Untukmu Yang Lagi Sedih #2

Untukmu Yang Lagi Sedih #2

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

  1. Bisa jadi musibah yang menimpa seseorang merupakan sebab terhindarnya dari musibah yang lebih besar

Seseorang yang terkena musibah hendaknya mengingat hal ini, bahwasanya bisa jadi musibah yang menimpanya itu merupakan sebab dia terhindar dari musibah yang lebih besar. Ibnul Qayyim rahimahullah pernah mengatakan bahwa jika kita susah memahami hal ini, lihat kembali kisah Nabi Khadhir yang membunuh seorang anak. Allah ﷻ berfirman dalam surah Al-Kahfi,

فَانْطَلَقَا حَتَّى إِذَا لَقِيَا غُلَامًا فَقَتَلَهُ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا

Maka berjalanlah keduanya hingga ketika keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka dia membunuhnya. Dia (Musa) berkata, ‘Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar’.” (QS. Al-Kahfi: 74)

Lalu di akhir pertemuan Nabi Khadhir dengan Nabi Musa ‘alaihimassalam, Nabi Khadhir menjelaskan,

وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا، فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا

Dan adapun anak itu, kedua orang tuanya mukmin, dan kami khawatir kalau dia akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran. Kemudian kami menghendaki, sekiranya Tuhan mereka menggantinya dengan (seorang anak) lain yang lebih baik kesuciannya daripada (anak) itu dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya).” (QS. Al-Kahfi: 80-81)

Nabi Musa ‘alaihissalam mengingkari perbuatan Nabi Khadhir yang membunuh seorang anak tanpa ada sebab. Namun, kemudian Nabi Khadhir menjelaskan bahwasanya anak tersebut jika dewasa akan menjerumuskan orang tuanya kepada kekufuran. Maka dengan meninggalnya anak tersebut adalah musibah, akan tetapi musibah tersebut mencegah terjadinya musibah yang lebih besar di kemudian hari. Maka, akhirnya Allah ﷻ pun mengganti anak tersebut dengan anak yang lebih baik. Kisah Nabi Musa dan Nabi Khadhir ‘alaihimassalam ini menunjukkan bahwasanya dengan adanya musibah tersebut, Allah ﷻ menghindarkan seseorang dari musibah yang lebih besar.

Contoh kisah lain yang dibawakan oleh para ulama adalah kisah salah seorang panglima Ubaidillah bin Ziyad. Ubaidillah bin Ziyad adalah pemimpin pembunuhan Husain bin Ali bin Abi Thalib. Suatu ketika, panglima Ubaidillah bin Ziyad naik ke atap kemudian dia terjatuh sehingga kedua kakinya patah. Kemudian, dia dijenguk oleh seorang ulama bernama Abu Qilabah, murid dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Abu Qilabah berkata kepada panglima tersebut, ‘Insya Allah ini yang lebih baik yang Allah takdirkan bagimu’. Maka panglima tersebut berkata, ‘Kebaikan apa yang terdapat dalam kedua kakiku yang patah ini?’ Kemudian, beberapa hari berikutnya ada surat panggilan dari Ubaidillah bin Ziyad agar dia keluar untuk memerangi Husain bin Ali. Namun, karena kakinya yang patah, akhirnya dia tidak bisa ikut berperang. Setelah beberapa hari kemudian, dia kemudian mendengar kabar bahwa Husain bin Ali telah terbunuh, maka dia pun berkata, ‘Semoga Allah merahmati Abu Qilabah. Sungguh benar apa yang diucapkannya. Musibah yang kualami benar-benar merupakan kebaikan bagiku’.([1]) Ini menunjukkan bahwasanya musibah yang menimpa seseorang bisa jadi sebagai pencegah dari tertimpa musibah yang lebih besar.

