allah Subhanahu wa ta’ala menghibur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tatkala beliau diusir dari Mekkah dan dihina oleh orang-orang Quraisy dan kabilah Tsaqif, ternyata ada bangsa lain yang beriman kepada beliau yaitu bangsa jin. Seakan-akan Allah Subhanahu wa ta’ala berkata, “Wahai Muhammad, jika engkau tidak diterima oleh manusia, ada bangsa jin yang akan beriman kepadamu”. Dan ini adalah pemuliaan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau adalah Rasul yang diutus kepada manusia dan juga kepada bangsa jin. Inilah kisah singkat yang disebutkan oleh Ahli Tafsir sebagai di antara sebab turunnya surah Al-Jin.

Faedah-faedah dari surah Al-Jin,

  1. Bukan hanya manusia yang diberi beban untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, tetapi jin juga diberi beban yang sama. Dan secara umum syariat yang berlaku pada manusia juga berlaku pada jin. Adapun secara detail, hanya Allah yang mengetahuinya.
  2. Jika para jin beribadah kepada Allah maka mereka tidak boleh disembah, karena mereka juga adalah makhluk yang menyembah Allah.
  3. Sebagaimana di antara manusia ada Da’i, demikian pula di kalangan jin juga memiliki Da’i yang menyeru kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. ([1])
  4. Kita kemudian tahu bahwa di antara jin terdapat jin yang cerdas yang bisa menangkap isi dan maksud Alquran, dan mereka berdakwah dengan retorika yang bagus dan penuh kelembutan. ([2])
  5. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah makhluk yang paling mulia, namun ternyata beliau tidak hanya diutus untuk manusia tetapi juga untuk bangsa jin.
  6. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah Tuhan yang disembah, tetapi beliau hanya manusia biasa yang juga menegakkan penghambaan kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bisa memberi manfaat dan mudharat, bahkan beliau juga takut akan siksaan Allah Subhanahu wa ta’ala.

([1])  Lihat Tafsir Al-Qurthubi: 19/ 3.

([2])  Lihat Tahrir wa At-Tanwir : 29/ 232.

__________________

Footnote:

([1])  Tafsir Al-Qurthubi: 19/ 1.

([2])  HR. Bukhari no. 773

([3])  At-Tahriir wa At-Tanwiir 12/217

([4])  Sirah An-Nabawiyah Ibnu Katsir 2/149

([5])  Sirah Ibnu Hisyam tahqiq As-Saqa 1/420.

([6])  HR Al-Bukhari no 3231 dan Muslim no 1795.