Tafsir Surat al-Ghasyiyah Ayat-6

6. لَّيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلَّا مِن ضَرِيعٍ

laisa lahum ṭa’āmun illā min ḍarī’
Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri.

Tafsir Surat al-Ghasyiyah Ayat-6

Yang dimaksud dengan ضَرِيعٌ sebagaimana yang disebutkan oleh para ahli tafsir adalah semacam sejenis tumbuhan berduri yang jika dalam kondisi basah dikenal dengan nama الشِّبْرِقُ syibriq jika oleh orang-orang Quraisy, dan jika dalam kondisi kering disebut dengan dhorii’, dimana tumbuhan ini tidak didekati oleh hewan-hewan karena tumbuhan ini beracun. Dan sebagian ulama berpendapat bahwa dhorii’ adalah pohon yang terbuat dari api (lihat Tafsiir At-Thobari 24/331-333). Disebutkan bahwasanya seandainya onta yang terlanjur makan pohon berduri atau rumput berduri ini maka tubuhnya akan keracunan kemudian menjadi kurus dan berpenyakitan. Ini adalah tumbuhan yang dikenal di dunia, adapun di akhirat maka hakikat tumbuhan ini berbeda. Allah hanya menyebutkan nama tumbuhan yang paling buruk di dunia yang bahkan hewan-hewan pun tidak ada yang mau mendekatinya karena berduri dan beracun. Tetapi makanan inilah yang akan menjadi makanan bagi orang-orang kafir di akherat kelak.

Orang-orang kafir ketika mereka menunggu di padang mahsyar 50.000 tahun lamanya maka mereka akan sangat lapar dan sangat haus. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Kahfi:

إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ وَإِن يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا

“Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang zhalim, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta pertolongan (minum), mereka akan diberi air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. (Itulah) minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS Al-Kahfi : 29)

Sebelum mereka minum wajah mereka sudah terbakar karena uap dari minyak yang sangat panas tersebut. Dan karena saking hausnya mereka tetap saja harus minum, apapun minumannya, meskipun itu akan menyakiti dan menghancurkan tubuh mereka. Ibarat seseorang yang mengonsumsi morfin, karena sudah kecanduan maka dia akan mengonsumsinya terus menerus meskipun dia tahu morfin itu akan merusak tubuhnya. Demikianlah penghuni neraka jahannam, mereka tidak peduli yang penting mereka ingin menghilangkan rasa dahaga mereka. Allah menyebutkan tentang air minum tersebut, Allah berfirman:

كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ

“Samakah mereka dengan orang yang kekal dalam neraka, dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga ususnya terpotong-potong?” (QS Muhammad : 15)

Namun mereka sangat kehausan sehingga mereka merasa harus minum meskipun minuman tersebut membawa penderitaan. Demikian juga rasa lapar yang mencekik perut-perut mereka yang mengharuskan mereka untuk makan. Namun makanan yang bisa mereka nikmati adalah makanan berduri lagi beracun tersebut. Selain makanan berduri tersebut, Allah juga menerangkan makanan penghuni neraka yang lain. Allah berfirman:

وَلَا طَعَامٌ إِلَّا مِنْ غِسْلِينٍ

“Dan tidak ada makanan (baginya) kecuali dari darah dan nanah.” (QS Al-Haqqah : 36)

Ghislin adalah nanah-nanah yang keluar dari penghuni neraka jahannam yang disiksa. Dan ini akan menjadi makanan bagi penghuni neraka jahannam satu sama lain. Kemudian dalam ayat yang lain Allah juga menjelaskan makanan penghuni neraka Jahannam yang lain, yaitu zaqquum.

Saat Abu Jahal mendengar tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebutkan tentang buah atau pohon zaqqum, yang merupakan makanan penghuni neraka jahanam. Kemudian dia mengumpulkan orang-orang Quraisy lalu dia mengejek ayat ini dengan mengatakan,

يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ هَلْ تَدْرُونَ مَا شَجَرَةُ الزَّقُّومِ الَّتِي يُخَوِّفُكُمْ بِهَا مُحَمَّدٌ؟ قَالُوا: لَا، قَالَ: عَجْوَةُ يَثْرِبَ بِالزُّبْدِ. وَاللَّهِ لَئِنِ اسْتَمْكَنَّا مِنْهَا لَنَزْقُمَنَّهَا تَزَقُّمًا

“Wahai orang-orang Quraisy, kalian tahu apa itu pohon zaqqum? Yang Muhammad menakut-nakuti kalian dengan pohon tersebut?”.

Orang-orang Quraisy menjawab, “Kami tidak tahu pohon apakah itu.”

Kemudian Abu Jahal berkata, “Itu adalah kurma ajwa kota Madinah. Demi Allah seandainya saya bisa mendapatkan pohon zaqqum, niscaya saya akan makan sepuas-puasnya.”

Akhirnya Allah menurunkan ayat yang menjelaskan tentang pohon zaqqum. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ شَجَرَتَ الزَّقُّومِ (43) طَعَامُ الْأَثِيمِ (44) كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ (45) كَغَلْىِ الْحَمِيمِ (46)

“Sesungguhnya pohon Zaqqum adalah makanan bagi orang-orang yang berdosa, sebagaimana minyak yang panas yang mendidih dalam tubuh, sebagaimana mendidihnya air panas.” (QS Ad-Dukhān 43-46)[1]

Kemudian dalam hadist, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam pernah bersabda,

وَلَوْ أَنَّ قَطْرَةً مِنَ الزَّقُّومِ قُطِرَتْ، لَأَمَرَّتْ عَلَى أَهْلِ الْأَرْضِ عَيْشَهُمْ، فَكَيْفَ مَنْ لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلَّا الزَّقُّومُ

“Seandainya ada satu getah dari buah zaqqum yang menetes di atas muka bumi ini, niscaya akan merusak kehidupan seluruh penghuni bumi. Maka bagaimana lagi dengan mereka yang tidak ada makanan bagi mereka kecuali hanya pohon Zaqquum” (HR Ahmad no 2735 dan dinilai shahih oleh para pentahqiq al-Musnad)

Para ulama menyebutkan bahwasanya tiga makanan inilah yang menjadi makanan penghuni neraka jahannam. Namun para ulama berbeda pendapat apakah setiap penghuni neraka akan memakan tiga jenis makanan ini atau tidak. Sebagian ulama mengatakan bahwasanya setiap penghuni neraka jahannam akan makan dari tiga jenis makanan tersebut. Sebagain ulama yang lain berpendapat bahwasanya makanan ini menjadi konsumsi penghuni neraka sesuai derajatnya, ada tingkatan hanya makan dhari’, ada tingkatan hanya makan ghislin, ada tingkatan hanya makan zaqqum. Intinya, tiga jenis makanan inilah yang menjadi makanan para penghuni neraka jahannam yang mana mereka harus memakannya karena lapar yang sangat yang mereka rasakan, meskipun itu akan merusak tubuh-tubuh mereka.

[1] Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaaq, Ibnu Abi Haatim, Ibnu Mardwaih, dan Al-Baihaqi dari Ibnu Abbas yang meriwayatkan kisah ejekan Abu Jahal tersebut. (Lihat Fathul Qodiir, Asy-Syaukaani 3/286)