Adab-Adab Bersin – Hadis 10

Hadis 10
Adab-Adab Bersin

إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ: اَلْحَمْدُ الله، وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ يَرْحَمُكَ الله، فَإِذَا قَالَ لَهُ يَرْحَمُكَ الله، فَلْيَقُلْ يَهْدِيكُمُ الله، وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ. أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيُّ

“Jika salah seorang dari kalian bersin maka hendaknya dia mengatakan, “Alhamdulillāh.” Dan saudaranya yang mendengarnya hendaknya mengucapkan, “YarahimahullahamukAllah.” (semoga Allah merahmatimu). Jika saudaranya mengucapkan “YarahimahullahamukAllah,” maka yang bersin tadi menjawab lagi dengan mengatakan “Yahdikumullāh wa yushlihu bā lakum” (semoga Allah memberi petunjuk kepadamu dan semoga Allah meluruskan/memperbaiki urusanmu).”([1])

Hadis ini berkaitan dengan adab bersin dan adab orang yang mendengar saudara muslimnya bersin.

Pertama, berkaitan dengan orang yang bersin.

Orang yang bersin sebenarnya telah mendapatkan nikmat dari Allah ﷻ sehingga dengan bersinnya itu keluarlah kotoran dari tubuhnya. Dia akan merasakan lebih ringan daripada jika bersin tersebut tertahan dalam dirinya.  Bahkan, sebagian orang menyatakan bahwasanya bersin itu menunjukkan sehatnya seseorang. Karena itu, hendaknya dia mengucapkan “Alhamdulillāh.”

Yang dimaksud di sini bukan orang yang bersin terus menerus yang menunjukkan bahwa dia sedang sakit. Tetapi kita berbicara tentang bersin yang kadang dialami oleh seseorang. Bersin seperti ini adalah nikmat yang menunjukkan tubuhnya sehat sehingga keluar dari tubuhnya bersin tersebut sehingga dia mengucapkan “Alhamdulillāh.”

Hal ini juga merupakan peringatan bagi kita, kalau sekedar bersin saja kita dianjurkan untuk memuji Allah atas nikmat tersebut dengan mengucapkan “Alhamdulillāh,” maka bagaimana lagi dengan nikmat-nikmat yang lain?

Oleh karena itu, hendaknya kita sering memuji Allah. Ketika kita mengucapkan “Alhamdulillāh” pada saat dzikir setelah salat, hendaknya kita merenungkan dalam-dalam makna “Alhamdulillāh” itu. Betapa banyaknya nikmat yang  telah dikaruniakan Allah kepada kita, yang terkadang kita lupa untuk bersyukur kepada Allah ﷻ dan lupa untuk memuji Allah ﷻ yang memudahkan nikmat tersebut kepada kita.

Berikut ini adalah adab yang dicontohkan Rasulullah ﷺ  ketika bersin.

  • Ketika bersin, beliau meletakkan tangan beliau di mulutnya atau meletakkan bajunya sehingga apa yang dikeluarkan ketika bersin itu tidak tersebar ke mana-mana.
  • Ketika bersin, beliau melemahkan suaranya.

Abu Hurairah berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا عَطَسَ غَطَّى وَجْهَهُ بِيَدِهِ أَوْ بِثَوْبِهِ وَغَضَّ بِهَا صَوْتَهُ

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika bersin maka beliau menutup wajahnya dengan tangannya atau dengan bajunya dan beliau merendahkan suaranya.” ([2])

Dengan demikian, ketika seseorang bersin, hendaknya jangan menggelegarkan suaranya sekeras-kerasnya. Adapun jika dia tidak mampu menahan atau tidak menyengaja, maka itu tidak mengapa. Selain itu, ketika bersin hendaknya ia tidak memalingkan kepalanya ke arah kanan atau ke arah kiri tanpa menutupinya sehingga tersebarlah virus-virusnya.

Dengan mengikuti adab di atas, maka bersin kita tidak akan mengganggu orang lain baik suaranya maupun kotorannya, sehingga mengurangi pula potensi penularan pernyakit terahimahullahadap orang lain.

Kedua, Adab orang yang mendengar seorang muslim bersin

Jika seorang muslim bersin kemudian mengucapkan “Alhamdulillāh,” maka orang yang mendengarnya hendaklah mengucapkan,

يَرْحَمُكَ اللهُ

“Semoga Allah memberi rahmat kepada engkau.”

