Kisah Nabi Luth ‘Alaihissalam #2

Tamu-Tamu Nabi Ibrahim álaihis salam

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Adapun kisah diadzabnya kaum Nabi Luth dimulai dengan datangnya para Malaikat pembawa adzab yang bertamu ke rumah Ibrahim álaihis salam untuk memberi kabar gembira bahwa Sarah akan punya anak yang alim.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ

“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (Malaikat -Malaikat ) yang dimuliakan?” (QS. Adz-Dzariyat: 24)

Ayat ini menjelaskan tentang kisah tamunya Nabi Ibrahim yang mulia. Tamu-tamu yang datang ke rumah Nabi Ibrahim adalah para Malaikat yang menjelma menjadi para lelaki yang sangat tampan. Mereka datang kepada Beliau hanya sekedar singgah saja, karena tujuan mereka sebenarnya adalah untuk pergi kepada kaum Nabi Luth dan mendatangkan adzab bagi pelaku homoseksual. Akan tetapi sebelum mereka sampai kepada kaumnya Nabi Luth, mereka singgah terlebih dahulu ke rumah Nabi Ibrahim untuk beberapa waktu.([1])

Ada yang mengatakan bahwa para Malaikat tersebut adalah Malaikat Jibril, Mikail dan Malaikat lainnya, namun tidak ada dalil yang jelas dan tegas mengenai hal tersebut. Intinya adalah tamu yang mendatangi Nabi Ibrahim adalah sekelompok Malaikat . Allah menamakan mereka dengan ‘Al-Mukromin’ maknanya adalah tamu-tamu yang mulia. Sebagian ulama berbeda penafsiran dalam hal ini.

  • Pertama, mulia karena mereka adalah Malaikat . Tentunya Malaikat adalah makhluk yang mulia; karena diantara sifat-sifat mereka adalah tidak pernah membangkang perintah Allah, selalu menjalankan perintah Nya, selalu beribadah kepada Allah dan tidak pernah lelah dalam beribadah kepadaNya.
  • Kedua, mereka mulia karena dimuliakan oleh Nabi Ibrahim. Beliau sungguh-sungguh menjamu mereka, memuliakan mereka dalam penjamuannya hingga mereka benar-benar mulia karena penjamuan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim. ([2])

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ

“(Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, “Salaman” (salam), Ibrahim menjawab, “Salamun” (salam). (Mereka itu) orang-orang yang belum dikenalnya.” (QS. Adz-Dzariyat: 25)

Ketika tamu-tamu tersebut hendak menemui Nabi Ibrahim, mereka mengetuk pintu dengan berkata ‘Assalamu’alaikum’. Lalu Beliau menjawab salam mereka dan menyambut mereka sebagai kaum yang Beliau sendiripun tidak mengenalnya. Artinya Nabi Ibrahim sama sekali tidak menyadari bahwa tamu-tamu itu adalah para Malaikat ([3]). Beliau heran, karena tamu-tamu tersebut bukan dari penghuni negerinya. Beliau tidak mengetahui sama sekali asal muasal mereka([4]), selain itu tamu-tamu ini lebih dahulu mengucapkan salam yang hal ini bukanlah kebiasaan kaum Nabi Ibrahim atau penduduk setempat di zaman tersebut([5]).

Namun, Nabi Ibrahim memiliki kebiasaan memuliakan tamu. Siapapun tamu yang datang ke rumahnya, maka Beliau akan memuliakannya, entah Beliau mengenalinya ataupun tidak. Selama dia mengetuk pintu rumah Beliau, maka Beliau akan memuliakan tamu tersebut, meskipun tidak mengenalinya sama sekali.

Di dalam ayat tersebut disebutkan (سَلَامًا) dimana dalam pembahasan Bahasa arab disebut dengan maf’ul muthlaq yang memiliki makna (نُسَلِّمُ سَلَامًا) aku mengucapkan sebuah penghormatan. Artinya para Malaikat mengucapkan dan mendoakan keselamatan kepada Nabi Ibrahim. Lalu Beliau menjawab dengan kata (سَلَامٌ) yang merupakan bentuk pengkhabaran. Para ulama mengatakan kata (سَلَامٌ) bentuk pengkhabaran lebih utama dari pada kata (سَلَامًا) yang merupakan bentuk mendoakan. Artinya Nabi Ibrahim menjawab dengan salam yang lebih baik dari salam yang diucapkan oleh tamu-tamunya([6]). Perbuatan ini sesuai dengan apa yang difirmankan oleh Allah,

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

“Dan apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (penghormatan itu, yang sepadan) dengannya.” (QS. An-Nisa’: 86)

Jika ada seseorang yang mengucapkan ‘Assalamu’alaikum’ kepada orang lain, maka hendaknya dia menjawab ‘wa’alaikumussalam’ atau menambahkannya dengan yang lebih baik yaitu ‘wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh’. Apabila dia mengucapkan salam dengan sempurna ‘Assalaamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh’, maka hendaknya dijawab dengan jawaban sempurna yang semisalnya yaitu ‘wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh’.

