Penyambung dan Pemutus Silaturahmi

Penyambung dan Pemutus Silaturahmi

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Topik yang akan kita bahasa pada kesempatan kali ini berkaitan tentang penyambung silaturahmi dan pemutus silaturahmi. Ketahuilah bahwasanya menyambung silaturahmi merupakan salah satu ibadah yang sangat agung, bahkan menjadi salah satu amalan yang menjadi sebab seseorang bisa masuk ke dalam surga Allah ﷻ. Demikian pula sebaliknya, memutuskan silaturahmi adalah dosa yang sangat besar, dan bahkan menjadi salah satu sebab yang menyebabkan seseorang untuk mudah masuk ke dalam neraka Jahanam.

Allah ﷻ dalam surah Ar-ra’d menjelaskan ciri-ciri penghuni surga dan penghuni neraka dalam halaman yang sama. Adapun ciri-ciri penghuni surga di antaranya adalah orang yang menyambung silaturahmi. Allah ﷻ berfirman,

﴿الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَلَا يَنقُضُونَ الْمِيثَاقَ، وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ﴾

“(yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian,  dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.” (QS. Ar-Ra’d: 20-21)

Setelah itu, Allah ﷻ menyebutkan beberapa sifat lainnya, dan di akhir Allah ﷻ mengatakan,

﴿أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ، جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ﴾

“Mereka itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya.” (QS. Ar-Ra’d: 22-23)

Adapun ciri-ciri penghuni neraka di antaranya adalah orang yang memutuskan silaturahmi. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَالَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ أُولَئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ﴾

“Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, mereka itulah yang memperoleh laknat dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (jahanam).” (QS. Ar-Ra’d: 25)

Dari sini, kita paham bahwa sebagaimana silaturahmi adalah sebab masuk surga, maka memutuskannya adalah sebab masuk ke dalam neraka jahanam. Hal yang seperti ini banyak dicontohkan dalam syariat, di antaranya seperti syariat berbakti kepada orang tua. Berbakti kepada orang tua pahalanya sangatlah besar serta memudahkan seseorang masuk surga, dan durhaka kepada orang tua merupakan dosa yang sangat besar serta memudahkan seseorang masuk ke dalam neraka jahanam. Demikian pula syariat agar istri berbakti kepada suaminya, jika dia berbakti kepada suaminya akan memudahkannya masuk surga, adapun jika dia durhaka maka akan memudahkannya untuk masuk neraka jahanam. Oleh karena itu, di sini kita mempunyai dua pilihan, apakah kita mau menyambung silaturahmi sehingga kita mudah masuk ke dalam surga, ataukah kita mau memutuskan silaturahmi sehingga kita mudah masuk ke dalam neraka jahanam?

Dari sini, kita sadar bahwasanya silaturahmi adalah ibadah yang mulia, ibadah yang kita semua memiliki kesempatan besar untuk meraih pahala darinya, karena tidak seorang pun dari kita kecuali pasti memiliki kerabat.

Pembahasan silaturahmi ini menjadi perlu untuk kita bahas karena timbul sebuah fenomena yang kurang baik, di mana sebagian orang bersikap baik pada orang jauh, namun kurang perhatian pada orang terdekatnya. Ada sebagian suami yang murah senyum dan baik kepada teman-temannya di luar rumah, akan tetapi dia tidak sebaik itu terhadap istri dan anak-anaknya. Sebaliknya, ada sebagian istri yang lembut dalam berbicara kepada teman-temannya, namun dia tidak melakukan hal yang sama ketika berbicara dengan suaminya. Demikian pula dengan kerabat, sebagian orang ada yang sangat perhatian dengan kawan-kawannya, sering mengunjungi kawan-kawannya, akan tetapi kurang perhatian terhadap orang tuanya, jarang mengunjungi saudara-saudaranya, sampai-sampai untuk menelepon pun terasa sangat berat.

Penulis memiliki sebuah kawan, orangnya sangat baik. Ia sangat sering menjamu penulis, sering diajak ke mana-mana dan yang lainnya. Selama penulis berkawan dengan dia, tidak sekalipun dia pernah menceritakan tentang saudaranya, sehingga waktu itu penulis menduga ia tidak memiliki saudara. Sampai suatu hari, kawan tersebut menelepon dan memberitahukan kepada saya bahwa adiknya ingin bertemu dengan saya. Saya kaget, ternyata dia selama ini punya saudara. Kemudian, setelah beberapa saat, saya mendengar dari orang lain bahwa ternyata kawan saya tersebut bertengkar dan ribut dengan adiknya bertahun-tahun. Tentunya, ini perkara yang sangat menyedihkan, melihat bagaimana dia selama ini bersikap baik terhadap saya, namun hubungannya dengan saudaranya sendiri tidak baik.

Selain fenomena tersebut, di antara sebab pentingnya pembahasan ini karena makna silaturahmi menjadi pudar menjadi makna yang lebih umum. Kini, telah dikatakan seseorang bersilaturahmi apabila dia telah mengunjungi orang yang lain meskipun yang dikunjungi bukan kerabatnya. Akhirnya, sebagian orang ketika berkunjung kepada temannya, berkumpul-kumpul dengan temannya, mereka menyangka telah melakukan silaturahmi, sementara kerabat-kerabatnya tidak lagi dia pedulikan, padahal yang namanya silaturahmi adalah menyambung hubungan kepada yang memiliki hubungan rahim, bukan kepada semua orang. Oleh karena itu, melalui pembahasan ini kita perlu untuk memahamkan kembali tentang makna yang benar tentang silaturahmi agar kita bisa menjalankan ibadah ini dengan baik.

Menyambung Silaturahmi

Ada beberapa ayat di dalam Al-Qur’an yang menyebutkan agar kita mendahulukan berbuat baik kepada kerabat, terutama yang memiliki hubungan nasab, sebelum berbuat baik kepada orang lain. Di antaranya seperti firman Allah ﷻ,

﴿وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِّنكُمْ وَأَنتُم مُّعْرِضُونَ﴾

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.” (QS. Al-Baqarah: 83)

Di dalam ayat ini, Allah ﷻ mendahulukan penyebutan kerabat daripada anak yatim dan orang-orang miskin. Selain itu, ternyata perintah mendahulukan berbuat baik kepada kerabat daripada orang lain tidak hanya diperintahkan kepada umat Islam, akan tetapi juga kepada umat terdahulu yaitu Bani Israil.

