Kisah Nabi Nuh ‘Alaihissalam #2

Kisah Nabi Nuh ‘Alaihissalam #2

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Kesudahan Kaum Nuh

Setelah merasa capek dan bosan mendengar dakwah Nabi Nuh ‘alaihissalaam, akhirnya mereka berkata kepadanya,

قَالُوا يَا نُوحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

Mereka berkata “Wahai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar“. (QS. Hud: 32)

Maka Nabi Nuh ‘alaihissalam menjawab permintaan mereka dengan berkata,

قَالَ إِنَّمَا يَأْتِيكُمْ بِهِ اللَّهُ إِنْ شَاءَ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ، وَلَا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ إِنْ كَانَ اللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُغْوِيَكُمْ هُوَ رَبُّكُمْ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Nuh menjawab: “Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri. Dan nasihatku tidak akan bermanfaat bagimu, sekalipun aku hendak memberi nasihat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan“. (QS. Hud: 33-34)

Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi Nuh ‘alaihissalam akhirnya mengetahui bahwa dakwahnya tidak akan diterima setelah beliau berdakwah selama 950 tahun. Maka jangan sampai ada di antara kita yang salah memahami perkataan Nabi Nuh ‘alaihissalam tersebut, lantas berkata kepada orang-orang yang ia dakwahi sebagaimana perkataan Nuh kepada kaumnya. Nabi Nuh ‘alaihissalam tidaklah mengatakan demikian setelah berdakwah satu atau dua hari, akan tetapi setelah beliau berdakwah ratusan tahun. Oleh karena itu hendaknya seorang dai bersabar tatkala dakwahnya belum diterima, karena lamanya waktu yang dia gunakan untuk berdakwah belum sebanding dengan waktu yang digunakan oleh Nabi Nuh ‘alaihissalam berdakwah.

Nabi Nuh pun mengadukan sikap kaumnya kepada Allah. Beliau berkata :

رَّبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَن لَّمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا

‘Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka durhaka kepadaku, dan mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya hanya menambah kerugian baginya’. (QS. Nuh : 21)

Beliau juga berkata :

وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا ضَلَالًا

Dan sungguh, mereka telah menyesatkan banyak orang, dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan. (QS. Nuh : 24)

Nabi Nuh mendoakan keburukan bagi kaumnya

Akhirnya Nabi Nuh mendoakan keburukan bagi kaumnya, ia berkata :

رَّبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا

Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi’. (QS. Nuh : 26)

Setelah Nabi Nuh ‘alaihissalam berdakwah dengan sekian lama, namun kaumnya membalas dakwah beliau dengan ejekan dan hinaan, akhirnya Nabi Nuh ‘alaihissalam  berdoa agar membinasakan semua kaumnya yang mendurhakainya (kafir) ([1]). Mengapa Nabi Nuh ‘alaihissalam berdoa dengan doa seperti itu? Apakah beliau sudah tidak sabar? Nabi Nuh berdoa seperti itu karena Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengabarkan bahwa mereka tidak akan beriman, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَأُوحِيَ إِلَىٰ نُوحٍ أَنَّهُ لَن يُؤْمِنَ مِن قَوْمِكَ إِلَّا مَن قَدْ آمَنَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Hud : 36)

Setelah dakwah Nabi Nuh ‘alaihissalam selama kurang lebih 900 tahun, Allah Subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa tidak ada lagi yang akan beriman kecuali yang telah beriman sebelumnya. Kalau sebuah pendapat mengatakan bahwa yang beriman hanya delapan puluh orang, maka hanya mereka itu sajalah yang beriman, dan tidak akan ada tambahan lagi kata Allah Subhanahu wa ta’ala. ([2])

إِنَّكَ إِن تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوا إِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا

“Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka hanya akan melahirkan anak-anak yang jahat dan tidak tahu bersyukur.” (QS. Nuh : 27)

Selain karena Nabi Nuh ‘alaihissalam telah diberi kabar bahwa tidak akan ada lagi yang akan beriman, sehingga beliau berdoa untuk membinasakan seluruh orang-orang kafir, Nabi Nuh ‘alaihissalam juga mengemukakan alasan yang lain. Yaitu jika Allah Subhanahu wa ta’ala masih membiarkan mereka (orang-orang kafir) hidup, maka keberadaan mereka tidak lain hanya menambah kesesatan di muka bumi. ([3])

Sebagian ulama mengatakan bahwa Nabi Nuh ‘alaihissalam selama ratusan tahun telah menjumpai kaumnya yang usianya tidak sepanjang Nabi Nuh ‘alaihissalam. Namun dia melihat keadaan dimana seorang bapak yang memiliki anak, namun anaknya juga ikut kafir. Tidaklah Nabi Nuh ‘alaihissalam menyaksikan seorang bapak yang kafir melainkan anaknya juga kafir, bahkan cucu dan cicitnya nya pun ikut kafir. ([4])

Secara umum ada lima alasan mengapa Nabi Nuh ‘alaihissalam mendoakan kebinasaan bagi kaumnya.

