Kaum Liberal Perusak Fitrah (Khutbah Jumat)

Kaum Liberal Perusak Fitrah
(Khutbah Jumat)

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، ونعوذُ باللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، ومِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا، أَمَّا بَعْدُ

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهُدَى هدى مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عليهِ وَسلَّم، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ، أُوْصِيْكُم وَنَفْسِي بِتَقْوَى الله، فَقَد فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Sesungguhnya Allah ﷻ telah menciptakan kita di atas fitrah. Allah ﷻ berfirman,

﴿فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ﴾

“Luruskanlah wajahmu kepada agama yang lurus yang Allah telah menciptakan manusia di atas fitrah tersebut. Tidak ada perubahan terhadap ciptaan Allah terhadap fitrah tersebut. Inilah agama yang lurus.” (QS. Ar-Rum: 30)

Rasulullah ﷺ juga bersabda dalam satu hadis,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak terlahirkan di atas fitrah (yaitu fitrah tauhid), akan tetapi kedua orang tuanya memberi pengaruh sehingga kedua orang tuanya menjadikan dia Yahudi atau menjadikan dia Nasrani atau menjadikan dia Majusi.”([1])

Dalam hadis qudsi, Allah ﷻ berfirman,

وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ

“sesungguhnya Aku ciptakan hamba-hamba-Ku dengan keadaan hanif (yaitu condong kepada tauhid dan menjauh dari kesyirikan). Namun, setan mendatangi mereka lalu menggelincirkannya.” ([2])

Ini semua adalah dalil yang menunjukkan bahwa manusia diciptakan di atas fitrah. Akan tetapi, fitrah bisa saja berubah dengan pengaruh-pengaruh dari luar seperti godaan setan dan pengaruh lingkungan.

Apa yang dimaksud dengan fitrah?

Fitrah adalah sesuatu yang telah Allah ciptakan dalam diri makhluk sejak awal penciptaannya. Contohnya adalah kecenderungan untuk mentauhidkan Allah ﷻ dan kebencian kesyirikan.

Di antara contoh fitrah adalah kita bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Meskipun tidak ada yang mengajari kita, tapi secara fitrah kita tahu bahwasanya membantu orang lain adalah baik dan merampas harta orang lain adalah buruk.

Juga secara fitrah, kita tahu bahwasanya lelaki berbeda dengan wanita. Sebagaimana firman Allah ﷻ,

﴿وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى﴾

“Tidak sama laki-laki dengan wanita” (QS. Ali ‘Imran: 36)

Laki-laki diberikan kekuatan tubuh yang berbeda dengan wanita yang dihiasi dengan kelembutan. Secara fitrah, kita tahu laki-laki berbeda dengan wanita meskipun tidak ada yang mengajari.

Di antara contoh fitrah berikutnya adalah rasa suka terhadap lawan jenis. Allah ﷻ berfirman,

﴿هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا﴾

“Dialah Allah yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa (dari Adam ‘Alaihissalam) kemudian Allah ciptakan dari Adam istrinya (Hawa) agar Adam tenang dengan istrinya tersebut.” (QS. Al-A’raf: 189)

Juga di antara perkara fitrah adalah rasa malu. Seseorang ketika terbuka auratnya, maka dia akan malu. Itulah yang terjadi pada Adam dan Hawa tatkala terlihat aurat mereka. Allah ﷻ berfirman,

﴿فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ﴾

“Ketika mereka berdua memakan dari buah dari pohon tersebut yang dilarang, maka terbukalah aurat mereka. Maka mereka berdua mulai mengambil daun-daun yang ada di surga untuk menutup aurat mereka.” (QS. Thaha: 121)

Mengapa mereka menutupi aurat mereka dengan dedaunan di surga? Ini dikarenakan fitrah malu mereka jika auratnya terbuka. Rasa malu ini adalah fitrah yang sudah diciptakan pada diri mereka.

Termasuk fitrah yang telah diciptakan pada diri manusia adalah tidak suka dan tidak ada syahwat terhadap mahramnya. Sehingga tidak ada seorang anak yang bersyahwat kepada ibunya, juga tidak ada lelaki bersyahwat kepada adik perempuannya. Hal ini dikarenakan fitrah yang telah Allah ﷻ ciptakan pada diri mereka.

