Mendidik Anak Secara Islami #2

Mendidik Anak Secara Islami #2

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

  1. Memperhatikan hak anak-anak

Di antara metode Islam dalam mendidik anak-anak adalah mengakui dan memperhatikan hak-hak mereka, selama mereka memiliki hak. Janganlah orang tua kemudian meremehkan hak-hak anak.

Sesungguhnya, Nabi Muhammad ﷺ telah mencontohkan kepada kita tentang bagaimana beliau memperhatikan hak anak-anak. Disebutkan, suatu hari Nabi Muhammad ﷺ minum, kemudian di samping kanan Nabi Muhammad ﷺ ada sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu yang ketika itu masih kecil, sedangkan di samping kiri beliau ada sahabat-sahabat senior.

Kita tentu tahu bahwasanya sisa bekas minum Nabi Muhammad ﷺ adalah berkah, dan para sahabat sangat menyukai untuk mendapatkan keberkahan dari Nabi Muhammad ﷺ. Kebiasaannya, minum bekas Nabi Muhammad ﷺ ketika hendak digilir kepada para sahabat dimulai dari kanan, sehingga ketika itu Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu yang berhak minum langsung setelah Nabi Muhammad ﷺ.

Maka kemudian Nabi Muhammad ﷺ berkata kepada Ibnu Abbas untuk meminta izin agar bekas minum beliau diberikan lebih dahulu kepada para sahabat senior,

أَتَأْذَنُ لِي أَنْ أُعْطِيَ هَؤُلاَءِ؟ فَقَالَ الغُلاَمُ: لاَ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، لاَ أُوثِرُ بِنَصِيبِي مِنْكَ أَحَدًا

Apakah kamu mengizinkan aku untuk memberi minuman ini kepada mereka?” Anak kecil itu berkata, ‘Demi Allah, tidak wahai Rasulullah, aku tidak akan memberi bagianku darimu kepada seorang pun’.”([1])

Maka Nabi Muhammad ﷺ kemudian memberikan bekas minum beliau kepada Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu.

Dari sini kita bisa melihat bagaimana praktik Nabi Muhammad ﷺ dalam menunaikan hak anak-anak. Tentunya, ini menjadi pelajaran bagi kita bahwa ketika sang anak memiliki hak, maka jangan kemudian kita sebagai orang tua menyepelekan hak mereka, atau bahkan sampai melalaikan hak-hak mereka.

Sesungguhnya, menunaikan hak anak ketika mereka mengerti akan hak-hak mereka, itu memberi pelajaran kepada mereka bahwasanya dalam kehidupan ini ada hak yang mereka bisa ambil, dan ada kewajiban yang harus mereka lakukan, dengan begitu mereka akan mudah untuk menghargai hak orang lain.

Demikian pula, kisa yang menakjubkan dalam perang Uhud adalah banyak anak-anak kecil yang ingin ikut berperang bersama Nabi Muhammad ﷺ. Ketika dalam perjalanan, Nabi Muhammad ﷺ memeriksa pasukan yang ikut bersama beliau. Ternyata, para sahabat yang masih di bawah umur (kecil) diperintahkan untuk pulang, di antaranya Ibnu Umar, Abu Sa’id Al-Khudri, dan yang lainnya.

Namun, ada seorang sahabat yang masih kecil bernama Rafi’ bin Khadij yang pandai dalam memanah. Kemudian dia meminta izin kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk ikut berperang, dan dia diizinkan karena kepandaiannya dalam memanah. Rafi’ bin Khadij memiliki seorang sahabat bernama Samurah bin Jundub, yang dia juga ingin agar mendapat izin untuk ikut berperang. Maka Samurah bin Jundub meminta kepada ayahnya yang juga ikut tatkala itu untuk memintakan izin kepada Nabi Muhammad ﷺ, dengan dalil bahwasanya dia mampu mengalahkan Rafi’ bin Khadij jika disuruh berduel.

Ayah Samurah bin Jundub kemudian melapor dan meminta izin kepada Nabi Muhammad ﷺ agar anaknya bisa ikut, dan dia menyampaikan apa yang menjadi alasan Samurah bin Jundub. Akhirnya, Nabi Muhammad ﷺ kemudian mempersilahkan keduanya berduel, dan ternyata benar bahwasanya Samurah bin Jundub mampu mengalahkan Rafi’ bin Khadij. Maka Nabi Muhammad ﷺ kemudian mengizinkan Samurah bin Jundub untuk ikut perang.([2])

Intinya, kisah ini memberikan pelajaran kepada kita bahwasanya ketika anak kita meminta haknya kepada kita, maka jangan kita remehkan, jangan kita sepelekan. Lihatlah Nabi Muhammad ﷺ, beliau tidak meremehkan hak anak sedikit pun.

Oleh karenanya, di antara fatwa syaikh ‘Utsaimin rahimahullah tentang saf pertama dalam salat, apabila anak-anak telah mengambil posisi di saf pertama yang bukan persis di belakang imam([3]), melainkan agak jauh di sisi kanan atau pun kiri imam, maka tidak boleh seseorang kemudian meminta anak-anak tersebut mundur lalu mengambil saf tersebut. Hal ini dikarenakan adalah anak-anak tersebut memiliki hak untuk salat di saf tersebut karena telah datang terlebih dahulu. Selain itu, ketika sang anak awalnya termotivasi untuk datang lebih awal ke masjid untuk mendapatkan saf pertama, maka pasti akan menjadi berbeda perasaan mereka apabila tiba-tiba ada orang yang menyuruh mereka mundur dari saf pertama. Bahkan, bisa jadi selanjutnya anak-anak akan kecewa karena haknya yang diambil, dan akhirnya mereka tidak ingin lagi untuk pergi ke masjid.

