Peringatan Tentang Bahaya Penyakit Hasad – Hadis 1

بَابُ : التَّرْهِيْبُ مِنْ مَسَاوِئِ الأَخْلاَقِ

BAB 4: PERINGATAN DARI AKHLAK YANG BURUK

Hadis 1
Peringatan Tentang Bahaya Penyakit Hasad

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ، كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ.” أَخْرَجَهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَلِاِبْنِ مَاجَهْ مِنْ حَدِيْثِ أَنَسٍ نَحْوُهُ.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhudhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah ﷺ  bersabda, “Jauhilah sifat hasad, karena sesungguhnya hasad itu dapat memakan kebaikan-kebaikan, sebagaimana api memakan kayu bakar.”([1]) (Diriwayatkan oleh Abu Daud. Ibnu Majah juga meriwayatkan yang semakna dengan hadis ini dari Anas bin Malik)

Status Hadis

Hadis ini adalah hadis yang dhaif (lemah) karena terdapat perawi yang majhul (tidak dikenal) di dalam sanad periwayatannya. Namun para ulama sepakat dengan benarnya kandungan maknanya. Oleh karena itu, para ulama mencantumkan hadis ini di dalam kitab-kitab mereka. Seperti Imam Al-Mundziriy di dalam kitabnya At-Targhib wat Taberharapib dan Imam An-Nawawi dalam Riyadhush Shalihin. Demikianlah kebiasaan para ulama, terkadang mereka mencantumkan hadis-hadis yang sanadnya dhaif di dalam kitab-kitab mereka karena makna atau kandungan hadis tersebut benar.

Makna Hadis

Hadis ini berisi peringatan agar seorang muslim beberharapati-hati terhadap sifat hasad karena hasad akan memakan (menghapus) kebaikan-kebaikannya sebagaimana api memakan kayu bakar. Ketika api membakar kayu maka kayu tersebut akan sangat mudah terbakar. Demikian pula dengan hasad, kebaikan-kebaikan yang telah dimiliki sebelumnya akan teberharapapus oleh hasad yang bercokol di dalam dadanya. Sehingga hilanglah kebaikan-kebaikannya dengan cepat sebagaimana kayu yang cepat lenyap menjadi debu dimakan oleh kobaran api.

Hal ini disebabkan karena hasad pada umumnya akan mendorong al-hasid (orang yang hasad) untuk melakukan perbuatan-perbuatan zalim kepada al-mahsud (orang yang ia dengki). Sebagaimana kita ketahui bahwa di antara bentuk qishas (pembalasan setimpal) pada hari kiamat adalah kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan oleh para pelaku kezaliman akan diambil oleh orang-orang yang pernah dizaliminya selama di dunia. Rasulullah ﷺ  bersabda,

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَلَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

“Barang siapa  yang menzalimi saudaranya baik menjatuhkan kehormatannya atau kezaliman yang lain, hendaklah ia minta dihalalkan hari ini sebelum datang hari kiamat di mana tidak bermanfaat dinar dan dirham. Seandainya ia mempunyai amal saleh maka amal salehnya akan diambil sesuai dengan kadar kezalimannya. Apabila ia tidak mempunyai kebaikan, akan diambil dari keburukan-keburukan orang yang dizalimi lantas dipikulkan kepadanya.”([2])

Ibnu Hajar berharap, ketika membawakan permasalahan hasad sebagai hadis pertama, seakan-akan beliau ingin menunjukkan bahwa hasad adalah akhlak yang sangat buruk yang paling utama untuk dijauhi karena dosa yang pertama kali dilakukan anak Adam adalah dosa hasad. Para ulama mengatakan,

أَوَّلُ ذَنْبٍ عُصِيَ اللهُ بِهِ فِي السَّمَاءِ الْحَسَدُ وَأَوَّلُ ذَنْبٍ عُصِيَ اللهُ بِهِ فِي الأَرْضِ الْحَسَدُ

“Dosa yang pertama kali terjadi di langit adalah hasad (hasadnya iblis kepada Adam). Demikian pula dosa yang pertama kali terjadi di bumi adalah hasad (hasad yang mendorong salah seorang anak Nabi Adam membunuh saudaranya).”([3])

Allah berfirman,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ

“Tatkala Kami berkata kepada malaikat, ‘Sujudlah kalian kepada Adam.’ maka mereka semua sujud kecuali iblis’.”([4])

Ayat ini mengesankan seakan Iblis dari golongan malaikat, meskipun dalam pandangan yang benar dia bukanlah dari golongan malaikat, akan tetapi dari golongan jin.([5]) Namun para ulama sepakat iblis dulunya memiliki kedudukan yang mulia sehingga disebutkan dalam jajaran malaikat.

