Agar Selamat di Zaman Fitnah

Selamat di Zaman Fitnah

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc.MA.

Zaman yang kita hadapi sekarang ini dipenuhi dengan fitnah dengan berbagai macam modelnya, baik itu fitnah wanita, jabatan, harta, syahwat, syubhat, ateis, kesyirikan, bid’ah, dan berbagai macam fitnah lainnya. Parahnya, seiring berjalannya waktu, secara terus-menerus bermunculan fitnah-fitnah baru yang tiada henti-hentinya. Oleh karena itu, setiap kita harus senantiasa waspada dan membekali diri agar bisa selamat dari fitnah-fitnah tersebut.

Meskipun fitnah-fitnah itu terus bermunculan, tentunya sebagai seorang muslim kita tidak boleh mencela zaman, karena Rasulullah ﷺ telah melarang hal tersebut, sebagaimana dalam sabdanya,

لَا تَسُبُّوا الدَّهْرَ، فَإِنَّ اللهَ هُوَ الدَّهْر

“Janganlah kalian mencela zaman, karena Allah adalah Pencipta zaman.”([1])

Oleh karenanya, yang tercela adalah manusia itu sendiri. Imam asy-Syafi’i ﷺ berkata,

نَعِيبُ زَمَانَنَا وَالْعَيْبُ فِيْنَا … وَمَا لِزَمَانِنا عَيْبٌ سِوَانَا

“Kita mencela zaman, sedangkan aib itu ada pada diri kita. Tidak ada aib pada zaman kecuali kita.”([2])

Maka dari itu, pada kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang apa itu fitnah, macam-macamnya, dan bagaimana cara kita menyelamatkan diri dari fitnah-fitnah yang ada.

Fitnah

Fitnah atau yang dalam bahasa Arab lafalnya adalah الْفِتْنَةُ secara bahasa maknanya kembali kepada الْإِخْتِبَارُ dan الْإِمْتَحَان, yaitu maknanya kembali kepada cobaan dan ujian. Asal kata الْفِتْنَةُ diambil dari ungkapan seseorang,

فَتَنْتُ الذّهَبُ وَالْفِضَّةُ بِالنَّارِ

Aku menguji emas dan perak dengan api.”([3])

Artinya, emas dan perak diuji untuk membedakan antara emas atau perak yang baik dengan yang buruk. Oleh karena itu, fitnah adalah ujian, di mana ujian tersebut untuk membedakan mana yang benar dan salah, seperti firman Allah ﷻ,

﴿الم، أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ، وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ﴾

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut: 1-3)

Adapun secara istilah, fitnah (الْفِتْنَةُ) memiliki banyak makna yang digunakan oleh syariat. Di antara maknanya antara lain:

  1. Ujian

Sebagaimana yang Allah ﷻ firmankan dalam surah Al-‘Ankabut 1-3 yang telah kita sebutkan

  1. Membakar

Selain itu, makna fitnah yang lain adalah membakar, sebagaimana dalam firman Allah ﷻ,

﴿يَوْمَ هُمْ عَلَى النَّارِ يُفْتَنُونَ﴾

“(Hari pembalasan itu) ialah pada hari ketika mereka dibakar di atas api neraka.” (QS. Adz-Dzariyat: 13)

Demikian juga firman Allah ﷻ dalam ayat yang lain,

﴿إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ﴾

Sesungguhnya orang-orang yang membakar kaum mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” (QS. Al-Buruj: 10)([4])

  1. Syirik

Selain itu, fitnah juga bisa bermakna syirik sebagaimana firman Allah ﷻ,

﴿وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ﴾

“Dan fitnah (kekufuran)([5]) itu lebih berat dari pembunuhan.” (QS. Al-Baqarah: 191)

Demikian pula firman Allah ﷻ dalam ayat yang lain,

﴿فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah (syirik)([6]) atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nur: 63)

  1. Kondisi yang tidak stabil

Di antara makna fitnah yang lain adalah kondisi yang menunjukkan ketidakstabilan. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits,

وَتَجِيءُ فِتْنَةٌ فَيُرَقِّقُ بَعْضُهَا بَعْضًا، وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ: هَذِهِ مُهْلِكَتِي، ثُمَّ تَنْكَشِفُ وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ، فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ: هَذِهِ هَذِهِ

Dan datanglah fitnah yang menjadikan fitnah sebelumnya terasa ringan dibandingkan fitnah setelahnya. Ketika datang fitnah, orang-orang mukmin berkata, ‘Inilah yang membinasakanku’. Setelah hilang bencana tersebut, timbul pula fitnah yang lain. Dan orang mukmin berkata, ‘Ini… ini..!’.”([7])

Jadi, kondisi yang tidak stabil seperti kebingungan yang dialami oleh seseorang juga disebut dengan fitnah.