  • Alasan pertama adalah karena Nabi Nuh ‘alaihissalam mendapati kaumnya kafir sampai keturunan-keturunannya.
  • Alasan kedua adalah Allah Subhanahu wa ta’ala juga telah mengabarkan kepadanya bahwa kaumnya tidak akan beriman kecuali yang memang telah beriman sebelumnya.
  • Alasan ketiga adalah Nabi Nuh ‘alaihissalam tidak ingin mereka semakin sesat dan menyebarkan kesesatannya kepada orang lain.
  • Alasan keempat, Nabi Nuh ‘alaihissalam tidak ingin pengikutnya yang telah beriman menjadi berpaling darinya lalu mengikuti jalan orang-orang fajir dan kafir.
  • Alasan kelima, Nabi Nuh ‘alaihissalam tidak rela terus-terusan menyaksikan dan mendengar Allah Subhanahu wa ta’ala dihinakan dan disekutukan oleh kaumnya. ([5])

 

Allah memerintahkan Nabi Nuh membuat kapal

Akhirnya Allah mengabulkan doa Nabi Nuh ‘alaihissalam, lalu diperintahkan membuat kapal. Allah berfirman kepada Nuh :

وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا إِنَّهُمْ مُغْرَقُونَ

Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” (QS. Hud: 36-37)

Ayat ini memerintahkan Nabi Nuh ‘alaihissalam untuk berhenti mendakwahi kaumnya, karena yang akan beriman kepadanya hanyalah orang-orang yang beriman sebelumnya. Ada khilaf tentang berapa jumlah orang yang beriman kepada Nabi Nuh ‘alaihissalam. ada yang mengatakan bahwa jumlahnya adalah tujuh orang, pendapat lain menyebutkan delapan orang, dan sebagian yang lain menyebutkan delapan puluh orang.([6]) Jumlah 80 inilah jumlah terbanyak diantara pendapat para ahli tafsir.

Maka berhentilah Nabi Nuh ‘alaihissalam mendakwahi kaumnya, dan mulailah beliau bersama pengikutnya melakukan apa yang diperintahkan Allah kepada mereka.

Akan tetapi ketika Nabi Nuh ‘alaihissalam membuat kapal, dia senantiasa masih diejek oleh kaumnya. Setiap siapa yang lewat dan melihat Nabi Nuh ‘alaihissalam membuat kapal, maka pasti mereka mengejek Nabi Nuh ‘alaihissalam([7]).

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَأٌ مِنْ قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ قَالَ إِنْ تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنْكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ، فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُقِيمٌ

Dan mulailah dia (Nuh) membuat kapal. Setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewatinya, mereka mengejeknya. Dia (Nuh) berkata, ‘Jika kamu mengejek kami, maka kami (pun) akan mengejekmu sebagaimana kamu mengejek (kami). Maka kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakan dan (siapa) yang akan ditimpa azab yang kekal’.” (QS. Hud : 38-39)

Disebutkan dalam buku-buku tafsir, waktu yang Nabi Nuh ‘alaihissalam gunakan untuk membuat bahtera tersebut adalah 100 tahun untuk menanam pohon dan menebangnya, kemudian 100 tahun mengerjakannya([8]). Sehingga Nabi Nuh ‘alaihissalam diejek oleh kaumnya. Kemudian di dalam buku-buku tafsir disebutkan bahwa di antara ejekan mereka adalah Nabi Nuh ‘alaihissalam telah beralih profesi dari seorang dai menjadi tukang kayu. Yang lain mengejek Nabi Nuh bahwa sekarang kapal berlayar di daratan dan bukan lagi di lautan. Akan tetapi Nabi Nuh ‘alaihissalam tetap bersabar menghadapi mereka.

Sampai kemudian kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam terus mengejeknya hingga pada tingkatan mengatakan bahwa beliau adalah orang gila. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ

Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: “Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman).” (QS. Al-Qamar: 9)

Diantara ejekan mereka, perkataan mereka, “Apakah engkau berubah menjadi tukang kayu, sudah tidak jadi Nabi dan berdakwah lagi?”

Demikian juga perkataan mereka, “Apakah engkau membikin kapal agar berlabuh di daratan?” ([9])

Maka setelah itu Nabi Nuh ‘alaihissalam berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala,

فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ

Maka dia (Nuh) mengadu kepada Tuhannya: “sesungguhnya aku telah dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku)“. (QS. Al-Qamar: 10)

 

Turunlah adzab

Maka Allah pun memberikan keputusan-Nya kepada Nabi Nuh ‘alaihissalam dan kaumnya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ، وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ

Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan.” (QS. Al-Qamar: 11-12)

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah tidak hanya menjadikan mata air-mata air kembali mengalirkan air, akan tetapi Allah menjadikan seluruh bumi menjadi mata air, sampai tungku yang seharusnya mengeluarkan api jadi mengeluarkan air. Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ آمَنَ وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ

Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman”. Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” (QS. Hud: 40)

Ketahuilah wahai saudaraku, ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa tolak ukur kebenaran bukanlah dengan jumlah. Bukan berarti banyaknya orang yang hadir dalam kajian seorang dai menjadi tolak ukur bahwa dai tersebut dalam kebenaran. Begitu pun sebaliknya, jumlah sedikit pun bukan menjadi tolak ukur kebenaran. Tolak ukur kebenaran hanyalah Al-Quran dan Sunnah. Maka penulis memberikan pesan kepada para sahabat dan para rekan dari kalangan para dai, bahwa jika yang hadir dalam pengajian antum tidak banyak, bukan berarti antum salah. Tetaplah berdakwah di jalan Allah baik orang yang ikut bersama antum banyak atau sedikit. Jangan sampai dakwah antum hanya untuk mencari pengikut, apalagi sampai mengajak orang-orang kepada diri antum, sehingga kalau ada orang belajar kepada daí yang lain maka antum gelisah dan hasad.  Karena betapa banyak orang yang tanpa menyadari dia berdakwah untuk dirinya dengan cara yang bermacam-macam, sedangkan dia mengira bahwa dia berdakwah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka ingatlah bahwa kebenaran bisa saja bersama dengan orang yang banyak, dan bisa saja bersama dengan orang yang sedikit, yang penting tolak ukurnya adalah Alquran dan sunnah Nabi ﷺ.

Maka setelah Allah memerintahkan Nabi Nuh ‘alaihissalam untuk membawa pengikutnya ke kapal, beliau kemudian berkata,

وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya”. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Hud: 41)

Tatkala azab turun tatkala itu berupa air yang turun tidak henti-hentinya, Nabi Nuh ‘alaihissalam tidak mengatakan bahwa azab Allah sangatlah pedih, melainkan beliau berkata dengan menyebutkan rahmat dan ampunan Allah Subhanahu wa ta’ala. Apa hikmahnya Nabi Nuh menyebutkan tentang rahmat Allah, padahal kondisi sedang turun adzab Allah?

