Wanita dan Sihir

Wanita dan Sihir

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Mukadimah

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahasa topik penting yang banyak tersebar di tanah air kita, yaitu perkara sihir, karena di tanah air kita ini banyak sekali dukun. Saking banyaknya dukun di tanah air kita, sampai-sampai mungkin kita boleh mengatakan bahwa setiap kota atau kabupaten di tanah air kita ini ada dukun.

Perkara sihir ini masih terus disebarkan sampai sekarang, bahkan sebagian orang telah menjalankan praktik perdukunan secara daring. Oleh karenanya, praktik perdukunan ini seakan-akan hal yang biasa, karena yang namanya sihir, santet, dan pelet adalah sesuatu yang biasa kita dengan di tengah-tengah masyarakat.

Penulis tidak mendengar masalah praktik perdukunan semacam ini dari orang lain, tapi bahkan penulis dengar langsung dari orang-orang yang mengalaminya. Dahulu, kawan saya bercerita bahwasanya setelah menikah, dia tidak bisa menggauli istrinya sampai bertahun-tahun, dan akhirnya kemudian mereka bercerai. Hal tersebut adalah sihir, baik yang disihir sang suami atau pun sang istri. Kemungkinan besar hal tersebut terjadi karena ada laki-laki lain yang suka kepada istrinya dan laki-laki tersebut hasad kepada kawan saya, atau mungkin ada wanita lain yang cinta kepada kawan saya sehingga hasad kepada istrinya, dan akhirnya menyihir kawan saya atau istrinya.

Demikian pula kawan saya yang lain bercerita bahwasanya dia membuka warung di sebuah kota. Dia menceritakan bahwasanya warungnya tersebut diganggu, karena setiap kali dia memasak nasi, nasinya langsung basi ketika dibuka. Setelah itu, karyawannya pun kemudian mulai kerasukan. Bahkan, dari pengakuan sebagian orang, seakan-akan warungnya tersebut tidak terlihat oleh orang-orang yang lewat, seakan-akan warung tersebut selalu tutup. Akhirnya, karena tidak sanggup bertahan dengan kondisi seperti itu, kawan saya tersebut pun menutup usahanya. Subhanallah, yang demikian adalah karena sebab sihir, dan di tanah air kita masih banyak yang seperti itu.

Kisah yang lebih parah terkait masalah sihir ini adalah sampai bisa membuat orang meninggal dunia. Penulis pernah bertemu dengan orang yang tersihir, di mana orang tersebut harus berdiri terus, dan jika dia duduk sedikit saja seakan-akan ada jarum yang menusuknya. Dengan kondisi yang terus seperti itu, akhirnya orang tersebut meninggal dunia.

Dari sini kita menyadari bahwa betapa kejamnya praktik sihir tersebut. Oleh karenanya, hukum orang yang melakukan sihir adalah di dalam Islam adalah dibunuh. Jundub bin Ka’ab Al-Azdi meriwayatkan secara marfu’,

حَدُّ السَّاحِرِ ضَرْبَةٌ بِالسَّيْفِ

Hukuman bagi penyihir adalah dipenggal lehernya dengan pedang.”[1]

Hukum penggal bagi penyihir tersebut dipraktikkan oleh para sahabat. Dalam riwayat-riwayat yang sahih, ada enam sahabat yang memerintahkan untuk membunuh para penyihir, di antaranya adalah Umar bin Khattab, Jundub bin Ka’ab Al-Azdi, Hafshah, Qaish bin Sa’ad, Utsman bin Affan, dan Ibnu Umar.

Para sahabat memerintahkan demikian tidak lain karena para penyihir menimbulkan kemudaratan yang besar bagi orang lain. Kemudaratan yang ditimbulkan dari praktik sihir bukan hanya merusak rumah tangga dan kebahagiaan seseorang, akan tetapi juga sampai menghilangkan nyawa seseorang.

Yang menjadi permasalahan adalah mendatangi para penyihir adalah salah satu sarana yang sering ditempuh oleh orang-orang yang hasad. Betapa banyak seorang adik yang menyihir kakaknya karena hasad, dan bahkan betapa banyak para pembantu yang menyihir majikannya juga karena hasad. Oleh karenanya, yang benar bahwasanya penyihir itu hukumannya adalah dibunuh, dan ini dipraktikkan oleh sebagian negara seperti Arab Saudi.

Menjadi sebuah tontonan yang menyedihkan ketika kita kemudian melihat para penyihir atau dukun di negara kita ini diagung-agungkan oleh sebagian orang. Bahkan, mereka telah dijadikan sebagai penasihat spiritual oleh orang-orang terpandang.

