Mendidik Anak Secara Islami #2

Praktik Praktis Mendidik Anak Secara Islami

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang bagaimana praktik praktis yang mungkin bisa dilakukan oleh kita bersama dalam rangka mendidik anak-anak kita. Secara umum, anak-anak harus kita bimbing di antaranya dengan membina akidah mereka dengan akidah yang benar, membina mereka untuk memiliki akhlak yang benar, membina mereka dalam perkara kehidupan bersosial, dan membina mereka agar mereka bisa rajin beribadah kepada Allah ﷻ.

Pembinaan Anak

A. Pembinaan akidah anak

Beberapa praktik praktis yang bisa kita lakukan sebagai orang tua dalam membina akidah anak antara lain sebagai berikut:

  1. Menjelaskan tauhid secara mudah

Ketika anak-anak masih kecil, kita sebagai orang tua bisa mengingatkan anak-anak kita bahwasanya Allah ﷻ adalah pengatur segala yang ada di alam semesta ini. Kita bisa bercerita kepada mereka tentang tauhid rububiyah, bahwasanya seluruh apa yang di alam semesta ini tidak terjadi begitu saja, melainkan ada yang menciptakannya. Dari situ kemudian kita bisa mengajarkan anak-anak bahwasanya konsekuensi dari Allah ﷻ sebagai pencipta dan pengatur seluruh alam semesta adalah hanya Allah semata yang berhak disembah oleh setiap hamba.

Anak-anak ketika dijelaskan tentang tauhid, mereka tentu akan paham, karena mereka tidak lahir dalam keadaan kosong sama sekali, melainkan mereka memiliki fitrah terhadap tauhid kepada Allah. Oleh karenanya, Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”[1]

Fitrah yang dimaksud adalah fitrah bertauhid, sehingga ketika anak-anak dijelaskan tentang tauhid, mereka akan mudah untuk menerima dan mengerti penjelasan yang kita berikan.

  1. Menjelaskan bahaya syirik

Menjelaskan tentang bahaya kesyirikan kepada anak insya Allah akan lebih mudah lagi. Mengapa demikian? Karena telah kita sebutkan bahwasanya anak-anak itu memiliki fitrah, dan logika mereka tentu akan jalan ketika kita memberikan penjelasan.

Ketika kita sebagai orang tua menjelaskan kepada anak-anak tentang bahaya syirik, misalnya seperti menjelaskan tentang seseorang yang menyembah mayat, sementara mayat itu tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan orang yang masih hiduplah yang mengurus sang mayat tersebut hingga ke kuburannya, maka sang anak pasti akan berpikir dan bisa mengambil kesimpulan tentang buruk dan bahayanya syirik itu.

Banyak hal yang bisa kita tunjukkan kepada anak-anak tentang bahayanya syirik. Di antaranya kita bisa menunjukkan tentang bagaimana sikap sebagian orang yang menyembah sapi, menyembah monyet, menyembah ular, dan bahkan menyembah benda mati seperti batu.

Selain itu, kita juga bisa menjelaskan bahaya syirik dari sisi buruknya keyakinan yang berkaitan dengan tathayyur, seperti mempercayai angka sial, mengait-ngaitkan kejadian-kejadian tertentu dengan masa depan yang tidak dibangun di atas akidah yang benar, dan yang lainnya.

Ketahuilah, ketika sejak kecil anak-anak kita telah tanamkan tentang bahaya syirik ini, maka ketika mereka telah dewasa, mereka akan semakin tidak suka dengan berbagai macam bentuk-bentuk kesyirikan.

  1. Membiasakan agar anak selalu meminta tolong kepada Allah ﷻ

Sebagai orang tua, hendaknya kita mengajarkan kepada anak-anak untuk meminta dan berdoa kepada Allah ﷻ apabila mereka menginginkan sesuatu. Hal ini harus senantiasa kita sampaikan dan ajarkan, karena dengan begitu perkara meminta dan memohon pertolongan hanya kepada Allah ﷻ akan tertanam dengan kuat di dalam benak sang anak, dan kelak mereka akan langsung mengamalkan hal ini setiap kal mereka butuh sesuatu.

  1. Menanamkan kepada anak perasaan senantiasa diawasi oleh Allah ﷻ

Di antara hal yang bisa kita lakukan dalam membina akidah anak-anak kita adalah menanamkan kepada mereka perasaan senantiasa diawasi oleh Allah ﷻ, terutama ketika mereka melakukan kesalahan.

Kita bisa mengatakan kepada anak bahwasanya kita sebagai orang tua mungkin tidak tahu apa yang benar-benar terjadi, akan tetapi Allah ﷻ Maha Tahu dan Maha Melihat apa yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya. Hal ini bahkan bisa kita ajarkan ketika kita sedang bermain dengan anak-anak kita, seperti bermain petak umpet atau saat bersandiwara. Ketika anak kita berkata, ‘Ayah aku di mana?’ maka kita berkata, ‘Ayah tidak tahu di mana kamu bersembunyi, tapi Allah ﷻ Maha Tahu dan Maha Melihat di mana kamu berada’. Dengan begitu, kita telah menanamkan kepada anak-anak rasa diawasi oleh Allah ﷻ di mana pun dia berada.

Selain itu, kita juga bisa menanamkan hal ini dengan menjelaskan adanya surga dan neraka, dan setiap perbuatan akan diberikan balasannya pada hari kiamat kelak. Demikian pula menjelaskan kepada anak-anak bahwasanya malaikat mencatat setiap apa yang dia lakukan, meskipun kita sebagai orang tua tidak tahu, dan catatan itu kelak akan ditampakkan pada hari kiamat.

