10 Kunci Penyucian Jiwa – Khutbah Jumat

10 Kunci Penyucian Jiwa
(Khutbah Jumat)

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، ونعوذُ باللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، ومِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا، أَمَّا بَعْدُ

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهُدَى هدى مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عليهِ وَسلَّم، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ، أُوْصِيْكُم وَنَفْسِي بِتَقْوَى الله، فَقَد فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Sesungguhnya jiwa yang mulia, jiwa yang tinggi, diagungkan oleh Allah ﷻ. Sebaliknya pula, jiwa yang hina lagi kotor juga dihinakan oleh Allah ﷻ. Hal ini sebagaimana yang Allah ﷻ telah firmankan dalam surah Asy-Syams, Allah ﷻ berfirman,

﴿وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا، وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا، وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا، وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا، وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا، وَالْأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا، وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا، فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا، قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا، وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا﴾

“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta hamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 1-10)

Allah ﷻ dalam ayat ini bersumpah dengan makhluk-makhluk-Nya yang hebat untuk menegaskan bahwa keberuntungan bagi orang yang menyucikan jiwanya, dan kerugian lagi kehinaan bagi orang yang mengotori jiwanya.

Dari sini, seseorang hendaknya berusaha untuk menyucikan jiwanya, menjadikan jiwanya rindu untuk tunduk kepada Allah ﷻ, menjadikan jiwanya senantiasa ingin lari dari bermaksiat kepada Allah ﷻ, menjadikan jiwanya takut kepada Allah ﷻ, menjadikan jiwanya sebagai jiwa yang menangis tatkala mendengarkan ayat-ayat Allah ﷻ.

Pada kesempatan kali ini, ada 10 perkara yang akan kita sebutkan, di mana perkara tersebut bisa membantu kita untuk menyucikan jiwa kita.

  1. Bertauhid kepada Allah ﷻ

Ma’asyiral muslimin, sesungguhnya bertauhid kepada Allah ﷻ adalah perkara yang sangat agung, karena tauhid inilah tujuan Allah ﷻ menciptakan kita. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴾

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Tidak hanya itu, tidaklah Allah ﷻ menurunkan Al-Kitab dan mengutus para rasul kecuali untuk bertauhid. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ﴾

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah tagut itu.” (QS. An-Nahl: 36)

Tauhid adalah perkara yang agung, sampai-sampai dalam berdakwah pun yang diutamakan haruslah perkara tauhid. Lihatlah ketika Nabi Muhammad ﷺ mengutus Mu’adz bin Jabal kepada suatu kaum, beliau ﷺ bersabda,

إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ، فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ، فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ فِي فُقَرَائِهِمْ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ، فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ، وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ

Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab, maka ajaklah mereka kepada persaksian bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, dan bahwa aku adalah utusan Allah. Jika mereka menaatimu untuk hal tersebut, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka salat lima waktu pada setiap siang dan malam. Jika mereka menaatimu untuk hal tersebut maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka sedekah yang diambil dari orang kaya mereka lalu dibagikan kepada orang-orang fakir di antara mereka. Jika mereka menaatimu untuk hal tersebut maka kamu jauhilah harta mulia mereka. Takutlah kamu terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara dia dan Allah.”([1])

Maka barang siapa yang jiwanya suci, hendaknya dia memahami tauhid dengan sebaik-baiknya, dan memahami kesyirikan yang merupakan lawannya agar kita bisa menghindarinya. Ketahuilah bahwa kesyirikan adalah perkara yang memiliki pengaruh paling besar untuk mengotori jiwa seseorang. Jika seseorang telah terjerumus dalam kesyirikan, maka jiwanya telah kotor dengan sekotor-kotornya. Oleh karenanya, hendaknya seseorang juga mengenali jenis-jenis kesyirikan.

Sungguh omong kosong apabila seseorang yang mengatakan bahwa jiwanya suci, sementara dia masih percaya kepada dukun, percaya kepada jimat, yakin adanya hari baik dan hari buruk. Justru, orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang hatinya kotor. Akan tetapi, jika dia semakin membersihkan dirinya dari kesyirikan, semakin bergantung dan berharap kepada Allah ﷻ, maka jiwanya akan suci. Oleh karenanya, perkara tauhid adalah perkara yang paling utama untuk bisa menyucikan jiwa seseorang.

