Hakikat Kebaikan dan Dosa – Hadis 3

Hadis 3 – Hakikat Kebaikan dan Dosa

وَعَنِ النَّوَّاسِ ابْنِ سَمْعَانَ رضي اللّه عنه قَالَ سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللّهِ صلّى اللّه عليه وسلّم عَنِ الْبِرِّ وَالإِثْمِ فَقَالَ اَلْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

Dari sahabat An-Nawwas bin Sam’an RA beliau berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺtentang makna al-birr (kebajikan) dan al-itsm (dosa), maka Rasulullah ﷺ pun menjawab, ‘Al-birr (kebajikan) adalah akhlak yang mulia. Dan al-itsm (dosa) adalah apa yang engkau gelisahkan di hatimu dan engkau tidak suka kalau orang lain mengetahui engkau melakukannya’.” ([1])

Saudaraku pembaca, para sahabat Rasulullah ﷺ  seringkali bertanya kepada Rasulullah ﷺ perihal agama mereka, agar mereka bisa mengamalkannya dan dengannya akan semakin baiklah kualitas keislaman mereka. Demikianlah seharusnya sikap seorang muslim, ia selalu haus akan ilmu agama, dan selalu berazam untuk mengamalkan apa yang telah ia ketahui.

“Kebajikan adalah akhlak yang baik…” Mengapa Rasulullah ﷺ  mengkhususkan penyebutan akhlak mulia, sementara kebaikan dan kebajikan dalam Islam ini sangatlah banyak? Hal ini tidak lain adalah untuk menunjukkan keutamaan dan keistimewaan akhlak yang mulia. Gaya penyampaian ini sama dengan sabda Rasulullah ﷺ lainnya:

الْحَجُّ عَرَفَةُ

“Haji adalah (wukuf di) padang Arafah.” ([2])

Padahal, -sebagaimana sudah dimaklumi bersama-, ibadah haji memiliki banyak ritual ibadah, bahkan banyak rukun lainnya, selain berwukuf di Arafah. Akan tetapi, Rasulullah ﷺ mengkhususkan penyebutan wukuf di Arafah, karena ia merupakan inti dan bagian terpenting dari ibadah haji. Demikian pula dalam hadis di atas, Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa kebajikan adalah akhlak yang mulia, karena ia adalah salah satu inti dan bagian terpenting dari kebaikan-kebaikan dalam Islam. Maka tidak heran, jika banyak sekali dalil syari’at yang mengagungkan kadar akhlak yang mulia.

Seperti sabda Rasulullah ﷺ:

لَيْسَ شَيْءٌ أَثْقَلَ فِي الْمِيزَانِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ

“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat pada timbangan kebaikan seseorang (di akhirat) melebihi akhlak mulia.” ([3])

Rasulullah ﷺ  juga bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ، دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

“Sungguh, dengan akhlak yang mulia, seseorang bisa meraih derajat orang yang senantiasa berpuasa sunah dan menegakkan salat malam.” ([4])

Subhanallah! Seseorang mungkin saja jarang salat malam dan jarang berpuasa sunah, akan tetapi akhlaknya mulia, orang senang dekat dengannya, orang bahagia duduk bersamanya, orang senang mendengar wejangan-wejangannya, dan orang senang mendapatkan bantuannya, maka ia akan mendapatkan pahala yang sama atau bahkan lebih dari orang-orang yang sering salat malam dan berpuasa sunah.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

أَقْربكمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحاسنكمْ أَخْلَاقًا

“Orang yang paling dekat kedudukannya denganku pada Hari Kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.” ([5])

Hadis-hadis di atas sudah lebih dari cukup untuk membuktikan keagungan kedudukan akhlak yang mulia di sisi Allah ﷻ. Tentunya pula sudah lebih dari cukup untuk memotivasi setiap muslim untuk berusaha memperindah akhlaknya semaksimal mungkin.

Janganlah kita menyangka bahwa amalan itu hanyalah salat, puasa, zakat, dan amal ibadah murni lainnya. Ingatlah selalu bahwa akhlak yang mulia juga merupakan ibadah yang sangat spesial dan sangat mulia di sisi Allah ﷻ dan Rasulullah ﷺ.

Jangan sekali-kali terbersit dalam benak kita, “Saya memang begini orangnya. Tabiat dan watak saya memang seperti ini, bagaimana mau diubah?”

Saudaraku pembaca, seandainya perangai tidak bisa diubah, watak buruk tidak bisa diperindah, lalu untuk apa Allah ﷻ dan Rasulullah ﷺ memotivasi kita untuk berakhlak mulia?! Tak lain melainkan karena setiap orang memiliki kemampuan mengubah akhlaknya, melatih dan membiasakan dirinya untuk menjadi semakin baik, jika ia mau melakukannya.

