Untukmu Yang Lagi Sedih #1

Untukmu Yang Lagi Sedih #1

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Topik yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini adalah tentang beberapa renungan dan nasihat kepada mereka yang sedang bersedih.

Perlu untuk kita ingat kembali bahwasanya kehidupan dunia ini berisi dengan ujian-ujian. Allah ﷻ telah menekankan hal ini dalam banyak firman-Nya di dalam Al-Qur’an. Di antaranya Allah ﷻ berfirman,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“(Dialah Allah) yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Demikian juga firman Allah ﷻ,

هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا، إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Bukankah pernah datang kepada manusia waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. Al-Insan: 1-2)

Oleh karenanya, setiap orang di atas muka bumi ini harus sadar bahwasanya dia diciptakan memang untuk diuji oleh Allah ﷻ. Tidak ada seorang pun di atas muka bumi ini yang tidak diuji oleh Allah ﷻ.

Kita tentu tahu dan sadar bahwasanya semua orang pernah bersedih, atau bahkan sebagian dari kita mungkin sedang bersedih saat ini. Kesedihan tersebut tentu datang dengan sebab berbagai macam ujian. Ada orang yang diuji dengan harta yang sulit, ada orang yang diuji dengan badannya yang sakit atau cacat. Ada pula yang diuji dengan belum dikaruniai anak sementara telah menikah bertahun-tahun, dan bahkan ada yang diuji dengan anak yang banyak namun tidak taat kepada mereka. Ada pula sebagian wanita yang menangis karena belum mendapatkan pasangan di usianya yang semakin lanjut, sementara di sisi yang lain ada pula wanita yang sedang bersedih karena mendapatkan suami yang selalu membuatnya menangis.

Demikianlah yang namanya kehidupan, pasti akan dihiasi dengan berbagai macam ujian yang menimpa setiap orang di atas muka bumi ini. Hanya saja, setiap orang memiliki ujian yang berbeda-beda, ada yang sedikit dan ada yang banyak.

Ingatlah, bahwasanya yang diuji bukan hanya orang-orang miskin, akan tetapi orang kaya juga diuji, para pejabat juga diuji, bahkan bisa jadi ujian mereka lebih besar daripada kita, bisa jadi tangisan mereka lebih banyak daripada kita. Betapa sering mungkin kita melihat foto para pejabat yang tersenyum, akan tetapi mungkin kita melihat senyumannya tersebut penuh dengan keterpaksaan. Mengapa demikian? Karena di balik senyuman tersebut dia banyak menyimpang berbagai macam penderitaan.

Demikian pula, orang-orang saleh maupun yang tidak saleh juga diuji. Bahkan Allah ﷻ menjanjikan ujian yang lebih berat bagi orang-orang yang beriman. Allah ﷻ berfirman,

الم، أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ، وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Alif Lam Mim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut: 1-3)

Demikian juga Allah ﷻ berfirman,

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)

Demikian juga sabda Nabi Muhammad ﷺ dari pertanyaan seseorang tentang siapa manusia yang paling berat ujiannya, maka Nabi Muhammad ﷺ menjawab,

الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الصَّالِحُونَ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ، فَالْأَمْثَلُ مِنَ النَّاسِ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صَلابَةٌ زِيدَ فِي بَلائِهِ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ خُفِّفَ عَنْهُ، وَمَا يَزَالُ الْبَلاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَمْشِيَ عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ لَيْسَ عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Para Nabi, lalu orang-orang saleh, kemudian orang yang paling mulia dan yang paling mulia dari manusia. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya, jika agamanya kuat maka akan ditambah ujiannya, dan jika agamanya lemah maka akan diringankan ujiannya. Tidaklah ujian itu berhenti pada seorang hamba sampai dia berjalan di muka bumi tanpa dosa.”([1])

Subhanallah, Allah ﷻ menakdirkan Nabi Muhammad ﷺ adalah orang yang paling banyak ujiannya, bahkan mungkin segala bentuk ujian hampir beliau rasakan. Lihatlah, sejak kecil beliau sudah diuji, beliau lahir tanpa ayah, dan ibunya meninggal tidak lama setelah kelahirannya. Beliau ﷺ juga hidup sejak kecil dalam kondisi serba kekurangan, sehingga beliau akhirnya menggembala kambing. Rumah beliau sempit, bahkan sempat beberapa bulan tidak ada yang bisa di masak di rumah beliau.

