Kiat-kiat Bahagia di Zaman Now

Kiat-kiat Bahagia di Zaman Now

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Di zaman sekarang ini, ungkapan “zaman now” sudah menjadi ungkapan yang familier di zaman kita. Namun, ungkapan “zaman now” ini seakan-akan tertempel padanya keburukan, sehingga sering kali ungkapan tersebut bermakna negatif. Maka dari itu, perlu penulis mengingatkan bahwasanya Allah ﷻ melarang kita untuk mencela zaman. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah ﷻ berfirman,

يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ، بِيَدِي الأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

Anak Adam telah menyakiti-Ku, dia mencela zaman. Padahal Aku pencipta zaman, Akulah yang menggilir siang dan malan.”([1])

Zaman tidaklah tercela sama sekali, karena zaman itu adalah waktu bergulirnya kegiatan para penghuni zaman, yaitu manusia, sehingga tercelanya zaman kembali kepada pelaku zaman tersebut. Imam Asy-Syafi’i berkata dalam syairnya,

نَعيبُ زَمانَنا وَالعَيبُ فينا

Kita mencela zaman, padahal aibnya ada pada kita.”([2])

Aib itu bukan pada zaman, melainkan ada pada diri kita. Ketika kita ada kesalahan, maka kesalahan itu terletak pada pelaku zaman tersebut.

Demikian pula kita tahu bahwa tidaklah suatu zaman itu datang kecuali zaman berikutnya akan lebih buruk daripada sebelumnya, karena semakin jauh suatu zaman dari zaman kenabian, maka zaman itu akan semakin buruk. Hal ini bisa kita lihat dari betapa banyaknya maksiat-maksiat yang tidak pernah kita lihat sebelumnya, namun maksiat tersebut muncul di zaman yang akan datang, atau banyak perkara yang dahulu dianggap sangat tabu, namun di zaman sekarang sudah dianggap suatu hal yang biasa.

Dahulu, kita merasa aneh ketika mendengar ada perkara homoseksual. Namun, di zaman sekarang kita melihat LGBT seperti perkara yang sudah biasa. Sebagian orang di zaman sekarang mengatakan bahwa LGBT adalah sebuah tren dalam kehidupan, sehingga sebagian orang yang sudah memiliki anak dan istri, mereka baru merasa hidupnya trendi apa bila telah memiliki pasangan sesama jenis.

Oleh karenanya, di zaman yang penuh fitnah ini, kita tentu ingin hidup dengan bahagia, sehingga kita perlu untuk mengetahui kita-kiat untuk bisa hidup bahagia di zaman now.

Kebahagiaan, impian semua manusia

Kebahagiaan adalah impian semua manusia. Siapa pun dia, bagaimana pun statusnya, semuanya tentu berbicara tentang kebahagiaan dan bagaimana cara dia agar bisa bahagia. Akhirnya, banyak dari kita yang saling berteori tentang bagaimana cara meraih kebahagiaan tersebut.

Sebagian orang memandang kebahagiaan dengan memiliki harta yang banyak, akhirnya mereka pun menghabiskan waktunya untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Logika mereka sederhana, ketika mereka memiliki harta yang banyak, maka mereka bisa membeli apa saja yang mereka inginkan, sehingga mereka mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya agar bisa bahagia.

Namun, tidak selamanya yang memiliki harta yang banyak adalah orang yang berbahagia. Jika sekiranya kebahagiaan itu berbanding lurus dengan kebahagiaan, maka tentu seluruh orang kaya akan bahagia. Namun, betapa banyak orang kaya ternyata hidupnya stres memikirkan utang di mana-mana. Jika sekiranya orang dengan banyak harta bisa berbahagia, maka Qarun seharusnya menjadi orang yang paling bahagia, namun ternyata Qarun berakhir dengan kebinasaan.

Sebagian orang juga menyangka bahwa dengan memiliki jabatan dan kekuasaan yang baik adalah puncak dari kebahagiaan, sehingga sebagian orang berlomba-lomba untuk meraih kekuasaan tertinggi. Logika mereka, ketika seseorang bisa menjadi jabatan yang tinggi, mereka bisa memerintah orang-orang, mereka pergi dengan dikawal oleh banyak orang, mereka dihormati oleh banyak orang, dan yang lain-lain. Intinya, sebagian mereka memandang bahwa semakin tinggi jabatan seseorang, maka dia akan semakin berbahagia.

Namun, apakah semua orang dengan jabatan dan kekuasaannya berbahagia? Tentu jawabannya tidak. Lihatlah pejabat-pejabat dengan kekuasaannya, bahkan di balik senyuman mereka seperti tampak jelas beban berat yang dia pikul. Dia sedih memikirkan masyarakatnya, dia sedih karena caci dan makian rakyatnya kepadanya, dan sebab-sebab kesedihan lainnya.