Selain itu, Allah ﷻ juga berfirman dalam surah Al-Baqarah,

﴿لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ﴾

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177)

Ayat ini juga menyebut kerabat terlebih dahulu untuk diberikan sedekah kita daripada anak yatim, orang-orang miskin, musafir, dan yang lainnya. Ayat ini juga memberi isyarat bahwasanya menyambung silaturahmi itu butuh pengorbanan, bahkan sampai pada derajat mengorbankan harta yang paling kita sukai.

Demikian pula dalam surah An-Nisa’ Allah ﷻ berfirman,

﴿وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا﴾

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisa’: 36)

Allah ﷻ juga berfirman dalam surah Al-Isra’,

﴿وَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا﴾

“Dan berikanlah kepada karib kerabat akan haknya, kepada orang miskin, dan kepada orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (QS. Al-Isra’: 26)

Intinya, masih banyak ayat-ayat yang seperti ini, yang menegaskan bahwa berbuat baik kepada karib kerabat itu lebih didahulukan daripada berbuat baik kepada orang lain. Oleh karena itu, para ulama menyebutkan bahwasanya apabila seseorang bersedekah kepada kerabatnya, maka dia mendapatkan dua pahala; pahala bersedekah dan pahala silaturahmi.

Maka dari itu, hendaknya kita memiliki skala prioritas dalam beramal saleh, kita hendaknya lebih mendahulukan kerabat kita dalam berbuat baik daripada orang lain. Ketahuilah bahwasanya berbuat baik kepada orang dekat memiliki pahala yang lebih besar daripada orang lain. Contoh seperti sabda Nabi Muhammad ﷺ,

دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

Satu dinar (harta) yang kamu belanjakan di jalan Allah dan dinar (harta) yang kamu berikan kepada seorang budak wanita, dan dinar yang kamu sedekahkan kepada orang miskin serta dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu. Maka yang paling besar ganjaran pahalanya adalah satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu.”([1])

Artinya, semakin dekat hubungan seseorang terhadap diri kita, maka akan semakin besar pahala yang akan di dapatkan.

Siapa rahim kita?

Dari beberapa penjelasan di atas, menjadi jelas kepada kita tentang betapa pentingnya untuk kita ketahui siapa yang termasuk dalam kerabat yang lebih utama untuk kita berbuat baik kepada mereka.

Ketahuilah, setiap orang itu memiliki kerabat dari tiga sisi; kerabat dari sisi nasab, kerabat karena pernikahan, dan kerabat karena persusuan.

  1. Kerabat karena nasab

Setiap kita memiliki kerabat dari sisi nasab, baik itu dari ibu kita maupun dari bapak kita. Namun, ketika kerabat dari nasab kita itu dikumpulkan, apakah semuanya kemudian menjadi rahim kita? Tentu tidak seperti itu, kerabat-kerabat tersebut memiliki tingkatan-tingkatan. Di antara kerabat-kerabat tersebut, yang paling utama untuk kita sambung silaturahmi adalah yang memiliki hubungan mahram dengan kita, atau dengan kata lain adalah kerabat ring satu, yaitu ayah dan ibu kita, kakek dan nenek kita dari jalur ayah maupun ibu, paman dan bibi dari ayah dan ibu kita, saudara-saudara kandung kita, dan keponakan-keponakan dari saudara-saudara kandung kita.

  1. Kerabat karena pernikahan

Ketika seseorang menikah dengan seorang laki-laki atau wanita, maka dia memiliki kerabat-kerabat yang baru, yaitu orang tua, saudara-saudara, dan keponakan-keponakan dari pasangan kita menjadi kerabat kita karena sebab pernikahan.

  1. Kerabat karena persusuan

Jika sekiranya seorang bayi menyusu kepada seorang wanita, dan wanita tersebut memiliki lima anak perempuan. Ketika anak bayi tersebut menyusu lima kali hingga kenyang, maka bayi tersebut menjadi anak persusuan wanita tersebut, suaminya menjadi bapak susuannya, dan anak-anaknya menjadi saudara persusuannya. Oleh karenanya, mulai dari sang wanita, suami sang wanita, dan anak-anaknya, semuanya menjadi kerabat dari sang bayi. Oleh karenanya, Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda,

حَرِّمُوا مِنَ الرَّضَاعَةِ مَا يَحْرُمُ مِنَ النَّسَبِ

Persusuan akan mengharamkan sebagaimana apa yang diharamkan nasab.”([2])

Dari ketiga jenis kerabat ini, manakah yang dimaksud oleh Allah ﷻ sebagai rahim yang harus kita sambung hubungan dengan mereka? Para ulama menyebutkan bahwasanya rahim yang dimaksud adalah rahim jenis pertama, yaitu kerabat karena nasab. Adapun kekerabatan karena pernikahan atau persusuan, kita tetap dianjurkan untuk berbuat baik kepada mereka, namun tidak sekuat jika dibandingkan dengan perintah menyambung silaturahmi kepada kerabat karena nasab. Hal ini dikarenakan silaturahmi diambil dari kata “rahim” yang maknanya adalah kekerabatan karena dari rahim yang sama, yaitu dari ayah ataupun ibu.

Oleh karena itu, kerabat karena nasab yang merupakan ring satu inilah yang kemudian kita harus menyengajakan diri untuk mengunjunginya, menyengajakan untuk menelepon dan menanyakan kabarnya, dan bahkan menyengajakan diri untuk membantunya, dan yang lainnya. Adapun kerabat yang lain seperti sepupu, saudara dari nenek dan kakek, sepupu dari ayah dan ibu, dan seterusnya, mereka bukan lagi bagian dari ring satu, sehingga menyambung silaturahmi kepada mereka tidak sampai derajat utama, namun sesekali kita masih harus menyambung silaturahmi kepada mereka.