Sebagian ahli tafsir menyatakan bahwa Nabi Nuh mengingatkan para pengikutnya dari kalangan orang-orang yang beriman bahwasanya mereka diselamatkan oleh Allah karena taubat mereka dan karena kasih sayang Allah, bukan karena ilmu mereka atau kehebatan mereka. Maka Nabi Nuh ‘alaihis salam mengingatkan mereka agar mereka tidak tertimpa ‘ujub, karena manusia dalam setiap kondisi tidaklah aman dari berbagai macam kesalahan, ketergelinciran, dan serangan hawa nafsu, maka di setiap saat dan setiap kondisi ia membutuhkan kasih sayang Allah, karunia dan pertolongan Allah([10]).

Atau bisa jadi Nuh mengucapkan demikian untuk menjelaskan bahwa kaum beliau sungguh benar-benar parah, karena tidaklah Allah mengadzab mereka kecuali karena kondisi mereka yang terlalu parah, padahal Allah maha pengampun lagi maha penyayang. Mereka sudah didakwahi selama ratusan tahun akan tetapi tetap tidak berubah.

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَابُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ

Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya([11]), sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir“. (QS. Hud: 42)

Di dalam ayat ini memperlihatkan kekuasaan Allah Subhanahu wa ta’ala dengan hadirnya gelombang setinggi gunung. Bahkan Allah menyatakan bahwa kapal Nabi Nuh berlabuh di gelombang/ombak, seakan-akan kapal masuk dalam gelombang. Ini menunjukan bahwa di sekiling kapal bahkan di atas kapal penuh dengan ombak. Ombak yang setinggi gunung juga menunjukan bahwa angin tatkala itu bertiup sangat kencang sehingga menimbulkan ombak yang sangat dahsyat([12]). Sedangkan kapal Nabi Nuh ‘alaihissalam sangat sederhana lagi kecil yang hanya terbuat dari kayu sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَحَمَلْنَاهُ عَلَى ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ

Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku.” (QS. Al-Qamar: 13)

Akan tetapi dengan kapal yang sederhana tersebut, dan dengan gelombang yang amat besar, disertai angin yang sangat kencang, tidaklah membuat kapal Nabi Nuh ‘alaihissalam tenggelam. Hal ini dikarenakan Nabi Nuh ‘alaihissalam melabuhkan kapalnya dengan menyebut nama Allah Subhanahu wa ta’ala sebagaimana dalam ayat yang sebelumnya kita telah sebutkan.

Di dalam ayat ini juga menggambarkan bahwa tatkala kapal Nabi Nuh ‘alaihissalam telah berlabuh di atas ombak yang sebesar gunung, beliau melihat anaknya Yaam atau Kan’an berada di tempat yang terpisah dari orang-orang kafir. Maka Nabi Nuh dengan sifat sayang dan lembutnya kepada anaknya, beliau memanggilnya meskipun selama ratusan tahun anaknya tersebut tidak mau mendengarkan perkataannya. Bahkan Nabi Nuh ‘alaihissalam tidak memerintah-kan agar anaknya beriman terlebih dahulu, akan tetapi beliau menginginkan keselamatan anaknya terlebih dahulu. Nabi Nuh tidak berkata, “Berimanlah wahai anak durhaka, wahai anak kafir !”. Karena Nabi Nuh tahu akan sifat keras kepala anaknya. Maka yang Nabi Nuh pikirkan bagaimana anaknya tersebut selamat terlebih dahulu, baru setelah itu akan ia dakwahi lagi.

Bahkan begitu lembutnya Nabi Nuh menyeru anaknya seakan-akan anaknya bukan termasuk bagian orang-orang kafir. Nabi Nuh berkata :

وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ

“Janganlah engkau bersama-sama orang-orang kafir !”

Inilah sifat kelembutan Nabi Nuh ‘alaihissalam kepada anaknya yang senantiasa bersikap keras kepala dan membangkang dari perintahnya selama puluhan atau ratusan tahun.

Maka kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman tentang perkataan anak Nabi Nuh ‘alaihissalam yang tidak ikut bersamanya yaitu Yaam (Kan’an),

قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ

Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menyelamatkanku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (QS. Hud: 443)

Nabi Nuh berharap dalam kondisi genting seperti itu anaknya berubah pikiran dan mau meninggalkan kekafiran menuju keimanan, akan tetapi ternyata sang anak tetap keras kepala, bahkan seakan-akan menantang ayahnya, yaitu dia tidak takut kepada ombak besar, dan akan sampai pada puncak gunung agar selamat. Ditengah bumi yang luas, dan ombak yang besar, Allah mentaqdirkan Nuh melihat anaknya dari atas kapal dan mentaqdirkan Nuh berbincang-bincang menasehati anaknya. Semua ini adalah ujian bagi Nabi Nuh álaihis salama.

Maka bersedihlah Nabi Nuh ‘alaihissalam dengan kesedihan yang luar bisa tatkala melihat anak yang dia sayangi meninggal di depan matanya. Anaknya tenggelam saat Nuh sedang mendakwahinya, sedang menasihatinya dengan penuh kasih sayang.

Nabi Nuh juga bersedih bahwa anaknya mati dalam kondisi kafir dan tempat kembalinya adalah neraka jahanam sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

مِمَّا خَطِيئَاتِهِمْ أُغْرِقُوا فَأُدْخِلُوا نَارًا

Karena disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan (di dunia) lalu dimasukkan ke neraka (di akhirat).” (QS. Nuh: 25)

Setelah mereka ditenggelamkan, Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan dalam ayat ini bahwa mereka mendapatkan siksaan tambahan yaitu dengan memasukkan mereka ke dalam neraka. Kalau kita perhatikan dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa ta’ala menggunakan huruf فَ pada kalimat فَأُدْخِلُوا, dan ini menunjukkan tertib waktu (urutan) namun tanpa jeda. Para Ahli Tafsir terbagi atas dua pendapat tentang makna ini.

