Dahsyatnya Ujub dan Riya’

DAHSYATNYA UJUB DAN RIYA

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Ada dua penyakit berbahaya yang justru menyerang orang-orang saleh dan yang memiliki amal ibadah sekaligus ketaatan kepada Allah ﷻ. Tentu saja, perkara ini di luar pembahasan tentang para pelaku kemaksiatan yang gemar mabuk, bermain judi, perzinaan dan kemaksiatan yang lainnya. Penyakit-penyakit seperti ini tidak menyerang orang-orang saleh, bahkan justru penyakit ini malah rentan mengenai orang yang sibuk beribadah kepada Allah ﷻ, entah bagi orang yang rajin shalat, haji, umrah atau berdakwah di jalan Allah ﷻ. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang rawan terkena penyakit ujub dan riya. Oleh karenanya, sangat diperlukan untuk saling mengingatkan antara kaum muslimin tentang bahaya dari penyakit ini.

Terdapat sebuah hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah melewati para sahabat, sementara saat itu mereka sedang membicarakan tentang Dajal, lalu beliau ﷺ bersabda,

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟ قُلْنَا: بَلَى، فَقَالَ: الشِّرْكُ الْخَفِيُّ، أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي، فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ، لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang fitnah yang lebih aku takutkan atas kalian daripada Al-Masih Ad-Dajal?, kami berkata, ‘Tentu’, lalu beliau bersabda, ‘Syirik yang samar, yaitu seorang yang sedang shalat, lalu memperbagus shalatnya karena ada seseorang yang melihatnya’.”([1])

Inilah fitnah yang lebih dikhawatirkan Nabi Muhammad ﷺ mengenai umat beliau melebihi khawatirnya beliau daripada fitnah Dajal, padahal fitnah Dajal sangat dahsyat. Tidak ada fitnah yang lebih dahsyat daripada fitnah Dajal. Akan tetapi, ternyata fitnah riya lebih dikhawatirkan jika ditinjau dari sisi bagaimana penyakit ini menjangkiti ibadah orang-orang saleh. Orang-orang saleh bisa selamat dari fitnah Dajal, namun justru penyakit riya dapat menyerang mereka. Selain itu, fitnah Dajal belum tentu dijumpai oleh orang-orang yang beriman, karena dia akan muncul di akhir zaman. Adapun riya dan ujub dapat muncul setiap saat, bahkan setiap mukmin bisa saja selamat dari riya atau bahkan binasa karenanya. Inilah di antara sebab Nabi Muhammad ﷺ lebih mengkhawatirkan fitnah riya daripada fitnah Dajal. Oleh karenanya, hendaknya kita selalu berusaha menuntut ilmu dan saling mengingatkan di antara kita, terutama kepada penulis yang belum tentu selamat daripada penyakit ujub dan riya.

Sehebat dan sebesar apa pun ibadah yang dikerjakan seorang hamba, maka tidak akan diterima kecuali dengan ikhlas. Jika tidak ikhlas, maka tidak diterima oleh Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menjalankan agama semata-mata karena-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 4)

Begitu juga dengan hadits yang diriwayatkan oleh ‘Umar radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya segala amalan tergantung dengan niatnya.”([2])

Disebutkan pula di dalam hadits yang lain, diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Allah Tabaraka wa ta’ala berfirman, ‘Aku adalah Dzat yang tidak butuh dengan syarikat, barang siapa yang mengamalkan suatu amalan, lalu dia menyekutukan selain-Ku bersama-Ku, maka Aku akan meninggalkannya dan (amalan) syiriknya’.”([3])

Seseorang yang mengamalkan amalan sehebat apa pun, seperti membangun masjid yang besar dan megah, berdakwah dengan pengikut ribuan atau bahkan jutaan, menunaikan haji setiap tahun, umrah setiap bulan ataupun berbakti kepada orang tuanya, namun melakukan semua ibadah itu karena riya, maka semua ibadahnya tidak diterima oleh Allah ﷻ. Ibadah sehebat apa pun tidak diterima Allah ﷻ, kecuali dengan ikhlas.

  1. Definisi Ikhlas

Secara bahasa, ikhlas diambil dari kataخَلُصَ ‘murni’ dan أَخْلَصَ ‘memurnikan’. Allah ﷻ sering menyebutkannya di dalam Al-Quran tentang ikhlas, di antaranya adalah seperti firman Allah ﷻ,

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ

“Dan sungguh, pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberi kamu minum dari apa yang ada dalam perutnya (berupa) susu murni antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya.” (QS. An-Nahl: 66)

Pada ayat ini dijelaskan bahwa Allah ﷻ mengeluarkan susu yang murni di antara فَرْثٍ ‘kotoran’ maupun دَمٍ ‘darah’. Selain itu, ayat ini juga menggambarkan bahwa susu yang murni adalah susu yang tidak terkontaminasi dengan kedua hal tersebut. Oleh karenanya, susu yang murni tidak dinodai dengan kotoran sedikit pun maupun darah, dan ini di antara gambaran dari ikhlas.

Pada ayat yang lain Allah ﷻ juga berfirman tentang makna ikhlas,

وَامْرَأَةً مُؤْمِنَةً إِنْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلنَّبِيِّ إِنْ أَرَادَ النَّبِيُّ أَنْ يَسْتَنْكِحَهَا خَالِصَةً لَكَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi ingin menikahinya, sebagai kekhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin.” (QS. Al-Ahzab: 50)

Dari sini kita tahu bahwasanya ketika kita sendiri mengatakan “ikhlas”, itu artinya kita telah memurnikan ketaatan hanya untuk Allah ﷻ semata. Jadi, ikhlas secara istilah adalah memurnikan tujuan ibadah hanya untuk Allah ﷻ.

Kapan saja niat yang ikhlas terkontaminasi dengan segala jenis kotoran ataupun segala penyakit hati yang lain, maka tujuan atau niatnya pasti berubah menjadi tidak ikhlas. Di antara kotoran yang merusak keikhlasan ada dua, yaitu riya dan ujub. Inilah dua kotoran yang jika menjangkiti niat seseorang, maka akan merusak keikhlasannya dan menjadikan amalan ibadah yang dikerjakannya tidak diterima oleh Allah ﷻ.

Allah ﷻ mensyaratkan kepada hamba-hamba-Nya bahwa barang siapa yang hendak diterima amalannya, maka niatnya harus murni karena Allah ﷻ dan tidak boleh dinodai oleh kotoran atau penyakit hati sedikit pun. Barang siapa yang telah berniat ibadah 90% ikhlas karena Allah ﷻ sedangkan 10% untuk dipuji, atau 95% karena Allah ﷻ sedangkan 5% agar dihormati, maka jelas amalannya tidak akan diterima oleh Allah ﷻ, karena Allah ﷻ hanya menerima amalan hamba-Nya yang murni ikhlas karena Allah ﷻ semata, bersih dari riya maupun ujub. Oleh karenanya, sangat urgen untuk mengenali bahaya riya dan ujub agar seseorang bisa menjaga keikhlasannya ketika beramal kepada Allah ﷻ. Apabila keikhlasan suatu amalan ternoda dengan riya maupun ujub, maka amalan tersebut tidak akan diterima oleh Allah ﷻ. Setan tidak peduli dengan seseorang yang beramal dengan sebanyak apa pun amal salehnya, tidak peduli dengan sebesar apa pun sedekah yang dikeluarkannya. Maka ketika suatu amalan tercampur dengan riya atau ujub, maka semua amalannya menjadi sia-sia karena tidak diterima Allah ﷻ. Oleh karenanya, hendaknya kita selalu waspada terhadap dua penyakit ini.