Demikian pula kita bisa memperlihatkan contoh nyata orang-orang yang terkena kasus kriminal, kita bisa katakan kepada anak-anak bahwasanya orang tersebut selama ini menyangka tidak akan ada yang mengetahui perbuatannya, namun ternyata Allah ﷻ Maha Melihat lalu kemudian membongkar rahasia yang dia sembunyikan dari manusia. Memberikan contoh kasus seperti ini bisa saja lebih efektif daripada sekadar mendudukkan anak di pengajian-pengajian yang memungkinkan bagi mereka untuk tidak fokus dalam mendengarkan pengajian. Oleh karenanya, ketika kita melihat praktik Nabi Muhammad ﷺ, sering beliau menyampaikan hadis ketika ada suatu kejadian di hadapan beliau.

Ingatlah para orang tua, apabila anak kita mendapatkan pengaruh buruk yang lebih banyak daripada peringatan kita terkait hal ini, pasti akan memberi pengaruh. Namun, apabila kuantitas pembinaan dan peringatan kita kepada anak tentang tauhid ini banyak, kemudian memberikan pengaruh kepada akidah mereka, maka secara tidak langsung akan memberikan dua dampak yang besar; yaitu sang anak akan semakin takut kepada Allah, ﷻ dan rasa tidak ingin mengecewakan orang tuanya dengan betul-betul merasa diawasi oleh Allah ﷻ.

  1. Mengajarkan anak untuk beriman kepada takdir

Mengajarkan kepada anak untuk beriman kepada takdir adalah di antara hal penting berkaitan dalam masalah akidah. Sebagai orang tua, ketika melihat anak-anak kecewa karena sesuatu tidak sesuai dengan keinginannya, maka ajarkan mereka dengan senantiasa mengatakan Qadarullah ‘semua telah ditakdirkan oleh Allah’.

Ketika kita menjadwalkan makan keluarga di suatu tempat, namun kemudian sesampainya di tempat tersebut sudah tutup, maka katakan Qadarullah. Ketika misalnya anak telah belajar dengan sebaik-baiknya, namun ternyata nilai ujiannya tidak sesuai yang diharapkan atau bahkan rendah, maka ajarkan anak-anak untuk mengucapkan Qadarullah.

Hendaknya kita sebagai orang tua senantiasa menyebut-nyebut ‘Qadarullah’ di sisi anak-anak agar mereka paham dan mengerti bahwa segalanya telah ditakdirkan oleh Allah ﷻ. Hal ini agar sang anak bisa belajar untuk belajar tidak cepat marah (baca: sabar), dan mengajarkan anak-anak untuk beriman dengan takdir.

Ketika seorang anak telah beriman dengan takdir dengan keimanan yang baik, maka hal itu akan sangat berpengaruh dalam kehidupannya di masa depan, yaitu ketika mereka telah berhadapan dengan berbagai macam ujian dalam kehidupan ini.

Mungkin banyak di antara kita orang tua yang anak-anaknya sekolah di sekolah umum, dan bukan di pesantren-pesantren. Kalau anak-anak yang sekolah di pesantren saja masih perlu diingatkan tentang takdir, maka terlebih lagi anak-anak kita yang sekolah di sekolah umum, yang di mana mereka hanya belajar agama dua jam selama sepekan, maka saatnya ketika mereka di rumah kita gembleng mereka dengan nilai-nilai agama, di antaranya masalah takdir ini. Ingatlah bahwa ini merupakan tanggung jawab kita sebagai orang tua yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

  1. Mengajarkan anak untuk cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ

Mengajarkan anak-anak untuk cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ tentunya kembali kepada diri kita sebagai orang tua, yaitu sejauh mana kita menjalankan sunah Nabi Muhammad ﷺ. Ketika anak-anak melihat kita menjalankan sunah-sunah Nabi Muhammad ﷺ, maka di situ kita bisa mengajarkan mereka pula untuk mencintai Nabi Muhammad ﷺ dengan menjalankan sunah-sunah beliau. Demikian pula, kita bisa membacakan kepada anak-anak tentang sirah Nabi Muhammad ﷺ, tentang perjuangan beliau.

Sering penulis mendengar sebagian ulama menyarankan bagi keluarga yang tidak terlalu agamais agar membiasakan dalam keluarganya untuk membuat majelis yang di dalamnya kita bisa bacakan kisah-kisah Nabi Muhammad ﷺ, atau membacakan hadis-hadis Nabi Muhammad ﷺ.

Waktu untuk melakukan hal ini tentu fleksibel, kita bisa jalankan sepekan sekali, atau sebulan sekali, atau bahkan kita bisa lakukan di sepanjang bulan Ramadan saja. Dengan demikian, kita berharap bahwa usaha-usaha kita bisa menanamkan di hati anak-anak kita untuk cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ.

  1. Mengajarkan anak untuk cinta kepada para sahabat Nabi Muhammad ﷺ

Selain mengajarkan anak-anak untuk cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ, kita juga harus mengajarkan kepada mereka untuk cinta kepada para sahabat Nabi Muhammad ﷺ. Setiap kali kita melihat ada kesempatan yang bisa kita menyampaikan kisah para sahabat, maka sampaikanlah. Tentunya, ada banyak kisah dari para sahabat yang bisa kita sampaikan.

Masalah akidah tentunya sangat luas, tapi inilah beberapa hal yang bisa kita bawa dalam kehidupan sehari-hari kita dalam pembinaan tauhid kepada anak-anak. Yang perlu untuk kita perhatikan sebagai orang tua adalah kuantitas doktrin akidah ini harus kita perbanyak, karena yang demikian akan menjadikan tauhid benar-benar terpatri di dalam hati mereka.

Ketahuilah para orang tua, pendidikan anak di sekolah, di pesantren, tentu memberikan pengaruh kepada pribadi mereka. Akan tetapi, peran orang tua dalam mengajarkan tauhid kepada anak secara langsung itu akan lebih memberikan pengaruh.

Oleh karena itu, setiap kali ada kesempatan untuk kita sampaikan kepada mereka tentang tauhid, tentang kesyirikan, tentang isti’anah ‘meminta pertolongan kepada Allah’, dan yang lainnya, maka sampaikanlah. Ketika anak-anak kita sejak kecil telah memiliki akidah yang kuat, insya Allah mereka akan selamat di kemudian hari dari berbagai macam fitnah, syubhat, dan syahwat.

