Saat Hidayah Menyapa

Saat Hidayah Menyapa

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Allah ﷻ berfirman,

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

Barangsiapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-An’am : 125)

Dalam ayat ini Allah menggambarkan tentang orang-orang yang diberikan hidayah dan orang yang jauh dari hidayah. Orang yang jauh dari hidayah Allah jadikan dadanya sempit, hidupnya susah, meskipun hidupnya dipenuhi dengan kenikmatan duniawi. Mereka diibaratkan seperti orang yang naik ke puncak gunung, dimana orang-orang yang melihatnya dari bawah seperti orang yang telah bebas dan berhasil, akan tetapi kenyataannya dia bernafas dengan susah payah. Demikianlah perumpamaan orang-orang yang belum mendapatkan hidayah, seakan-akan kita melihat bahwa mereka telah mendapatkan segala kenikmatan dunia, mereka bisa melakukan apa yang mereka kehendaki. Akan tetapi kenyataannya mereka menjalani hidup dengan tidak bahagia. Mereka tidak merasakan kebahagiaan sebagaimana kebahagiaan yang dirasakan oleh seorang muslim yang mungkin hidup dalam keterbatasan namun hati mereka dipenuhi dengan iman dan qona’ah kepada Allah ﷻ.

Sempitnya hidup yang Allah gambarkan dalam ayat di atas tentunya dirasakan oleh orang-orang yang dahulu masih terjerumus dalam lautan kemaksiatan. Mereka pasti merasakan kegelisahan, kebimbangan dan keraguan, bahkan tidak tahu ke mana tujuan hidup tatkala itu, padahal mungkin saat itu mereka memiliki harta yang banyak. Akan tetapi tatkala mereka meninggalkan itu semua, lalu mulai duduk di masjid untuk shalat, mendengarkan pengajian, membaca Al-Quran, maka kebahagiaan yang mereka rasakan. Seperti itulah perpindahan keadaan seseorang yang terjerumus dalam kemaksiatan menuju hidayah. Maka bagaimana lagi keadaan orang yang sebelumnya musyrik, kemudian mendapatkan hidayah untuk masuk Islam.

Oleh karenanya jika hidayah telah menyapa seseorang maka dia akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Pada kesempatan ini, kita akan menyampaikan kisah orang-orang yang disapa oleh hidayah, yang terkadang tidak disangka-sangka. Kebanyakan di antara kita mendapatkan hidayah sejak kecil. Kita lahir dalam kondisi kedua orang tua yang telah muslim, sehingga kita tinggal mengikut agama orang tua kita. Akan tetapi ada orang-orang yang dahulunya dalam kesyirikan, yang kemudian Allah beri hidayah kepada mereka untuk mengenal Islam. Orang-orang seperti mereka itu lebih merasakan betapa luar biasanya nikmat hidayah itu. Sebagaimana para sahabat Nabi terdahulu, mereka betul-betul mengetahui betapa indahnya Islam karena sebelumnya mereka dalam kesyirikan. Oleh karenanya tatkala Raja Najasyi memanggil Ja’far bin Abi Thalib tatkala para sahabat berhijrah ke negeri Habasyah untuk bertanya tentang Islam, Ja’far bin Abi Thalib menceritakan,

كُنَّا قَوْمًا أَهْلَ جَاهِلِيَّةٍ نَعْبُدُ الْأَصْنَامَ، وَنَأْكُلُ الْمَيْتَةَ وَنَأْتِي الْفَوَاحِشَ، وَنَقْطَعُ الْأَرْحَامَ، وَنُسِيءُ الْجِوَارَ يَأْكُلُ الْقَوِيُّ مِنَّا الضَّعِيفَ، فَكُنَّا عَلَى ذَلِكَ حَتَّى بَعَثَ اللَّهُ إِلَيْنَا رَسُولًا مِنَّا نَعْرِفُ نَسَبَهُ، وَصِدْقَهُ، وَأَمَانَتَهُ، وَعَفَافَهُ، فَدَعَانَا إِلَى اللَّهِ لِنُوَحِّدَهُ، وَنَعْبُدَهُ، وَنَخْلَعَ مَا كُنَّا نَعْبُدُ نَحْنُ وَآبَاؤُنَا مِنْ دُونِهِ مِنَ الحِجَارَةِ وَالْأَوْثَانِ، وَأَمَرَنَا بِصِدْقِ الْحَدِيثِ، وَأَدَاءِ الْأَمَانَةِ، وَصِلَةِ الرَّحِمِ، وَحُسْنِ الْجِوَارِ، وَالْكَفِّ عَنِ الْمَحَارِمِ، وَالدِّمَاءِ، وَنَهَانَا عَنِ الْفَوَاحِشِ، وَقَوْلِ الزُّورِ، وَأَكْلِ مَالَ الْيَتِيمِ، وَقَذْفِ الْمُحْصَنَةِ، وَأَمَرَنَا أَنْ نَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا نُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَأَمَرَنَا بِالصَّلاةِ، وَالزَّكَاةِ، وَالصِّيَام

“Kami dahulu adalah suatu kaum yang jahil, dahulu kami menyembah berhala dan memakan bangkai, dahulu kami melakukan perbuatan keji dan memutus tali silaturahmi, dahulu kami buruk dalam bertetangga, orang yang kuat di antara kamu memangsa yang lemah, dan kami masih dalam keadaan seperti itu sampai Allah mengutus kepada kami seorang Rasul dari kalangan kami sendiri. Kami mengetahui nasab dan kejujurannya, amanah dan kehati-hatiannya dalam menjaga kehormatan. Dia mengajak agar kami mengesakan dan menyembah hanya kepada Allah, meninggalkan apa yang kami sembah seperti nenek moyang kami berupa patung. Dia menyuruh kami berbuat jujur dalam berbicara, menunaikan amanah dan menyambung tali silaturahmi, berbuat baik kepada tetangga dan menahan diri dari hal-hal yang haram dan menumpahkan darah. Dia melarang melakukan kekejian dan perkataan dusta, memakan harta anak yatim, dan menuduh orang yang baik dengan tuduhan berzina. Dia menyuruh kami agar kami menyembah Allah saja, dia menyuruh kami shalat, zakat dan puasa.” ([1])

