Tafsir Surat ath-Thariq Ayat-10

10. فَمَا لَهُۥ مِن قُوَّةٍ وَلَا نَاصِرٍ

fa mā lahụ ming quwwatiw wa lā nāṣir
maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatanpun dan tidak (pula) seorang penolong.

Tafsir Surat ath-Thariq Ayat-10

Seseorang yang akan diazab oleh Allah maka dia tidak akan bisa menolak azab tersebut, dan juga tidak ada orang lain yang bisa menolong dia. Tidak ada kekuatan dari dirinya dan tidak pula dari orang lain. Allah berfirman:

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ

“Apabila sangkakala ditiup maka tidak ada lagi pertalian keluarga di antara mereka pada hari itu (hari kiamat), dan tidak (pula) mereka saling bertanya.” (QS Al-Mu’minun : 101)

Bagaimana seorang ayah dan ibu akan menolong anaknya atau sebaliknya -jika telah ditetapkan masuk neraka-, sementara pada hari kiamat satu sama lain akan lari saling meninggalkan. Allah berfirman:

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (34) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (35) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (36)

“(34) Pada hari itu manusia lari dari saudaranya; (35) dan dari ibu dan bapaknya; (36) dan dari istri dan anak-anaknya.” (QS ‘Abasa : 34-36)

Oleh karena itu, ingatlah bahwasanya yang akan menolong kita adalah amalan kita. Jangan pernah berharap kepada orang lain. Karenanya, dijumpai sebagian orang yang terlalu berlebihan terhadap orang shaleh di sekitarnya. Mereka menganggap bahwasanya orang-orang shaleh tersebut akan menolongnya di akhirat. Dia sengaja mendekati orang-orang shaleh yang merupakan keturunan Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam, jika cucu Nabi tersebut ridha maka mereka menganggap dirinya akan selamat di akhirat. Namun ini adalah pemahaman yang tidak benar. Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam saja bersabda mengatakan kepada putrinya:

يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِى مَا شِئْتِ مِنْ مَالِى لاَ أُغْنِى عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

Wahai Fatimah puteri Muhammad, mintalah padaku apa yang engkau mau dari hartaku, sesungguhnya aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah.” (HR Bukhari no. 2753 dan Muslim no. 206)

Padahal ini adalah perkataan Nabi kepada putrinya yang sangat dia cintai. Sehingga masing-masing orang itu bersama dengan amalannya. Nabi Ibrahim ‘alayhissalam tidak bisa menolong ayahnya, Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam tidak bisa menolong ayahnya, ibunya, dan pamannya. Oleh karena itu, tidak ada namanya ajaran agama yang bisa mengobral keselamatan sebagaimana apa yang diajarkan oleh sebagian tareqat-tareqat yang mengobralkan surga, mereka berpemahaman apabila Syaikhnya ridha maka mereka akan selamat. Dan ini adalah pemahaman yang keliru. Hendaknya seseorang berusaha mencari keselamatan dengan amalannya masing-masing.