B. Pembinaan akhlak anak

Islam adalah agama yang sangat memperhatikan masalah adab. Lihatlah ketika Nabi Musa ‘alaihissalam dipanggil oleh Allah ﷻ di bukti Tur Sina, Allah ﷻ mengajarkan adab kepada Nabi Musa ‘alaihissalam. Allah ﷻ berfirman,

فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى

“Maka lepaskan kedua terompahmu. Karena sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, Tuwa.” (QS. Thaha: 12)

Nabi Musa ‘alaihissalam diajarkan adab oleh Allah ﷻ bahwa untuk masuk ke tempat suci hendaknya melepaskan alas kaki yang dikenakan.

Dari sini mengajarkan anak-anak adab sangatlah penting. Berikut beberapa praktik praktis yang bisa kita lakukan dalam pembinaan akhlak anak, di antaranya sebagai berikut:

  1. Adab kepada orang tua

Anak-anak sangat perlu untuk kita ajarkan adab kepada orang tua. Di antara adab anak-anak kepada orang tua di Indonesia adalah mencium tangan orang tua. Berbeda dengan Arab Saudi, adab anak-anak kepada orang tua di sana adalah dengan mencium kening orang tuanya. Intinya, adab seperti ini perlu kita tanamkan kepada anak-anak kita. Hendaknya kita memerintahkan anak-anak kita mencium tangan ayah atau ibunya, baik ketika di rumah atau bahkan ketika berada di depan khalayak.

Selain itu, kita juga bisa mengajarkan anak-anak adab tentang makan dengan orang tua, yaitu anak-anak makan belakangan setelah orang tuanya makan. Demikian pula mengajari anak ketika berjalan bersama orang tuanya, hendaknya tidak berjalan di depan orang tuanya, melainkan berjalan di belakang orang tuanya. Demikian pula mengajari anak untuk tidak ikut berbicara ketika orang tuanya sedang menelepon atau sedang berbicara dengan orang lain.

Ini semua kita ajarkan kepada anak-anak kita, bahwa melanggar tersebut adalah bentuk tidak sopan dan tidak beradab kepada orang tua. Ketika hal ini sering kita sampaikan, sering kita ingatkan ketika salah, sering kita ulang-ulang di hadapan mereka, maka hal itu akan terpatri di dalam hati mereka, dan akan menjadi akhlak yang baik bagi mereka terhadap orang tuanya, dan mereka pun akan hormat kepada orang tua.

Dahulu, para orang tua membiarkan anaknya keluar rumah untuk belajar adab, mungkin dengan melihat orang-orang yang ada di luar sana. Namun, zaman sekarang ini berbeda, betapa banyak anak di zaman sekarang ini yang kita biarkan keluar rumah tanpa memiliki adab yang kuat, pulang-pulang malah semakin menjadi anak yang buruk adabnya. Oleh karenanya, ketika orang tua tidak mau mengajari anak-anaknya adab di rumah, maka siapa lagi di zaman sekarang ini yang bisa mengajari mereka adab yang baik?

Hendaknya kita sebagai orang tua tidak membiarkan anak begitu saja tanpa pembinaan akhlak dan adab yang baik terhadap orang tuanya, sehingga mereka tidak hormat kepada orang tuanya, berteriak dan membentak-bentak orang tuanya, kemudian berlarian seenaknya di depan orang tua. Ini semua adalah bentuk akhlak yang kurang baik, dan tidak boleh kita biarkan ada pada anak kita, melainkan harus kita ajarkan adab.

  1. Adab kepada keluarga dekat

Adab kepada keluarga dekat juga perlu untuk kita ajarkan, terutama kepada paman, bibi, kakek, dan nenek. Apabila hal ini kita tidak ajarkan kepada anak, bisa-bisa anak-anak kita tumbuh dengan sikap yang kurang beradab kepada mereka. Terlebih lagi apabila kita sebagai orang tua tidak menghargai saudara kita sendiri, maka tentu anak-anak kita pun akan ikut-ikutan tidak menghargai paman dan bibinya.

Oleh karena itu, kita ajarkan kepada anak kita untuk cium tangan kepada paman dan bibi apabila mereka bertamu ke rumah kita, demikian pula sebaliknya apabila kita yang bertamu ke rumah mereka. Apabila paman dan bibi bertamu ke rumah kita, ajarkan kepada anak-anak untuk berusaha memuliakan mereka dengan menyuguhkan kue atau minuman kepada paman dan bibi mereka.

Demikian pula kita harus mengajarkan anak-anak untuk bisa beradab kepada kakek dan neneknya. Mungkin anak kita yang masih usia balita tidak mengenal kakek dan neneknya, maka di situlah kita harus mengenalkan mereka kepada anak-anak kita bahwa mereka adalah orang tua kita, sehingga anak-anak juga bisa bersikap dan berakhlak baik kepada mereka, sebagaimana kita berakhlak dan beradab kepada orang tua kita.

  1. Adab kepada tamu

Perkara yang penulis sering saksikan di Arab Saudi, di rumah para ulama dan guru-guru kami, ketika kami bertamu ke rumah-rumah mereka, selalu anak-anak mereka yang masih muda yang melayani para tamu. Anak-anak mereka yang menuangkan kopi atau teh di gelas kami, menyediakan kurma, dan yang lainnya. Kemudian, mereka tetap duduk di sekitar ayahnya untuk kemudian bersiap-siap apabila kami membutuhkan sesuatu. Intinya, anak-anak di Arab Saudi benar-benar diajarkan cara melayani tamu dengan baik.

Sayangnya, apa yang penulis jumpai di Arab Saudi belum pernah penulis jumpai di Indonesia. Di Indonesia, seringnya asisten rumah tangga yang kemudian mengurusi masalah jamuan para tamu. Oleh karena itu, apabila kita bisa menghidupkan hal yang sama dengan apa yang berlaku di Arab Saudi, maka tentu itu sangat baik. Kita tidak berbicara tentang itu budaya Arab, akan tetapi kita katakan bahwa kebaikan yang diajarkan oleh seorang mukmin di mana pun itu, hendaknya kita ambil.