Bagaimana bisa dikatakan mereka yang memiliki jabatan dan kekuasaan bisa bahagia, sementara kehidupan mereka penuh dengan cacian dan celaan dari rakyat dan bawahan mereka? Maka kita katakan, jika memiliki jabatan atau kekuasaan tertinggi adalah puncak kebahagiaan seseorang, maka seharusnya Firaunlah yang paling bahagia, namun kenyataannya dia juga berakhir dengan kebinasaaan. Oleh karenanya, memiliki jabatan dan kekuasaan juga bukanlah sumber kebahagiaan.

Sebagian orang juga menyangka bahwa letak kebahagiaan adalah dengan menjadi orang yang terkenal. Logika mereka, menjadi terkenal adalah suatu kenikmatan tersendiri, sehingga akhirnya mereka rela untuk mengeluarkan harta mereka demi untuk meraih ketenaran tersebut. Oleh karenanya, tidak mengherankan ketika kita melihat sebagian orang yang melakukan hal-hal yang aneh agar bisa menjadi terkenal.

Namun, para artis juga belum tentu menjadi orang yang paling bahagia. Sungguh, betapa sering kita lihat para artis yang bahkan mereka berada di puncak ketenaran, ternyata mereka meninggal dalam kondisi bunuh diri. Bagaimana kita mau katakan bahwa terkenal menjadikan seseorang bahagia, sementara ketenaran menjadikan seseorang tidak memiliki waktu yang banyak bersama keluarga, menjadikan privasi terganggu, dan berbagai ketidaknyamanan lainnya. Maka dari itu, ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa menjadi terkenal bukanlah sumber kebahagiaan, bahkan justru ada kebahagiaan yang telah hilang dari diri mereka.

Intinya, kebahagiaan itu tidak harus berkaitan dengan harta, jabatan, dan bahkan ketenaran. Orang yang tidak memiliki harta, tidak memiliki jabatan yang bagus, tidak terkenal, mereka juga bisa bahagia. Sebagaimana orang kaya bisa bahagia, maka orang miskin juga bisa bahagia. Sebagaimana pemimpin bisa bahagia, maka bawahannya juga bisa bahagia. Sebagaimana orang terkenal bisa bahagia, maka yang tidak terkenal pun bisa bahagia.

Maka, jika sekiranya kebahagiaan dikaitkan dengan harta, jabatan, atau ketenaran, maka sungguh Allah ﷻ tidak adil. Namun, ternyata Allah ﷻ hanya mengaitkan kebahagiaan dengan keimanan. Bahkan, ketika kita melihat dan mengumpulkan sebab-sebab kebahagiaan yang disebutkan oleh banyak para ulama, maka semuanya kembali kepada masalah iman dan menjalankan syariat Islam dengan benar.

Mengapa keimanan itu adalah sumber kebahagiaan? Kita bisa membandingkan kehidupan seorang muslim dengan orang kafir. Tentu sangat jauh perbedaannya. Meskipun tampaknya orang-orang kafir bahagia dengan kehidupannya, tapi sejatinya mereka tidak bahagia. Bagaimana bisa dikatakan mereka berbahagia sementara mereka jauh dari anak-anak mereka, anak-anak mereka banyak yang tidak peduli dengan orang tuanya, kemudian orang tuanya ketika sudah dimasukkan ke panti jompo? Kebahagiaan apa yang mereka harapkan dengan kondisi seperti itu?

Orang yang beriman dan menjalankan syariat-syariat Allah ﷻ tentu tidak demikian. Oleh karenanya, Allah ﷻ memberikan kebahagiaan yang luar biasa kepada orang yang beriman, dan hal itu tidak dirasakan oleh orang-orang kafir.

Inilah kaidah umum, yaitu semakin seseorang beriman kepada Allah, semakin bertauhid kepada Allah, semakin jauh dari kesyirikan, semakin bertawakal kepada Allah, semakin memiliki hubungan yang terbaik dengan Allah, maka orang tersebut akan semakin bahagia. Allah ﷻ telah berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)

Mengapa seseorang yang beriman akan semakin bahagia? Karena yang menentukan kebahagiaan seseorang adalah Allah ﷻ. Kebahagiaan itu tempatnya di hati, dan yang Maha Membolak-balikkan hati adalah Allah ﷻ. Makanya Nabi Muhammad  ﷺ banyak berdoa,

اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Ya Allah Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”([3])

Jika Allah ﷻ membalikkan hati seseorang untuk bahagia, maka orang tersebut akan bahagia. Namun, jika Allah ﷻ membalikkan hati seseorang untuk tidak bahagia, maka orang tersebut tidak akan bahagia, meskipun dunia kita miliki seluruhnya.

Kita mungkin sering bertanya kepada kerabat, teman, bahkan orang yang tidak dikenal tentang kabar mereka dengan keluarganya. Namun, pernahkah kita menanyakan tentang bagaimana kabar kita dengan Allah ﷻ? Kita juga mungkin membangun relasi dengan banyak orang, dan bahkan menjaga relasi tersebut dengan baik. Namun, pernahkah kita menanyakan tentang bagaimana hubungan kita dengan Allah ﷻ yang pada-Nya terletak kunci kebahagiaan? Ingatlah, semakin seseorang memiliki kualitas iman yang baik terhadap Allah ﷻ, maka semakin bahagialah orang tersebut.