Kekeliruan dalam praktik silaturahmi

Pengetahuan tentang kerabat-kerabat yang termasuk rahim sanga penting agar kita mengetahui mana yang paling prioritas untuk kita berbuat baik kepadanya. Hal ini dikarenakan di Indonesia ada sebuah fenomena di mana keuangan sebuah rumah tangga seluruhnya dipegang oleh istri. Akhirnya, ada sebagian wanita yang kurang salihah di mana keuangan yang diamanahkan kepadanya digunakan untuk membantu keluarganya sendiri, adapun keluarga dari suaminya tidak pernah dibantu dan tidak diperhatikan.

Sebagai seorang suami, dibenarkan kita berbuat baik kepada kerabat istri kita. Akan tetapi, ketika kita mengklasifikasikannya terlebih dahulu, maka kerabat dari istri itu berada di urutan nomor dua. Sehingga, yang lebih utama untuk kita berbuat baik kepadanya adalah orang tua kita, saudara-saudara kita, kakek dan nenek kita, dan paman dan bibi kita, dan keponakan-keponakan dari saudara kandung kita.

Oleh karena itu, jangan sampai kita salah prioritas dalam berbuat baik kepada kerabat. Istri kita, kita anjurkan kepadanya untuk berbuat baik kepada kerabatnya, karena yang demikian berarti dia telah menyambung silaturahmi. Adapun kita berbuat baik kepada kerabat istri, nilainya tidak sebesar ketika kita berbuat baik kepada kerabat kita sendiri. Namun, apabila istri kita adalah istri yang salihah, meskipun keuangan sepenuhnya dikelola olehnya, maka pasti dia tidak akan lupa untuk mengingatkan kita agar membantu dan memperhatikan keluarga kita sendiri.

Kita tentunya tidak berharap dengan adanya fenomena tersebut menjadikan kita sebagai seorang suami menjadi pelit untuk kerabat kita sendiri. Oleh karena itu, penting untuk kita pahami bahwasanya ada skala prioritas dalam menyambung silaturahmi kepada kerabat-kerabat kita.

Keutamaan menyambung silaturahmi

Ada banyak sekali ayat-ayat maupun hadits-hadits yang menunjukkan keutamaan-keutamaan menyambung silaturahmi.

  1. Sebab masuk surga

Di antaranya seperti firman Allah ﷻ yang telah kita sebutkan sebelumnya, bahwasanya Allah ﷻ berfirman,

﴿وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ، وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ، جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ، سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ﴾

“Dan orang-orang yang menghubungkan apa yang diperintahkan Allah agar dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang yang sabar karena mengharap keridhaan Tuhannya, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; mereka itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan), ‘Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu’. Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 21-24)

Ayat ini dijadikan dalil oleh para ulama bahwasanya silaturahmi itu membutuhkan kesabaran, karena di akhir ayat Allah ﷻ mengatakan,

﴿وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ، سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ﴾

“Sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan), ‘Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu’. Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 23-24)

Dari Abu Ayyub al-‘Anshari radhiallahu ‘anhu, ia mengabarkan bahwasanya ada seseorang yang datang kepada Nabi Muhammad ﷺ menanyakan tentang amalan apa yang bisa memasukkannya ke dalam surga. Maka Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ

Kamu beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya, menegakkan shalat dan membayar zakat, serta menjalin tali silaturahmi.”([3])

  1. Bukti keimanan

Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia menyambung tali silaturahmi.”([4])

Nabi Muhammad ﷺ dalam hadits ini ingin menekankan bahwa barang siapa yang yakin akan adanya balasan atas perbuatan pada hari kiamat kelak, maka hendaknya dia menyambung silaturahmi. Nabi Muhammad ﷺ menyebutkan model pengucapan seperti ini dalam perkara-perkara yang berat, di antaranya seperti sabda Nabi Muhammad ﷺ,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata yang baik atau diam.”([5])

Tidak semua orang mudah untuk mengucapkan yang baik-baik. Banyak orang yang berbicara tanpa memikirkan apa yang dia ucapkan. Namun, apabila ia yakin akan adanya hari pembalasan, yakin bahwa semua ucapan itu dicatat, maka tentu ia akan berpikir sebelum berbicara. Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya.”([6])

Memuliakan tamu membutuhkan pengorbanan, sehingga bagi orang yang pelit pasti akan malas untuk menjamu tamu. Akan tetapi, bagi orang yang yakin akan adanya balasan atas jamuan yang dia berikan kepada tamunya pada hari kiamat kelak, tentu dia tidak akan menyiakan kesempatan untuk bisa mendapat pahala yang besar dari menjamu tamu tersebut.

Oleh karena itu, silaturahmi pun demikian, membutuhkan pengorbanan dari sisi waktu, harta, dan bahkan perasaan. Namun, bagi orang yang beriman kepada Allah ﷻ dan hari akhir, yakin adanya balasan yang besar pada hari kiamat kelak atas pengorbanan yang dikorbankan, maka tentu akan sangat mudah baginya untuk menyambung silaturahmi.

  1. Dipanjangkan umur dan rezekinya

Selain keutamaan di akhirat, silaturahmi juga memiliki keutamaan di dunia. Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Barang siapa ingin dilapangkan rezeki untuknya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia menyambung tali silaturahmi.”([7])

Sabda Nabi Muhammad ﷺ ini menjelaskan tentang faedah luar biasa yang akan dirasakan oleh seorang muslim yang senantiasa menyambung silaturahmi di dunia sebelum dia mendapatkan keutamaan di akhirat. Sudah ada banyak bukti yang kita lihat di sekitar kita, seperti orang yang sangat berbakti kepada orang tuanya yang merupakan salah satu pintu silaturahmi, ia menjadi orang yang paling dimudahkan rezekinya. Tidak pernah penulis temukan seseorang yang berbakti kepada orang tuanya namun menjadi orang yang gagal, melainkan ia menjadi orang yang sukses dalam bidang yang ia tekuni. Oleh karena itu, apabila Anda ingin menjadi orang yang dimudahkan rezeki dan segala urusannya, maka sisihkan harta Anda untuk diberikan kepada kerabat Anda. Anda bisa membelikan hadiah kepada orang tua Anda, atau memenuhi kebutuhan orang tua Anda, atau membantu saudara-saudara Anda, atau memberikan hadiah kepada kerabat-kerabat terdekat kita.

