Tafsir Surat Al-‘Alaq Ayat-8

8. إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الرُّجْعَىٰ

inna ilaa rabbika alrruj’aa
“Sungguh kepada Tuhanmulah tempat kembali(mu)”

Tafsir Surat Al-‘Alaq Ayat-8

Jika ayat ini berkaitan dengan Abu Jahal, maka maksud ayat ini adalah ancaman. Bahwa engkau Abu Jahl -atau orang yang melampaui batas- akan kembali kepada Allah untuk merasakan adzab yang pedih (Lihat Tafsir At-Thobari 24/533). Allah mengingatkan bahwasanya setiap orang akan kembali kepada Allah. Hakikatnya semua manusia sedang mengantre menuju Allah, yaitu menuju kematiannya. Hanya saja tidak seorang pun yang tahu ujung antreannya, kapan dia akan mengakhirinya.

وَقَالَ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ لِرَجُلٍ: كَمْ أَتَتْ عَلَيْكَ؟ قَالَ: سِتُّونَ سَنَةً، قَالَ: فَأَنْتَ مُنْذُ سِتِّينَ سَنَةً تَسِيرُ إِلَى رَبِّكَ يُوشِكُ أَنْ تَبْلُغَ، فَقَالَ الرَّجُلُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، فَقَالَ الْفُضَيْلُ: أَتَعْرِفُ تَفْسِيرَهُ تَقُولُ: أَنَا لِلَّهِ عَبْدٌ وَإِلَيْهِ رَاجِعٌ، فَمَنْ عَلِمَ أَنَّهُ لِلَّهِ عَبْدٌ، وَأَنَّهُ إِلَيْهِ رَاجِعٌ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مَوْقُوفٌ، وَمِنْ عَلِمَ أَنَّهُ مَوْقُوفٌ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مَسْئُولٌ، وَمَنْ عَلِمَ أَنَّهُ مَسْئُولٌ، فَلْيُعِدَّ لِلسُّؤَالِ جَوَابًا

Oleh karena itu, Al-Fudhail bin ‘Iyadh pernah berkata pada seseorang, “Berapa umurmu sampai saat ini?” “Enam puluh tahun”, jawabnya. Fudhail berkata, “Itu berarti semenjak 60 tahun engkau telah berjalan menuju Rabbmu, maka hampir saja engkau akan sampai.” Pria itu berkata, “Inna lillah wa inna ilaihi raji’un.” (Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sungguh kita akan kembali kepadaNya) “Apa engkau memahami maksud kalimat itu?”, tanya Fudhail. Lantas Fudhail berkata, “Maksud perkataanmu tadi adalah : “Aku adalah hamba milik Allah, dan akan kembali kepadaNya”. Siapa yang sadar dia adalah hamba Allah, sadar bahwa ia pasti akan kembali pada-Nya, maka hendaknya dia sadar juga bahwa ia akan diberdirikan di hadapan Allah.  Dan siapa yang sadar bahwa ia akna diberdirikan di hadapan Allah maka hendaknya dia tahu bahwa ia pasti akan ditanya (dimintai pertanggungjawaban atas amal perbuatannya -pen). Dan siapa yang tahu bahwasanya ia akan ditanya maka hendaknya ia menyiapkan jawaban untuk pertanyaan tersebut.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2/383)

Oleh karena itu, hendaknya setiap hamba menyadari bahwa dirinya akan kembali dan di hari kiamat kelak akan dihisab oleh Allah. Sehingga dia bisa mempersiapkan segalanya sebelum waktu kematiannya tiba.