Faedah-faedah keikhlasan

Di antara keutamaan ikhlas antara lain:

  1. Amalan yang ringan bisa menjadi berat di sisi Allah

Ibnu Al-Mubarak rahimahullah berkata,

رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ

“Betapa banyak amalan yang kecil, namun dibesarkan oleh niat dan betapa banyak amalan yang besar, namun dikecilkan oleh niat.”([4])

Bisa saja ada seseorang yang bersedekah sebanyak 1 miliar, tapi berharap agar orang-orang perhatian kepadanya, memujinya, menyanjungnya dan menghormatinya. Jika demikian, maka sejatinya amalan tersebut kecil di sisi Allah ﷻ. Sebaliknya, bisa saja ada seseorang yang bersedekah dengan nominal yang kecil, atau beramal dengan amalan yang sederhana, namun dia ikhlas karena Allah ﷻ, maka sejatinya amalannya menjadi besar di sisi Allah ﷻ.

Disebutkan tentang kisah seorang wanita pezina yang diampuni oleh Allah ﷻ karena memberi minum anjing. Kisah ini sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

بَيْنَمَا كَلْبٌ يُطِيفُ بِرَكِيَّةٍ، كَادَ يَقْتُلُهُ العَطَشُ، إِذْ رَأَتْهُ بَغِيٌّ مِنْ بَغَايَا بَنِي إِسْرَائِيلَ، فَنَزَعَتْ مُوقَهَا فَسَقَتْهُ فَغُفِرَ لَهَا بِهِ

“Tatkala ada seekor anjing yang berputar-putar di suatu sumur, hampir mati kehausan, tiba-tiba ada seorang wanita pezina dari Bani Israil, lalu dia melepas alas kakinya (dan mengambil air dari sumur), lalu memberi minum anjing tersebut, maka dosanya diampuni karena perbuatannya itu.”([5])

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa sejatinya amalan pezina itu adalah amalan yang biasa, namun yang membuatnya mendapat ampunan Allah ﷻ adalah karena keikhlasannya. Ketika wanita pezina tersebut memberikan minum kepada anjing, dia bersusah payah masuk dan turun ke dalam sumur untuk mengambil air darinya. Tentu saja, ini bukanlah pekerjaan wanita pada umumnya. Setelah itu, dia memberikan air itu kepada anjing tersebut supaya dapat meminumnya, kemudian ketika anjing tersebut berlalu setelah minum air yang diambilkan pezina tersebut. Dia melakukannya tanpa mengharapkan pamrih darinya sama sekali dan tidak ada seorang pun yang melihatnya. Ini menunjukkan bahwa dia melakukannya murni semata-mata karena Allah ﷻ. Oleh karenanya, agungnya ikhlas dalam hatinya tersebut menjadi sebab dia diampuni oleh Allah ﷻ. ([6])

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, bisa saja ada dua orang yang sedang shalat yang berdampingan di saf yang sama, dengan cara shalat yang sama, namun pahalanya berbeda bagaikan langit dan bumi, karena amalan hati keduanya yang berbeda.([7])

Penulis selalu mengingatkan bahwa hendaknya kita lebih memperhatikan amalan hati, karena sebagian besar orang lebih memperhatikan amalannya secara lahir, penampilan maupun perkataannya. Tentu saja, ini termasuk perkara bagus. Akan tetapi, sejatinya yang paling penting untuk diperhatikan adalah amalan hati. Oleh karenanya, Sebagian salaf seperti Bakar Al-Muzanni mengatakan,

مَا سَبَقَهُمْ أَبُو بَكْرٍ بِكَثْرَةِ صِيَامٍ وَلَا صَلَاةٍ وَلَكِنْ بِشَيْءٍ وَقَرَ فِي صَدْرِه

“Abu Bakar radhiallahu ‘anhu tidak mengungguli para sahabat dengan banyak puasa maupun shalat, tetapi dengan sesuatu yang tertancap di dalam dadanya.”([8])

Abu Bakar radhiallahu ‘anhu mengungguli para sahabat yang lain bukan karena banyaknya amalan shalat, puasa maupun sedekah yang dikerjakannya. Akan tetapi, karena keikhlasan di dalam hatinya di setiap amalan ibadahnya. Abu Bakar radhiallahu ‘anhu tidaklah diazab seperti Bilal atau Khabbab Al-Arat, ‘Ammar bin Yasir radhiallahu ‘anhum dalam rangka mempertahankan keimanan dan keislamannya, namun Abu Bakar radhiallahu ‘anhu lebih baik dari mereka. Abu Bakar radhiallahu ‘anhu tidak terluka di dalam jihadnya, seperti yang telah menimpa Thalhah, Khalid bin Al-Walid radhiallahu ‘anhuma dan sahabat pejuang dalam peperangan, namun Abu Bakar radhiallahu ‘anhu lebih baik daripada mereka semua. Abu Bakar radhiallahu ‘anhu tidak meninggal dalam kondisi mati syahid sebagaimana ‘Umar radhiallahu ‘anhu yang terbunuh sebagai syahid saat memimpin shalat subuh atau seperti ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu yang terbunuh saat membaca Al-Quran sebagai syahid, namun Abu Bakar radhiallahu ‘anhu tetap lebih baik daripada ‘Umar dan ‘Utsman radhiallahu ‘anhuma.

Apa yang membuat Abu Bakar radhiallahu ‘anhu lebih unggul daripada sahabat-sahabat yang lainnya? Karena hatinya yang luar biasa, sampai-sampai ‘Umar bin Al-Khatthab radhiallahu ‘anhu berkata,

لَوْ وُزِنَ إِيمَانُ أَبِي بَكْرٍ بِإِيمَانِ أَهْلِ الْأَرْضِ لَرَجَحَ بِهِمْ

“Seandainya iman Abu Bakar ditimbang dengan iman penduduk bumi, niscaya iman Abu Bakar lebih berat.”([9])

Yang menjadi masalah bagi kita adalah ketika berada di akhirat kelak, pada hari itu Allah ﷻ menampakkan semua yang tersembunyi. Allah ﷻ berfirman,

يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ

Pada hari ditampakkan segala rahasia.” (QS. At-Thariq: 9)

وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ

“Dan apa yang tersimpan di dalam dada ditumpahkan?” (QS. Al-‘Adiyat: 10)

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ، إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(Yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara’: 88-89)

Pentingnya Ikhlas dan bahayanya ujub dan riya bukanlah hal yang sepele, karena perkara ini berkaitan dengan bagaimana membersihkan hati dari penyakit-penyakit, di mana membutuhkan perjuangan yang besar untuk selalu melawannya. Ujub dan riya datang setiap saat kepada orang-orang saleh. Semakin seseorang rajin beribadah, bersedekah, dihormati dan dikenal banyak orang, maka setan akan terus menggodanya agar dia terjerumus ke dalam riya ataupun ujub untuk merusak amal ibadahnya. Maka dari itu, hendaknya kita selalu serius di dalam memperhatikan masalah hati.

