Ar-Razzaq – Ar-Raaziq

Al-Asma’ Al-Husna
(Ar-Razzaq – Ar-Raaziq)

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Pada kesempatan kali ini, kita akan melanjutkan pembahasan kita dari Fikih Al-Asma’ Al-Husna, dan pada kesempatan kali ini kita akan membahas nama Allah Ar-Razzaq (الرَّزَّاقُ) dan Ar-Raaziq (الرَّازِقُ). Ar-Razzaq (الرَّزَّاقُ) merupakan bentuk sighat mubalaghah yang artinya adalah كَثِيْرُ الرَّزق, yaitu banyak memberi rezeki. Adapun Ar-Raaziq (الرَّازِقُ) artinya adalah Maha Pemberi Rezeki.

Lafal yang banyak datang dalam Al-Quran adalah lafal Ar-Razzaq (الرَّزَّاقُ). Di antaranya seperti firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Dan Dia pemberi rezeki yang terbaik.” (QS. Al-Mu’minun: 72)

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki, Yang Mempunyai Kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 58)

Demikian juga firman Allah Subhanahu wa ta’ala tentang perkataan Nabi Isa ‘alaihissalam,

اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang sekarang bersama kami maupun yang datang setelah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; berilah kami rezeki, dan Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki.” (QS. Al-Maidah: 114)

Demikian juga firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik.” (QS. Saba’: 39)

Intinya, masih banyak ayat-ayat yang lain yang menyebutkan lafal Ar-Razzaq (الرَّزَّاقُ) dengan berbagai macam bentuknya.

Adapun lafal Ar-Raaziq (الرَّازِقُ) juga banyak datang dalam hadits-hadits Nabi Muhammad ﷺ. Di antaranya dalam sebuah hadits yang cukup panjang, dimana Nabi Muhammad ﷺ berkata,

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْخَالِقُ الْقَابِضُ، الْبَاسِطُ الرَّازِقُ

Sesungguhnya Allah Sang Maha pencipta, yang Maha menggenggam dan yang melapangkan rezeki.”[1]

Istilah-istilah

Ada beberapa istilah terkait nama Allah Subhanahu wa ta’ala ini yang harus kita ketahui. Di antaranya adalah الرِّزْقُ dan الرَّزْقُ. الرِّزْقُ (Ar-Rizqu) dalam bahasa kita sering disebut rezeki, artinya adalah anugerah dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Adapun الرَّزْقُ (Ar-Razqu) adalah sebutan atas sifat Allah Subhanahu wa ta’ala yang artinya adalah memberi rezeki.

Makna dan kandungan الرَّزَّاقُ

Ada banyak makna dan kandungan dari nama Allah Subhanahu wa ta’ala الرَّزَّاقُ, di antaranya:

  1. Allah Subhanahu wa ta’ala menjamin seluruh rezeki makhluk-Nya, bahkan rezeki hewan melata sekalipun

Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” (QS. Hud: 6)

Demikian juga firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan berapa banyak makhluk bergerak yang bernyawa yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu. Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut: 60)

Subhanallah, semua makhluk di atas muka bumi, baik yang terbang di udara, baik yang ada dataran muka bumi, baik makhluk yang ada di dasar laut, dan bahkan makhluk yang ada di dalam bumi, semua ditanggung rezekinya oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Bahkan hewan-hewan yang tidak memiliki kecerdasan, tapi Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan naluri atau mengajarkan kepada mereka cara mencari rezeki mereka. Oleh karenanya Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Jika sekiranya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenarnya tawakal, niscaya kalian diberi rezeki seperti rezeki seekor burung, dia pergi dengan perut kosong di pagi hari dan pulang di sore hari dengan perut terisi penuh.”[2]

Siapa yang menganggung rezeki seekor burung? Dia tidak pernah belajar mencari rezeki, tidak memiliki akal, akan tetapi Allah-lah yang memberinya rezeki dan naluri agar dia mencari rezekinya. Maka jika sekiranya hewan melata di atas muka bumi ini ditanggung rezekinya oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, maka tentu manusia juga ditanggung rezekinya pula.