  1. Adab kepada tetangga

Di antara perkara yang perlu juga kita ajarkan kepada anak-anak kita adalah adab terhadap tetangga. Hendaknya kita mengajarkan kepada anak-anak kiat bahwa kita tidak boleh melakukan sesuatu yang bisa membuat tetangga kita merasa terganggu, bahkan seharusnya kita harus senantiasa berbuat baik kepada tentangga.

Misalnya, ketika anak-anak bermain di halaman rumah, namun ternyata suara bermainnya sangat besar dan membuat tetangga terganggu, maka hendaknya kita tegur anak kita bahwa hal itu tidak boleh dan tidak baik.

Misalnya pula, kita bisa mengajarkan anak-anak beradab kepada tetangga dengan menyuruhnya membawakan makanan atau kue kepada tetangganya, sehingga dia tahu dan sadar bahwa orang tuanya juga sangat perhatian terhadap tetangga mereka, dan mereka pun bisa mencontoh sikap kita tersebut.

  1. Adab dalam berbicara

Di antara adab berbicara yang sangat perlu kita ajarkan kepada anak-anak adalah tidak berbicara dengan berteriak, terlebih lagi kepada anak perempuan. Kita bisa sampaikan bahwa perempuan itu seharusnya memiliki rasa malu yang sangat tinggi, sehingga tidak pantas baginya untuk berteriak-teriak. Tentunya, apabila hal ini telah dibiasakan, kelak mereka juga akan tumbuh sebagai wanita yang lemah lembut, tidak akan berbicara kasar kepada suaminya kelak.

Sebagai orang tua, kita boleh sesekali dengan tegas kepada anak-anak yang masih berulang-ulang berteriak-teriak ketika berbicara. Kita perlu menyadarkan anak kita bahwa ketika dia memiliki masalah, jangan kemudian dia berteriak-teriak, karena semuanya ada adabnya. Bahkan tidak mengapa jika kita mau menyampaikan bahwasanya rumah ini bukanlah kebun binatang yang bisa seenaknya seseorang untuk berteriak-teriak.

Demikian pula sebagaimana telah kita sempat singgung, hendaknya kita mengajarkan anak kita untuk tidak suka memotong pembicaraan orang tua yang sedang berbicara dengan orang lain. Ajarkan bahwasanya hal itu tidak baik, kurang beradab, dan lain sebagainya.

  1. Adab dalam berpakaian

Di antara bentuk pembinaan dalam adab berpakaian adalah kita mengajarkan kepada anak laki-laki untuk tidak memakai celana di atas lutut, adapun bagi anak perempuan untuk tidak mengenakan pakaian yang terlalu terbuka. Terkhusus bagi anak perempuan, hendaknya kita biasakan mereka untuk memakai jilbab sejak kecil, bahkan ketika mereka beranjak remaja, kita sudah bisa mengajarkannya untuk memakai nikab.

Di antara adab berpakaian bagi anak laki-laki adalah mengajarkannya untuk menata rambutnya dengan rapi. Jangan dibiarkan anak laki-laki kita memiliki rambut dengan model rambut orang kafir, karena itu bisa memberikan pengaruh terhadap akhlak sang anak. Maka dari itu, ketika kita masih mendapati anak kita masih kecil, hendaknya kita selalu menasihati anak kita untuk berpakaian dan berpenampilan secara islami, seperti celana yang tidak boleh melebihi mata kaki, rambut yang tidak boleh model qaza’, tidak memakai pakaian yang ketat, dan yang lainnya.

Adab dalam berpakaian tentunya perlu untuk dilatih, maka ketika anak masih kecil adalah waktu yang paling tempat untuk melatih mereka, karena ketika mereka beranjak dewasa, anak akan susah untuk diarahkan karena mereka telah memiliki banyak contoh model dalam kehidupan mereka.

  1. Mengajarkan malu pada anak perempuan

Telah kita singgung pada beberapa poin sebelumnya bahwa anak perempuan sangat perlu untuk kita ajarkan rasa malu. Pepatah Arab pernah berkata,

إِنَّ اللهَ جَمَّلَ الْمَرْأَة بِالْحَيَاءِ

Sesungguhnya Allah menghiasi wanita dengan rasa malu.”

Kita bisa mengajarkan anak perempuan kita memiliki rasa malu sejak dini. Di antaranya dengan mengajarkan kepadanya untuk tidak membiasakan diri mengobrol dengan laki-laki yang bukan mahramnya atau memiliki hubungan kerabat. Di antaranya juga dengan cara memintanya untuk tetap di dalam kamarnya apabila ada tamu, bukan kemudian malah berjalan ke sana kemari di hadapan tamu tanpa rasa malu.

Apabila anak perempuan telah diajarkan untuk memiliki rasa malu, ketika dia telah dewasa dan telah bersuami, maka dia akan menjadi wanita yang akan merasa malu apabila melukai hati suaminya, malu jika membuat marah suaminya, dan kelak dia pasti menjadi wanita yang taat kepada suaminya.

Membiarkan anak wanita tidak diajarkan rasa malu sejak kecil, maka dikhawatirkan hal itu akan berpengaruh buruk ketika dia telah dewasa. Semoga Allah ﷻ melindungi anak-anak perempuan kita dari hilangnya rasa malu pada dirinya.

C. Pembinaan sikap sosial anak

Mengajari dan membina anak untuk bisa memiliki sikap sosial yang baik bukanlah perkara sepele. Kenyataan yang kita dapati adalah banyak anak-anak yang kaku dalam bergaul, sehingga berdampak pada rasa minder yang berlebihan dan tidak mampu melakukan pengembangan pada dirinya.