Inilah pembahasan tentang fitnah secara bahasa dan istilah. Namun, makna inti fitnah ini kembali kepada ujian.

Macam-macam Fitnah

Imam Ibnul Qayyim ﷺ menyebutkan bahwa fitnah bisa kita bagi menjadi dua kelompok besar, yaitu fitnah syubhat dan fitnah syahwat.([8])

  1. Fitnah Syubhat

Fitnah syubhat adalah semua perkara, pemikiran yang menjadikan seseorang bisa ragu dalam akidahnya. Ada banyak contoh yang termasuk dalam fitnah syubhat, di antaranya seperti:

  • Kesyirikan
  • Syubhat Ateis
  • Syubhat bid’ah, di mana seseorang melakukan kreasi dalam ibadah-ibadah yang tidak pernah dicontohkan di zaman dahulu.
  • Fitah Dajal

Di zaman dahulu, seseorang muslim akan tenang dengan agamanya, bisa istiqamah dengan agamnya, tidak mendengar syubhat-syubhat yang mengajak kepada kekufuran. Namun, di zaman sekarang ini jauh berbeda, ledakan informasi yang tiada henti-hentinya melalui media sosial sangat bisa menjadikan seseorang ragu dengan agamanya, menjadikan pikirannya teracuni dengan pemikiran liberal, menjadikan pikirannya menyamakan antara tauhid dan kesyirikan, dan lain-lainnya.

Intinya, fitnah syubhat di zaman sekarang sangat luar biasa berbahaya, karena di zaman ini pola syubhatnya tertata dengan rapi sehingga bisa menimbulkan syubhat yang sangat kuat, baik itu kesyirikan, syubhat ateis, dan syubhat bid’ah. Maka, orang yang tidak memiliki landasan agama yang kuat, maka tentu ia akan sangat mudah terjatuh dalam syubhat tersebut.

  1. Fitnah Syahwat

Fitnah syahwat adalah semua fitnah yang kembali kepada kesenangan duniawi atau kesenangan jiwa. Contoh fitnah syahwat sendiri juga ada banyak, di antaranya:

  • Fitnah wanita, sebagaimana yang Nabi Muhammad ﷺ telah sabdakan,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Aku tidak meninggalkan suatu fitnah yang paling berbahaya bagi laki-laki sepeninggalku melebihi fitnah wanita.”([9])

Kita hidup di zaman di mana para wanita dijadikan bahan iklan, yang di mana iklan itu hampir-hampir tidak pernah lepas dari kehidupan kita sehari-hari. Sangat sulit bagi kita di zaman sekarang untuk bisa menundukkan pandangan, karena hampir semua lini kehidupan kita dihiasi dengan wanita yang aurat mereka terbuka. Oleh karenanya, jika ada seseorang yang bisa menundukkan pandangan di zaman sekarang ini, maka kita bisa katakan bahwa ia adalah wali di antara wali-wali Allah ﷻ.

  • Fitnah harta, sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ,

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي المَالُ

Sesungguhnya setiap umat itu memiliki fitnah dan fitnah umatku adalah harta.”([10])

  • Fitnah anak-anak (keturunan). Anak-anak bisa menjadi fitnah bagi orang tuanya, di mana orang tua bisa terjerumus dalam berbagai macam kesalahan karena anak-anaknya. Oleh karenanya, Allah ﷻ juga berfirman,

﴿وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ﴾

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 28)

Nabi Muhammad ﷺ juga telah bersabda,

إِنَّ الْوَلَدَ مَبْخَلَةٌ مَجْبَنَةٌ

Sesungguhnya anak adalah bisa menjadikan seseorang bakhil dan khawatir.”([11])

Bisa jadi, seseorang diperintahkan untuk berjihad, namun karena melihat anak-anaknya maka dia pun enggan untuk berjihad. Bisa jadi, seseorang hendak bersedekah, namun karena melihat anak-anaknya, maka ia pun mengurungkan niatnya untuk bersedekah. Intinya, betapa banyak orang tua yang terjerumus dalam perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah ﷻ karena mengikuti permintaan anak-anaknya.