Begitu juga bayi yang baru lahir tiba-tiba langsung bisa menyusu. Padahal, dia tidak memiliki ilmu sama sekali. Seandainya seluruh Profesor di dunia ini berkumpul untuk mengajarkan bayi yang baru lahir untuk melakukan hal yang lain, sungguh mereka tidak akan mampu. Sedangkan ketika baru lahir tiba-tiba dia bisa langsung menyusu. Siapakah yang mengajarkannya? Ini adalah fitrah yang telah Allah ﷻ berikan.

Ketika Allah menciptakan makhluk-Nya Allah juga ciptakan banyak fitrah-fitrah kepada makhluk-Nya. Semua fitrah tersebut menuju kepada kebaikan. Seandainya tidak ada faktor luar yang mempengaruhi, maka makhluk akan berjalan dengan kebaikan. Akan tetapi, ternyata fitrah tersebut bisa berubah.

Di antara yang berusaha mengubah fitrah adalah setan. Allah ﷻ berfirman tentang perkataan setan yang bersumpah,

﴿وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ﴾

“Sungguh aku akan perintahkan mereka (manusia). Dan mereka akan mengubah ciptaan Allah (mengubah fitrah).” (QS. An-Nisa’: 119)

Setan berusaha mengubah fitrah manusia. Sehingga kita dapati ada lelaki yang ingin menjadi perempuan,  dan sebaliknya. Begitu juga kita dapati ada lelaki yang suka dengan sesama lelaki. Semua ini menunjukkan bahwa fitrahnya telah diubah oleh setan. Allah ﷻ berfirman,

﴿لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ﴾

“Aku akan menghiasi kemaksiatan sehingga mereka melakukan kemaksiatan tersebut di bumi.” (QS. Al-Hijr: 39)

Juga di antara yang bisa mengubah fitrah manusia adalah faktor lingkungan. Seperti disebutkan pada hadis di atas,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak terlahirkan di atas fitrah (yaitu fitrah tauhid), akan tetapi kedua orang tuanya memberi pengaruh sehingga kedua orang tuanya menjadikan dia Yahudi atau menjadikan dia Nasrani atau menjadikan dia Majusi.”([3])

Hal ini menunjukkan bahwa fitrah bisa berubah dengan faktor lingkungan atau faktor setan. Inilah hal yang bisa menyebabkan fitrah-fitrah yang Allah tanamkan pada diri manusia berubah.

Lihatlah! Bagaimana Nabi Luth ‘Alaihissalam yang Allah utus kepada kaum Al-Mu’tafikat, negeri-negeri yang mempraktikkan homoseksual. Belum ada umat sebelumnya yang berbuat seperti mereka. Mereka adalah orang yang pertama kali berinovasi dalam maksiat homoseksual. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّنَ الْعَالَمِينَ، إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ﴾

“Dan ketika Luth berkata kepada kaumnya: ‘Apakah kalian melakukan perbuatan keji (homoseksual) yang tidak pernah seorang pun dari kaum-kaum sebelum kalian yang melakukannya? Kalian mendatangi lelaki dan kalian meninggalkan wanita? Sungguh kalian adalah kaum yang terlalu berlebih-lebihan.’” (QS. Al-‘Araf: 80-81)

Setan mengubah fitrah manusia sedikit demi sedikit. Mereka sabar dalam mengubah fitrah manusia. Akhirnya maksiat tersebut menjadi suatu yang biasa. Bahkan, jika ada yang mengingkari maksiat tersebut maka dia tercela. Itulah yang terjadi pada kaum Luth. Mereka melakukan maksiat yang sangat melanggar fitrah. Karena begitu parahnya maksiat tersebut, sampai-sampai mereka melakukannya di depan umum. Nabi Luth ‘Alaihissalam berkata,

﴿وَتَأْتُونَ فِي نَادِيكُمُ الْمُنكَرَ﴾

“Kalian melakukan pesta seks homoseksual di tempat pertemuan kalian.” (QS. Al-‘Ankabut: 29)

Padahal, melakukan homoseksual sudah termasuk perkara yang sangat menyelisihi fitrah, terlebih lagi jika dilakukan dengan terang-terangan. Sampai-sampai Nabi Luth ‘Alaihissalam beserta keluarganya dianggap orang aneh karena tidak mau melakukan semua itu. Mereka berkata,

﴿أَخْرِجُوهُم مِّن قَرْيَتِكُمْ ۖ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ﴾

“Keluarkanlah (usirlah) Luth dan keluarganya dari negeri kalian. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang sok suci.” (QS. Al-A’raf: 82)

Setan telah berhasil mengubah fitrah kaum Luth sehingga sesuatu yang benar terlihat aneh. Oleh karenanya mereka diazab dengan azab yang luar biasa. Allah ﷻ berfirman,

﴿جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا﴾

“Kami angkat mereka, Kami cungkil negeri mereka, Kami bawa ke atas kemudian Kami jungkirbalikkan.” (QS. Hud: 82)

Mengapa mereka diazab dengan azab demikian? Karena mereka telah membalik fitrah mereka.

