Adab Menuntut Ilmu Yang Wajib Anda Tahu

Adab Menuntut Ilmu Yang Wajib Anda Tahu

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Secara garis besar adab penuntut ilmu bisa dipandang dari tiga sisi, adab terhadap diri sendiri yang berkaitan dengan Allah ﷻ, adab terhadap guru, adab terhadap sesama penuntut ilmu. Sekali lagi perlu dicamkan bahwa mempraktikkan adab adalah ibadah sehingga seseorang berusaha mempelajarinya agar bisa mempraktikkannya.

Pertama, adab penuntut ilmu terhadap diri sendiri

  1. Mengikhlaskan Niat

Menuntut ilmu adalah ibadah, maka dia tidak akan diterima oleh Allah ﷻ  kecuali jika dikerjakan dengan ikhlas. Seorang penuntut ilmu yang tidak ikhlas maka ilmunya tidak akan berkah, bahkan orang-orang yang ilmunya banyak tetapi tidak ikhlas bisa jadi membuat keributan di dalam medan dakwah. Sebagaimana hal ini telah diingatkan oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam banyak hadis, di antaranya Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

“Barangsiapa yang menuntut ilmu dengan maksud untuk bisa mendebat ulama (untuk menampakkan keilmuannya di hadapan lainnya, pen.) atau untuk mendebat orang-orang bodoh (menanamkan keraguan pada orang bodoh, pen.) atau agar menarik perhatian yang lainnya (supaya orang banyak menerimanya, pen.), maka Allah akan memasukkannya dalam neraka.”([1])

Seseorang tidak boleh menuntut ilmu dengan niat agar bisa disandingkan dengan para ulama, atau agar bisa terlihat hebat dengan membantah orang bodoh. Demikian pula seseorang tidak boleh menuntut ilmu dengan tujuan agar dihormati oleh manusia. Walaupun pada umumnya jika seseorang sudah berilmu maka dia akan dihormati oleh manusia. Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah , tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat.”([2])

Seseorang tidak boleh menuntut ilmu dengan niat untuk mencari dunia, tetapi untuk mencari wajah Allah ﷻ. Adapun jika tiba-tiba Allah ﷻ bukakan dunia untuknya maka ini tidaklah masalah, yang penting dia tidak menuntut ilmu dengan niat awal dunia.

Selain itu, seorang penuntut ilmu juga mesti khawatir, belum tentu jika di awal dia berniat untuk Allah ﷻ maka di kemudian hari dia akan aman dari niat-niat duniawi. Oleh karena itu, Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu pernah mengatakan tentang keadaan para sahabat radhiallahu ‘anhum,

مَا كُنْتُ أَظُنُّ فِي أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَومَئِذٍ أَحَدًا يُرِيْدُ الدُّنْيَا، حَتَّى قَالَ اللهَ مَا قَالَ

“Aku dulu tidak menyangka ada seorang sahabat pun yang mencari dunia sampai Allah menurunkan ayat.”([3])

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengatakan ini ketika sebuah ayat turun tentang keadaan para sahabat yang berbeda-beda saat perang Uhud. Allah ﷻ berfirman,

وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُم بِإِذْنِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُم مِّن بَعْدِ مَا أَرَاكُم مَّا تُحِبُّونَ ۚ مِنكُم مَّن يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ الْآخِرَةَ ۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ ۖ وَلَقَدْ عَفَا عَنكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman.” (QS Ali ‘Imran : 152)

Tidak ada yang meragukan keikhlasan para sahabat, namun ternyata mereka juga pernah melakukan kesalahan. Walaupun pada akhirnya Allah ﷻ  memaafkan para sahabat. Akan tetapi ini menjadi pelajaran bagi kita yang datang setelah para sahabat bahwa terkadang niat itu bisa berubah di tengah perjalanan. Baik itu seorang dai, penuntut ilmu, maupun panitia pengajian. Hendaknya tidak ada yang merasa super ikhlas, karena ikhlas itu perkara yang berat. Dia harus senantiasa mengecek dirinya apakah dia masih ikhlas atau tidak. Karena godaan yang bisa memalingkan seseorang dari keikhlasan sangat besar, ditambah godaan yang menarik menuju dunia sangatlah besar pula. Kalau sebagian sahabat saja bisa berubah niatnya maka apalagi dengan kita.