Ini menunjukkan bahwasanya anak-anak itu memiliki hak, dan hendaknya kita memberikan hak mereka, agar mereka bisa tumbuh dengan kesadaran bahwasanya dalam kehidupan ini ada hak yang mereka bisa minta dan ada kewajiban yang harus mereka jalankan, dan inilah salah satu metode tarbiah Nabi Muhammad ﷺ dalam mendidik anak.

  1. Berbicara sesuai dengan nalar anak

Di antara bentuk metode tarbiah Nabi Muhammad ﷺ adalah ketika berbicara dengan anak-anak, beliau berbicara kepada mereka sesuai dengan akal dan nalar mereka. Hal ini sebagaimana yang Nabi Muhammad ﷺ praktikkan terhadap saudara Anas bin Malik([4]). Saudara Anas bin Malik tersebut memiliki peliharaan seekor burung, namun kemudian burung tersebut mati. Maka Nabi Muhammad ﷺ datang kepada saudara Anas tersebut dalam rangka menghiburnya dengan berkata,

يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ

Wahai Aba Umair, apa yang terjadi dengan burung kecilmu itu?”([5])

Para ulama menjelaskan bahwasanya dalam konteks ini, Nabi Muhammad ﷺ menurunkan levelnya untuk bisa berbicara dengan anak-anak. Bahkan, sebagian ulama mengatakan bahwa bisa jadi anak yang diajak bicara oleh Nabi Muhammad ﷺ belum bisa menjawab pertanyaan Nabi Muhammad ﷺ.

Kita tentu tahu bagaimana kesedihan seorang anak apabila dia sedang senang-senangnya terhadap suatu hal, lalu kemudian hal tersebut hilang. Namun, Nabi Muhammad ﷺ memberi contoh kepada kita tentang bagaimana cara kita menghadapi anak-anak dalam kondisi tersebut, atau contoh bagaimana cara kita berbicara kepada mereka, yaitu kita hendaknya menyesuaikan diri dengan mereka, mengetahui dunia mereka, sehingga perkataan kita bisa untuk diterima dan dipahami oleh anak-anak.

Di antara kisah lain juga terkait hal ini adalah kisah Nabi Muhammad ﷺ dengan Aisyah radhiallahu ‘anha. Aisyah radhiallahu ‘anha bercerita,

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ، أَوْ خَيْبَرَ وَفِي سَهْوَتِهَا سِتْرٌ، فَهَبَّتْ رِيحٌ فَكَشَفَتْ نَاحِيَةَ السِّتْرِ عَنْ بَنَاتٍ لِعَائِشَةَ لُعَبٍ، فَقَالَ: «مَا هَذَا يَا عَائِشَةُ؟» قَالَتْ: بَنَاتِي، وَرَأَى بَيْنَهُنَّ فَرَسًا لَهُ جَنَاحَانِ مِنْ رِقَاعٍ، فَقَالَ: «مَا هَذَا الَّذِي أَرَى وَسْطَهُنَّ؟ قَالَتْ: فَرَسٌ، قَالَ: «وَمَا هَذَا الَّذِي عَلَيْهِ؟» قَالَتْ: جَنَاحَانِ، قَالَ: «فَرَسٌ لَهُ جَنَاحَانِ؟» قَالَتْ: أَمَا سَمِعْتَ أَنَّ لِسُلَيْمَانَ خَيْلًا لَهَا أَجْنِحَةٌ؟ قَالَتْ: فَضَحِكَ حَتَّى رَأَيْتُ نَوَاجِذَهُ

Rasulullah tiba dari perang Tabuk atau Khaibar, sementara kamar Aisyah ditutup dengan sitr. Ketika ada angin yang bertiup, sitr itu tersingkap hingga boneka-boneka Aisyah terlihat. Beliau lalu bertanya, ‘Wahai Aisyah, ini apa?’ Aisyah menjawab, ‘Anak-anakku (boneka-bonekaku)’. Lalu beliau juga melihat patung kuda yang mempunyai dua sayap. Beliau bertanya, ‘Lalu apa yang aku lihat di tengah-tengah boneka-bonekamu?’ Aisyah menjawab, ‘Kuda’. Beliau bertanya lagi, ‘Lalu apa yang ada di bagian atasnya?’ Aisyah menjawab, ‘Dua sayap’. Beliau bertanya lagi, ‘Kuda mempunyai dua sayap?’ Aisyah menjawab, ‘Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang bersayap?’ Aisyah berkata, ‘Beliau lalu tertawa hingga aku dapat melihat giginya’.”([6])

Ini menunjukkan bagaimana Nabi Muhammad ﷺ berbicara kepada Aisyah yang ketika itu masih kanak-kanak dengan berbicara sesuai nalar mereka, berusaha masuk ke dalam dunia mereka.