  • Fitnah kezaliman ada banyak contohnya, di antaranya seperti pembunuhan yang banyak terjadi di zaman sekarang. Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ، وَيَنْقُصُ العَمَلُ، وَيُلْقَى الشُّحُّ، وَتَظْهَرُ الفِتَنُ، وَيَكْثُرُ الهَرْجُ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّمَ هُوَ؟ قَالَ: القَتْلُ القَتْلُ

Zaman akan menjadi semakin dekat([12]), amal saleh semakin berkurang, kebakhilan merajalela, fitnah (maksiat) dinyatakan secara terang-terangan, dan banyak al-harj.” Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah, apa itu al-harj?’ Nabi menjawab ‘Pembunuhan-pembunuhan’.”([13])

Pembunuhan ini adalah fitnah yang sangat dahsyat, sampai-sampai dalam riwayat yang lain Nabi Muhammad ﷺ menyebutkan bahwa akan datang suatu fitnah di mana di zaman tersebut akan terjadi banyak pembunuhan, sampai-sampai seseorang tidak tahu mengapa ia membunuh dan kenapa ia dibunuh.([14])

  • Fitnah Jabatan, Nabi Muhammad ﷺ pernah mengingatkan dalam sabdanya,

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإِمَارَةِ، وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ القِيَامَةِ

Nanti kalian akan begitu tamak pada kekuasaan. Namun kelak di hari kiamat, engkau akan benar-benar menyesal.”([15])

Di antara fitnah yang tersebar di zaman sekarang yang merupakan dampak dari adanya internet dan media sosial adalah setiap orang bisa dengan bebasnya berbicara meskipun bukan di bidangnya. Padahal, dahulu Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ

Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka akan tunggulah tiba hari kiamat.”([16])

Oleh karenanya, di antara sebab timbulnya fitnah adalah karena kurangnya ilmu dan tersebarnya kejahilan. Di zaman ini, sekarang muncul orang-orang yang pandai berbicara, namun ia bukanlah orang yang ahli dalam bidang agama, namun malah berbicara masalah agama.  Kita tentu merasa sedih dengan keadaan tersebut, karena melihat betapa beraninya seseorang berbicara masalah agama, yang para ulama sendiri berpikir panjang lebar terlebih dahulu untuk menjawab, namun sebagian orang dengan mudahnya menjawab permasalahan dalam perkara agama, sampai seakan-akan tidak ada malaikat yang mencatat apa yang ia ucapkan dan apa yang ia tulis.

Ketahuilah, berbicara tentang agama artinya berbicara atas nama Allah ﷻ. Bukankah para dokter akan menepis perintah arsitektur yang ikut memerintah dalam hal operasi tubuh seseorang? Hal itu karena operasi tubuh manusia bukanlah bidang si arsitektur. Maka demikian pula dalam bidang agama, seharusnya semua orang yang tidak ahli dalam bidang agama tersebut tidak bermudah-mudahan dalam menulis atas berbicara tentang agama. Namun, kenyataan yang kita lihat saat ini banyak orang hobi berbicara tentang segala hal yang dia inginkan.

Jalan selamat dari fitnah

Setelah membahas tentang fitnah, jenis-jenisnya dan macam-macamnya, serta fenomena fitnah di zaman sekarang, maka kita perlu untuk menyebutkan langkah-langkah yang bisa kita tempuh agar kita bisa selamat dari jalan fitnah. Di antara jalan atau langkah-langkah tersebut antara lain:

  1. Berlindung kepada Allah

Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنَ الْفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

Berlindunglah kalian kepada Allah dari fitnah-fitnah yang tampak dan yang tersembunyi.”([17])

Oleh karenanya, hendaknya kita berdoa kepada Allah ﷻ,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

Ya Allah aku berlindung kepada Engkau dari fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi.”