Selain itu, ujian fisik dan mental juga beliau ﷺ alami. Beliau dilukai oleh kaumnya sendiri ketika berdakwah, beliau dihina dan dicaci sebagai pendusta, tukang sihir, dukun, pemutus silaturahmi, bahkan beliau juga dihina dengan julukan sebagai orang gila. Intinya, segala julukan terburuk pada zaman tersebut, semuanya ditempelkan kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Selain itu, Nabi Muhammad ﷺ juga diuji dari sisi kehilangan. Beliau kehilangan Khadijah radhiallahu ‘anha, istri yang sangat beliau cintai, bahkan beliau kehilangan istri tercintanya tersebut di saat beliau sangat membutuhkan istrinya. Selain itu, Nabi Muhammad ﷺ diuji dengan meninggalnya seluruh anak-anaknya kecuali Fatimah radhiallahu ‘anha.

Intinya, semua jenis ujian hampir dirasakan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Beliau ketika sakit, beliau merasakan sakit dua kali lipat dari orang biasa.([2]) Beliau juga diracun, bahkan beliau meninggal karena sisa racun yang masih tersisa di dalam tubuh beliau.

Mungkin bisa kita katakan bahwa hanya satu ujian yang tidak dialami oleh Nabi Muhammad ﷺ, yaitu beliau tidak cacat fisik. Mengapa demikian? Karena beliau adalah seorang nabi, dan tidak pantas bagi seorang nabi adalah orang yang cacat, sebab akan menjadi bahan hinaan bagi orang-orang musyrikin.

Ketika kita tertimpa musibah, maka hendaknya kita ingat bahwasanya masih ada orang yang lebih bertakwa, yang lebih alim, yang menjadi teladan seluruh umat, ternyata kehidupannya penuh dengan musibah, dialah Nabi Muhammad ﷺ.

Nasihat-nasihat

Ada beberapa nasihat yang perlu kita sama-sama ingatkan, agar bisa meringankan beban kesedihan yang dialami oleh kita yang sedang bersedih.

  1. Ujian merupakan tabiat kehidupan

Demikianlah, yang namanya kehidupan pasti berisi ujian, sebagaimana telah kita sebutkan. Allah ﷻ telah berfirman,

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)

Manusia diciptakan dalam keadaan susah payah yang tidak ada hentinya. Lahir dalam kondisi menangis dan mungkin ditimpa dengan sakit. Setelah dewasa, harus bekerja mencari nafkah, harus melewati teriknya panas matahari, belum lagi ketika harus mendapat marah dari atasannya. Ketika hendak menikah, seseorang harus memiliki biaya yang mungkin tidak sedikit, sehingga harus bekerja lebih keras lagi dari biasanya. Setelah siapa menikah, bisa jadi lamarannya ditolak atau ternyata tidak merasa cocok. Jika telah menikah, belum tentu dia mendapat pasangan yang saleh atau salihah, bisa jadi pasangannya hanya menambah penderitaan hidupnya. Setelah memiliki anak-anak, bisa jadi anak-anaknya tumbuh tanpa tahu rasa berterima kasih, hanya bisa menuntut kepada orang tuanya. Setelah tua, bisa jadi dia melihat pasangannya meninggal terlebih dahulu, atau bahkan dia melihat anak-anaknya meninggal terlebih dahulu.

Ini semua adalah kondisi-kondisi yang menunjukkan bahwa setiap orang memang diciptakan di atas kepayahan. Oleh karenanya, ketika Imam Ahmad ditanya tentang kapan seseorang istirahat, maka beliau menjawab bahwa seseorang baru bisa beristirahat ketika telah menginjakkan kakinya di surga.

Siapakah di antara kita yang tidak mengalami kesusahan? Bahkan orang yang dianggap hidup dengan kekayaannya pun terkadang merasa susah dengan kekayaannya. Mereka pusing ketika pendapatan menurun, pusing ketika harus membayarkan THR seluruh karyawannya. Demikian pula presiden, pejabat negara beserta jajarannya juga tentu merasa susah dan gelisah.

Demikianlah kehidupan, segala isinya adalah ujian yang penuh dengan kesulitan dan kepayahan, dan semua orang pasti mengalaminya. Oleh karenanya, janganlah kita berangan-angan untuk bisa terlepas dari ujian, hanya saja bedanya ada orang yang ujiannya banyak, dan ada yang ujiannya sedikit.

Imam Asy-Syafi’i pernah berkata dalam syairnya,

مِحَنُ الزَمانِ كَثيرَةٌ لا تَنقَضي وَسُرورُهُ يَأتيكَ كالأَعيادِ

Cobaan zaman banyak datang silih berganti, adapun kesenangan datang hanya sesekali saja seperti hari Id.”