Ikhlas adalah amalan yang ringan, namun bisa menjadi berat di sisi Allah ﷻ. Oleh karenanya, janganlah kita meremehkannya. Disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيقِ فَأَخَّرَهُ، فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ

“Tatkala seseorang berjalan, dia mendapati ranting duri di atas jalan tersebut, lalu dia menyingkirkannya, maka Allah berterima kasih kepadanya dan memberikannya ampunan.”([10])

Diriwayatkan dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda kepadanya,

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

“Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikit pun, meskipun hanya tersenyum ketika bertemu dengan saudaramu.” ([11])

  1. Ikhlas membantu mewujudkan cita-cita

Di sebutkan dalam suatu hadits bahwa seorang badui datang menemui Nabi Muhammad ﷺ dan membaiat beliau dalam berjihad di jalan Allah ﷻ. Hal ini sebagaimana dalam riwayat dari Syaddad bin Al-Had, dia bercerita,

أَنَّ رَجُلًا مِنَ الْأَعْرَابِ آمَنَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَالَ: أُهَاجِرُ مَعَكَ فَأَوْصَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصْحَابَهُ بِهِ، فَلَمَّا كَانَتْ غَزْوَةُ خَيْبَرَ أَوْ حُنَيْنٍ غَنِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا فَقَسَمَ وَقَسَمَ لَهُ، فَأَعْطَى أَصْحَابَهُ مَا قَسَمَ لَهُ، وَكَانَ يَرْعَى ظَهْرَهُمْ، فَلَمَّا جَاءَ دَفَعُوهُ إِلَيْهِ، فَقَالَ مَا هَذَا؟ قَالُوا: قَسَمَهُ لَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخَذَهُ فَجَاءَهُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، مَا عَلَى هَذَا اتَّبَعْتُكَ، وَلَكِنِّي اتَّبَعْتُكَ عَلَى أَنْ أُرْمَى هَا هُنَا وَأَشَارَ إِلَى حَلْقِهِ بِسَهْمٍ فَأَمُوتَ وَأَدْخُلَ الْجَنَّةَ، فَقَالَ إِنْ تَصْدُقِ اللَّهَ يَصْدُقْكَ فَلَبِثُوا قَلِيلًا، ثُمَّ دَحَضُوا فِي قِتَالِ الْعَدُوِّ فَأُتِيَ بِهِ يُحْمَلُ وَقَدْ أَصَابَهُ سَهْمٌ حَيْثُ أَشَارَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَهُوَ هُوَ؟ قَالُوا: نَعَمْ، قَالَ صَدَقَ اللَّهُ فَصَدَقَهُ

“Sesungguhnya ada seorang Arab badui beriman kepada Rasulullah r dan berkata, ‘Aku akan berhijrah bersama engkau’, maka Nabi r berwasiat kepada para sahabat beliau untuk memperhatikannya. Ketika tiba perang Khaibar atau Hunain, Rasulullah mendapatkan harta ganimah, lalu beliau membaginya dan membagi juga untuknya, lalu beliau memberikannya kepada para sahabat untuk memberikan bagian kepadanya. Orang tersebut bertugas menjaga bagian belakang pasukan. Ketika dia datang, para sahabat pun menyerahkan bagiannya, lalu dia berkata, ‘Apa ini?’ mereka berkata, ‘Rasulullah r memberikan bagian untukmu’, lalu dia pun mengambilnya dan mendatangi beliau r seraya berkata, ‘Wahai Muhammad! Bukan untuk ini aku mengikutimu, tetapi aku mengikutimu agar aku terkena anak panah di sini -dengan menunjuk ke lehernya- lalu aku mati dan masuk ke dalam surga’. Setelah itu beliau r bersabda, ‘Jika kau tulus kepada Allah, maka Allah akan membenarkan (niat)mu’, setelah beberapa saat, kemudian mereka bangkit memerangi musuh. Setelah itu, orang tersebut didatangkan, mayatnya dipikul dalam keadaan anak panah menembus ke dalam leher yang telah dia tunjuk, lalu Nabi r bersabda, ‘Apakah mayat ini adalah orang tersebut?’, mereka berkata, ‘Benar’, maka beliau r bersabda, ‘Dia telah jujur kepada Allah dengan tulus, maka Allah pun mengabulkan keinginannya’.”([12])

Terkadang sebagian orang memiliki banyak program dalam kehidupannya, namun mereka tidak berhasil menjalankannya. Hal ini bisa saja dikarenakan masalah pada niat mereka dalam menjalankannya. Jika seseorang meluruskan niatnya dan tahu bahwa hal itu baik bagi kehidupannya, sejatinya Allah ﷻ Maha Mengetahui niat kita, maka Allah ﷻ pasti akan memudahkannya. Oleh karenanya, ada baiknya seseorang menyembunyikan kebutuhannya agar meraih kesuksesannya. Sebagaimana diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

اسْتَعِينُوا عَلَى إنْجَاحِ الْحَوَائِجِ بِالْكِتْمَانِ، فَإِنَّ كُلَّ ذِي نِعْمَةٍ مَحْسُوْدٍ

“Carilah bantuan agar kalian dapat berhasil dalam mewujudkan kebutuhan kalian dengan menyembunyikannya. Karena setiap orang yang memiliki kenikmatan pasti mendapatkan hasad (dari orang lain).”([13])

Bisa saja ketika seseorang memiliki suatu kelebihan, hal itu mengakibatkan orang lain tidak suka atau bahkan hasad kepadanya. Namun, jika kelebihannya disembunyikan, maka dia bisa lebih ikhlas. Oleh karenanya, hendaknya kita selalu berusaha memperbaiki niat agar Allah ﷻ memberikan kemudahan dalam mewujudkan cita-cita kita. Seseorang bisa saja bercita-cita bekerja untuk berbakti kepada orang tua, maka untuk mewujudkan cita-cita tersebut hendaknya dia selalu bersungguh-sungguh dan ikhlas karena Allah ﷻ, dengan begitu Allah ﷻ akan memudahkan dia dalam meraih cita-citanya, karena niatnya memberikan pengaruh.

  1. Ikhlas membuat doa mudah dikabulkan

Di antara keutamaan ikhlas adalah doa akan membuat doa mudah dikabulkan. Hal ini sebagaimana kisah tiga orang yang terjebak di dalam gua dalam hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, bahwa dia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,

“Ada tiga orang dari orang-orang sebelum kalian. Suatu saat mereka mencari tempat bermalam di suatu gua, lalu mereka pun memasukinya. Tiba-tiba sebuah batu besar jatuh dari gunung lalu menutup gua itu, lalu mereka di dalamnya. Mereka berkata, ‘Tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian semua dari batu besar ini, kecuali jika kalian semua berdoa kepada Allah dengan menyebutkan amalan baik kalian’. Salah seorang dari mereka berkata, ‘Ya Allah, aku mempunyai dua orang tua yang sudah sepuh dan lanjut usia. Aku tidak pernah memberi minum susu (di malam hari) kepada siapa pun sebelum memberi minum kepada keduanya. Aku lebih mendahulukan mereka berdua daripada keluarga dan budakku (hartaku). Pada suatu hari, aku mencari kayu di tempat yang jauh. Ketika aku pulang ternyata mereka berdua telah terlelap tidur. Aku pun memerah susu dan aku dapati mereka sudah tertidur pulas. Aku pun enggan memberikan minuman tersebut kepada keluarga atau pun budakku sebelum keduanya meminumnya. Seterusnya aku menunggu, sedangkan tempayan susu ada di tanganku menunggu mereka bangun hingga terbit fajar, dan gelas minuman itu masih terus di tanganku. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka meminum minuman tersebut. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka sedikit, namun mereka masih belum dapat keluar dari gua.

Nabi Muhammad bersabda, ‘Lantas orang yang lain pun berdoa, ‘Ya Allah, dahulu ada putri pamanku yang aku sangat menyukainya. Aku pun sangat menginginkannya. Namun ia menolak cintaku. Hingga berlalu beberapa tahun, ia mendatangiku (karena sedang butuh uang -pen). Aku pun memberinya 120 dinar, dengan syarat dia mau tidur denganku (berzina -pen), lalu dia pun mau. Sampai ketika aku ingin menyetubuhinya, keluarlah dari lisannya, ‘Tidak halal bagimu membuka cincin kecuali dengan cara yang benar’. Aku pun kaget dan pergi meninggalkannya padahal dialah yang paling kucintai. Aku pun meninggalkan emas (dinar) yang telah kuberikan untuknya. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini’. Batu besar itu tiba-tiba terbuka lagi, namun mereka masih belum dapat keluar dari gua.