Para ulama menyebutkan bahwasanya seseorang boleh meniatkan dalam menyambung silaturahmi agar rezekinya ditambah. Akan tetapi, Anda harus benar-benar melakukan itu karena mengharap ridha dan rezeki dari Allah ﷻ, bukan karena mengharap pujian dari kerabat-kerabat Anda. Jika Anda bersilaturahmi untuk mendapatkan pujian maka jatuhnya adalah riya’, dan membuat amalan silaturahmi itu tidak bernilai pahala di sisi Allah ﷻ. Secara umum Allah ﷻ berfirman,

﴿وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ﴾

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Jika Anda menyambung silaturahmi karena mengharap wajah Allah ﷻ, maka yakinlah bahwasanya rezeki itu akan datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Jika sekiranya Anda merasa bahwa Anda belum mendapat rezeki tersebut, hendaknya Anda terus bersabar, dan silakan cek kepada niat Anda, karena bisa jadi niat Anda masih salah.

Selain dimudahkannya rezeki, keutamaan di dunia yang akan didapat oleh seseorang yang sering menyambung silaturahmi di dunia adalah akan dipanjangkan umurnya. Adapun cara dipanjangkannya umur seseorang bisa seperti seseorang yang tidak terkena penyakit berbahaya yang banyak mengenai orang seusianya, sehingga akhirnya dia bisa hidup lebih lama dari orang seusianya yang terkena penyakit berbahaya. Atau bisa jadi dia ditakdirkan untuk tertabrak mobil, akan tetapi karena sebelum keluar dari rumahnya dia menyambung silaturahmi dengan orang tuanya, akhirnya dia hanya tertabrak sepeda dan tidak mengalami luka yang serius.

Keutamaan dari sisi rezeki ini terbukti, adapun keutamaan dari sisi umur mungkin masih menjadi misteri karena tidak ada di antara kita yang mengetahui sampai kapan umur seseorang, akan tetapi hal ini juga perlu untuk kita imani. Oleh karenanya, para ulama ikhtilaf tentang maksud dua keutamaan dari menyambung silaturahmi ini. Secara umum ada dua pendapat:

Pendapat pertama: Umur dan rezeki di antara perkara yang sudah tetap dan tidak akan berubah, sehingga makna bertambahnya rezeki dan umur adalah umur dan rezekinya diberkahi oleh Allah ﷻ. Bisa jadi seseorang memiliki total rezeki 3 miliar, namun dengan jumlah rezeki tersebut dia bisa berhaji dan umrah, bisa bersedekah, dan bisa melakukan banyak amal saleh lainnya. Adapun umurnya yang mungkin hanya 60 tahun, namun dengan jumlah umur tersebut, dia bisa rajin ibadah, rajin ikut majelis ilmu, rajin beramal saleh, bisa berbakti kepada orang tuanya. Hal ini dikarenakan ada orang yang tidak diberkahi pada umur dan rezekinya, sehingga rezekinya yang banyak hanya habis pada hal-hal yang tidak bermanfaat, dan bahkan hartanya hanya habis untuk membiayai pengobatannya atas penyakit yang menimpanya, namun sayangnya ia tidak sembuh-sembuh juga.

Pendapat kedua: Umur dan rezeki seseorang benar-benar diubah. Hal ini berdasarkan firman Allah ﷻ,

﴿يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِندَهُ أُمُّ الْكِتَابِ﴾

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauhul mahfuzh).” (QS. Ar-Ra’d: 39)

Artinya, takdir yang telah dicatat di Lauhul mahfuzh adalah takdir yang tidak bisa berubah, adapun takdir yang tertulis pada lembaran yang dipegang oleh malaikat, maka itulah yang bisa berubah. Maka, jika seseorang telah dicatat umur dan rezekinya oleh malaikat sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah ﷻ, maka Allah ﷻ bisa saja meminta malaikat untuk mengubah catatan yang ada padanya. Misalnya, seseorang hidup sampai umur 45 tahun dan rezekinya 3 miliar. Namun, ketika ia berumur 30 tahun, dia menjadi orang yang sangat berbakti kepada orang tuanya, selalu berbuat baik kepada saudara-saudaranya, selalu mengunjungi paman dan bibinya, maka Allah ﷻ memerintahkan untuk mengubah catatan malaikat tersebut menjadi umur 75 tahun dan rezekinya menjadi 10 miliar. Penulis sendiri lebih condong kepada pendapat kedua ini.

Inilah beberapa keutamaan-keutamaan dari menyambung silaturahmi. Perlu untuk kita ketahui bahwa orang yang paling utama untuk kita sambung silaturahmi adalah kedua orang tua kita. Saking hebatnya kedudukan mereka, ketika para ulama membuat sebuah bab dalam kitab fikih, mereka membedakan antara bab berbakti kepada orang tua dan silaturahmi, padahal berbakti kepada orang tua adalah puncak dari silaturahmi. Pengkhususan tersebut dikarenakan karena orang tua memiliki hukum tersendiri. Bukti akan hal ini, kita mungkin boleh meninggikan suara pada saudara kita jika mereka salah, akan tetapi tidak boleh kita meninggikan suara kita pada orang tua kita meskipun mereka melakukan kesalahan.

Oleh karena itu, ketika Anda masih memiliki orang tua, maka sambunglah silaturahmi dengan berbakti kepada mereka. Berbakti kepada orang tua akan memberikan ganjaran pahala yang sangat besar. Ibnul Munkadir pernah berkata,

بِتُّ أَغْمِزُ رِجْلَ أُمِّي، وَبَاتَ عُمَرُ يُصَلِّي لَيْلَتَهُ، فَمَا سَرَّنِي لَيْلَتِي بِلَيْلَتِهِ

“Saya bermalam sambil memijit kaki ibu saya sementara Umar (saudara kandung beliau) bermalam sambil salat malam (semalam suntuk). Namun, saya tidak mau pahala saya ditukar dengan pahala saudaraku.”([8])

Inilah puncak dari silaturahmi, yaitu berbakti kepada kedua orang tua. Semoga kita yang masih memiliki orang tua bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk bisa berbakti kepada mereka.