Ini menunjukkan bahwa ulama sekelas Imam Syafi’i sendiri juga merasakan begitu banyak ujian kehidupan. Maka sudah seharusnya kita sadar bahwasanya dunia ini isinya adalah ujian.

  1. Mengingat bahwasanya yang memberi ujian adalah Allah

Ketahuilah bahwasanya Allah ﷻ dengan sengaja menimpakan musibah kepada seseorang dengan hikmah yang Dia kehendaki. Allah ﷻ dengan hikmahnya memilih di antara kita uji dengan ujian tertentu, dan Allah ﷻ tahu bahwasanya ujian tersebut bisa untuk kita hadapi.

Ingatlah, ketika di antara kita ada yang diuji dengan kehilangan anaknya, atau kehilangan barang berharga, atau terluka, atau bahkan mungkin diuji dengan harus bercerai dengan pasangannya, maka tentu Allah ﷻ tahu bahwa ujian tersebut pantas untuk kita, dan kita bisa menghadapinya.

Terkadang, Allah ﷻ menguji seseorang dengan berbagai macam ujian seperti yang dialami oleh Nabi Muhammad ﷺ. Namun, sebagian orang lain mungkin hanya diberi satu ujian saja sampai akhir hayatnya, seperti kemiskinan. Mengapa demikian? Karena Allah ﷻ tahu bahwa dia mampu menghadapi ujian tersebut, dan Allah juga tahu ketika dia diberi ujian yang lain maka dia tidak mampu, sehingga Allah ﷻ hanya memberinya satu jenis ujian hingga di meninggal dunia.

Ketika seseorang telah menyadari hal ini semua, maka tentu dia akan rida dengan keputusan Allah ﷻ, terlebih lagi ketika menyadari bahwa yang menakdirkan semua musibah tersebut adalah Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang Dia lebih sayang kepada hamba-Nya daripada sayangnya seorang ibu kepada anaknya.

Allah ﷻ telah berfirman,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Ketika kita sudah yakin bahwasanya Allah ﷻ tidak menakdirkan sesuatu di luar kemampuan kita, melainkan Allah ﷻ menguji sesuai dengan kadar keimanan kita, maka yang perlu kita lakukan hanyalah tegar, bersabar, dan berdoa, dengan demikian dengan izin Allah ﷻ kita bisa menghadapi ujian tersebut.

  1. Ujian yang datang bukan untuk membinasakan seseorang

Setiap kita harus menyadari bahwa ketika Allah ﷻ memberikan ujian kepada kita, maka ujian tersebut bukan untuk membinasakan kita, melainkan Allah ﷻ ingin melihat dengan ujian tersebut bagaimana cara kita menghadapi ujian tersebut.

Ketika seseorang diuji dengan sebuah ujian, maka Allah ﷻ ingin melihat apakah kita bersabar menghadapi ujian tersebut, ataukah kita mengeluh sehingga akhirnya tidak mendapatkan pahala dari Allah ﷻ.

Para ulama sering menyampaikan bahwasanya ujian itu fungsinya seperti obat, pahit tapi harus diminum, dan jika seseorang tidak menghadapinya dengan kesabaran, maka seseorang tidak akan mendapatkan kesembuhan.

  1. Di antara hikmah ujian adalah karena Allah ingin melihat seorang hamba beribadah dengan berbagai macam ibadah

Ketika Allah ﷻ ingin melihat seseorang beribadah dengan ibadah syukur, maka Allah ﷻ memberi ujian berupa kenikmatan. Namun, terkadang Allah ﷻ memberikan seseorang musibah agar Allah ﷻ melihat bagaimana orang tersebut beribadah kepada Allah ﷻ dalam kondisi sulit.

Sangat sering kita lihat bahwa orang yang terkena musibah itu beribadah dengan berbagai macam ibadah, yang mungkin ibadah tersebut tidak dilakukan oleh orang yang mendapatkan kenikmatan.

Seorang yang diuji biasanya benar-benar bertawakal kepada Allah ﷻ, kalau berdoa dia menangis, selalu bangun salat malam, dan berbagai ibadah lainnya. Adapun orang yang mendapatkan kenikmatan, jarang ada yang berdoa dalam keadaan menangis, mungkin sedikit dari mereka yang bangun salat malam, dan mungkin sedikit dari mereka yang bertawakal.

