Al-Mushawwir – Maha Membentuk

Asmaul Husna
Al-Mushawwir (Maha Membentuk)

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Makna Al-Mushawwir

Secara umum maknanya ada 2:

  1. Allah ﷻ membentuk berbagai macam makhluk yang berbeda-beda, bervariasi, dan tidak ada yang sama, bahkan dalam satu jenis pun tidak ada yang sama. Kita ketahui makhluk memiliki jenis yang banyak, contohnya jin yang memiliki model-model yang banyak, hewan juga memiliki model yang banyak, begitu juga manusia yang memiliki model yang sangat banyak.

Ketika kita berbicara 1 jenis saja contohnya tentang manusia maka kita dapati manusia berbeda antara satu dengan yang lainnya. Bahkan dua orang kembar pun tetap ada perbedaan antara keduanya. Terlebih lagi jika di bandingkan dengan jenis spesies yang berbeda maka sangat banyak perbedaannya. Berapa banyak makhluk yang ada di alam semesta ini dari Nabi Adam Allah ﷻ hingga sekarang maka tidak ada yang sama antara satu dengan yang lainnya. Dialah Al-Mushawwir yang memberi bentuk dengan bentuk yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.([1])

  1. Allah ﷻ maha hebat dalam membentuk, bentukan Allah ﷻ sempurna dan sesuai dengan qudrah dan hikmah-Nya. Allah ﷻ ciptakan lalat, gajah, atau jerapah dengan model seperti itu karena ada hikmahnya([2]). Ini bukanlah suatu kebetulan sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang Ateis yang mengatakan semua ini terjadi secara kebetulan. Juga di antara mereka ada yang mengatakan dengan logika bahwa semua ini terjadi dengan proses evolusi dari monyet menjadi manusia dan yang lainnya. Ini tidaklah benar, semua ini hanyalah omong kosong. Kita katakan kepada mereka bahwa Allah ﷻ ketika membentuk maka bentukan Allah ﷻ sempurna dan tidak satu pun yang bisa membuat bentuk sesempurna bentuk Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)

Manusia yang paling bagus bentuknya adalah dengan bentuk yang saat ini kita ketahui. Sebagian orang memiliki khayalan membuat bentuk manusia dengan memiliki sayap, memiliki telinga panjang, atau yang lainnya maka semuanya adalah bentuk yang jelek. Juga sebagian orang  membuat bentuk dewa dengan bentuk hidung seperti hidung gajah atau berkepala empat maka semuanya adalah bentuk yang jelek dan tidak sempurna.

Oleh karenanya di antara adab kepada Allah ﷻ adalah tidak boleh membuat gambar atau patung makhluk bernyawa. Ini dijelaskan dalam banyak hadits, di antaranya Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ القِيَامَةِ المُصَوِّرُونَ

“sesungguhnya orang yang paling keras azabnya di sisi Allah pada hari kiamat adalah tukang penggambar/pembuat patung.” ([3])

Dalam lafal yang lain,

الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ

“orang-orang yang meniru ciptaan Allah.” ([4])

Begitu juga dalam sebuah hadits qudsi Allah ﷻ berfirman,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ كَخَلْقِي، فَلْيَخْلُقُوا حَبَّةً، وَلْيَخْلُقُوا ذَرَّةً

“Siapa yang lebih zhalim daripada orang yang mencipta seperti ciptaan-Ku, hendaklah ia cipta sebuah biji, atau semut kecil!” ([5])

Faedah:

  1. Jika kita tahu bahwasanya Allah ﷻ adalah Al-Bari’ (Pencipta) dan Al-Mushawwir (Pembentuk) maka hanya Allah ﷻ yang berhak untuk disembah.

Ketika Nabi Musa ‘alaihissalam melihat kaumnya menyembah berhala patung sapi sebagaimana yang Allah ﷻ sebutkan dalam firman-Nya,

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُوا إِلَى بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ عِنْدَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertobatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima tobatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang”.” (QS. Al-Baqarah: 54)

Nabi Musa ‘alaihissalam menegur kaumnya yang menyembah patung sapi dengan mengatakan kalian telah berbuat zalim dengan menjadikan patung sapi sebagai sembahan. Lalu Nabi Musa ‘alaihissalam memerintahkan mereka,

فَتُوبُوا إِلَى بَارِئِكُمْ

“maka bertobatlah kalian kepada Tuhan yang menciptakan kalian”

Ibnu Katsir mengatakan bahwa ini merupakan bentuk penghinaan terhadap mereka. Bagaimana mungkin mereka menyembah sapi sementara mereka diciptakan oleh Rabb mereka? Seharusnya mereka menyembah yang telah menciptakan mereka, bukan menyembah sapi yang bahkan bentuknya lebih hina dari mereka. Lebih parah lagi adalah jika seseorang menyembah patung yang dia buat sendiri. Seharusnya yang disembah adalah yang membuat segala bentuk bukan yang dibentuk.

  1. Tidak mengapa jika kita ingin memberi nama anak kita dengan nama Abdul Khaliq, Abdul Bari’, atau Abdul Mushawwir.


Footnote:

_________

([1]) Lihat: At-Tahriir Wa At-Tanwiir (28/125).

([2]) Lihat: Tafsir Ibnu Katsir (8/344).

([3]) HR. Bukhari No. 5950 dan Muslim No. 2109.

([4]) HR. Bukhari No. 5954 dan Muslim No. 2107.

([5]) HR. Bukhari No. 5953 dan Muslim No. 2111.