Namun, kita tidak boleh putus asa melihat kondisi tersebut, akan tetapi kita tetap harus memperjuangkan tauhid, mengajarkan tauhid kepada orang lain, azan harus tetap dikumandangkan sampai di seluruh sudut di setiap daerah. Hal tersebut agar sihir tidak lagi berkembang, agar menghilangkan praktik sajen-sajen, dan yang semisalnya.

Sihir

Sihir merupakan perbuatan dosa besar. Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ المُوبِقَاتِ: الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ اليَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ المُحْصَنَاتِ المُؤْمِنَاتِ الغَافِلاَتِ

Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan: Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak, memakan riba, makan harta anak yatim, kabur dari medan peperangan dan menuduh seorang wanita mukmin yang suci berbuat zina.” (Muttafaqun ‘alaih)[2]

Pada hadis tersebut, Nabi Muhammad ﷺ menyebutkan untuk menjauhi sihir, bahkan beliau menyebutkan sihir secara khusus untuk menunjukkan tentang saking bahayanya perkara sihir tersebut, padahal kita tahu bahwasanya sihir merupakan bagian dari kesyirikan.

Di antara hal yang menunjukkan buruk dan bahayanya perkara sihir ini adalah orang yang datang kepada penyihir bisa menjadi kafir, keluar dari Islam.[3] Jika seseorang datang kepada penyihir, kemudian meminta tolong kepadanya, dan kemudian membenarkannya itu bisa menjadi kafir, maka tentu penyihirnya tidak diragukan lagi akan kekufurannya.

Allah ﷻ telah berfirman,

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Sulaiman itu tidak kafir tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia yaitu Harut dan Marut. Padahal keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kafir.’ Maka mereka mempelajari dari keduanya (malaikat itu) apa yang (dapat) memisahkan antara seorang (suami) dengan istrinya. Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan, dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Dan sungguh, mereka sudah tahu, barangsiapa membeli (menggunakan sihir) itu, niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat. Dan sungguh, sangatlah buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka tahu.” (QS. Al-Baqarah: 102)

Berdasarkan ayat tersebut, orang-orang Yahudi menyangka bahwasanya Nabi Sulaiman ‘alaihissalam bermain sihir, padahal tidak demikian. Bahkan, jin-jin tunduk kepada Nabi Sulaiman ‘alaihissalam tanpa sihir, tanpa mahar, tanpa pesugihan, melainkan jin-jin tunduk kepada Nabi Sulaiman ‘alaihissalam karena Allah ﷻ yang menundukkan mereka. Demikian pula, Nabi Sulaiman ‘alaihissalam bisa mengatur angin, memiliki pasukan hewan, bisa berbicara dengan hewan, itu semua atas kehendak Allah ﷻ, dan bukan dengan sihir.

Akan tetapi, sebagian orang-orang kemudian malah menggembor-gemborkan bahwasanya sihir itu adalah ilmu yang diajarkan oleh Nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Namun kita katakan bahwa hal tersebut telah dibantah oleh Allah ﷻ dalam ayat tersebut.

Hubungan yang paling erat adalah hubungan antara suami istri. Mengapa demikian? Karena suami istri tidur bersama, berhubungan biologis, dan juga rahasia saling diketahui antara yang satu dengan yang lainnya, di mana setiap orang tidak sedemikian terbuka dengan kerabatnya yang lain. Akan tetapi, dalam ayat tersebut Allah ﷻ menyebutkan bahwa sihir itu mampu memisahkan pasangan suami istri.

Oleh karenanya, ini menunjukkan bagaimana sihir itu sangat berbahaya. Maka memang sudah sepantasnya para penyihir itu hukumannya adalah dibunuh, bukan diagung-agungkan sebagaimana yang terjadi di sebagian masyarakat kita di tanah air.

Membentengi diri dari sihir

Seseorang tentu perlu untuk mengambil usaha untuk membentengi dirinya dari sihir. Namun, hanya dengan izin Allah ﷻ-lah seseorang bisa terjaga dari sihir. Ada beberapa perkara yang bisa kita lakukan sebagai usaha untuk membentengi diri dari sihir, di antaranya:

  1. Selalu bertawakal kepada Allah

Seseorang yang senantiasa bertawakal kepada Allah ﷻ, itu berarti dia sering mengingat Allah ﷻ, dan ketahuilah bahwasanya setan akan menjauh dari hati yang senantiasa mengingat Allah ﷻ.