Janganlah seseorang ketika diucapkan salam kepadanya ‘Assalaamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh’. Lalu dia hanya menjawab dengan ‘wa’alaikumussalam’. Artinya dia telah menjawab salam yang kurang sempurna dari orang yang telah mengucapkan salam dengan sempurna kepadanya. Padahal, Allah memerintahkan untuk menjawab salam yang lebih baik atau yang semisalnya ([7]).

Demikian pula, jika ada seseorang yang memberi salam kepada orang lain dengan sapaan yang hangat dan senyum. Maka, hendaknya dia membalas dengan sapaan yang hangat disertai senyuman. Apabila dia membalasnya dengan bermuka masam, maka hal itu menunjukkan adab yang tidak terpuji.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَرَاغَ إِلَى أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ

Maka diam-diam dia (Ibrahim) pergi menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar).” (QS. Adz-Dzariyat: 26)

Kata (رَاغَ) memiliki makna pergi dengan diam-diam tanpa memberitahukan apa yang akan diperbuatnya. Ketika para tamu tersebut memasuki rumah Nabi Ibrahim, maka Beliau pergi secara diam-diam kepada keluarganya tanpa memberitahukan kepada mereka apa yang akan dilakukannya. Para ulama mengatakan bahwa perbuatan Nabi Ibrahim menunjukkan bahwa Beliau ingin memuliakan para tamunya. Bisa jadi ketika seseorang didatangi oleh seorang tamu, setelah itu dia menyebutkan sesuatu yang akan dilakukannya untuk menjamunya, maka tamunya akan menolaknya dengan sungkan.([8])

فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ

“kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar).”

Setelah Nabi Ibrahim pergi secara diam-diam menginggalkan tamu-tamunya, lalu Beliau keluar menemui mereka dengan membawa daging anak sapi gemuk yang telah dipanggang. Dan dalam ayat lain disebutkan,

فَما لَبِثَ أَنْ جاءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ

“Maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. (QS. Hud:69)

Daging tersebut dalam keadaan dipanggang, menunjukkan bahwa ini adalah proses yang paling cepat dalam penyajian makanan. Jika harus dipotong-potong terlebih dahulu, lalu direbus dan dimasak, maka akan membutuhkan waktu lama. Namun, Nabi Ibrahim memilih metode yang paling cepat, yaitu dengan menyembelih seekor anak sapi yang gemuk serta memiliki daging yang masih lembut agar mudah untuk dimakan, lalu dipanggang untuk segera dihidangkan kepada para tamunya([9]). Perbuatan ini menunjukkan betapa mulianya Nabi Ibrahim. Para ulama menyebutkan bahwa Beliau memiliki kebiasaan memuliakan tamu. Sehingga Beliau selalu menyiapkan sapi-sapi yang ada. Siapapun tamunya yang datang, maka dia akan diberikan hidangan berupa sapi.

Ayat ini menjelaskan bahwa Beliau menghidangkan jamuan yang istimewa kepada tamu yang tidak dikenalnya, Beliau tidak memiliki hutang budi sedikitpun kepada mereka, bahkan merekapun tidak pernah menjamu Beliau sebelumnya, namun Beliau menjamu mereka dengan sungguh-sungguh. Apa jadinya jika yang datang adalah tamu yang dikenalnya.

Sebagian ulama mengatakan dianjurkannya memuliakan tamu dan hukumnya adalah sunnah, sebagaimana perbuatan yang dituntunkan oleh Nabi Ibrahim. Karena Beliau memuliakan tamunya dengan jamuan yang sangat istimewa berupa daging anak sapi yang telah dipanggang, padahal Beliau tidak mengenal tamu-tamu tersebut.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ

Lalu dihidangkannya kepada mereka (tetapi mereka tidak mau makan). Ibrahim berkata, “Mengapa tidak kamu makan.” (QS. Adz-Dzariyat: 27)

Pelayanan Beliau dalam menjamu tamunya tidak hanya dengan menghidangkan daging anak sapi yang telah dipanggang. Namun, Beliau menghadirkannya dan diletakkan tepat di hadapan tamu-tamunya. Hal itu dilakukan oleh Beliau dengan tujuan untuk menghilangkan perasaan sungkan yang ada dalam diri mereka. Lain halnya jika sang tamu dipanggil menuju tampan makanan atau ke ruang makan, maka bisa jadi ada rasa malu yang muncul darinya([10]).