Di antara kisah pula adalah tentang dua orang remaja yang ditemui oleh para sahabat di daerah dekat lokasi perang Badar. Ketika itu, Rasulullah ﷺ mengutus beberapa sahabat untuk mencari tahu tentang musuh. Kemudian, para sahabat mendapati kedua remaja tersebut dan membawanya kepada Nabi Muhammad ﷺ yang saat itu sementara sedang salat. Para sahabat kemudian mengorek info dari kedua remaja tersebut, kedua remaja tersebut mengaku sebagai pemberi minum pasukan Mekkah. Namun para sahabat tidak percaya dan memukulinya hingga akhirnya keduanya mengaku sebagai anak buah Abu Sufyan.

Ketika Nabi Muhammad ﷺ telah selesai salat, maka Nabi Muhammad ﷺ menegur para sahabat karena telah memukulnya saat jujur, dan membiarkannya ketika berdusta. Nabi Muhammad ﷺ kemudian bertanya langsung kepada kedua remaja tersebut tentang berapa banyak unta yang dimakan oleh pasukan Quraisy dalam sehari. Maka, mereka menjawab sekitar sembilan atau sepuluh ekor dalam sehari. Maka Nabi Muhammad ﷺ mengatakan bahwa jumlah pasukan Quraisy sekitar sembilan ratus hingga seribu orang.([7])

Lihatlah, Nabi Muhammad ﷺ berbicara kepada remaja tersebut yang sesuai dengan nalarnya. Tentunya, Nabi Muhammad ﷺ tahu bahwa jika remaja tersebut ditanya tentang jumlah pasukan Quraisy, maka tentu mereka tidak akan tahu. Maka Nabi Muhammad ﷺ bertanya dengan pertanyaan yang remaja tersebut ketahui, dan dari jawaban mereka maka Nabi Muhammad ﷺ bisa mengetahui jumlah pasukan Quraisy.

Oleh karenanya, inilah di antara metode kita dalam menarbiah anak-anak, yaitu dengan berusaha berbicara kepada mereka dengan pembicaraan yang sesuai dengan level mereka, yang sesuai dengan nalar mereka. Apabila kita masuk ke dalam dunia mereka, maka terpakanlah metode ini, agar mereka bisa paham apa yang kita sampaikan.

Janganlah kemudian kita berbicara kepada mereka dengan pembicaraan yang mereka tidak bisa memahaminya. Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata,

حَدِّثُوا النَّاسَ، بِمَا يَعْرِفُونَ

Berbicaralah dengan manusia sesuai dengan kadar pemahaman mereka.”([8])

  1. Menjauhkan diri dari mencerca dan mencela

Di antara metode yang buruk dalam mendidik anak adalah orang tua mencerca, mencela, dan banyak nyinyir terhadap anak-anak mereka. Maka orang tua hendaknya memperhatikan ini ketika menegur atau mengingatkan anak-anak, bahwa hendaknya jauhkan cercaan, celaan, dan hinaan ketika menegur anak-anak. Tentunya, ketika kita bisa mendidik dan menegurnya dengan kalimat yang baik, maka tentu tidak perlu ada celaan dan hinaan dalam teguran tersebut.

Lihatlah Nabi Muhammad ﷺ, Anas bin Malik menuturkan,

خَدَمْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ، وَاللهِ مَا قَالَ لِي: أُفًّا قَطُّ، وَلَا قَالَ لِي لِشَيْءٍ: لِمَ فَعَلْتَ كَذَا؟ وَهَلَّا فَعَلْتَ كَذَا؟

Aku menjadi pelayan Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun. Demi Allah, selama itu beliau tidak pernah berkata ‘Uff (hus)’ kepadaku, dan tidak pernah membentakku dengan perkataan, ‘Hai, kenapa engkau melakukan itu? Mengapa engkau tidak melakukan itu?’.”([9])

Dalam riwayat yang lain, Anas bin Malik juga menuturkan,

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ خُلُقًا، فَأَرْسَلَنِي يَوْمًا لِحَاجَةٍ، فَقُلْتُ: وَاللهِ لَا أَذْهَبُ، وَفِي نَفْسِي أَنْ أَذْهَبَ لِمَا أَمَرَنِي بِهِ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَخَرَجْتُ حَتَّى أَمُرَّ عَلَى صِبْيَانٍ وَهُمْ يَلْعَبُونَ فِي السُّوقِ، فَإِذَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ قَبَضَ بِقَفَايَ مِنْ وَرَائِي، قَالَ: فَنَظَرْتُ إِلَيْهِ وَهُوَ يَضْحَكُ، فَقَالَ: «يَا أُنَيْسُ أَذَهَبْتَ حَيْثُ أَمَرْتُكَ؟» قَالَ قُلْتُ: نَعَمْ، أَنَا أَذْهَبُ يَا رَسُولَ اللهِ. وَاللهِ لَقَدْ خَدَمْتُهُ تِسْعَ سِنِينَ، مَا عَلِمْتُهُ قَالَ لِشَيْءٍ صَنَعْتُهُ: لِمَ فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا؟ أَوْ لِشَيْءٍ تَرَكْتُهُ: هَلَّا فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا

Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling indah budi pekertinya. Pada suatu hari beliau menyuruhku untuk suatu keperluan. Maka aku berkata, ‘Demi Allah, saya tidak akan pergi’. Padahal dalam hatiku, aku akan pergi untuk melaksanakan perintah Nabi ﷺ terhadapku. Maka aku pun pergi, dan aku melewati beberapa orang anak yang sedang bermain-main di pasar. Tiba-tiba Rasulullah ﷺ menepuk pundakku dari belakang. Saya menengok kepada beliau, dan beliau tertawa. Lalu kata beliau, ‘Hai, Anas kecil, sudahkah engkau melaksanakan apa yang aku perintahkan?’ Jawabku, ‘Ya, saya akan pergi untuk melaksanakannya ya Rasulullah’. Demi Allah, sembilan tahun lamanya saya membantu Rasulullah ﷺ, tidak pernah saya dapatkan beliau menegur saya atas apa yang saya kerjakan dengan ucapan, ‘Mengapa kamu tidak melakukan begini dan begitu’, ataupun terhadap apa yang tidak saya laksanakan dengan perkataan, ‘Seharusnya engkau melakukan begini dan begini’.”([10])

Tentunya, ini di antara mulianya akhlak Nabi Muhammad ﷺ, karena beliau yang seorang majikan terhadap Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu tidak pernah mencela pelayannya selama sembilan atau sepuluh tahun. Bahkan, dalam riwayat yang kita sebutkan, Nabi Muhammad ﷺ tidak marah-marah terhadap apa yang dilakukan oleh Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Tentunya, Nabi Muhammad ﷺ memiliki cara tersendiri dalam menegur Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, namun tentu caranya bukanlah dengan mencela, menghina, ataupun membentaknya.

Ini di antara metode Nabi Muhammad ﷺ dalam menarbiah anak-anak. Hendaknya kita sebagai orang tua pun demikian, hendaknya menjauhkan didikan dan teguran kita dari celaan, hinaan, cercaan, membentak, dan yang semisalnya. Gunakanlah kata-kata yang lembut yang disertai kasih sayang. Ingatlah sabda Nabi Muhammad ﷺ,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِأَهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا، أَدْخَلَ عَلَيْهِمُ الرِّفْقَ

Jika Allah menginginkan sebuah kebaikan pada suatu keluarga, maka Allah akan memasukkan kasih sayang atas mereka.”([11])

Ketahuilah wahai para orang tua, ketika sang anak dalam didikannya oleh kita sering mendengar cacian, celaan, hinaan, maka tentu hal itu akan memberi dampak buruk bagi mereka. Di antaranya adalah celaan dan hinaan itu akan terbias dalam perilaku mereka, dan tentu hal itu sangat tidak baik, karena bisa jadi kemudian dia akan sangat mudah untuk mencela dan menghina orang lain di kemudian hari.

Wahai para orang tua, anak-anak tentu memiliki kesalahan. Namun apakah pantas kemudian sang anak ditegur dengan dibentak-bentak yang disertai dengan celaan dan hinaan? Bahkan, sebagian orang tua sampai membanding-bandingkan sang anak dengan anak orang lain, padahal itu hanya akan memperburuk mental sang anak di kemudian hari.

Wahai para orang tua, marah ketika mendidik atau menegur kesalahan anak itu tidak mengapa selama tidak sering dilakukan. Yang terpenting adalah jangan sampai marah, celaan, hinaan, mendominasi perkataan kita kepada anak-anak.

  1. Mendoakan anak-anak

Di antara bentuk tarbiah kita sebagai orang tua kepada anak-anak adalah dengan sering mendoakan anak-anak. Lihatlah bagaimana praktik Nabi Muhammad ﷺ dalam hal ini, beliau mendoakan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu dengan berkata,

اللهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

Ya Allah, jadikanlah dia fakih dalam ilmu agama, dan ajarkan dia ilmu tafsir Al-Qur’an.”([12])

Selain itu, Nabi Muhammad ﷺ juga mendoakan Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu agar diberkahi harta dan anak-anaknya. Nabi Muhammad ﷺ berdoa,

اللَّهُمَّ ارْزُقْهُ مَالًا وَوَلَدًا، وَبَارِكْ لَهُ فِيهِ

Ya Allah, karuniakanlah dia harta dan anak-anak dan berilah dia keberkahan di dalamnya.”([13])

Dalam riwayat lain Nabi Muhammad ﷺ mendoakan Anas bin Malik dengan berkata,

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ، وَوَلَدَهُ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ

Ya Allah, karuniailah dia harta dan anak yang banyak dan berkahilah terhadap apa yang telah Engkau berikan kepadanya.”([14])

Akhirnya, sebab doa Nabi Muhammad ﷺ, Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu menjadi kaya raya, kebunnya berbuah dua kali dalam setahu sementara kebun orang lain hanya satu kali dalam setahun, dan dia memiliki lebih dari seratus orang.([15])

Wahai para orang tua, doakan anak-anak kalian, karena doa orang tua terhadap anaknya pasti akan dikabulkan. Ingatlah sabda Nabi Muhammad ﷺ,

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ المَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ المُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

Tiga macam doa yang akan dikabulkan yang tidak ada keraguan padanya; Doa orang yang terzalimi, doa musafir, dan doa orang tua atas anaknya (dalam kebaikan atau keburukan).”([16])

Doa orang tua terhadap anaknya adalah doa yang sangat tulus, sehingga tidak heran doa tersebut pasti akan dikabulkan. Tidak ada seseorang yang tulus dalam mendoakan orang lain seperti doa orang tua terhadap anaknya, sehingga pastinya orang tua serius dan tulus dalam mendoakan anaknya.