Contoh lain adalah kisah yang sering penulis sampaikan, yaitu kisah seorang menteri yang selalu mengatakan, ‘Yang terbaik adalah pilihan Allah’. Setiap ada musibah, maka menteri tersebut akan datang dan berkata demikian. Sampai akhirnya, ketika sang raja terkena musibah berupa jari yang terpotong, maka sang menteri datang kepada sang raja dan berkata, ‘Yang terbaik adalah pilihan Allah’. Maka sang raja pun marah, akhirnya sang menteri tersebut di masukkan ke dalam penjara. Ternyata, ketika dimasukkan ke dalam penjara, sang menteri pun juga berkata, ‘Yang terbaik adalah pilihan Allah’. Singkat cerita, suatu hari sang raja keluar untuk berburu bersama menteri-menterinya yang lain. Saking asiknya mereka berburu, akhirnya mereka keluar dari daerah kekuasaannya. Akhirnya, mereka terjebak ke suatu kaum yang menyembah roh-roh, dan kaum tersebut menangkap orang untuk dikurbankan kepada sembahan mereka. Akhirnya, sang raja dan seluruh menterinya ditangkap. Maka dibakarlah mereka satu persatu untuk disembahkan kepada sembahan mereka. Namun, ketika sang raja hendak dipersembahkan, tiba-tiba salah seorang dari kaum tersebut berteriak mengatakan bahwa sang raja tidak pantas dipersembahkan untuk sembahan mereka karena memiliki cacat. Akhirnya, sang raja kemudian selamat dan pulang, kemudian dia mengingat pesan menteri yang dia penjarakan, ‘Yang terbaik adalah pilihan Allah’. Maka dia pula dan menemui menterinya tersebut dan menceritakan yang baru saja dia alami. Kemudian sang raja bertanya tentang perkataan sang menteri ketika di masukkan ke dalam penjara, maka sang menteri tersebut berkata bahwasanya kalau dia tidak dipenjara, maka bisa saja dia ikut bersama sang raja untuk berburu, dan dia tentu tidak bisa pulang karena ditangkap oleh kaum tersebut. Namun, kisah ini belum bisa penulis pastikan kebenarannya.

Oleh karenanya, ketika seseorang terkena musibah hendaknya menyadari bahwasanya bisa jadi musibah yang dia alami merupakan pencegah dari musibah yang lebih besar, biak hal itu diketahui atau pun tidak diketahui.

  1. Musibah mengajarkan seseorang untuk bersyukur

Terkadang, seseorang ditimpakan musibah oleh Allah ﷻ agar dia tahu bagaimana cara bersyukur yang benar. Seringnya seseorang tidak tahu bersyukur kecuali setelah diberi musibah. Seseorang terkadang lupa dengan nikmat kesehatan, dan dia baru sadar ketika telah diberi sakit. Pepatah Arab pernah mengatakan,

لَوْ لَمْ تَكُن الْمُصِيبَة لَمَّا كَانَت هُنَاكَ سَعَادَة

Kalau bukan karena musibah, tidak ada yang namanya kebahagiaan.”

  1. Hendaknya beriman dengan takdir

Di antara hal yang bisa meringankan kesedihan seseorang adalah beriman dengan masalah takdir. Ketika seseorang beriman dengan takdir, maka dia tentu akan yakin bahwasanya musibah yang menimpanya tersebut merupakan takdir Allah ﷻ, dan tidak mungkin baginya untuk menghindar.

Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

فَتَعْلَمَ أنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ

Ketahuilah, sesungguhnya yang menjadi bagianmu tidak akan lepas darimu, dan sesuatu yang bukan milikmu maka tidak akan menjadi bagianmu.”([2])

Perkataan Nabi Muhammad ﷺ ini adalah suatu hal yang pasti bagi setiap orang. Yang telah ditakdirkan bagi kita pasti akan menimpa kita, dan yang tidak ditakdirkan tidak akan menimpa kita.

Nabi Muhammad ﷺ juga telah bersabda,

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

Allah telah menentukan takdir bagi semua makhluk lima puluh tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.”([3])

Takdir masing-masing dari kita telah dicatat oleh Allah ﷻ secara detail, dari ketika masih nutfah hingga meninggal dunia, dan masing-masing kita tidak akan keluar dari takdir tersebut.