Pemutus Silaturahmi

Memutuskan silaturahmi adalah suatu perkara yang sangat berbahaya. Sebagaimana menyambung silaturahmi adalah sebab utama masuk surga, maka memutuskan silaturahmi pun merupakan sebab utama untuk masuk ke dalam neraka jahanam. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَالَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ أُولَئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ﴾

“Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh laknat dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (neraka jahanam).” (QS. Ar-Ra’d: 25)

Ada beberapa hukuman yang keras bagi orang-orang yang memutuskan silaturahmi.

  1. Dilaknat oleh Allah ﷻ

Hal ini sebagaimana firman Allah ﷻ,

﴿وَالَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ أُولَئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ﴾

“Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh laknat dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (neraka jahanam).” (QS. Ar-Ra’d: 25)

Dalam ayat yang lain juga Allah ﷻ berfirman,

﴿فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ، أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ﴾

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan silaturahmi?  Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah dan Allah jadikan telinga mereka tuli dan mata mereka buta.” (QS. Muhammd: 22-23)

Hendaknya seseorang yang ingin memutuskan silaturahmi untuk berhati-hati, karena ia akan menjadi orang yang dilaknat oleh Allah ﷻ, dan dijadikan buta serta tuli. Buta maksudnya adalah banyak kebenaran yang tidak bisa ia lihat, dan tuli maksudnya adalah banyak kebaikan yang tidak biasa ia dengar. Artinya, hatinya menjadi tertutup dengan sebab memutuskan silaturahmi.

  1. Pemutus silaturahmi disebut oleh Allah sebagai orang fasik

Allah ﷻ telah berfirman,

﴿وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ، الَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ﴾

“Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu diteguhkan, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya (silaturahmi) dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Baqarah: 26-27)

  1. Tidak akan masuk surga

Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

Tidak akan masuk surga pemutus silaturahmi.”([9])

Wahai saudaraku, Anda baik kepada tetangga Anda, Anda baik kepada teman-teman kerja Anda, namun hubungan Anda dengan orang tua Anda buruk, Anda bertengkar dengan saudara-saudara Anda, memutuskan silaturahmi dengan kerabat Anda, maka Anda tidak akan masuk surga sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ.

  1. Akan diberikan hukuman oleh Allah di dunia

Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الْآخِرَةِ، مِنَ الْبَغْيِ، وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ

Tidak ada perbuatan dosa yang akan di segerakan siksanya bagi pelakunya oleh Allah di dunia dan di sisakan baginya di akhirat melainkan berbuat aniaya (zalim) dan memutuskan tali silaturahmi.”([10])

Hendaknya setiap kita waspada, karena apabila kita memutuskan silaturahmi, maka akan sangat mudah bagi Allah ﷻ menurunkan azab bagi kita di dunia. Bisa jadi azab tersebut berupa kesengsaraan, tidak bahagia, keluarga yang tidak bahagia, terkena banyak masalah dalam pekerjaan dan keluarga, dan yang lainnya.

  1. Amalannya tidak diterima oleh Allah ﷻ

Ada beberapa hadits yang menunjukkan bahwa amalan seseorang yang memutuskan silaturahmi tidak akan diterima. Di antaranya adalah sabda Nabi Muhammad ﷺ,

إِنَّ أَعْمَالَ بَنِي آدَمَ تُعْرَضُ كُلَّ خَمِيسٍ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، فَلَا يُقْبَلُ عَمَلُ قَاطِعِ رَحِمٍ

Sesungguhnya amalan anak cucu Adam dipaparkan pada setiap hari kamis sore, malam Jumat (kepada Allah), kemudian tidak akan diterima amalan orang yang memutuskan silaturahmi.”([11])

Dalam hadits yang lain, Nabi Muhammad ﷺ juga telah bersabda,

ثَلَاثَةٌ لَا تُرْفَعُ صَلَاتُهُمْ فَوْقَ رُءُوسِهِمْ شِبْرًا: رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ، وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ، وَأَخَوَانِ مُتَصَارِمَانِ

Tiga golongan yang shalatnya tidak akan di angkat meski satu jengkal dari kepalanya; seseorang yang mengimami suatu kaum sementara mereka tidak menyukainya, seorang perempuan yang bermalam sementara suaminya marah kepadanya, dan dua orang bersaudara yang saling bermusuhan.”([12])

Oleh karena itu, apabila antara seseorang saudaranya, antara anak dengan orang tua, antara seseorang dengan paman atau bibinya, mereka saling bermusuhan dan memutuskan silaturahmi, maka shalatnya dan bahkan amalan-amalannya yang lain tidak akan diterima oleh Allah ﷻ. Sungguh merugi orang yang bertahun-tahun shalat dan selalu berada di saf pertama, namun karena hubungannya yang tidak baik dengan saudaranya, dengan orang tuanya, dengan paman dan bibinya, akhirnya tidak satu pun shalatnya diterima, sungguh merugi.

Inilah beberapa bahayanya memutuskan silaturahmi yang hendaknya kita semua waspadai. Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda,

إِنَّ اللهَ خَلَقَ الْخَلْقَ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْهُمْ قَامَتِ الرَّحِمُ، -وفي رواية: الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ- فَقَالَتْ: هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ مِنَ الْقَطِيعَةِ، قَالَ: نَعَمْ، أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ، وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ؟ قَالَتْ: بَلَى، قَالَ: فَذَاكِ لَكِ

Setelah Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan semua makhluk, maka rahim pun berdiri –dalam riwayat yang lain Rasulullah mengatakan ‘Rahim itu bergantungan kepada Arasy- (-pen)  sambil berkata; ‘Inikah tempat bagi yang berlindung dari terputusnya silaturahmi (menyambung silaturahmi).’ Allah menjawab, ‘Benar. Tidakkah kamu rela bahwasanya Aku akan menyambung orang yang menyambungmu dan memutuskan yang memutuskanmu?’ Rahim menjawab, ‘Tentu’. Allah berfirman, ‘ltulah yang berlaku padamu’.”([13])

Subhanallah, rahim sampai berlindung kepada Allah ﷻ dari pemutusan silaturahmi. Maka perhatikanlah apa yang Nabi Muhammad ﷺ sabdakan dalam sabdanya tersebut, bahwasanya Allah ﷻ akan menyambung dengan kebaikan bagi orang yang menyambung silaturahmi, dan Allah ﷻ akan memutuskan kebaikan bagi orang yang memutuskan silaturahmi.