Ja’far bin Abi Thalib menceritakan bagaimana kerusakan-kerusakan yang dia lakukan dahulu sebelum masuk ke dalam Islam. Akan tetapi setelah masuk Islam dia mengatakan bahwa itu adalah kenikmatan. Padahal waktu mereka (para sahabat) masuk Islam, mereka sedang diintimidasi, disiksa dan dimusuhi oleh orang-orang Quraisy, dan mereka juga diusir dari negeri mereka. Akan tetapi mereka merasakan kenikmatan iman dan Islam, meskipun dalam kondisi terdesak.

Maka bagaimana lagi dengan kenikmatan yang kita rasakan, dimana kita hidup di negeri yang aman untuk  berislam. Kita hidup di negeri yang seseorang bisa merasa aman di mana pun berada. Oleh karenanya ini merupakan nikmat yang harus kita syukuri kepada Allah ﷻ.

Kita akan menyebutkan kisah-kisah yang menarik tentang bagaimana hidayah menyapa seseorang yang kadang tanpa diduga dari zaman Nabi ﷺ, dan juga dari zaman orang-orang sekarang yang sampai kisah mereka kepada penulis.

Islamnya Tsumamah bin Utsal

Dalam Sahih Bukhari disebutkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,

بَعَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْلًا قِبَلَ نَجْدٍ، فَجَاءَتْ بِرَجُلٍ مِنْ بَنِي حَنِيفَةَ يُقَالُ لَهُ ثُمَامَةُ بْنُ أُثَالٍ، فَرَبَطُوهُ بِسَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي المَسْجِدِ، فَخَرَجَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «مَا عِنْدَكَ يَا ثُمَامَةُ؟» فَقَالَ: عِنْدِي خَيْرٌ يَا مُحَمَّدُ، إِنْ تَقْتُلْنِي تَقْتُلْ ذَا دَمٍ، وَإِنْ تُنْعِمْ تُنْعِمْ عَلَى شَاكِرٍ، وَإِنْ كُنْتَ تُرِيدُ المَالَ فَسَلْ مِنْهُ مَا شِئْتَ، فَتُرِكَ حَتَّى كَانَ الغَدُ، ثُمَّ قَالَ لَهُ: «مَا عِنْدَكَ يَا ثُمَامَةُ؟» قَالَ: مَا قُلْتُ لَكَ: إِنْ تُنْعِمْ تُنْعِمْ عَلَى شَاكِرٍ، فَتَرَكَهُ حَتَّى كَانَ بَعْدَ الغَدِ، فَقَالَ: «مَا عِنْدَكَ يَا ثُمَامَةُ؟» فَقَالَ: عِنْدِي مَا قُلْتُ لَكَ، فَقَالَ: «أَطْلِقُوا ثُمَامَةَ» فَانْطَلَقَ إِلَى نَجْلٍ قَرِيبٍ مِنَ المَسْجِدِ، فَاغْتَسَلَ ثُمَّ دَخَلَ المَسْجِدَ، فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، يَا مُحَمَّدُ، وَاللَّهِ مَا كَانَ عَلَى الأَرْضِ وَجْهٌ أَبْغَضَ إِلَيَّ مِنْ وَجْهِكَ، فَقَدْ أَصْبَحَ وَجْهُكَ أَحَبَّ الوُجُوهِ إِلَيَّ، وَاللَّهِ مَا كَانَ مِنْ دِينٍ أَبْغَضَ إِلَيَّ مِنْ دِينِكَ، فَأَصْبَحَ دِينُكَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيَّ، وَاللَّهِ مَا كَانَ مِنْ بَلَدٍ أَبْغَضُ إِلَيَّ مِنْ بَلَدِكَ، فَأَصْبَحَ بَلَدُكَ أَحَبَّ البِلاَدِ إِلَيَّ، وَإِنَّ خَيْلَكَ أَخَذَتْنِي وَأَنَا أُرِيدُ العُمْرَةَ، فَمَاذَا تَرَى؟ فَبَشَّرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَرَهُ أَنْ يَعْتَمِرَ، فَلَمَّا قَدِمَ مَكَّةَ قَالَ لَهُ قَائِلٌ: صَبَوْتَ، قَالَ: لاَ، وَلَكِنْ أَسْلَمْتُ مَعَ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلاَ وَاللَّهِ، لاَ يَأْتِيكُمْ مِنَ اليَمَامَةِ حَبَّةُ حِنْطَةٍ، حَتَّى يَأْذَنَ فِيهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Rasulullah mengirim pasukan menuju Najed, lalu mereka menangkap seseorang dari Bani Hanifah, Tsumamah bin Utsal pemimpin penduduk Yamamah, kemudian mereka mengikatnya pada salah satu tiang masjid, lalu Rasulullah menemuinya dan bersabda kepadanya: “Apa yang kamu miliki hai Tsumamah?” ia menjawab, “Wahai Muhammad, aku memiliki apa yang lebih baik, jika engkau membunuhnya maka engkau telah membunuh yang memiliki darah, dan jika engkau memberi maka engkau memberi orang yang bersyukur, namun jika engkau menginginkan harta maka mintalah niscaya engkau akan diberi apa saja yang engkau inginkan.” Kemudian Rasulullah meninggalkannya, hingga keesokan harinya beliau bertanya, “Apa yang engkau miliki wahai Tsumamah?” ia menjawab, “Seperti yang aku katakan, jika engkau memberi maka engkau memberi orang yang bersyukur, jika engkau membunuh maka engkau membunuh yang memiliki darah, jika engkau menginginkan harta maka mintalah niscaya engkau akan diberi apa yang engkau mau.” Lalu Rasulullah meninggalkannya, hingga keesokan harinya beliau bertanya lagi: “Apa yang engkau miliki wahai Tsumamah?” ia menjawab, “Seperti yang aku katakan, jika engkau memberi maka engkau memberi orang yang bersyukur, jika engkau membunuh maka engkau membunuh yang memiliki darah, jika engkau menginginkan harta maka mintalah niscaya engkau akan diberi apa yang engkau mau, ” Rasulullah kemudian bersabda kepada sahabatnya; “Bawalah Tsumamah” lalu mereka pun membawanya ke sebatang pohon kurma di samping masjid, ia pun mandi dan masuk masjid kembali, kemudian berkata; “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang patut disembah melainkan hanya Allah dan bahwasanya Muhammad itu utusan Allah, demi Allah, dahulu tidak ada wajah di atas bumi ini yang lebih aku benci selain wajahmu, namun sekarang wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai dari pada yang lain, dan demi Allah, dahulu tidak ada agama yang lebih aku benci selain dari agamamu, namun saat ini agamamu menjadi agama yang paling aku cintai di antara yang lain, demi Allah dahulu tidak ada wilayah yang paling aku benci selain tempatmu, namun sekarang ia menjadi wilayah yang paling aku cintai di antara yang lain, sesungguhnya utusanmu telah menangkapku dan aku hendak melaksanakan umrah, bagaimana pendapatmu?” Maka Rasulullah memberinya kabar gembira dan memerintahkannya untuk melakukan umrah, ketika ia sampai di Makkah seseorang berkata kepadanya; “Apakah engkau telah murtad?” Ia menjawab; “Tidak, tetapi aku telah masuk Islam bersama Muhammad , dan demi Allah tidaklah kalian akan mendapatkan gandum dari Yamamah kecuali mendapatkan izin dari Rasulullah .”([2])

