Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Raja Numrud

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Raja Numrud

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA. 

Di antara kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, beliau bertemu dengan Raja yang  sangat kafir yang mendebat Ibrahim tentang Allah. Mayoritas ahli tafsir menyatakan bahwa Raja tersebut bernama Numrud bin Kanán. Namun para ulama berselisih kapan kisah pertemuan atau perdebatan antara Ibrahim dan Numrud tersebut?. Sebagian yang lain berpendapat bahwa kejadiannya adalah setelah Ibrahim dibakar, yaitu ketika ia selamat, ia lalu dibawa untuk bertemu dengan Numrud. Jadi kejadiannya sebelum beliau diusir dari Babil([1]).

Raja Numrud adalah salah satu dari dua Raja yang pernah mengaku sebagai tuhan. Sebagaimana kita ketahui bahwa Raja yang pernah mengaku sebagai tuhan adalah Fir’aun, sedangkan Numrud juga pernah mengaku dirinya sebagai tuhan, akan tetapi kisahnya tidak terlalu terkenal seperti Fir’aun. Disebutkan oleh sebagian ulama bahwa ada empat orang yang kekuasaannya sangat luas di muka bumi ini. Dua orang tersebut adalah muslim, dan dua yang lainnya kafir. Dua orang muslim tersebut adalah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam dan Dzulqarnain, dan dua orang kafir tersebut adalah Numrud dan Bukhtanasshar([2]). Dan Numrud adalah Raja pertama yang menguasai bumi([3]). Bahkan disebutkan ia menjadi Raja selama 400 tahun([4]).

Allah Subhanahu wa ta’ala memulai kisah pertemuan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan Namrud dalam firmanNya,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Apakah kamu tidak memperhatikan([5]) orang yang mendebat([6]) Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan) ([7]). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah : 258)

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa Qatadah dan ulama lainnya mengatakan bahwa untuk membuktikan bahwa Numrud dapat menghidupkan dan mematikan, Numrud mendatangkan dua orang yang akan dihukum mati. Ia kemudian menyuruh membunuh salah seorang dari keduanya dan memberikan kebebasan kepada yang lain dan tidak membunuhnya. Dan itulah makna menghidupkan dan mematikan menurut anggapannya. Ini adalah jawaban yang tidak nyambung dari Namrud. Tentu ini menunjukan kebodohan Numrud, padahal maksud Ibrahim bukan demikian. Seakan-akan ia bodoh atau pura-pura bodoh, lantas orang bodoh bagaimana bisa menjadi tuhan?. Namun Ibrahim tidak mendebatnya untuk menunjukan kebodohannya, karena susah menunjukan kebodohan dari orang bodoh yang meyakini kebodohannya adalah ilmu dan kepintaran. Karenanya Ibrahim berpindah pada hujjah berikutnya yang tidak mungkin bisa diakalin oleh Namrud. Ibrahim berkata, “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat“([8]). Maksudnya adalah jika benar apa yang dikatakan Namrud sebelumnya dan dia benar adalah tuhan, maka konsekuensinya adalah dia mampu mengatur hal-hal yang sifatnya sunnatullah di alam semesta. Maka Nabi Ibrahim ‘alaihissalam meminta Numrud untuk mengubah sunnatullah tersebut dengan menerbitkan matahari dari barat. Maka ketika Numrud mengetahui ketidakmampuannya dan bahwa tidak sanggup berbuat apa-apa dengan kesombongan itu, ia pun tercengang, membisu tidak dapat berbicara sepatah kata pun. Dan hujjah pun telah jelas atas dirinya([9]).

Oleh karenanya definisi mukjizat adalah suatu kejadian luar biasa di luar sunnatullah yang Allah berikan kepada para Nabi sebagai bukti bahwa Nabi tersebut adalah utusan Allah([10]). Sehingga Allah menyertakan kepada para Nabi suatu aturan yang berubah dari aturan alam. Seperti halnya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, aturan alam (sunatullah) dari api yang membakarnya adalah sifatnya panas, akan tetapi karena yang menciptakan api adalah Allah, sehingga mudah bagi Allah mengubah aturan tersebut dari panas menjadi dingin. Begitu pula mukjizat yang diberikan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam yang tongkat kayu berubah menjadi ular. Sedangkan kita ketahui bahwa tidak ada perubahan senyawa kimia dari kayu menjadi daging. Oleh karenanya para penyihir yang melawan Nabi Musa ‘alaihissalam tahu bahwa itu adalah Mukjizat.

