Tafsir Quran Surat Al-‘Adiyat Ayat-8

8. وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

Latin: wa-innahu lihubbi alkhayri lasyadiidun
Arti : “Dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan”

Tafsir Quran Surat Al-‘Adiyat Ayat-8

Makna الْخَيْرِ pada ayat ini adalah harta. Secara bahasa الْخَيْرِ artinya kebaikan, harta dinamakan kebaikan karena demikianlah keadaan manusia, mereka menganggap bahwasanya harta adalah kebaikan. Padahal hakikatnya harta tidak selalu begitu, bisa jadi ia menjadi keburukan, jika harta tersebut tidak digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat.

Ibnu Zaid berkata :

فَسَمَّاهُ اللَّهُ خَيْرًا، لِأَنَّ النَّاسَ يُسَمُّونَهُ خَيْرًا فِي الدُّنْيَا، وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَبِيثًا

“Allah menamakan harta dengan خَيْرًا “kebaikan” karena manusia menamakan harta dengan demikian “kebaikan” di dunia, dan bisa jadi harta tersebut menjadi keburukan” (Tafsir At-Thobari 24/589)

Bahkan manusia menjadikan barometer untuk mengukur kemuliaan seseorang adalah dengan harta. Jika ada orang kaya raya maka ia pasti dihormati, karena menurut manusia harta adalah kebaikan. Padahal bisa jadi si kaya tersebut adalah orang yang terhina di sisi Allah jika ia menggunakan hartanya pada hal-hal yang haram.

Allah juga mengungkapkan harta dengan kata الْخَيْرِ pada ayat yang lain seperti firman Allah:

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ

“Diwajibkan atas kamu, apabila maut hendak menjemput seseorang diantara kamu, jika dia meninggalkan harta, berwasiat untuk kedua orang tua dan karib kerabat dengan cara yang baik, (sebagai) kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 180)

Allah mengatakan bahwasanya manusia itu sangat cinta terhadap harta, dan demikianlah sifat dasar manusia. Hampir tidak ada diantara manusia yang tidak menyukai harta. Harta itu indah dan lezat, wajar jika manusia mencintainya. Karenanya kadang dijumpai sebagian manusia yang rela mengorbankan segalanya demi segepok uang, dia rela memperebutkan harta warisan, dia rela memutus silaturrahmi demi mengedepankan uang, bahkan ada yang rela menjual agamanya (murtad) demi harta. Nabi bersabda:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ

“Celakalah hamba dinar, hamba dirham, hamba khamisah (yaitu kain yang halus dan mahal). Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah.” (HR Bukhari no. 2887)

Dimaklumi bahwa hidup di dunia ini tidak akan mungkin kecuali dengan adanya harta, dan manusia ketika berjalan menuju akhirat dia harus melewati dunia. Namun apabila harta telah menjadi puncak cita-cita dan tujuan utamanya maka pada saat itu manusia itu menjadi tercela. Oleh karena itu, Nabi selalu memohon kepada Allah agar tidak menjadikan dunia sebagai puncak tujuannya. Beliau bersabda:

وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا

“Ya Allah, jangan Engkau jadikan dunia sebagai puncak cita-cita kami.” (HR Tirmidzi no. 3502)

Sebagian ulama menafsirkan ayat ini bahwa maksudnya adalah manusia itu sangat bakhil karena sangat cintanya ia terhadap hartanya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Allah berfirman dalam surat Al-Fajr ayat 17-20 :

كَلَّا ۖ بَل لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ (17) وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ (18) وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّا (19) وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا (20)

“(17) Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim; (18) Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin; (19) Sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang haram); (20) Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS Al-Fajr : 17-20)

Oleh karena itu, kecintaan terhadap harta yang sangat besar bisa membuat seseorang menjadi bakhil, apabila dia mengeluarkan harta dia akan merasa sangat berat. Bahkan tidak hanya seseorang itu bakhil terhadap orang lain sehingga apabila ada orang yang meminta kepadanya niscaya dia tidak akan memberikannya, tetapi ada juga orang yang bakhil terhadap dirinya sendiri. Orang seperti ini jika dia mempunyai harta maka demi kemaslahatan dirinya sendiri saja dia tidak rela mengorbankan hartanya. Jika dia membeli pakaian maka dia akan membeli pakaian yang murah, jika dia membeli kendaraan maka dia akan membeli kendaraan yang pas-pasan, padahal dia mampu dan dia butuh yang lebih dari itu. Sikap tersebut hanya akan membuat dirinya menderita, bahkan keluarganya terkena dampaknya padahal dia adalah orang yang kaya raya. Semua itu karena kebakhilan yang ada pada dirinya.

Mencintai harta adalah sifat manusiawi, namun handaknya tidak berlebih-lebihan hingga menjadikannya sebagai tujuan utama. Benarlah perkataan sebagian orang, “Peganglah harta itu di tanganmu akan tetapi jangan masukkan ke dalam hatimu.”