Di zaman sekarang, banyak fitrah telah diubah. Lihatlah bagaimana kondisi orang-orang kafir yang berinovasi dalam kemaksiatan. Mereka tidak hanya melakukan homoseksual, akan tetapi mereka melakukan hubungan seksual dengan hewan. Ini sudah di luar fitrah manusia, namun mereka melakukannya. Mereka juga melakukan hubungan seks dengan mahram mereka seperti ibu dan saudara perempuan mereka. Setan menghiasi hal tersebut sehingga seakan-akan menjadi indah. Bahkan, mereka berusaha melegalkannya agar hal ini tidak bisa diingkari.

Terlalu banyak negara yang melegalkan pernikahan sejenis. Bahkan, usaha untuk melegalkan perbuatan tersebut di tanah air sudah beberapa kali terjadi. Tujuannya, agar sesuatu yang bertentangan dengan fitrah menjadi hal yang biasa. Justru, jika kita nanti mengingkari, maka kita yang akan dianggap aneh.

Di antara fitrah yang diubah oleh orang-orang barat adalah perbedaan antara lelaki dan wanita. Padahal, Allah mengatakan dengan jelas,

﴿وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى﴾

“Tidak sama laki-laki dengan wanita” (QS. Ali ‘Imran: 36)

Mereka ingin menyamakan antara laki-laki dan wanita. Ini adalah bentuk ketidakadilan. Bagaimana mungkin laki-laki disamakan dengan wanita? Menyamakan laki-laki dengan wanita adalah bentuk penghinaan terhadap wanita, bukan penghormatan. Sehingga hal ini memaksa wanita harus kerja dan yang lainnya.

Lihatlah! Ketika Allah ﷻ menghukum Adam dan Hawa dengan diturunkan di atas muka bumi, Allah ﷻ berfirman,

﴿فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَى﴾

“Dan Kami berkata kepada Adam: “Ya Adam, sesungguhnya iblis adalah musuh kalian berdua (yaitu musuhmu dan Hawa) jangan sampai iblis mengeluarkan kalian berdua dari surga menuju bumi, maka kau (Adam) akan sengsara.” (QS. Thaha: 117)

Allah tidak mengatakan, “Maka kalian berdua sengsara,” akan tetapi Allah mengatakan: “Maka engkau (Wahai Adam) sengsara.” Para ahli tafsir mengatakan bahwa ini dalil ketika Adam (lelaki) diturunkan di bumi bersama istrinya, maka dialah yang mencari nafkah dan bekerja([4]). Adapun istrinya dimuliakan dengan menetap di rumah. Sekarang, orang-orang barat mengubah fitrah ini. Lalu sebagian kita ikut-ikutan ingin menyamakan antara laki-laki dengan wanita, karena terpukau dengan kemajuan teknologi mereka.

Lihatlah! di antara fitrah yang telah berhasil diubah oleh setan adalah rasa malu. Padahal, Adam dan Hawa ketika aurat mereka terbuka, maka mereka mulai mencari daun-daun yang ada di surga untuk menutupi aurat mereka. Mereka malu jika aurat mereka dilihat oleh yang lainnya.

Kita tahu bahwasanya menurut ilmu mereka, manusia berasal dari monyet yang dulu telanjang atau dari manusia purba yang tidak tahu rasa malu. Namun, sekarang mereka mengatakan bahwa berjilbab adalah kemunduran sedangkan orang yang membuka auratnya adalah kemajuan. Mulailah para wanita membuka aurat dimana-mana, tidak ada rasa malu sama sekali.  Bahkan, terkadang seorang suami rasa cemburunya mati ketika melihat aurat istrinya terbuka. Fitrah mereka sudah hilang dan diubah oleh setan.

Oleh karenanya, nilai-nilai Islam yang sesuai dengan fitrah yang hanif yang Allah telah ciptakan pada diri ini harus kita jaga.