Akhirnya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diusir oleh Numrud dari Babil. Sebagian ahli tafsir menyebutkan akhirnya Allah mengirimkan seekor lalat atau nyamuk yang masuk ke dalam hidungnya dan tinggal di dalam tubuhnya, maka lalat tersebut tinggal di kepalanya selama 400 tahun, dan selama itu pula kepalanya dipukul dengan palu. Jika kepalanya dipukul maka sakitnya berkurang. Dan orang yang paling rahmat kepadanya adalah orang yang mengumpulkan kedua tangannya lalu memukulkannya ke kepalanya. Ia menjadi Raja yang sombong selama 400 tahun, maka Allahpun mengadzabnya selama 400 tahun, lalu Allah membinasahkannya([11]). Allah menghinakan Namrud yang merasa bahwa dirinya hebat dengan dibuat mati karena seekor hewan yang sangat kecil dengan penuh ketersiksaan([12]).

Ibrahim meninggalkan Babil

Ibrahimpun diusir oleh Numrud. Ketika beliau tiba di pintu kota keluar kota maka ia bertemu dengan Luth álaihis salam yang merupakan keponakannya. Nabi Ibrahim pun mendakwahinya lalu iapun beriman kepada Ibrahim([13]).

Ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam telah meninggalkan kampungnya, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَكُلًّا جَعَلْنَا نَبِيًّا

Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya’qub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi Nabi.” (QS. Maryam : 49)

Ketika Nabi Ibrahim meninggalkan Ayah dan kaumnya, beliau pergi seorang diri, akhirnya karena kepergian Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang karena Allah, maka Allah anugerahkan anak-anak yang saleh yang kelak akan menjadi Nabi dan yang akan menemaninya yaitu Nabi Ishak dan Ya’qub ‘alaihimassalam. Bahkan seluruh Nabi setelah beliau adalah keturunan beliau([14]). Kata para ulama, bahwa ayat ini menjadi dalil bahwa ketika seseorang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan ganti dengan yang lebih baik. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ إِلَّا بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah ‘Azza wa Jalla, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” ([15])

Ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam meninggalkan Babil, disebutkan bahwa dia pergi bersama Nabi Luth ‘alaihissalam, karena Nabi Luth ‘alaihissalam beriman kepada beliau. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

فَآمَنَ لَهُ لُوطٌ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَى رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Maka Luth membenarkan (keNabian)nya. Dan berkatalah Ibrahim: “Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku (kepadaku); sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-‘Ankabut : 26)

Ibrahim pun pergi menuju Harran (di perbatasan negeri Syaam dan Turki), sementara Nabi Luth ‘alaihissalam berangkat menuju negeri Syam di daerah Sodom.

Ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tiba di Harran beliau menikah dengan Sarah([16]).

Footnote:

_______

([1]) Ini adalah pendapat as-Suddy (lihat Tafsir Ibn Abi Hatim 2/498 no 2636 dan Tafsir At-Thobari 4/575)

([2]) Disebutkan oleh Mujahid dan dinukil oleh Ibnu katsir dalam tafsirnya, lihat Tafsir Mujahid hal.450 dan Tafsir Ibnu Katsir 1/525.

([3]) Lihat Tafsir at-Thobari 4/569

([4]) Lihat Tafsir Ibn Katsir 1/686

([5]) firman Allah adalah أَلَمْ تَرَ adalah ar-Ru‎‎’yah al-Qolbiyah, sehingga maksudnya adalah melihat dengan hati (bukan melihat dengan mata), atau merenungkan kabar yang sampai kalian tentang kisah tersebut.  (Lihat Tafsir ats-Tsa’labi 1/506)

([6]) Hal ini menunjukan bahwa seorang daí terkadang harus bersiap untuk didebat dan mendebat. Dan keduanya dilakukan oleh Ibrahim álaihis salam, beliau mendebat dan beliau didebat. Bahkan terkadang al-haq (kebenaran) nampak dalam perdebatan. Akan tetapi tentunya ini hanya terkadang dan hanya boleh dilakukan oleh seorang dai yang mahir dalam hal ini. Sehingga secara tidak langsung seorang dai yang ingin masuk dalam ajang perdebatan dia harus menguasai metode-metode dalam mendebat. Wallahu a’lam.