Pertama, sebagian para ulama menyebutkan bahwa artinya adalah kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam tidaklah disiksa dengan api neraka Jahannam, akan tetapi yang dimaksud mereka dimasukkan dalam neraka yaitu mereka diazab dengan api di alam barzakh, karena tentunya setelah mereka meninggal karena tenggelam maka mereka telah memasuki alam berbeda yaitu alam barzakh. Artinya setelah mereka ditenggelamkan, maka ruh-ruh mereka langsung ditenggelamkan dan diazab di alam barzakh dengan api. Oleh karenanya para ulama yang berpendapat seperti ini juga mengemukakan bahwa ini merupakan dalil tentang adanya azab kubur.

Kedua, sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa itu bukanlah azab kubur, melainkan tatkala Allah Subhanahu wa ta’ala menenggelamkan mereka dalam banjir yang sangat dahsyat, ternyata Allah Subhanahu wa ta’ala juga membakar mereka dalam air tersebut, dan hal itu mudah bagi Allah Subhanahu wa ta’ala. ([13])

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa mereka tidak bisa ditolong oleh siapa pun. Nabi Nuh ‘alaihissalam saja tidak bisa menolong anaknya yang ikut tenggelam bersama kaum Nabi Nuh yang membangkang. Terlebih lagi berhala-berhala yang disembah oleh kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam tidak dapat menolong mereka, yang ada berhala-berhala tersebut juga ikut tenggelam bersama mereka. ([14])

Kisah Nabi Nuh álaihis salam dan anaknya yang tenggelam tersebut memberi pelajaran bagi kita bahwa seorang Nabi anaknya pun bisa kafir, sebagaimana sebaliknya seorang kafir bisa jadi anaknya seorang Nabi (yaitu Ibrahim álaihis salam). Jika demikian bisa jadi seorang yang shalih anaknya ternyata biadab dan sebaliknya seorang yang biadab bisa jadi anaknya shalih.

Setelah banjir menimpa kaum Nuh

Maka setelah banjir menimpa kaumnya Nabi Nuh ‘alaihissalam, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقِيلَ يَاأَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ ويا سماء أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Dan difirmankan: “Wahai bumi! telanlah airmu, dan wahai langit (hujan) berhentilah,” dan air pun disurutkan, dan perintah pun diselesaikan dan bahtera itu pun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim“. (QS. Hud: 44)

Wallahu a’lam bisshawab, tidak ada yang mengetahui mengenai dimana letak bukit Judi tersebut. Ada pendapat yang mengatakan di Tanah Jazirah Arab, dan sebagian yang lain mengatakan di Al-Maushil (di Iraq) ([15]). Akan tetapi tidak ada dalil yang jelas menyebutkan dimana letak bukit tersebut.

Nabi Nuh ‘alaihissalam kemudian masih bersedih dengan nasib anaknya. Maka beliau pun mempertanyakan kepada Allah tentang kabar anaknya dengan janji keselamatan kepada keluarganya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ

Dan Nuh memohon kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau pasti benar. Engkau adalah Hakim yang paling adil“. (QS. Hud: 45)

Nabi Nuh ‘alaihissalam seakan-akan meminta keselamatan untuk anaknya kelak di akhirat, karena beliau mengingat janji Allah yang akan memberikan keselamatan kepada keluarganya. Padahal dalam ayat yang menyebutkan janji tersebut Allah telah menyebutkan bahwa Allah akan menyelamatkan keluarganya, kecuali yang memang telah ditakdirkan untuk tenggelam bersama orang-orang kafir lainnya.

Maka Allah Subhanahu wa ta’ala menegur Nabi Nuh ‘alaihissalam dengan berfirman,

قَالَ يَانُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya dia melakukan perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan“. (QS. Hud; 46)

Nabi Nuh ‘alaihissalam akhirnya menyadari kesalahannya dan berkata,

قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi“. (QS. Hud: 47)

Maka Nabi Nuh ‘alaihissalam meminta ampun kepada Allah, dan Allah memberikan ampunan kepadanya.

Allah Subhanahu wa ta’ala kemudian berfirman,

قِيلَ يَانُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَى أُمَمٍ مِمَّنْ مَعَكَ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ

Difirmankan: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami“. (QS. Hud: 48)

Nabi Nuh juga berdoa :

رَّبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا تَبَارًا

“Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, dan siapa pun yang memasuki rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kehancuran.” (QS. Nuh : 28)

Selain Nabi Nuh ‘alaihissalam berdoa untuk kebinasaan kaumnya yang kafir, Nabi Nuh ‘alaihissalam juga mendoakan kebaikan untuk seluruh orang-orang beriman. Nabi Nuh ‘alaihissalam terlebih dahulu mendoakan dirinya, dan ini adalah dalil bahwa mendoakan diri sendiri itulah yang didahulukan lalu kemudian orang lain. Kemudian Nabi Nuh ‘alaihissalam mendoakan orang tuanya([16]), dan ini adalah dalil bahwa orang tua Nabi Nuh ‘alaihissalam masuk Islam, karena Nabi Nuh ‘alaihissalam mendoakan ampunan untuknya([17]). Dan ini merupakan di antara dalil yang disebutkan oleh jumhur ulama bahwasanya orang tua Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal bukan dalam kondisi Islam. Dan ini adalah pendapat jumhur, di antaranya adalah Imam An-Nawawi, Ibnu Katsir, Adz-Dzahabi, dan Al-Baihaqi. Diantara bukti kedua orang tua Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal dalam keadaan tidak Islam adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mendoakan kedua orang tuanya. Bahkan dalam hadits telah disebutkan bahwa tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak memohonkan ampun untuk ibunya, ternyata beliau ditegur oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Adapun Nabi Nuh ‘alaihissalam, dia mendoakan kedua orang tuanya tanpa ditegur oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Adapun para ulama yang mengatakan bahwa orang tua Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Islam hanyalah ulama minoritas dan ulama belakangan seperti As-Suyuti dan yang lainnya. Memang hal ini adalah khilaf di kalangan para ulama, akan tetapi sebagian orang tidak bisa menerima khilaf tersebut.