Seseorang tidak akan bisa menghindar dari musibah yang ditakdirkan baginya. Misalnya, apakah seseorang wanita yang ditinggal mati anaknya, kemudian dia menangis meronta-ronta, apakah bisa menghidupkan anaknya kembali? Tentu tidak bisa. Bagaimana pun seseorang meronta-ronta, marah-marah, tidak akan mengubah kondisi seseorang. Oleh karenanya, seseorang ketika tertimpa musibah, maka hendaknya mengatakan,

قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

Ini sudah takdir Allah dan apa yang dikehendaki-Nya pasti akan dilaksanakan-Nya.”([4])

Maka, musibah itu hanyalah tentang bagaimana sikap seseorang dalam menghadapinya, seseorang tidak bisa menghindarinya. Jika seseorang bersabar menghadapi musibah tersebut maka dia dapat pahala dan derajat yang tinggi di sisi Allah ﷻ, tapi jika dia menghadapinya dengan tidak bersabar, maka dia akan mendapat dosa. Dengan meyakini hal ini, seseorang tentu bisa lebih mudah untuk bersabar untuk menghadapi musibah yang dia hadapi.

  1. Melatih diri untuk bersabar

Jika seseorang mendapati dirinya adalah orang yang kurang bersabar, maka hendaknya dia melatih dirinya untuk bersabar, karena jika dia melatih dirinya untuk bersabar maka dia tentu akan menjadi orang yang penyabar. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ

Barang siapa berusaha sabar maka Allah akan menjadikannya sabar.”([5])

Ketika seseorang tertimpa musibah, kemudian ada rasa ingin memberontak dalam dirinya, ingin marah, ingin berteriak, maka hendaknya dia dengan segera mengucapkan, قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ ‘Ini sudah takdir Allah dan apa yang dikehendaki-Nya pasti akan dilaksanakan-Nya’, dan dia kemudian mengucapkan,

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)

Latihlah diri kita untuk bersabar dengan mengucapkan kalimat tersebut ketika pertama kali tertimpa musibah atau ada masalah, dengan begitu kita akan benar-benar bisa bersabar. Ketahuilah bahwasanya kalimat tersebut adalah kalimat yang luar biasa, dengan mengucapkannya bisa membuat hati kita langsung tenang.

  1. Perbanyak zikir kepada Allah

Di antara hal yang bisa mengurangi kesedihan kita dan membantu kita dalam bersabar adalah dengan memperbanyak zikir kepada Allah ﷻ. Hal ini sebagaimana Allah ﷻ perintahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Allah ﷻ berfirman,

فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُوْلُوْنَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوْبِهَا

“Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam.” (QS. Qaf: 39)

Nabi Muhammad ﷺ dikatakan sebagai orang yang gila, dikatakan sebagai pemutus silaturahmi, dikatakan sebagai dukun, bahkan orang-orang kafir Quraisy mengatakan tentang Allah sesuatu yang membuat hati beliau jengkel. Namun, apa yang Allah ﷻ perintahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ? Beliau diperintahkan untuk bersabar dan berzikir kepada Allah ﷻ di subuh dan petang hari. Ini menunjukkan bahwasanya zikir itu bisa menghilangkan kesedihan.

Demikian pula firman Allah ﷻ,

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ، فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ، وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sungguh, Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah engkau di antara orang yang bersujud (salat), Dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu.” (QS. Al-Hijr: 97-99)

Nabi Muhammad ﷺ ketika dikatakan dengan perkataan yang buruk tentu merasakan sakit hati. Bahkan Allah ﷻ sendiri yang mengatakan dalam ayat tersebut bahwasanya Dia tahu kalau hati Nabi Muhammad ﷺ menjadi sempit (sakit) karena ucapan-ucapan orang-orang musyrikin. Namun, Allah ﷻ memberikan solusi dengan berzikir kepada Allah ﷻ dan memperbanyak sujud kepada Allah ﷻ (salat).