Fitnah bisa muncul di mana pun kita berada, di tempat kerja, di tempat hiburan, di jalan, bahkan di rumah sendiri pun kita bisa terkena fitnah. Oleh karenanya, kita harus berdoa kepada Allah ﷻ agar Dia melindungi kita dari fitnah tersebut. Di antara doa yang lain yang bisa kita panjatkan adalah sebagaimana yang Nabi Muhammad ﷺ ajarkan doa yang bisa kita panjatkan dalam tasyahud akhir,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ المَسِيحِ الدَّجَّالِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا، وَفِتْنَةِ المَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ المَأْثَمِ وَالمَغْرَمِ

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah al-Masih ad-Dajjal, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan hutang.”([18])

Atau doa,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ، وَمِنْ فِتْنَةِ المَسِيحِ الدَّجَّالِ

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah al-Masih ad-Dajjal.”([19])

Dalam doa yang kita bawakan di atas, disebutkan agar kita berlindung pula dari fitnah kematian. Di antara fitnah kematian tersebut adalah fitnah tatkala menjelang sakratulmaut. Ketika seseorang hendak meninggal dunia, maka Iblis akan datang kepadanya dan mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk menjadikan ia meninggal dalam keadaan su’ul khatimah. Maka, di antara doa yang bisa menyelamatkan kita dari fitnah Iblis adalah doa tersebut.

Selain itu, Nabi Muhammad ﷺ juga berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْغِنَى وَالْفَقْرِ

Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari azab neraka, dan dari fitnah kekayaan dan kemiskinan.”([20])

Harta itu adalah fitnah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah ﷻ. Maka, seseorang juga harus meminta perlindungan kepada Allah ﷻ dari fitnah harta ini. Betapa banyak harta menjadikan seseorang angkuh dan sombong, menjadikan ia lalai dari beribadah kepada Allah ﷻ, menjadikan ia membelanjakan hartanya di jalan yang dimurkai oleh Allah ﷻ, dan yang lainnya. Demikian pula kemiskinan juga fitnah, seseorang bisa saja tidak bersabar dengan kesempitan hartanya, sehingga ia menjadi orang yang kufur terhadap nikmat-nikmat Allah ﷻ yang lain.

  1. Menuntut ilmu syar’i

Di antara jalan agar seseorang bisa selamat dari jalan fitnah adalah dengan menuntut ilmu agama. Dengan belajar, seseorang akan bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, bisa membedakan mana yang haq dan mana yang batil.

Tentunya, menuntut ilmu tersebut harus dilakukan dengan bersungguh-sungguh dan diniatkan karena Allah ﷻ. Setelah itu, ia kemudian harus berusaha mengulang-ulang pelajaran yang pernah ia pelajari. Untuk yang saat ini harinya dipenuhi dengan kerja mencari nafkah, hendaknya menyisihkan waktu kita untuk belajar, sehingga kita tetap disibukkan dengan perkara-perkara yang bermanfaat.

Ketika seseorang tidak mau belajar, dan ia pun tidak bisa membedakan mana yang hak dan yang batil, maka ia bisa saja terjebak dalam pemikiran yang menyimpang. Namun, bagi orang yang memiliki ilmu, maka tentu Allah ﷻ akan menjaganya dengan ilmu tersebut.

  1. Banyak beramal saleh

Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

Bersegeralah beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah seperti malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di sore harinya. Di sore hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan kenikmatan dunia.”([21])

Di zaman sekarang ini, hadits ini sangat mungkin saja terealisasi. Seseorang di pagi hari mungkin saja masih beriman, masih shalat, masih beribadah, namun di siang hari ia membaca pemikiran menyimpang di internet, akhirnya ia pun terjebak dengan pemikiran tersebut, dan ia pun kafir di waktu sore.

Maka dari itu, di antara solusinya adalah banyak beramal saleh. Ketika seseorang menyibukkan diri untuk beramal saleh, seperti zikir pagi dan petang, membaca Al-Qur’an, menghafal Al-Qur’an dan muraja’ah, membaca buku-buku agama, dan amal saleh lainnya, maka ia akan terhindar dari fitnah-fitnah yang terus berkembang. Hal ini disebabkan karena fitnah itu kebanyakan menimpa seseorang yang tidak memanfaatkan waktunya dengan baik, banyak dari waktu luangnya digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Maka, ketika seseorang disibukkan dengan ibadah, maka ia akan susah untuk terjerat fitnah.