Oleh karenanya, Rasulullah ﷺ  bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Aku menjamin sebuah istana di bagian atas surga bagi orang yang memperindah akhlaknya.” ([6])

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ الله

“Barang siapa yang berusaha bersabar, niscaya Allah akan menjadikannya penyabar.” ([7])

Dan sebagaimana telah berlalu juga penjelasannya pada mukadimah buku ini, bahwa akhlak itu ada yang bersifat bawaan/tabiat dan ada yang bisa diusahakan dan diraih sendiri. Ibnul Qayyim rahimahullah mengomentari kisah Al-Asyajj([8]) RA dengan mengatakan:

وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْخُلُقَ قَدْ يَحْصُلُ بِالتَّخَلُّقِ وَالتَّكَلُّفِ

“Dalam hadis ini terdapat petunjuk bahwasanya akhlak bisa diperoleh dengan usaha dan kesungguhan.” ([9])

Namun, perlu kita ingat bahwa urusan merubah akhlak terkait dengan tabiat seseorang yang sudah ia bawa sejak lahir tentunya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ia butuh doa yang kontinyu, tekad yang kuat, serta usaha yang tak pernah surut. Karenanya, pahala yang dijanjikan bagi mereka yang berahimahullahasil sangatlah besar, yaitu sebuah hunian di ketinggian surga.([10])

FAEDAH

Sebagian ulama berusaha menyebutkan rukun akhlak mulia pada beberapa poin besar, sehingga seseorang semakin bersemangat untuk mengusahakannya. Seperti perkataan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah:

حَقِيْقَةُ حُسْنُ الْخُلُقِ بَذْلُ الْمَعرُوْفِ وَكَفُّ الأَذَى وطَلاَقَةُ الوَجْهِ

“Hakikat akhlak mulia adalah mudah berbuat baik kepada orang lain, tidak mengganggu orang lain, dan wajah yang sering berseri-seri karena murah senyum.” ([11])

Dari perkataan ini, kita dapatkan tiga rukun akhlak, yaitu:

  • Wajah yang berseri-seri, murah senyum kepada orang lain, tidak merendahkan, dan tidak menghinakan orang lain.
  • Ringan tangan untuk membantu orang lain.
  • Tidak mengganggu orang lain.

Jika pada diri Anda terpenuhi tiga perkara ini maka berbahagialah, dan jagalah ia agar terus bersemi pada diri Anda.

Bagian hadis berikutnya adalah, “Dan dosa adalah apa yang menggelisahkan engkau di hatimu, dan engkau tidak suka jika orang-orang melihat kau melakukannya.”

Hadis ini menjelaskan tentang barometer untuk mengenal dosa bagi seorang yang masih suci fitrah jiwanya.

Sumber utama untuk mengenali dosa, adalah Al-Qurān dan sunah Rasulullah ﷺ. Akan tetapi, terkadang ada beberapa perkara yang hendak harus segera kita lakukan, namun kita belum mengetahui hukumnya. Pada momen seperti inilah barometer ini akan berperan, tentunya -sekali lagi- bagi seorang yang masih suci fitrahnya.

Jika ketika Anda dapat melakukan suatu perkara dengan perasaan tenang, tanpa merasa gelisah atau tidak khawatir orang lain akan mengetahuinya, maka ini bukan dosa. Tapi jika suatu perbuatan membuat hati Anda gelisah, tidak tenang, dan khawatir perbuatan tersebut akan diketahui orang lain (tetangga/sahabat/ istri atau ustaz kita), maka ini merupakan ciri dosa, maka waspadalah dan tinggalkanlah perbuatan tersebut.

Barometer ini tentunya tidak lagi berfungsi pada manusia yang telah rusak fitrahnya, dan telah terputus urat malunya, seperti orang-orang yang terbiasa memamerkan aurat, meminum khamar di depan umum, atau malah berbangga dan memamerkan kejahatan/maksiat yang ia lakukan.

Semoga Allah ﷻ  menjauhkan kita dari segala dosa, dan semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba Allah yang tawwābīn, yaitu hamba yang jika berdosa segera bertaubat kepada Allah ﷻ.

Footnote:

____________

([1]) HR.  Muslim no. 2553

([2]) HR. At-Tirmidzi no. 889, Ibnu Maajah no. 3.006, An-Nasaa’i no. 3.016, dan Ahmad no. 18.774, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani

([3]) HR. Ahmad no. 27.532 dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani Sahihul Jaami’ no. 5.390

([4]) HR. Ahmad no. 25.537, hadis sahih

([5]) HR. At-Tirmidzi, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam As-Sahihah no. 791

([6]) HR. Abu Dawud No. 4800 dihasankan oleh Al-Albani

([7]) HR. Al-Bukhari no. 1.469

([8]) Kisah ini sudah berlalu penyebutannya di mukadimah

([9]) Zadul Ma’ad 3/532

([10]) Madarijus Salikin 2/297

([11]) Diriwayatkan dari al-Hasan oleh at-Tirmidzi, no. 2005. Lihat: Al-Minhaj Syarh Sahih Muslim karya An-Nawawi 15/78.