Di antara fitrah yang diubah oleh setan adalah fitrah tauhid menuju kesyirikan. Padahal, kita semua tahu bahwa yang berhak disembah adalah Tuhan pencipta alam semesta. Pada asalnya manusia tidak mau menyembah makhluk semisalnya, apalagi menyembah makhluk yang lebih hina daripada dia.

Lihatlah! Jangankan manusia, sampai burung Hudhud pun memiliki fitrah tauhid ini. Ketika dia melapor kepada Nabi Sulaiman dan menjelaskan sebab keterlambatannya dia berkata,

﴿إِنِّي وَجَدتُّ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِن كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ، وَجَدتُّهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِن دُونِ اللَّـهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ﴾

“Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk.” (QS. An-Naml: 23-24)

Fitrah burung Hudhud tidak menerima kesyirikan ini. Bagaimana bisa manusia menyembah matahari, menyembah sesama makhluk? Burung hudhud menyebutkan sebab fitrah mereka berubah,

وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ

“Setan yang menghiasi amalan mereka (sehingga mereka memandang sujud kepada matahari adalah suatu perkara yang baik).”

Di zaman sekarang ini, kita dapati sebagian manusia menyembah hewan atau patung yang dia pahat. Entah  ditaruh di mana otak mereka. Bagaimana mungkin dia bisa menyembah hewan yang lebih hina daripada dia?

Kita juga dapati sebagian manusia menyembah mayat yang sudah dikubur, sementara dia tahu bahwasanya mayat tersebut tidak bisa apa-apa. Dialah orang yang memandikan mayat tersebut, memakaikannya kain kafan, menyalatkannya, dan menghantarkannya ke dalam kuburannya. Lantas, bagaimana mungkin setelah dikuburkan dia meminta kepada mayat tersebut? Ke manakah akal mereka? Sungguh setan telah menghiasi hal tersebut.

أَقٌولُ قَوْلِي هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَخَطِيئَةٍ فَأَسْتَغْفِرُهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khotbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشْهَدُ أَن لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، أَللَّهُمَّ صَلِى عَلَيهِ وعَلَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ

Ma’asyiral muslimin, di tanah air kita telah muncul dai-dai liberal yang ingin mengubah fitrah dan mereka bangga dengannya. Yang sangat menyedihkan adalah ternyata sebagian mereka adalah para dosen. Bukan hanya dosen di Universitas umum, akan tetapi mereka adalah para dosen di universitas-universitas Islam. Mereka menyerukan hal-hal yang bertentangan dengan fitrah manusia.

Di antara mereka ada yang mengatakan bahwasanya homoseksual adalah sesuatu yang halal. Bahkan, mereka mengatakan ini adalah anugerah dari Tuhan sehingga tidak boleh diingkari. Juga di antara mereka ada yang berusaha dan berjuang untuk melegalkan undang-undang tentang homoseksual agar diperbolehkan di tanah air.

Di antara mereka ada yang mengatakan bahwasanya semua agama sama. Mereka ingin menyamakan agama Islam yang mengajarkan penyembahan terhadap pencipta alam semesta dengan agama-agama lain yang mengajarkan menyembah kepada manusia, mayat, batu, hewan, dan matahari.

Inilah dai-dai liberal. Mereka adalah orang-orang zindiq dan munafik yang Allah ﷻ berkata tentang mereka,

﴿هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ﴾

“Mereka itulah musuh yang sesungguhnya, waspadalah.” (QS. Al-Munafiqun: 4)

Mereka bukan hanya merusak akidah, akan tetapi mereka juga merusak moral. Mereka mengatakan jilbab tidak wajib. Bagaimana tidak rusak moral seseorang jika mereka mengajarkan dengan cara seperti ini?

Oleh karenanya seseorang harus waspada, karena bahaya mereka senantiasa menanti. Kapan pun ada kesempatan untuk bisa membumi di tanah air, maka mereka akan usahakan. Terlebih lagi mereka didukung oleh dana-dana dari orang-orang kafir.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتْ

اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا مَا قَدَّمْنا وَمَا أَخَّرْنَا وَمَا أَسْرَرْنَا وَمَا أَعْلَنَّا وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنَّا، أنْتَ الْمُقَدِّمُ، وَأنْتَ الْمُؤَخِّرُ لا إله إلاَّ أنْتَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Footnote:

_________

([1]) HR. Bukhari No. 1385 dan Muslim No. 2658.

([2]) HR. Muslim No. 2865.

([3]) HR. Bukhari No. 1385 dan Muslim No. 2658.

([4]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (11/253).