Karena dengan adanya jamuan yang dekat dan berada di hadapan tamu menjadikan mereka tidak bersusah payah dalam menyantap makanan yang telah dihidangkan. Sebaliknya, jika makanan yang telah dihidangkan untuk tamu berada di tempat yang jauh, kemudian dipersilahkan untuk menyantapnya oleh pemilik rumah, terkadang akan menimbulkan perasaan malu dan sungkan bagi tamu.([11])

Ini menjadi kebiasaan orang arab sejak dahulu hingga sekarang. Ketika mereka dalam suatu acara bersama. Yang mereka hidangkan adalah seekor kambing besar yang telah dipanggang. Lalu, hidangan tersebut diletakkan di hadapan orang-orang yang dijamunya, lalu dipotongkan sebagian daging tersebut dan diletakkan di hadapan masing-masing orang yang berada pada jamuan tersebut. Jadi, hal itu membuat mereka tidak merasa malu untuk menyantap makanan tersebut. Apabila daging yang berada di hadapan mereka habis, maka akan dipotongkan lagi oleh tuan rumah lalu ia meletakannya dihadapan para tamu agar disantap dan begitu seterusnya. Begitulah cara mereka dalam memuliakan tamu.

Demikian yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Beliau menyajikan dan mendekatkan hidangan itu di dekat mereka. Tidak hanya itu, bahkan Beliau mempersilahkannya di hadapan mereka agar disantap.

قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ

“Ibrahim berkata, “Mengapa tidak kamu makan.”

Begitu sempurna bentuk pemuliaan Nabi Ibrahim kepada tamu-tamunya, ternyata, mereka tidak memakan jamuan Beliau. Ini karena mereka adalah para Malaikat . Saat itulah Beliau mengetahui bahwa para tamu yang datang kepada Beliau adalah para Malaikat ([12]). Diantara sifat Malaikat adalah tidak butuh makan. Disebutkan dalam firman Allah,

فَلَمَّا رَأى أَيْدِيَهُمْ لا تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قالُوا لا تَخَفْ إِنَّا أُرْسِلْنا إِلى قَوْمِ لُوطٍ

“Maka ketika dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, dia (Ibrahim) mencurigai mereka, dan merasa takut kepada mereka. Mereka (Malaikat ) berkata, “Jangan takut, sesungguhnya kami diutus kepada kaum Luth.” (QS. Hud: 70)

Dalam ayat yang lain :

فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لَا تَخَفْ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ. فَأَقْبَلَتِ امْرَأَتُهُ فِي صَرَّةٍ فَصَكَّتْ وَجْهَهَا وَقَالَتْ عَجُوزٌ عَقِيمٌ

“Maka dia (Ibrahim) merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata, “Janganlah kamu takut, dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak). Kemudian istrinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk wajahnya sendiri seraya berkata, “(Aku ini) seorang perempuan tua yang mandul. (QS. Adz-Dzariyat: 28-29)

Disebutkan bahwa istri Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yaitu Sarah, ikut membantu Nabi Ibrahim dalam menjamu para tamu. Dan tatkala Nabi Ibrahim ketakutan, tentunya Sarah pun ikut merasa takut. Barulah dia merasa tenang dan hilang rasa takutnya setelah para tamu tersebut mengabarkan bahwa mereka adalah Malaikat yang diutus. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ

Dan istrinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya’qub.” (QS. Hud : 71)

Sarah, istri Nabi Ibrahim merasa kaget dengan menepuk kedua pipinya, saat dikabarkan bahwa dirinya akan memiliki seorang anak, yaitu Ishak. Para ulama menyebutkan bahwa ketika para Malaikat mengabarkan bakal memiliki anak, Sarah berusia sekitar sembilan puluh sembilan tahun. Secara logika, seorang wanita tidak akan memiliki anak dengan umur tersebut, karena dia telah jauh memasuki usia menopause. Sarah berteriak dan kaget karena selama itu dia telah merindukan agar dikaruniai seorang anak. Dengan perasaan kagetnya, akhirnya dia memukul-mukul wajahnya.

وَقَالَتْ عَجُوزٌ عَقِيمٌ

“(Aku ini) seorang perempuan tua yang mandul.”

Bagaimana mungkin dia memiliki seorang anak, sementara dia adalah seorang wanita yang sudah tua lagi mandul. ([13])

Ayat ini sekaligus menjadi dalil bahwa seorang perempuan lebih sulit untuk menahan diri dan emosinya ketika mendapatkan sesuatu, baik yang menggembirakan ataupun menyedihkan. Maka dari itu dengan sendirinya ekspresi-nya akan muncul, entah dengan suara ataupun dengan tangan. Nabi Ibrahim ketika dikabarkan akan memiliki anak, tentu dia merasa gembira. Namun, dia bersikap tenang. Adapun Sarah ketika dikabarkan akan memiliki anak, maka dia kaget dan berteriak kegirangan dan menepuk-nepuk wajahnya.([14])

Allah berfirman :

قَالَتْ يَا وَيْلَتَى أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ

Istrinya berkata: “Sungguh ajaib, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat menakjubkan“. (QS. Hud : 72)

قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَتُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Para Malaikat itu berkata: “Mengapa kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pengasih“. (QS. Hud : 73)