Kemudian datanglah Adam ‘alaihissalam. Allah ﷻ menciptakan Adam dengan kedua tangan-Nya. Allah juga memberinya kemuliaan dan mengajarkan ilmu kepadanya. Karena kemuliaan dan ilmu yang dimiliki Adam, Allah menyuruh para malaikat agar bersujud kepada Adam. Rupanya Iblis hasad kepada Adam, dia menolak bersujud kepada Adam dan berkata,

أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

“Aku lebih baik daripada dia, Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan Adam dari tanah.”([6])

Karena hasadnya Iblis kepada Adam inilah, sampai-sampai Iblis berusaha keras menyesatkan Adam, meskipun risikonya adalah dimasukkan ke dalam neraka Jahanam. Dia tidak peduli dan menurutnya tidak masalah jika dirinya dimasukkan ke dalam neraka Jahanam asalkan dia tidak sujud kepada Adam. Iblis tidak ingin Adam mengunggulinya dan dia ingin Adam menyertainya ke dalam neraka Jahanam.

Demikian juga dosa yang pertama kali terjadi di bumi adalah di antara dua anak Adam yang Allah sebutkan di dalam Al-Quran:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua dan tidak diterima dari yang lain. Ia berkata,‘Aku pasti membunuhmu!’ Berkata saudaranya, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa’.”([7])

Karena hasad, salah seorang dari mereka tega menghabisi nyawa saudara kandungnya sendiri. Oleh karena itu, di antara bahaya penyakit hasad adalah hasad tersebut akan menggiring pelakunya untuk menzalimi orang lain dengan berbagai cara, baik itu kezaliman berupa tindakan maupun perkataan, seperti menggibahinya, merendahkannya, menghinanya, menjatuhkannya, bahkan melukai dan membunuhnya.

Demikianlah gambaran hasad, ia sangat cepat memakan kebaikan sebagaimana api yang sangat cepat membakar habis kayu bakar dan rerumputan. Amalan-amalan yang telah dimiliki sebelumnya berupa salat, zakat, puasa, dan amalan-amalan lainnya teberharapapus karena tidak kuasa menahan penyakit hasad yang ada dalam dirinya.

Definisi Hasad

Para ulama mendefinisikan hasad dengan,

تَمَنِّي زَوَالِ نِعْمَةِ الْمَحْسُوْدِ

“Menginginkan hilangnya suatu nikmat yang ada pada seorang yang dihasad kepadanya.”([8])

Baik angannya tersebut di kemudian hari terkabul atau tidak, tetap dikatakan hasad. Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berharap dengan ketat mendefinisikan hasad,

البُغْضُ وَالْكَرَاهَةُ لِمَا يَرَاهُ مِنْ حُسْنِ حَالِ الْمَحْسُوْدِ

“Hasad adalah kebencian dan ketidaksukaan terhadap kebaikan yang ada pada orang lain yang ia lihat.”([9])

Tidak harus seseorang menginginkan orang lain jatuh miskin atau ditimpa sakit. Sekadar membenci dan tidak suka akan kenikmatan yang dimiliki orang lain sudah dikatakan hasad. Itulah mengapa penyakit hasad sangat mudah menimpa siapa saja. Ibnu Rajab berharap berkata,

الْحَسَدُ مَرْكُوْزٌ فِيْ طِبَاعِ الْبَشَرِ، وَهُوَ أَنَّ الْإِنْسَانَ يَكْرَهُ أَنْ يَفُوْقهُ أَحَدٌ مِنْ جِنْسِهِ فِيْ شَيْءٍ مِنَ الْفَضَائِلِ

“Hasad terpatri dalam tabiat manusia, yaitu manusia memiliki sifat tidak ingin diungguli oleh siapapun dalam perkara-perkara yang mulia.”([10])