Kita sebagai manusia adalah makhluk sosial. Oleh karenanya dalam syariat Islam kita diperintahkan untuk salat berjemaah, diperintahkan untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, dan yang lainnya. Intinya, banyak hal dan dalil yang menunjukkan bahwa kita harus bersosial.

Namun, apabila anak-anak tidak pandai bersosial, terutama bagi anak laki-laki, maka akan ada efek negatif yang akan muncul. Selain rasa minder yang berlebihan, terkadang efek negatif dari tidak pandai bersosial adalah menimbulkan kesombongan. Dampak negatif Ini bukan hanya dialami oleh anak-anak, akan tetapi orang dewasa pun bisa terjangkit sifat kesombongan ketika dia tidak pandai berinteraksi.

Oleh karena itu, belajar bagaimana cara bersosial itu penting, dan lebih penting lagi untuk kita ajarkan kepada anak-anak kita sejak masih kecil. Contoh kecil, ketika anak kita bermain dengan kawan-kawannya, namun sedikit-sedikit menangis dan melapor kepada kita, maka kita berusaha mengajarkan kepada anak kita untuk bersabar menghadapi teman-teman mereka, dan menyampaikan bahwa teman-temannya bisa saja pergi meninggalkannya apabila dia bersikap cengeng.

Bahkan, kita bisa mengajarkannya dengan mengatakan bahwa kejadian yang dia alami bersama teman-temannya itu hanyalah ujian kecil, dia harus bisa melatih diri untuk menghadapi situasi dan kondisi yang dia tidak sukai, karena yang demikian tetap akan dihadapi oleh siapa pun ketika dia berpindah dari satu kelompok masyarakat ke kelompok masyarakat yang lain, karena kita tidak bisa menjadikan semua orang sesuai dengan kemauan kita, sehingga yang perlu kita lakukan adalah mengatur sikap dalam menghadapi situasi yang tidak kita sukai tersebut. Jangan kemudian kita malah membela anak kita dan memarahi temannya.

Ada beberapa praktik praktis yang bisa kita lakukan dalam membina sikap sosial anak, di antaranya sebagai berikut:

  1. Mengajak anak-anak untuk ikut dalam majelis orang tua

Mengajak anak-anak untuk ikut dalam majelis orang tua ini perlu untuk dilatih kepada anak-anak kita. Namun, mengajak mereka berpartisipasi dalam majelis orang tua tidak itu tidak dilakukan dengan sering, melainkan hanya sesekali saja.

Hal seperti ini pernah dilakukan oleh Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu ketika mengajak anaknya Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu dalam majelis orang tua. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih al-Bukhari, Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu menuturkan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً لاَ يَسْقُطُ وَرَقُهَا، وَهِيَ مَثَلُ المُسْلِمِ، حَدِّثُونِي مَا هِيَ؟ فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ البَادِيَةِ، وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ، قَالَ عَبْدُ اللَّهِ: فَاسْتَحْيَيْتُ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَخْبِرْنَا بِهَا؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هِيَ النَّخْلَةُ» قَالَ عَبْدُ اللَّهِ: فَحَدَّثْتُ أَبِي بِمَا وَقَعَ فِي نَفْسِي، فَقَالَ: لَأَنْ تَكُونَ قُلْتَهَا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ يَكُونَ لِي كَذَا وَكَذَا

Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sesungguhnya di antara pohon-pohon ada satu pohon yang tidak jatuh daunnya, dan itu adalah perumpamaan bagi seorang Muslim. Ceritakan kepadaku pohon apakah itu?’ Maka orang-orang menganggapnya sebagai pohon-pohon yang ada di lembah, sedangkan menurut perkiraanku bahwa itu adalah pohon kurma, tetapi aku malu (untuk mengungkapkannya). Lalu orang-orang berkata, ‘Wahai Rasulullah, beritahukan kami pohon apakah itu?’ Maka Rasulullah ﷺ menjawab, ‘Dia adalah pohon kurma’. Kemudian aku ceritakan hal itu kepada ayahku, maka ayahku berkata, ‘Aku lebih suka bila engkau ungkapkan saat itu dari pada aku memiliki begini dan begini’.”[2]

Ini menunjukkan bagaimana perhatian sahabat terhadap pembinaan sosial bagi anak-anak mereka.

Di antaranya juga Umar bin Khattab sering memanggil dan mengajak Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma untuk hadir dalam majelis para sahabat senior. Tentunya, Umar bin Khattab mengajak Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dalam rangka untuk mengajari Ibnu Abbas agar bisa untuk menghadapi permasalahan-permasalahan yang akan datang.[3]

Intinya, kita perlu untuk mengajak anak-anak kita ke dalam majelis orang-orang tua. Namun, sebelum dia masuk ke dalam majelis, kita ajarkan terlebih dahulu apa yang harus dan yang tidak harus dia lakukan. Ketika dia melakukan kesalahan, maka kita harus menegurnya, dan mengingatkannya untuk tidak mengulangi lagi di kemudian hari.

Sebagaimana telah kita singgung, bahwa hal ini tidak sering kita lakukan. Sebabnya, apabila anak-anak selalu diikutkan, bisa-bisa mereka akan merasa tinggi karena selalu berada di majelis orang tua.

  1. Melatih anak-anak dengan suatu amanah

Di antara amanah yang bisa kita berikan kepada anak adalah membeli makanan. Menyuruh anak-anak untuk membeli makan ketika dia masih kecil akan mengajarkan mereka keberanian untuk menghadapi orang lain. Apabila ternyata anak salah dalam membeli apa yang kita perintahkan, ajarkan dia untuk kembali dan menukarnya. Mungkin dia akan merasa malu, tapi kita harus mengajarkan mereka untuk itu menyelesaikan masalah itu, dan dari situ pula kita bisa mengajarkan mereka tentang tanggung jawab, bahkan mungkin anak-anak akan belajar hal baru seperti bagaimana cara berdiskusi dan negosiasi dengan sang penjual.