Dalam ayat ini, Sarah tidaklah meragukan kekuasaan Allah, melainkan dia hanya merasa heran sebagaimana hal yang sama pernah terjadi kepada Nabi Zakaria. Nabi Zakaria ‘alaihissalam merasa heran tatkala Allah mengabulkan doanya untuk dikaruniai seorang anak. Dikisahkan bahwa Nabi Zakaria berdoa meminta anak kepada Allah tatkala melihat keajaiban yang dialami oleh Maryam. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ

Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”.” (QS. Ali-‘Imran : 37)

Kata para ahli tafsir bahwasanya yang menakjubkan dari rizki tersebut Allah datang kan makanan pada musim dingin buah buahan yang hanya ada pada musim panas, dan Allah datangkan makanan pada musim panas makanan yang hanya ada pada musim dingin([15]). Setelah melihat kejadian ini, timbullah keyakinan Nabi Zakaria bahwa Allah bisa mendatangkan akibat tanpa sebab. Maka dia pun berdoa agar dapat memiliki anak dengan berdoa kepada Allah. Allah Subhanahu wa ta’ala berfriman,

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa“. (QS. Ali-‘Imran : 38)

Maka tatkala Allah mengabulkan doanya, maka Nabi Zakaria pun heran. Beliau mengatakan,

قَالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَقَدْ بَلَغَنِيَ الْكِبَرُ وَامْرَأَتِي عَاقِرٌ

Zakariya berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul?“. (QS. Ali-‘Imran : 40)

Maka heran yang dialami oleh Sarah adalah sebuah kewajaran sebagaimana yang dialami oleh Nabi Zakaria, dan bukan bentuk meragukan kekuasaan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

قَالُوا كَذَلِكِ قَالَ رَبُّكِ إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ

“Mereka berkata, “Demikianlah Tuhanmu berfirman. Sungguh, Dialah Yang Mahabijaksana, Maha Mengetahui.” (QS. Adz-Dzariyat: 30)

Artinya mudah bagi Allah untuk menciptakan dan melahirkan seorang anak dari seorang wanita yang sudah tua lagi mandul. Demikian juga, meskipun suaminya sudah berusia seratus tahun. Namun, itu semua mudah bagi Allah. Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui. ([16])

Tatkala Nabi Ibrahim mengetahui bahwa tamu-tamu yang datang kepadanya adalah para Malaikat , Ibrahim merasa bahwa mereka datang bukan hanya sekedar memberi kabar bahwa Beliau akan memiliki seorang anak. Akan tetapi, tentu ada urusan lainnya yang lebih penting. Maka dari itu, Nabi Ibrahim bertanya kepada mereka sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam ayat ini.

قَالَ فَمَا خَطْبُكُمْ أَيُّهَا الْمُرْسَلُونَ

Berkata Ibrahim: “Apakah urusanmu yang penting (selain itu), hai para utusan?” (QS Al-Hijr : 57 dan Adz-Dzariaat : 32)

قَالُوا إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَى قَوْمٍ مُجْرِمِينَ

“Mereka (para Malaikat ) menjawab, “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth).”

Ayat ini menjelaskan bahwa para Malaikat diutus oleh Allah dengan tujuan memberikan azab kepada kaum yang berbuat dosa, yaitu kaum Nabi Luth.([17])

لِنُرْسِلَ عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ طِينٍ. مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ لِلْمُسْرِفِينَ

“Agar Kami menimpa mereka dengan batu-batu dari tanah (yang keras). Yang ditandai dari Tuhanmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas.”

Kata (طِيْن) memiliki makna tanah yang keras atau batu. Para ulama menyebutkan bahwa maksud dari kata (مُسَوَّمَة) adalah batu-batu yang dilemparkan kepada kaum Nabi Luth memiliki tanda tertentu. Tanda tersebut menunjukkan bahwa batu itu bukan termasuk batu-batu dunia. Akan tetapi, batu khusus yang ditimpakan untuk membinasakan kaum Nabi Luth. Dari sisi warnanya yang mungkin kemerah-merahan atau hitam dan menunjukkan bahwa batu tersebut dikirimkan sebagai azab bagi mereka([18]). Ada juga sebagian ulama yang menafsirkan bahwa maksud dari ayat ini adalah setiap batu telah diberikan tanda oleh Allah untuk membinasakan masing-masing dari kaum Nabi Luth. Sehingga, jika ada sebagian kaum Nabi Luth yang sedang bepergian, maka mereka akan tertimpa batu tersebut. Dimanapun mereka berada, maka mereka tertimpa batu itu. Hingga tidak ada satupun dari mereka yang lolos dari azab Allah. ([19])

Ketika Ibrahim dikabarkan tentang tujuan para Malaikat , maka Beliau berdialog dengan mereka. Allah berfirman,

فَلَمَّا ذَهَبَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ الرَّوْعُ وَجَاءَتْهُ الْبُشْرَى يُجَادِلُنَا فِي قَوْمِ لُوطٍ

Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, diapun berdialog dengan (Malaikat -Malaikat ) Kami tentang kaum Luth.” (QS. Hud : 74)

Ibnu Ásyur menyebutkan bahwa percakapan di antara mereka antara lain adalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam meminta untuk memaafkan kaum Luth karena kawatir adzab tersebut juga akan menimpa kaum mukminin yang ada di sana, atau agar azab dipalingkan dari kaum Nabi Luth([20]). Hal tersebut dikatakan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihisslam karena Beliau memiliki sifat yang haliim ([21]), Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang sikap Nabi Ibrahim dengan berfirman,

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ

Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi memiliki hati yang lembut dan suka kembali kepada Allah.” (QS. Hud : 75)

Sebagian ulama menafsirkan dialog/percakapan Nabi Ibrahim kepada para Malaikat adalah sebagaimana yang disebutkan dalam ayat yang lain :

وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَى قَالُوا إِنَّا مُهْلِكُو أَهْلِ هَذِهِ الْقَرْيَةِ إِنَّ أَهْلَهَا كَانُوا ظَالِمِينَ، قَالَ إِنَّ فِيهَا لُوطًا قَالُوا نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَنْ فِيهَا لَنُنَجِّيَنَّهُ وَأَهْلَهُ إِلَّا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ

Dan tatkala utusan Kami (para Malaikat ) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk negeri (Sodom) ini; sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zalim”. Berkata Ibrahim: Sesungguhnya di kota itu ada Luth. Para Malaikat berkata: “Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan) (QS Al-Ánkabuut : 31-32) ([22])

Kemudian para Malaikat berkata,

يَا إِبْرَاهِيمُ أَعْرِضْ عَنْ هَذَا إِنَّهُ قَدْ جَاءَ أَمْرُ رَبِّكَ وَإِنَّهُمْ آتِيهِمْ عَذَابٌ غَيْرُ مَرْدُودٍ

Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Tuhanmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak.” (QS. Hud : 76)

Malaikat menasihat Ibrahim untuk tidak perlu diskusi tentang kaum Nabi Luth, karena keputusan telah ditetapkan oleh Allah bahwasanya mereka akan ditimpa adzab, dan keputusan tersebut tidak akan berubah([23]).

Setelah mampir di Ibrahim ‘alaihis salam, berangkatlah para Malaikat kepada Nabi Luht ‘alaihissalam. Disebutkan bahwa jarak antara rumah Nabi Ibrahim dengan rumah Nabi Luth adalah sekitar 20 kilometer([24]). Tatkala para Malaikat datang kepada Nabi Luth ‘alaihissalam, diapun merasa takut. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالَ هَذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ

Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para Malaikat ) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: “Ini adalah hari yang amat sulit“. (QS. Hud : 77)

Nabi Luth ‘alaihissalam tidak mengetahui bahwa yang orang yang datang kepadanya adalah Malaikat sebagaimana Nabi Ibrahim pada awalnya tidak mengetahui. Maka yang membuat Nabi Luth takut dan khawatir adalah, para Malaikat yang menjelma dalam wujud manusia memiliki paras yang sangat tampan, sedangkan kaumnya di daerah tersebut seluruhnya adalah pelaku homoseksual. Para ahli tafsir menyebutkan bahwa seluruh kaum Nabi Luth adalah pelaku homoseksual, sehingga yang beriman hanya Nabi Luth dan dua putrinya. Mereka berdalil dengan membawakan firman Allah Subhanahu wa ta’ala,.

فَمَا وَجَدْنَا فِيهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Dan Kami tidak mendapati negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang yang berserah diri (muslim).” (QS. Adz-Dzariyat : 39)

Para Malaikat yang menjelma sebagai laki-laki tampan tersebut Allah utus untuk menjadi sebab datangnya azab untuk kaum Nabi Luth ‘alaihisslam. Para ulama menyebutkan bahwa Malaikat dengan wujud laki-laki tersebut sangatlah tampan, bahkan sebagian menyebutkan bahwa ketampanannya tidak wajar. Sehingga Allah Subhanahu wa ta’ala seakan-akan hendak mengazab kaum Nabi Luth ketika mereka berada di puncak syahwatnya. Dan memang ada orang-orang yang diazab oleh Allah Subhanahu wa ta’ala ketika dia berada di puncak kedzalimannya. Contohnya adalah Fir’aun. Fir’aun pertama kali mengakui dirinya sebagai tuhan hanya sebatas di negeri Mesir. Barulah setelah 40 tahun dia mengakui bahwa dirinya adalah tuhan yang paling tinggi([25]). Maka tatkala Fir’aun telah berada di puncak kesombongannya dengan mengaku dirinya sebagai tuhan yang paling tinggi, barulah Allah memberikan azab kepadanya. Allah Subhanahu wa ta’ala mengazab Fir’aun,

فَأَخَذَهُ اللَّهُ نَكَالَ الْآخِرَةِ وَالْأُولَى

Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia.” (QS. An-Nazi’at : 25)