Kemudian Nabi Nuh ‘alaihissalam mendoakan keluarganya yang beriman, karena tidak semua keluarganya beriman, di antaranya adalah istri dan salah satu anaknya([18]). Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ

Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Luth. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, tetapi kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksaan) Allah. Dan dikatakan (kepada kedua istri itu), ‘Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)’.” (QS. At-Tahrim : 10)

Sungguh bisa kita bayangkan bagaimana ujian yang sangat berat yang dilalui oleh Nabi Nuh ‘alaihissalam. Beliau berdakwah selama ratusan tahun, akan tetapi anak dan istrinya ternyata tidak beriman. Kira-kira jika hal seperti ini terjadi di zaman sekarang, maka tentu seorang Da’i akan mendapat cacian dan makian luar biasa, karena dia mendakwahi orang lain, namun istri dan anaknya tidak mendengar dakwahnya sendiri.

Kemudian Nabi Nuh ‘alaihissalam juga mendoakan kebaikan untuk seluruh kaum mukminin baik yang telah meninggal maupun yang masih dan akan hidup di kemudian hari([19]). Ini menunjukkan bagaimana jiwa kasih sayang para Nabi terhadap kaum mukminin yang begitu tinggi, sampai-sampai Nabi Nuh ‘alaihissalam mendoakan mereka seluruhnya([20]). Dalam hadits disebutkan bahwa setiap orang yang kita doakan, maka kita akan mendapatkan kebaikan dari doa-doa tersebut. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ummu darda’, bahwa Rasulullah bersabda:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

Do’a seorang muslim untuk saudaranya yang dipanjatkan tanpa sepengetahuan orang yang dido’akannya adalah do’a yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada Malaikat yang diutus baginya. Setiap kali dia berdo’a untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka Malaikat tersebut berkata: ‘Semoga Allah mengabulkannya dan semoga engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan. ([21])

Setelah Allah menceritakan kisah yang panjang dari kisah Nabi Nuh ‘alaihissalam, Allah kemudian berfirman kepada Nabi Muhammad ﷺ,

تِلْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ مَا كُنْتَ تَعْلَمُهَا أَنْتَ وَلَا قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هَذَا فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ

Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Hud: 49)

Ayat ini merupakan inti dari kisah Nabi Nuh ‘alaihissalam, yaitu Allah hendak mengajarkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kesabaran.

Nabi Nuh dalam al-Kitab (perjanjian lama)

Adapun Nabi Nuh dalam al-Kitab maka hanya menyebutkan anak Nuh hanya tiga, dan tidak menyebutkan tentang Yaam (Kan’an). Demikian juga tidak menyebutkan tentang dakwah Nabi Nuh sama sekali. Yang ada bahwasanya Allah menyesal menciptakan manusia karena ternyata mereka rusak, dan akhirnya Allah menyelamatkan keluarga Nabi Nuh karena Nabi Nuh orang baik dan bergaul dengan Allah. Dan akhirnya Nabi Nuh murka sama anaknya Ham lalu mengutuk cucunya yaitu Kanán.

Berikut kisah Nabi Nuh álaihis salam versi Perjanjian Lama :

Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,  maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. Berfirmanlah TUHAN: “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.” Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN. (Kejadian 6 : 5-8)

Selanjutnya :

Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah. Nuh memperanakkan tiga orang laki-laki: Sem, Ham dan Yafet. Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi. Berfirmanlah Allah kepada Nuh: “Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi. Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu harus kaubuat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari dalam (Kejadian 6 : 9-14)

Selanjutnya :

Anak-anak Nuh yang keluar dari bahtera ialah Sem, Ham dan Yafet; Ham adalah bapa Kanaan. Yang tiga inilah anak-anak Nuh, dan dari mereka inilah tersebar penduduk seluruh bumi. Nuh menjadi petani; dialah yang mula-mula membuat kebun anggur. Setelah ia minum anggur, mabuklah ia dan ia telanjang dalam kemahnya. Maka Ham, bapa Kanaan itu, melihat aurat ayahnya, lalu diceritakannya kepada kedua saudaranya di luar. Sesudah itu Sem dan Yafet mengambil sehelai kain dan membentangkannya pada bahu mereka berdua, lalu mereka berjalan mundur; mereka menutupi aurat ayahnya sambil berpaling muka, sehingga mereka tidak melihat aurat ayahnya. Setelah Nuh sadar dari mabuknya dan mendengar apa yang dilakukan anak bungsunya kepadanya, berkatalah ia: “Terkutuklah Kanaan, hendaklah ia menjadi hamba yang paling hina bagi saudara-saudaranya.” Lagi katanya: “Terpujilah TUHAN, Allah Sem, tetapi hendaklah Kanaan menjadi hamba baginya. Allah meluaskan kiranya tempat kediaman Yafet, dan hendaklah ia tinggal dalam kemah-kemah Sem, tetapi hendaklah Kanaan menjadi hamba baginya.” Nuh masih hidup tiga ratus lima puluh tahun sesudah air bah. Jadi Nuh mencapai umur sembilan ratus lima puluh tahun, lalu ia mati. (Kejadian 9 : 18-29)

Perhatikanlah dalam kisah di atas :