Hendaknya para wanita memperhatikan hal ini, terlebih lagi bagi mereka yang ketika keluar rumah akan menjadi perhatian orang banyak. Bacalah doa yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ,

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah.”[4]

Doa ini sudah cukup, namun jika ingin ditambah dengan doa berikut juga boleh, yaitu,

اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ، أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ، أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ، أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ، أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tersesat atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan, menzalimi atau dizalimi dan membodohi atau dibodohi.”[5]

Demikian juga, para wanita hendaknya mengingatkan suaminya untuk membaca doa tersebut, karena terkadang seorang suami ketika sudah terburu-buru maka lupa dengan membaca doa keluar rumah. Tentunya, seorang suami juga hendaknya melakukan hal yang demikian ketika dia mendapati istrinya lupa membaca doa keluar rumah.

Membaca doa keluar rumah ini adalah bentuk tawakal kita kepada Allah ﷻ. Kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi di luar rumah kita. Oleh karenanya, kita bertawakal kepada Allah ﷻ terhadap kondisi kita selama di luar rumah.

  1. Senantiasa berdoa

Di antara cara untuk senantiasa bertawakal kepada Allah ﷻ adalah dengan sering berdoa. Hendaknya kita semua, khususnya para wanita senantiasa berdoa ketika hendak melakukan apa saja, minimal dengan mengucapkan ‘Bismillah’.

Islam telah mengajarkan kita banyak sekali doa-doa yang hendaknya kita panjatkan ketika kita melakukan sesuatu. Masuk pasar ada doanya, masuk dan keluar masjid ada doanya, sebelum dan sesudah makan ada doanya, masuk dan keluar toilet ada doanya, dan doa-doa yang lainnya.

Intinya, hendaknya kita senantiasa berdoa, mengingat Allah ﷻ dalam kondisi apa pun. Ketika hati itu senantiasa mengingat Allah ﷻ, maka secara otomatis setan akan menjauh.

Hanya saja, yang menjadi permasalahan adalah masih banyak di kalangan para wanita yang malas untuk berzikir mengingat Allah ﷻ, sementara jari-jarinya sangat lincah ketika bermain di media sosialnya masing-masing. Akhirnya, mata tertuju pada hal-hal yang dilarang untuk dipandang, telinga akhirnya mendengar berbagai macam gibah, dan lisan akhirnya bersiap-siap untuk mengomentari hal-hal yang tidak bermanfaat. Dengan demikian, hatinya menjadi jauh dari mengingat Allah ﷻ.

Oleh karenanya, ketika kita menyadari bahwasanya hanya Allah ﷻ yang bisa menjaga kita dari segala macam keburukan, dan hanya Allah ﷻ pula yang bisa menjaga kita di atas ketaatan, maka berdoalah kepada Allah ﷻ, banyaklah mengingat Allah ﷻ, dan juga senantiasa membaca Al-Qur’an.

Ketahuilah, segala macam zikir itu akan menguatkan hati kita agar terhindar dari serangan setan.

  1. Menjauhi maksiat

Seseorang yang kerasukan jin biasanya karena tiga sebab, yaitu karena hatinya kosong karena sedih, atau sedang bersyahwat tinggi yang haram, atau sedang berada di puncak kemarahan. Tiga kondisi tersebut, ketika seseorang tidak bisa mengontrol dirinya, maka jin akan sangat mudah masuk ke dalam dirinya.

Oleh karenanya, hendaknya seseorang berusaha untuk menjauhi maksiat. Terutama adalah seruling setan, yaitu musik-musik, karena hal tersebut memudahkan setan untuk masuk ke dalam diri kita, dan memudahkan diri kita untuk terkena serangan sihir.

  1. Membaca surah Al-Baqarah di rumah

Seluruh surah di dalam Al-Qur’an secara umum asalnya bermanfaat untuk menjadi perlindungan. Namun, surah Al-Baqarah adalah surah yang spesial dari sekian banyak surah yang ada di dalam Al-Qur’an, yang Allah ﷻ jadikan sebagai surah yang akan memberi perlindungan di rumah.

Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, sesungguhnya setan itu akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al-Baqarah.”[6]

Nabi Muhammad ﷺ tidak menyebutkan surah yang lain dalam hadis ini, sehingga ini menunjukkan bahwasanya surah Al-Baqarah adalah surah yang spesial.

Membaca surah Al-Baqarah berulang-ulang tentu akan memberikan pahala yang sangat banyak, meskipun tidak ada setan yang datang. Hal ini tentu bisa kita lihat dengan banyaknya ayat di dalam surah Al-Baqarah, artinya orang yang membaca surah Al-Baqarah akan mendapatkan pahala yang banyak, terlebih lagi jika surah tersebut dibaca berulang-ulang.

Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda,

اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ، وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ، فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ، تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا، اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ، فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ، وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ، وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ

Bacalah az-Zahrawain, yakni surah Al-Baqarah dan Ali-‘Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat nanti seperti dua tumpuk awan menaungi pembacanya, atau seperti dua kelompok burung, keduanya akan datang membela pembacanya. Bacalah surah Al-Baqarah, karena dengan membacanya akan memperoleh berkah, dan dengan tidak membacanya akan menyebabkan penyesalan, dan pembacanya tidak dapat dikuasai (dikalahkan) oleh tukang-tukang sihir.”[7]

Secara spesifik, surah yang lebih tepat untuk membentengi rumah dari gangguan setan adalah surah Al-Baqarah. Selain itu, Nabi Muhammad ﷺ menyebutkan bahwasanya membaca surah Al-Baqarah akan mendatangkan keberkahan, meninggalkannya adalah sebuah penyesalan, dan pembacanya tidak mampu dikalahkan oleh tukang sihir.

Sebaliknya, di antara hal-hal yang menghilangkan keberkahan di rumah adalah dengan diputarnya musik-musik, film-film yang mengumbar aurat, adanya patung-patung, adanya gambar-gambar makhluk hidup yang dipajang, dan yang semisalnya.

Oleh karenanya, perbanyaklah membaca surah Al-Baqarah, karena hal tersebut bisa mencegah sihir masuk ke rumahnya. Hal ini penulis ingatkan sebagai tindakan preventif, karena jika sihir telah masuk ke dalam rumah maka akan menjadi masalah yang berbeda, dan betapa sering orang yang terkena sihir lalu membaca surah Al-Baqarah namun belum sembuh juga.

  1. Zikri pagi petang

Di antara hal yang tidak boleh dilupakan pula adalah zikir pagi petang. Dalam zikir pagi petang, seseorang akan membaca banyak sekali doa-doa perlindungan kepada Allah ﷻ. Di antara yang kita baca adalah surah Al-Ikhlas dan dua surah yang disebut Al-Mu’awizatain[8], maka jika surah-surah tersebut dibaca di pagi hari dan di sore hari, maka seseorang akan dijaga, dilindungi dari segala keburukan.[9] Demikian pula ketika seseorang membaca ayat kursi, dan yang lainnya, maka itu semua akan menjadi benteng yang kokoh, yang susah untuk ditembus oleh setan.

Biasakanlah diri untuk zikir pagi petang meskipun setan dengan segala keburukan yang dia bawa tidak menghampiri kita. Jangan lalai dari zikir pagi petang, sesungguhnya di zaman sekarang ini sudah begitu banyak kemudahan yang diberikan kepada kita untuk zikir pagi petang, ada dengan buku kecil, ada dengan aplikasi yang bisa kita buka melalu gawai kita, mudah.

Terutama, yang paling penting untuk kita baca adalah surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, karena Nabi ﷺ mengatakan tentang ketiga surah tersebut,

مَا تَعَوَّذَ الْمُتَعَوِّذُونَ بِمِثْلِ هَاتَيْنِ السُّورَتَيْنِ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

Tidak ada perlindungan terbaik bagi orang-orang yang mencari perlindungan seperti kedua surah ini, yaitu surah Al-Falaq dan An-Nas.”[10]

Demikian pula, ketika kita ingin pergi ke mana saja, jangan lupa untuk membaca doa,

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan apa saja yang Dia ciptakan.”[11]

Ketika masuk hotel, singgah di bandara, masuk pesawat atau turun dari pesawat, singgah di kota tertentu, maka bacalah doa ini, karena kita tidak tahu gangguan apa yang sedang mengintai kita.

  1. Membaca ayat kursi dan dua ayat terakhir dari surah Al-Baqarah sebelum tidur

Selain membaca ayat kursi saat zikir pagi petang, jangan lupa untuk membaca ayat kursi sebelum tidur. Dalam sebuah hadis disebutkan,

إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ، لَنْ يَزَالَ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلاَ يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ

Jika kamu hendak beranjak ke tempat tidur maka bacalah ayat kursi, niscaya Allah akan senantiasa menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi.”[12]

Selain itu, hendaknya sebelum tidur juga membaca dua ayat terakhir dari surah Al-Baqarah, yaitu firman Allah ﷻ,

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ، لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), ‘Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.’ Dan mereka berkata, ‘Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.’ Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir’.” (QS. Al-Baqarah: 285-286)

Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ البَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

Barang siapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah pada suatu malam, niscaya kedua ayat itu akan mencukupinya.”[13]

Mencukupi di sini maksudnya adalah menjaga seseorang, dan di antaranya adalah menjaga dari sihir, karena sihir seringnya dikirim di malam hari.

