Larangan Marah – Hadis 12

Hadis 12
Larangan Marah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ، فَرَدَّدَ مِرَارًا، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwasanya ada seseorang yang datang kepada Rasulullah  dan berkata, “Berilah wasiat kepadaku.” Rasulullah menjawab, “Jangan marah!” orang ini mengulangi lagi, Rasulullah kembali menjawab, “Jangan kau marah!” ([1])

Berdasarkan hadis ini, seakan-akan orang yang datang kepada Rasulullah tersebut kurang puas dengan wasiat Rasulullah kepadanya. Dia ingin mencari wasiat yang lebih hebat sehingga dia mengulang-ngulangi permintaannya.

Hadis ini sudah disinggung pada pembahasan hadis kedua. Terkait hadis ini, terdapat riwayat dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, ‘Ada seseorang datang kepada Rasulullah e dan berkata,

يَا نَبِيَّ اللهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ دَخَلْتُ الْجَنَّةَ، وَلَا تُكْثِرْ عَلَيَّ، قَالَ: ” لَا تَغْضَبْ

“Ya Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang jika aku lakukan maka aku akan masuk surga, tetapi jangan banyak amalannya.” Rasulullah bersabda, “Jangan kau marah!”  ([2])

Dalam riwayat lainnya pula, Rasulullah ﷺ bersabda,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو أَنِّهُ سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَاذَا يُبَاعِدُنِي مِنْ غَضَبِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ: لَا تَغْضَبْ

“Ya Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang bisa menjauhkan aku dari kemurkaan Allah. Rasulullah bersabda, ‘Jangan kau marah!’” ([3])

Dari beberapa hadis di atas dapat disimpulkan bahwa menahan amarah adalah masalah yang penting, bukan masalah sepele. Seorang sahabat meminta wasiat hingga berulang-ulang, Rasulullah menyuruhnya agar jangan marah. Sahabat lain meminta agar ditunjukkan suatu amalan yang sedikit tetapi bisa memasukkan ke dalam surga, lalu Rasulullah menyuruhnya agar jangan marah. Ada sahabat lain lagi yang minta ditunjukkan amalan yang bisa menjauhkannya dari neraka Jahanam, lantas Rasulullah menyuruhnya agar jangan marah.

Sahabat yang dinasehati Rasulullah untuk bersabar akhirnya berkata,

فَفَكَّرْتُ حِينَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا قَالَ، فَإِذَا الْغَضَبُ يَجْمَعُ الشَّرَّ كُلَّهُ

“Kemudian aku merenungi perkataan Rasulullah, ‘Jangan kau marah, jangan kau marah.’ Setelah nya, saya dapati bahwa kemarahan itu mengumpulkan segala keburukan.” ([4])

Sungguh benar hal ini. Begitu banyak permasalahan yang timbul akibat kemarahan dan ketidaksabaran. Perceraian banyak terjadi karena tidak sabar, pembunuhan banyak terjadi karena emosional, dan berbagai pertikaian terjadi karena kemarahan. Jelaslah bahwa kemarahan menimbulkan banyak permasalahan. Muhammad bin Ja’far berkata الْغَضَبُ مِفْتَاحُ كُلِّ شَرٍّ “Kemarahan adalah kunci (pembuka) segala keburukan” ([5]). Ibnu Rajab al-Hanbali berkata :

إنَّ الْغَضَبَ جِمَاعُ الشَّرِّ، وَأَنَّ التَّحَرُّزَ مِنْهُ جِمَاعُ الْخَيْرِ

“Sesungguhnya kemarahan sebab utama segala keburukan dan menjauhi kemarahan adalah merupakan sebab segala kebaikan” ([6]).

Makna Larangan Marah

Ibnu Rajab berharap menjelaskan apa yang dimaksud dengan kalimat لاَ تَغْضَبْ (Jangan kau marah!). Beliau menjelaskan bahwa bukan berarti sifat marah tersebut kita hilangkan dari hati kita, karena setiap manusia diciptakan dengan membawa potensi untuk marah. Sifat marah bisa timbul sewaktu-waktu sebagaimana manusia tidak mungkin menghilangkan rasa lapar, lelaki tidak mungkin meninggalkan syahwat terhadap wanita. Akan tetapi beliau menafsirkan perintah jangan marah dengan dua tafsiran, yaitu:

Pertama, hiasilah dirimu dengan akhlak-akhlak yang mulia yang bisa menjauhkan engkau dari sifat marah, dengan melakukan tindakan preventif (pencegahan) supaya tidak cepat marah dan tercegah dari marah. Di antaranya dengan,

  • Mudah memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain

Sebagian orang berkata, “Apabila punya masalah dengan istri maka catatlah kebaikan-kebaikan istrimu di batu (agar tidak mudah dilupakan). Sedangkan keburukan-keburukan istri catatlah di air (agar mudah dilupakan).” Bukan malah sebaliknya, setiap kesalahan istri dicatat di batu. Sampai-sampai yang dia ingat adalah kapan istrinya melakukan kesalahan. Begitu pun pada wanita, jika suami punya kesalahan catatlah di air jangan di batu. Sedangkan kebaikan suami catatlah di batu agar tidak mudah dilupakan.