Kiat-kiat Bahagia di zaman now

Ada beberapa kiat-kiat yang akan kita sebutkan di sini, agar kita bisa meraih kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Di antara kiat-kiat bahagia tersebut di antaranya:

  1. Memperbaiki hubungan dengan Allah

Kiat yang paling utama agar seseorang bisa bahagia adalah dengan memperbaiki hubungannya dengan Allah ﷻ. Secara sederhana, seseorang yang ingin bahagia hendaknya semakin mendekatkan dirinya kepada Allah ﷻ. Semakin seseorang mengingat Allah, semakin mengenal Allah ﷻ, maka dia akan semakin bahagia. Allah ﷻ berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ketika seseorang memperbaiki hubungannya dengan Allah hingga pada tahap dia menggantungkan hatinya kepada Allah ﷻ, maka dia tentu akan bahagia. Apa pun kondisi seseorang, baik itu dia orang kaya dan miskin, pejabat atau bawahan, terkenal atau tidak terkenal, maka dia akan bahagia.

Maka dari itu, janganlah seseorang membayangkan bisa bahagia kalau ternyata dirinya melewati hari demi hari tanpa membaca Al-Qur’an. Sejatinya, Allah ﷻ menurunkan Al-Qur’an melalui rasul-Nya tersebut adalah risalah dari Allah ﷻ kepada makhluk-makhluk-Nya. Allah ﷻ ingin agar risalah tersebut kita baca agar kita meraih kebahagiaan.

Sesungguhnya, seseorang yang melewati hari-harinya tanpa membaca Al-Qur’an, maka hatinya akan menjadi kering. Penulis sendiri, yang setiap harinya berkecimpung dalam perkara agama, merasakan keringnya hati ketika tidak membaca Al-Qur’an dalam sehari.

Jika penulis saja yang sudah berkecimpung dalam perkara agama setiap harinya masih merasa kurang bahagia ketika tidak membaca Al-Qur’an, maka bagaimana lagi dengan antum-antum yang bukan seorang ustaz? Tentunya, antum-antum yang banyak berkecimpung dalam urusan dunia juga harus menyisihkan waktu untuk membaca Al-Qur’an setiap harinya.

Oleh karenanya, cara sederhana untuk kita bisa bahagia adalah perbaiki hubungan dengan Allah ﷻ, di antaranya dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an, zikir pagi dan petang, dan amalan-amalan lain yang bisa semakin mendekatkan diri kepada Allah ﷻ.

Di antara hal yang juga penting untuk kita lakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah ﷻ adalah dengan salat malam. Ketahuilah, Allah ﷻ memerintahkan Nabi Muhammad  ﷺ untuk senantiasa melaksanakan salat malam sebagai waktu untuk memperbarui keimanan beliau, karena beliau akan bertemu dengan berbagai macam orang dan permasalahan yang berbeda-beda. Tentunya, tidak semua yang Nabi Muhammad  ﷺ hadapi membuat beliau bahagia, bahkan bisa jadi hal yang beliau hadapi akan mengusik kebahagiaan beliau.

Oleh karenanya, para ulama menyebutkan surah Al-Muzammil yang di dalamnya terdapat perintah untuk Nabi Muhammad  ﷺ mengerjakan salat malam dengan sebutan Zadudda’iah ‘bekal para dai’, karena di waktu malam itulah seakan-akan imannya sedang diperbarui, sehingga di siang hari seseorang akan tenang menghadapi problematik kehidupan yang ada.

Penulis menasihatkan kepada kita semua agar tidak meninggalkan salat malam meskipun hanya dengan satu rakaat salat witir, meskipun hanya beberapa menit sebelum waktu subuh, karena kebahagiaan kita itu tergantung bagaimana hubungan kita dengan Allah ﷻ.

Penulis juga menasihatkan agar kita tidak teperdaya dengan dunia. Kalau kita memiliki dunia tapi tidak memiliki hubungan yang baik dengan Allah ﷻ, maka kebahagiaan itu tidak akan tercapai.

Ketika Allah ﷻ berfirman,

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ

“Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit.” (QS. Al-An’am: 125)

Ayat ini memberikan gambaran tentang orang yang jauh dari Allah ﷻ. Ketika seseorang berada di puncak gunung, orang yang berada di bawah melihatnya seakan-akan bebas, padahal hakikatnya orang tersebut sedang sesak bernafas, karena oksigen di puncak semakin susah, namun orang yang di bawah tidak mengerti keadaan orang tersebut.

Demikianlah orang yang jauh dari Allah ﷻ, meskipun mereka memiliki dunia, berada di puncak ketenaran, namun belum tentu mereka bahagia. Lihatlah orang-orang kafir yang kelihatannya hidup dengan kemewahan, apakah mereka bahagia? Belum tentu. Tidak ada kebahagiaan bagi orang yang tidak memiliki keimanan yang benar. Kelezatan mungkin saja mereka rasakan, karena maksiat itu ada kelezatannya, namun kelezatan itu berbeda dengan kebahagiaan, karena kebahagiaan itu hanya bagi orang-orang yang memiliki iman yang benar.