Cara Menyambung Silaturahmi

Secara umum, menyambung silaturahmi artinya adalah berbuat baik kepada kerabat, baik dengan harta, dengan ucapan, dengan kunjungan (ziarah), dengan nasihat, atau dengan jenis kebaikan yang lainnya. Sehingga, segala kebaikan yang kita berikan kepada kerabat kita itu termasuk dalam upaya menyambung silaturahmi.

Rahim (kerabat) kita tentunya bertingkat-tingkat, baik itu ditinjau dari kedudukan mereka terhadap kita, kondisi mereka, tempat tinggal mereka, dan seterusnya. Perbedaan-perbedaan ini menjadikan kita harus menyambung silaturahmi dengan cara yang berbeda-beda pula. Bagi kerabat yang dekat hendaknya kita selalu mengunjunginya, bagi kerabat yang jauh hendaknya kita senantiasa menelepon dan menanyakan kabarnya, terlebih lagi media komunikasi saat ini sudah semakin mudah. Bagi kerabat yang miskin, maka hendaknya kita bersilaturahmi kepadanya dengan membantunya dengan harta yang kita miliki. Bagi kerabat yang sakit, maka hendaknya kita jenguk apabila mampu. Bagi kerabat yang sudah mapan, maka mengunjunginya dan selalu menanyakan kabarnya adalah cara yang paling tepat. Bagi kerabat yang jauh, bisa dengan mengunjunginya sesekali, atau meneleponnya, dan seterusnya. Intinya, cara kita menyambung silaturahmi kepada mereka berbeda-beda sesuai dengan kondisi dan keadaan kerabat-kerabat kita.

Namun, secara umum ada beberapa hal yang bisa kita lakukan sebagai langkah menyambung silaturahmi dengan kerabat kita, antara lain:

  • Menanyakan kabar mereka

Kemudahan sarana komunikasi seharusnya tidak lagi menghalangi kita untuk menyambung silaturahmi, baik kepada kerabat yang dekat maupun yang jauh. Namun, bagi kerabat yang dekat lebih utama bagi kita untuk mengunjunginya secara langsung.

  • Menghadiri undangan mereka
  • Bersabar terhadap gangguan mereka

Ketika seseorang bersabar dengan kerabat kita, maka itu artinya kita telah bersilaturahmi dengan mereka. Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda,

لَيْسَ الوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنِ الوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

Bukanlah orang yang menyambung silaturahmi sejati yang sekadar membalas([14]), akan tetapi orang yang menyambung silaturahmi sejati adalah orang yang menyambungnya kembali ketika tali silaturahmi itu terputus.”([15])

Seseorang yang menyambung silaturahmi ketika silaturahmi itu terputus, maka dialah penyambung silaturahmi yang sejati, karena berarti dia menyambung silaturahmi karena Allah ﷻ. Misalnya, ketika ada seseorang yang selalu diejek dan dikucilkan oleh saudaranya, atau orang tuanya tidak pernah menghargainya, namun dia tetap berbuat baik kepada saudara-saudaranya, dia tetap berbakti kepada orang tuanya, maka dia telah menyambung silaturahmi karena Allah ﷻ.

Sungguh, menyambung silaturahmi terhadap kerabat yang memiliki masalah dengan kita adalah perkara yang sangat berat. Namun, ketika Anda bisa melakukannya, maka Anda akan mendapatkan pahala yang sangat luar biasa. Terkadang, ada orang yang benci terhadap orang tuanya karena merasa tidak disikapi dengan adil. Ingatlah, bagaimanapun sikap orang tua Anda, Anda tetap harus sabar. Jika Anda memboikot orang tua karena sikapnya, maka Anda telah memutuskan silaturahmi. Lihatlah firman Allah ﷻ,

﴿وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَى أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا﴾

“Dan jika kedua orang tuamu (yang masih musyrik) memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15)

Allah ﷻ berfirman dalam ayat ini bahwasanya apabila orang tua sampai mengajak untuk berbuat syirik, sebagai anak kita tidak boleh membantahnya dengan cara yang tidak baik, tidak dengan mengangkat suara, bahkan seharusnya kita tetap bersikap baik kepada mereka.

Dalam sebuah hadits yang lain, Nabi Muhammad ﷺ didatangi oleh seseorang, kemudian ia bertanya,

يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي، وَأُحْسِنُ إِلَيْهِمْ وَيُسِيئُونَ إِلَيَّ، وَأَحْلُمُ عَنْهُمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ، فَقَالَ: لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ، فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ

Ya Rasulullah, saya mempunyai kerabat. Saya selalu berupaya untuk menyambung silaturahmi kepada mereka, tetapi mereka memutuskannya. Saya selalu berupaya untuk berbuat baik kepada mereka, tetapi mereka menyakiti saya. Saya selalu berupaya untuk lemah lembut terhadap mereka, tetapi mereka tak sabar kepada saya.” Lalu Rasulullah bersabda, ‘Jika benar seperti apa yang kamu katakan, maka kamu seperti memberi makan mereka debu yang panas, dan selama kamu berbuat demikian maka pertolongan Allah akan selalu bersamamu’.”([16])

Ketika seseorang senantiasa bersabar atas gangguan kerabatnya, dia membalas keburukan kerabatnya dengan kebaikan, maka Allah ﷻ akan memberikan bantuan dan pertolongan-Nya, yang dengan pertolongan tersebut membuat ia semakin tegar dalam menyambung silaturahmi.