Nabi Muhammad bersabda, ‘Lantas orang ketiga berdoa, ‘Ya Allah, aku dahulu pernah mempekerjakan beberapa pegawai, lalu aku memberikan gaji pada mereka. Namun, ada satu yang tertinggal yang tidak aku beri, lalu uangnya aku kembangkan hingga menjadi harta melimpah. Suatu saat ia pun mendatangiku. Ia pun berkata padaku, ‘Wahai hamba Allah, bagaimana dengan upahku yang dulu?’ Aku pun berkata padanya bahwa setiap yang ia lihat itulah hasil upahnya dahulu (yang telah dikembangkan), yaitu ada unta, sapi, kambing dan budak. Ia pun berkata, ‘Wahai hamba Allah, janganlah engkau bercanda’. Aku pun menjawab bahwa aku tidak sedang bercanda padanya. Aku lantas mengambil semua harta tersebut dan menyerahkan padanya tanpa tersisa sedikit pun. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini’. Setelah itu, gua yang tertutup sebelumnya pun terbuka, mereka keluar sambil berjalan.”([14])

Masing-masing dari ketiga orang tersebut memiliki amalan-amalan kebaikan yang sangat hebat. Orang pertama memiliki amalan selalu berbakti kepada orang tuanya, orang kedua meninggalkan perbuatan zina, dan orang ketiga memiliki sifat amanah yang besar. Ketiga orang tersebut berdoa ‘Ya Allah, jika aku melakukannya sungguh-sungguh karena Engkau, bukakanlah pintu gua’, artinya mereka bertawasul dengan keikhlasannya kepada Allah ﷻ. Akhirnya, karena keikhlasan amalan-amalan mereka sehingga Allah ﷻ membukakan pintu gua tersebut dari batu besar yang menutupinya, dan mereka dapat keluar dari gua tersebut.

  1. Ikhlas memudahkan seseorang selamat dari fitnah

Para ulama berdalil tentang hal ini dengan kisah nabi Yusuf ‘alaihissalam yang digoda oleh Zulaikha dengan fitnah yang luar biasa. Ketika nabi Yusuf ‘alaihissalam digoda oleh seorang wanita cantik dari istri pembesar Mesir, tidak ada seorang pun yang melihat mereka, hingga menimbulkan syahwat di antara keduanya. Namun, akhirnya Allah ﷻ menyelamatkan beliau, karena beliau termasuk orang-orang yang ikhlas([15]). Berdasarkan firman Allah ﷻ,

إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

“Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih([16]).” (QS. Yusuf: 24)

Oleh karenanya, barang siapa yang beribadah dengan ikhlas, maka Allah ﷻ akan menyelamatkannya di saat-saat yang genting, sebab setiap waktu dia gunakan untuk beribadah dan selalu mengingat Allah ﷻ. Setiap kali beribadah ingat Allah ﷻ, setiap kali bersedekah ingat Allah ﷻ, setiap kali menulis atau berucap selalu ingat Allah ﷻ, maka di dalam kondisi genting Allah ﷻ akan ingat kepadanya dan menolongnya.

  1. Orang yang ikhlas mudah meraih syafaat Nabi Muhammad

Ini merupakan faedah yang paling utama dari ikhlas. Di antara dalil yang menerangkan akan hal ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah r bersabda,

لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ، فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ، وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا

“Setiap nabi memiliki doa yang dikabulkan, setiap nabi bersegera untuk dikabulkan doanya tersebut. Sesungguhnya aku menangguhkan doaku sebagai syafaat umatku pada hari kiamat. Syafaatku akan mengenai seluruh umatku dengan kehendak Allah bagi siapa saja yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun.”([17])

Apabila seorang muslim hendak mendapatkan syafaat dengan rida dari Allah ﷻ, maka hendaknya dia menjadi seorang hamba yang bertauhid. Percuma saja seseorang meminta syafaat akan tetapi dia tidak bertauhid, maka syafaatnya tidak akan mendapat izin dan rida dari Allah ﷻ. Maka dari itu, orang yang paling utama mendapatkan syafaat Nabi ﷺ adalah orang yang paling menjauhkan diri dari kesyirikan.

Selain itu, ada banyak hadits yang menjelaskan tentang hal ini, di antaranya adalah hadits riwayat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ القِيَامَةِ؟ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لاَ يَسْأَلُنِي عَنْ هَذَا الحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الحَدِيثِ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ، أَوْ نَفْسِه

“‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling bahagia dengan syafaatmu pada hari kiamat?’ Rasulullah r bersabda, ‘Wahai Abu Hurairah, sungguh aku telah menduga tidak ada seorang pun yang menanyakan tentang hal ini sebelum engkau, karena aku tahu semangatmu bertanya tentang hadits. Orang yang paling bahagia dengan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan La ilaha illa Allah murni dari dalam hatinya atau jiwanya’.”([18])

Ibnu Al-Mulaqqin rahimahullah di dalam kitabnya At-Taudhih Syarh Sahih Al-Bukhari menjelaskan bahwa orang yang mendapatkan syafaat itu bertingkat-tingkat, di antara mereka ada yang mendapatkan bagian yang besar dan ada juga yang mendapatkan bagian yang kecil. Semakin tinggi tauhid seseorang kepada Allah ﷻ, maka semakin banyak syafaat yang dia dapatkan dari Nabi ﷺ.([19])

Syiar Ikhlas

Di antara syiar ikhlas adalah berdasarkan firman Allah ﷻ,

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“(Sambil berkata), “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.” (QS. Al-Insan: 9)

Lihatlah bagaimana Allah ﷻ mengabadikan perkataan orang-orang yang ikhlas beribadah kepada-Nya, bahwasanya mereka berbuat kebaikan semata-mata karena Allah ﷻ dan tidak berharap balasan atau sanjungan dari manusia. Hendaknya kita menjadikan ayat tersebut syiar di dalam kehidupan kita, agar kita bisa sungguh-sungguh beribadah dengan tulus.

Jika sekiranya Anda berbuat baik kepada orang tua, saudara, tetangga, -jika mereka adalah orang-orang baik- pasti mereka akan berterima kasih atau berbalas budi baik. Namun, hendaknya dia tidak mengharapkan ungkapan terima kasih atau balasan dari mereka. Kalaupun mereka akhirnya tidak berterima kasih, hendaknya kita selalu bersabar, karena bisa jadi ada seseorang yang berbuat baik kepada saudara atau tetangganya, tetapi malah dicurigai dan dituduh berbuat keburukan. Teman penulis pernah menceritakan pengalamannya bahwa setiap kali dia berbuat baik kepada saudaranya, maka mereka akan menyebutnya sebagai orang yang sombong. Jika dia tidak berbuat baik, maka mereka akan menganggapnya pelit. Tentu saja, ini adalah ujian. Siapa saja yang telah berbuat baik, namun ternyata tidak dihargai, bisa jadi Allah ﷻ ingin agar pahala yang didapatkannya menjadi sempurna dan tidak banyak berharap kepada pujian atau balasan dari manusia. Oleh karenanya ketika seseorang berbuat kebaikan kepada manusia, sejatinya dia telah berbuat baik untuk Allah ﷻ, bukan kepada makhluk. Adapun mereka (manusia) mau berterima kasih atau tidak, serahkan urusan tersebut kepada Allah ﷻ.

Perusak ikhlas

  1. Riya

Definisi Riya

Secara bahasa, riya berasal dari kata رَأَى ‘melihat’ dan رَاءَى, يُرَاءِي , مُرَاءَة\رِيَاءً ‘memperlihatkan’, yaitu riya maksudnya adalah memperlihatkan amalan saleh. Adapun secara istilah, riya adalah menyekutukan Allah ﷻ dengan orang lain yang diharapkan pujiannya.

