Haramnya Mendengarkan Pembicaraan Orang Lain Tanpa Seizinnya – Hadis 28

Hadits 28
Haramnya Mendengarkan Pembicaraan Orang Lain Tanpa Seizinnya

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ، وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ صُبَّ فِي أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ القِيَامَةِ

Dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, ﷺ bersabda, “Barang siapa  yang mendengarkan pembicaraan suatu kaum padahal mereka tidak ingin didengarkan pembicaraannya, akan dituangkan pada telinganya timah pada hari kiamat.”([1])

Makna Hadits

Hadits ini menjelaskan tentang adab yang sangat mulia. Apabila ada dua orang yang sedang mengobrol, maka tidak boleh ikut campur apabila dia tidak ingin pembicaraan mereka didengarkan. Demikian pula mencuri pembicaraan, jika mereka sedang terlibat dalam pembicaraan rahasia maka haram hukumnya kita ikut mendengarkannya secara sembunyi-sembunyi.

Sebagian ulama menyimpulkan dari hadits ini bahwa sesuatu yang tidak ingin dilihat oleh orang lain atau sengaja disembunyikan maka terlarang untuk melihatnya atau mengintipnya. Seperti kamar seseorang yang tertutup atau rumah yang dipagari untuk menghindarkan dari pandangan atau pendengaran orang lain. Semua ini terancam dengan ancaman sebagaimana dalam hadits yaitu akan dituangkan pada telinganya timah cair yang panas pada hari kiamat.

Selain itu ﷺ memotivasi kita untuk meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat atau hal-hal yang bukan merupakan urusan kita. Beliau ﷺ bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

“Di antara (tanda) baiknya Islam seseorang ialah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.”([2])

Terlalu banyak urusan pribadi yang akan ditelantarkan apabila kita menyibukkan diri mengurusi hal-hal yang bukan merupakan urusan kita. Apalagi hal tersebut merupakan urusan orang lain yang dia tidak ingin jika ada orang lain yang mengetahuinya. Padahal berlepas diri dari urusan orang lain justru akan membuat hati kita semakin lapang karena tidak menambah beban pikiran kita. Kecuali apabila terpaksa kita harus tau maka kita boleh ikut serta membantu mencarikan solusi.

Oleh karena itu hendaknya kita berusaha menghindari pembicaraan-pembicaraan yang di sana membahas urusan orang lain, yang bisa menjerumuskan kita ke dalam dosa dan hanya menambah keruh dan beban di pikiran kita.

Footnote:

________

([1]) HR. Bukhari no. 7042.

([2]) HR. Tirmidzi no. 2317.