Di antara contoh lain yang paling utama dalam hal ini juga adalah kisah tentang Abu Bakar radhiallahu ‘anhu dengan Misthah radhiallahu ‘anhu. Misthah memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu. Misthah adalah orang yang miskin, sehingga Abu Bakar senantiasa memberikan nafkah kepadanya. Ketika terjadi peristiwa di mana Aisyah radhiallahu ‘anha dituduh berzina oleh orang-orang munafik, sebagian orang yang di antaranya adalah Misthah kemudian terprovokasi dengan tuduhan orang-orang munafik tersebut. Akhirnya, mengetahui hal tersebut Abu Bakar pun marah kepada Misthah, karena menganggap selama ini ia telah menafkahi Misthah, namun malah membalas kebaikannya dengan ikut menuduh anaknya yaitu Aisyah telah berzina. Ketika turun ayat yang membela dan membebaskan Aisyah radhiallahu ‘anha atas tuduhan orang-orang munafik, Abu Bakar radhiallahu ‘anhu pun kemudian memutuskan untuk tidak lagi memberikan bantuan kepada Misthah. Kemudian, Allah ﷻ menegur Abu Bakar dengan firman-Nya,

﴿وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنكُمْ وَالسَّعَةِ أَن يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ﴾

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabatnya, orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22)

Ketika Abu Bakar radhiallahu ‘anhu mengetahui turunnya ayat ini, maka dia pun ingin agar dia diampuni oleh Allah ﷻ, sehingga dia pun menyambung kembali hubungan kekerabatan dengan Misthah. Di sini, Abu Bakar radhiallahu ‘anhu membalas keburukan yang dia terima dengan kebaikan.

  • Mengadakan kotak bantuan

Di Arab Saudi, sebuah kabilah biasanya mengadakan kotak bantuan, setiap orang menaruh uang (sedekahnya) di kotak tersebut. Ketika salah seorang dari kerabat mereka ada yang membutuhkan bantuan, maka akan ada bagian memeriksa apakah kerabat tersebut layak dibantu atau tidak. Hal ini tentu sangat disayangkan tidak terjadi di negara kita Indonesia, padahal metode ini memiliki manfaat yang besar dalam menyambung silaturahmi.

Tentunya, hal seperti ini tidak kita jumpai di Indonesia karena kultur dan budaya kita sendiri menjadikan kita kurang mengenal kerabat kita. Jangankan untuk kerabat yang jauh, sepupu yang masih satu nenek pun seringnya kita kurang akrab, bahkan lebih dari itu banyak dari kita yang sama saudara sendiri tidak akrab.

Sebab-sebab terputusnya silaturahmi

Ada beberapa sebab-sebab terputusnya silaturahmi yang hendaknya kita memperhatikan hal tersebut, agar kita bisa menghindari sebab-sebab tersebut.

  1. Kesombongan

Kesombongan termasuk di antara penyebab terputusnya silaturahmi. Seringnya, orang yang sombonglah yang memutuskan silaturahmi. Mungkin karena merasa bahwa dirinya adalah pejabat, memiliki pangkat yang tinggi, memiliki harta yang paling banyak, atau bahkan karena menganggap dia anak tertua, sehingga dia tidak mau terlebih dahulu membuka pintu silaturahmi.

Ketahuilah, jangan karena Anda merasa anak yang paling tua sehingga Anda menganggap bahwa adik Anda yang harus mengunjungi Anda. Jangan karena Anda adalah pejabat negara sehingga Anda menganggap kerabat Anda yang seharusnya mengunjungi Anda. Jangan pula karena Anda merasa adalah orang kaya sehingga tidak mau mengunjungi kerabat yang Anda yang miskin. Sadarlah bahwa hendaknya Anda yang terlebih dahulu mencari pahala dengan memulai menyambung silaturahmi, dengan mengunjungi mereka terlebih dahulu, dengan memberi hadiah terlebih dahulu.

  1. Mencela dengan berlebihan

Misalnya, ada seorang adik yang jarang mengunjungi kakaknya. Suatu ketika, sang adik kemudian mengunjungi kakaknya untuk menyambung silaturahmi. Namun, sang kakak ternyata malah mencela dan memaki-maki sikap adiknya tersebut yang baru hadir di hadapannya secara berlebihan. Akhirnya, yang terjadi adalah sang adik tidak pernah lagi berkunjung kepada kakaknya karena malu, takut, dan sakit hati atas celaan kakaknya.

Ingatlah, ketika kerabat kita telah melakukan kesalahan, hendaknya kita terlebih dahulu memberinya uzur. Mengapa kita rela memberi uzur kepada teman kita, namun tidak memberikan uzur kepada kerabat kita? Bukankah telah kita sebutkan bahwasanya kerabat kita lebih utama untuk kita berbuat baik kepada mereka?

Oleh karena itu, bersabarlah atas kesalahan kerabat kita. Sadari bahwasanya manusia adalah tempatnya kesalahan, maka dengan begitu kita akan mudah memaafkan. Terlebih lagi, Allah ﷻ Maha Tahu kalau kita telah berbuat baik kepada mereka, maka seharusnya cukup bagi kita.

  1. Kurang perhatian terhadap kerabat

Sebagian orang, ketika temannya bertamu ke rumahnya, maka ia pun menjamu temannya tersebut dengan sangat istimewa. Namun, ketika giliran kerabatnya yang bertamu, jamuannya tidak sebagus ketika ia menjamu temannya, kerabatnya tidak diperhatikan, bahkan terkadang tidak disambut dengan senyum bahagia. Padahal, kerabat itu lebih utama untuk diperhatikan daripada teman kita.

Sikap kurang perhatian ini kemudian mengundang terputusnya silaturahmi, karena kerabat tidak lagi ingin berkunjung ke rumah kita karena mungkin merasa kurang dihargai. Maka dari itu, hendaknya kita memperhatikan kerabat kita tatkala mereka berkunjung ke rumah kita, menyambut mereka dengan hangat, menjamu mereka dengan jamuan terbaik, karena yang demikian akan terus melanggengkan silaturahmi.