Perkara yang sama dengan riya adalah sum’ah. ‘سُمْعَة ‘memperdengarkan’, artinya adalah memperdengarkan amalan saleh. Riya dan sum’ah hukumnya sama, sehingga barang siapa yang beramal saleh untuk dilihat atau didengar orang lain dalam rangka pencitraan, dihormati, diakui atau dipuji, maka dia telah berbuat riya dan sum’ah.

Setiap orang sulit untuk terhindar dari perbuatan riya dan sum’ah, atau bahkan ada yang sangat suka sekali dengan perbuatan itu. Di antara sebabnya adalah karena sejatinya riya atau sum’ah itu mendatangkan kelezatan. Bayangkan, setelah seseorang berbuat kebaikan di hadapan orang lain, atau setelah menceritakan amalannya kepada orang lain, lalu dia mendapatkan sanjungan dan dihormati banyak orang, hal itu akan membuatnya senang, terpandang, disegani dan dikagumi oleh mereka. Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan bahwa perkara ini disebut dengan الشَّهْوَةُ الْخَفِيَّةُ ‘syahwat yang tersembunyi’([20]). Sebagaimana seorang lelaki memiliki syahwat terhadap wanita, dan sebagaimana orang yang lapar memiliki syahwat kepada makanan, maka demikian pula seseorang yang juga memiliki syahwat agar dikenal, diakui dan dihormati. Bahkan, ada seseorang yang rela mengorbankan jiwanya hanya demi mendapatkan pengakuan di mata manusia. Hal ini sebagaimana disebutkan di dalam sebuah hadits tentang tiga orang yang pertama kali diazab di neraka Jahanam, di antaranya adalah seseorang yang berperang karena riya, membaca Al-Quran karena riya, mengajarkan kebaikan dan dermawan karena riya. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ، وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ، وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ، وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ، ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ

“Sesungguhnya manusia paling pertama yang akan dihisab urusannya pada hari kiamat adalah seorang lelaki yang mati syahid, lalu dia didatangkan dengan pahalanya, lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmat-Nya (yang telah diberikan kepadanya-pen) maka dia pun mengakuinya. Allah berfirman, ‘Apa yang kamu perbuat dengan nikmat-nikmat tersebut?’, dia menjawab, ‘Aku berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid’. Allah berfirman, ‘Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu berperang agar kamu dikatakan pemberani, dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia)’, kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka. (Orang kedua adalah) seseorang yang mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan dia membaca (menghafal) Al-Quran. Maka dia didatangkan lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmat-Nya (yang telah diberikan kepadanya -pen), maka dia pun mengakuinya. Allah berfirman, ‘Apa yang kamu perbuat padanya?’, dia menjawab, ‘Aku mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan aku membaca Al-Quran karena-Mu’. Allah berfirman, ‘Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu menuntut ilmu agar kamu dikatakan seorang alim dan kamu membaca Al-Quran agar dikatakan, ‘Dia adalah qari`’, dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia)’, kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka. (Yang ketiga adalah) seseorang yang diberikan keluasan (harta) oleh Allah dan Dia memberikan kepadanya semua jenis harta, lalu dia didatangkan, lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmat-Nya (yang telah diberikan kepadanya-pen), lalu dia pun mengakuinya. Allah berfirman, ‘Apa yang kamu perbuat padanya?’ dia menjawab, ‘Aku tidak menyisakan satu jalan pun yang Engkau senangi kalau seseorang berinfak di situ kecuali aku berinfak di situ untuk-Mu’. Allah berfirman, ‘Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu melakukan itu agar dikatakan, ‘Dia adalah orang yang dermawan,’ dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia)’, kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka.”([21])

Yang menakjubkan dari hadits ini adalah bagaimana bisa seseorang rela mati dalam rangka untuk mencari ketenaran, sanjungan dan dihormati orang lain? Oleh karenanya, diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu berkata,

سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الرَّجُلِ يُقَاتِلُ شَجَاعَةً، وَيُقَاتِلُ حَمِيَّةً، وَيُقَاتِلُ رِيَاءً، أَيُّ ذَلِكَ فِي سَبِيلِ اللهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا، فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Rasulullah ditanya tentang seseorang yang berperang karena keberaniannya, seseorang berperang karena membela sukunya, seseorang berperang karena ingin dikenal, siapakah di antara mereka yang berperang di jalan Allah? Lalu Rasulullah bersabda, ‘Barang siapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah , maka dialah yang berperang di jalan Allah’.”([22])

Disebutkan juga di dalam hadits bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

وَرُبَّ قَتِيلٍ بَيْنَ الصَّفَّيْنِ، اللهُ أَعْلَمُ بِنِيَّتِهِ

“Betapa banyak orang yang tewas di medan pertempuran, namun Allah lebih tahu tentang niatnya.”([23])

Syahwat orang untuk berbuat riya merupakan syahwat yang tersembunyi, pelakunya akan merasa puas dan bahagia ketika dia terkenal, orang-orang mengaguminya, atau bahkan berebut untuk mencium tangannya. Setiap kali berbuat kebaikan, dia menampakkannya, menceritakannya kepada orang lain, bahkan dia sengaja mengabadikannya di dalam foto maupun video dan menampakkannya di dalam media sosial. Semua itu dia lakukan dalam rangka agar orang lain mengakui keberadaannya. Perkara inilah yang membuat seseorang terjerumus kepada perbuatan riya dan sum’ah dan terjebak di dalamnya. Maka barang siapa yang melakukan riya dan sum’ah, maka sejatinya dia telah menggugurkan amal salehnya, sebesar apa pun amalannya.

2. Cara Melawan Riya

Di antara cara melawan riya adalah dengan melakukan beberapa hal sebagai berikut:

Perenungan-perenungan

  • Merenungkan nasib orang yang riya di dunia

Sesungguhnya ketika di dunia, keadaan orang yang berbuat riya sangat menderita, karena kebahagiaan mereka digantungkan kepada manusia. Jika banyak orang yang melihat perbuatannya, maka dia akan merasa bahagia. Namun sebaliknya, jika orang yang melihatnya hanya sedikit, maka dia akan merasa sedih, dia hanya akan merasa kebahagiaan yang luar biasa ketika orang-orang mengagumi dan memujinya, dan ketika orang-orang berbalik mencelanya maka dia akan bersedih pula.

Sesungguhnya orang yang seperti ini keadaannya sangat sengsara. Bayangkan saja, ketika berada di media sosial dia bersusah payah membuat satu ceramah atau tulisan yang memikat bagi pembaca, lalu ditampakkan di media sosial dalam rangka mengambil perhatian orang-orang kepadanya. Ketika banyak orang yang perhatian dan suka dengannya, maka dia akan merasa bahagia. Akan tetapi, ketika tidak ada satu pun yang memberikan perhatian kepadanya, maka dia akan merasa gelisah dan menderita. Hidup seperti ini tentu merupakan sebuah penderitaan.

Orang ikhlas adalah orang yang paling bahagia, dia sama sekali tidak membutuhkan perhatian maupun pujian dari manusia. Oleh karenanya, sebagian ulama mendefinisikan ikhlas sebagaimana yang disebutkan oleh Abu Utsman rahimahullah, beliau berkata,

الْإِخْلَاصُ نِسْيَانُ رُؤْيَةِ الْخَلْقِ بِدَوَامِ النَّظَرِ إِلَى الْخَالِقِ

“Ikhlas adalah melupakan pandangan makhluk dengan senantiasa memandang perhatian Allah Maha Pencipta.”([24])

Orang yang ikhlas akan senantiasa menyibukkan dirinya dengan selalu mencari perhatian Allah ﷻ, maka dia akan lupa dengan perhatian manusia. Dengan selalu memandang perhatian Allah ﷻ, maka dia akan sering merenungkan dirinya sendiri; apakah amalan yang dikerjakannya sudah baik dan layak diterima di sisi Allah ﷻ? Apakah dia sudah mengamalkan amalan-amalan yang disunahkan? Apakah amalan yang dikerjakannya sudah sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad ﷺ atau tidak? Saking sibuknya dirinya memikirkan perhatian dan pandangan Allah ﷻ kepadanya, sehingga akhirnya dia lupa dengan pandangan manusia kepadanya. Adapun orang yang riya akan selalu fokus kepada pandangan manusia. Oleh karenanya, hendaknya setiap muslim tidak menyibukkan diri mencari perhatian dan pandangan dari manusia, karena sejatinya kebahagiaan itu tidak berada di mata manusia, akan tetapi kebahagiaan hanya berada di sisi Allah ﷻ.