Allah ﷻ telah berfirman dalam surah Thaha,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 124)

Sebagaimana mengingat Allah hati akan tenang, maka bermaksiat pun akan membuat hati tidak tenang.

Maka dari itu, tidak perlu kita terlalu banyak teori untuk bisa bahagia. Cukup perbaiki hubungan dengan Allah ﷻ, laksanakan ibadah-ibadah yang fardhu, laksanakan ibadah-ibadah sunah seperti dzikir pagi dan petang, membaca Al-Qur’an, salat malam, dan yang lainnya. Semakin seseorang bertakwa kepada Allah ﷻ, maka dia akan semakin mudah untuk bahagia.

  1. Sibuk dengan urusan diri sendiri dan tidak sibuk dengan urusan orang lain

Di antara cara agar seseorang bisa bahagia adalah dengan cara dia sibuk mengurus diri sendiri, dan tidak menyibukkan diri dengan urusan orang lain yang tidak bermanfaat baginya. Nabi Muhammad  ﷺ telah bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.”([4])

Banyak di antara kita yang hobi dan senangnya nimbrung terhadap urusan orang lain, padahal hal itu tidak memberikan manfaat bagi kita. Sebagian kita suka berkomentar pada status-status orang lain, padahal tidak memberikan manfaat sama sekali kepada kita, bahkan bisa jadi apa yang kita lakukan tersebut hanya mendatangkan dosa yang terus mengalir.

Nabi Muhammad  ﷺ juga telah bersabda,

عَلَيْكَ بِخَاصَّةِ أَمْرِ نَفْسِكَ

Hendaknya engkau sibuk dengan urusan dirimu.”([5])

Seseorang hendaknya sibuk mengurus dirinya dengan benar, sibuk mengurus istri dan anak-anaknya dengan benar, sibuk dengan pekerjaan sendiri. Jangan kemudian dia sibuk dengan yang bukan menjadi urusannya.

Penulis mengingatkan bahwasanya di antara hal yang mencabut kebahagiaan seseorang di zaman sekarang ini adalah sibuk dengan media sosial. Bagaimana bisa seseorang bahagia sementara waktunya habis untuk bermain media sosial? Waktunya habis untuk membaca berita yang bermacam-macam, sementara waktunya untuk membaca Al-Qur’an dan berzikir kepada Allah ﷻ itu tidak ada.

Bagaimana seseorang bisa hidup tenang, sementara yang masuk ke dalam hatinya adalah berita-berita yang berbagai macam di media sosial? Mungkin kita bisa mengatakan bahwa apa yang  ada di media sosial itu bermanfaat, akan tetapi jika kita mengukur tingkat kemanfaatan media sosial dibandingkan dengan kebahagiaan yang diambil dari diri seseorang, maka bisa kita katakan bahwa merugi seseorang yang waktunya habis karena media sosial.

Oleh karenanya, penulis menasihatkan, jika Anda ingin bahagia, maka jangan sibukkan diri Anda dengan media sosial, dan jangan terlalu sibuk dengan urusan orang lain, karena hal tersebut hanya akan membuat kebahagiaan Anda tergadai dengan sedikit hal menarik di dalam media sosial dan urusan orang lain.

  1. Rindu pulang ke rumah

Di zaman fitnah ini, di antara hal yang bisa membuat seseorang bahagia adalah adanya kerinduan untuk pula ke rumah. Hal ini harusnya menjadi perhatian besar bagi para laki-laki, karena kebahagiaan yang sesungguhnya bagi seseorang laki-laki adalah ketika dia bisa berbahagia dengan istrinya.

Allah ﷻ telah berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

Berdasarkan ayat ini, sebagian ulama mengatakan bahwa kebahagiaan laki-laki yang sesungguhnya adalah apabila dia bahagia bersama istrinya. Ketika seorang bisa merasakan ketenteraman di rumahnya, bahagia dengan istri di rumah, maka dia adalah laki-laki yang bahagia. Namun, apabila seseorang tidak bisa mendapatkan kebahagiaan di rumahnya bersama istrinya, maka sejatinya dia bukanlah orang yang berbahagia, meskipun rumahnya banyak dan megah.

Sebagai contoh, ada orang yang menyangka bahwa kebahagiaannya ada pada kesuksesan bisnis yang dia geluti. Akhirnya, dia berusaha semaksimal mungkin untuk mengurus bisnisnya, namun akhirnya dia mengorbankan kebahagiaan anak dan istrinya. Dia akhirnya tidak sempat untuk bercanda dan berbicara kepada anak dan istrinya. Maka ketahuilah bahwa orang yang seperti ini asalnya dia tidak bahagia, meskipun dia berhasil dalam bisnisnya.