Rupanya hidayah menyapa Tsumamah setelah diikat selama tiga hari di salah satu tiang masjid Nabawi. Sebagian ulama mengatakan bahwa di antara sebab Tsumamah mendapatkan hidayah adalah karena tatkala dia diikat di masjid, dia melihat Nabi ﷺ shalat, dia mendengar bacaan Al-Quran, dia mendengar Nabi ﷺ berceramah. Lihatlah bagaimana Tsumamah masuk Islam tanpa disengaja dan direncanakan. Dan lihatlah bagaimana perasaan dia setelah masuk ke dalam Islam, dia kemudian menjadi cinta kepada Nabi ﷺ, kepada agama Islam, dan kepada kota Nabi ﷺ.

Jika Tsumamah masuk Islam karena diikat di masjid, maka dalam Sahih Muslim disebutkan bahwa ada kisah orang yang masuk Islam karena diberi kambing. Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata,

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ، فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ، فَأَتَى قَوْمَهُ فَقَالَ: «أَيْ قَوْمِ أَسْلِمُوا، فَوَاللهِ إِنَّ مُحَمَّدًا لَيُعْطِي عَطَاءً مَا يَخَافُ الْفَقْرَ» فَقَالَ أَنَسٌ: «إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُرِيدُ إِلَّا الدُّنْيَا، فَمَا يُسْلِمُ حَتَّى يَكُونَ الْإِسْلَامُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا

“Ada seorang laki-laki meminta kambing kepada Nabi di antara dua bukit. Kemudian tanpa ragu-ragu, Rasulullah pun memberikan kambingnya kepada orang itu. Lalu orang itu datang kepada kaumnya (dalam keadaan telah berislam) seraya berkata; “Hai, kaumku! Masuklah kalian semua ke dalam agama Islam kalian! Demi Allah, sesungguhnya Muhammad telah memberiku suatu pemberian tanpa takut miskin.” Maka Anas berkata; “Jika ada seseorang yang dahulu masuk Islam karena niat menginginkan harta dunia, tidaklah ia masuk Islam sehingga Islam itu sendiri lebih dicintainya dari pada dunia dan segala isinya.“([3])

Maksud dari meminta seekor kambing di antara dua bukit adalah dia meminta kambing dengan jumlah yang sangat banyak kepada Rasulullah. Bahkan orang tersebut mengajak kaumnya untuk masuk ke dalam Islam. Seakan-akan orang tersebut menyerukan bahwa barangsiapa yang mau kambing, maka masuklah ke dalam Islam. Akan tetapi sebagaimana perkataan Anas bin Malik dalam ayat ini bahwa meskipun seseorang awalnya masuk Islam karena harta dunia, namun tatkala dia masuk Islam, dia pun akan lebih mencintai Islam daripada dunia dan seisinya.