Orang yang riya tentu akan sangat menderita. Sebagian orang sudah bersusah payah menyiapkan berbagai peralatan, perkakas dan segalanya dalam rangka untuk pencitraan agar manusia melihatnya. Bahkan, tidak tanggung-tanggung untuk mengundang wartawan agar meliputnya. Ternyata, hasil yang didapatkan berbeda. Tidak ada manusia yang tertarik dengan pencitraannya, atau bahkan nama baiknya menurun di mata manusia. Tentu saja, hal ini akan menimbulkan sakit hati yang sangat mendalam bagi pelakunya.

Oleh karenanya, bagi setiap muslim hendaknya segala amalannya hanya untuk Allah ﷻ semata dan tidak memandang perhatian manusia. Yang terpenting baginya adalah melakukan ibadah yang terbaik untuk Allah ﷻ. Terkadang diri sendiri memang membutuhkan komentar manusia kepadanya, namun bukan karena pujian, tetapi untuk menilai seberapa besar manfaat yang didapatkan manusia darinya, dan yang seperti ini diperbolehkan.

  • Merenungkan nasib orang yang riya di akhirat

Nasib orang yang riya di akhirat lebih mengerikan daripada nasibnya di dunia. Allah ﷻ mempermalukannya kelak di akhirat. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Jundab radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِه

“Barang siapa yang memperdengarkan (amalannya), maka Allah memperdengarkan tentangnya. Barang siapa yang memperlihatkan (amalannya), maka Allah akan memperlihatkannya. ”([25])

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan di antara tafsiran dari hadits ini adalah bahwasanya makna dari ‘Allah memperdengarkan tentangnya’ adalah barang siapa yang beramal dengan maksud untuk meraih kedudukan dan kehormatan di masyarakat, dan bukan karena mengharap wajah Allah ﷻ, maka Allah ﷻ akan menjadikan dia sebagai bahan pembicaraan di antara orang-orang yang ia ingin dihormati oleh mereka. Akan tetapi, dia tidak akan mendapatkan pahala di akhirat. ([26]) Contoh, jika seseorang menunaikan haji, umrah, shalat dan amalan kebaikan lainnya karena riya, maka pada hari kiamat kelak Allah ﷻ akan menampakkan pahala amalan kebaikannya sehingga dia merasa sangat bahagia, akan tetapi tiba-tiba Allah ﷻ menjadikan pahalanya hancur lebur. Balasan inilah yang dia dapatkan di akhirat karena selama di dunia dia telah berbuat riya.

Di antara bentuk nasib orang yang riya yang lain di akhirat adalah Allah ﷻ mempermalukan mereka kelak di akhirat. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Mahmud bin Labid, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ، يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ: اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil. Mereka berkata, ‘Apakah itu syirik kecil?’, beliau bersabda, ‘Riya’, pada hari kiamat tatkala Allah membalas perbuatan manusia, maka Allah berfirman kepada mereka, ‘Pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu di dunia kalian riya kepada mereka, maka lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan amalan (riya) kalian di sisi mereka?’.”([27])

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

“Sesungguhnya manusia paling pertama yang akan dihisab urusannya pada hari kiamat adalah seorang lelaki yang mati syahid, lalu dia didatangkan dengan pahalanya, lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmat-Nya (yang telah diberikan kepadanya-pen) maka dia pun mengakuinya. Allah berfirman, ‘Apa yang kamu perbuat dengan nikmat-nikmat tersebut?’, dia menjawab, ‘Aku berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid’. Allah berfirman, ‘Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu berperang agar kamu dikatakan pemberani, dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia)’, kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka. (Orang kedua adalah) seseorang yang mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan dia membaca (menghafal) Al-Quran. Maka dia didatangkan lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmat-Nya (yang telah diberikan kepadanya -pen), maka dia pun mengakuinya. Allah berfirman, ‘Apa yang kamu perbuat padanya?’, dia menjawab, ‘Aku mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan aku membaca Al-Quran karena-Mu’. Allah berfirman, ‘Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu menuntut ilmu agar kamu dikatakan seorang alim dan kamu membaca Al-Quran agar dikatakan, ‘Dia adalah qari`’, dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia)’, kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka. (Yang ketiga adalah) seseorang yang diberikan keluasan (harta) oleh Allah dan Dia memberikan kepadanya semua jenis harta, lalu dia didatangkan, lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmat-Nya (yang telah diberikan kepadanya-pen), lalu dia pun mengakuinya. Allah berfirman, ‘Apa yang kamu perbuat padanya?’ dia menjawab, ‘Aku tidak menyisakan satu jalan pun yang Engkau senangi kalau seseorang berinfak di situ kecuali aku berinfak di situ untuk-Mu’. Allah berfirman, ‘Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu melakukan itu agar dikatakan, ‘Dia adalah orang yang dermawan,’ dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia)’, kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka.”([28])

Seorang mujahid, orang alim, dan dermawan, mereka adalah orang yang paling baik di dalam agama Islam, karena agama dibangun di atas tiga golongan ini. Mereka melakukan ibadah yang sangat luar biasa, dan seharusnya mereka lah orang yang pertama kali masuk ke dalam surga. Akan tetapi, karena mereka riya dalam ibadah-ibadah mereka, maka mereka adalah orang yang paling pertama di azab di akhirat.

Mempunyai jumlah pengikut dan pengagum yang banyak bukan menjadi barometer bahwa dia adalah orang yang baik atau berada di atas kebenaran. Nabi Muhammad ﷺ menjelaskan bahwa orang yang beribadah, baik dengan berjihad di medan peperangan, atau mengajarkan kebaikan kepada orang lain, atau bersedekah kepada siapa saja yang membutuhkan dalam rangka untuk mencari pandangan dan sanjungan orang, pada akhirnya di hari kiamat kelak akan dikatakan kepadanya, فَقَدْ قِيلَ ‘kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia)’. Dia telah mendapatkan pujian dan sanjungan yang diharapkannya dari makhluk. Akan tetapi, pujian dan sanjungan mereka tidak dapat memasukkannya ke dalam surga. Bahkan, Allah ﷻ membalasnya dengan melemparkannya ke dalam neraka Jahanam.

  • Merenungkan hakikat orang yang diharapkan pujiannya

Siapakah manusia yang kita harapkan pujiannya? Pejabat? Presiden? Ulama? Mereka semua adalah makhluk yang kelak juga akan meninggal dunia, dan ketika mereka telah meninggal dunia, mereka akan dikuburkan di dalam tanah, karena mayatnya hanya akan menjadi bangkai yang menimbulkan bau yang sangat busuk. Lantas apakah pantas seseorang mengharapkan pujian dari makhluk seperti ini?