Namun, realitas menunjukkan bahwa para wanita diberikan hafalan kuat dalam masalah mengingat kesalahan suami, berbeda dengan suami yang kadang-kadang lupa. Ketika bertengkar, tiba-tiba istri menyebutkan semua kesalahan suami. Berbeda dengan sang suami, seringkali dia tidak mengingatnya, yang dia ingat adalah utangnya, bisnisnya, dan urusan-urusan lain.

  • Wajah yang selalu dipenuhi senyum

Latihlah diri agar selalu tersenyum kepada istri, orang tua, mertua, dan kepada sahabat-sahabat kita. Dampak senyum terhadap kebaikan hati sangat signifikan. Demikian juga, usahakan bersikap ramah ketika bertemu degan orang lain. Berilah salam dan berjabat tanganlah dengannya. Menyalami dengan menjabat tangannya mempunyai pengaruh, seakan-akan timbul perasaan sayang kepada dia, berbaik sangka kepadanya.

  • Jauhi rasa pelit

Latihlah diri untuk selalu dermawan karena orang yang pelit biasanya suka marah-marah. Sehingga salah satu usaha untuk menekan kemarahan adalah dengan sifat dermawan.

Kedua, jika timbul kemarahan dalam dirimu maka lakukanlah sebab-sebab yang bisa memadamkan kemarahan tersebut. Usahakan jangan sampai Anda melampiaskan kemarahan tersebut. Pembahasan ini pernah disinggung pada penjelasan hadis kedua.([7])

Tips Menahan Amarah

Di antara kiat-kiat yang seyogianya dilakukan oleh orang yang sedang marah agar kemarahannya mereda yaitu:

  • Bertaawuz

Ketika Rasulullah ﷺ  melihat seseorang yang sedang marah sampai urat lehernya mengembang karena saking marahnya, Beliau ﷺ  mengatakan,

إِنِّيْ لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجدُ

“Sesungguhnya aku mengetahui satu kalimat yang jika orang itu mengucapkannya, akan hilang kemarahannya, (yaitu) dia mengucapkan, ‘Aku memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk,’ akan hilang apa yang dia rasakan.” ([8])

Tatkala Anda sedang dikuasai rasa marah, yakinlah bahwasanya setan sedang berada di depan Anda untuk merayu agar melampiaskan kemarahan tersebut. Manusia jika sedang dikuasai amarah maka pada saat itu dia sedang berada dalam kondisi yang sangat lengah. Lebih dari itu, dia juga dalam kondisi dikuasai syahwat. Apabila manusia sedang dikuasai syahwat, hal itu akan membuat imannya jadi lemah. Salah satunya ketika marah. Sehingga, yakinlah bahwa setan hadir pada saat marah atau kondisi-kondisi lainnya di mana dia sedang dikuasai syahwat.

Rasulullah ﷺ  bersabda,

أَلَا لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

“Ketahuilah, tidaklah seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang wanita kecuali setan menjadi yang ketiga (hadir di antara keduanya).” ([9])

Karena sedang bersyahwat, namanya laki-laki bertemu dengan seorang wanita pasti ada perasaan, baik itu bertemu secara langsung atau via media social sehingga setan hadir dalam kondisi seperti itu. Demikian juga ketika seseorang sedang marah, maka setan akan hadir. Oleh karena itu, Rasulullah menyuruh kita untuk berdoa  أَعُوْذُ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ  yang artinya “Aku memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk”.

Inilah makna tafsiran kedua dari “Laa Taghdhab!” (jangan kau marah) yaitu jangan kau lampiaskan kemarahanmu tetapi lawanlah kemarahan tersebut dengan cara berdoa kepada Allah agar dilindungi dari godaan setan.

  • Berwudu

Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Sesungguhnya kemarahan itu dari setan dan setan tercipta dari api. Jika salah seorang dari kalian marah, padamkanlah api tersebut dengan berwudu.” ([10])

Yaitu dengan wudu seperti yang dilakukan ketika ingin melaksanakan salat. Amalan tersebut diharapkan bisa mengurangi kemarahannya.

  • Duduk

Orang yang sedang marah hendaknya duduk. Orang yang marah dalam keadaan berdiri akan mudah melampiaskan kemarahannya. Tangannya mudah memukul, kakinya mudah menendang. Apabila dia duduk maka itu akan membuatnya lebih tenteram. Jika belum juga hilang, hendaknya dia berbaring. Sehingg dengan berbaringa lebih teberharapalang untuk berbuat hal-hal yang melampaui batas. Jika dia bisa tidur maka hal itu lebih baik. Sebagaimana kisah ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu ketika ada permasalahan keluarga dengan istrinya, Fathimah.