  1. Pelit

Sikap pelit adalah sebab utama terputusnya silaturahmi. Sungguh, ketika seseorang telah terkena penyakit pelit, maka kehidupannya pasti akan susah. Kasus terburuk adalah di mana ada orang yang bahkan pelit terhadap anak dan istrinya. Kalau sudah seperti ini, maka tentu ia akan semakin pelit kepada orang tuanya, pelit kepada saudaranya, pelit kepada paman dan bibinya, dan pelit kepada siapa pun.

Ketahuilah, orang tua Anda adalah di antara orang yang berhak atas harta Anda. Coba renungkan, apa jadinya Anda saat ini apabila dahulu orang tua Anda bersikap pelit terhadap Anda? Tentu Anda tidak akan hidup lagi saat ini. Maka, apakah pantas kebaikan orang tua kita balas dengan bersikap pelit terhadap mereka? Tidakkah Anda mengingat sabda Nabi Muhammad ﷺ,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Sedekah itu tidak akan mengurangi harta.”([17])

Kalau sedekah secara umum saja tidak akan mengurangi harta, maka bagaimana lagi dengan bersedekah yang dalam rangka menyambung silaturahmi? Tentu rezekinya akan ditambah oleh Allah ﷻ. Oleh karena itu, sikap pelit ini harus untuk dihapuskan dari dalam diri kita masing-masing.

  1. Terlalu sibuk dengan dunia

Berbagai macam urusan dunia telah menyibukkan kita. Pekerjaan yang kita lakoni setiap harinya, dari mulai terbit fajar hingga masuk tengah malam, kita masih saja sibuk dengan urusan dunia. Kesibukan-kesibukan itulah yang kemudian menjadikan kita lupa dengan orang tua kita, lupa menelepon mereka, lupa mengunjungi mereka. Bahkan lebih parah lagi, ada orang yang sampai setahun tidak pernah berkomunikasi dengan orang tua, kakak, dan adiknya karena disibukkan dengan beragam urusan dunia.

Wahai saudaraku, komunikasi saat ini telah mudah dan murah. Jangan terlalu sibuk untuk mencari dunia sampai akhirnya lupa untuk bersilaturahmi kepada kerabat, terutama kepada orang tua dan saudara. Demikian pula terhadap keponakan-keponakan, jangan sampai keponakan Anda tidak bersikap kepada Anda sebagaimana layaknya karena kurangnya keakraban dengan mereka.

  1. Hasad

Hasad sangat mungkin terjadi di antara seseorang dengan saudaranya, sebagaimana saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alaihisslaam yang hasad kepada Nabi Yusuf ‘alaihissalam, karena merasa Nabi Ya’qub ‘alaihissalam lebih sayang kepada Nabi Yusuf ‘alaihissalam daripada yang lainnya.

Terkadang ada anak yang hasad kepada saudaranya karena melihat ayah dan ibunya lebih sayang dan perhatian kepada saudaranya tersebut. Padahal, bisa jadi ayah dan ibunya lebih perhatian kepada saudaranya karena memang saudaranya lebih membutuhkan perhatian daripada dirinya. Kalaupun ternyata benar orang tuanya tidak adil kepadanya, tetap tidak pantas baginya untuk memutuskan silaturahmi, tidak boleh baginya untuk hasad, bahkan seharusnya ia terus berusaha bersabar dan memberi uzur kepada orang tuanya dan saudaranya.

  1. Warisan yang tidak segera dibagi

Ketahuilah, ketika seseorang telah meninggal dunia, maka hartanya menjadi milik ahli waris. Maka, ketika ada harta yang bisa dijual, maka hendaknya segera dijual lalu kemudian dibagikan hasilnya kepada ahli waris.

Pada sebagian kasus, ada orang yang menahan harta warisan orang tuanya dengan dalih bahwa harta tersebut lebih baik diwakafkan untuk orang tuanya, sementara ada saudaranya yang sangat membutuhkan hasil warisan tersebut. Akhirnya, saudaranya tersebut bisa jadi benci kepada saudaranya yang menahan harta warisan tersebut, dan akhirnya silaturahmi terputus.

Pada sebagian kasus, ada orang yang telah memiliki harta yang cukup, sehingga merasa harta warisan orang tuanya tidak perlu untuk diurus, sementara ada saudaranya yang sangat membutuhkan hasil warisan tersebut untuk suatu keperluan. Akhirnya, terputuslah silaturahmi karena benci dengan sikap saudaranya tersebut.

Pada sebagian kasus, bisa jadi tidak ada keributan yang terjadi antar saudara terhadap warisan orang tua mereka, akan tetapi keributan yang terjadi ada pada anak-anak mereka yang saling mengklaim harta tersebut, akhirnya banyak terjadi pemutusan silaturahmi karena saling tidak suka dan tidak setuju.

Intinya, ini beberapa kasus yang seharusnya menyadarkan kita bahwa harta warisan itu hendaknya segera dibagi apabila yang memiliki harta telah meninggal dunia, karena menunda-nunda pembagian harta warisan ini bisa memutuskan silaturahmi.

Inilah sedikit pembahasan kita tentang menyambung dan memutus silaturahmi. Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang senantiasa menyambung silaturahmi.

Footnote:
_____

([1]) HR. Muslim No. 995.

([2]) HR. Bukhari No. 5110.

([3]) HR. Bukhari No. 5983.

([4]) HR. Bukhari No. 6138.

([5]) HR. Bukhari No. 6138.

([6]) HR. Bukhari No. 6138.

([7]) HR. Bukhari No. 5986.

([8]) Hilyah al-Auliya (3/150).

([9]) HR. Bukhari No. 5984

([10]) HR. Ibnu Majah No. 4211, dishahihkan oleh Syekh al-Albani.

([11]) HR. Ahmad No. 10272, dinyatakan Syu’aib al-Arnauth bahwa sanadnya hasan.

([12]) HR. Ibnu Majah No. 971.

([13]) HR. Muslim No. 2554.

([14]) Artinya, ia membalas kebaikan seseorang apabila orang lain berbuat baik kepadanya, dan berbuat buruk apabila orang berbuat buruk kepadanya.

([15]) HR. Bukhari No. 5991.

([16]) HR. Muslim No. 2558.

([17]) HR. Muslim No. 2588.