Hadis yang paling mengerikan tentang ketidakikhlasan adalah hadis yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ. قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لأَنْ يُقَالَ جَرِىءٌ. فَقَدْ قِيلَ.ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ

“Orang yang pertama kali diputuskan pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mati syahid di jalan Allah . Lalu dia didatangkan, kemudian Allah memperlihatkan kepadanya nikmat-Nya, maka dia pun mengenalinya. Allah berkata, “Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat itu?” Orang tersebut menjawab, “Aku telah berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid.” Allah berkata, “Engkau dusta, akan tetapi engkau melakukan itu supaya disebut sebagai seorang pemberani dan ucapan itu telah dilontarkan.” Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dibawa, maka dia diseret dengan wajahnya (terjerembap di tanah), sampai dia pun dilemparkan di neraka.”

وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ. قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ. وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ. فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ

“Kemudian ada orang yang belajar agama dan mengajarkannya, serta membaca Al-Quran. Lalu orang itu didatangkan, lalu Allah memperlihatkan nikmat-Nya dan orang itu pun mengenalinya. Allah   berkata, “Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat itu?” Orang itu menjawab, “Aku telah belajar agama, mengajarkannya dan aku telah membaca Al-Quran.” Allah   berkata, “Engkau dusta, akan tetapi engkau belajar agama supaya disebut orang alim dan engkau membaca Al-Qur’an supaya disebut qari’ dan ucapan itu telah dilontarkan.” Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dibawa, maka dia pun diseret dengan wajahnya (terjerembap di tanah) sampai dia pun dilemparkan di neraka.”

وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ. فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِىَ فِى النَّارِ

“Kemudian ada seorang laki-laki yang diberikan kelapangan oleh Allah dan menganugerahinya segala macam harta. Lalu dia pun didatangkan, lalu Allah memperlihatkan nikmat-Nya itu dan orang itu pun mengenalinya. Allah berkata, “Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat itu?” Orang itu menjawab, “Aku tidak meninggalkan satu jalan pun sebagai peluang untuk berinfak melainkan aku berinfak di situ semata-mata karena-Mu.” Allah berkata, “Engkau dusta, akan tetapi engkau melakukan seperti itu supaya disebut dermawan dan ucapan itu telah dilontarkan.” Maka orang itu diperintahkan untuk dibawa, lalu dia pun diseret dengan wajahnya (terjerembap di tanah), kemudian dia dilemparkan di neraka.”([4])

Orang yang paling pertama diazab adalah tiga golongan ini, salah satunya adalah orang yang belajar ilmu agama. Oleh karena itu, setiap penuntut ilmu tidak boleh terlalu percaya diri dengan keikhlasannya.

  1. Bertakwa kepada Allah

Takwa adalah hal yang dituntut di mana pun dan kapan pun, Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah   di mana pun engkau berada; iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu; dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.”([5])

Terutama di zaman ini yang penuh dengan fitnah. Seseorang terkadang bertakwa di hadapan banyak orang namun saat bersendiri dia bermaksiat kepada Allah ﷻ. Di hadapan banyak orang dia adalah pembela sunnah namun kala bersendiri temannya iblis. Seseorang sangat butuh dengan takwa, karena seseorang yang bertakwa maka Allah ﷻ akan memberinya tambahan ilmu. Allah ﷻ berfirman,

وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dan bertakwalah kepada Allah, Allah akan mengajarimu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS Al-Baqarah: 282)

Berbeda dengan orang yang tidak bertakwa, bisa jadi ilmunya bertambah tetapi tidak berkah. Justru ilmu yang dimilikinya mengantarkannya kepada rasa sombong dan angkuh. Allah ﷻ juga berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS Al-Anfal: 29)

Allah ﷻ juga berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِن رَّحْمَتِهِ وَيَجْعَل لَّكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Hadid: 28)

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

لَيْسَ العِلْمُ عَنْ كَثْرَةِ الحَدِيْثِ، وَلَكِنْ العِلْمَ عَنْ كَثْرَةِ الخَشْيَةِ

“Ilmu bukanlah dengan banyaknya bicara, akan tetapi ilmu itu adalah banyaknya khasyyah (rasa takut kepada Allah).”