Ingatlah wahai para orang tua, tidak ada kerugian dengan Anda mendoakan anak Anda, karena berdoa menunjukkan bahwa dia beriman. Bukankah Allah ﷻ telah berfirman tentang ciri penghuni surga yang di antaranya adalah mereka sering untuk berdoa? Allah ﷻ berfirman tentang ibadurrahman bahwa di antara ciri-ciri mereka,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang-orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa’.” (QS. Al-Furqan: 74)

Jadi, ciri orang tua yang saleh adalah yang selalu mendoakan anak-anaknya. Hal ini juga dipraktikkan oleh para nabi dan rasul. Lihatlah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, betapa banyak rangkaian doa yang beliau panjatkan untuk anaknya. Allah ﷻ berfirman tentang doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam,

رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Ya Tuhan, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala.” (QS. Ibrahim: 35)

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)

Oleh karenanya, hendaknya setiap kita sebagai orang tua menyisihkan waktu untuk mendoakan anak-anak kita, dan di antara waktu yang tepat adalah di sepertiga malam yang terakhir. Di waktu itu, kita bangun untuk salat malam dan mendoakan anak-anak kita, mendoakan kebaikan untuk mereka, berdoa agar mereka di jaga di zaman yang penuh fitnah ini, berdoa agar mereka menjadi anak yang saleh dan salihah dan berbakti kepada orang tuanya, karena waktu tersebut adalah di antara waktu yang mustajab bagi seseorang untuk berdoa.

Mendoakan anak-anak sangatlah penting, karena kita mengharapkan penjagaan Allah ﷻ terhadap mereka, dan tidak ada yang bisa menjaga anak-anak kita dengan baik kecuali Allah ﷻ.

Di antara praktik menakjubkan yang penulis saksikan si Arab Saudi adalah ketika orang tua menelepon anaknya, maka mereka terlebih dahulu mendoakan anaknya dengan doa-doa yang baik. Tentu hal seperti ini sangat jarang kita temui di Indonesia, bahkan sebagian orang tua malu untuk mendoakan anaknya baik secara langsung maupun via telepon. Padahal, dengan orang tua mendoakan anaknya secara langsung, sang anak akan semakin sadar bahwa orang tuanya benar-benar mencintai dan menyayanginya, dan sehingga sang anak menjadi termotivasi untuk tidak mengecewakan orang tuanya.

  1. Memanggil anak-anak dengan panggilan kasih sayang

Di antara metode tarbiah Nabi Muhammad ﷺ adalah memanggil anak-anak dengan panggilan yang menunjukkan kasih sayang. Nabi Muhammad ﷺ sering memanggil anak-anak dengan sebutan يَا بُنَيَّ ‘Wahai anak-anakku’, padahal mereka bukanlah anak-anak Nabi Muhammad ﷺ. Namun, itu boleh untuk dilakukan.

Adapun para salaf dalam mempraktikkan hal ini, mereka memanggil anak-anak dengan sebutan يَا ابْنَ أَخِي ‘Wahai putra saudaraku’. Tentunya, panggilan-panggilan seperti ini menunjukkan kasih sayang terhadap anak-anak yang dipanggil ketika hendak di nasihati.

Dalam banyak riwayat pula, Nabi Muhammad ﷺ sering memanggil anak-anak dengan sebutan يَا غُلَام ‘Wahai sang pemuda/remaja’. Bahkan sebagaimana hadis yang telah kita sebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ memberi kunyah kepada adik dari Anas bin Malik yang masih kecil dengan sebutan يَا أَبَا عُمَيْرٍ ‘Wahai Aba Umair’.

Ini semua menunjukkan bahwa Islam telah mengajarkan kepada kita untuk memanggil anak-anak dengan panggilan yang menunjukkan kasih sayang, sehingga yang dipanggil pun akan merasa termotivasi atas panggilan tersebut.

Oleh karenanya, jangan kemudian orang tua memanggil anak-anaknya dengan panggilan yang buruk seperti ‘bangsat’, ‘setan’, ‘brengsek’, atau bahkan memanggil anak-anak dengan nama-nama hewan. Mirisnya, ini terjadi di sebagian masyarakat kita, ketika sebagian orang tua marah kepada anaknya, mereka pun memanggil anaknya dengan nama -nama hewan.

Subhanallah, wahai para orang tua, janganlah memanggil anak-anak dengan sebutan yang buruk meskipun mereka berbuat kesalahan. Lihatlah Nabi Nuh ‘alaihissalam, meskipun anak beliau durhaka dan kufur kepadanya selama ratusan tahun, beliau tetap memanggil anaknya dengan panggilan yang menunjukkan kasih sayang. Allah ﷻ berfirman,

وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَابُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ

“Dan Nuh memanggil anaknya, ketika dia (anak itu) berada di tempat yang jauh terpencil, ‘Wahai anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir’.” (QS. Hud: 42)

Wahai para orang tua, hal ini tentunya hanya masalah kebiasaan saja. Ketika seseorang yang memang dari dulunya terbiasa memaki-maki, berbicara dengan kata-kata yang buruk, tidak belajar tentang adab, maka dia akan merasa bahwa memanggil anak-anak dengan kata-kata buruk adalah hal yang biasa. Namun, untuk orang yang terbiasa berkata-kata lembut, terbiasa berkata-kata baik, belajar tentang adab-adab, maka tentu dia tidak akan memanggil anak-anaknya dengan kata-kata yang buruk. Oleh karenanya, ketika seseorang membiasakan diri dan belajar untuk bisa berkata-kata yang baik, maka pasti dia bisa menerapkan hal ini.