Ibadah yang keluar dari hati seseorang yang sedang diuji dengan musibah itu sangat luar biasa, sehingga hasilnya adalah ibadah yang berbagai macam. Oleh karenanya, terkadang ada orang yang berdoa kepada Allah ﷻ untuk dilunasi utangnya, namun ternyata Allah ﷻ belum melunaskan utangnya. Mengapa demikian? Karena bisa jadi ketika utangnya dilunaskan, maka bisa saja dia berhenti berdoa kepada Allah ﷻ, tidak lagi salat malam. Bahkan, bisa jadi Allah ﷻ menambah utangnya hingga semakin terjepit, hingga akhirnya dia benar-benar tahu apa arti tawakal.

Oleh karenanya, dengan adanya ujian dan penderitaan, Allah ﷻ ingin melihat seorang hamba beribadah dengan berbagai macam model ibadah, ada ibadah syukur dan ada ibadah sabar.

Lihatlah Nabi Muhammad ﷺ, beliau beribadah dengan bersyukur dan juga beribadah dengan bersabar. Demikian pula Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, beliau adalah orang yang super kaya raya, dipenuhi dengan berbagai macam kenikmatan, ternyata beliau juga pernah diuji oleh Allah ﷻ. Demikian pula Nabi Ayub ‘alaihissalam, beliau pernah diberikan kenikmatan, dan juga pernah diberikan sakit yang tidak sebentar.

  1. Seseorang yang bersabar ketika diuji maka dia sedang berada dalam kebaikan

Ketika Anda diuji oleh Allah ﷻ dengan suatu ujian, kemudian Anda bersabar menghadapi ujian tersebut, maka ketahuilah bahwa Anda berada di dalam kebaikan. Akan tetapi, ketika Anda mengeluh dan protes terhadap ujian yang Anda alami, maka Anda telah keluar dari kebaikan.

Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah kebaikan, dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mukmin. Apabila ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya, dan apabila ia tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya.”([3])

Oleh karenanya, ketika Anda yang diberi ujian itu bersabar, maka sesungguhnya Anda sedang berada di lautan kebaikan. Kebaikan akan senantiasa mengalir bagi Anda yang bersabar, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis tersebut.

Nabi Muhammad ﷺ juga telah bersabda,

مَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ يُصَابُ بِبَلَاءٍ فِي جَسَدِهِ، إِلَّا أَمَرَ اللهُ تَعَالَى الْحَفَظَةَ الَّذِينَ يَحْفَظُونَهُ، قَالَ: اكْتُبُوا لِعَبْدِي فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ مِثْلَ مَا كَانَ يَعْمَلُ مِنَ الْخَيْرِ، مَا دَامَ مَحْبُوسًا فِي وَثَاقِي

Tidaklah salah seorang dari kaum muslimin yang terkena musibah pada tubuhnya kecuali Allah akan menyuruh kepada para malaikat yang selalu menjaganya, Allah berfirman, ‘Tulislah untuk hamba-Ku di setiap siang dan malam dengan amal kebaikan sebagaimana amal kebaikan yang biasa ia lakukan, yaitu selama ia terpenjara oleh sakit yang Aku berikan’.”([4])

Di antara dalil lain yang menunjukkan bahwa orang yang diuji dan bersabar akan senantiasa berada di dalam kebaikan adalah sabda Nabi Muhammad ﷺ,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

Barang siapa di kehendaki Allah kebaikan, maka Dia akan mengujinya.”([5])

Hadis ini menunjukkan bahwa tanda seseorang di atas kebaikan adalah dengan Allah ﷻ berikan musibah baginya, dan tentunya dengan berbagai macam musibah yang berbeda-beda bagi setiap orang.

Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda dalam hadis yang lain,

إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

Sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka.”([6])

Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ العُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ القِيَامَةِ

Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya, maka Allah menyegerakan hukumannya di dunia, dan apabila Allah menghendaki keburukan kepada hamba-Nya maka Allah menahan dosanya sehingga dia terima kelak di hari kiamat.”([7])

Ini menunjukkan bahwa orang yang bersabar dengan musibah yang dia hadapi, maka dia senantiasa berada di dalam kebaikan, dan pahala akan terus dia dapatkan seperti air yang mengalir. Namun, ketika seseorang mengeluh atau protes terhadap takdir Allah ﷻ, maka saat itulah pahala akan berhenti. Oleh karenanya, ketika terbetik dalam hati Anda bahwa mengapa ujian ini tidak selesai, maka hendaknya Anda lawan perasaan tersebut, karena perasaan tersebut berasal dari setan yang ingin kita tidak berada di dalam kebaikan.

