Tafsir Surat Al-Lail Ayat-9

9. وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ

wakadzdzaba bialhusnaa
“Serta mendustakan yang terbaik”

Tafsir Surat Al-Lail Ayat-9

Dia tidak meyakini adanya ganti dari Allah. Dia merasa jika ia mengeluarkan hartanya maka uangnya akan berkurang. Sehingga orang yang bakhil adalah orang yang sangat menderita. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda sebagaiman diriwayatkan oleh Abu Huroiroh:

«مَثَلَ البَخِيلِ وَالمُتَصَدِّقِ، كَمَثَلِ رَجُلَيْنِ عَلَيْهِمَا جُبَّتَانِ مِنْ حَدِيدٍ، قَدِ اضْطُرَّتْ أَيْدِيهِمَا إِلَى ثُدِيِّهِمَا وَتَرَاقِيهِمَا، فَجَعَلَ المُتَصَدِّقُ كُلَّمَا تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ انْبَسَطَتْ عَنْهُ، حَتَّى تَغْشَى أَنَامِلَهُ وَتَعْفُوَ أَثَرَهُ، وَجَعَلَ البَخِيلُ كُلَّمَا هَمَّ بِصَدَقَةٍ قَلَصَتْ، وَأَخَذَتْ كُلُّ حَلْقَةٍ بِمَكَانِهَا» قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: فَأَنَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ بِإِصْبَعِهِ «هَكَذَا فِي جَيْبِهِ، فَلَوْ رَأَيْتَهُ يُوَسِّعُهَا وَلاَ تَتَوَسَّعُ»

Perumpamaan bakhil (orang yang pelit bersedekah) dengan mutashaddiq (orang yang gemar bersedekah) seperti dua orang yang masing-masing mengenakan baju jubah[1] terbuat dari besi yang mengekang keduanya sehingga terpaksa kedua tangan mereka terbelenggu terlipat ke dada dan kerongkongan mereka berdua. Setiap kali mutashaddiq hendak bersedekah maka bajunya akan melonggar dan akhirnya menutupi ujung kakinya dan menutupi bekas jalannya. Jika orang yang bakhil (pelit) ingin berinfak, baju besinya mengerut, dan setiap baju besi tetap di tempatnya (tidak melebar)”. (Abu Hurairah berkata), Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil meletakkan jari-jarinya di sakunya beliau berkata, “Kalau engkau melihatnya (orang yang bakhil) berusaha melonggarkan bajunya akan tetapi bajunya tidak menjadi longgar.” (HR Bukhari no. 2917 dan Muslim no. 1021)

Setiap dia berinfaq semakin lega. Oleh karenanya As-Sa’di rahimahullahu menyebutkan diantara datangnya kebahagiaan adalah berbuat baik kepada orang lain diantaranya dengan berinfaq, memikirkan orang lain, memasukkan kebahagiaan pada orang lain, itu sebab datangnya kebahagiaan.

Beliau berkata :

ومن الأسباب التي تزيل الهم والغم والقلق: الإحسان إلى الخلق بالقول والفعل، وأنواع المعروف

“Dan diantara sebab yang menghilangkan kesedihan, galau, dan kegelisahan adalah berbuat baik kepada orang lain, dengan perkataan dan perbuatan serta berbagai macam kebaikan” (Al-Wasaail Al-Mufiidah li al-Hayaat as-Sa’iidah hal 16)

Bagaimana anda tidak diberi kebahagiaan oleh Allah sementara anda membahagiakan orang lain. Allah akan berikan kebahagiaan pada diri anda.

Nabi memberikan perumpamaan orang yang gemar bersedekah setiap kali dia bersedekah seperti melebarnya baju besi yang dia pakai sehingga dia menjadi lega dalam bernafas. Hatinya semakin tenang dan bahagia. Karena Allah akan memberikan kebahagiaan ke dalam dirinya sebagai balasan setimpal karena ia telah membahagiakan orang lain. Bahkan bajunya semakin melebar sampai menutupi jari-jarinya dan bekas langkah kakinya. Menurut Ibnu Bathool rahimahullah maknanya adalah Allah akan menutup aurotnya dan aib-aibnya di dunia dan Allah akan melimpahkan ganjaran baginya di akhirat (lihat Syarh Shahih Al-Bukhari, Ibnu Batthool 3/441).

Adapun orang yang bakhil setiap dia ingin bersedekah, seakan-akan baju besi yang dia pakai semakin mengikat dan menyempit. Kedua tangannya terkekang dengan baju besi tersebut, ia tidak  bisa menggerakannya dan tidak bisa mengeluarkannya.

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata :

وَلَمَّا كَانَ الْبَخِيْلُ مَحْبُوْساً عَنِ الإِحْسَانِ مَمْنُوْعاً عَنِ الْبِرِّ وَالْخَيْرِ وَكَانَ جَزَاؤُهُ مِنْ جِنْسِ عَمَلِهِ، فَهُوَ ضَيِّقُ الصَّدْرِ مَمْنُوْعٌ مِنَ الاِنْشِرَاحِ ضَيِّقُ الْعَطَنِ صَغِيْرُ النَّفْسِ قَلِيْلُ الْفَرَحِ كَثِيْرُ الْهَمِّ وَالْغَمِّ وَالْحَزَنِ

“Tatkala orang yang bakhil terpenjara dari berbuat baik (Kepada orang lain) terhalangi dari kebaikan dan kebajikan -dan balasan sesuai dengan perbuatan- maka jadilah dia orang yang sempit dadanya, terhalangi dari kelapangan hati, sempit dadanya (mudah marah dan tidak sabaran), kerdil jiwanya, jarang gembira, sering bersedih, gelisah, dan galau” (Al-Waabil As-Shoyyib hal 33)

Demikianlah keadaan orang bakhil, ketika dia akan mengeluarkan uang maka dia akan benar-benar mempertimbangkannya, menunjukkan pelitnya yang luar biasa. Sehingga ia tidak jadi mengeluarkan uangnya, tetapi kalau jadi terpaksa bersedakah maka dia akan merasa sedih dan menyesal karena uangnya berkurang. Sehingga dadanya semakin sempit, dan jauh dari kebahagiaan.

[1] Dalam riwayat yang lain جُنَّتَانِ “dua baju perang” yang tentu terbuat dari besi