Oleh karenanya, di antara hal yang bisa meringankan kesedihan adalah dengan memperbanyak zikir dan sujud kepada Allah ﷻ. Keluhkan segala permasalahan yang kita hadapi kepada Allah ﷻ. Hendaknya kita berusaha mencapai yang namanya ‘Shabrun jamil’, yaitu kesabaran yang tidak disertai dengan keluhan terhadap makhluk. Adapun mengeluhkan permasalahan kepada Allah tidak mengapa, dan itulah kebiasaan para nabi. Nabi Muhammad ﷺ mengeluhkan permasalahan beliau kepada Allah ﷻ. Nabi Ya’qub juga mengeluhkan kesedihannya kepada Allah ﷻ dengan berkata,

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

“Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86)

Demikian juga Nabi Zakaria yang mengeluh kepada Allah ﷻ dengan berkata,

رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

“Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku.” (QS. Maryam: 4)

Perbanyaklah mengingat Allah ﷻ ketika diri sedang dirundung kesedihan. Allah ﷻ berfirman,

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Sungguh, di zaman ini seseorang sangat mudah terpengaruh untuk mengeluhkan masalahnya ke media-media sosial. Ketika ditimpa masalah dan dirundung kesedihan, seseorang kemudian mengeluh dan menceritakan masalahnya kepada orang lain di media-media sosial. Coba renungkan, apa faedah dari mengeluh kepada manusia? Tidak ada. Orang-orang yang melihat keluhan Anda pun belum tentu akan membantu Anda, dan bahkan mungkin akan balik mengejek Anda. Betapa banyak orang yang mengeluh kepada manusia tidak mendapatkan apa-apa, bahkan yang timbul kemudian hanyalah kekecewaan karena tidak mendapatkan apa yang dia harapkan dari orang-orang.

Maka dari itu, ingatlah bahwa hanya dengan mengeluhkan masalah kepada Allah-lah kesedihan seseorang bisa hilang. Perbanyak berzikir, di antaranya dengan membaca Al-Qur’an, karena Nabi Muhammad ﷺ juga telah bersabda,

اللَّهُمَّ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي وَنُورَ صَدْرِي، وَجِلَاءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي

Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya di dadaku, penghilang kesedihanku, dan penghilang keresahanku.”([6])

  1. Jangan terlalu mengingat masa lalu

Di antara nasihat untuk kita yang sedang bersedih adalah jangan kembali mengingat masa lalu. Ketahuilah, dengan bernostalgia dengan masa lalu, hal tersebut hanya akan memperbarui kesedihan. Mengingat masa lalu hingga menjadikan seseorang sedih adalah keinginan setan. Allah ﷻ telah berfirman,

إِنَّمَا النَّجْوَى مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا

“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu termasuk (perbuatan) setan, agar orang-orang yang beriman itu bersedih hati.” (QS. Al-Mujadalah: 10)

Ketika orang-orang beriman sedih, dan kesedihannya berlebih-lebihan, akhirnya banyak perkara yang tidak bisa dia kerjakan. Misalnya, seorang wanita yang sedih berlebih-lebihan karena anaknya meninggal, maka dia akan susah untuk mengurus rumahnya, perhatian kepada suaminya berkurang, akan jarang lagi ikut pengajian, akan jarang membaca Al-Qur’an, karena kerjanya hanya menangis.

Oleh karenanya, segala hal dari masa lalu yang bisa membuat kita memperbarui kesedihan hendaknya tidak diingat kembali. Untuk apa kita menjebak diri kita pada kesedihan lalu yang tidak akan bisa kita perbaiki?

  1. Menghadiri majelis ilmu

Di antara hal yang bisa menenangkan hati yang lagi sedih adalah dengan mendatangi majelis ilmu. Hadirilah majelis-majelis ilmu tentang tawakal, tentang sabar, dan juga tentang tauhid. Dengan menghadiri majelis-majelis ilmu, kita akan tahu bagaimana Allah ﷻ menetapkan sesuatu dengan hikmah-Nya, bagaimana Allah ﷻ memuji orang-orang yang sabar, dan bahkan dari majelis tersebut kita bisa mengetahui bagaimana kisah ujian orang-orang terdahulu, sehingga kita menyadari bahwa ujian kita belum ada bandingannya dengan ujian-ujian mereka.