Islamnya Sofwan bin Umayyah bin Khalaf

Dikisahkan bahwa Sofwan bin Umayyah sangat dendam kepada Nabi ﷺ karena bapaknya yang juga merupakan majikannya Bilal, terbunuh tatkala perang badar. Akhirnya dia pun mengikuti segala peperangan yang terjadi setelah perang badar seperti perang Uhud, perang Khandaq, untuk membunuh Nabi ﷺ. Saking dendamnya ia kepada Nabi ﷺ, saat terjadi Fathu Makkah tahun 8H, dia tidak mau masuk Islam. Padahal pada waktu itu kebanyakan kaum musyrikin masuk Islam karena melihat keramahtamahan dan akhlak Nabi ﷺ. Bahkan dalam suatu kesempatan di berkata; “Jika semua orang masuk Islam dan hanya satu yang tidak masuk Islam, maka sayalah yang tidak masuk Islam tersebut”. Dikisahkan bahwa tatkala dia hendak pergi dari Mekkah, Nabi ﷺ melarangnya dan memintanya tetap tinggal di Mekkah. Maka kemudian hiduplah Sofwan bin Umayyah bersama Nabi ﷺ. Sampai suatu ketika Nabi ﷺ melakukan beberapa kali peperangan dan mendapatkan ganimah yang banyak. Setelah itu Nabi ﷺ mengingat bahwa Sofwan bin Umayyah adalah orang yang suka dengan harta. Maka Nabi ﷺ memberikan kepada Sofwan bin Umayyah 100 ekor unta. Kemudian diberikan lagi 200 ekor unta hingga jumlahnya menjadi 300 ekor unta. Maka Sofwan berkata,

وَاللهِ لَقَدْ أَعْطَانِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَعْطَانِي، وَإِنَّهُ لَأَبْغَضُ النَّاسِ إِلَيَّ، فَمَا بَرِحَ يُعْطِينِي حَتَّى إِنَّهُ لَأَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ

Demi Allah, Rasulullah telah memberiku hadiah yang banyak sekali. Sebenarnya dahulu beliau adalah orang yang paling saya benci, tetapi karena beliau selalu memberi hadiah kepadaku, sehingga beliau kini adalah orang yang paling saya cintai.”([4])

Semua dalil ini menunjukkan bahwa ada orang yang masuk Islam karena diberi harta. Oleh karenanya, jika ada orang yang dendam kepada Anda, cobalah berikan apa yang terbaik yang bisa Anda berikan. Dendamnya kepada Anda pasti akan berkurang seiring dengan intensifnya pemberian Anda kepadanya. Oleh karenanya para ulama mengatakan bahwa di antara orang yang berhak menerima zakat adalah mualaf. Meskipun Islamnya belum kokoh, tetap perlu untuk diberi agar dia semakin tertarik dengan Islam. Tatkala dia telah pelajari Islam lebih dalam, maka kelak jadilah Islam lebih dia cintai daripada harta sebagaimana perkataan Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu.

Kisah Islamnya Dhimad

Dhimad disebutkan adalah seorang yang pandai merukiah atau menyembuhkan orang yang gila. Dan Allah memberikan hidayah kepadanya karena niat baiknya yang mau menyembuhkan penyakit orang lain. Padahal dia tidak menghendaki hidayah tersebut. Kisahnya diceritakan oleh Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

أَنَّ ضِمَادًا، قَدِمَ مَكَّةَ وَكَانَ مِنْ أَزْدِ شَنُوءَةَ، وَكَانَ يَرْقِي مِنْ هَذِهِ الرِّيحِ، فَسَمِعَ سُفَهَاءَ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ، يَقُولُونَ: إِنَّ مُحَمَّدًا مَجْنُونٌ، فَقَالَ: لَوْ أَنِّي رَأَيْتُ هَذَا الرَّجُلَ لَعَلَّ اللهَ يَشْفِيهِ عَلَى يَدَيَّ، قَالَ فَلَقِيَهُ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ إِنِّي أَرْقِي مِنْ هَذِهِ الرِّيحِ، وَإِنَّ اللهَ يَشْفِي عَلَى يَدِي مَنْ شَاءَ، فَهَلْ لَكَ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْدُ» قَالَ: فَقَالَ: أَعِدْ عَلَيَّ كَلِمَاتِكَ هَؤُلَاءِ، فَأَعَادَهُنَّ عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، قَالَ: فَقَالَ: لَقَدْ سَمِعْتُ قَوْلَ الْكَهَنَةِ، وَقَوْلَ السَّحَرَةِ، وَقَوْلَ الشُّعَرَاءِ، فَمَا سَمِعْتُ مِثْلَ كَلِمَاتِكَ هَؤُلَاءِ، وَلَقَدْ بَلَغْنَ نَاعُوسَ الْبَحْرِ، قَالَ: فَقَالَ: هَاتِ يَدَكَ أُبَايِعْكَ عَلَى الْإِسْلَامِ، قَالَ: فَبَايَعَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَعَلَى قَوْمِكَ»، قَالَ: وَعَلَى قَوْمِي، قَالَ: فَبَعَثَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَرِيَّةً، فَمَرُّوا بِقَوْمِهِ، فَقَالَ صَاحِبُ السَّرِيَّةِ لِلْجَيْشِ: هَلْ أَصَبْتُمْ مِنْ هَؤُلَاءِ شَيْئًا؟ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: أَصَبْتُ مِنْهُمْ مِطْهَرَةً، فَقَالَ: رُدُّوهَا، فَإِنَّ هَؤُلَاءِ قَوْمُ ضِمَادٍ