Oleh karenanya, ciri seorang laki-laki bahagia adalah dia senang dan rindu untuk pulang ke rumahnya. Nabi Muhammad  ﷺ, dia adalah orang yang paling sibuk, dan tidak ada orang yang melebihi kesibukan beliau. Nabi Muhammad  ﷺ adalah seorang mufti, seorang kepala negara, seorang sahabat bagi sahabat-sahabat beliau, dan bahkan beliau memiliki sembilan istri, namun dengan kesibukan tersebut beliau tetap menyempatkan diri untuk merajut kebahagiaannya bersama dengan istri-istri beliau.

Oleh karenanya, ketika seseorang menyadari bahwasanya dia belum merasa bahagia di rumahnya, maka tentu ada yang salah, sehingga dia harus memperbaiki sesuatu di dalam dirinya.

Hendaknya seorang laki-laki membuat suasana agar dia bisa merasa tenang dan tenteram untuk tinggal di rumahnya bersama istrinya. Namun, jangan sampai seseorang menjadikan kebahagiaannya di rumahnya hanya dengan bermain media sosial. Akhirnya, ujung-ujungnya dia pun mengabaikan anak dan istrinya. Sesungguhnya, bukan kebahagiaan seperti ini yang kita maksud. Namun, kebahagiaan yang dimaksud adalah seseorang yang rindu untuk pulang ke rumahnya dan rindu untuk bertemu dengan istri di rumahnya.

  1. Perbanyak zikir

Zikir adalah di antara hal yang bisa membuat kita bahagia di zaman sekarang ini. Zikir adalah ibadah yang sederhana, bisa dilakukan kapan saja, mudah dilakukan, berpahala besar, namun sayangnya masih banyak orang yang tidak mengerjakannya.

Ada begitu banyak keutamaan-keutamaan zikir. Di antaranya seperti yang disabdakan Nabi Muhammad  ﷺ,

كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

Ada dua kalimat yang disukai Ar-Rahman, ringan di lisan dan berat di timbangan, yaitu kalimat: Subhanallah wabihamdihi subhanallahil’azhim.”([6])

Demikian juga sabda Nabi Muhammad  ﷺ,

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَآَنِ – أَوْ تَمْلَأُ – مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

Kalimat ‘Alhamdulillah’ memenuhi timbangan, ‘Subhanallah’ dan ‘Alhamdulillah’ keduanya memenuhi -atau memenuhi- ruang antara langit dan bumi.”([7])

Oleh karenanya hendaknya seseorang membiasakan lisannya senantiasa basah dengan zikir. Sempatkan diri untuk zikir pagi dan zikir petang, berzikir setelah salat dengan tenang. Demikian pula hendaknya kita mengubah kebiasaan mengobrol dengan zikir, karena seringnya obrolan kita dengan kawan-kawan, baik secara langsung maupun melalui media sosial itu tidak memberikan manfaat yang besar.

Sesungguhnya, Allah ﷻ telah berjanji bahwa orang-orang yang berzikir itu akan mendapatkan kebahagiaan. Allah ﷻ berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Lihatlah Nabi Muhammad  ﷺ, ketika beliau dihina dan dicaci maki oleh kaum musyrikin, yang Allah ﷻ perintahkan kepada Nabi Muhammad  ﷺ adalah berzikir kepada Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ، فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ، وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sungguh, Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah engkau di antara orang yang bersujud (salat), Dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu.” (QS. Al-Hijr: 97-99)

Demikian juga firman Allah ﷻ dalam ayat yang lain,

فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ

“Bersabarlah engkau (Muhammad) atas apa yang mereka ucapkan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam.” (QS. Qaf: 39)

Artinya, berzikir kepada Allah ﷻ itu akan menghilangkan kegalauan hati seseorang. Sebagian orang ketika hatinya sedang kacau, mereka mungkin melampiaskannya dengan jalan-jalan, menonton film, mendengarkan musik, dan lain-lain. Namun, ternyata kegalauan mereka tidak hilang. Mengapa? Karena obat hati yang galau adalah zikir kepada Allah ﷻ.

Sesungguhnya, seseorang bisa berzikir kapan saja dan di mana saja. Allah ﷻ berfirman,

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.” (QS. Ali-‘Imran: 191)

Artinya, berzikir itu mudah. Seseorang bisa berzikir ketika sedang berbaring, ketika sedang duduk, dan bahkan ketika dia sedang berdiri atau berjalan.

Di antara zikir yang terbaik adalah membaca Al-Qur’an. Oleh karenanya, seseorang yang memiliki hafalan Al-Qur’an adalah orang yang seharusnya paling banyak zikir kepada Allah ﷻ, karena ketika berkendara mereka bisa melantunkan Al-Qur’an tanpa harus melihat mushaf, atau ketika ingin salat malam mereka semangat karena memiliki hafalan Al-Qur’an. Maka dari itu, semoga hal ini memotivasi kita untuk bisa memiliki hafalan Al-Qur’an.