  1. Berusaha membantu dan berbuat baik kepada orang lain

Di antara hala yang bisa mengurangi kesedihan kita adalah dengan berusaha membantu orang lain. Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah pernah berkata bahwasanya ada dua pokok kebahagiaan seseorang, yaitu ikhlas karena Allah ﷻ dan berbuat baik kepada orang lain.([7])

Jika di antara kita ingin bahagia, ikhlas dan berbuat baik kepada orang lain. Berusahalah untuk ikhlas dalam segala hal karena Allah ﷻ, bukan karena mencari komentar manusia, bukan karena kepentingan duniawi. Kemudian, berbuat baiklah kepada orang lain, karena setiap kali kita berbuat baik kepada orang lain maka Allah ﷻ akan menaruh kebahagiaan dalam hati kita. Allah ﷻ berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, ‘Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,’ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu,’ maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Teliti apa yang kamu kerjakan.” (QS. AL-Mujadalah: 11)

Para ulama menyebutkan bahwasanya yang di antara kelapangan yang dimaksud adalah kelapangan dada, yaitu kebahagiaan. Misalnya, ketika sedang salat Jumat, kemudian kita dapati ada orang yang sedang mencari tempat, kemudian Anda memanggilnya dan mengajaknya berdiri di samping Anda karena masih ada tempat, maka Allah ﷻ akan memberikan kebahagiaan kepada Anda.

Orang yang paling berbahagia adalah Nabi Muhammad ﷺ, karena beliau senantiasa memberikan bantuan kepada orang lain. Setiap kali ada orang yang membutuhkan bantuan kepada beliau, maka beliau pun bantu sesuai dengan kesanggupan beliau.

Oleh karenanya, berbuat baik kepada orang lain pasti akan mendatangkan kebahagiaan. Maka, ketika kita sedang bersedih, jangan lupa untuk membantu orang lain, atau bahkan membahagiakan orang lain, niscaya kesedihan tersebut akan dikurangi oleh Allah ﷻ, dan bahkan Allah ﷻ akan memberikan kebahagiaan kepada kita.

  1. Melakukan apa yang kita senangi

Di antara perkara yang disebutkan oleh para ulama, bahwa ada hal-hal materi yang bisa membantu kita untuk meringankan kesedihan, dan bahkan bisa membuat kita bahagia, yaitu dengan melakukan apa yang kita senangi.

Misalnya, ada orang yang ketika makan nasi padang sudah bisa bahagia, maka tidak mengapa baginya untuk makan makanan tersebut. Atau ada orang yang ketika melihat alam yang hijau bisa membuatnya bahagia, maka tidak mengapa dia pergi ke tempat-tempat rekreasi alam. Atau ada orang yang ketika bertemu temannya bisa menjadikannya bahagia, maka boleh baginya untuk pergi bertemu dengan temannya tersebut.

Selain itu, hendaknya seseorang menghindari hal-hal yang bisa mendatangkan kesedihan bertambah. Misalnya, hindari bertemu dengan orang-orang yang suka gibah, hindari pertemuan yang membicarakan hal-hal yang menakutkan, dan yang lain-lain. Itu semua hendaknya dihindari, dan berusaha mengganti suasana yang bisa mendatangkan kebahagiaan.

  1. Meringankan musibah

Di antara hal yang bisa membuat kesedihan berkurang ketika tertimpa musibah adalah dengan meringankan kesedihan tersebut. Meringankan musibah bisa dengan dua cara:

Pertama: Mengingat musibah yang lebih berat

Misalnya seseorang terkena musibah berupa irisan pisau di jarinya, maka kemudian dia bersyukur bahwasanya hal tersebut bukan menimpa bibirnya, matanya, atau bahkan yang lebih parah daripada itu. Hal tersebut pasti akan mengurangi kesedihan kita atas musibah yang menimpa. Dengan begitu, seseorang bisa sadar bahwasanya nikmat yang Allah ﷻ berikan kepadanya jauh lebih banyak daripada musibah yang mungkin sesekali saja menimpanya.