Takut kepada Allah ﷻ adalah konsekuensi bagi orang yang berilmu. Allah ﷻ berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Faathir: 28)

Oleh karena itu, setiap orang berusaha bertakwa terutama di saat-saat dia bersendiri. Lebih-lebih di zaman sekarang yang penuh dengan fitnah, didukung dengan fasilitas internet dan smartphone yang dapat menjerumuskan ke dalam hal-hal yang terlarang. Membuka situs-situs terlarang, bermudahan-mudahan dengan gambar wanita yang terbuka auratnya. Ini semua dapat membuat kepekaan kita hilang, bahkan bisa jadi kita tidak merasa bersalah sehingga tidak memohon ampun kepada Allah ﷻ  karena merasa hal tersebut adalah suatu hal yang biasa. Allah ﷻ  berfirman,

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS Ghafir: 19)

  1. Bersikap tawaduk dan tidak sombong

Sebagaimana pepatah Indonesia, padi semakin berisi semakin merunduk. Seorang penuntut ilmu semakin bertambah ilmunya maka semestinya semakin tawaduk. Semakin bertambah ilmunya maka semakin rahmat kepada yang lainnya. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

هُمْ أَعْلَمُ بِالْحَقِّ وَأَرْحَمُ بِالْخَلْقِ

“Mereka (Ahlussunnah waljamaah) adalah manusia yang paling mengetahui kebenaran dan paling mengasihi sesama manusia.”([6])

Tidak justru sebaliknya, semakin dia lama belajar semakin dia sombong di hadapan orang lain. Semakin merendahkan dan memandang orang lain dengan pandangan ejekan. Maka hendaknya penuntut ilmu berhati-hati, karena sebagaimana harta bisa mengantarkan kepada kesombongan, begitu juga dengan jabatan dan kedudukan bisa mengantarkan kepada kesombongan, maka ilmu juga bisa mengantarkan seseorang ke dalam kesombongan.

Kenyataannya, seseorang yang asalnya tawaduk, tetapi setelah memiliki barang mewah maka dia menjadi sombong. Hal ini karena kemewahan yang mempengaruhi hatinya sehingga menjadikan dirinya sombong. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

وَالْفَخْرُ وَالْخُيَلَاءُ فِي أَصْحَابِ الْإِبِلِ وَالسَّكِينَةُ وَالْوَقَارُ فِي أَهْلِ الْغَنَمِ

“Angkuh dan sombong ada pada para penggembala unta, sedangkan ketenangan dan kewibawaan ada pada para penggembala kambing.”([7])

Seseorang hendaknya berhati-hati terhadap kemewahan, sebab kemewahan bisa mempengaruhi seseorang menjadi sombong. Jangankan suatu hal yang mewah, bahkan pada perkara yang tadinya seseorang tidak sombong dengannya, lama-lama bisa menjadi suatu perkara yang disombongkan dengan sendirinya. Karenanya, seseorang yang merasa dirinya kaya hendaknya dia tidak selalu tampil dengan kemewahannya. Hendaknya di saat-saat tertentu dia meninggalkan kemewahannya tersebut. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْإِيمَانِ

“Sesungguhnya bersahajanya penampilan itu termasuk keimanan.”([8])

Jika dengan harta bisa mengantarkan seseorang kepada kesombongan maka demikian pula dengan ilmu, bahkan bisa jadi ilmu lebih cepat mengantarkannya kepada kesombongan. Memiliki hafalan Al-Qur’an, matan-matan ilmiah, itu bisa mengantarkan kepada kesombongan. Umumnya juga kesombongan itu datang karena merasa diri paling hebat, padahal di luar sana masih banyak orang yang lebih hebat darinya. Maka hendaknya nikmat berupa ilmu itu untuk disyukuri bukan untuk disombongkan.

  1. Bersemangat

Setiap orang yang belajar mesti bersemangat dan berusaha konsisten terus menerus belajar. Ketika menghadiri kajian maka dia berusaha menetapi kajian tersebut. Dia juga bersemangat untuk mendengarkan, memperhatikan, mencatat, dan memurajaahnya. Karena menuntut ilmu adalah ibadah, maka setiap aktivitas-aktivitas yang dilakukan di dalam menuntut ilmu adalah ibadah pula.

Bukan berarti setiap hari seseorang harus menghabiskan untuk menghadiri pengajian, terutama yang profesinya adalah pedagang, karyawan, dan sejenisnya, karena mereka tentu punya kewajiban lain yaitu bekerja untuk menafkahi keluarganya. Tetapi paling tidak dia memiliki jadwal pengajian yang tetap dalam sepekannya, kemudian berusaha istikamah terus menerus menghadirinya, bersemangat dan terus mengulangi pelajaran yang dia dapatkan.