  1. Memakan tujuh butir kurma ajwa setiap pagi

Hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad ﷺ,

مَنِ اصْطَبَحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتِ عَجْوَةٍ، لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ اليَوْمَ سَمٌّ، وَلاَ سِحْرٌ

Barang siapa di pagi hari makan tujuh buah kurma ajwa, maka pada hari itu racun dan sihir tidak akan membahayakan dirinya.”[14]

Inilah beberapa tindakan preventif yang bisa kita lakukan agar kita tidak terkena sihir. Permasalahan ini hanya tinggal bagaimana seseorang istikamah dalam menjalankannya.

Oleh karenanya, hendaknya para wanita mengingat kembali hal-hal yang telah kita sebutkan. Hendaknya senantiasa membaca doa ketika keluar rumah, dan bahkan ketika hendak melakukan apa pun dimulai dengan bismillah. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

كُلُّ كَلَامٍ، أَوْ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُفْتَحُ بِذِكْرِ اللَّهِ، فَهُوَ أَبْتَرُ – أَوْ قَالَ: أَقْطَعُ

Setiap perkataan atau urusan yang tidak dibuka dengan dzikir kepada Allah maka dia cacat atau terputus.”[15]

Segala perkara yang ingin kita mulai, kemudian kita tidak hafal doanya, maka setidaknya kita mengucap ‘basmalah’.

Demikian pula hendaknya kita tidak melupakan zikir pagi petang. Tentu sangat mengherankan apabila kita memiliki waktu untuk bermain media sosial, namun tidak memiliki waktu untuk membaca zikir pagi petang. Wahai para wanita, waktu yang kita gunakan untuk membaca zikir pagi petang tidak banyak, hanya sekitar sepuluh menit, karena itu adalah perlindungan yang sangat kuat.

Demikian pula, ketika selesai salat hendaknya tidak terburu-buru meninggalkan tempat salatnya atau langsung membuka gawainya. Akan tetapi, hendaknya kita berzikir dengan khusyuk terlebih dahulu hingga selesai. Tentunya, ketika kita membaca zikir-zikir tersebut dengan khusyuk, pasti akan ada kelezatan yang Allah ﷻ berikan ke dalam hati-hati kita.

Kiat Menghilangkan Sihir dari Diri

            Kita perlu mengingat bahwasanya sihir adalah penyakit dan ada obatnya. Oleh karenanya, Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً

Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit kecuali Allah turunkan pula obatnya.”[16]

Pada riwayat yang lain Nabi Muhammad ﷺ menambahkan,

عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ، وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ

(obat tersebut) diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak tahu akan hal tersebut.”[17]

Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda,

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

Setiap penyakit ada obatnya. Apabila ditemukan obat yang tepat untuk suatu penyakit, maka akan sembuh penyakit tersebut dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla.”[18]

Lantas, apa yang harus kemudian seseorang lakukan ketika terkena sihir? Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan di antaranya:

  1. Berdoa kepada Allah

Ketahuilah para wanita bahwasanya berdoa adalah kiat yang paling utama yang bisa kita lakukan sebelum kiat-kiat yang lainnya ketika terkena sihir. Bukankah ketika kita melakukan bentuk-bentuk pencegahan yang telah kita sebutkan sebelumnya kebanyakan adalah doa? Di antaranya, zikir pagi petang itu isinya adalah doa.

Oleh karenanya, ketika seseorang telah mengetahui bahwa dirinya terkena sihir, maka hendaknya dia berdoa kepada Allah ﷻ, terutama di sepertiga malam terakhir. Bukankah Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

Rabb kita turun di setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku pasti Aku kabulkan, dan siapa yang meminta kepada-Ku pasti Aku penuhi, dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku pasti Aku ampuni’.”[19]

Lihatlah, Allah ﷻ mencari hamba-hamba-Nya di sepertiga malam terakhir untuk mengabulkan doa-doa hamba-Nya. Maka berdoalah di waktu tersebut.