  1. Motivasi dan hukuman

Di antara metode Nabi Muhammad ﷺ adalah targhib ‘motivasi’ dan tarhib ‘hukuman’. Dalam Al-Qur’an, metode ini sangat banyak sekali kita jumpai, di mana Allah ﷻ menyebutkan surga dan neraka, sifat-sifat orang beriman dan sifat-sifat orang kafir, dan yang semisalnya. Intinya, Islam telah mengajarkan kepada kita metode ini, bahwasanya terhadap sesuatu itu ada bentuk kontradiksinya. Maka pada diri anak-anak juga perlu untuk targhib dan tarhib.

  • Motivasi

Motivasi kepada anak-anak bisa dengan beragam cara. Apabila mereka berhasil dengan suatu yang kita minta kepada mereka, maka kita bisa memotivasi mereka dengan materi, atau hanya dengan pujian.

Lihatlah Nabi Muhammad ﷺ, ketika beliau hendak memotivasi Abdullah bin Umar yang ketika itu masih muda untuk bisa salat malam, maka beliau berkata,

نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللَّهِ، لَوْ كَانَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ

Sungguh Abdullah bin Umar adalah sebaik laki-laki bila ia mendirikan shalat malam.”([17])

Akhirnya, Ibnu Umar kemudian salat malam dan tidurnya menjadi sedikit.

Demikian pula Ibnu Umar pernah dimotivasi oleh ayahnya Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu. Disebutkan, ketika Nabi Muhammad ﷺ sedang bersama para sahabat-sahabat senior, Nabi Muhammad ﷺ memberi teka-teki. Ibnu Umar menuturkan,

إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً لاَ يَسْقُطُ وَرَقُهَا، وَهِيَ مَثَلُ المُسْلِمِ، حَدِّثُونِي مَا هِيَ؟

Sesungguhnya di antara pohon-pohon ada satu pohon yang tidak jatuh daunnya, dan itu adalah perumpamaan bagi seorang Muslim. Ceritakan kepadaku pohon apakah itu?.”

Para sahabat yang lain menyangka bahwa itu adalah pohon yang ada di lembah. Namun, Ibnu Umar hendak menjawab bahwa itu adalah pohon kurma, namun dia enggan menjawab karena merasa yang paling muda, sementara sahabat senior tidak menjawab. Lalu kemudian Nabi Muhammad ﷺ menjawab bahwa itu adalah pohon kurma. Setelah itu, Ibnu Umar kemudian hal tersebut kepada ayahnya. Maka, lantas Umar bin Khattab menasihati anaknya dengan berkata,

لَأَنْ تَكُونَ قُلْتَهَا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ يَكُونَ لِي كَذَا وَكَذَا

Aku lebih suka bila engkau ungkapkan saat itu dari pada aku memiliki begini dan begini.”([18])

Ini menunjukkan bagaimana Umar bin Khattab sebagai ayah berusaha untuk memotivasi anaknya Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma untuk menjawab apabila dia memang mengetahui.

Bukankah Nabi Muhammad ﷺ memberikan hadiah kepada orang-orang yang masuk Islam? Jangankan yang baru masuk Islam, yang masih kafir pun Nabi Muhammad ﷺ beri hadiah sebagai motivasi untuk dia masuk Islam. Oleh karenanya, tidak mengapa bagi kita untuk memotivasi anak-anak, baik itu dengan pujian maupun dengan materi. Kita boleh mengatakan, ‘Nak, ayah akan membelikan sepeda kalau kamu lulus ujian’, atau ‘Ayah akan membelikan sepatu baru jika sudah hafal juz Amma’, atau yang semisalnya.

Tidak mengapa untuk kita memotivasi anak kita dengan dunia sesekali, karena hal itu akan memberi motivasi dalam perkembangan mereka, hingga akhirnya ketika dia telah mengerti, maka dia akan cinta dengan apa yang dia lakukan daripada hadiah yang dimotivasikan kepadanya. Sebagaimana perkataan Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu,

إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُرِيدُ إِلَّا الدُّنْيَا فَمَا يُسْلِمُ حَتَّى يَكُونَ الْإِسْلَامُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا

Jika ada seseorang yang dahulu masuk Islam karena niat menginginkan harta dunia, tidaklah ia masuk Islam sehingga Islam itu sendiri lebih dicintainya dari pada dunia dan segala isinya.”([19])

Kemudian, ketika anak-anak telah melakukan suatu kebaikan, maka hendaknya kita apresiasi mereka dengan mengatakan ‘Masya Allah’, atau ‘Terima kasih’, atau ‘Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan’, dan yang lainnya. Jangan kemudian kita malah meremehkan apa yang telah mereka lakukan dengan mengatakan ‘Begitu saja bangga’, atau ‘Biasa saja’. Anak-anak ketika mendengar respons kita seperti maka pasti akan kecewa dan merasa tidak dihargai.

  • Hukuman

Selain targhib ‘motivasi’ orang tua juga perlu untuk memberi tarhib ‘hukuman’ kepada anak-anak apabila mereka melakukan kesalahan. Hukum asal dari memberi hukuman atau pelajaran kepada anak itu boleh dalam Islam, meskipun terhadap anak-anak. Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا، وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan salat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun, dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun maka pukullah dia apabila tidak melaksanakannya, dan pisahkanlah mereka dalam tempat tidurnya.”([20])

Hadis ini menunjukkan bahwasanya memberi hukuman itu sesuai syariat Islam, bahkan hukuman tersebut bisa sampai pada tahapan memukul jika perkara besar ditinggalkan seperti salat, namun dalam memukul pun ada aturan-aturannya.

