Tercelanya Sifat Tergesa-Gesa – Hadis 31

Hadits 31
Tercelanya Sifat Tergesa-Gesa

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ

Dari sahabat Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya sikap tergesa-gesa itu dari syaithan.” ([1])

Makna Hadits

Hadits ini memberi peringatan kepada kita tentang buruknya sifat tergesa-gesa. Sebaliknya lawan dari  الْعَجَلَةُ(tergesa-gesa) yaitu التَّأَنِّي atau وَالأَنَاةُ yakni pelan-pelan, hati-hati, dan penuh pertimbangan yang merupakan sifat yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah ﷺ bersabda kepada salah seorang sahabat,

إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الحِلْمُ، وَالأَنَاةُ

“Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang Allah cintai yaitu mudah memaafkan dan tidak terburu-buru.” ([2])

Seseorang yang tergesa-gesa maka dia tidak akan berpikir dengan tenang sehingga terkadang dia mengambil tindakan-tindakan yang sering kali membuahkan penyesalan. Sebuah syair yang indah tentang sikap ketergesa-gesaan disampaikan oleh Ibnu Hibban berharap dalam kitabnya Raudhatul ‘Uqala. Beliau berkata,

إِنَّ الْعَاجِلَ لَا يَكَادُ يَلْحَقُ؛ كَمَا أَنَّ الرَّافِقَ لَا يَكَادُ يَسْبِقُ، وَالسَّاكِتُ لَا يَكَادُ يَنْدَمُ، وَمَنْ نَطَقَ لَا َيكَادُ يَسْلَمُ، وَإِنَّ العَجِلَ يَقُوْلُ قَبْلَ أَنْ يَعْلَمَ، وَيُجِيْبُ قَبْلَ أَنْ يَفْهَمَ، وَيَحْمَدُ قَبْلَ أَنْ يُجَرِّبَ، وَيَذُمُّ بَعْدَ مَا يَحْمَدُ، وَيَعْزِم قَبْلَ أَنْ يُفَكِّرَ، وَيَمْضِيْ قَبْلَ أَنْ يَعْزِمَ، وَالعَجِلُ تَصْحَبُهُ النَدَامَةُ، وَتَعْتَزِلُهُ السَّلَامَةُ، وَكَانَتِ الْعَرَبُ تَكْنِي اْلعَجَلَةَ أُمَّ النَّدَامَاتِ

Orang yang tergesa-gesa hampir-hampir tidak beberharapasil, sebagaimana orang yang perlahan-lahan hampir-hampir tidak bisa melampaui oleh orang lain.

Orang yang diam hampir-hampir tidak pernah menyesal, adapun orang yang berbicara hampir-hampir tidak selamat.

Orang yang tergesa-gesa dia berbicara sebelum berilmu, dan dia menjawab sebelum mengerti. Dia memuji orang sebelum dia mencoba, dan akhirnya dia mencela padahal sebelumnya dia memuji.

Dia bertekad melaksanakan sebelum dia berpikir, dan dia berjalan sebelum memiliki tekad. Orang yang tergesa-gesa pada umumnya disertai dengan penyelesaian dan dijauhi keselamatan. Orang-orang arab dahulu menggelari ketergesaan dengan ibunya penyesalan-penyesalan. ([3])

Sikap tergesa-gesa sering kali hanya membuahkan penyesalan. Baik itu tergesa-gesa dalam berbicara maupun dalam berbuat. Sikap tergesa-gesa juga akan membuat orang gelisah dan tidak tenang dalam melaksanakan aktivitasnya. Oleh karena itu, orang yang tergesa-gesa kadang mudah untuk dibohongi, karena dia tidak bisa berpikir dengan jernih sebab tidak tenangnya.

Adapun Islam mengajarkan ketenangan, sikap hati-hati dan penuh pertimbangan, sebelum memutuskan terlebih dahulu diawali dengan istikharah atau bermusyawarah dalam segala urusannya.

Tergesa-Gesa Dalam Kebaikan

Para ulama mengatakan bahwa sikap tergesa-gesa tercela kecuali pada hal-hal yang telah jelas merupakan kebaikan. Maka hendaklah tidak ditunda jika tidak ada halangan. Banyak ayat di dalam Al-Quran yang memotivasi kita agar bersegera menuju kebaikan. Allah ﷻ berfirman,

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran: 133)

Allah ﷻ juga berfirman,

وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

Dan untuk yang demikian itu (meraih berbagai nikmat di surga) hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al Muthaffifin: 26).

Dalam ayat yang lain, Allah ﷻ berfirman,

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

Berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al Baqarah: 148)

Footnote:

______________

([1]) HR At-Tirmidzi no 2012 didaifkan oleh Al-Albani Dho’iif Sunan At-Tirmidzi No. 65 1/226

([2]) HR At-Tirmidzi no. 2011 disahihkan oleh Al-Albani

([3]) Raudhatul ‘Uqala, 216