Dahulu, penulis memiliki seorang kawan seorang mahasiswa di Madinah, dan dia adalah seorang penghafal Al-Qur’an, namun sayangnya dia disihir. Sering sekali, ketika dia buang air besar, yang keluar adalah darah. Dia sudah sering dirukiah, namun qaddarullah, Allah ﷻ belum menakdirkan kesembuhan baginya, dan tentunya dengan hikmah yang Allah ﷻ kehendaki. maka, suatu hari dia berhaji, kemudian ketika di padang Arafah dia berdoa kepada Allah ﷻ agar sihirnya disembuhkan. Alhamdulillah, pulang dari haji, dia pun sembuh.

Maksud penulis, bisa jadi ada orang yang belum sembuh dari sihir dengan rukiah, karena bisa jadi ketika dirukiah dia kurang bertawakal kepada Allah ﷻ, akhirnya rukiah tersebut kurang ampuh. Adapun ketika seseorang mengutamakan doa kepada Allah ﷻ, maka di situlah terkadang tawakal benar-benar terlihat. Oleh karenanya, seseorang hendaknya berdoa kepada Allah ﷻ, terutama berdoa di sepertiga malam terakhir.

  1. Rukiah

Di antara kiat yang bisa kita tempuh ketika seseorang terkena sihir adalah dengan rukiah syar’i.

Bacaan dalam Al-Qur’an

Di antara yang bisa kita baca dalam rukiah adalah surah Al-Fatihah dengan diulang-ulang sebanyak tiga kali, baik dengan memegang orang yang kita rukiah, atau bahkan memegang diri sendiri jika ternyata yang sakit adalah diri kita sendiri. Atau bisa pula kita membaca Al-Fatihah lalu meniupkan dengan sedikit percikan ludah di air, lebih utama jika ada air zamzam[20], lalu ditambah dengan madu[21], lalu berniat untuk kesembuhan, lalu diminum. Kemudian, kita juga bisa membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas masing-masing sebanyak tiga kali, sambil kita bertawakal kepada Allah ﷻ jika kita yang sakit, atau kita mengingatkan orang yang dirukiah jika yang sakit adalah orang lain.

Selain surah Al-Fatihah, kita juga dianjurkan membaca surah Al-Baqarah dan ayat kursi secara khusus. Kemudian, melanjutkannya dengan membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Selain itu, Syaikh bin Baz dan lainnya rahimahumullah juga menganjurkan untuk membaca ayat-ayat sihir. Di antaranya seperti ayat dalam surah Al-A’raf, yaitu firman Allah ﷻ,

وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ، فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ، فَغُلِبُوا هُنَالِكَ وَانْقَلَبُوا صَاغِرِينَ

“Dan Kami wahyukan kepada Musa, ‘Lemparkanlah tongkatmu!’ Maka tiba-tiba ia menelan (habis) segala kepalsuan mereka. Maka terbuktilah kebenaran, dan segala yang mereka kerjakan jadi sia-sia. Maka mereka dikalahkan di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina.” (QS. Al-A’raf: 117-119)

Demikian juga dalam Yunus Thaha, Allah ﷻ berfirman,

وَقَالَ فِرْعَوْنُ ائْتُونِي بِكُلِّ سَاحِرٍ عَلِيمٍ، فَلَمَّا جَاءَ السَّحَرَةُ قَالَ لَهُمْ مُوسَى أَلْقُوا مَا أَنْتُمْ مُلْقُونَ، فَلَمَّا أَلْقَوْا قَالَ مُوسَى مَا جِئْتُمْ بِهِ السِّحْرُ إِنَّ اللَّهَ سَيُبْطِلُهُ إِنَّ اللَّهَ لَا يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِينَ، وَيُحِقُّ اللَّهُ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ

“Dan Fir‘aun berkata (kepada pemuka kaumnya), ‘Datangkanlah kepadaku semua penyihir yang ulung!’ Maka ketika para penyihir itu datang, Musa berkata kepada mereka, ‘Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan!’ Setelah mereka melemparkan, Musa berkata, ‘Apa yang kamu lakukan itu, itulah sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan kepalsuan sihir itu. Sungguh, Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang yang berbuat kerusakan.’ Dan Allah akan mengukuhkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukainya.” (QS. Yunus: 79-82)

Kemudian juga dalam surah Thaha, yaitu firman Allah ﷻ,

قَالُوا يَامُوسَى إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَلْقَى، قَالَ بَلْ أَلْقُوا فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَى، فَأَوْجَسَ فِي نَفْسِهِ خِيفَةً مُوسَى، قُلْنَا لَا تَخَفْ إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعْلَى، وَأَلْقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوا إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى

“Mereka berkata, ‘Wahai Musa! Apakah engkau yang melemparkan (dahulu) atau kami yang lebih dahulu melemparkan?’ Dia (Musa) berkata, ‘Silakan kamu melemparkan!’ Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang olehnya (Musa) seakan-akan ia merayap cepat, karena sihir mereka. Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berfirman, ‘Jangan takut! Sungguh, engkaulah yang unggul (menang). Dan lemparkan apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka buat. Apa yang mereka buat itu hanyalah tipu daya penyihir (belaka). Dan tidak akan menang penyihir itu, dari mana pun ia datang’.” (QS. Thaha: 65-69)

Tiga ayat-ayat tentang sihir ini bercerita tentang bagaimana para penyihir kalah ketika mereka berduel melawan Nabi Musa ‘alaihissalam, sehingga ayat ini menjadi ayat yang bisa melawan para penyihir.

Jadi, surah Al-Fatihah, Al-Baqarah, ayat kursi, surah Al-Ikhlas, surah Al-Falaq, Surah An-Nas, dan ayat-ayat tentang sihir, hendaknya kita baca berulang-ulang ketika merukiah, karena ayat-ayat tersebut yang dianjurkan oleh para ulama, dan telah terbukti ampuh untuk melawan sihir.

Namun, di antara hal yang perlu diperhatikan, sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah, bahwasanya pengaruh kekuatan rukiah kembali kepada perukiah dan orang yang dirukiah. Oleh karenanya, sebelum merukiah, hendaknya perukiah dan orang yang dirukiah menimbulkan di dalam dirinya masing-masing, atau saling menasihatkan, bahwasanya kesembuhan hanya dari Allah, adapun rukiah hanyalah usaha yang ditempuh untuk meraih kesembuhan tersebut.

Doa-doa dalam hadis

Selain dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an, seseorang juga bisa membaca doa-doa yang terdapat dalam hadis-hadis. Di antaranya seperti doa berikut,

بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ اللَّهُ يَشْفِيكَ بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ

Dengan nama Allah aku merukiahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu dan dari kejahatan segala makhluk atau kejahatan mata yang dengki. Allah lah yang menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku merukiahmu.”[22]

Demikian juga doa berikut,

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبْ الْبَاسَ اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

Ya Allah Rabb manusia, Dzat yang menghilangkan rasa sakit, sembuhkanlah, sesungguhnya Engkau Dzat yang Maha menyembuhkan, tidak ada kesembuhan melainkan dari kesembuhan-Mu, yaitu kesembuhan yang tidak menyisakan rasa sakit.”[23]

Demikian juga doa berikut,

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan segala makhluk berbisa dan begitu pula dari setiap mata jahat yang mendatangkan petaka.”[24]

Demikian juga seperti sabda Nabi Muhamad ﷺ,

ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِي تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ وَقُلْ بِاسْمِ اللَّهِ ثَلَاثًا وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

Letakkan tanganmu di tubuhmu yang terasa sakit, kemudian ucapkan Bismillah tiga kali, sesudah itu baca tujuh kali: A’udzu billahi wa qudratihi min syarri ma ajidu wa uhadziru (Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-Nya dari penyakit yang aku derita dan aku cemaskan).”[25]

Inilah beberapa di antara doa-doa dalam hadis-hadis yang bisa kita baca ketika merukiah, baik kepada diri sendiri atau kepada orang lain.

Metode lain

Syaikh bin Baz rahimahullah sendiri menyebutkan bahwa boleh merukiah sebagaimana yang dipraktikkan para salaf, yaitu dengan mengambil tujuh lembar daun sidr, kemudian ditumbuk di antara dua batu hingga hancur, lalu dicampurkan ke dalam air dan kita bacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Kemudian, ayat tersebut bisa diminum, dan boleh pula dengan diguyurkan ke seluruh tubuh (mandi dengan air tersebut).

Demikian pula minyak zaitun, seseorang bisa mengambil minyak zaitun, dirukiah, lalu dioleskan ke seluruh tubuh. Hal ini juga dipraktikkan oleh sebagian para dai. Sebagian para dai pernah bercerita bahwasanya mereka orang sampai tiga hari. Dia bergantian dengan para dai yang lain. Kemudian, dia merukiah dengan mengoleskan minyak zaitun ke seluruh tubuh orang tersebut, sampai akhirnya orang tersebut akhirnya sembuh.

Peringatan

Hindarilah cara-cara rukiah yang aneh, yang tidak syar’i, karena segala kesembuhan dari Allah ﷻ. Jika ternyata metode yang kita tempuh untuk meraih kesembuhan adalah metode yang dimurkai oleh Allah ﷻ, maka bagaimana mungkin kesembuhan itu akan datang? Di antara rukiah yang tidak benar adalah dengan memanggil jin untuk melakukan pengecekan terhadap seseorang.