Di antaranya juga sabda Nabi Muhammad ﷺ,

الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ

Ibadah saat terjadi di zaman fitnah seperti berhijrah kepadaku.”([22])

Ketika di zaman fitnah, banyak orang yang ingin nimbrung dalam fitnah tersebut, ingin tahu, ingin berkomentar, dan yang lainnya. Namun, ketika ada seseorang yang dia hanya beribadah di zaman tersebut, tidak ikut-ikutan dengan fitnah yang merajalela, maka dia bisa mendapat pahala seperti berhijrah kepada Nabi Muhammad ﷺ.

  1. Berakhlak mulia

Berakhlak mulia merupakan di antara hal yang sangat penting untuk selamat dari jalan fitnah. Dalam Shahih Muslim, disebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

وَتَجِيءُ فِتْنَةٌ فَيُرَقِّقُ بَعْضُهَا بَعْضًا، وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ: هَذِهِ مُهْلِكَتِي، ثُمَّ تَنْكَشِفُ وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ، فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ: هَذِهِ هَذِهِ

Dan datanglah fitnah yang menjadikan fitnah sebelumnya terasa ringan dibandingkan fitnah setelahnya. Ketika datang fitnah, orang-orang mukmin berkata, ‘Inilah yang membinasakanku’. Setelah hilang bencana tersebut, timbul pula fitnah yang lain. Dan orang mukmin berkata, ‘Ini… ini..(sekarang aku binasa)!”([23])

Zaman dahulu, seorang wanita yang memperlihatkan lututnya mungkin sudah akan menjadi bahan pembicaraan karena sudah termasuk perilaku buruk. Namun, seiring berlalunya waktu, orang-orang pun menjadi terbiasa, sehingga wanita telanjang pun mungkin telah dianggap biasa dan tidak peduli. Hal ini dikarenakan fitnah yang muncul sering waktu berjalan sudah semakin parah. Demikianlah, ada banyak fitnah yang asalnya sudah sangat berat, namun di zaman sekarang sudah dianggap sepele oleh banyak orang.

Oleh karenanya, Nabi Muhammad ﷺ kemudian memerintahkan kepada kita agar selamat dari fitnah. Nabi Muhammad ﷺ bersabda dalam hadits yang sama,

فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ، وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ، فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ

Barang siapa yang ingin bebas dari neraka dan ingin masuk ke surga, hendaklah dia menemui kematiannya dalam kondisi ia beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hendaklah ia bersikap kepada manusia sesuai dengan sikap yang ia suka disikapi dengan sikap hal tersebut.”([24])

Di sini, Nabi Muhammad ﷺ mengisyaratkan agar setiap orang berakhlak mulia untuk bisa terbebas dari fitnah. Di antara definisi akhlak mulia itu adalah sebagaimana yang Nabi Muhammad ﷺ sabdakan, yaitu seseorang bersikap kepada orang lain dengan sikap yang ia suka jika disikapi dengan sikap tersebut.

Jika kita hendak berbuat baik kepada orang tua kita, maka hendaknya kita memikirkan terlebih dahulu hal-hal apa saja yang diinginkan orang tua dari anaknya, di sini kita bisa memosisikan diri kita sebagai orang tua. Demikian pula, jika kita hendak berbuat baik kepada guru kita, maka kita memikirkan sikap apa yang dia harapkan dari murid-muridnya, lalu kemudian kita bersikap dengan sikap tersebut. Demikian pula, ketika kita hendak berbuat baik kepada pasangan kita, hendaknya kita terlebih dahulu memikirkan sikap apa yang pasangan kita inginkan dari kita, lalu kemudian kita bersikap dengan sikap tersebut.

Ini mungkin terlihat sepele, namun Nabi Muhammad ﷺ telah menyebutkan bahwasanya itu bisa menyelamatkan seseorang dari fitnah.

  1. Bersabar dan shalat

Hal ini sebagaimana yang telah Allah ﷻ firmankan,

﴿وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ﴾

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.” (QS. Al-Baqarah: 45)

Nabi Muhammad ﷺ juga telah bersabda,

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً شَدِيدَةً، فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوُا اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الحَوْضِ

Sungguh sepeninggalku nanti kalian akan melihat banyak perkara yang sangat berat([25]). Untuk itu bersabarlah hingga kalian berjumpa dengan Allah dan Rasul-Nya di telaga al-Haudh.”([26])

Jadi, agar kita bisa terhindar dari fitnah adalah dengan cara bersabar, dan sabar yang paling utama adalah dengan shalat.