  1. Waspada dari sikap sok tahu

Penyakit ini banyak menimpa para penuntut ilmu di zaman sekarang. Hobinya komentar dan berdebat di media sosial dan grup-grup WhatsApp. Imam Nawawi rahimahullah dalam mukadimah kitab Al-Majmu’ menuturkan beberapa riwayat tentang sikap ulama salaf, di antaranya perkataan Abdurrahman bin Abi Laila rahimahullah,

أَدْرَكْتُ عِشْرِينَ وَمِائَةً مِنْ الْأَنْصَارِ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم يسئل أَحَدُهُمْ عَنْ الْمَسْأَلَةِ فَيَرُدُّهَا هَذَا إلَى هَذَا وَهَذَا إلَى هَذَا حَتَّى تَرْجِعَ إلَى الْأَوَّلِ

“Aku mendapati seratus dua puluh sahabat Anshar, ketika salah satu dari mereka ditanya tentang suatu masalah maka ia akan mengirimkan kepada sahabat lain dan sahabat yang lain melakukan hal serupa hingga kembali lagi pada sahabat pertama tadi.”

‘Abdurrahman bin Abi Laila juga rahimahullah berkata,

لَقَدْ أَدْرَكْتُ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ عِشْرِينَ وَمِائَةً مِنْ الْأَنْصَارِ , وَمَا مِنْهُمْ مِنْ أَحَدٍ يُحَدِّثُ بِحَدِيثٍ , إِلَّا وَدَّ أَنَّ أَخَاهُ كَفَاهُ الْحَدِيثَ , وَلَا يُسْأَلُ عَنْ فُتْيَا , إِلَّا وَدَّ أَنَّ أَخَاهُ كَفَاهُ الْفُتْيَا

“Sungguh aku telah menemukan di masjid ini sekitar seratus dua puluh sahabat dari kalangan Anshar, dan tak seorang pun di antara mereka menyampaikan sebuah hadis kecuali ia berharap saudaranya lah yang menyampaikan hadis tersebut, dan tidaklah ditanya tentang suatu fatwa kecuali ia berharap saudaranya yang cukup memberikan fatwa tersebut.” ([9])

Jika sudah berkaitan dengan masalah agama maka hendaknya seseorang tidak mudah berbicara tanpa memastikan kebenaran ucapannya. Jika telah ada yang menjawab atau berbicara dalam suatu masalah maka tidak perlu juga bagi dirinya ikut campur untuk ikut menjawabnya dan ikut tampil, sebab perkara ini berkaitan dengan berbicara atas nama Allah ﷻ , dan di antara dosa besar adalah berbicara atas nama Allah ﷻ  tanpa ilmu. Allah ﷻ  berfirman,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah, “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al-A’raf : 33)

Sebuah kisah yang disebutkan oleh Ibnu Abdil Bar rahimahullah dalam kitabnya Jami’ Bayan Al-‘illmi Wa Fadlihi. Suatu ketika, Imam Malik rahimahullah datang menemui Rabi’ah bin Abdurrahman rahimahullah. Beliau melihatnya sedang menangis tersedu-sedu, maka Imam Malik rahimahullah berkata, “apakah ada musibah yang menimpamu?” Rabi’ah bin Abdurrahman rahimahullah berkata,

لَا، وَلَكِنِ اسْتُفْتِيَ مَنْ لَا عِلْمَ لَهُ وَظَهَرَ فِي الْإِسْلَامِ أَمْرٌ عَظِيمٌ، قَالَ رَبِيعَةُ: وَلَبَعْضُ مَنْ يُفْتِي هَا هُنَا أَحَقُّ بِالسَّجْنِ مِنَ السُّرَّاقِ

“Tidak sama sekali. Aku menangis karena orang-orang yang tidak berilmu telah dimintai fatwa, sehingga muncullah kerusakan besar di tengah agama Islam ini. Sebenarnya, sebagian orang yang lancang berfatwa lebih pantas untuk dipenjara dibanding para pencuri.”([10])

  1. Menjaga amanah ilmiah

Jika seorang penuntut ilmu menulis sesuatu yang merupakan karya orang lain maka dia harus nukilkan. Jangan tampakkan seakan-akan itu adalah karya dia.

