Tafsir Surat At-Tiin Ayat-3

3. وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ

wahaadzaa albaladi al-amiini
“Dan demi kota (Mekkah) yang aman ini”

Tafsir Surat At-Tiin Ayat-3

Kota Mekkah adalah tempat diturunkannya wahyu Allah untuk Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dari sini, sebagian ulama berpendapat bahwasanya maksud Allah bersumpah dengan buah tiin dan buah zaitun adalah tempat tumbuhnya buah tiin dan buah zaitun. Oleh karena itu, dalam surat ini Allah bersumpah dengan tempat-tempat. Pertama, tempat tumbuhnya buah tiin dan buah zaitun yaitu negeri Syam, dimana Syam adalah tempatnya para Nabi seperti Nabi ‘Isa. Kedua, Allah bersumpah dengan Thur Sinai, yang merupakan tempat berbicaranya Allah kepada Nabi Musa. Ketiga, Allah bersumpah dengan kota Mekkah, tempat diturunkannya wahyu Allah untuk Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/113 dan al-Kasyyaaf, Az-Zamakhsyari 4/774)

Pada ayat ini Allah bersumpah dengan kota Mekkah. Kota Mekkah merupakan kota suci yang diberi keamanan oleh Allah. Nabi bersabda:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ

“Sesungguhnya Nabi Ibrahim menjadikan kota Mekah sebagai kota haram, dan sesungguhnya aku menjadikan Madinah sebagai kota yang haram juga.” (HR Muslim no. 1362)

Oleh karena itu, tidak boleh berburu di kota Madinah dan kita Mekkah, tidak boleh juga mematahkan pohon. Allah berfirman tentang keamanan kota Mekkah:

وَمَن دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا

“Barangsiapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia.” (QS Ali ‘Imran : 97)

Bahkan keamanan kota Mekkah sudah ada sejak zaman jahiliyah. Sampai-sampai para ahli tafsir menyebutkan, dahulu orang-orang Arab apabila ayahnya dibunuh oleh orang lain kemudian dia ingin membalas dendam terhadap pembunuh ayahnya, lantas menemukan pembunuhnya di kota Mekkah maka dia tidak akan jadi membunuhnya. Hal ini karena mereka mengagungkan kota Mekkah. Namun kota Mekkah pernah dihalalkan khusus untuk Nabi, dalam waktu yang sebentar. Nabi bersabda:

وَإِنَّمَا أَذِنَ لِي فِيهَا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ، ثُمَّ عَادَتْ حُرْمَتُهَا اليَوْمَ كَحُرْمَتِهَا بِالأَمْسِ

“Sesungguhnya Allah telah mengizinkanku pada suatu saat di siang hari kemudian dikembalikan kesuciannya hari ini sebagaimana disucikannya sebelumnya.” (HR Bukhari no. 104 dan Muslim no. 1354)

Yaitu tatkala Fathu Makkah, ketika Nabi ingin membunuh Ibnu Khatal, sebagaimana telah lalu penjelasannya pada tafsir surat Al-Balad. Setelah Nabi menguasai kota Mekkah maka kota Mekkah tidak lagi dihalalkan untuk Nabi.

Dalam surat ini Allah bersumpah dengan tiga tempat dari para Nabi yang berbeda-beda. Kata para ulama, ini menunjukkan bahwasanya seluruh Nabi di atas agama yang satu. Baik Nabi Musa, Nabi ‘Isa, Nabi Muhammad, maupun Nabi-Nabi yang lain. Oleh karena itu, Nabi bersabda:

وَالأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلاَّتٍ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى، وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ

“Para nabi itu adalah saudara seayah walau ibu mereka berlainan, dan agama mereka adalah satu.” (HR. Bukhari no. 3443 dan Muslim no. 2365)

Kata para ulama, maksudnya adalah seluruh agama para Nabi menyerukan kepada tauhid dan aqidah yang sama. Akan tetapi syariatnya berbeda-beda. Allah berfirman:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

“.. Untuk setiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang..” (QS Al-Maidah : 48)

Semua Nabi adalah muslim, kembali kepada tauhid dan akidah yang sama. Barangsiapa yang meyakini bahwa Yahudi yang sekarang, Nasrani yang sekarang, dan Islam adalah agama yang sama, maka ini adalah keyakinan yang bathil. Karena Yahudi dan Nasrani yang sekarang semuanya menyimpang dan sudah teracuni dengan kesyirikan. Allah kafirkan mereka di dalam Al-Quran dan menyatakan bahwa mereka adalah musyrikin. Allah berfirman:

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفًا مُّسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus, Muslim dan dia tidaklah termasuk orang-orang musyrik.” (QS Ali ‘Imran : 67)

وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ تَهْتَدُوا ۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Dan mereka berkata, ‘Jadilah kamu (penganut) Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk’. Katakanlah, ‘(Tidak!) Tetapi (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus dan dia tidak termasuk golongan orang yang mempersekutukan Tuhan’.” (QS Al-Baqarah : 135)

Menganggap seluruh agama sama dan membenarkan semuanya adalah propaganda kaum liberal. Mereka mengatakan bahwasanya surga bukan hanya milik orang Islam, tetapi Yahudi dan Nasrani juga akan masuk ke dalam surga. Seandainya semuanya masuk surga, maka untuk apa Nabi Muhammad diutus dan diturunkan Al-Quran. Untuk apa Nabi memerangi Yahudi dan Nasrani. Untuk apa Allah mengkafirkan orang-orang Nasrani. Allah berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ (72) لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ وَإِن لَّمْ يَنتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (73)

“(72) Sungguh telah kafir orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam.’ Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, ‘Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.’ Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orangorang zhalim itu; (73) Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa azab yang pedih.” (QS Al-Maidah : 72-73)

Sehingga meyakini bahwa Yahudi dan Nasrani masuk surga adalah keyakinan yang bathil. Sesungguhnya ini merupakan bentuk kekufuran kepada ayat-ayat Allah. Padahal Nabi juga bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya. Tiada seorang-pun dari umat ini yang mendengar seruanku, baik Yahudi maupun Nasrani, tetapi ia tidak beriman kepada seruan yang aku sampaikan, kemudian ia mati, pasti ia termasuk penghuni neraka.” (HR Muslim no.153).

Semua agama di muka bumi ini mengajarkan kesyirikan, kecuali Islam. Ada yang mengajarkan peribadatan kepada seorang Nabi seperti Nasrani. Ada yang mengajarkan peribadatan kepada manusia seperti Budha. Ada yang mengajarkan peribadatan kepada jin-jin dan dewa-dewa seperti Hindu. Hanya Islam yang mengajarkan peribadatan kepada Allah semata. Oleh karena itu, Allah berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.” (QS Ali ‘Imran : 19)

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” (QS Ali ‘Imran : 85)