  1. Berdoa kepada Allah ﷻ

Sebagaimana perkataan,

الدُّعَاءُ مِفْتَاحُ كُلِّ خَيْرٍ

Doa adalah kunci dari segala kebaikan.”([2])

Sesungguhnya tidak ada yang ragu bahwasanya jiwa dan hati manusia itu di dalam genggaman Allah ﷻ. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

مَا مِنْ قَلْبٍ إِلَّا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ، إِنْ شَاءَ أَقَامَهُ، وَإِنْ شَاءَ أَزَاغَهُ

Tidaklah suatu hati seseorang kecuali dia berada di antara dua jemari Ar-Rahman. Jika Allah berkehendak maka Dia akan meluruskannya, jika Allah berkehendak maka Dia akan menyesatkannya.”([3])

Dari sini kita ketahui bahwa yang dapat menyucikan jiwa seseorang hanyalah Allah ﷻ. Allah ﷻ telah berfirman,

﴿بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَن يَشَاءُ﴾

“Akan tetapi Allah-lah yang membersihkan jiwa siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’: 49)

﴿وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ﴾

“Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kalian bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 24)

Ketika seseorang memiliki hati yang kotor, hatinya dipenuhi dengan penyakit-penyakit hati, lalu kemudian dia mengangkat tangannya ke atas seraya berdoa kepada Allah ﷻ, maka detik itu pula Allah ﷻ akan menyucikan jiwanya. Oleh karenanya, jika kita saat ini merasa jiwa kita jauh dari kata suci, selalu rindu untuk bermaksiat, hati tidak terenyuh mendengar ayat-ayat Allah ﷻ, tidak semangat ketika beribadah kepada Allah ﷻ, maka berdoa dan mintalah kepada Allah ﷻ untuk menyucikan jiwa kita, karena Dia-lah yang menguasai hati-hati kita.

Di antara doa agung yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ agar seseorang panjatkan kepada Allah ﷻ untuk meraih jiwa yang suci adalah,

اللهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

Ya Allah, anugerahkanlah ketakwaan kepada jiwaku, sucikanlah ia, sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik Dzat yang dapat menyucikannya, Engkaulah yang menguasai dan yang menjaganya.”([4])

  1. Berpegang teguh dengan Al-Qur’an

Sesungguhnya Al-Qur’an adalah penyuci jiwa dan obat segala penyakit hati. Allah ﷻ berfirman,

﴿لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ﴾

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali ‘Imran: 164)

Sesungguhnya hanyalah bualan belaka seseorang yang mengaku jiwanya suci sementara hari-harinya berlalu tanpa membaca Al-Qur’an. Bagaimana mungkin hatinya bisa suci sementara dia tidak menelaah firman-firman Allah ﷻ.

Sesungguhnya, semakin intens seseorang dalam membaca Al-Qur’an, semakin sering dia menadaburi Al-Qur’an, maka akan semakin suci jiwanya, akan semakin rindu pada ketaatan kepada Allah ﷻ, bahkan dia akan semakin rindu untuk bertemu dengan Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

﴿يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ﴾

“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)

Jika seseorang merasa hatinya kotor, merasa hatinya terjangkit penyakit-penyakit, maka di antara obat yang paling mujarab adalah dengan membaca Al-Qur’an.

  1. Mengikuti sunah Nabi Muhammad ﷺ dan menjadikannya sebagai teladan

Allah ﷻ telah berfirman,

﴿لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا﴾

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Kita tidak ragu bahwasanya manusia yang paling suci jiwanya adalah Nabi Muhammad ﷺ, maka jika seseorang ingin menyucikan jiwanya, hendaknya dia mencontoh Nabi Muhammad ﷺ.

Imam Ibnul Qayyim ﷺ menjelaskan bahwa membersihkan dan menghilangkan penyakit dari tubuh itu lebih mudah daripada menghilangkan penyakit hati. Kalau seseorang seringnya memilih dokter yang terbaik untuk menghilangkan penyakit yang ada pada tubuhnya, maka demikian pula seharusnya seseorang yang ingin menambuhkan penyakit yang ada di hatinya, hendaknya dia mencontoh orang yang paling bersih hatinya, karena penyakit hati ini jauh lebih sulit disembuhkan daripada penyakit tubuh. Ketahuilah bahwasanya para rasul adalah dokter-dokter penyakit-penyakit hati. Jika Anda menginginkan obat bagi hati Anda, maka ambillah dari Nabi Muhammad ﷺ.