Kedua, adab penuntut ilmu terhadap dirinya

Seorang penuntut ilmu yang ingin belajar hendaknya ia duduk di hadapan guru, karena belajar sendiri dan berusaha memahami permasalahan secara otodidak sangat memungkinkan untuk terjatuh dalam kesalahpahaman. Berbeda halnya jika dia duduk di hadapan guru yang membimbingnya untuk membahas sebuah kitab atau permasalahan ia akan memahaminya secara jelas dan benar.

Ada saatnya seseorang diperbolehkan belajar secara otodidak yaitu ketika telah memiliki bekal terhadap dasar-dasar ilmu. Tetapi di awal-awal masa belajar hal tersebut tidak boleh dilakukan, pembelajaran harus di bawah bimbingan guru. Abu Hayyan Al-Andalusi bersyair tentang Tuma Al-Hakim,

يَظُنُّ الْغُمْرَ أَنَّ الْكُتْبَ تَهْدِي  ** أَخَا فَهْمٍ لإدراكِ الْعُلُومِ

وَمَا يَدْرِي الْجَهُولُ بأنَّ فِيْها  ** غَوَامِضَ حَيَّرَتْ عَقْل الْفَهِيْمِ

إذَا رُمْتَ الْعُلْومَ بِغَيْرِ شَيْخٍ  ** ضَلَلْتَ عَنِ الْصِّراطِ الْمُسْتَقِيْمِ

وَتَلْتَبِسُ الأمورُ عَلَيْكَ حَتَّ  ** تَكونَ أَضَّلَ مِنْ تُوْمَا الْحَكِيْمِ

“Orang yang tak memiliki pengalaman menyangka bahwa buku-buku itu bisa memberi petunjuk, membersamai kepahaman untuk menyampaikan kepada ilmu. Orang bodoh tak tahu bahwa di dalam buku-buku itu ada kesamaran yang sulit dipahami oleh akal orang pandai. Jika kau menginginkan ilmu tanpa guru, kau pun tersesat dari jalan yang lurus karena perkara-perkara bercampur-aduk atasmu hingga kau pun jadi lebih tersesat dari si Tuma al-Hakim.”([11])

Penyair lain berkata,

قَالَ حِمَارُ الْحَكِيمِ تُوِّمَا ** لَوْ أَنْصَفُونِي لَكُنْت أَرْكَبُ

لِأَنَّنِي جَاهِلٌ بَسِيطٌ ** وَصَاحِبِي جَاهِلٌ مُرَكَّبُ

Suatu hari, keledai Tuma al-Hakim berkata, “Seandainya mereka mau jujur kepadaku, tentulah aku yang semestinya menunggangi si Tuma. Sebab kebodohanku sebatas jahil basith, sedangkan tuanku jahil murakkab.”([12])

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa,

أَنَّ توْما الحَكيمُ حَثَّ النّاسَ عَلَى التَّصَدُّقِ بِبَنَاتِهِمْ لِغَيْرِ المُتَزَوِّجِينَ صَدَقَةً لِلهِ ، مِثْل اَلَّذِي يَتَصَدَّقُ بِالطَّعَامِ لِلْجَائِعِ فَقِيلَ : تَصَدَّق بِالْبَنَاتِ عَلَى البَنِينِ يُرِيدُ بِذَاكَ جَنّاِتْ النَّعيمِ

Tuma al-Hakim itu menyemangati orang-orang untuk menyedekahkan anak-anak perempuan mereka kepada orang-orang yang belum menikah sebagai sedekah karena Allah , yaitu sama halnya seperti bersedekah makanan kepada orang yang lapar, lalu dikatakan, “Menyedekahkan anak-anak perempuan kepada lelaki yang belum menikah dengan tujuan mendapatkan surga.”

Maka cara yang terbaik untuk belajar adalah talaki (bertemu) langsung di hadapan guru. Namun harus diperhatikan kepada siapa kita menuntut ilmu, karena tidak boleh menuntut ilmu kepada ahli bidah dan ahli syubhat yang hanya menyebarkan kebid’ahannya dan syubhat.