  1. Miliki sifat pemaaf

Di antara hal yang bisa membuat seseorang bahagia di zaman sekarang ini adalah memiliki akhlak yang mulia. Hendaknya seseorang berdoa dan meminta kepada Allah ﷻ agar dikaruniai akhlak yang baik. Di antara doa yang bisa seseorang panjatkan adalah,

اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ

Ya Allah, tunjukilah kepadaku akhlak yang paling bagus. Sesungguhnya tidak ada yang dapat menunjukkannya melainkan hanya Engkau. Dan jauhkanlah akhlak yang buruk dariku, karena sesungguhnya tidak ada yang sanggup menjauhkannya melainkan hanya Engkau.”([8])

Orang yang memiliki akhlak mulia itu pasti bahagia. Di antara akhlak mulia adalah memiliki sifat pemaaf. Siapa pun di antara kita, tentu di zaman ini kita hidup dengan banyak permasalahan. Terkadang kita memiliki masalah dengan saudara, terkadang kita bermasalah dengan tetangga, terkadang bermasalah dengan rekan kerja, dan yang lainnya.

Namun, jika kita ingin bahagia, maka maafkanlah orang yang memiliki masalah dengan kita. Hendaknya kita memberikan uzur kepada mereka, karena bisa jadi ada kemungkinan-kemungkinan yang kita tidak tahu. Ibnul Mubarak telah berkata,

الْمُؤْمِنُ يَطْلُبُ الْمَعَاذِير، وَالْمُنَافِق يَطْلُبُ العَثَرَات

Seorang mukmin itu mencari uzur bagi saudaranya, adapun orang munafik mencari kesalahan orang lain.”([9])

Seseorang yang memiliki sifat mudah memaafkan pasti akan bahagia. Lihatlah para nabi, mereka adalah orang-orang yang berjiwa besar, dada mereka sangat lapang, sehingga cacian kaumnya tidak memberikan pengaruh ke dalam hati mereka, sehingga mereka adalah orang yang paling berbahagia.

Tentu berbeda yang akan dialami orang yang tidak memiliki sifat pemaaf, pasti dia akan terus memikirkan kesalahan orang lain terhadapnya. Sebelum tidur mengingat-ingat kesalahan orang tersebut, akhirnya kebahagiaannya hilang. Bahkan, karena kejengkelan yang ada, akhirnya istri dan anak-anak bisa jadi terkena dampak emosi yang tidak teredam dengan baik.

Oleh karenanya, hendaknya kita memiliki sifat pemaaf agar kita bisa bahagia. Hendaknya kita meyakini bahwasanya apa yang sedang dialami, celaan orang, permasalahan dengan kerabat, itu suda ditakdirkan oleh Allah ﷻ 50.000 tahun sebelum Allah ﷻ menciptakan langit dan bumi, sehingga kita kemudian bisa berlapang dada, mudah memaafkan orang-orang yang telah berbuat salah kepada kita.

Selain itu, hendaknya kita juga mengingat bahwasanya dengan kita memaafkan orang lain, maka kita akan dimaafkan oleh Allah ﷻ, dan juga derajat kita akan diangkat oleh Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22)

Lihatlah Nabi Musa ‘alaihissalam ketika berdoa, yang pertama beliau minta adalah kelapangan dada. Beliau berdoa,

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي، وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي

“Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku.” (QS. Thaha: 25-26).

Maka hendaknya kita juga banyak berdoa meminta kepada Allah ﷻ akhlak yang mulia, karena tidak ada yang bisa menjadikan kita berakhlak mulia kecuali Allah ﷻ, dan di antara akhlak mulia yang kita harapkan adalah mudah memaafkan orang lain.

  1. Membantu orang lain

Di antara akhlak yang juga bisa kita miliki agar kita bisa berbahagia adalah membantu orang lain. Hal ini disebutkan oleh As-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya, beliau mengatakan bahwasanya di antara pokok kebahagiaan orang lain adalah dengan membantu orang lain.([10])

Siapa pun di antara kita berusaha memberikan kebahagiaan kepada orang lain, maka dia akan bahagia. Lihatlah orang yang dermawan, mereka tentu merasakan kebahagiaan ketika bisa berbagi dengan orang lain.

Penulis sering memberikan gambaran akhlak ini dengan akhlak yang dimiliki oleh ustaz Abu Sa’ad rahimahullah. Beliau adalah orang yang memiliki perhatian besar dalam memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Bahkan bisa penulis katakan, tidaklah suatu daerah tertimpa musibah kecuali beliau hadir di sana. Tidak jarang bahkan ketika terjadi peperangan di luar negeri, beliau pun hadir di sana untuk membawa bantuan kaum muslimin.

Subhanallah, saya belum menemukan orang yang seperti Abu Sa’ad rahimahullah. Sampai-sampai saya bertemu dengan seorang kawan di Madinah, dia berasal dari Pakistan. Dia menyampaikan tentang Abu Sa’ad rahimahullah, bahwasanya beliau pernah membantu salah seorang di Pakistan untuk membangun rumah, dan beliau tidak dibayar sepeser pun.