Maka dari itu, jangan kemudian kita berkreasi dan membuat metode-metode tersendiri dalam menyucikan jiwa. Di zaman sekarang, Ada orang yang menjauh dari keramaian untuk menyucikan jiwanya, ada orang yang bertapa ke tempat-tempat terpencil, dan bahkan ada orang yang berwirid dengan wirid-wirid yang dibuat-buatnya. Ketahuilah, bahwa hal-hal seperti ini tidak akan menyucikan jiwa seseorang, bahkan hanya akan semakin mengotori jiwa mereka, karena mereka telah jauh dari resep dokter yang terbaik dalam menangani penyakit hati, yaitu Nabi Muhammad ﷺ.

  1. Membersihkan penyakit hati sebelum menghiasinya dengan keindahan

Allah ﷻ telah berfirman,

﴿خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ﴾

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103)

Dalam ayat ini, Allah ﷻ mendahulukan penyebutan pembersihan sebelum penyucian. Itu artinya, seseorang yang hendak menyucikan jiwanya, terlebih dahulu dia membersihkan jiwanya dari noda-noda maksiat.

Ketahuilah, akan sulit bagi seseorang untuk menyucikan jiwanya ketika dia masih tenggelam dalam kemaksiatan. Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ (كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ)

Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dicatat dalam hatinya sebuah titik hitam, dan apabila ia meninggalkannya dan beristighfar (meminta ampun) serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Dan apabila ia kembali maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutup hatinya, dan itulah yang namanya ‘Ar-Raan’ yang Allah sebutkan dalam firman-Nya: Sekali-kali tidak, bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka (QS. Al-Muthaffifin: 14).”([5])

Oleh karena itu, hendaknya seseorang yang ingin menyucikan jiwanya berusaha terlebih dahulu untuk membersihkan jiwanya dengan meninggalkan kemaksiatan yang dia lakukan, beristighfar, dan bertaubat kepada Allah ﷻ, maka hatinya akan menjadi bersih, dan hatinya pun menjadi suci.

  1. Mengingat kematian

Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ

Perbanyaklah kalian mengingat sesuatu yang dapat pemutus kenikmatan (yaitu kematian).”([6])

Ketahuilah, tidak ada obat yang paling ampuh untuk menyucikan jiwa seseorang seperti mengingat kematian. Jika seseorang tidak mengingat kematian, maka dia akan terus-menerus tenggelam dalam kemaksiatan, tidak sadar bahwasanya kematian bisa saja datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Betapa banyak orang yang keluar dari rumahnya, tidak terbetik dalam benaknya sedikit pun bahwa kematian akan menjumpainya. Akan tetapi, ternyata Allah ﷻ mencabut nyawanya sebelum dia kembali ke rumahnya. Betapa banyak orang yang menelepon istrinya untuk menyiapkan makan malam, akan tetapi dia dapat lagi memakan masakan istrinya karena telah dicabut nyawanya dalam perjalanan pulang. Kematian itu datang dengan tiba-tiba, tidak bisa diduga-duga.

Oleh karenanya, seseorang harus selalu ingat tentang kematian, karena dengan itu dia akan mudah untuk menyucikan jiwanya.

  1. Memilih teman yang baik dan menghindari teman yang buruk

Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu berdasarkan agama temannya, maka hendaknya salah seorang di antara kalian melihat siapa yang menjadi temannya.”([7])

Pepatah mengatakan,

الصَّاحِبُ السَّاحِبُ

Teman itu akan mempengaruhi.”

Setiap orang yang berteman dengan yang lainnya, maka akan terjadi sinkronisasi antara yang satu dengan yang lainnya. Jika temannya buruk, maka dia pun akan ikut berbaur dengan keburukan temannya. Kalau pun tidak ikut berbaur dengan keburukan temannya, maka pasti yang terjadi adalah pertemanannyalah yang akan putus. Ini pasti terjadi.

Seseorang yang berteman dengan seseorang yang suka bergibah, maka dia pun bisa menjadi orang yang suka bergibah. Jika seseorang bergaul dengan orang yang suka memakan riba, dikhawatirkan dia pun hanyut dalam janji manis riba yang diharamkan oleh Allah ﷻ.

Berbeda dengan  orang yang bergaul dengan orang saleh, maka dia pun pasti akan terbawa pada kebaikan-kebaikan sahabatnya tersebut. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ لَا يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang saleh dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.”([8])

Oleh karenanya para hadirin yang dirahmati oleh Allah ﷻ, jika Anda memiliki teman yang senantiasa mengingatkan Anda kepada akhirat, yang senantiasa memacu Anda untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah ﷻ, maka peganglah teman tersebut dengan seerat-eratnya. Adapun teman yang hanya mengajak kepada dunia dan kesenangannya, maka tinggalkanlah teman seperti itu, dikhawatirkan akan memberikan pengaruh yang buruk bagi diri Anda.