Maka kedatangan Malaikat berwujud manusia tampan tersebut membuat sesak dada Nabi Luth ‘alaihissalam, karena mengkhawatirkan bahwa laki-laki tersebut akan menjadi korban homoseksual kaumnya. Hal lain yang dikhawatirkan adalah istri Nabi Luth adalah orang yang sering berkhianat kepada Nabi Luth ‘alaihissalam. Maka Allah menjadikan istri Nabi Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ

Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang salih di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), tetapi kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah kamu berdua ke neraka jahannam bersama orang-orang yang masuk (neraka)“. (QS. At-Tahrim : 10)

Di antara pengkhianatan yang dilakukan oleh istri Nabi Luth ‘alaihissalam adalah dia mengabarkan kepada kaumnya Nabi Luth bahwa ada para lelaki tampan dirumahnya. Maka kemudian terjadilah apa yang dikhawatirkan oleh Nabi Luth ‘alaihissalam. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَجَاءَهُ قَوْمُهُ يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ وَمِنْ قَبْلُ كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan segera. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji.” (QS. Hud : 78)

Disebutkan oleh para ulama ahli tafsir bahwa makna يُهْرَعُوْنَ adalah bergegas([26]). Dan kata tersebut tidak disebutkan kecuali kepada orang-orang datang dalam kondisi ketakutan, gemetar, atau syahwat yang menggebu-gebu. Maka tatkala dikabarkan kepada kaum Nabi Luth ‘alaihissalam bahwa ada laki-laki tampan, maka syahwatnya langsung memuncak dan bergegas pergi ke rumah Nabi Luth ‘alaihissalam. Dalam ayat yang lain disebutkan,

وَجَاءَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ يَسْتَبْشِرُونَ

Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu.” (QS. Hud : 67)

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

قَالَ يَا قَوْمِ هَؤُلَاءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَلَا تُخْزُونِ فِي ضَيْفِي أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ

Luth berkata: “Hai kaumku, inilah putri-putriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antara kalian seorang yang berakal?” (QS. Hud : 78)

Para ulama ahli tafsir menyebutkan bahwa tatkala itu Nabi Luth berdiri di depan pintu rumahnya untuk menghalangi kaumnya. Ada yang mengartikan perkataan Nabi Luth tentang menawarkan putri-putrinya adalah agar mereka mendatangi para wanita secara wajar yang ada di kampung tersebut. Hal ini didasari dengan status seluruh para Nabi yang sama statusnya seperti seorang ayah([27]). Akan tetapi kaum Nabi Luth tidak mau mendengar dan mereka telah mabuk kepayang terhadap para lelaki tampan tersebut. Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan kondisi mereka dalam surah lain,

لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ

Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)“. (QS. Al-Hijr : 72)

Maka kemudian mereka berkata kepada Nabi Luth,

قَالُوا لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنْ حَقٍّ وَإِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيدُ

Mereka menjawab: “Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki“. (QS. Hud : 79)

Maka Nabi Luth berusaha melawan akan tetapi dia tidak bisa. Karena Nabi Luth ‘alaihissalam datang mendakwahi kaum Sodom sendirian dan tidak memiliki kabilah. Oleh karenanya Nabi Luth ‘alaihissalam berkata,

قَالَ لَوْ أَنَّ لِي بِكُمْ قُوَّةً أَوْ آوِي إِلَى رُكْنٍ شَدِيدٍ

Luth berkata: “Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)“. (QS. Hud : 80)

Nabi Luth pada waktu itu belum menyadari bahwa para lelaki tersebut adalah Malaikat . Mereka terus merayu Nabi Luth untuk menyerahkan tamu-tamu tersebut kepada mereka.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ رَاوَدُوْهُ عَنْ ضَيْفِه فَطَمَسْنَآ اَعْيُنَهُمْ فَذُوْقُوْا عَذَابِيْ وَنُذُرِ

“Dan sungguh, mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan peringatan-Ku!” (QS. Al-Qomar: 37)

الْمُرَاوَدَةُ Yaitu merayu orang yang tidak mau, jadi mereka merayu Nabi Luth untuk menyerahkan tamu-tamunya namun Nabi Luth menolaknya, dan ketika mereka gagal mereka terus mendatanginya dan terus merayunya agar Nabi Luth menyerahkan tamu-tamunya kepada mereka namun Nabi Luth tetap menolaknya([28]).