Maksudnya, Engkau telah mendapatkan nikmat, maka semoga Allah ﷻ menambah rahmat kepada engkau.

Lantas bagaimana kalau ada orang yang bersin tetapi tidak mengucapkan “Alhamdulillāh,”? Maka kita yang mendengar bersinya tidak mengucapkan “YarahimahullahamukAllah” kepadanya.

Hal ini didasarkan pada sebuah hadis yang menyebutkan,

عَطَسَ رَجُلَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَشَمَّتَ أَحَدَهُمَا وَلَمْ يُشَمِّتْ الْآخَرَ، فَقِيلَ لَهُ فَقَالَ: هَذَا حَمِدَ الله، وَهَذَا لَمْ يَحْمَدْ الله.

Ada 2 orang yang bersin di sisi Rasulullah ﷺ  maka Rasulullah ﷺ  mengucapkan “YarahimahullahamukAllah” kepada satunya dan Rasulullah tidak mengucapkan “YarahimahullahamukAllah” kepada yang satunya lagi.  Maka orang yang tidak diucapkan YarahimahullahamukAllah protes, seraya berkata:

يَا رَسُوْلَ اللهِ، شَمَّتَّ هَذَا، وَلَمْ تُشَمِّتْنِي

“Yā Rasulullah, engkau mengucap YarahimahullahamukAllah kepada si fulan adapun kepada aku tidak?”

Maka Rasulullah ﷺ  mengatakan,

إِنَّ هَذَا حَمِدَ اللَّهَ، وَلَمْ تَحْمَدِ اللّهَ

“Si fulan tadi tatkala bersin mengucapkan ‘Alhamdulillāh,’ adapun engkau tidak mengucapkan ‘Alhamdulillāh’.”([3])

Oleh karenanya, kalau orang yang bersin tidak mengucapkan “Alhamdulillāh” maka kita tidak menjawab “YarahimahullahamukAllah.”

Diriwayatkan dari Al-Auza’i rahimahullāhu, tatkala ada seseorang bersin di hadapan Ibnul Mubarak dan dia tidak mengucapkan “Alhamdulillaah” maka Al-Auza’i bertanya pada dia, “Apa yang diucapkan oleh orang yang bersin?” Orang ini pun mengatakan, “Alhamdulillāh.” Maka Al-Auza’i kemudian mengucapkan “YarahimahullahamukAllah.”([4]) Seakan-akan Al-Auza’i mengingatkan kepada orang tersebut.

Terkadang seseorang lupa mengucapkan “Alhamdulillāh” atau karena saking sibuknya dia lupa mengucapkan “Alhamdulillāh.” Maka, boleh bagi kita mengingatkannya untuk mengucapkan  “Alhamdulillāh” sehingga kita pun mengucapkan “YarahimahullahamukAllah” kepadanya.

Mengenai hukum mengucapkan “YarahimahullahamukAllah?” itu sendiri, terdapat ikhtilaf di antara para ulama.

  • Sebagian ulama ada yang mengatakan hukumnya fardhu ‘ain. Dengan demikian, setiap orang yang mendengar orang bersin yang mengucapkan “Alhamdulillāh” wajib mengucapkan “YarahimahullahamukAllah.”
  • Ada sebagian ulama yang mengatakan hukumnya fardhu kifayah. Dengan demikian, cukup sebagian orang yang mengucapkan “YarahimahullahamukAllah.”
  • Sebagian ulama ada yang mengatakan hukumnya sunah secara mutlak, maksudnya baik ada yang telah menjawab maupun belum.

Terlepas dari perbedaan hukum yang ada di kalangan para ulama, hendaknya kita berusaha menghidupkan sunah ini.  Fokusnya tidak ditujukan kepada apakah hukumnya sunah atau fardu ain. Namun yang lebih penting bagi kita adalah kita berusaha mengucapkan “YarahimahullahamukAllah” kepada saudara kita yang bersin jika telah mengucapkan hamdalah.

Timbul pertanyaan lain, “Bagaimana dengan orang yang bersin berulang-ulang karena sakit?”

Maka jawabannya, yang wajib bagi kita adalah mengucapkan “YarahimahullahamukAllah” sekali saja. Ada juga yang mengatakan disunahkan sampai tiga kali dan lebih dari itu tidak perlu.

Disebutkan dalam hadis Salamah ibnil Akwa’ RA, bahwasanya dia mendengar ada seorang yang bersin di sisi Rasulullah ﷺ , maka Rasulullah ﷺ  mengatakan, “YarahimahullahamukAllah.”