  1. Memberikan tugas-tugas di rumah seperti menjaga adik-adiknya

Terkadang, kita sebagai orang tua harus pergi keluar rumah tanpa membawa anak-anak. Maka, anak yang paling tertua bisa kita ajar dengan menyuruhnya menjaga dan merawat adik-adiknya yang masih kecil. Tentunya, untuk memotivasi anak untuk bisa melakukan ini, terkadang kita harus memberikan hadiah sebagai imbalan apabila sang anak berhasil menjalankan tugas tersebut.

Selain membangun jiwa sosial yang baik pada diri anak-anak, manfaat lain dari hal ini adalah menumbuhkan kasih sayang dan saling hormat antara anak-anak. Tentunya, menanamkan kasih sayang antara anak yang satu dengan anak yang lainnya harus dilakukan sejak kecil, karena kita tentu tidak ingin setelah anak-anak kita dewasa, tidak terjalin hubungan yang baik di antara mereka. Oleh karenanya, membangun jiwa sosial di antara anak-anak juga perlu untuk kita lakukan.

  1. Menyuruhnya untuk tidur di rumah kawannya yang saleh dari keluarga saleh

Ketika anak kita memiliki teman yang baik, maka kita ajak dia untuk bersosial di rumah orang lain dengan cara tidur di rumah temannya. Tentunya, sebelum dia pergi ke rumah temannya, kita menasihatinya tentang bagaimana adab-adab ketika berada di rumah orang, seperti tentang waktu salat, waktu bermain, dan yang lainnya.

Hal ini perlu kita ajarkan kepada anak kita untuk bisa belajar bagaimana menjaga harga diri dan martabat orang tuanya ketika dia berada di rumah teman. Namun, perhatian kita tentu juga harus melihat kondisi keluarga temannya. Kalau keluarga temannya adalah orang saleh maka kepada merekalah kita ajarkan anak kita untuk bersosial, namun apabila keluarganya kurang baik dari segi akhlak atau bahkan kafir maka bisa saja anak kita pulang dengan kondisi semakin buruk.

  1. Ajarkan untuk bisa bekerja sama dengan orang lain

Kurangnya pembinaan dari orang tua agar anak belajar untuk bisa bekerja sama dengan orang lain menghasilkan banyaknya orang-orang dewasa di zaman sekarang ini yang sering konflik karena berbeda pendapat. Bahkan, terjadi pada sebagian para dai, di mana mereka tidak bisa diajak untuk bekerja sama dengan para dai lainnya.

Ketahuilah, ketika seseorang tidak bisa bekerja sama, itu bisa menunjukkan bahwa ada keangkuhan dalam dirinya bahwa tidak ingin diperintah atau bahkan tidak suka untuk memerintah. Padahal, dengan seseorang terbiasa untuk bekerja sama, seseorang akan belajar bagaimana memahami perbedaan pendapat, memahami bagaimana menerima kritikan, dan yang lainnya.

Mengajarkan anak-anak sejak dini untuk bisa bekerja sama dengan kawan-kawannya adalah hal yang perlu untuk dilakukan, karena dikhawatirkan kelak anak-anak akan gelagapan ketika telah terjun ke masyarakat. Bahkan mungkin yang terjadi adalah anak-anak akan sering marah-marah karena inginnya keputusan itu berada di tangan dia, dan tidak ingin ada yang menyelisihinya.

Maka dari itu, tugas kita sebagai orang tualah untuk mengajari anak agar bisa bekerja sama dengan orang lain. Kita sebagai orang tua hendaknya memberi pengertian kepada anak-anak bahwa perbedaan pendapat itu akan sering terjadi, sehingga langkah diskusi harus diambil, dan terkadang pendapat kita ditolak dan kita harus berlapang dada. Tentunya, kita juga harus mengajarkan anak-anak kita bagaimana adab-adab dalam berinteraksi kepada orang lain, baik dia sebagai orang yang menjalankan perintah atau sebagai orang yang memberikan perintah. Dengan demikian, kelak anak kita bisa bekerja sama dengan siapa saja, dan dalam kondisi apa saja.

D. Pembinaan ibadah anak

Ibadah seorang hamba itu ada yang berkaitan dengan ibadahnya dengan Allah ﷻ, dan ada pula ibadah yang berkaitan dengan sesama manusia. Ada beberapa praktik praktis yang bisa kita lakukan dalam membina ibadah anak sejak kecil, di antaranya sebagai berikut:

  1. Memerintahkan salat tepat pada waktunya, disertai dengan salat sunah

Hendaknya kita mengajarkan anak untuk bisa salat tepat waktu, tanpa menunda-nunda, terutama waktu salat subuh. Ketika tiba waktu subuh, kita bangunkan anak kita untuk salat, lalu kita perintahkan untuk salat sunah terlebih dahulu lalu ikut salat subuh bersama kita di masjid.

Ketahuilah para orang tua bahwasanya seseorang itu akan tumbuh berdasarkan kebiasaan yang dia lakukan. Ketika seseorang sejak kecil telah terbiasa untuk salat subuh dengan salat sunahnya, maka akan mudah baginya untuk tetap melaksanakannya di lain waktu. Adapun ketika hal itu tidak dibiasakan sejak kecil, maka tentu akan menjadi sangat berat.

Tentunya, mengajarkan salat tepat waktu kepada anak juga membutuhkan pengorbanan dari orang tua. Orang tua harus sabar untuk mengajak anaknya untuk bisa salat tepat waktu, terutama di waktu subuh. Lihatlah bagaimana besarnya pengorbanan yang dilakukan oleh ibu dari Imam Ahmad. Ayah Imam Ahmad meninggal ketika usianya masih kecil, adapun ibunya masih kecil tatkala itu. Namun, ibu dari Imam Ahmad tidak menikah karena ingin fokus mendidik anaknya, yaitu Imam Ahmad. Imam Ahmad menceritakan tentang bagaimana pengorbanan ibunya yang membangunkannya setiap subuh, memakaikannya pakaian, lalu mengantarkannya ke masjid untuk salat dan belajar, lalu kemudian dijemput lagi ketika waktu sudah cukup siang. Akhirnya, berkat pengorbanan ibunya yang gigih mendidiknya, sehingga akhirnya jadilah anaknya sebagai seorang ulama besar, Imam Ahmad bin Hanbal.