  • Pertama : Allah menyesal. Tentu dalam Islam tidak mungkin ada kata menyesal bagi Allah, karena semua yang terjadi adalah dengan taqdir Allah. Penyesalan menunjukan ketidak tahuan akan akibat yang akan terjadi. Mensifati Allah dengan penyesalan menunjukan perendahan kepada Allah yang maha berilmu.
  • Kedua : Sama sekali tidak disebutkan tentang perjuangan dakwah Nabi Nuh siang dan malam, padahal inilah keutamaan Nabi Nuh yang Allah sebutkan dalam al-Qurán. Tidak pula ada pujian-pujian kepada Nabi Nuh, seperti di al-Qurán Nuh disifati dengan hamba yang pandai bersyukur, sekaligus kesabaran Nabi Nuh yang Allah memerintahkan Nabi Muhammad shallallahu álaihi wasallam untuk mencontohinya.
  • Ketiga : Sebaliknya Nabi Nuh ternyata minum khomr hingga mabuk, dan setelah mabuk membuka auratnya tanpa sadar. Apakah pantas seorang Nabi yang mulia seperti Nuh álaihis salam mabuk?
  • Keempat : Yang aneh dari cerita di atas, kenapa Ham dipersalahkan, bukankah ia tidak sengaja melihat aurat ayahnya?, dan bukankah dia malah baik menceritakan kepada saudara-saudaranya agar bisa mensikapi apa yang terjadi, karena jangan sampai ayahnya (Nuh) yang sedang mabuk keluar kemah dalam kondisi telanjang ?!.
  • Kelima : Yang lebih aneh lagi kenapa Nuh akhirnya marah sehingga harus melaknat, dan bukannya berterima kasih kepada anak-anaknya?. Dan kenapa ia tidak menyalahkan dirinya sendiri yang mabuk?
  • Keenam : Lantas kenapa pula yang dilaknat adalah Kanán putranya Haam, sementara yang dianggap bersalah adalah bapaknya yang Haam. Dialah yang melihat aurat Nuh. Kenapa bukan Ham yang dilaknat?. Apakah Kanán menerima dosa warisan dari bapaknya?, bukan bapaknya (Ham) yang terkena laknat malah dirinya yang tidak bersalah?

Rahasia kenapa begitu bencinya Yahudi terhadap Kanán karena ketika mereka tinggal di Palestina ternyata Kanániyun telah mendahului mereka tinggal di Palestina, dan mereka sangat membenci kaum Kanániyun. Sehingga mereka pun merubah Taurat untuk memuaskan hawa nafsu mereka.

Lampiran :

Berikut ini tulisan lama yang saya tulis pada tanggal 22-12-2014 M yang berkaitan dengan permasalahan ini :

Menurutnya.. ” Allah Sang Pendongeng..” (Perspektif Ulil Sang Liberal)

Dalam sebuah tulisan Ulil yang berjudul “Perspektif Lain atas Kisah/Dongeng dalam Quran”,Ulil berkata :

“Saya nimbrung diskusi sedikit ya karena tema soal kisah dalam Quran ini menarik untuk dibicarakan. Pertanyaan pertama, apakah kisah-kisah dalam Quran itu semuanya secara factual pernah terjadi?…”

“Qur’an tidak terlalu peduli dengan faktualitas cerita-cerita itu. Yang penting adalah moral atau pesan yang hendak dihantarkan melaui kisah tersebut…”

“Menurut saya, penggambaran tentang Tuhan dalam Quran itu, jujur saja ya, harus diakui masih dipengaruhi perspektif agama Yahudi…”

Maksud saya begini. Kalau kita telaah kisah-kisah dalam Quran itu ada pola demikian : Nabi datang, berdakwah, lalu masyarakat menolak bahkan memusuhi. Ujung ceritanya  : Tuhan marah, mengirim azab. Azab yang buat saya paling mengerikan adalah banjir Nuh. Azab ini secara nurani dan akal sehat sangat mengganggu : apakah benar, hanya karena masyarakat menolak dakwah Nabi Nuh, Tuhan marah besar dan mengirim banjir yang melanda seluruh bumi. Semua orang tewas, kecuali orang-orang beriman yang tinggal di perahu

Namun masih saja ada yang mengganggu, cara Quran menampilkan kisah-kisah itu dengan nada positif sehingga memberi kesan seolah-olah dia (Quran) memberikan restu atas konsep Tuhan pendendam itu. Ini buat saya agak mengganggu. Dan lihatlah, konsep ketuhanan yang berbau Yahudi itu akhirnya mempengaruhi begitu mendalam teologi umat Islam sekarang” (Menyegarkan Kembali Pemikiran Islam hal 64-65)

Ulil juga berkata :

Kisah tentang penyeberangan Musa di Laut Merah, misalnya, atau banjir Nuh, adalah kisah-kisah yang sulit dipercayai sebagai sesuatu yang pernah terjadi secara faktual. Kisah-kisah itu sebaiknya dipahami secara metaforis saja” (Menyegarkan kembali pemikiran Islam hal 67)

Ulil juga menulis suatu tulisan yang ia beri judul “Al-Quran dan Spiderman

Ia telah membandingkan antara kisah Nabi Adam dengan dongeng Spiderman dan film-film Hollywood lainnya.

Ulil berkata :

Saya baru saja menonton film Spider Man 2. Tentu film ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan kajian al-Quran. Tetapi, setelah menonton film itu, saya mengirim sms pendek ke sejumlah teman, bahwa pada akhirnya manusia membutuhkan dongeng atau kisah…” (Menjadi Muslim Liberal hal 12)

Dongeng-dongeng Hollywood, bagi saya, kurang begitu menarik, karena terlalu menekankan aspek-aspek heroic dalam manusia. Kita tengok Superman, Batman, dan Spiderman, semuanya adalah manusia –meminjam istilah Iwan Fals- “setengah dewa” yang begitu raksasa dan bisa menyelesaikan dilema kejahatan dan kebaikan dengan begitu gampang. Saya kira, al-Quran memberikan contoh yang lebih realistis tentang manusia : Adam sebagai manusia yang rentan, tetapi kembali menjadi kuat karena tobat.” (Menjadi Muslim Liberal hal 13)