Begitu banyak nikmat Allah ﷻ yang seharusnya menjadikan kita bersyukur jika dibandingkan dengan satu musibah yang menimpa kita. Bisa jadi kita masih mendapatkan nikmat berupa masih bisa membaca Al-Qur’an, nikmat masih bisa ke masjid, nikmat masih bisa sujud, nikmat masih bisa melihat berbagai macam keindahan, dan yang lainnya. Adapun ketika satu kenikmatan diambil oleh Allah ﷻ maka tidak mengapa, masih banyak kenikmatan lain yang masih bisa dirasakan.

Kedua: Melihat orang yang mendapatkan musibah yang lebih berat

Di antara cara meringankan musibah yang kita alami adalah dengan melihat orang yang mendapatkan musibah yang lebih berat daripada kita. Cobalah kita tengok kepada negara-negara lain yang sedang terkena musibah. Betapa banyak orang-orang yang terpisah dengan keluarganya gara-gara perang yang terjadi. Adapun negara kita jauh lebih aman, kita masih bisa ke mana-mana dengan aman, bisa pengajian dengan aman, masih bisa menjenguk keluarga dengan aman, dan berbagai kenikmatan lainnya.

Seseorang yang hanya bisa naik motor ke mana-mana, hendaknya dia melihat orang-orang yang tidak memiliki motor. Seseorang yang hanya bisa mengendarai sepeda ke mana-mana, hendaknya dia melihat orang-orang yang hanya bisa berjalan kaki karena tidak memiliki kendaraan. Seseorang yang hanya bisa berjalan kaki, hendaknya dia melihat orang-orang yang tidak bisa berjalan kecuali dengan kursi roda karena tidak memiliki kaki, dan bahkan ada orang yang hanya di rumahnya tidak bisa ke mana-mana. Oleh karenanya, ketika kita tertimpa musibah, maka sadarilah bahwasanya ada orang-orang yang tertimpa musibah yang lebih berat daripada kita. Dengan begitu, kesedihan kita akan semakin berkurang, dan bahkan bisa jadi kita akan jadi lebih bersyukur.

Ketiga: Senantiasa optimis

Di antara hal yang akan mengurangi musibah yang kita alami adalah dengan optimis bahwasanya berapa lama pun musibah ini kita lalui, pasti ada jalan keluarnya. Allah ﷻ telah berfirman,

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

 “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 6)

Kita tentu paham bahwa cuaca tidak selalu dingin, akan datang cuaca panas. Bahkan, kegelapan yang semakin gelap di malam hari akan berujung terangnya mentari pagi. Oleh karenanya, hendaknya kita senantiasa optimis dengan musibah yang kita alami, bahwasanya jalan keluar itu pasti ada, seseorang tidak akan terus berada dalam suatu musibah. Yang namanya kesedihan akan berlalu dan tinggal cerita, dan kemudian akan berganti menjadi kebahagiaan.

Inilah beberapa nasihat bagi siapa saja di antara kita yang bersedih. Yang terpenting, ketika seseorang di antara kita ditimpa musibah, maka hendaknya kita bersabar. Seorang penyair pernah berkata,

“Allah telah menyiapkan istana di surga, isinya adalah kesedihan dan kegelisahan, dipagari dengan penderitaan, dan yang bisa masuk hanyalah orang yang membaca kunci kesabaran.”

Ingatlah bahwasanya tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak diuji, tentunya dengan ujian yang berbeda-beda, hanya saja tinggal bagaimana sikap kita dalam menghadapi ujian tersebut. Kemudian ingatlah bahwa imanlah yang mempengaruhi sikap seseorang dalam menyikapi ujian, maka hendaknya kita senantiasa memperbarui iman kita agar bisa menghadapi ujian dan musibah dengan cara yang Allah ﷻ ridai.

Footnote:
________

([1]) Lihat: Shifah ash-Shafwah, karya Ibnul Jauzi (2/140-141).

([2]) HR. Ibnu Majah No. 77, dinyatakan sahih oleh Syaikh Al-Albani.

([3]) HR. Muslim No. 2653.

([4]) HR. Muslim No. 2664.

([5]) HR. Bukhari No. 6470.

([6]) Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah No. 199, hadis tersebut sahih.

([7]) Lihat: Tafsir As-Sa’di (hlm. 883).