Demikian pula, hendaknya seseorang yang merukiah orang lain, dan mendapati di dalam tubuh orang tersebut ada jin, maka hendaknya tidak banyak berbicara dengan jin tersebut. Jika dia berbicara maka kita bisa menasihatinya, kemudian membaca ayat-ayat Al-Qur’an.

Perukiah hendaknya menggantungkan harapannya kepada Allah ﷻ dengan meminta kesembuhan hanya kepada Allah ﷻ. Rukiah hanyalah sebab yang terkadang berhasil dan terkadang tidak, sebagaimana obat yang juga kadang menyembuhkan dan terkadang pula tidak sembuh. Kalau sekiranya seseorang belum ditakdirkan oleh Allah ﷻ untuk sembuh dari sihir yang mengenainya, maka semoga itu menjadi sebab digugurkannya dosa-dosanya, dan mengangkat derajatnya di sisi Allah ﷻ. Ingatlah, kalau penyakit biasa saja bisa menggugurkan dosa dan mengangkat derajat seseorang, maka sihir tentu lebih bisa untuk hal tersebut, tentunya dengan izin Allah ﷻ.

Footnote:

———–

[1] HR. Tirmizi No. 1460, beliau berkata, ‘Yang benar bahwa hadis ini mauquf’. Syaikh Al-Albani menyatakan hadis ini daif. Akan tetapi, kisah Jundub Al-Azdi yang membunuh penyihir adalah kisah yang masyhur [Lihat: At-Tarikh al-Kabir (2/222)].

[2] HR. Bukhari No. 2766 dan HR. Muslim No. 89.

[3] Pendapat ini adalah pendapat yang dipilih oleh Syaikh Utsaimin, Syaikh bin Baz, dan juga Lajnah Daimah, berdasarkan firman Allah dalam surah An-Naml: 65.

[4] HR. Abu Daud No. 5095, dinyatakan sahih oleh Syaikh Al-Albani.

[5] HR. Abu Daud No. 5094, dinyatakan sahih oleh Syaikh Al-Albani.

[6] HR. Muslim No. 780.

[7] HR. Muslim No. 804.

[8] Yaitu surah Al-Falaq dan An-Nas.

[9] Lihat: HR. Abu Daud No. 5082 dan HR. Tirmizi No. 3575, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani.

[10] Al-Kuna wa al-Asma` li ad-Daulabiy, karya Abu Bisyr Muhammad Ad-Daulabiy No. 997.

[11] HR. Muslim No. 2708, Nabi Muhammad ﷺ mengatakan bahwa niscaya tidak akan ada yang membahayakan orang tersebut hingga dia pergi dari tempat itu.

[12] HR. Bukhari No. 5010, Nabi Muhammad ﷺ membenarkan perkataan setan tersebut kepada Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.

[13] HR. Bukhari No. 5009.

[14] HR. Bukhari No. 5779.

[15] HR. Ahmad No. 8712, dinyatakan daif oleh Al-Arnauth dan Syaikh Al-Albani. Akan tetapi, makna hadis ini benar.

[16] HR. Bukhari No. 5678.

[17] HR. Ahmad No. 3578, dinyatakan sahih ligairih dengan sanad yang hasan oleh Al-Arnauth,

[18] HR. Muslim No. 2204.

[19] HR. Bukhari No. 1145.

[20] Karena Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

مَاءُ زَمْزَمَ، لِمَا شُرِبَ لَهُ

Air zamzam (berkhasiat) sesuai dengan niat (tujuan) orang yang meminumnya.” (HR. Ibnu Majah No. 3062, dinyatakan sahih oleh Syaikh Al-Albani.

Demikian pula Nabi Muhammad ﷺ bersabda tentang air zamzam,

إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ، وَهِيَ طَعَامُ طُعْمٍ، وَشِفَاءُ سُقْمٍ

Sesungguhnya air zamzam itu berkah. Ia adalah makanan yang mengenyangkan, dan bisa menyembuhkan penyakit.” (HR. Abu Daud At-Thiyalisi No. 459, dinyatakan sahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ as-Shaghir No. 2435).

[21] Madu juga merupakan obat. Allah ﷻ berfirman,

ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).” Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.” (QS. An-Nahl: 69)

[22] HR. Muslim No. 2186.

[23] HR. Bukhari No. 5743 dan HR. Muslim No. 2191.

[24] HR. Bukhari No. 3371.

[25] HR. Muslim No. 2202.