أَقٌولُ قَوْلِي هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَخَطِيئَةٍ فَأَسْتَغْفِرُهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشْهَدُ أَن لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، أَللَّهُمَّ صَلِى عَلَيهِ وعَلَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ

Ma’asyiral muslimin yang dirahmati oleh Allah ﷻ.

  1. Menutup segala sarana yang bisa mengantarkan kepada kemaksiatan

Di zaman ini terdapat begitu banyak sarana-sarana yang sangat mudah untuk menjerumuskan kita dalam kemaksiatan, sehingga akhirnya jiwa kita kotor. Kalau di zaman dahulu, seseorang yang ingin terhindar dari maksiat cukup dengan tinggal di rumahnya, dengan begitu dia bisa menundukkan pandangannya dari perkara-perkara yang haram. Adapun di zaman sekarang, seseorang yang tinggal di rumahnya pun sudah bisa bermaksiat kepada Allah ﷻ, yaitu melalui gawai dan internet yang berada dalam genggamannya, yang dengan mudahnya dia bisa melihat perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah ﷻ.

Oleh karenanya, Nabi Muhammad ﷺ memberikan perumpamaan yang sangat indah dengan sabdanya,

إِنَّ اللَّهَ ضَرَبَ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا، عَلَى كَنَفَيِ الصِّرَاطِ سُورَانِ لَهُمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ، عَلَى الأَبْوَابِ سُتُورٌ وَدَاعٍ يَدْعُو عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ وَدَاعٍ يَدْعُو فَوْقَهُ: وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلَامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ، وَالأَبْوَابُ الَّتِي عَلَى كَنَفَيِ الصِّرَاطِ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا يَقَعُ أَحَدٌ فِي حُدُودِ اللَّهِ حَتَّى يُكْشَفَ السِّتْرُ وَالَّذِي يَدْعُو مِنْ فَوْقِهِ وَاعِظُ رَبِّهِ

Sesungguhnya Allah membuat perumpamaan jalan yang lurus, di atas dua tepi jalan ada dua tembok, pada keduanya ada beberapa pintu terbuka, pintu-pintu itu bertirai dan di setiap penghujung jalan ada penyeru yang menyeru manusia dan penyeru yang menyeru di atasnya: Dan Allah menyeru menuju negeri keselamatan, memberi petunjuk kepada siapa saja yang Ia kehendaki menuju jalan yang lurus (QS. Yunus: 25). Pintu-pintu yang ada di sisi jalan adalah batasan-batasan Allah, karenanya janganlah ada seorang pun yang jatuh di batasan-batasan Allah hingga tirai terbuka, sementara yang menyeru dari atasnya adalah Rabbnya.”([9])

Hadis ini menggambarkan bahwa mudah untuk seseorang terjerumus dalam kemaksiatan, karena pintu-pintu kemaksiatan sangat banyak, sementara yang menutupnya bukan pintu-pintu yang terkunci, melainkan hanya sehelai kain yang sangat mudah untuk dibuka. Oleh karenanya, dalam hadis ini disebutkan bahwa agar jangan sampai seseorang membuka tirai-tirai maksiat tersebut, karena bisa jadi tidak dapat lagi keluar dari pintu maksiat tersebut apabila telah terlanjur memasukinya.

Maka dari itu, jika seseorang ingin keselamatan bagi hatinya, hendaknya dia menutup segala pintu-pintu maksiat. Jika dia sadar bahwasanya imannya lemah, mudah terjatuh dalam maksiat melalui perkara-perkara yang diketahuinya, maka hendaknya dia meninggalkan perkara tersebut. Jagalah pandangan, jagalah pendengaran, jagalah lisan, karena betapa sering hati itu kotor karena disebabkan maksiat melalui jalan-jalan tersebut.