Tentunya, dengan segala kesibukan beliau membantu orang lain itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri, karena kebahagiaan yang beliau masukkan ke dalam hati orang lain, akhirnya Allah ﷻ-lah yang memberikan kebahagiaan ke dalam hati beliau, dan kebahagiaan itu tidak dirasakan oleh orang selain seperti beliau.

Oleh karenanya, akan jauh perbedaan yang akan dirasakan oleh orang yang pelit. Mengapa demikian? Orang yang pelit, sedikit saja hartanya hilang, maka dia akan marah-marah, bahkan terus memikirkannya, hingga akhirnya kebahagiaan itu hilang dari dirinya.

Ingatlah sebuah hadis yang menyebutkan ketika seseorang datang kepada Nabi Muhammad  ﷺ dan mengeluhkan kerasnya hatinya, Nabi Muhammad  ﷺ memberi solusi dengan bersabda,

إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ، فَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ، وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ

Jika engkau ingin hatimu menjadi lembut maka berilah makan kepada orang miskin dan usaplah kepada anak yatim.”([11])

Ini menunjukkan bahwa memiliki sifat dermawan dan senang membantu orang lain itu mendatangkan kebahagiaan, karena kaidah yang telah kita sama-sama ketahui bersama adalah “Balasan sesuai dengan perbuatan”.

Intinya, milikilah akhlak yang mulia ini jika kita ingin bahagia, yaitu senang membantu orang lain. Di antara hal yang ketika dibagi akan memberikan tambahan adalah kebahagiaan. Ketika seseorang berbagi kebahagiaan kepada orang lain, maka Allah ﷻ akan tambahkan kebahagiaan baginya.

  1. Kanaah

Di antara perkara yang bisa mendatangkan kebahagiaan adalah kanaah. Bagaimana cara agar seseorang bisa kanaah? Yaitu dengan sering-sering melihat kondisi orang-orang yang berada di bawah kita. Nabi Muhammad  ﷺ bersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

Pandanglah orang yang berada di bawah kalian, jangan memandang yang ada di atas kalian, itu akan membuat kalian tidak mengufuri nikmat Allah terhadap kalian.”([12])

Wahai para suami, kanaahlah! Kemudian ajari keluarga Anda untuk kanaah. Ajak istri dan anak-anak Anda untuk melihat bagaimana kehidupan orang-orang yang tinggal di pinggir jalan, di bawah jembatan, di pinggir sungai, agar mereka juga bisa menjadi orang yang bersyukur kepada Allah ﷻ. Ajak istri dan anak Anda untuk belajar hidup susah, agar mereka belajar bahwa kehidupan yang mereka rasakan bisa berubah kapan saja, sehingga mereka bisa kanaah di kemudian hari.

Bukan sebaliknya, jangan Anda membiasakan membawa anak dan istri Anda ke rumah orang-orang kaya, atau mengajak mereka ke tempat bermain orang-orang kaya, karena hal itu akan membuat Anda sengsara. Mengapa? Sebab istri dan anak Anda akan terpengaruh untuk mau hidup dengan gaya hidup orang kaya, dan akhirnya mereka akan kurang kanaah kepada Allah ﷻ.

Kemudian, penulis ingatkan kepada para istri, bahwasanya kunci terbesar pada sebuah keluarga ada pada diri kalian. Jika Anda kanaah, maka dengan izin Allah keluarga Anda termasuk suami Anda juga akan kanaah. Sungguh, betapa banyak rasa syukur itu hilang karena berasal dari para istri. Ketika mereka melihat tetangga membeli suatu barang baru, maka dia pun meminta kepada suaminya untuk membeli barang baru tersebut pula, padahal di rumahnya barang yang serupa masih ada dan masih bisa dipakai. Akhirnya, suaminyalah yang kemudian terpacu untuk mencari dunia tak kenal henti, disebabkan karena istri yang tidak kanaah.

Kanaah adalah kunci kebahagiaan, dan ketamakan adalah kunci kesengsaraan. Allah ﷻ telah berfirman,

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ، حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

“Bermegah-megah telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1-2)

Firman Allah ﷻ ini menggambarkan bahwasanya seseorang itu sebenarnya memiliki kehidupan yang cukup, akan tetapi karena sifat ingin banyak-banyakan dengan orang lain, akhirnya waktunya habis untuk dunia, adapun waktu untuk akhirat tidak ada yang tersisa.

Bahkan Nabi Muhammad  ﷺ bersabda,

لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادٍ مِنْ ذَهَبٍ، أَحَبَّ أَنَّ لَهُ وَادِيًا آخَرَ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَاللهُ يَتُوبُ عَلَى مَنْ تَابَ

Andai kata anak Adam diberi emas satu lembah, niscaya dia ingin memiliki satu lembah lagi. Tidak ada yang dapat mengisi mulutnya melainkan tanah (maut). Dan Allah menerima taubat siapa saja yang bertaubat kepada-Nya.”([13])

Sebagian orang yang berlomba-lomba mencari dunia seperti itu, tidak ada klimaks dari apa yang mereka cari, yang ada hanyalah rasa tamak dan selalu ingin menambah apa yang mereka cari. Sehingga, akhirnya kebahagiaan yang dia rasakan sangat sedikit jika dibandingkan dengan waktu yang dia habiskan untuk mencari dunia.