“Suatu ketika, Dhimad pernah datang ke Makkah. Dia berasal dari Azdi Syanu`ah, dan pandai merukiah (mengobati dengan bacaan-bacaan tertentu) seorang yang gila atau terkena gangguan jin. Kemudian pada suatu hari ia mendengar orang-orang bodoh penduduk Makkah mengatakan bahwa Muhammad itu gila. Maka Dhimad berkata, “Sekiranya aku dapat melihat laki-laki ini, mudah-mudahan Allah menyembuhkannya melalui tanganku.” Maka Dhimad pun menemui beliau, dan berkata, “Wahai Muhammad, saya biasa merukiah penyakit ini, dan Allah akan menyembuhkan melalui tanganku siapa saja yang dikehendakinya. Maukah kamu?” Maka Rasulullah membaca: “INNAL HAMDA LILLAHI NAHMADUHU WA NASTA’IINUHU MAN YAHDIHILLAHU FALAA MUDLILLA LAHU WA MAN YUDLLIL FALAA HAADLIYA LAHU WA ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASUULUH AMMA BA’DU.” Dhimad berkata, “Ulangilah lagi kata-katamu tadi.” Maka Nabi pun mengulanginya kembali hingga tiga kali. Akhirnya Dhimad berkata, “Aku telah mendengar kata-kata tukang tenun, kata-kata tukang sihir dan kata-kata tukang syair tetapi aku belum pernah mendengar kata-kata seperti yang Anda ucapkan itu, aku pun juga pernah mengarungi lautan. Berikanlah tangan Anda padaku, aku akan bersumpah setia dengan Anda untuk memeluk Islam.” Maka beliau pun membaiatnya. Kemudian Rasulullah bersabda: “Dan juga untuk kaummu.” Dhimad berkata, “Ya, juga untuk kaumku.” Tidak berapa lama kemudian, Rasulullah mengutus Sariyah (pasukan khusus yang ditugaskan untuk operasi tertentu), lalu mereka melewati kaumnya Dhimad. Lalu komandan pasukan itu bertanya kepada para prajuritnya, “Adakah kalian mengambil sesuatu dari kampung itu?” maka seorang laki-laki menyahut, “Ada, saya telah mengambil ember mereka.” maka sang komandan pun berkata, “Kembalikanlah. Karena mereka adalah kaumnya Dhimad.“([5])

Islamnya Amr bin Tsabit Al-Anshari

Ada kisah lain yang menunjukkan bahwa hidayah itu betul-betul berada di tangan Allah ﷻ. Ada orang yang diberi hidayah tatkala kondisinya sedang sulit. Dikisahkan ada seorang bernama Amr bin Tsabit Al-Anshari. Waktu Nabi ﷺ datang ke kota Madinah mendakwahkan Islam, dia tidak mau beriman. Akan tetapi kemudian dia beriman tatkala terjadi perang Uhud. Ketika itu umat Islam berada dalam kondisi terdesak, dimana umat Islam yang hanya berjumlah 700 orang dihadang 3000 pasukan. Dalam kondisi tersebut, barulah Amr bin Tsabit masuk Islam. Tatkala dia telah menyatakan keislamannya, maka masuklah dia dalam peperangan dan mati syahid. Padahal dia tidak pernah sujud walau hanya sekali. Akan tetapi begitulah kehendak Allah yang menginginkan hidayah di penghujung kehidupannya.

Kata para ulama, orang yang mendapatkan hidayah di penghujung hayatnya, kemungkinan besar ada kebaikan-kebaikan di dalam hatinya. Adapun orang yang awal kehidupannya berada di atas hidayah, namun akhir hayatnya terlepas dari hidayah tersebut, kemungkinan besar juga karena berkaitan tentang kebaikan-kebaikan hatinya. Dalam salah satu sabda Nabi ﷺ mengatakan,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ، وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّار فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ، وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Ada seseorang yang melakukan amalan penghuni surga hingga terlihat oleh manusia menjadi penghuninya padahal ia termasuk penghuni neraka, sebaliknya ada seseorang yang melakukan amalan penghuni neraka hingga terlihat oleh manusia ia menjadi penghuninya padahal ia adalah penghuni surga.“([6])

Ada sebuah kisah di Arab Saudi dari Al-Qashimi yang memiliki buku terkenal dengan judul Ash-Shira’ Bayna at-Tauhid wa Al-‘Ashariyyah (pertarungan antara tauhid dan penyembahan berhala) 2 jilid. Buku tersebut adalah buku yang indah dan sampai saat ini masih digunakan untuk membantah kekufuran. Akan tetapi banyak orang mengatakan bahwa orang ini memiliki penyakit sombong dan angkuh karena tidak ada yang menulis sepertinya di zamannya, sehingga akhirnya kesombongannya membawa dia kepada kemurtadan. Oleh karenanya seseorang harusnya berhati-hati tatkala dia melakukan amal saleh, jangan sombong. Karena bisa jadi orang melihat kita adalah orang yang saleh, akan tetapi di dalam hati kita ternyata ada penyakit. Sehingga bisa jadi hidup kita ditutup dengan su’ul khatimah. Begitu pula sebaliknya mungkin ada seseorang yang musyrik, akan tetapi karena memiliki hati yang baik, Allah berikan hidayah di akhir hayatnya untuk dia masuk Islam seperti kisah Amr bin Tsabit. Ini membuktikan bahwa hidayah kadang datang di saat yang tidak kita duga.

Islamnya Nu’aim bin Mas’ud Al-Ghatafany

Sahabat yang satu ini masuk Islam tatkala terjadi perang Khandaq. Dan kondisi pada perang Khandaq adalah kondisi yang lebih dahsyat bagi kaum muslimin daripada kondisi pada saat perang Uhud. Allah ﷻ berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika bala tentara datang kepadamu, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan bala tentara yang tidak dapat terlihat olehmu. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al-Ahzab: 9)