  1. Berhati-hati dengan ujub

Jika seseorang telah merasa menyucikan jiwanya, maka janganlah dia ujub. Sesungguhnya, ujub adalah penyakit yang berbahaya. Ketahuilah bahwa orang yang ujub adalah orang yang merasa bahwa berkat dirinya dan usahanya sendirilah segala sesuatu bisa tercapai. Padahal, tidaklah setiap kita bisa melaksanakan salat, bisa membaca Al-Qur’an setiap harinya, bisa memahami ilmu agama, kecuali dengan izin Allah ﷻ. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

وَاللَّهِ لَوْلاَ اللَّهُ مَا اهْتَدَيْنَا، وَلاَ تَصَدَّقْنَا وَلاَ صَلَّيْنَا

Demi Allah, seandainya bukan karena Allah, maka kami tidak akan mendapatkan petunjuk, tidak akan bersedekah dan tidak akan melakukan salat.”([10])

Oleh karenanya, jika seseorang diberi jalan oleh Allah ﷻ untuk menyucikan jiwanya, maka jangan dia ujub, jangan merendahkan orang lain, jangan merasa hebat dengan yang lainnya, namun hendaknya dia yakin bahwa itu semua karena izin Allah ﷻ. Ingatlah bahwa ujub bisa menggugurkan pahala seseorang, sebagaimana perkataan seorang penyair,

وَالْعُجْبَ فَاحْذَرْهُ إِنَّ العُجْبَ مُجْتَرِفٌ أَعْمَالَ صَاحِبِهِ فِي سَيْلِهِ الْعَرِمِ

Adapun ujub, waspadalah terhadapnya. Sesungguhnya ujub akan menarik amalan pelakunya ke dalam arus yang besar (hilang dan tak bermanfaat).”([11])

  1. Mengenal sifat-sifat jiwa

Ketahuilah bahwasanya Allah ﷻ telah menyebutkan tiga model jiwa di dalam Al-Qur’an, yaitu:

Pertama: Jiwa yang tenang. Allah ﷻ berfirman,

﴿يَاأَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ﴾

“Wahai jiwa yang tenang.” (QS. Al-Fajr: 28)

Jiwa ini adalah jiwa yang terpuji, jiwa yang sangat mulia. Jiwa ini adalah jiwa yang tenteram untuk taat kepada Allah ﷻ, yang tidak menerima kemaksiatan apa pun.

Kedua: Jiwa yang suka mencela. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ﴾

“Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang menyesali (dirinya sendiri).” (QS. Al-Qiyamah: 2)

Jiwa jenis ini juga merupakan jiwa yang terpuji, dia adalah jiwa yang senantiasa mencela tatkala diri hendak bermaksiat. Memiliki jiwa jenis ini adalah kemuliaan, karena sebelum atau sesudah bermaksiat jiwa tersebut akan mencela, sehingga dia pun kembali kepada Allah ﷻ.

Ketiga: Jiwa yang menyeru kepada keburukan. Allah ﷻ berfirman,

﴿۞وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ﴾

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf: 53)

Ketika seseorang mendapati dirinya rindu dan ingin bermaksiat, maka hendaknya dia berhati-hati, karena saat itu jiwanya sedang bersifat al-ammarah bis-suu’.

Dengan mengetahui ketiga jenis jiwa yang ada pada diri manusia ini, kita pun bisa mengatur diri kita. Ketika diri kita rindu untuk bermaksiat, ingin bermaksiat, maka lawanlah hasrat tersebut dengan jiwa yang suka mencela. Ingatkan jiwa kita bahwasanya maksiat tersebut akan dihisab oleh Allah, karena maksiat tersebut tidak akan luput dari catatan Allah ﷻ. Setelah dia kembali kepada Allah ﷻ, saat itulah dia berusaha untuk mencapai an-nafs al-muthmainnah, jiwa yang tenang dan rindu dalam ketaatan kepada Allah ﷻ.

Ma’asyiral muslimin yang dirahmati oleh Allah ﷻ. Inilah sepuluh kunci untuk menyucikan jiwa kita, dan semoga sepuluh perkara tersebut dapat menyucikan jiwa kita, sehingga kita bisa bertemu dengan Allah ﷻ dengan jiwa al-muthmainnah.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتْ

اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Footnote:
_______

([1]) HR. Muslim No. 19.

([2]) Majmu’ al-Fatawa (10/561).

([3]) HR. Ibnu Majah No. 199, dinyatakan shahih oleh Syekh al-Albani.

([4]) HR. Muslim No. 2722.

([5]) HR. Tirmidzi No. 3334.

([6]) HR. Ibnu Majah No. 4258, Syekh al-Albani mengatakan hadis ini hasan shahih.

([7]) HR. Abu Daud No. 4833, dinyatakan hasan oleh Syekh al-Albani.

([8]) HR. Bukhari No. 2101.

([9]) HR. Tirmidzi No. 2859, dinyatakan shahih oleh Syekh al-Albani.

([10]) HR. Bukhari No. 4104.

([11]) Syarah Risalah Abi Daud Li Ahli Makkah, karya ‘Abdul Karim al-Khudhair (3/21).