ثُمَّ عَطَسَ أُخْرَى

Kemudian orang ini bersin lagi. Kemudian Rasulullah ﷺ  mengatakan:

اَلرَّجُلُ مَزْكُوْمٌ

“Si lelaki ini sedang sakit flu.”([5])

Hal ini merupakan isyarat dari Rasulullah ﷺ, jika tampak seseorang bersinnya tidak wajar dan mengindikasikan dirinya sakit atau mengalami gelaja sakit, maka kita ubah doanya. Doanya bukan lagi “YarahimahullahamukAllah” tapi kita mendoakannya dengan doa,

شَفَاكَ اللهُ

“Semoga Allah menyembuhkanmu.”

atau doa-doa yang berkaitan dengan orang yang sakit.

Setelah didoakan dengan “YarahimahullahamukAllah,” maka orang yang bersin tadi disunahkan mengucapkan:

يَهْدِيكُمُ الله، وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ

“Semoga Allah memberi hidayah kepadamu dan semoga Allah memperbaiki urusanmu.”

Jadi orang yang bersin ini membalas doa orang yang mendoakannya dengan mendoakannya pula.

Demikianlah indahnya adab yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Seorang muslim diajarkan untuk saling mendoakan dengan muslim lainnya. Hal ini jika dipraktikkan dan dipahami tentu akan menimbulkan kasih sayang di antara sesama muslim serta menghilangkan rasa hasad dan dengki di antara mereka. Dengan demikian tali ukhuwah di antara kaum muslimin akan menjadi semakin erat dan kuat.

Tidak diragukan lagi bahwa setiap muslim dituntut untuk mempererat tali ukhuwah dan dituntut juga untuk menghilangkan segala sebab yang bisa menimbulkan perpecahan, perselisihan, saling berburuk sangka, dan sejenisnya.

Peringatan :

Pertama : Disyariatkan tetap mendoakan “yarahimahullahamukallahu” bagi orang yang bersin jika diketahui ia telah memuji Allah dengan “Alhamdulillah” meskipun tidak terdengar suaranya.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

يُشْرَعُ التَّشْمِيتُ لِمَنْ حَمِدَ إِذَا عَرَفَ السَّامِعُ أَنَّهُ حَمِدَ اللَّهَ وَإِنْ لَمْ يَسْمَعْهُ كَمَا لَوْ سَمِعَ الْعَطْسَةَ وَلَمْ يَسْمَعِ الْحَمْدَ بَلْ سَمِعَ مَنْ شَمَّتَ ذَلِكَ الْعَاطِسَ فَإِنَّهُ يُشْرَعُ لَهُ التَّشْمِيتُ لِعُمُومِ الْأَمْرِ بِهِ لِمَنْ عَطَسَ

“Disyariatkan untuk tetap mendoakan ‘yarahimahullahamukallahu’ bagi orang yang bersin dan memuji Allah jika diketahui ia telah memuji Allah meskipun tidak terdengar suaranya. Seperti jika seseorang mendengar suara bersin namun ia tidak mendengarnya memuji Allah (mengucapkan ‘alhamdulillah’), akan tetapi ia mendengar ada orang lain yang mendoakan ‘yarahimahullahamukallahu’, maka disyariatkan bagi orang tersebut untuk tetap mendoakan ‘yarahimahullahamukallahu’ berdasarkan keumuman perintah mendoakan ‘yarahimahullahamukallahu’ bagi orang yang bersin.”([6])

Kedua : Disukai untuk mendoakan “yarahimahullahamukallahu” bagi orang yang bersin meskipun jauh jika tidak ada orang lain yang mendoakan “yarahimahullahamukallahu” kepadanya.