Intinya, pengorbanan orang tua untuk sabar dalam mendidik anak agar bisa salat tepat waktu beserta salat-salat sunahnya itu sangat diperlukan. Kita sebagai orang tua tentu boleh mengangkat suara dalam memerintahkan anak salat, akan tetapi tentu kesabaran itulah yang utama.

  1. Mengajarkan tata cara wudu ketika masih kecil

Tentunya, anak-anak yang berumur 3-6 tahun belum ada kewajiban untuk hal ini. Akan tetapi, ketika mereka sedang mau, maka ajarkan wudu yang benar, bahkan kita juga bisa mengajarkan teman-temannya, lalu kemudian mengarahkan mereka untuk salat berjemaah dengan teman-temannya.

  1. Mengajak untuk ikut salat berjemaah

Melatih anak-anak untuk salat berjamaah di masjid adalah hal yang juga sangat penting. Namun, kita tentu sadar bahwa anak-anak yang salat di masjid sangat rawan untuk ribut dan bermain ketika salat. Maka dari itu, ketika kita membawa anak kita ke masjid, hendaknya kita sampaikan sebelum ke masjid, dan bahkan diulang-ulang selama perjalanan agar dia menjaga adab ketika di masjid, tidak teriak-teriak, tidak bermain-main, tidak berlarian di dalam masjid, dan yang lainnya. Kita bahkan baru boleh berhenti menyampaikan hal tersebut ketika kita dan anak kita telah sampai di masjid.

Di antara cara kita untuk melatih anak mau untuk salat berjemaah di masjid adalah dengan menyampaikan kepadanya tentang keutamaan salat berjemaah di masjid daripada di rumah bagi laki-laki, di mana perbedaannya sampai 27 kali lipat, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis.

  1. Mengajari untuk mengagungkan hari raya

Ketika hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, ajarkan anak-anak kita untuk mengagungkan hari tersebut. Ketika Idul Fitri, kita membangunkannya pagi-pagi, memerintahkannya mandi untuk pergi salat Id, memerintahkannya untuk memakai baju yang bagus, sehingga akhirnya dia bersemangat dan bergembira di hari itu.

Demikian pula ketika Idul Adha, di mana juga kita sebut dengan Idul Kurban, kita perlihatkan kepada anak-anak hewan yang akan disembelih, baik itu sapi atau kambing, lalu memperlihatkan kepada mereka pula proses menyembelih hewan, dan seterusnya. Hal ini akan mengajarkan bahwa pada hari raya Idul Adha, ada syiar yang perlu untuk diperlihatkan ketika itu, sehingga ketika mereka telah dewasa, mereka akan berkurban setiap tahunnya.

Bahkan, kita bisa melatih anak-anak dalam mengagungkan hari raya Idul Adha dengan mengajak mereka untuk menyisihkan sebagian dari uang jajan mereka untuk bisa berkurban dengan uangnya sendiri kelak.

  1. Membiasakan puasa sejak kecil

Kita sebagai orang tua harus bisa membiasakan anak untuk berpuasa sejak kecil, dan inilah yang juga dilakukan oleh para sahabat kepada anak-anak mereka. Adapun ketika anak mereka menangis karena lapar, maka anak mereka diberi boneka yang terbuat dari kapas agar berhenti bermain dan tidak memikirkan makan.

Tentunya, kita juga harus bisa melihat kemampuan anak. Kalau anak-anak benar lelah berpuasa maka tidak perlu dipaksakan. Namun, seringnya kita mendapati anak-anak umur lima tahun ke atas sudah mulai kuat untuk berpuasa, sehingga tidak mengapa kita membiasakan anak kita untuk ikut berpuasa sejak umur tersebut.

Di samping mengajari mereka untuk ikut berpuasa, hendaknya kita juga memberikan penghargaan dan apresiasi bagi anak kita yang bisa berpuasa, di antaranya dengan memberinya hadiah. Tidak mengapa jika ternyata anak kita tidak berpuasa beberapa hari dari seluruh haris puasa di bulan Ramadan, yang penting kita bisa menghargai dan mengapresiasi hari-hari yang dia bisa lalui dengan berpuasa.

  1. Mengajarinya untuk menjadi imam salat

Ketika anak sudah memiliki hafalan yang kuat dan juga bacaan yang bagus, sesekali kita mengajarkannya untuk menjadi imam bagi keluarga kita, atau bahkan menjadi imam bagi teman-temannya.

Hal ini tentunya tidak hanya berlaku bagi anak laki-laki, anak perempuan pun juga kita harus latih untuk menjadi imam bagi saudara perempuannya yang lain atau bahkan imam bagi ibunya.

  1. Melatih untuk bersedekah dan saling memberi hadiah

Mengajarkan anak-anak untuk senantiasa bersedekah dan saling memberi hadiah adalah hal yang penting, karena hal itu akan memberikan pelajaran kepada anak-anak tentang kepekaan terhadap orang lain.

Misalnya ketika sedang dalam perjalanan bersama anak-anak, lalu kita melihat orang yang tidur di pinggir jalan, atau orang yang berjualan koran di bawah terik matahari, atau melihat orang susah yang tinggalnya di bawah kolong jembatan, maka kita perintahkan anak kita untuk melihat hal-hal tersebut, agar mereka memiliki sikap zuhud, dan menyadari bahwa sewaktu-waktu bisa saja Allah ﷻ mengubah keadaannya seperti itu.

Hendaknya kita orang tua memperlihatkan kepada anak kita ketika kita memberikan pemberian kepada orang susah yang ditemui di jalan, atau biarkan anak kita yang memberikan pemberian tersebut, agar melatih kepekaan mereka dan agar mereka terbiasa untuk bersedekah.