Untuk apa kita shalat lima waktu, beribadah kepada Allah ﷻ dengan menghinakan dirinya, rela meletakkan jidatnya di tanah untuk Allah ﷻ, namun akhirnya hanya untuk mengharapkan pujian dan sanjungan dari manusia yang kelak menjadi bangkai? Untuk apa kita mengharapkan pujian dari orang yang kaya yang bisa jadi di akhirat dia akan masuk neraka? Apa yang bisa kita dapatkan dari itu? Ingatlah bahwa suatu saat mungkin dia bisa mendapatkan pujian dan sanjungannya setinggi langit, akan tetapi ketika dia memiliki salah, maka dia juga akan mendapat celaan dan cacian serendah-rendahnya.

Oleh karenanya, untuk apa mengharapkan pujian dari manusia? Sungguh sangat merugi orang yang beribadah susah payah tetapi hanya mencari pujian dari manusia. Sungguh merugi orang yang memiliki harta yang melimpah dari usahanya yang dia cari mati-matian, kemudian dia sedekahkan hanya untuk mencari pujian dari manusia.

  • Merenungkan hakikat diri sendiri

Muhammad bin Wasi’ rahimahullah pernah berkata,

لَوْ كَانَ لِلذُّنُوْبِ رِيْحٌ مَا قَدَرَ أَحَدٌ أَنْ يَجْلِسَ إِلَيَّ

“Seandainya dosa-dosa itu memiliki aroma, niscaya tidak ada seorang pun yang sudi duduk di sampingku.”([29])

Seseorang yang beramal karena berharap pujian dari orang lain, hal itu hanya akan memberikan kesia-siaan. Pujian itu akan menjadi hal yang percuma karena hal itu pun tidak akan mengangkat derajatnya.

Allah ﷻ berfirman,

بَلِ الْإِنْسَانُ عَلَى نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ

“Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri.” (QS. Al-Qiyamah: 14)

Sesungguhnya manusia adalah orang yang paling mengerti tentang dirinya sendiri. Dia tahu ketika dirinya sedang malas beribadah, dia tahu ketika dirinya sedang tidak menjaga pandangannya, dia tahu ketika dirinya masih suka melakukan gibah, dia tahu ketika dirinya kurang dalam berbakti kepada orang tua, dia tahu ketika dirinya tidak begitu sayang kepada istrinya, dia tahu ketika dirinya tidak perhatian terhadap anaknya, dia tahu segala kekurangan dan cela yang ada pada dirinya. Maka meskipun ada sejuta orang yang memujinya, maka pujian tersebut menjadi percuma, karena dia sendiri menyadari bahwa dirinya sendiri memiliki banyak kekurangan.

Pujian manusia, sama sekali tidak akan mengangkat derajat seseorang di sisi Allah ﷻ. Oleh karenanya, janganlah mengharapkan pujian dari orang lain, karena sejatinya seseorang lebih mengetahui jati dirinya sendiri.

  1. Berdoa

Di antara doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ agar seseorang terhindar dari riya adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakar radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh syirik itu lebih samar dari pada langkah semut, Maukah aku tunjukkan kepadamu doa yang jika kamu mengucapkannya, maka sedikit dan banyaknya kemusyrikan akan hilang darimu?’ katakanlah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada-Mu, sedangkan aku mengetahuinya dan aku memohon ampunan kepadamu terhadap kesyirikan yang tidak aku ketahui.” ([30])

Seseorang yang hendak berbuat riya pasti akan merasakan (menyadari) bahwa dia telah berbuat riya. Akan tetapi yang disayangkan adalah ketika sebagian mereka merasakan sinyal untuk berbuat riya, mereka tidak mau melawannya, bahkan melampiaskan syahwatnya supaya dikenal, dihormati, disanjung, diakui dan ujungnya adalah untuk berbuat riya. Oleh karenanya, hendaknya dia selalu berusaha melawan syahwatnya agar tidak terjerumus ke dalam riya. Sungguh betapa sering kita sadar dan merasakan syahwat diri untuk berbuat riya, kemudian kita melampiaskan syahwat kita untuk berbuat riya, semoga Allah ﷻ mengampuni dosa-dosa kita.

  1. Berdoa ketika dipuji

Sebagaimana diriwayatkan dari sebagian salaf berkata, ‘Jika ada salah seorang sahabat dipuji oleh orang lain, maka dia akan berdoa,

اللهُمَّ لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ، وَاغْفِرْ لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ، وَاجْعَلْنِي خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّونَ

“Ya Allah, jangan siksa aku atas perkataan mereka, ampunilah aku atas apa yang mereka tidak tahu dan jadikanlah lebih baik dari apa yang mereka sangka.”([31])

Ketika seseorang dipuji, lalu mengucapkan doa tersebut, maka dia akan tahu siapa jati dirinya yang sebenarnya. Maka selayaknyalah seseorang bersyukur kepada Allah ﷻ, karena Allah ﷻ telah memberikan hidayah kepadanya agama yang lurus, di mana hidayah tersebut untuk kebaikan bagi dirinya sendiri dan bukan untuk dipamerkan kepada orang lain.

  1. Berusaha menyembunyikan amalan

Hendaknya setiap muslim berusaha untuk menyembunyikan amalan ibadahnya. Ketahuilah bahwa ketika seseorang sudah menyembunyikan amalan ibadahnya agar tidak diketahui orang lain, setan akan bersusah payah merayunya agar menampakkan amalannya, maka di saat itu hendaknya dia melawannya sekuat tenaga. Jika dia berusaha menuruti kemauannya untuk memamerkan amalannya, maka sejatinya dia telah berbuat riya, meskipun dia berasalan untuk motivasi orang lain, tapi pada akhirnya tanpa disadari hal itu akan menjerumuskannya kepada riya.

Hati kita sangat lemah. Ketika kita tahu bahwa hati kita lemah, maka hendaknya jangan membuka celah untuk setan agar bisa menggodanya. Di antara celah setan untuk menggoda hati kita adalah dengan menceritakan amalan kita kepada orang lain, sehingga dengan mudahnya setan menggiring kita agar dijerumuskan kepada perbuatan riya. Hendaknya kita melatih diri untuk selalu beribadah dan beramal saleh tanpa diketahui oleh orang lain. Berdasarkan hadits riwayat Az-Zubair bin Al-Awwam radhiallahu ‘anhu, Rasulullah r bersabda,

مَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ تَكُونَ لَهُ خَبيئَةُ مِنْ عَمَلٍ صَالِحٍ فَلْيَفْعَلْ

“Barang siapa yang mampu untuk memiliki amalan saleh yang tersembunyi, maka lakukanlah.” ([32])

  1. 2. Ujub

Secara istilah, ujub adalah menyekutukan Allah ﷻ dengan diri sendiri. Dari definisi ini, kita bisa artikan bahwa ujub adalah merasa bahwa diri sendiri ikut andil dalam keberhasilan yang kita capai. Padahal yang benar adalah jika seseorang yang berhasil, dia seharusnya tahu bahwa semua hasil yang didapatkan adalah karena Allah ﷻ semata.

Agar kita selamat dari ujub, hendaknya kita berpikir bahwa meskipun kita cerdas, mendapatkan keberhasilan, memiliki harta yang banyak ataupun kesuksesan, segalanya itu datang karena Allah ﷻ semata. Sesungguhnya orang yang lebih pintar, yang memiliki banyak pengalaman, yang lebih cerdas, yang lebih banyak hafalan Al-Qurannya, itu lebih banyak daripada kita, hanya saja bedanya mereka tidak diberikan kesempatan seperti kita.