  1. Allah Subhanahu wa ta’ala menentukan rezeki manusia sebagaimana ajalnya

Ketika manusia masih berada di dalam perut ibu-ibu mereka berbentuk janin, maka Nabi Muhammad ﷺ menyebutkan,

ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ

Kemudian Allah pun mengutus seorang malaikat untuk menghembuskan ruh ke dalam dirinya dan diperintahkan untuk menulis empat hal; rezekinya, ajalnya, amalnya, dan sengsara atau bahagianya.”[3]

Kemudian juga dalam sebuah hadits Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا

Sesungguhnya sebuah jiwa tidak akan mati hingga terpenuhi (sempurna) rezekinya meski tersendat-sendat.”[4]

Oleh karena itu, ketika kita telah sadar bahwasanya ajal telah ditetapkan sebagaimana rezeki kita, maka kita tentu yakin bahwasanya rezeki kita juga akan datang sebagaimana ajal itu akan datang. Namun sebagaimana kita tahu ajal kita akan datang sehingga kita berusaha menjaga kesehatan, kita berusaha menerapkan keamanan dalam keseharian, maka kita juga perlu berusaha melakukan sesuatu untuk mencari rezeki kita. Bukan kemudian kita hanya berdiam diri menunggu rezeki kita, tapi kita juga berusaha untuk mencarinya sebagaimana kita berusaha menjaga kesehatan. Namun yang perlu diingat bahwasanya bagaimanapun juga rezeki itu akan datang kepada kita.

  1. Allah Subhanahu wa ta’ala menggandengkan الرَّزَّاقُ dan ذُو الْقُوَّةِ

الرَّزَّاقُ artinya Yang Maha Pemberi rezeki, adapun ذُو الْقُوَّةِ artinya adalah Maha Kuat. Penggabungan ini kita dapati dalam firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki, Yang Mempunyai Kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 58)

Apa faedah dari penggabungan kedua nama ini? Para ulama menjelaskan bahwasanya Allah Subhanahu wa ta’ala Maha Kuat dalam memberi rezeki, dan Maha Kuat Allah Subhanahu wa ta’ala dalam memberi rezeki itu dari dua sisi:

  • Bahwasanya Allah Subhanahu wa ta’ala Maha Kuat dalam memberi rezeki kepada seluruh makhluk yang begitu banyak dalam satu waktu. Tentu kita bisa membayang bahwa betapa banyak makhluk di dunia ini, bahkan jika kita menghitung manusia saja sudah mencapai miliaran, belum lagi jumlah hewan-hewan yang mungkin lebih banyak daripada manusia. Akan tetapi dengan jumlah sebanyak itu, Allah Subhanahu wa ta’ala bisa memberi rezeki kepada mereka semua. Bagaimana caranya? Allah Subhanahu wa ta’ala hanya tinggal berkata “Kun”, maka jadilah. Itulah mengapa dikatakan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala Maha Pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan. Kalau kita mau merenungkan, siapakah yang bisa seperti Allah Subhanahu wa ta’ala? Sebagian orang saja jika di masa ekonomi sulit dia kesulitan untuk memberi gaji anak buahnya yang banyak, sehingga akhirnya dia melakukan PHK terhadap beberapa karyawannya. Adapun Allah Subhanahu wa ta’ala Maha Kuat, Dia bisa memberi rezeki kepada seluruh makhluknya dalam satu waktu.
  • Bahwasanya Allah Subhanahu wa ta’ala Maha Kuat untuk terus-terusan memberi rezeki tanpa henti. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

يَدُ اللَّهِ مَلْأَى لاَ تَغِيضُهَا نَفَقَةٌ سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

Sesungguhnya tangan Allah terisi penuh, pemberian-Nya siang maupun malam tidak pernah menguranginya.”[5]

Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman dalam hadits qudsi,

يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ، مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ

Wahai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan, serta semua jin dan manusia berdiri di atas bukit untuk memohon kepada-Ku, kemudian masing-masing Aku penuh permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi kekuasaan yang ada di sisi-Ku, melainkan hanya seperti benang yang menyerap air ketika dimasukkan ke dalam lautan.”[6]

  1. Allah Subhanahu wa ta’ala membentangkan dan menyempitkan rezeki sesuai kehendak dan hikmah-Nya

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Teliti terhadap (keadaan) hamba-hamba-Nya, Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 27)

Kita berbicara tentang sebagian orang yang diberi kelebihan harta daripada yang lainnya, ternyata rezeki yang sedikit itu sudah membuat mereka sudah sombong. Mereka baru diberi jabatan yang belum begitu tinggi sudah angkuhnya luar biasa. Maka bagaimana lagi jika semua orang dilapangkan rezekinya? Maka sebagaimana kata Allah Subhanahu wa ta’ala pada ayat di atas, niscaya manusia akan berbuat melampaui batas. Oleh karenanya dalam ayat tersebut juga Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwasanya Dia menurunkan kadar rezeki setiap orang sesuai dengan kadar yang Allah kehendaki.

Allah Subhanahu wa ta’ala tentu sangat tahu siapa di antara hamba-hamba-Nya yang pantas untuk menjadi kaya, dan Allah Subhanahu wa ta’ala juga tahu siapa yang pantas untuk disempitkan rezekinya. Oleh karenanya dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa ta’ala mengatakan,

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az-Zukhruf: 32)

Allah Subhanahu wa ta’ala memiliki hikmah di balik ketetapan-Nya menjadikan ada orang kaya dan ada orang miskin. Jika sekiranya semua orang di dunia kaya, tentu kehidupan di dunia ini tidak akan berjalan normal.

Jenis-jenis Rezeki dari Allah

Rezeki dari Allah itu ada dua jenis, yaitu rezeki secara umum dan rezeki secara khusus.

  1. Rezeki umum

Rezeki umum yang dimaksud di sini adalah rezeki yang berkaitan dengan materi. Rezeki umum ini Allah Subhanahu wa ta’ala berikan kepada orang yang beriman dan orang kafir. Kemudian rezeki umum juga mencakup yang halal dan yang haram. Oleh karenanya kita ketahui bahwasanya Nabi Muhammad ﷺ setelah shalat subuh senantiasa berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal yang diterima.”[7]

Hadits ini memberikan pemahaman kepada kita bahwasanya ada rezeki yang buruk (haram), karena Nabi Muhammad ﷺ hanya meminta rezeki yang baik (halal).

Benar bahwasanya yang diberi rezeki oleh Allah Subhanahu wa ta’ala bukan hanya orang yang beriman, akan tetapi orang-orang kafir juga diberi rezeki oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Banyak sekali contoh orang-orang kafir yang diberi rezeki oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, di antaranya adalah Firaun dan Qarun, baik itu rezeki mereka dari cara yang halal atau yang haram, intinya orang-orang kafir juga Allah Subhanahu wa ta’ala berikan rezeki. Bahkan bisa jadi mereka jauh lebih banyak mendapatkan rezeki daripada orang beriman. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا

Kepada masing-masing (golongan), baik (golongan) ini (yang menginginkan dunia) maupun (golongan) itu (yang menginginkan akhirat), Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.” (QS. Al-Isra’: 20)

Kemudian dengan harta tersebut, orang-orang kafir mulai sombong, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam ayat yang lain,

وَقَالُوا نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ، قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Dan mereka berkata, ‘Kami memiliki lebih banyak harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami tidak akan diazab’. Katakanlah, ‘Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasinya (bagi siapa yang Dia kehendaki), tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui’.” (QS. Saba’: 35-36)

Dari sini kita mengambil kesimpulan bahwasanya banyaknya orang-orang kafir yang kaya raya merupakan dalil bahwasanya kekayaan bukan tanda pemuliaan dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ، نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَلْ لَا يَشْعُرُونَ

