Sikap Muslimah Di Masa Pandemi

Sikap Muslimah Di Masa Pandemi

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Di antara sikap wanita yang salihah dalam menghadapi kondisi pandemi yang sedang menimpa dunia internasional seperti sekarang ini adalah hendaknya dia harus sadar bahwasanya semua yang berlaku di alam semesta ini adalah atas kehendak Allah ﷻ dan sudah ditakdirkan oleh Allah ﷻ.

Tidaklah Allah ﷻ menakdirkan sesuatu atau  memberlakukan sesuatu di alam semesta ini kepada ciptaan-Nya kecuali ada hikmah-hikmah yang Allah ﷻ kehendaki dibalik itu semua. Namun, di balik itu hendaknya dia memahami bahwa semua ini adalah musibah.

Tidak ada orang yang senang dengan adanya pandemi. Semua orang terganggu dengan adanya pandemi. Aktivitas terganggu, begitu pun dengan ekonomi, segala bentuk kegiatan dan banyak hal termasuk ibadah juga terganggu. Ini adalah musibah yang menimpa kita semua. Tentunya di antara sikap yang terbaik dari seorang muslim atau seorang wanita muslimat ketika ditimpa musibah, adalah:

  1. Selalu introspeksi diri kepada dirinya.

Allah ﷻ berfirman,

وَما أَصابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِما كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَنْ كَثِيرٍ

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

“Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa’: 79)

Berdasarkan firman Allah ﷻ tersebut seharusnya kita merenungkan bahwasanya musibah ini terjadi di antaranya disebabkan andil kita dalam berbuat dosa, sehingga terjadi musibah tersebut. Siapakah di antara kita yang merasa suci atau merasa tidak ada dosa yang pernah dilakukan sehingga terjadi musibah?

Ketika terjadi musibah seperti ini tentu kita semua tidak menyukainya. Maka, sudah selayaknya bagi kita untuk introspeksi diri, merenungkan kembali lembaran-lembaran kehidupan kita sebelumnya. Bagaimana ibadah kita kepada Allah? Bagaimana sikap kita kepada ada orang-orang terdekat kita? Sudahkah kita menjalankan ketaatan kepada Allah ﷻ? Ataukah kita masih terjerumus dalam berbagai macam kemaksiatan? Sudahkah kita menjaga pandangan kita? Sudahkah kita menjaga pendengaran kita? Sudahkah kita menjaga lisan kita?

Kita sangat yakin bahwasanya semua yang terjadi ini adalah akibat maksiat yang kita lakukan. Tentunya, bagi orang-orang yang tidak beriman, mereka akan melupakan hal ini. Bahkan, sejatinya musibah semakin menjadikan mereka terpuruk dan semakin jauh dari Rabb semesta alam.

Adapun bagi orang-orang yang beriman, musibah yang menimpa mereka hendaknya jadi bahan dan sarana untuk introspeksi diri, merenungkan kembali apa yang selama ini mereka lakukan dan berharap kepada Allah ﷻ agar musibah segera diangkat.

  1. Tidak lupa menunaikan hak Allah dan hak orang lain.

Kondisi yang ada setelah masa pandemi, di mana setiap orang menjalani kehidupan yang baru setelah pandemi (new normal), tidak bisa dihindari. Setiap orang tahu bahwasanya mereka tidak bisa menunggu sampai kapan suatu wabah akan pergi dari negerinya. Itu adalah suatu hal yang belum tentu bisa mereka pastikan.

Banyak dugaan-dugaan tersebar. Ada yang menduga pada waktu tertentu wabah itu akan hilang. Sebagian ahli kesehatan melarang anak-anak dan orang-orang untuk beraktivitas di luar rumah hingga masa yang tidak bisa ditentukan. Itu pun hanya sekedar dugaan yang tak berujung, dan akhirnya tidak ada yang tahu kapan wabah itu selesai. Bahkan, ada yang menduga bahwasanya wabah akan terus ada, sehingga akan menjadi suatu penyakit yang biasa, seperti penyakit demam berdarah yang tidak akan hilang dan menjadi hal yang biasa dalam kehidupan masyarakat (new normal). Maka dari itu, hendaknya kita selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi kondisi yang akan terjadi. Kita berharap semoga keadaan semakin membaik. Namun, tidak ada yang tahu masa depan kecuali Allah ﷻ.