Jika ilmu dunia saja harus memilah dan memilih kepada siapa harus belajar, maka apalagi ilmu agama berkaitan dengan akhirat kita. Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata,

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

“Sesungguhnya Ilmu ini adalah agama. Maka lihatlah kalian dari siapa kalian mengambil agama kalian.”([13])

Memang benar perkataan yang baik kita ambil yang buruk tidak diambil, tapi perkataan ini hanya berkaitan dengan orang yang bisa memilah mana yang benar dan mana yang salah. Alhamdulillah para Ulama dan Ustaz Ahlusunah telah banyak, hendaknya para penuntut ilmu mencukupkan diri dengan mereka. Jangan sampai dia menjerumuskan dirinya ke dalam bidah dan syubhat karena belajar kepada Ustaz yang berpemahaman menyimpang. Demikian pula kekeliruan sebagian orang yang ketika mencari guru dia mencari ustaz yang lucu, kalau tidak dia tidak mau belajar. Imam Malik rahimahullah berkata,

لَا يُؤْخَذُ الْعِلْمُ عَنْ أَرْبَعَةٍ، وَيُؤْخَذُ مِمَّنْ سِوَى ذَلِكَ: لَا يُؤْخَذُ مِنْ صَاحِبِ هَوًى يَدْعُو النَّاسَ إِلَى هَوَاهُ وَلَا مِنْ سَفِيهٍ مُعْلِنٌ بِالسَّفَهِ، وَإِنْ كَانَ مِنْ أَرْوَى النَّاسِ وَلَا مِنْ رَجُلٍ يَكْذِبُ فِي أَحَادِيثِ النَّاسِ، وَإِنْ كُنْتَ لَا تَتَّهِمُهُ أَنْ يَكْذِبَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا مِنْ رَجُلٍ لَهُ فَضْلٌ وَصَلَاحٌ وَعِبَادَةٌ إِذَا كَانَ لَا يَعْرِفُ مَا يُحَدِّثُ

“Tidak diambil ilmu dari empat orang, dan diambil (ilmu tersebut) dari selain mereka, (1) Tidak diambil (ilmu) dari pengikut hawa nafsu, yang mengajak manusia untuk mengikuti hawa nafsunya, (2) Dari orang bodoh, yang menampakkan kebodohannya, walaupun dia termasuk orang yang paling banyak riwayatnya, (3) Dari seseorang yang terbiasa berdusta dalam pembicaraan dengan orang lain, meskipun ia tidak tertuduh berdusta atas Rasulullah , (4) Dari seseorang yang tidak mengerti apa yang dia bicarakan, meskipun ia memiliki keutamaan dan kesalehan, serta ahli ibadah.”([14])

Oleh karena itu, terkadang kita harus menjelaskan kepada umat terkait keadaan orang yang sok jadi Ustaz padahal bukan ustaz. Ibnu Rajab rahimahullah berkata,

فَأَمَّا أَهْلُ البِدَعِ وَاَلْضَلالَةِ وَمَن تَشَبَّهَ بِالْعُلَمَاءِ وَلَيْسَ مِنْهُمْ فَيَجُوزُ بَيانُ جَهْلِهِمْ وَإِظْهارُ عُيوبِهِمْ تَحْذِيرًا مِنْ الِاقْتِداءِ بِهِمْ

“Adapun ahli bid’ah dan kesesatan, serta orang-orang berkedok ulama padahal bukan, maka boleh menjelaskan kejahilan mereka dan menampakkan jati diri mereka sebagai peringatan agar (umat tidak) mengikuti mereka.”([15])

Di antara adab terhadap guru adalah sabar dengannya ketika menuntut ilmu darinya. Diriwayatkan mengenai Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu,

ابْنُ عَبَّاسٍ كَانَ يَجْلِسُ فِي طَلَبِ العِلْمِ عَلَى بَابِ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ “حَتَّى يَسْتَيْقِظَ فَيُقَالُ لَهُ : أَلا نوْقَظَهُ لَكَ ” ؟ فَيَقُولُ : لَا ، وَرُبَّمَا طَالَ مَقامُهُ وَقرعَتْهُ الشَّمْسُ

Ibnu Abbas duduk di depan pintu rumah Zaid bin Tsabit menunggunya bangun. Dikatakan kepada Ibnu Abbas, “Maukah kami bangunkan Zaid bin Tsabit untuk engkau?” Ibnu Abbas berkata, “Jangan.” Terkadang Ibnu Abbas menunggu lama sampai terkena terik matahari.([16])

Inilah salah satu bentuk contoh menghargai ilmu dan menghargai guru yang telah menyampaikan ilmu kepadanya. Oleh karena itu, hendaknya bagi kita untuk memperhatikan kondisi guru kita.