Karena mereka terus merayu-rayu Nabi Luth, فَطَمَسْنَآ اَعْيُنَهُمْ “maka Kami tutup/butakan mata mereka”, dan terdapat 3 pendapat dalam masalah penafsiran ditutupnya kedua mata mereka:

  • Pertama: penafsiran bahwa mata mereka tiba-tiba menjadi buta, karena ingin melihat lelaki tampan akhirnya tidak bisa melihatnya karena mata mereka buta.
  • Kedua: bahwasanya mereka sudah masuk ke dalam rumah Nabi Luth namun Allah Subhanahu wa ta’ala menutup mata-mata mereka sehingga mereka tidak bisa melihat para Malaikat yang tampan.
  • Ketiga: maksud dari mata mereka ditutup adalah mata mereka berubah seperti menjadi kulit wajah sehingga tidak ada mata sama sekali, hal ini dikarenakan mereka membangkang. ([29])

Para ulama menyebutkan bahwa setelah itu mereka terusir dan kembali ke rumah masing-masing dengan sebelumnya memberikan ancaman kepada Nabi Luth ‘alaihissalam untuk menyerahkan para tamunya pada keesokan harinya. Ketika mendengar ancaman mereka, kembalilah Nabi Luth ‘alaihissalam ketakutan. Maka para Malaikat kemudian mengabarkan kepada Nabi Luth akan hakikat mereka. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

قَالُوا يَا لُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَصِلُوا إِلَيْكَ فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ اللَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلَّا امْرَأَتَكَ إِنَّهُ مُصِيبُهَا مَا أَصَابَهُمْ إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ

Para utusan (Malaikat ) berkata: “Wahai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?“. (QS. Hud : 81)

Dalam ayat yang lain disebutkan:

فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ اللَّيْلِ وَاتَّبِعْ أَدْبَارَهُمْ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ وَامْضُوا حَيْثُ تُؤْمَرُونَ

“Maka pergilah kamu pada akhir malam beserta keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang. Jangan ada di antara kamu yang menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.” (QS. Al-Hijr: 65)

Disebutkan oleh sebagian ahli tafisr bahwa tatkala Malaikat telah mengungkapkan identitasnya, Nabi Luth ‘alaihissalam kemudian meminta disegerakan azab bagi kaumnya, maka Malaikat tersebut mengatakan bahwa waktu subuh adalah waktu dimana mereka akan diazab, dan waktu subuh itu telah dekat([30]).

Terdapat khilaf dikalangan ahli tafsir tentang apakah istri Nabi Luth ikut keluar bersama Nabi Luth atau tertinggal dirumah. Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa Nabi Luth ‘alaihissalam keluar bersama kedua putrinya, akan tetapi istrinya tertinggal dirumah dan akan terkena azab sebagaimana akan ditimpakan kepada kaum Nabi Luht. Pendapat yang lain menyebutkan bahwa istri dan anaknya ikut keluar bersama Nabi Luth ‘alaihissalam, akan tetapi tatkala turun azab, terdengar suara yang menggelegar yang membuat istri Nabi Luth ‘alaihissalam menegok kebelakang karena kasihan kepada kaumnya, maka akhirnya istrinya pun terkena azab dari Allah Subhanhu wa ta’ala([31]).

Footnote:

_____
([1]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 17/45.

([2]) Lihat: Tafsir Ats-Tsa’labiy 9/116.

([3]) Malaikat diberikan kelebihan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala untuk menjelma menjadi manusia. Perkara ini merupakan kekuasaan Allah Subhanahu wa ta’ala dan diluar nalar kita untuk memikirkan bagaimana Allah menciptakan malaikat dari unsur cahaya, namun bisa menjelma menjadi manusia dengan unsur tanah. Dan malaikat memiliki sifat-sifat yang luar biasa, sebagaimana Allah sebutkan di dalam Alquran,

فَالسَّابِقَاتِ سَبْقًا

Dan (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang.” (QS. An-Nazi’at : 4)

Malaikat memiliki sifat bergerak dengan cepat. Sebagaimana ketika malaikat turun untuk menyampaikan kabar dari Allah Subhanahu wa ta’ala kepada Nabi ﷺ dengan jarak yang begitu jauh namun dengan waktu yang sangat singkat. Ketika malaikat datang menemui hamba-hamba Allah, kebanyakan mereka datang dalam wujud manusia. Oleh karenanya Nabi ﷺhanya melihat wujud asli malaikat Jibril sebanyak dua kali. Dikisahkan pula bahwa tatkala Jibril menampakan wujud aslinya, akan terlihat bahwa Jibril memiliki 600 sayap (HR. Bukhari no.3232), dan jika sayapnya tersebut terbuka, maka akan tertutup seluruh langit. Oleh karenanya Jibril lebih sering menemui Rasulullah ﷺ dalam wujud manusia, di antaranya sebagai Dihyah al-Kalbi, dan sebagai orang Arab Badui sebagaimana disebutkan dalam hadits Jibril (HR. Bukhari no. 31330 dan Muslim no. 41906)

Oleh karenanya tatkala para malaikat bertamu kepada nabi Ibrahim ‘alaihissalam, mereka bertamu dalam wujud manusia (laki-laki), dan nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak menyadarinya.

([4]) Lihat: Tafsir Al-Baghawiy 7/376.