Kaum muslimin tatkala itu diserang oleh sepuluh ribu pasukan Al-Ahzab yang terdiri dari kaum Quraisy empat ribu orang dan dari kabilah Ghatafan beserta yang lainnya berjumlah enam ribu orang. Dan pada saat itu kaum muslim berjumlah kurang lebih dua ribu orang. Tatkala itu situasi seakan-akan menunjukkan bahwa kaum muslimin akan kalah dan hancur. Namun dalam kondisi genting seperti itu, ternyata ada seorang dari kabilah Ghatafan yang masuk Islam, dialah Nu’aim bin Mas’ud. Padahal pada saat itu sebenarnya sangat mustahil musuh akan masuk Islam, karena musuh mengira bahwa mereka akan menang melawan kaum muslimin. Maka tatkala dia masuk Islam, maka Nabi ﷺ pun memerintahkannya untuk melakukan taktik dalam peperangan yang akhirnya berhasil memporak-porandakan barisan kaum Yahudi dan kaum musyrikin. Intinya adalah Nu’aim masuk Islam tatkala kondisi genting. Padahal dalam kondisi kaum muslimin yang terkepung, biasanya yang muncul adalah seorang munafik. Akan tetapi ternyata ada orang yang masuk Islam dari golongan musuh. Begitulah hidayah yang terkadang datang tanpa di duga-duga.

Inilah beberapa kisah tentang bagaimana hidayah menyapa para sahabat karena sebab-sebab yang tidak terduga. Karena jika Allah berkehendak, maka siapa pun orangnya akan masuk Islam.

Adapun kisah orang-orang saat ini yang disapa oleh hidayah tanpa diduga di antaranya adalah kisah yang penulis dapatkan dari Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad. Dikisahkan bahwa suatu hari ada orang Arab yang jahil berkunjung ke negeri orang kafir di Eropa. Tatkala dia masuk ke negera tersebut, dia mengambil seorang tour guide yang dia adalah seseorang yang percaya kepada Allah tapi non muslim. Maka suatu malam masuklah mereka berdua ke suatu diskotik dan minum khamar. Tatkala mereka meminum khamar tersebut, orang Arab tersebut berkata, “Semoga tuhan mengampuni dosa saya“. Maka orang kafir yang bersamanya pun berkata, “Semoga saya demikian“. Orang Arab itu kemudian menanggapi perkataan orang kafir tersebut, “Kamu tidak akan diampuni. Jika kamu kafir, maka kamu di neraka jahanam selama-lamanya. Namun jika kita bertauhid, walaupun kita bermaksiat, kita mungkin akan masuk neraka tapi kemudian akan masuk surga“. Maka orang kafir pun akhirnya memikirkan perkataan orang Arab tersebut. Akhirnya tour guide tersebut berpikir dan merenungkan bagaimana mungkin dia tidak selamat, sedangkan mereka berdua dengan orang Arab sama-sama meminum khamar. Maka setelah itu dia pun membaca dan mencari tahu tentang Islam sehingga akhirnya dia pun masuk Islam. Dan saya dikabarkan bahwa tour guide tersebut telah belajar di Universitas Islam Madinah.

Lihatlah, lagi-lagi ini menunjukkan kepada kita bahwa seseorang bisa masuk Islam tanpa terduga. Sebagaimana kisah di atas, seseorang bisa masuk Islam gara-gara menemani seseorang untuk meminum khamar. Dialog yang tidak begitu panjang ternyata mengetuk pintu hatinya untuk mempelajari Islam.

Contoh kisah lain adalah dari seorang dosen di Universitas Malik bin Su’ud di Riyadh menceritakan tentang kisah Islamnya seorang wanita kafir. Dikisahkan bahwa wanita kafir ini memiliki seorang pacar laki-laki muslim. Dan ternyata mereka sering melakukan zina. Akan tetapi setiap kali mereka selesai berzina, pacar dari wanita tersebut mandi junub. Maka sang wanita pun akhirnya tersinggung dengan sikap pacarnya. Wanita tersebut pun bertanya-tanya dalam hatinya bahwa apakah dirinya kotor dan menjijikkan sehingga pacarnya harus mandi setiap kali mereka selesai berzina? Maka suatu waktu sang wanita pun bertanya kepada pacarnya, “Mengapa setiap kali berhubungan kamu mandi?” Laki-laki tersebut menjawab, “Inilah Islam yang mengajarkan demikian“. Akhirnya wanita tersebut berpikir dan ingin tahu mengapa Islam memerintahkan hal demikian. Tatkala dia serius belajar dan mencari tahu tentang Islam, akhirnya dia masuk Islam.

Contoh lain adalah seorang wanita yang masuk Islam karena mencuci pakaian. Suatu ketika dia mendapati pakaian seorang muslim dan seorang non muslim. Dia pun menemukan bahwa pakaian dalam seorang muslim tidak begitu bau, sedangkan pakaian dalam non muslim berbau dan pesing. Maka ketika wanita tersebut mendapatkan hal tersebut, dia pun heran kenapa pakaian dalam milik orang muslim tidak bau. Setelah itu akhirnya dia sadar bahwa ada agama yang memerhatikan kebersihan. Maka kemudian wanita tersebut masuk Islam. Mungkin kita melihat bahwa hal tersebut adalah hal yang sepele. Akan tetapi Allah memberikan hidayah dengan sebab hal-hal yang sepele. Maka demikianlah jika Allah telah menghendaki seseorang mendapatkan hidayah. Allah ﷻ berfirman,

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

“Barangsiapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-An’am: 125)

Contoh kisah lain yang penulis dapatkan dari Syaikh Sholeh Sindi, salah seorang dosen di Universitas Islam Madinah. Beliau menceritakan tentang bagaimana seorang rapper wanita dari Prancis yang masuk Islam. Syaikh menyebutkan bahwa wanita rapper tersebut terkenal, akan tetapi dia frustrasi. Karena frustrasi, akhirnya suatu hari dia memutuskan untuk bunuh diri. Namun ternyata dia selamat dan tidak meninggal dunia dari percobaan bunuh diri yang dia lakukan. Ketika dia dirawat di rumah sakit, dia dirawat oleh seorang perawat muslimah. Kemudian perawat tersebut meletakkan Al-Quran terjemahan di meja dalam ruangan rapper tersebut. Karena masa pemulihan yang cukup lama, akhirnya wanita tersebut bosan dan memilih untuk mulai membaca Al-Quran terjemahan tersebut. Ternyata rapper tersebut menuturkan kepada Syaikh bahwa dia membaca terjemahan Al-Quran dari awal hingga akhir. Dan dari membaca terjemahan Al-Quran itulah yang membuat dia akhirnya masuk Islam.