  1. Terkadang musibah diberikan untuk mengangkat derajat seseorang di surga

Di antara hal yang perlu kita renungkan adalah terkadang Allah ﷻ memberi musibah kepada kita tidak lain untuk mengangkat derajat kita di surga kelak. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ لِيَكُونُ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ الْمَنْزِلَةُ، فَمَا يَبْلُغُهَا بِعَمَلٍ فَمَا يَزَالُ اللَّهُ يَبْتَلِيهِ بِمَا يَكْرَهُ، حَتَّى يُبَلِّغَهُ إِيَّاهَا

Sesungguhnya seseorang benar-benar memiliki kedudukan di sisi Allah, namun Allah tidak bisa mengangkat dia kepada kedudukan tersebut dengan amal salehnya, maka Allah terus memberinya ujian dengan perkara yang dia tidak suka, hingga Allah menyampaikan dia pada kedudukan (derajat) tersebut.”([8])

Siapakah di antara kita yang mengetahui berapa banyak amal saleh yang dia miliki? Padahal kalau kita merenungkan, maka kita mendapati bahwa diri kita ini jarang membaca Al-Qur’an, jarang salat malam, sedekah masih dipikir-pikir, berbakti kepada orang tua juga jarang, berbuat baik kepada istri kurang, lisan jarang basah dengan zikir, dan berbagai kekurangan lainnya.

Intinya, kalau kita mau mengalkulasi ibadah kita, maka pasti kita dapatkan ibadah kisa sangat sedikit. Oleh karenanya, ketika kita menginginkan derajat yang tinggi dengan amal yang sedikit tersebut adalah sesuatu yang tidak mungkin. Maka, tidak ada cara lain untuk menggapai derajat tersebut kecuali dengan diberi musibah, karena di balik musibah tersebut ada banyak ibadah yang mau tidak mau pasti akan kita lakukan, baik itu bersabar, kerendahan diri, kesedihan di hadapan Allah, inabah, dan bahkan menangis dalam sujud. Ibadah-ibadah tersebutlah yang kemudian mengangkat derajat seorang hamba kepada derajat yang tinggi.

Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda dalam riwayat yang lain,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ، لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ، أَوْ فِي مَالِهِ، أَوْ فِي وَلَدِهِ، ثُمَّ صَبَّرَهُ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى يُبْلِغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِي سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى

Sesungguhnya, apabila seorang hamba telah tercatat memiliki kedudukan di sisi Allah, yang ia tidak bisa peroleh dengan amalannya, maka Allah akan mengujinya pada jasadnya, harta, atau pada anaknya, kemudian Allah memberikan kesabaran atas hal tersebut hingga Allah menyampaikannya kepada kedudukan yang telah tercatat baginya dari Allah.”([9])

Oleh karenanya, ketika seseorang diuji oleh Allah ﷻ mengingat hal ini, yaitu bahwasanya amalan yang dimiliki bisa jadi masih sangat sedikit, sehingga bisa jadi musibah yang dialamilah yang bisa mengangkat derajatnya di akhirat kelak.

  1. Musibah itu penghapus dosa

Untuk Anda yang sedang bersedih karena ujian yang menerpa, ingatlah bahwasanya ujian yang Anda alami adalah penghapus dosa-dosa. Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ، وَلَا نَصَبٍ، وَلَا سَقَمٍ، وَلَا حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ، إِلَّا كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ

Tidaklah sesuatu penderitaan menimpa seorang mukmin, baik kesengsaraan, sakit, kesedihan masa lalu dan juga kekhawatiran terhadap yang akan menimpanya, melainkan dengan semua itu dihapuskan sebagian dosanya.”([10])

Dalam riwayat yang lain Nabi Muhammad ﷺ menambahkan,

وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ مِنْ خَطَايَاهُ

Dan tidak pula gangguan dan kesusahan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya.”([11])

Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

مَا يَزَالُ البَلَاءُ بِالمُؤْمِنِ وَالمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Ujian senantiasa menimpa seorang mukmin dan mukminat pada diri mereka, anak dan harta mereka, hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu kesalahan pun atasnya.”([12])

Jika suatu penderitaan menimpa seorang mukmin, baik itu sakit seperti demam, keletihan, kesedihan akan masa lalu, kekhawatiran akan masa depan, kegelisahan yang tidak tampak sebabnya, gangguan orang lain berupa celaan dan hinaan, dan duri yang mengenainya, maka itu semua bisa menghapus dosa-dosa seseorang.