Demikian pula ketika anak-anak kita di sekolah ingin memberikan temannya hadiah, maka hendaknya kita dukung dengan di antara caranya adalah memberikannya uang untuk membeli hadiah. Hal ini agar mereka tidak tumbuh menjadi orang yang pelit, karena pelit adalah sikap yang jelek, dan jika telah menjadi perangai seseorang maka akan susah untuk mengubahnya menjadi dermawan.

  1. Melatih untuk peka membantu orang lain

Sebagai orang tua, kita bisa meminta anak kita untuk membantu pekerjaan-pekerjaan kita di rumah, yang memang dia bisa kerjakan. Ketika hal itu telah dibiasakan, maka anak-anak kelak akan membantu tanpa harus dimintai bantuan, dan itu merupakan akhlak yang baik jika dia bisa terapkan kepada semua orang.

Inilah beberapa praktik praktis yang bisa kita lakukan sebagai bentuk pembinaan terhadap anak-anak, baik dari segi akidah, akhlak, sikap sosial, dan ibadah.

Sekali lagi penulis mengingatkan kepada kita semua orang tua, bahwa dalam membina anak-anak itu perlu doktrin. Jadi, apa yang kita sampaikan itu hendaknya kita sampaikan berulang-ulang dalam banyak kesempatan.

Di zaman sekarang ini, terkadang anak-anak lebih mendapatkan lebih banyak doktrin keburukan dari gawai mereka dibandingkan doktrin kebaikan dari kita orang tuanya. Terkadang kita mengatakan sepuluh kali, namun ternyata informasi dari gawai yang dia dapatkan sampai seratus kali, kalah banyak dari intensitas kita memberikan doktrin sebagai orang tua.

Di zaman sekarang ini, anak-anak kita melalui gawai mereka bisa menjadi sangat liar dengan menonton film-film luar negeri, dan akhirnya anak-anak kita belajar adab dari mereka seperti ciuman tanpa ada rasa malu, campur baur antara laki-laki yang bukan mahram, dan yang lainnya. Terkadang, apa yang anak-anak kita lihat dari film-film seperti itu lebih masuk ke dalam benak mereka daripada apa yang kita sampaikan.

Dahulu, seorang guru saya pernah memberikan analogi yang cukup bagus, yaitu tentang apakah orang tua muslim mau mengambil seorang guru bagi anaknya yang merupakan seorang Yahudi? Tentunya, seorang muslim yang paham pengaruh dari seorang guru itu tidak akan mau menerima guru Yahudi tersebut. Terlebih lagi apabila guru tersebut mungkin berpakaian dengan pakaian yang terbuka, akhlak yang buruk, tentu orang tua yang waras tidak ingin guru seperti itu untuk mengajari anaknya, karena khawatir memberikan pengaruh buruk bagi perkembangan anak-anak.

Namun kenyataannya, betapa banyak orang tua di zaman sekarang yang sama sekali tidak khawatir apabila anak-anak belajar melalui internet, sehingga mereka tidak diberikan batasan-batasan. Ketika anak-anak tidak memiliki batasan dalam hal tersebut, akhirnya anak-anak akan terbiasa dengan maksiat, dan tentunya hal tersebut akan menjadikan pelajaran akidah, akhlak, dan ibadah yang kita ajarkan itu menjadi hancur dan tidak memberikan bekas pada diri anak-anak.

Kita sebagai orang tua, mau tidak mau menghadapi fenomena dan kondisi yang tidak bisa kita hindari dengan kehadiran internet. Maka dari itu, mengulang-ulang doktrin, nasihat, dan peringatan itu penting, agar apa yang anak kita lihat di internet tidak lebih kuat daripada apa yang kita sampaikan.

Hal terakhir yang ingin penulis sampaikan adalah, hendaknya para orang tua menyadari bahwa berhasil atau tidaknya mereka dalam mendidik anak, itu tetap mendatangkan pahala. Semua yang kita usahakan kepada anak-anak dalam mendakwahinya, menasihatinya, tidak ada yang sia-sia. Berhasil atau tidak dalam memberikan pengaruh kepada anak-anak, kita sebagai orang tua tetap mendapatkan pahala atas usaha kita. Maka dari itu, jangan kita bosan-bosan menasihati dan membimbing anak-anak kita, dan jangan lupa pula untuk terus mendoakan mereka agar senantiasa diberikan petunjuk oleh Allah ﷻ.

Soal

Pertanyaan:   Bagaimana ketika anak memiliki kelebihan di bidang tertentu?

Jawab:    Ketika anak kita memiliki kelebihan dalam suatu bidang tertentu, maka tentu kita harus membimbingnya untuk bisa lebih baik lagi dalam bidang tersebut. Namun, yang perlu kita perhatikan adalah jangan sampai kita menempatkan anak-anak pada posisi yang belum waktunya untuk mereka terima.

Contoh sederhana, ketika kita memiliki anak penghafal Al-Qur’an, lalu kemudian kita menyuruhnya menjadi imam di masjid besar, namun ternyata hati anak kita belum kuat untuk menjalani hal tersebut. Hati yang tidak kuat di sini maksudnya adalah tidak kuat ketika mendapatkan pujian dan sanjungan orang lain, sehingga akhirnya dia menjadi sombong, angkuh, dan bahkan riya’ dalam hafalannya.

Oleh karena itu, kita sebagai orang tua harus hati-hati dalam hal ini. Kita sebagai orang tua harus pandai melihat situasi dan kondisi psikologi anak kita. Tidak mengapa kita mendukungnya pada kelebihan yang dia miliki, namun jangan sampai kita meletakkannya pada posisi yang bisa menjerumuskan dia dalam kesombongan dan merendahkan orang lain. Tentunya, hal ini adalah perkara yang tidak kita inginkan.

Footnote:
_________

[1] HR. Bukhari No. 1386.

[2] HR. Bukhari No. 131.

[3] Lihat salah satu kisahnya dalam Shahih al-Bukhari No. 4294.