Ada juga kisah orang yang masuk Islam karena keauntetikan Islam. Yang pertama adalah dari kawan penulis yang masuk Islam karena hadits. Kawan penulis menceritakan bahwa dahulu dirinya belajar di sekolah non muslim. Suatu ketika dia membaca hadits Nabi ﷺ. Maka dia pun heran tentang sanad. Sedangkan dalam kitab yang lain, dia tidak mendapatkan hal demikian. Maka dia pun bertanya-tanya apa kegunaan sanad. Setelah dia pelajari, maka dia pun menemukan bahwa sanad berfungsi untuk menunjukkan keautentikan suatu hadits. Dia akhirnya paham bahwa hadits itu diriwayatkan oleh orang-orang yang jika biografi orang tersebut pendusta dan hafalannya lemah, maka status hadistnya menjadi lemah atau bahkan palsu. Dan jika orang-orang yang meriwayatkan adalah orang saleh dan memiliki hafalan yang kuat, maka haditsnya sahih. Sehingga dari situ kemudian orang bisa mengukur drajat hadits tersebut untuk diamalkan atau tidak.

Yang kedua adalah kisah tentang seorang yang masuk Islam karena membaca firman Allah ﷻ,

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا

“Dan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.” (QS. Al-Kahfi : 25)

Tatkala dia membaca ayat ini, dia akhirnya tahu bahwa Ashabul Kahfi tidur di dalam gua selama 309 tahun. Kemudian dia membandingkan terjemahan tersebut dengan terjemahan dalam berbagai terbitan tahun yang berbeda-beda. Ternyata dia mendapati bahwa semuanya sama dalam menyebutkan bahwa Ashabul Kahfi tidur selama 309 tahun. Tatkala dia bandingkan dengan kita suci yang dia miliki, ternyata setiap dekade terdapat perubahan lafal maupun terjemahan. Akhirnya dia pun masuk Islam karena keautentikan Islam. Bahkan ketika ditanya tentang sebab dia masuk Islam, dia menjawab, “Saya tidak masuk Islam, tapi Islamlah yang masuk ke dalam diri saya“.

Demikianlah contoh-contoh kisah yang jika Allah telah menghendaki hidayah kepada seseorang, maka dia tidak akan bisa lari dari hidayah tersebut. Walaupun seluruh orang hendak menyesatkan, namun kalau Allah menghendaki dia dapat hidayah, maka dia pasti akan mendapatkan hidayah. Sebagaimana perkataan Nabi ﷺ setiap kali berkhutbah, beliau mengatakan,

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki hidayah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan barangsiapa yang Allah kehendaki dia sesat, maka tidak ada yang bisa memberinya hidayah.”([7])

Meskipun terkadang seseorang mengenal indahnya dan kebenaran agama Islam, akan tetapi jika hatinya tidak digerakkan untuk masuk Islam, maka dia tidak akan masuk Islam, karena tendensi dunia yang dia pertahankan. Contohnya adalah Abu Thalib paman Nabi ﷺ. Dia mengetahui bahwasanya Islam adalah yang benar. Bahkan dia rela membela anak saudaranya yaitu Muhammad ﷺ. Bahkan dalam suatu riwayat dia berkata,

وَلَقَدْ عَلِمْتُ بِأَنَّ دِينَ مُحَمَّدٍ … مِنْ خَيْرِ أَدْيَانِ الْبَرِيَّةِ دِينَا

لَوْلَا الْمَلَامَةُ أَوْ حِذَارُ مَسَبَّةٍ … لَوَجَدْتَنِي سَمْحًا بِذَاكَ مُبِينَا

Sungguh aku mengetahui bahwa agama Muhammad adalah agama yang terbaik bagi agama manusia. Kalau sekiranya bukan karena takut cercaan dan celaan, engkau akan dapati aku memeluk agama tersebut.”([8])

Abu Thalib enggan masuk Islam karena ada pertimbangan duniawi yaitu takut ada cercaan dari kaumnya. Sehingga tatkala sudah dekat ajalnya, nabi datang dan mengingatkannya tentang kalimat tauhid. Nabi ﷺ berkata,

أَيْ عَمِّ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ» فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ: يَا أَبَا طَالِبٍ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ المُطَّلِبِ، فَلَمْ يَزَالاَ يُكَلِّمَانِهِ، حَتَّى قَالَ آخِرَ شَيْءٍ كَلَّمَهُمْ بِهِ: عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ المُطَّلِبِ

“Wahai pamanku, katakanlah laa ilaaha illallah. Suatu kalimat yang akan aku pergunakan untuk menyelamatkan engkau di sisi Allah”. Maka berkata Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah; “Wahai Abu Thalib, apakah kamu akan meninggalkan agama ‘Abdul Muthalib?”. Keduanya terus saja mengajak Abu Thalib berbicara hingga kalimat terakhir yang diucapkannya kepada mereka adalah dia tetap mengikuti agama ‘Abdul Muthalib.” ([9])

Lihatlah bagaimana Abu Thalib sebenarnya telah mendapatkan sebab-sebab datangnya hidayah yang luar biasa, dan dia mengetahui kebenaran akan hal itu. Akan tetapi dia tetap tidak mau masuk Islam karena ada suatu hal yang menjadi pertimbangannya, baik karena sukunya, harga dirinya atau yang lainnya.