Jika dia pintar, dia tidak ingin ada yang lebih pintar dari dia. Jika dia berdakwah dan banyak manusia yang menghadirinya, dia tidak ingin ada orang yang berdakwah dan lebih ramai dari majelisnya. Oleh karena itu, hasad umumnya terjadi pada dua orang yang memiliki kenikmatan yang sama seperti profesi yang sama. Tukang becak hasad dengan tukang becak, dia tidak akan hasad dengan dokter. Seorang dokter hanya akan hasad kepada dokter yang lain. Begitu pun pemilik supermarket akan hasad kepada pemilik supermarket yang lain, dan seterusnya. Sehingga, hampir tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari penyakit hasad.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengutip perkataan,

مَا خَلَا جَسَدٌ مِنْ حَسَدٍ، لَكِنَّ اللَّئِيمَ يُبْدِيهِ وَالْكَرِيمَ يُخْفِيهِ

“Tak ada jasad yang selamat dari hasad. Akan tetapi orang yang buruk menampakkannya dan orang yang baik menyembunyikannya.”([11])

Misalnya ketika kebaikan-kebaikan orang lain disebutkan di hadapan kita kemudian kita jengkel dan muncul hasad, maka hal ini tidak serta merta mengakibatkan dosa. Yang mengakibatkan dosa adalah ketika kita pelihara hasad tersebut, merawatnya, dan mengembangkannya. Akan tetapi jika kita berusaha melawannya, membenci hasad tersebut, dan tidak mengekspresikannya, insyaallah tidak akan berdosa bahkan semoga kita mendapat pahala.

Sesuatu yang wajar apabila hasad itu terlintas di dalam hati, namun kita tidak boleh mengikutinya dengan hawa nafsu yang memancing kita untuk menampakkannya. Ibnul Qayyim ketika menafsirkan firman Allah,

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

“Aku berlindung kepada Allah dari keburukan orang yang hasad tatkala dia sedang hasad.”([12])

Beliau berkata:

لِأَنَّ الرَّجُلَ قَدْ يَكُوْنُ عِنْدَهُ حَسَدٌ، وَلكِنْ يُخْفِيْهِ وَلَا يَظْهَرُ عَلَيْهِ بِوَجْهِهِ، وَلَا بِقَلْبِهِ وَلَا بِلِسَانِهِ وَلَا بِيَدِهِ

“Seseorang terkadang ada rasa hasad di dalam dirinya, akan tetapi dia menyembunyikannya, tidak tampak pada dirinya, tidak di wajahnya, hatinya, ucapannya, dan tidak juga di tangannya.”([13])

Beliau juga berkata:

فَهذَا لَا يَكَادُ يَخْلُو مِنْهُ أَحَدٌ إِلَّا مَنْ عَصَمَهُ اللهُ

“Akan tetapi ini sangat sulit, hampir-hampir tidak ada orang yang bebas dari hasad, kecuali orang yang dijaga oleh Allah.”([14])

Umumnya orang yang hasad akan mencerminkan dan mengekspresikan hasad tersebut dengan wajahnya, tangannya, atau dengan ucapannya. Kecuali orang yang dijaga oleh Allah, dia akan berusaha menahan, melawannya, dan tidak menunjukkan serta mengekspresikan hasad tersebut, maka orang ini tidak berdosa.

Bahaya Penyakit Hasad

  1. Hasad adalah bentuk protes terhadap takdir Allah
  2. Hasad adalah sifatnya Iblis
  3. Hasad adalah sifatnya orang-orang Yahudi
  4. Hasad akan menghabisi amalan-amalan saleh yang telah dia kerjakan

Obat Penyakit Hasad

Seseorang yang tertimpa penyakit hasad wajib berusaha sekuat mungkin melawan hasad tersebut, kemudian berusaha memuji orang yang dia hasad kepadanya. Jika memungkinkan, sebaiknya memberikan hadiah untuknya atau menyebutkan kebaikan-kebaikannya, berusaha meneleponnya apabila dia bersahabat dengannya, sehingga hilanglah hasad tersebut.

Terkadang jika kita sudah kenal dan akrab kita tidak jadi hasad. Terkadang jika kita sudah bergaul, sudah bercakap-cakap dengannya, hasad tersebut menjadi hilang. Tetapi jika kita memendam hasad tersebut, setan pun akan berusaha untuk membesarkannya.