([5]) Lihat: Tafsir Ibni Áthiyyah 5/177 dan Fathul Qodiir, Asy-Syaukani 5/105

([6])Lihat : Fathul Qodiir 5/105, hal ini karena salamnya para malaikat adalah dalam bentuk doa, adapun salamnya Ibrahim kepada mereka adalah dalam bentuk khabar/pengabaran (yaitu taqdirnya bisa jadi sebagai Khobar dari mubtada’ yang dihapuskan أَمْرٌ سَلامٌ perkaranya adalah salam, atau وَاجِبٌ لَكُمْ سَلامٌ wajib atas kalian adalah salam, atau taqdirnya sebagai mubtada’ dari Khobar yang dihapuskan yaitu سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ kesalamatan atas kalian). (Lihat: Tafsir Ibnu ‘Athiyyah 5/177). Dan khabar lebih kuat dari doa, karena doa masih menunggu ijabah, adapun khabar menunjukan seakan-akan telah terjadi, atau pasti terjadi.

([7]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 5/299.

([8]) Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 26/359.

([9]) Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 26/359.

([10]) Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 26/359.

([11]) Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 26/360.

([12]) Lihat: Tafsir Ats-Tsa’labiy 9/117

([13]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 17/47.

([14]) Lihat: Tafsir Ibnu ‘Athiyyah 5/178 dan Ruh Al-Ma’aniy Li Al-Alusiy 14/15.

([15]) Lihat Tafsir Ibnu Katsir (2/30)

([16]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 17/47.

([17]) Lihat: Tafsir Ibnu ‘Athiyyah 5/178.

([18]) Lihat: At-Tahrir Wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 27/6 dan Tafsir Al-Alusiy 14/15

([19]) Lihat: Tafsir Ibnu ‘Athiyyah 5/178 dan Tafsir Al-Qurthubiy 17/48.

([20]) Lihat at-Tahrir wa at-Tanwir (12/123). Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud adalah Ibrahim meminta syafaát (agar tidak malaikat tidak mengadzab kaum Luth), atau Ibrahim bertanya apakah adzab tersebut untuk membinasakan mereka ataukah untuk memberi peringatan kepada mereka agar mereka kembali sadar (Lihat Ruuhul Máani, Al-Alusi 6/299)

([21]) Yaitu perkara yang menyebabkan Ibrahim berjidal (berdiskusi) dengan para malaikat adalah karena sifat-sifat kelembutan hatinya, diantaranya beliau adalah haliim. Haliim maknanya ada tidak tergesa-gesa dalam membalas orang yang berbuat kesalahan. (Lihat Ruuhul Maáani, Al-Aluusi 6/301)

([22]) Di al-Qurán bahwa Nabi Ibrahim berdiskusi dengan malaikat, tentu wajar jika Ibrahim berdiskusi dengan malaikat. Adapun di Bible maka disebutkan Ibrahim berdiskusi langsung dengan Tuhan. Berikut di Bible :

Berpikirlah TUHAN: “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini? Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat?
Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.” Sesudah itu berfirmanlah TUHAN: “Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya.” Lalu berpalinglah orang-orang itu dari situ dan berjalan ke Sodom, tetapi Abraham masih tetap berdiri di hadapan TUHAN. Abraham datang mendekat dan berkata: “Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik? Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu? Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” (Kejadian 18 : 17-25)

Bandingkan dengan al-Qur’an. Pada Bible Ibrahim langsung berdialog dengan Tuhan. Bahkan Ibrahim menasehati Tuhan. Lihat perkataan Ibrahim “…Jauhilah kiranya….”. Tentu ini bentuk sikap kurang ajar kepada Tuhan, bagaimana hambaNya menasihatiNya bahkan mengajariNya. !!.

Demikian juga di awal penukilan disebutkan bagaimana Tuhan masih bimbang mau bercerita kepada Ibrahim tentang apa yang hendak Ia lakukan kepada kaum Luth atau tidak perlu cerita?. Sungguh aneh, apakah Tuhan masih ragu dan bimbang dengan apa yang hendak dia lakukan?, masih mikir apakah perlu cerita keada Ibrahim atau tidak?

Demikian juga Tuhan turun ke bumi untuk mengecek apakah laporan yang sampai kepadaNya benar atau tidak?!!

([23]) Lihat Tafsir Ibnu Katsir (4/336)

([24]) Lihat Tafsir As-Sam’any (5/259), Tafsir Al-Bahr Al-Muhith (6/186) disebutkan bahwa jaraknya adalah 4 Farsakh/8 Mil (kurang lebih 20 KM).

([25]) Lihat Tafsir At-Thobari (24/203)

([26]) Tafsir Al-Bahr Al-Muhith (6/186)

([27]) Lihat At Tahrir wa At-Tanwir (12/127)

([28]) Lihat: At-Tahrir wat Tanwir 27/206

([29]) Lihat: Tafsir Al-Qurthuby 17/144

([30]) Tafsir As-Sam’any (2/449)

([31]) Lihat Tafsir At-Thobary (12/514-515)