  1. Menjauhi fitnah

Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda,

إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ، إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنِ، إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنُ

Orang yang bahagia adalah orang yang terhindar dari fitnah, orang yang bahagia adalah orang yang terhindar dari fitnah, orang yang bahagia adalah orang yang terhindar dari fitnah.”([27])

Terlalu banyak dalil-dalil yang menunjukkan bahwa menjauhi fitnah adalah perkara yang baik. Bahkan dalam suatu hadits, dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash berkata,

بَيْنَمَا نَحْنُ حَوْلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذْ ذَكَرَ الْفِتْنَةَ، فَقَالَ: إِذَا رَأَيْتُمُ النَّاسَ قَدْ مَرِجَتْ عُهُودُهُمْ، وَخَفَّتْ أَمَانَاتُهُمْ، وَكَانُوا هَكَذَا، وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ، قَالَ: فَقُمْتُ إِلَيْهِ، فَقُلْتُ: كَيْفَ أَفْعَلُ عِنْدَ ذَلِكَ، جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاكَ؟ قَالَ: الْزَمْ بَيْتَكَ، وَامْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَخُذْ بِمَا تَعْرِفُ، وَدَعْ مَا تُنْكِرُ، وَعَلَيْكَ بِأَمْرِ خَاصَّةِ نَفْسِكَ، وَدَعْ عَنْكَ أَمْرَ الْعَامَّةِ

Saat kami berada di sisi Rasulullah , beliau menyebutkan tentang fitnah. Beliau bersabda, ‘Jika kalian melihat manusia telah rusak janji-janji mereka dan telah luntur amanah mereka, sementara mereka begini -beliau menganyam antara jemarinya-’. Aku lantas bangkit ke arah beliau seraya bertanya, ‘Semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu, apa yang harus aku lakukan pada saat itu?’ beliau menjawab, ‘Tetaplah engkau berdiam di dalam rumahmu, kuasailah lisanmu, ambillah (lakukan) apa saja yang kamu ketahui dan tinggalkan apa saja yang kamu ungkiri (tidak ketahui), urusilah perkaramu sendiri dan jauhilah urusan orang banyak’.”([28])

Di sini, Nabi Muhammad ﷺ mengisyaratkan bahwa asalnya kita ini memiliki banyak urusan yang sudah sepantasnya untuk kita kerjakan. Kita memiliki anak dan istri yang harus kita pikirkan nafkahnya, kita harus beribadah dan memiliki waktu khusus untuk Allah ﷻ, dan masih banyak urusan kita harus kita selesaikan. Maka, tinggalkan untuk sibuk dengan urusan orang banyak yang bisa membuat kita lalai dengan urusan kita sendiri.

Selain itu, dalil lain pentingnya untuk menjauhi fitnah adalah sabda Nabi Muhammad ﷺ,

سَتَكُونُ فِتَنٌ القَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ القَائِمِ، وَالقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ المَاشِي، وَالمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي، وَمَنْ يُشْرِفْ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ، وَمَنْ وَجَدَ مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ

Akan terjadi fitnah yang ketika itu orang yang duduk lebih baik dari pada orang yang berdiri, dan orang yang berdiri lebih baik dari pada orang yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik dari pada orang yang berlari, dan siapa yang ingin tahu tentang fitnah itu, maka fitnah itu akan menariknya, siapa yang menemukan tempat pertahanan atau tempat perlindungan, hendaklah dia berlindung kepadanya.”([29])

Hadits ini menunjukkan bahwasanya kita meninggalkan sesuatu yang bukan menjadi urusan kita, sampai-sampai Nabi Muhammad ﷺ memberi perumpamaan bahwa yang duduk jauh lebih baik daripada yang berdiri. Ini artinya, yang paling jauh dari fitnah adalah yang terbaik.