Ketiga, adab penuntut ilmu bersama kawannya

  1. Berusaha mencari teman terbaik

Boleh saja memiliki kawan, tetapi tidak semuanya dijadikan sebagai kawan spesial. Nabi Muhammad ﷺ telah mengingatkan dalam banyak haditsnya, Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا وَلاَ يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِىٌّ

Janganlah engkau bergaul kecuali dengan seorang mukmin. Janganlah memakan makananmu melainkan orang bertakwa.”([17])

Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang saleh  dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.”([18])

Nabi Muhammad ﷺ telah menegaskan agar memperhatikan masalah pertemanan dengan baik, seorang penuntut ilmu mesti selektif dalam mencari teman. Jika temannya sering bermasalah maka tidak perlu berteman lagi dengannya. Baik atau tidaknya kawan dilihat dari dampak menjalin pertemanan dengannya, jika berteman dengannya membawa kebaikan akhirat sehingga iman bertambah, kita lebih rajin beribadah, lebih giat menuntut ilmu, maka itu adalah teman yang baik. Sedangkan jika berteman dengannya justru semakin menjerumuskan ke dalam kesibukan duniawi dan kemewahan, menjadi sombong, suka ghibah sana sini maka itu adalah teman yang buruk, tidak perlu dijadikan kawan walaupun tidak juga memusuhinya.

  1. Berusaha memberi manfaat untuk teman

Contohnya jika kita mendapatkan faedah atau pelajaran dari pengajian maka kita bagikan, sebab di antara konsekuensi pertemanan adalah saling bantu dan bahu-membahu. Jangan menyembunyikan ilmu yang didapat.

Dari sini seorang penuntut ilmu wajib waspada terhadap sifat hasad. Karena hasad bisa mengantarkan kepada saling bersaing dengan tidak sehat, tidak ingin memberi manfaat kepada temannya karena khawatir disaingi. Demikian pula di tengah aktivitas dakwah antara pegiat dakwah satu dengan yang lainnya, tidak boleh ada saling hasad, keinginan menjadi paling unggul, merasa paling berjasa dalam dakwah, dan seterusnya.

Cukuplah kisah Imam Bukhari rahimahullah menjadi pelajaran buruknya hasad antara para ulama atau penuntut ilmu. Ketika beliau dimusuhi dan di-tahdzir oleh gurunya, maka majelis Imam Bukhari rahimahullah dijauhi. Yang tadinya majelis Imam Bukhari rahimahullah dipenuhi banyak manusia, namun setelah di-tahdzir para muridnya kemudian menjauhinya. Inilah akibat dari sifat hasad, yang bahkan bisa terjadi antara dua orang teman dekat.

Oleh karena itu, hendaknya setiap penuntut ilmu menghindari hal-hal yang bisa menimbulkan permasalahan di antara mereka. Selanjutnya juga agar senantiasa memeriksa niat jangan sampai kita hasad dengan kawan yang lain. Di antara hal yang dapat menghilangkan hasad adalah mendatanginya, dengan mengenalnya dan berbincang-bincang dengannya. Karena sering kali hasad itu muncul karena tidak mengenalnya dengan baik.

Footnote

_________

([1]) HR. Tirmidzi No. 2654, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani.

([2]) HR. Abu Daud No. 3664 dan Ibnu Majah No. 252, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani.

([3]) Tafsir At-Thabari (7/295).

([4]) HR. Muslim No. 1905.

([5]) HR. Tirmidzi No. 1987, dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani.

([6]) Minhajus Sunnah Nabawiyah (5/158).

([7]) HR. Bukhari No. 4037.

([8]) HR. Abu Dawud No. 4161, dan dinyatakan sahih  oleh Al-Albani.

([9]) Al-Majmu’ (1/40).

([10]) Jami’ Bayan Al-‘illmi Wa Fadlihi (2/225).

([11]) Thabaqat Asy-Syafi’iyyah (9/286).

([12]) Al-Aadab Asy-Syar’iyyah Libni Muflih (2/126).

([13]) Shahih Muslim (1/14).

([14]) Al-Muhaddits Al-Fashil Bayna Ar-Rawi Wa Al-Wa’i (403).

([15]) Al-Farqu Bainan-Nashiihah wat-Ta’yir oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali (4).

([16]) Al-Aqdu At-Talid Fi Ikhtishor An-Nadhid (147).

([17]) HR. Abu Daud No. 4832 dan Tirmidzi No. 2395, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani.

([18]) HR. Bukhari No. 2101.