Intinya, hukuman itu ada dalam Islam. Maka, kita sebagai orang tua bisa memberi hukuman kepada anak-anak dengan berbagai macam hukuman, demi kemaslahatan sang anak.

Namun, yang perlu kita ingatkan kepada diri kita sebagai orang tua adalah ketika menghukum anak-anak, hendaknya kita menyadari bahwa hukuman tersebut dalam rangka mendidik mereka, dalam rangka sayang kepada mereka, ingin mereka baik, namun bukan dalam rangka balas dendam, bukan karena benci, dan bahkan bukan karena menyesal memiliki anak seperti mereka. Sebab, sesungguhnya akan tampak berbeda sikap kita sebagai orang tua ketika memberi hukuman karena rasa sayang dengan memberi hukuman karena benci. Akhirnya, akan timbul ketidakadilan dalam menghukum.

Kesalahan anak-anak perlu ditegur dan diberi hukuman, sebab jika tidak, yang kita khawatirkan adalah kesalahan atau perbuatan buruk tersebut akan menjadi perangai dan akhlak yang tidak bisa diubah hingga mereka dewasa. Oleh karenanya, kesalahan anak itu perlu untuk kita perbaiki, kita arahkan, dan jika perlu kita memberi hukuman.

Poin penting yang perlu kita ingat sebelum memberi hukuman adalah kita sebagai orang tua harus menjelaskan kesalahan sang anak sebelum , agar sang anak sadar bahwa hukuman yang dia dapatkan itu karena kesalahannya sendiri, dan agar tidak terbetik di dalam benak sang anak bahwasanya orang tuanya menghukumnya karena benci.

Perkara ini, para ulama memberi contoh tentang kesalahan sang anak dalam berdusta. Sebab-sebab dusta tentu banyak. Untuk anak di bawah lima tahun, mereka sering berdusta karena mereka belum bisa membedakan mana alam nyata dan mana khayalan, sehingga terkadang perkataan mereka biasanya tercampur dengan dusta, namun ini adalah sesuatu yang wajar.

Namun, di sana ada sebab-sebab yang di mana anak-anak itu murni berdusta dan mereka tahu bahwa sedang berdusta. Di antara sebab yang disebutkan oleh para ulama antara lain:

  • Anak-anak berdusta karena bergaul dengan anak-anak lain yang dia tidak sukai, sehingga mereka berdusta untuk menjatuhkan anak-anak tersebut.
  • Anak-anak berdusta karena takut dihukum. Bisa jadi dia memiliki orang tua yang keras, sehingga berbuat salah sedikit akan dipukul atau semacamnya, sehingga sang anak berdusta untuk menghindari hukuman tersebut. Akhirnya, ketika sang anak terbiasa berdusta, maka dusta tersebut menjadi perilakunya.
  • Anak-anak berdusta karena bergaul dengan teman-teman yang memiliki akhlak yang buruk. Ketika seorang anak bergaul dengan teman-temannya yang juga sering berdusta, maka lama kelamaan dia akan menyadari bahwa dusta adalah hal yang biasa, dan akhirnya dia juga akan berdusta.
  • Anak-anak berdusta karena pembantu yang sering berdusta. Seperti ungkapan pembantu yang sering mereka ucapkan kepada sang anak ketika makan ‘Kalau tidak makan maka akan begini dan begitu’, padahal itu dusta. Sang anak dalam perkembangannya tentu akan tahu bahwa yang dikatakan pembantunya sedang berdusta, akhirnya sang anak pun akan ikut berdusta di kemudian hari.
  • Anak berdusta karena orang tuanya sendiri yang berdusta. Terkadang, seorang anak berdusta karena melihat perilaku orang tuanya yang berdusta. Mungkin anak-anak tidak mengatakan apa-apa ketika orang tuanya berdusta, akan tetapi perbuatan tersebut akan terekam dalam benak anak-anak sehingga menjadi ilmu bagi mereka, sehingga akhirnya mereka juga berdusta di kemudian hari.
  • Anak-anak berdusta karena takut direndahkan oleh orang lain. Terkadang, ketika orang tua bertanya kepada anak tentang tugas sekolahnya, sang anak bisa saja berdus mengatakan ‘sudah dikerjakan’ padahal belum, karena dia takut direndahkan dan oleh orang tuanya.

Wahai para orang tua, kenali dan pahami bentuk dusta-dusta pada anak ini, agar kita bisa lebih mawas diri, sebab dusta bukanlah hal yang sepele. Seringnya, ketika perkara dusta dibiarkan ada pada anak-anak, akhirnya sifat dusta tersebut menjadi sebuah perilaku.