Sanggahan :

Pertama : Pernyataan Ulil bahwasanya kisah-kisah di Al-Quran hanyalah dongeng sungguh sama persis dengan pernyataan para pendahulunya dari Abu Jahal, Abu Lahab, dan para pengikutnya. Mereka berkata :

يَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلا أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ

Orang-orang kafir itu berkata: “Al-Quran ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu.” (QS Al-An’aam : 25)

وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا قَالُوا قَدْ سَمِعْنَا لَوْ نَشَاءُ لَقُلْنَا مِثْلَ هَذَا إِنْ هَذَا إِلا أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata: “Sesungguhnya Kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau Kami menghendaki niscaya Kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al Quran) ini tidak lain hanyalah dongeng-dongengan orang-orang purbakala”. (QS Al-Anfaal : 31)

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوا أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka “Apakah yang telah diturunkan Tuhanmu?” mereka menjawab: “Dongeng-dongengan orang-orang dahulu” (QS An-Nahl : 24)

لَقَدْ وُعِدْنَا نَحْنُ وَآبَاؤُنَا هَذَا مِنْ قَبْلُ إِنْ هَذَا إِلا أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ

Sesungguhnya Kami dan bapak-bapak Kami telah diberi ancaman (dengan) ini, dahulu, ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala!”. (QS Al-Mukminun : 83)

إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ

Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala.” (QS Al-Qolam 15)

Kedua : Kalau akal Mas Ulil tidak bisa membenarkan kisah banjir Nabi Nuh ‘alaihis salaam dan terbelahnya Laut Merah dengan tongkat Nabi Musa ‘alaihis salaam maka ingatlah Allah telah berkata tentang diriNya

إِنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia. (QS Yaasin : 82)

Mas Ulil apa lupa, yang namanya mukjizat memang aneh mas, kalau tidak aneh maka bukan mukjizat.

Saya heran sama Mas Ulil, kalau Fir’aun sebelum meninggalnya akhirnya “sadar” –meskipun sudah terlambat- dan beriman dengan Allah, beriman bahwa mukjizat Nabi Musa benar-benar datang dari Allah, dan mukjizat yang terakhir dilihat oleh Fira’un adalah mukjizat terbelahnya Laut Merah…, maka kenapa Ulil tidak percaya?. Apakah Mas Ulil kalah sama Fir’aun?

Saya juga aneh sama mas Ulil, diantara dongeng –menurut kriteria mas Ulil- dalam al-Qur’an adalah kisah lahirnya Nabi Isa tanpa ayah. Bukankah ini tidak masuk akal menurut “akal” Mas Ulil?, apalagi lahir kemudian jadi “Tuhan”?!, lantas kenapa Mas Ulil bersikeras memberi ucapan selamat kepada sesuatu dongeng yang tidak masuk akal?? Bahkan mengejek seorang muallaf yang tidak mau memberi selamat atas sesuatu yang tidak masuk akal ini??!!

Ketiga : Pernyataan Mas Ulil bahwa kisah-kisah dalam Al-Qur’an adalah dongeng belaka dan tidak faktual maka ini berarti Allah telah berdusta dan dustanya berulang-ulang karena kisah dalam Al-Qur’an sangatlah banyak.

Mas Ulil coba renungkan, jika mas Ulil dikatakan berdusta bagaimana menurut mas Ulil?, apalagi kalau dustanya berulang-ulang?

Bagaiamana perasaan kaum muslimin selama 14 abad lebih, ternyata selama ini mereka dibohongin oleh Tuhan mereka ? Apalagi Tuhan mereka tidak pernah memberi isyarat bahwa kisah-kisah itu hanyalah bohong belaka, bahkan Tuhan membawakannya seakan-akan benar dan menggambarkan akan kekuasaan Tuhan. Ternyata hanya bohong belaka, kekuasaan Tuhan yang membelah Laut Merah dan mengeluarkan banjir besar hanyalah bohong belaka ?

Kalau Mas Ulil tidak mau dikatakan pembohong, tidak mau dikatakan pendongen, lantas kenapa Mas Ulil tega melakukannya kepada Tuhan Mas Ulil yang telah menciptakan tangan Mas Ulil untuk menulis dan menciptakan bibir Mas Ulil untuk berbicara??. Gunakanlah tangan dan bibir mas Ulil untuk memujiNya bukan untuk mencelaNya !!

Keempat : Selain mengecap kisah dalam Al-Qur’an adalah dongeng, ternyata Mas Ulil juga mengkritik dongeng tersebut seakan-akan salah dan kurang pas cara pendongengannya. Karena kisah seperti banjir Nuh dongengnya kurang bagus, karena menggambarkan bahwa Allah adalah pendendam dan pemarah, seperti Tuhannya Kaum Yahudi.

Ini sungguh penghinaan di atas penghinaan, sudah menuduh Allah adalah pendongeng, ternyata Allah juga tidak pandai berdongeng !!!.

Gimana kalau Al-Quran yang buat Mas Ulil aja, barangkali Mas Ulil hebat dalam berdongeng karena sering nonton dongeng-dongeng Hollywood, jadi pengetahuan tentang dongeng Mas Ulil lebih baik dari Allah, Tuhan Yang telah menciptakan tangan Mas Ulil untuk menulis dan bibir Mas Ulil untuk berbicara.

Terakhir saya bertanya kepada Mas Ulil, Mas Ulil ini orang Islam?. Mungkin Mas Ulil akan menjawab : Iya Saya orang Islam, tapi bukan seperti sampeyan, saya Muslim Liberal !!!

Menurutnya.. ” Allah Sang Pendongeng..” (Perspektif Ulil Sang Liberal)

Lihat (Link)

Footnote:

______________

([1])  Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 18/312.

([2])  Lihat: Tafsir Ath-Thabariy 15/327.