([7]) Lihatlah bagaimana kenikmatan (berupa kekuasaan dan kerajaan) menjadikan Namrud akhirnya sombong sehingga mengaku sebagai tuhan. Karenanya kenikmatan dan anugrah terkadang merupakan sebab menjadikan seseorang melampaui batas dan lupa daratan. Lihatlah Namrud tidaklah mengaku sebagai tuhan kecuali setelah Allah menganugrahkan kepadanya kerajaan dan kekuasaan. Sebaliknya terkadang musibah dan penyakit serta kemiskinan merupakan kenikmatan bagi seorang hamba, dimana dengan musibah tersebut ia kembali kepada Allah. Seseorang yang senantiasa berada dalam kenikmatan terkadang lupa kepada Pemberi anugrah tersebut dan akhirnya melampaui batas.

([8]) Ini adalah pendapat sebagian ushuliyun (ahli ushul fiqh), sebagaimana dinukil oleh Ibnul Qoyyim di Miftaah Daaris Saáadah 2/204. Yaitu Ibrahim tidak menjelaskan kepada Numrud bukan maksud mematikan dan menghidupkan sebagaimana yang kau pahami. Akan tetapi Ibrahim berpindah kepada hujjah yang lebih tegas dan jelas tentang matahari terbih dari timur.

Akan tetapi tafsir ini dikritik oleh Ibnul Qoyyim, beliau menjelaskan bahwa Ibrahim tidaklah berpindah dari hujjah yang kurang jelas kepada yang lebih jelas (mengingat Namrud yang tidak paham), akan tetapi Ibrahim sebenarnya melanjutkan hujjahnya. Yaitu ketika Namrud mengaku dia bisa melakukan perbuatan seperti perbuatan Tuhan dengan menghidupkan dan mematikan, maka Ibrahimpun melanjutkan hujjahnya, jika demikian berarti engkau ya Namrud harusnya bisa melakukan perbuatan yang lain dari Tuhan, yaitu menerbitkan matahari. Jadi menurut Ibnul Qoyyim hujjah menghidupkan dan mematikan adalah landasan untuk hujjah berikutnya yaitu menerbitkan matahari. Timbul pertanyaan, kenapa Numrud tidak berkata kepada Ibrahim, “Kalau begitu apakah Tuhanmu bisa menerbitkan matahari dari barat sebagaimana yang kau minta dariku?”. Hal ini karena dia kawatir jika Tuhannya Ibrahim ternyata benar-benar menerbitkan dari barat maka selesailah dia dihadapan rakyatnya. (LIhat Miftaah Daaris Saáadah 2/204-205). Terlebih lagi Numrud sudah melihat keajaiban Ibrahim yang tidak terbakar oleh api yang begitu besar.

([9]) Lihat Tafsir Ibnu Katsir 1/525

([10]) Lihat Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah 34/217

([11]) Lihat Tafsir At-Thobari 4/572 dan Tafsir Muqotil bin Sulaiman 1/216-217

([12]) Lihat Tafsir At-Thobari 14/204

([13]) Sebagaimana penjelasan As-Suddiy, lihat Tafsir Ibn Abi Hatim 7/2253 no 12310

([14]) Lihat Qoshosh al-Anbiyaa’ 1/191

([15]) HR. Ahmad 5/363 no. 23124

([16]) Sebagian ulama memandang bahwa Ibrahim sudah menikah dengan Sarah ketika di Babil, sehingga tatkala Ibrahim meninggalkan Babil beliau sudah pergi bersama Sarah. Dan ini pendapat yang dipilih oleh Ibnu Katsir (Lihat Qashah Al-Anbiya’ 1/192 dan Fathul Baari, Ibn Hajar 6/392). Namun sebagian ulama memandang bahwa Ibrahim menikah dengan Sarah di Harran. Ini adalah pendapat As-Suddiy. Sarah adalah putri Raja Harran, dan ia mencela agama kaumnya, akhirnya iapun menikah dengan Ibrahim. (Lihat Tafsir At-Thobari 16/313)