Di antara hal lain yang bisa membantu menghilangkan hasad adalah dengan mengingat bahwasanya seseorang yang dirasuki oleh hasad, sesungguhnya yang pertama kali merasakan kerugian adalah dirinya sendiri. Jika kita dengki kepada orang lain kemudian menginginkan agar orang tersebut tertimpa musibah, sebenarnya justru kitalah yang pertama kali tertimpa musibah. Hal ini disebabkan karena rasa benci, kesal, dan hasad yang ada di dalam dada kita adalah musibah itu sendiri. Hati menjadi gelisah, tidak tenang, benci, selalu berangan-angan agar orang yang kita hasad kepadanya celaka. Belum tentu orang yang kita hasad kepadanya celaka, bahkan bisa jadi orang yang kita hasad kepadanya tersebut semakin mendapat nikmat dari Allah ﷻ, semakin berkembang, semakin kaya, semakin didengar perkataannya, dakwahnya semakin bagus, dan kemajuan-kemajuan yang lainnya.

Imam Al-Ghazali berkata:

اعْلَمْ أَنَّ الْحَسَدَ مِنَ الْأَمْرَاضِ الْعَظِيمَةِ لِلْقُلُوبِ وَلَا تُدَاوَى أَمْرَاضُ الْقُلُوبِ إِلَّا بِالْعِلْمِ وَالْعَمَلِ وَالْعِلْمُ النَّافِعُ لِمَرَضِ الْحَسَدِ هُوَ أَنْ تَعْرِفَ تَحْقِيقًا أَنَّ الْحَسَدَ ضَرَرٌ عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا وَالدِّينِ وَأَنَّهُ لَا ضَرَرَ فِيهِ عَلَى الْمَحْسُودِ فِي الدُّنْيَا وَالدِّينِ بَلْ يَنْتَفِعُ بِهِ فِيهِمَا

“Ketahuilah bahwasanya hasad adalah termasuk penyakit-penyakit yang berat bagi hati. Penyakit-penyakit hati ini tidak bisa disembuhkan kecuali dengan ilmu dan amal saleh. Ilmu yang bermanfaat untuk melawan penyakit hasad adalah Anda mengetahui bahwasanya hasad itu kemudaratannya akan kembali kepada diri Anda, baik perkara dunia maupun perkara akhirat. Dan hasad yang Anda lakukan tersebut tidak akan menimpakan kemudaratan kepada orang yang Anda hasad kepadanya baik dunia maupun di akhirat, bahkan dia akan mendapatkan manfaat dengan hasadnya Anda. ”([15])

Hendaklah yang pertama kali disadari bahwa hasad merupakan bentuk menzalimi diri sendiri. Kemudian setelahnya senantiasa berlindung kepada Allah dari bahaya hasad yang dapat menghancurkan kebaikan-kebaikan yang kita miliki di akhirat nanti, yaitu ketika kebaikan kita akan ‘ditransfer’ kepada orang yang kita hasad kepadanya.

Di antara kiat untuk mengusir penyakit hasad adalah merenungkan bahwa jika kita diberi kenikmatan (misalnya popularitas atau harta yang berlimpah) seperti yang dimiliki oleh orang yang kita hasadi maka belum tentu kita bisa mensyukurinya dengan baik kepada Allah. Bisa jadi jika kita diberi harta yang banyak akan lalai dari mengingat akhirat. Demikian juga jika kita diberi popularitas bisa jadi kita sangat mudah untuk riya’, ujub, angkuh dan lain sebagainya.

 Footnote:

___________

([1]) HR. Abu Daud, kitab Al-Adab, bab Fil Hasad, no. 4903 dan Ibnu Majah, kitab Az-Zuhd, bab Al-Hasad, no. 4210, dari riwayat Anas bin Malik

([2]) HR. Bukhari no. 2449.

([3]) Tafsir Al-Qurthubi, 20/259.

([4]) QS. Al-Baqarah: 34

([5]) Hal ini berdasarkan firman Allah,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.” (QS Al-Kahfi : 50).

([6]) QS. Al-A’raf: 12.

([7]) QS. Al-Maidah: 27.

([8]) Tafsir Al-Qurthubi, 20/259.

([9]) Majmu’ Fatawa, 10/111.

([10]) Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam, 2/260.

([11]) Majmu’ Fatawa, 10/125.

([12]) QS. Al-Falaq: 5.

([13]) At-Tafsir Al-Qayyim, 645.

([14]) At-Tafsir Al-Qayyim, 645.

([15]) Ihya’ Ulumuddin, 3/196.