Ibnu Hajar lalu berkata juga :

فَإِنْ عَطَسَ وَحَمِدَ وَلَمْ يُشَمِّتْهُ أَحَدٌ فَسَمِعَهُ مَنْ بَعُدَ عَنْهُ اسْتُحِبَّ لَهُ أَنْ يُشَمِّتَهُ حِينَ يَسْمَعُهُ وَقَدْ أَخْرَجَ ابنُ عَبْدِ الْبَرِّ بِسَنَدٍ جَيِّدٍ عَنْ أَبِي دَاوُدَ صَاحِبِ السُّنَنِ أَنه كَانَ فِي سَفِيْنَةٍ فَسَمِعَ عَاطِسًا عَلَى الشَّطِّ حَمِدَ فَاكْتَرَى قَارِبًا بِدِرْهَمٍ حَتَّى جَاءَ إِلَى الْعَاطِسِ فَشَمَّتَهُ ثُمَّ رَجَعَ فَسُئِلَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ لَعَلَّهُ يَكُونُ مُجَابَ الدَّعْوَةِ فَلَمَّا رَقَدُوا سَمِعُوا قَائِلًا يَقُولُ يَا أَهْلَ السَّفِينَةِ إِنَّ أَبَا دَاوُدَ اشْتَرَى الْجَنَّةَ مِنَ اللَّهِ بِدِرْهَمٍ

“Jika seseorang bersin dan mengucap ‘Alhamdulillah’, namun tidak seorang pun yang mendoakannya (dengan ucapan ‘yarahimahullahamukallahu’), lantas seorang yang berada di kejauhan mendengar bersinnya, maka disunahkan bagi yang mendengarnya untuk mendoakannya (dengan yarahimahullahamukallahu) tatkala ia mendengar ucapannya ‘Alhamdulillah’. Ibnu Abdil Barr telah meriwayatkan dengan sanad yang baik dari Abu Daud penulis kitab Sunan (Abi Daud) bahwasanya Beliau sedang berada di sebuah kapal, lalu ia mendengar ada orang yang bersin di pinggir pantai dan mengucap ‘Alhamdulillah’. Maka Abu Daud pun menyewa perahu kecil dengan membayar satu dirahimahullaham lantas pergi hingga mendatangi orang yang bersin tersebut lalu beliau mendoakan orang yang bersin tersebut dengan ‘yarahimahullahamukallahu’. Setelah itu beliau kembali lagi ke kapal yang ditumpanginya. Kemudian beliau ditanya tentang perbuatan beliau tersebut, maka beliau berkata, ‘Bisa jadi orang yang bersin tersebut termasuk orang yang dikabulkan doanya’. Tatkala orang-orang di atas kapal tidur mereka mendengar seruan berbunyi, ‘Wahai penghuni kapal, sungguh Abu Daud telah membeli surga dari Allah dengan satu dirahimahullaham’.”([7])

Maksudnya Abu Daud mengamalkan sunah Rasulullah mendoakan orang yang bersin tersebut, dan ia juga berahimahullaharap didoakan oleh orang yang bersin terebut. Karena orang yang bersin tadi akan mendoakannya dengan “yahdikumullahu wa yushlihu balakum”.

Ketiga : Jika seseorang bersin dalam salat maka disunahkan baginya untuk tetap memuji Allah (mengucap “Alhamdulillah”) akan tetapi dengan suara yang lirih. Dan bagi orang lain yang sedang salat yang mendengarnya tidak boleh menjawab dengan “yarahimahullahamukallahu” sementara mereka sedang salat. Karena dalam salat dilarang berbicara dengan orang lain, dan dalam ucapan “yarahimahullahamukallahu” (semoga Allah merahmatimu) ada bentuk mengajak berbicara dengan orang lain. Berbeda dengan orang bersin yang mengucapkan “alhamdulillah” karena sesungguhnya ia sedang memuji Allah dan tidak sedang berbicara dengan orang lain.

Dalam sebuah riwayat :

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِيِّ، قَالَ: بَيْنَا أَنَا أُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذْ عَطَسَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ، فَقُلْتُ: يَرْحَمُكَ اللهُ فَرَمَانِي الْقَوْمُ بِأَبْصَارِهِمْ، فَقُلْتُ: وَاثُكْلَ أُمِّيَاهْ، مَا شَأْنُكُمْ؟ تَنْظُرُونَ إِلَيَّ، فَجَعَلُوا يَضْرِبُونَ بِأَيْدِيهِمْ عَلَى أَفْخَاذِهِمْ، فَلَمَّا رَأَيْتُهُمْ يُصَمِّتُونَنِي لَكِنِّي سَكَتُّ، فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبِأَبِي هُوَ وَأُمِّي، مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ، فَوَاللهِ، مَا كَهَرَنِي وَلَا ضَرَبَنِي وَلَا شَتَمَنِي، قَالَ: «إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ، إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ»