Oleh karenanya, kanaah itu perlu untuk kita tanamkan dalam diri kita masing-masing agar kita bisa bahagia, di antara caranya adalah dengan melihat orang yang berada di bawah kita dalam perkara dunia agar kita kanaah, adapun untuk perkara akhirat hendaknya kita melihat orang yang berada di atas kita agar kita terpacu untuk memperbanyak tabungan di akhirat.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah berkata dalam syairnya,

إِذَا مَا كُنْتَ ذَا قَلْبٍ قَنُوعٍ، فَأَنْتَ وَمَالِكُ الدُّنْيَا سَوَاء

Apabila engkau memiliki hati yang kanaah, maka sesungguhnya engkau dan raja sama saja.”([14])

Seseorang raja akan merasa puas ketika apa yang mereka inginkan terpenuhi. Maka seseorang pun demikian, apabila dia telah memiliki kanaah di dalam hatinya, maka dia telah memiliki rasa puas sebagaimana yang dimiliki oleh sang raja meskipun dia tidak mendapatkan apa-apa.

  1. Perbanyak istigfar

Tidaklah kesengsaraan ada di dalam hati seseorang kecuali karena maksiat yang dia lakukan. Semakin seseorang bermaksiat maka semakin banyak pula kesengsaraan yang akan dirasakan. Nabi Muhammad  ﷺ telah bersabda,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ، صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ زَادَ، زَادَتْ

Sesungguhnya apabila seorang mukmin berbuat dosa, maka akan ada titik hitam di dalam hatinya, jika ia bertaubat, meninggalkannya serta meminta ampun maka hatinya akan kembali putih, namun jika ia menambah dosanya) maka akan bertambah (titik hitam tersebut.”([15])

Orang yang semakin sering berbuat dosa, maka dia akan semakin susah untuk khusyuk dalam salatnya, susah terenyuh hatinya ketika membaca Al-Qur’an, bahkan susah untuk bisa mendapatkan kebahagiaan. Oleh karenanya, hendaknya seseorang banyak beristighfar dan memohon ampun kepada Allah ﷻ. Nabi Muhammad  ﷺ telah bersabda,

طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا

Beruntunglah bagi orang yang mendapatkan di dalam catatan amalnya istighfar yang banyak.”([16])

Penghalang kebahagiaan adalah maksiat. Semakin seseorang bermaksiat, maka seseorang akan gelisah, akan khawatir berlebihan, akan sedih berlebihan, sehingga tidak ada kebahagiaan yang mereka rasakan, karena dalam sebuah ayat Allah ﷻ berfirman,

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Yunus: 62)

Artinya, orang yang saleh itu, yang tidak bermaksiat, maka mereka adalah orang-orang yang berbahagia, tidak ada kesedihan dan ketakutan di dalam hati mereka.

Oleh karena itu, ketika di antara kita ada yang bermaksiat, maka hendaknya segera bertaubat kepada Allah ﷻ, hingga akhirnya Allah ﷻ akan kembalikan kebahagiaan ke dalam hati-hati kita.

Demikian saja yang bisa kita sampaikan tentang kiat-kiat bahagia di zaman now. Tentunya masih ada banyak sebab-sebab kebahagiaan yang lain, namun inilah di antara perkara yang menurut penulis penting untuk kita ketahui. Semoga Allah ﷻ menjadikan kita orang-orang yang berbahagia di dunia, terlebih lagi di akhirat.

Footnote:

________

([1]) HR. Bukhari No. 4826.

([2]) Manaqib Asy-Syafi’i, karya Al-Abury (1/65).

([3]) HR. Bukhari No. 683, dalam Al-Adab al-Mufrad.

([4]) HR. Tirmizi No. 2317, dinyatakan sahih oleh Syaikh Al-Albani.

([5]) HR. Thabrani No. 7758, disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah No. 205.

([6]) HR. Bukhari No. 7563.

([7]) HR. Muslim No. 223.

([8]) HR. Muslim No. 771.

([9]) Mausu’ah al-Akhlak wa az-Zuhd wa ar-Raqaiq, karya Yasir Abdurrahman (2/245).

([10]) Lihat: Tafsir As-Sa’di (hlm. 883).

([11]) HR. Ahmad No. 7576, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani.

([12]) HR. Muslim No. 2963.

([13]) HR. Muslim No. 1048.

([14]) Jawahir al-Adab, karya Al-Hasyimi (2/426).

([15]) HR. Ibnu Majah No. 4244, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani.

([16]) HR. Ibnu Majah No. 3818, dinyatakan sahih oleh Syaikh Al-Albani.