Ada salah satu kisah yang penulis diceritakan oleh seorang kawan di Surabaya. Kisah ini sangat berbahaya, dan semoga kita bisa mengambil pelajaran. Suatu ketika ada orang kafir kaya raya yang terbetik di dalam hatinya untuk masuk Islam. Akhirnya dia pergi menemui salah seorang kawannya dan berkata, “Wahai kawan, saya ingin mengenal Islam“. Temannya menjawab, “Pergilah ke tempat itu, di sana ada orang yang lebih ‘alim. Cobalah tanyakan tentang Islam kepadanya“. Maka datanglah orang kafir kaya tersebut kepada orang ‘alim yang ditunjuk oleh temannya. Orang ‘alim tersebut adalah seorang pedagang. Maka orang kafir ini pun bertanya kepada orang ‘alim tersebut, “Jelaskan kepadaku tentang Islam“. Maka orang alim itu pun menjawab, “Tahukah kamu? Kalau kamu masuk Islam, kamu akan disunat, kamu akan puasa dan tidak makan selama sebulan, kamu juga akan mengeluarkan zakat 2,5% dari hartamu“. Ternyata orang ‘alim tersebut menjelaskan hal-hal yang membuat ketakutan dan kekhawatiran bagi orang kafir tersebut. Akhirnya orang kafir tersebut berkata, “Kalau begitu saya tidak jadi masuk Islam“. Maka beberapa hari kemudian orang ‘alim tersebut bertemu dengan kawan orang kafir yang menyarankannya untuk menemuinya. Kawannya pun berkata kepada orang ‘alim, “Bagaimana kabar si fulan? Apakah dia telah masuk Islam?” Maka orang ‘alim tersebut berkata, “Untuk apa dia masuk Islam? Di dunia dia telah kaya raya, kemudian kelak akan masuk surga. Enak di dia kalau begitu. Biarkan saja dia kaya di dunia, tapi masuk neraka di akhirat“.

Ketahuilah bahwa sikap seperti ini adalah sikap yang tidak benar. Sampai para ulama menyebutkan dalam kitab-kitab fikihnya bahwa tidak boleh bersikap demikian. Jika ada orang yang ingin masuk Islam, harus diterima dan tidak boleh ditunda sedetik pun. Jika seseorang menunda hal tersebut, sehingga menimbulkan keraguan dalam diri orang yang ingin masuk Islam yang akhirnya tidak jadi, maka dia dosa besar. Penulis juga pernah diceritakan oleh dosen penulis ketika di dalam kelas perkuliahan. Beliau menceritakan bahwa di Afrika ada orang yang datang kepada seorang Imam ingin menyatakan keislamannya. Akan tetapi Imam tersebut meminta untuk ditunda hingga selesai shalat. Ternyata setelah selesai shalat, orang tersebut keluar dan tertembak. Akhirnya dia mati sebelum masuk Islam. Maka ini menjadi kesalahan sang Imam. Oleh karenanya jika ada orang yang ingin masuk Islam, jangan ditunda. Biarkan dia masuk Islam terlebih dahulu, dan biarkan keislamannya dikokohkan setelah itu. Karena dikhawatirkan penundaan tersebut bisa membuat hidayah yang menyapanya menghilang. Maka jika ada orang ingin masuk Islam, bantu dia saat itu juga dan jelaskan sebisa mungkin tentang Islam. Adapun yang lain bisa dijelaskan oleh ustaz yang lain untuk mengokohkan keislamannya.

Ini semua menunjukkan bahwa kalau Allah tidak berkehendak untuk memberikan hidayah kepada seseorang, maka dia tidak akan bisa mendapatkan hidayah, meskipun sebab-sebab hidayah telah dia dapatkan. Contohnya pula adalah orang-orang munafik di zaman Nabi ﷺ. Sebab hidayah sangat banyak bagi mereka. Mereka shalat di belakang Nabi, mengerti bahasa Arab, tahu akan keindahan Al-Quran, mereka melihat mukjizat yang turun kepada Nabi, mereka mendengar ceramah Nabi ﷺ setiap hari, akan tetapi ternyata mereka tidak mendapatkan hidayah. Maka bagi seseorang yang telah mendapatkan hidayah, hendaklah bersyukur kepada Allah ﷻ karena dia adalah orang-orang pilihan. Sebagaimana tatkala Nabi ﷺ menggali parit dalam perang Khandaq, beliau mengatakan,

وَاللَّهِ لَوْلاَ اللَّهُ مَا اهْتَدَيْنَا، وَلاَ تَصَدَّقْنَا وَلاَ صَلَّيْنَا

Sungguh demi Allah, kalau bukan karena Allah, niscaya kami tidak akan mendapat hidayah, kami tidak akan shalat, kami tidak akan bersedekah.”([10])

Footnote:
_______

([1]) HR. Ahmad 1740 dan dikatakan bahwa sanadnya kuat oleh Syu’aib Al-Arnauth di Siyar A’lam An-Nubala 1/431-434

([2]) HR. Bukhari no. 4372

([3]) HR. Muslim no. 2312

([4]) HR. Muslim no. 2313

([5]) HR. Muslim no. 868

([6]) HR. Muslim no. 112

([7]) HR. Muslim no. 867

([8]) Syarah Akidah Tahawiyah Lib Abil ‘Izz 2/461

([9]) HR. Bukhari no. 3884

([10])  HR. Bukhari no.4104