Wahai saudaraku, kita ini memiliki banyak dosa. Kalau orang-orang terdahulu berlindung dari dosa dengan tetap tinggal di rumahnya, namun kita di zaman ini malah bisa berbuat dosa di dalam rumah kita.

Oleh karenanya, ketika seseorang diberi ujian berupa musibah, maka hendaknya dia bersabar, karena bisa jadi ujian yang terus menerpa itu tidak lain agar seseorang bisa berjalan di atas muka bumi tanpa dosa sedikit sama sekali.

Tentunya, jangan kemudian seseorang meminta untuk diberi musibah. Nabi Muhammad ﷺ pernah mengisyaratkan akan hal ini dalam sabdanya,

لاَ تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ العَدُوِّ، وَسَلُوا اللَّهَ العَافِيَةَ

Jangan kalian mengharapkan bertemu musuh, dan mintalah keselamatan kepada Allah.”([13])

Artinya, jangan meminta diberi musibah, akan tetapi ketika ditimpa musibah maka bersabarlah, karena musibah itu bisa menghapuskan dosa.

Dari Jabir bin Abdillah, dalam riwayat Imam Ahmad ia meriwayatkan dengan sanad yang sahih,

اسْتَأْذَنَتِ الْحُمَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: ” مَنْ هَذِهِ؟ ” قَالَتْ: أُمُّ مِلْدَمٍ، قَالَ: فَأَمَرَ بِهَا إِلَى أَهْلِ قُبَاءَ، فَلَقُوا مِنْهَا مَا يَعْلَمُ اللهُ، فَأَتَوْهُ، فَشَكَوْا ذَلِكَ إِلَيْهِ، فَقَالَ: ” مَا شِئْتُمْ؟ إِنْ شِئْتُمْ أَنْ أَدْعُوَ اللهَ لَكُمْ فَيَكْشِفَهَا عَنْكُمْ، وَإِنْ شِئْتُمْ أَنْ تَكُونَ لَكُمْ طَهُورًا “، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَوَتَفْعَلُ؟ قَالَ: ” نَعَمْ “، قَالُوا: فَدَعْهَا

Demam memohon ijin kepada Nabi ﷺ, maka beliau bertanya, ‘Siapa ini?’ Dia menjawab, ‘Ummu Mildam’.([14]) Maka Rasulullah ﷺ menyuruhnya untuk pergi kepada penduduk Quba, hingga penduduk Quba tertimpa olehnya atas sepengetahuan Allah. Kemudian mereka (penduduk Quba) mendatangi Rasulullah dan mengadukan hal itu. Rasulullah bersabda, ‘Terserah kalian. Jika kalian mau, saya akan berdoa kepada Allah, hingga menyingkirkannya dari kalian. Jika kalian mau, maka itu adalah sebagai pembersih dosa-dosa kalian’. Mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah apakah demam bisa melakukan itu? Rasulullah bersabda, ‘Ya’. Mereka berkata, ‘Kalau begitu biarkan demam itu menimpa kami’.”([15])

Hadis di atas juga menunjukkan bahwasanya penyakit itu akan membersihkan dosa-dosa.

Footnote:

([1]) HR. Ahmad No. 1481, sanadnya hasan sebagaimana dinyatakan oleh Al-Arnauth.

([2]) Lihat: HR. Bukhari No. 5648.

([3]) HR. Muslim No. 2999.

([4]) HR. Ahmad No. 6870, Al-Arnauth menyatakan hadis tersebut sanadnya sahih berdasarkan syarat Imam Muslim.

([5]) HR. Bukhari No. 5645.

([6]) HR. Ibnu Majah No. 4031, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani.

([7]) HR. Tirmizi No. 2396, dinyatakan hasan sahih oleh Syaikh Al-Albani.

([8]) HR. Abu Ya’la No. 6095, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir No. 1625.

([9]) HR. Abu Daud No. 3090.

([10]) HR. Muslim No. 2573.

([11]) HR. Ahmad No. 8027, Al-Arnauth menyatakan sanadnya sahih berdasarkan syarat Imam Bukhari dan Imam Muslim.

([12]) HR. Tirmizi No. 2399, dinyatakan hasan sahih oleh Syaikh Al-Albani.

([13]) HR. Bukhari No. 7237.

([14]) Ummu Mildam adalah kunyah dari penyakit demam. Ini di antara tanda kekuasaan Allah ﷻ.

([15]) HR. Ahmad No. 14393, dengan sanad yang sahih.