Lagi pula, yang memberikan kecerdasan, harta, pengalaman, kedudukan dan keberhasilan kepada manusia sejatinya adalah Allah ﷻ. Maka dari itu, tatkala seseorang merasa memiliki andil dalam pencapaian tersebut, sejatinya dia telah terjatuh dalam menyekutukan Allah ﷻ dengan dirinya sendiri. Seakan-akan keberhasilan yang dia dapatkan semata-mata karena peran Allah ﷻ dan juga dirinya, dan yang demikian adalah ujub. Seorang penyair berkata,

وَالعُجْبَ فاحْذَرهُ إِنَّ العُجْبَ مُجْتَرفُ … أَعْمالَ صَاحِبِهِ فِي سَيْلِهِ العَرِمِ

“Hati-hatilah terhadap ujub, karena sesungguhnya ujub akan membawa amalan-amalan pelakunya kepada aliran arus yang dahsyat.”([33])

Barang siapa yang ujub di dalam amalan ibadahnya, maka pahalanya akan gugur. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

“Ada tiga perkara yang membinasakan, yaitu: sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan seseorang yang bangga dengan diri sendiri.”([34])

Barang siapa yang bangga terhadap diri sendiri, maka suatu saat perbuatannya tersebut akan mengantarkannya kepada kesombongan. Setiap kali dia meraih keberhasilan, lalu membanggakan dirinya di hadapan orang lain bahwa semua keberhasilan yang diraihnya atas kemampuannya sendiri tanpa campur tangan orang lain, maka sejatinya perbuatannya tersebut akan membahayakan dirinya sendiri.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

لَوْ لَمْ تَكُونُوا تُذْنِبُونَ خَشِيتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ الْعُجْبَ الْعُجْبَ

“Seandainya kalian tidak berdosa, sungguh aku khawatir atas apa yang lebih besar menimpa kalian darinya, hati-hatilah dengan ujub.”([35])

Ujub lebih berbahaya dari pada dosa, karena orang yang berdosa bisa memohon ampun kepada Allah ﷻ dari dosanya. Adapun orang yang berbuat ujub, dia tidak akan merasa bersalah, justru dia merasa orang yang paling saleh, sehingga menganggap remeh perkara memohon ampun kepada Allah ﷻ. Oleh karenanya, di antara nikmat yang Allah ﷻ berikan kepada hamba-Nya adalah terkadang Allah ﷻ menjatuhkan hamba-Nya ke dalam sebuah dosa, agar dia tidak merasa ujub dengan amalnya, sehingga dia merasa kecil di hadapan Allah ﷻ dan merasa tidak berdaya terhadap godaan setan, kecuali karena pertolongan Allah ﷻ.

Ujub adalah perbuatan yang sangat berbahaya. Setan tidak peduli untuk menghancurkan amalan-amalan saleh setiap orang yang beriman, baik dengan riya maupun dengan ujub. Al-Ghazali rahimahullah menyebutkan bahwa bentuk-bentuk ujub ada delapan, di antaranya: ujub dengan perawakannya, ujub dengan kekuatannya, ujub dengan kecerdasannya, ujub dengan nasabnya yang mulia sebagaimana orang-orang Hasyimiyah yang ujub dengan nasab mereka, ujub dengan nasab kerajaan, ujub dengan banyaknya anak dan pengikut, ujub dengan harta, dan ujub dengan pendapat atau pemikirannya. ([36])

Tatkala ujub menjangkiti hati seorang muslim, sehingga dia merasa bahwa dia memiliki andil bersama Allah ﷻ dalam keberhasilan yang didapatkannya, maka sejatinya dia telah menyekutukan Allah ﷻ dengan dirinya. Begitu pula tatkala riya menjangkitinya, sehingga mendapatkan pujian dan segala bentuk perhatian manusia kepadanya, maka sejatinya dia telah menyekutukan Allah ﷻ dengan orang yang diharapkan pujiannya. Keduanya ini termasuk ke dalam perbuatan syirik.

  1. 2. 1 Cara membebaskan diri dari ujub dan riya

Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan bahwa barang siapa yang mewujudkan firman Allah ﷻ,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)

Maka dia akan selamat dari ujub dan riya.

Ketika seseorang mengamalkan إِيَّاكَ نَعْبُدُ ‘Hanya kepada Engkaulah kami menyembah’, maka hal itu menandakan bahwa dia selamat dari riya. Dengan begitu dia tahu bahwa semua ibadah yang dia kerjakan hanya karena Allah ﷻ semata. Dia tidak beribadah untuk mencari pujian, bukan untuk diakui maupun dihormati, tetapi semata-mata karena Allah ﷻ.

Tatkala seseorang mengamalkan وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ‘Dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan’, maka dia akan selamat dari ujub. Dengan begitu dia akan merasa bahwa semua keberhasilan yang didapatkan adalah karena pertolongan Allah ﷻ. Maka jangan sampai terbetik di dalam hati kita bahwa semua keberhasilan yang kita dapatkan semata-mata karena jerih payah kita sendiri, karena yang demikian ini termasuk benih-benih ujub yang dikhawatirkan. Oleh karenanya, hendaknya dia berusaha melawannya agar tidak menguasai hatinya, sehingga Allah ﷻ menerima amal ibadahnya di sisi-Nya.
“arab”

Footnote:

________

([1]) HR. Ibnu Majah No. 4204 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani.

([2]) HR. Bukhari No. 1.

([3]) HR. Muslim No. 2985.

([4]) Lihat: Jami’ Al-‘Uluum wa Al-Hikaam, (1/71).

([5]) HR. Bukhari No. 3467.

([6]) Madaarij As-Saalikiin, (1/341).

([7]) Majmuu’ Al-Fatawa, (17/139).

([8]) Lihat: Latha’if Al-Ma’arif, karya Ibnu Rajab, (1/254).

([9]) Lihat: Syu’abul Iman No. 35.

([10]) HR. Bukhari No. 652.

([11]) HR. Muslim No. 2626.

([12]) HR. An-Nasai No. 1953 dan HR. Al-Hakim No. 6527 di dalam Al-Mustadrak dan disahihkan oleh Adz-Dzahabi.

([13]) HR. Ath-Thabrani No. 2455 dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir No. 937.

([14]) HR. Bukhari No. 2272.

([15]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi, (9/166).

([16]) Di dalam sebuah qiraah disebutkan:

إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلِصِينَ

“Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang ikhlas.” [Lihat: Tafsir Al-Qurthubi, (9/170)].

([17]) HR. Muslim No. 199.

([18]) HR. Bukhari No. 99.

([19]) At-Taudhih, (3/486).

([20]) Majmu’ Al-Fatawa, karya Ibnu Taimiyah, (16/346).

([21]) HR. Muslim No. 1905.

([22]) HR. Muslim No. 1904.

([23]) HR. Ahmad No. 3772.

([24]) Lihat: Ar-Risalah Al-Qusyairiyah, (2/361).

([25]) HR. Bukhari No. 6499.

([26]) Lihat: Fath al-Baari, (11/336-337).

([27]) HR. Ahmad No. 23630, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir.

([28]) HR. Muslim No. 1905.

([29]) Ighatsah Al-Lahfan, karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, (1/146).

([30]) HR. Bukhari No. 716 di dalam Al-Adab Al-Mufrad.

([31]) HR. Bukhari No. 761 di dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan Al-Baihaqi No. 4534 di dalam Syu’abul Iman.

([32]) HR. Abu Dawud No. 112 di dalam kitabnya Az-Zuhd dan An-Nasa’i no. 11834 di dalam As-Sunan Al-kubra mauquf kepada Az-Zubair bin Al-‘Awwam radhiallahu ‘anhu. Disebutkan di dalam Musnad Asy-Syihab no. 434 1/267 bahwa riwayat tersebut disandarkan langsung kepada Rasulullah ﷺ.

([33]) Lihat: Mawarid Azh-Zham’an, (1/582).

([34]) HR. Ath-Thabrani No. 5452 dan Al-Baihaqi No. 731.

([35]) HR. Al-Baihaqi No. 6868.

([36]) Ihya’ Ulum ad-Din, karya Al-Ghazali, (3/374).