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، قَالَ: جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْتَ فَاطِمَةَ فَلَمْ يَجِدْ عَلِيًّا فِي البَيْتِ، فَقَالَ: «أَيْنَ ابْنُ عَمِّكِ؟» قَالَتْ: كَانَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ شَيْءٌ، فَغَاضَبَنِي، فَخَرَجَ، فَلَمْ يَقِلْ عِنْدِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِإِنْسَانٍ: «انْظُرْ أَيْنَ هُوَ؟» فَجَاءَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هُوَ فِي المَسْجِدِ رَاقِدٌ، فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُضْطَجِعٌ، قَدْ سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ شِقِّهِ، وَأَصَابَهُ تُرَابٌ، فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُهُ عَنْهُ، وَيَقُولُ: «قُمْ أَبَا تُرَابٍ، قُمْ أَبَا تُرَابٍ»

Sahl bin Sa’d bercerita, “Rasulullah shallallahu álaihi wasallam mendatangi rumah Fathimah, tapi tidak mendapati Ali bin Abi Thalib. Rasulullah berkata, ‘Dimanakah putra pamanmu([11])?’ Fathimah menjawab, ‘Tadi ada suatu permasalahan antara aku dengan dia, maka terjadi saling marah antara aku dan dia. Lalu beliau pun keluar dan tidak tidur siang di rumah.‘ Rasulullah shallallahu álaihi wasallam berkata kepada seseorang, Lihatlah di mana Ali!‘. Orang itu datang dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, Ali di masjid sedang tidur.‘ Rasulullah shallallahu álaihi wasallam kemudian mendatanginya sementara Ali dalam kondisi berbaring, rida’ (selendang atas) beliau pun lepas dari punggungnya dan punggungnya dipenuhi turab (tanah). Maka Rasulullah pun membersihkan tanah dari Ali seraya berkata, ‘Bangunlah, Wahai Abu Turab! Bangunlah, Abu Turab!‘“([12])

Lihatlah ketika Ali bin Abi Thalib marah kepada istrinya, maka ia pun pergi ke masjid untuk membaringkan diri dan menghilangkan kemarahan([13]). Bahkan beliau tidur di mesjid.

  • Diam

Rasulullah ﷺ bersabda,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

“Jika salah seorang dari kalian sedang marah, hendaknya dia diam! ([14])

Hal ini karena pada saat seseorang marah imannya akan melemah sehingga setan hadir yang membuatnya tidak bisa mengendalikan dirinya. Bahkan para ulama mengatakan bahwa hakim/kadi tidak boleh memberikan putusan hukum ketika sedang marah lantaran berpotensi memberikan putusan hukum yang tidak adil. Dia dibolehkan memberikan hukuman ketika dia sudah tenang sehingga dia memutuskan hukum berdasarkan ilmu yang dia miliki bukan karena sedang emosi.

Betapa banyak perceraian yang timbul gara-gara kemarahan. Ketika seorang suami sedang dikuasai marah, otaknya tidak bekerja dengan normal sehingga dia tidak bisa berpikir jernih. Kemudian besar kemungkinan ia menjatuhkan talak dan tersisalah penyesalan. Hendaknya bagi pasangan suami-istri, ketika suami sedang, maka istri mengalah, dan ketika istri marah maka suami mengalah. Kalau istri marah kemudian suami pun ikut marah maka suasana akan semakin tidak keruan. Hendaknya ada yang berusaha berpikir jernih ketika itu. Para ulama berkata,

الغَضَبُ أَوَّلُهُ جُنُوْنٌ وَآخِرُهُ نَدَمٌ

“Kemarahan itu awalnya adalah kegilaan dan kesudahannya adalah penyesalan.” ([15])

Footnote:

________

([1]) HR. Bukhari no. 6116

([2]) HR. Al-Baihaqi di Syuabul Iman no. 7925

([3]) HR. Ahmad no. 6635, Syekh Syu’aib Al-Arnauth menilainya sebagai hadis sahih li ghairihi (disahkan lantaran terdapat riwayat lain yang menguatkannya).

([4]) HR. Ahmad no. 23171 dengan sanad yang sahih

([5]) Jami’ al-Úlum wa al-Hikam, Ibnu Rajab al-Hanbali 1/363

([6]) Jami’ al-Úlum wa al-Hikam, Ibnu Rajab al-Hanbali 1/362

([7]) Jami’ul ‘Ulum Wa Al-Hikam, Ibnu Rajab al-Hanbali 1/457

([8]) HR. Bukhari, no. 6115 dan Muslim, no. 109

([9]) HR. Tirmidzi no. 2165

([10]) HR. Abu Daud, no. 4784

([11]) Maksud Beliau adalah Ali bin Abi Thalib.

([12]) HR Al-Bukhari no 441 dan Muslim no 2409

([13]) Lihat Irsyad as-Sari, al-Qasthallani 9/162

([14]) HR. Ahmad, no. 2136

([15]) Ghurar Al-Hikam wa Durar Al-Kalim 1/95