Apakah mereka mengira bahwa Kami memberikan harta dan anak-anak kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami segera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? (Tidak), tetapi mereka tidak menyadarinya.” (QS. Al-Mu’minun: 55-56)

Kekayaan bukanlah tanda bahwa seseorang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Bahkan bisa jadi yang dia sedang dia alami adalah istidraj. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ، وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ، كَلَّا بَلْ

Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku’. Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinaku’. Sekali-kali tidak.” (QS. Al-Fajr: 15-17)

Oleh karenanya ini menunjukkan bahwasanya harta yang banyak bukanlah indikasi bahwa dia dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Namun yang perlu untuk kita perhatikan adalah jika seseorang memiliki harta yang banyak, kemudian harta tersebut diinfakkan di jalan Allah Subhanahu wa ta’ala, maka itu pertanda pemuliaan dari Allah Subhanahu wa ta’ala, karena hartanya digunakan untuk mencari akhirat. Oleh karenanya kita ketahui bahwasanya Nabi Muhammad ﷺ memerintahkan kita untuk cemburu kepada dua orang, yaitu orang yang berilmu dan orang yang dermawan.[8]

Berbicara tentang harta yang haram, orang-orang Mu’tazilah mengingkari hal ini. Mereka mengatakan bahwasanya rezeki yang haram tidak berasal dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka kita katakan bahwasanya kalau rezeki yang haram bukan dari Allah, maka dari siapa lagi? Bukankah kita telah ketahui bahwasanya Allah Subhanahu wa ta’ala menakdirkan yang baik dan buruk sekaligus, Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan malaikat dan juga menciptakan iblis, Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan Nabi Muhammad ﷺ dan juga menciptakan Abu Jahal, Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan Nabi Musa ‘alaihissalam dan juga menciptakan Firaun. Maka jika sebagian orang ada yang mencari rezeki dengan cara yang halal, maka tentu juga ada orang yang mencari rezeki dengan cara yang haram. Oleh karenanya seluruh rezeki yang umum mencakup rezeki yang halal dan haram.

  1. Rezeki khusus

Rezeki khusus di sini berkaitan dengan keimanan dan akhirat. Rezeki khusus di sini terbagi menjadi dua:

  • Di dunia. Rezeki di dunia sangat banyak, di antaranya harta yang digunakan untuk bersedekah. Di antaranya juga ketenteraman jiwa, kebahagiaan, anak dan istri yang saleh dan salihah.
  • Di akhirat. Rezeki di akhirat itu berupa nikmat-nikmat surga, dan ini disebut oleh Allah Subhanahu wa ta’ala sebagai rezeki, sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُّدْخِلْهُ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا قَدْ اَحْسَنَ اللّٰهُ لَهُ رِزْقًا

Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan kebajikan, niscaya Dia akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh, Allah memberikan rezeki yang baik kepadanya.” (QS. At-Thalaq: 11)

Demikian juga firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam ayat yang lain,

جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدَ الرَّحْمَنُ عِبَادَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّهُ كَانَ وَعْدُهُ مَأْتِيًّا، لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا إِلَّا سَلَامًا وَلَهُمْ رِزْقُهُمْ فِيهَا بُكْرَةً وَعَشِيًّا

Yaitu surga ‘Adn yang telah dijanjikan oleh Tuhan Yang Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Nya, sekalipun (surga itu) tidak tampak. Sungguh, (janji Allah) itu pasti ditepati. Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang tidak berguna, kecuali (ucapan) salam. Dan di dalamnya bagi mereka ada rezeki pagi dan petang.” (QS. Maryam: 61-62)

Faedah

Ada beberapa faedah dari kita beriman kepada nama Allah Subhanahu wa ta’ala Ar-Razzaq (الرَّزَّاقُ), di antaranya:

  1. Kita akan semakin yakin bahwasanya rezeki akan datang dengan syarat rezeki tersebut dicari

Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS. Al-Jum’ah: 10)