Selain itu, Nabi Muhammad ﷺ juga telah bersabda,

يَعْمِدُ إِلَى سَيْفِهِ فَيَدُقُّ عَلَى حَدِّهِ بِحَجَرٍ، ثُمَّ لِيَنْجُ إِنِ اسْتَطَاعَ النَّجَاءَ

Ia mengambil pedangnya lalu memukulkan bagian tajamnya ke batu, kemudian hendaklah menyelamatkan diri bila mampu.”([30])

Di sini Nabi Muhammad ﷺ menjelaskan tentang bagaimana jika terjadi fitnah di antara kaum muslimin hingga terjadi saling bunuh membunuh. Maka, Nabi Muhammad ﷺ memerintahkan untuk seseorang mengambil pedangnya, lalu memukulkannya ke batu hingga pedangnya menjadi tumpul, dan menjadi hilang hasratnya untuk membunuh orang lain.

Tentunya, masih banyak lagi dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya seseorang harus menjauhi fitnah.

Kita tidak memungkiri bahwa kita berada di zaman fitnah. Oleh karena itu, yang terpenting bagi kita adalah bagaimana agar kita bisa selamat dari fitnah tersebut. Ingatlah selalu sabda Nabi Muhammad ﷺ,

مِنْ حُسْنِ إِسْلامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

Di antara keindahan Islam seseorang adalah dia meninggalkan apa yang bukan urusannya (yang tidak bermanfaat baginya).”([31])

Tidak semua urusan menjadi urusan kita. Ketika semua urusan kita campuri, maka kita akan mudah untuk terjerat dalam jeratan fitnah. Semoga Allah ﷻ menjauhkan kita semua dari berbagai macam fitnah, dan semoga Allah ﷻ tidak menjadikan kita memiliki rasa ingin nimbrung dalam perkara fitnah.

Footnote:
_______

([1]) HR. Muslim No. 2246.

([2]) Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i (1/141).

([3]) Lihat: Tahdzib al-Lughah, karya al-Azhari (14/211), dan Lisan al-‘Arab (13/317).

([4]) Ayat ini berkisah tentang raja yang zalim, di mana ia membakar kaum mukminin dan mukminat dalam sebuah parit. Lihat cerita selengkapnya dalam Shahih Muslim No. 3005 (4/2229).

([5]) Ayat ini sering disalahartikan oleh banyak kita bahwa yang dimaksud fitnah adalah tuduhan dusta. Padahal, fitnah yang dimaksud dalam ayat ini adalah kesyirikan atau kekufuran. [Lihat: Tafsir ath-Thabari (3/565-566)].

([6]) Lihat: Tafsir as-Sa’di (hlm. 576).

([7]) HR. Muslim No. 1844.

([8]) Ighatsah al-Lahfan min Mashayid asy-Syaithan, karya Ibnul Qayyim (2/165).

([9]) HR. Bukhari No. 5096.

([10]) HR. At-Tirmidzi No. 2336

([11]) HR. Ibnu Majah No. 3666, dinyatakan shahih oleh Syekh al-Albani dalam ta’liqnya.

([12]) Maksudnya adalah seseorang akan mudah untuk pergi ke mana-mana karena mudahnya sarana transportasi dan komunikasi.

([13]) HR. Bukhari No. 7061.

([14]) Lihat: Shahih Muslim No. 2908 (4/2231)

([15]) HR. Bukhari No. 7148.

([16]) HR. Bukhari No. 59.

([17]) HR. Muslim No. 2867.

([18]) HR. Bukhari No. 832.

([19]) HR. Bukhari No. 1377.

([20]) Ad-Du’a Li ath-Thabrani No. 1345 (hlm. 400).

([21]) HR. Muslim No. 118.

([22]) HR. Muslim No. 2948.

([23]) HR. Muslim No. 1844.

([24]) HR. Muslim No. 1844.

([25]) Yang dimaksud dengan أَثَرَةٌ sikap penguasa yang hanya mementingkan dirinya dan melupakan hak-hak rakyatnya.

([26]) HR. Bukhari No. 3147.

([27]) HR. Abu Daud No. 4263, dinyatakan shahih oleh Syekh al-Albani dalam ash-Shahihah No. 973.

([28]) HR. Abu Daud No. 4343, dinyatakan hasan shahih oleh Syekh al-Albani dalam ta’liqnya.

([29]) HR. Bukhari No. 3601.

([30]) HR. Bukhari No. 2887.

([31]) HR. Ahmad No. 1737, dan dikatakan oleh Syu’aib Al-Arnauth hadis ini hasan.