Solusi terbaik untuk orang tua untuk memperbaiki sikap dusta anak ada beberapa di antaranya:

  • Memperbaiki hubungan dengan anak, agar sang anak tidak segan-segan bercerita kepada orang tuanya jika ada sesuatu. Ketika sang anak tidak percaya kepada orang tuanya, tidak memiliki hubungan yang bagus dengan orang tuanya, maka pasti sang anak akan berdusta. Oleh karenanya, orang tua harus mengondisikan bagaimana agar anaknya menjadikannya sebagai orang pertama untuk bercerita terkait keluh kesahnya.
  • Melatih anak untuk jujur. Ketika kita tahu anak kita sedang berdusta karena berbuat salah, maka ajarkan kepada mereka untuk jujur, dan hendaknya kita mengapresiasi jika mereka mau untuk jujur. Adapun hukuman atas kesalahan mereka itu perkara lain, kita bisa menghukumnya atau bahkan tidak menghukumnya. Yang terpenting adalah bagaimana agar sang anak bisa berlaku jujur dan tidak dusta. Hendaknya kita sebagai orang tua mengajarkan kepada anak bahwasanya jujur adalah jalan keselamatan, adapun dusta adalah jalan kebinasaan.
  • Jangan sering menuduh anak berdusta. Ketika orang tua sering menuduh anak berdusta padahal mungkin tidak, maka sang anak mungkin akan memilih untuk berdusta, karena pasti dia merasa bahwasanya kejujurannya tidak dihargai, bahkan malah dituduh berdusta, akhirnya sang anak merasa orang tua tidak mempercayainya, maka dia pun berdusta. Maka, agar anak tidak menjadi pendusta, jangan sering-sering menuduh anak berdusta dan tidak mempercayai kejujurannya.
  • Mengambil sikap tegas yang menunjukkan tidak suka dengan sikap dusta. Di antara penerapan hal ini oleh sebagian saudara kita, yaitu dengan tidak memberikan hadiah kepada anak yang berdusta, dan memberikan hadiah kepada anak yang lain. Atau sebaliknya, misalnya anak memiliki mainan, maka kita menahan mainannya tersebut karena kedustaan yang dia lakukan. Hal ini untuk menunjukkan kepada sang anak bahwasanya kita sebagai orang tua sangat tidak suka dengan sikap dusta dan benci dengan sikap tersebut, dan sang anak sadar untuk meninggalkan sikap dusta tersebut. Di antaranya juga kita bisa melakukan potong rambut dengan model yang tidak disukai oleh sang anak sebagai bentuk hukuman atas kebohongannya.

Tentunya, melatih anak-anak untuk jujur merupakan hal yang berat. Tidak mudah untuk menjadikan anak-anak bisa benar-benar jujur, karena sebab-sebab kebohongan itu banyak. Namun, hendaknya kita orang tua tidak berputus asa, tetap bersabar dalam mendidik anak.

Berbicara tentang memberi hukuman dengan pukulan sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ, maka ada beberapa poin yang perlu kita perhatikan, di antaranya:

  • Memberi hukuman pukulan hanya boleh ketika melakukan kesalahan yang besar yang berulang, dan sudah sering diingatkan. Di antaranya adalah kesalahan dalam meninggalkan salat.
  • Tidak boleh memukul dalam keadaan marah. Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda ketika memberi nasihat kepada seseorang,

لاَ تَغْضَبْ

Jangan marah.”([21])

Orang tua mungkin boleh memunculkan ekspresi marah ketika menghukum anak, akan tetapi di dalam hatinya dia tidak boleh dalam keadaan marah. Ketahuilah, ketika kita marah saat menghukum anak, maka kita akan susah mengontrol diri kita ketika memukul, sehingga anak bisa saja terluka sangat parah karena saking emosinya.

  • Tidak memukul dengan keras. Hendaknya orang tua ketika memukul anaknya dalam rangka memberi hukuman, hendaknya dia tidak mengangkat tinggi-tinggi tangannya sehingga pukulannya menjadi sangat keras.
  • Tidak memukul di bagian yang sensitif, yang berbahaya bagi sang anak ketika area tersebut dipukul, seperti wajah dan yang lainnya.
  • Berhenti memukul ketika sang anak berkata dan bersandar kepada Allah ﷻ, sebagai bentuk pengagungan terhadap Allah ﷻ.

Footnote:
________
([1]) HR. Bukhari No. 2451.

([2]) Lihat: Tarikh ath-Thabari (2/505-506).

([3]) Sebagaimana kita ketahui bahwasanya yang berhak berada persis di belakang imam adalah orang-orang dewasa yang mampu untuk menggantikan imam apabila batal, dan bisa menegur imam apabila salah.

([4]) Anas bin Malik memiliki saudara beda ayah, dan mereka terpaut usia yang cukup jauh.

([5]) HR. Bukhari No. 6129.

([6]) HR. Abu Daud No. 4923, dinyatakan sahih oleh Syaikh Al-Albani.

([7]) Lihat: Ar-Rahiq al-Makhtum (hlm. 190).

([8]) HR. Bukhari No. 127.

([9]) HR. Muslim No. 2309.

([10]) HR. Muslim No. 2310.

([11]) HR. Ahmad No. 24427, dinyatakan sahih oleh Al-Arnauth.

([12]) HR. Ahmad No. 2397, Al-Arnauth menyatakan bahwa sanad hadis ini kuat berdasarkan syarat Imam Muslim.

([13]) HR. Bukhari No. 1982.

([14]) HR. Bukhari No. 6378.

([15]) Lihat: Al-Muwattha’, karya Imam Malik, tahkik Al-A’zhami (6/38).

([16]) HR. Tirmizi No. 1905, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani.

([17]) HR. Bukhari No. 1122.

([18]) HR. Bukhari No. 131.

([19]) HR. Muslim No. 2312.

([20]) HR. Abu Daud No. 495, dinyatakan hasan sahih oleh Al-Albani.

([21]) HR. Bukhari No. 6116.