“Dari Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulamiy, dia berkata, ‘Ketika aku sedang salat bersama-sama Rasulullah , tiba-tiba ada seorang laki-laki dari jemaah salat yang bersin, lalu aku mengucapkan, ‘Yarahimahullahamukallah’ (semoga Allah merahmatimu). Maka seluruh jemaah mengarahkan pandangannya kepadaku. Aku berkata, ‘Ada apa gerangan dengan kalian?, kenapa kalian melihat kepadaku?’ Mereka pun menepukkan tangan-tengan mereka pada paha mereka. Tatkala aku tahu mereka menginginkan agar  aku diam, lantas aku pun diam. Tatkala Rasulullah selesai salat, maka sungguh -Ayah dan Ibuku sebagai tebusan untuk menebus Rasulullah-, aku belum pernah bertemu seorang pendidik sebelumnya maupun sesudahnya yang lebih baik pengajarannya daripada beliau. Demi Allah! Beliau tidak menghardikku, tidak memukul dan tidak memakiku. Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya salat ini, tidak dibolehkan di dalamnya ada percakapan manusia, karena salat itu hanyalah tasbih, takbir dan membaca Al-Quran’.”([8])

Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah tidaklah menegur sahabat yang bersin dan memuji Allah dalam salat, akan tetapi yang ditegur adalah sahabat Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami yang menjawab dengan mengucapkan “yarahimahullahamukallahu”.

Dalam hadis lain dari sahabat Rifa’ah bin Rofi’  :

صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَطَسْتُ، فَقُلْتُ: الحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، مُبَارَكًا عَلَيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصَرَفَ، فَقَالَ: مَنِ الْمُتَكَلِّمُ فِي الصَّلاَةِ؟، فَلَمْ يَتَكَلَّمْ أَحَدٌ، ثُمَّ قَالَهَا الثَّانِيَةَ: مَنِ الْمُتَكَلِّمُ فِي الصَّلاَةِ؟، فَلَمْ يَتَكَلَّمْ أَحَدٌ، ثُمَّ قَالَهَا الثَّالِثَةَ: مَنِ الْمُتَكَلِّمُ فِي الصَّلاَةِ؟ فَقَالَ رِفَاعَةُ بْنُ رَافِعٍ ابْنُ عَفْرَاءَ: أَنَا يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: كَيْفَ قُلْتَ؟، قَالَ: قُلْتُ: الحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ مُبَارَكًا عَلَيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَدْ ابْتَدَرَهَا بِضْعَةٌ وَثَلاَثُونَ مَلَكًا، أَيُّهُمْ يَصْعَدُ بِهَا

“Aku pernah salat di belakang Rasulullah lalu aku bersin dan mengucapkan, ‘Alhamdulillaahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi, mubarakan ‘alaih, kamaa yuhibbu rabbuna wa yardha (Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik, diberkahi di dalamnya serta diberkahi di atasnya, sebagaimana Rabb kami mencintai dan meridainya).’ Ketika Rasulullah selesai salat, beliau berpaling ke arah kami seraya bertanya, ‘Siapa yang berbicara waktu salat?’ Tidak ada seorang pun dari kami yang menjawab, beliau lalu bertanya lagi untuk yang kedua kalinya, ‘Siapa yang berbicara waktu salat?’ Tidak ada seorang pun dari kami yang menjawab, beliau lalu bertanya lagi untuk yang ketiga kalinya, ‘Siapa yang berbicara waktu salat?’ Maka aku menjawab, ‘Aku, wahai Rasulullah.’ Beliau bertanya, ‘Apa yang engkau ucapkan tadi?’ Aku menjawab, ‘Aku mengucapkan, ‘Alhamdulillaahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi, mubarakan ‘alaihi, kama yuhibbu rabbuna wa yardha.’ Maka Rasulullah pun bersabda, ‘Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh ada tiga puluh lebih malaikat saling berebut untuk membawa naik kalimat tersebut’.”([9])

Footnote:
______

([1]) HR. Bukhari no. 6224

([2]) HR. At-Tirmidzi no 2745 dan dihasankan oleh Al-Albani (Lihat al-Misykat no 4738 dan Sahih al-Jami’ no 685)

([3]) HR. Bukhari, no. 6225 dan Muslim, no. 2991.

([4]) Fathul Bari 10/16.

([5]) HR. Muslim no. 2993.

([6]) Fathul Bari 10/610.

([7]) Fathul Bari 10/610-611

([8]) HR. Muslim no. 537.

([9]) HR. Tirmidzi No. 404 dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Takhrij Al-Misykaah no. 951.