([3])  Lihat: Tafsir Ath-Thabariy 23/642.

([4])  Lihat: Tafsir Al-Baghawiy 8/234 dan Tafsir Ibnu Katsir 8/237.

([5])  Lihat: At-Tahrir Wa At-Tanwir Li Ibn ‘Asyur 29/214.

([6]) Lihat: Tafsir Ath-Thobari 15/325-326

([7])  Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 9/31.

([8]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 9/31

([9])  Lihat: Tafsir At-Thobari 15/310

([10]) Lihat: At-Tafsiir al-Kabiir, Ar-Raazi 17/350, juga al-Muharror al-Wajiiz, Ibnu ‘Athiyyah 3/173, al-Kasyyaaf, az-Zamakhsyari 2/396

([11]) Ar-Raazi berkata :

أَنَّهُ ابْنُهُ فِي الْحَقِيقَةِ، وَالدَّلِيلُ عَلَيْهِ: أَنَّهُ تَعَالَى نَصَّ عَلَيْهِ فَقَالَ: وَنادى نُوحٌ ابْنَهُ ونوح أيضا نص عليه فقال: يا بُنَيَّ … وَالَّذِينَ خَالَفُوا هَذَا الظَّاهِرَ إِنَّمَا خَالَفُوهُ لِأَنَّهُمُ اسْتَبْعَدُوا أَنْ يَكُونَ وَلَدُ الرَّسُولِ الْمَعْصُومِ كَافِرًا، وَهَذَا بَعِيدٌ، فَإِنَّهُ ثَبَتَ أَنَّ وَالِدَ رَسُولِنَا صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ كَافِرًا، وَوَالِدَ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ كافرا بنص القرآن، فكذلك هاهنا

“Sesungguhnya ia adalah benar-benar anaknya Nuh. Dalilnya adalah Allah telah menyatakan demikian, Allah berfirman “Dan Nuh menyeru anaknya”. Dan Nuh juga telah menyatakan bahwa ia adalah anaknya, Nuh berkata, “Wahai anakku”… dan mereka yang menyelisihi dzohir ayat ini mereka menyelisihinya karena mereka merasa sungguh jauh kalau seorang Rasul yang maksum ternyata anaknya kafir. Namun argument mereka ini jauh (dari kebenaran), karena telah valid bahwasanya orang tua Rasul kita kafir. Dan ayah Ibrahim juga kafir dengan nash dari al-Qurán. Maka demikian pula di sini” (At-Tafsiir al-Kabiir 17/350)

Asy-Syaukani tatkala menafsirkan firman Allah ;

وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِما مُحْسِنٌ وَظالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ

“Dan dari keturunan keduanya (Ibrahim dan Ishaq álaihimas salam) ada yang baik dan ada pula yang dzolim terhadap dirinya sendiri dengan nyata” (QS Ash-Shaaffaat : 113), beliau berkata :

أَيْ: مُحْسِنٌ فِي عَمَلِهِ بِالْإِيمَانِ وَالتَّوْحِيدِ، وَظَالِمٌ لَهَا بِالْكُفْرِ وَالْمَعَاصِي، لَمَّا ذَكَرَ سُبْحَانَهُ الْبَرَكَةَ فِي الذُّرِّيَّةِ بَيَّنَ أَنَّ كَوْنَ الذُّرِّيَّةِ مِنْ هَذَا الْعُنْصُرِ الشَّرِيفِ وَالْمَحْتِدِ الْمُبَارَكِ لَيْسَ بِنَافِعٍ لَهُمْ، بَلْ إِنَّمَا يَنْتَفِعُونَ بِأَعْمَالِهِمْ، لَا بِآبَائِهِمْ، فَإِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى وَإِنْ كَانُوا مِنْ وَلَدِ إِسْحَاقَ فَقَدْ صَارُوا إِلَى مَا صَارُوا إِلَيْهِ مِنَ الضَّلَالِ الْبَيِّنِ، وَالْعَرَبُ وَإِنْ كَانُوا مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ فَقَدْ مَاتُوا عَلَى الشِّرْكِ إِلَّا مَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ بِالْإِسْلَامِ

”Yaitu ada keturunan yang baik dalam amalnya dengan iman dan tauhid, dan ada keturunan yang dzolim dengan kekufuran dan kemaksiatan. Tatkala Allah menyebutkan tentang  keberkahan kepada keturunan, Allah menjelaskan bahwa kondisi keturunan berasal dari unsur yang mulis dan berkah ini tidak bermanfaat bagi mereka, akan tetapi mereka mendapat manfaat dengan amal mereka bukan dengan bapak dan nenek moyang mereka. Sesungguhnya Yahudi dan Nashoro meskipun mereka dari keturunan Nabi Ishaq álaihis salam akan tetapi mereka telah menjadi kondisi mereka sekarang di atas kesesatan yang nyata. Dan orang-orang Arab (diantaranya Quraisy) meskipun mereka dari keturunan Nabi Ismaíl álaihis salam sungguh mereka telah mati dalam kesyirikan kecuali yang diselamatkan Allah dengan Islam” (Fathul Qodiir : 4/466)

([12]) Lihat: At-Tafsiir al-Kabiir 17/350

([13])  Lihat: Tafsir As-Sam’aniy 6/60.

([14])  Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 8/236.

([15]) Lihat: Tafsir Ath-Thobari 15/338

([16])  Lihat: At-Tahrir Wa At-Tanwir Li Ibn ‘Asyur 29/215.

([17])  Lihat: Tafsir Al-Baghawiy 8/234 dan Al-Kassyaf Li Az-Zamakhsyariy 4/621.

([18])  Lihat: Tafsir Al-Baghawiy 4/174.

([19])  Lihat: At-Tahrir Wa At-Tanwir Li Ibn ‘Asyur 29/215.

([20])  Lihat: Tafsir Ibnu ‘Athiyyah 5/377.

([21])  H.R. Muslim no.2733.