  1. Kita tidak akan gelisah dengan perkara rezeki

Sebagian orang bersikap suuzan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, padahal Allah Subhanahu wa ta’ala telah menjamin rezeki kita sejak kita berada di dalam perut ibu kita, padahal Allah Subhanahu wa ta’ala telah menjamin rezeki kita tatkala masih dalam kondisi janin dan tidak bisa berbuat apa-apa sama sekali, akan tetapi sejak saat itu rezeki telah Allah Subhanahu wa ta’ala berikan kepada kita. Kemudian tatkala kita telah lahir ke dunia, kita juga tidak bisa apa, ketika kita masih bayi kita hanya bisa menangis-nangis, akan tetapi ketika itu Allah Subhanahu wa ta’ala juga telah memberikan rezeki kepada kita lewat orang tua kita secara terus menerus. Bahkan Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرً

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu. Membunuh mereka itu sungguh suatu dosa yang besar.” (QS. Al-Isra’: 31)

Seorang anak sudah ditanggung rezekinya oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, akan tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan rezeki bagi seorang anak yang masih kecil melalui orang tuanya. Namun betapa anehnya manusia ketika dia telah dewasa, setelah dia melalui fase hidupnya yang penuh dengan rezeki dari Allah, kemudian ketika dewasa dia menyangka bahwasanya Allah Subhanahu wa ta’ala tidak akan memberi dia rezeki.

Oleh karena itu, jangan sampai seseorang suuzan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala terkait rezekinya, tidak perlu gelisah, yang penting seseorang mau berusaha dan bertawakal kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

  1. Kita tidak akan mencari rezeki yang haram

Hal yang sangat perlu untuk kita ingat adalah rezeki akan datang kepada setiap orang. Maka kemudian seseorang diberi pilihan apakah dia mau mengambil rezeki tersebut dengan cara yang halal atau yang haram. Akan tetapi hendaknya seseorang mencari rezeki dengan cara yang halal, sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ,

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، خُذُوا مَا حَلَّ، وَدَعُوا مَا حَرُمَ

Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan carilah yang baik dalam mencari dunia. Sesungguhnya sebuah jiwa tidak akan mati hingga terpenuhi (sempurna) rezekinya meski tersendat-sendat. Bertakwalah kepada Allah, carilah yang baik dalam mencari dunia, ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram.”[9]

Sesungguhnya orang yang memilih mencari rezeki dengan cara yang haram juga akan diberikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, akan tetapi ingat bahwa itu adalah sesuatu yang haram, dan akan ada ganjarannya di akhirat kelak.

  1. Tidak mendahulukan rezeki dunia sehingga lupa dengan rezeki akhirat

Hal ini Allah Subhanahu wa ta’ala ingatkan pada banyak ayat di dalam Al-Quran, di antaranya seperti firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا، وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 16-17)

Kemudian juga firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan Kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 96)

Allah Subhanahu wa ta’ala mengingatkan kepada kita bahwasanya rezeki yang ada pada diri kita akan lenyap dan apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala akan kekal. Bagaimana cara kita bisa mendapatkan sesuatu yang kekal di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala tersebut? Yaitu jika kita memiliki rezeki dan kita gunakan di jalan Allah Subhanahu wa ta’ala, maka itulah yang akan menjadi simpanan di sisi Allah.

Footnote:

___________

[1] HR. Ahmad No. 12591, sanadnya dinyatakan sahih oleh Syu’aib Al-Arnauht.

[2] HR. At-Tirmidzi No. 2344, dinyatakan sahih oleh Syaikh Al-Albani.

[3] HR. Muslim No. 2643.

[4] HR. Ibnu Majah No. 2144, dinyatakan sahih oleh Syaikh Al-Albani.

[5]  HR. Bukhari No. 4684.

[6] HR. Muslim No. 2577.

[7] HR. Ibnu Majah No. 925, dinyatakan sahih oleh Syaikh Al-Albani.

[8] Lihat: HR. Bukhari No. 7316.

[9] HR. Ibnu Majah No. 2144, dinyatakan sahih oleh Syaikh Al-Albani.