Apa pun kondisi yang dihadapi seorang wanita muslimat, yang paling penting adalah dia tetap selalu menjadi pribadi wanita yang salihah. Baik dalam keadaan pandemi atau tidak, dalam kondisi nyaman ataupun sulit, hendaknya dia berusaha untuk menjadi seorang wanita yang salihah. Inilah yang paling penting.

Sebagaimana diketahui definisi seorang yang saleh adalah orang yang menunaikan hak Allah ﷻ dan menunaikan hak orang-orang terdekatnya. Kalau seseorang sudah menunaikan hak Allah ﷻ, maka hendaknya dia introspeksi diri tentang menunaikan hak orang terdekatnya. Apabila dia adalah seorang wanita, hendaknya dia merenungkan akan kewajibannya. Apakah hak suaminya sudah dia tunaikan? Apakah hak orang tuanya sudah dia tunaikan? Apakah hak anak-anaknya sudah dia tunaikan?

Apabila dia sudah menunaikan dua hak ini, maka dia termasuk dalam definisi orang-orang saleh. Kalau seseorang hanya fokus kepada menunaikan haknya kepada Allah ﷻ, sementara hak orang-orang terdekatnya tidak ditunaikan, maka dia bukanlah wanita yang salihah. Bahkan, dia akan mengalami musibah pada hari kiamat kelak.

Allah ﷻ berfirman,

فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ . يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ . وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ . وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ . لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ

“Maka apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua). Pada hari itu manusia lari dari saudaranya. Dan dari ibu dan bapaknya. Dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa: 33-37)

Pada hari kiamat kelak, setiap orang akan lari menjauh dari ibunya dan ayahnya. Bahkan, dia akan lari meninggalkan istrinya, di mana saat di dunia dia adalah teman tidurnya. Dia juga akan lari dari anak-anaknya, di mana mereka adalah buah hatinya yang selama ini dia bekerja keras untuk memenuhi dan menyenangkannya. Padahal, mereka adalah orang-orang terdekatnya. Namun, pada kenyataannya pada hari kiamat kelak, dia akan lari dari mereka semua.

Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa sebab seseorang lari dari keluarganya ketika tiba hari kiamat adalah karena selama di dunia dia tidak menunaikan hak-hak mereka. Dia takut dituntut, baik oleh suami atau istrinya, ayahnya, ibunya dan anak-anaknya. Karena pada saat di dunia, dia tidak saleh/salihah dengan memberikan hak mereka. Maka dari itu, ini adalah hal yang membahayakan bagi setiap orang, terutama bagi kaum hawa jika di dunia dia tidak menjadi wanita yang salihah([1]). Inilah sejatinya yang paling penting.

Apa pun kondisi yang dihadapi oleh setiap wanita muslimat, baik ketika saling bertatap muka dan berinteraksi dengan teman-teman ataupun dalam masa pandemi sehingga masing-masing berada di rumah dan saling berjauhan antara satu dengan yang lain, hendaknya dia tetap harus memperjuangkan diri untuk menjadi seorang wanita yang salihah. Allah ﷻ berfirman menjelaskan tentang definisi wanita salihah,

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

“Maka perempuan-perempuan yang saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).” (QS. An-Nisa’: 34)

قَانِتَاتٌ ‘Para wanita yang taat untuk beribadah kepada Allah berasal dari kata قَنَتَ يَقْنُتُ قُنُوتًا\قُنُوتٌ ‘taat’. Disebut sebagai qunut, karena memiliki arti taat beribadah dengan waktu yang lama([2]). Maka dari itu, disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Jabir t berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

أَفْضَلُ الصَّلَاةِ طُولُ الْقُنُوتِ

“Salat yang terbaik adalah salat yang lama.”([3])

Di antara sifat قَانِتَاتٌ adalah jika dalam salat, berdirinya lama, tidak terburu-buru, tidak salat seperti cacing yang kepanasan atau seperti burung yang mematuk makanan, sabar dalam beribadah, tenang dalam melaksanakan salat, tenang di dalam membaca Al-Qur’an, tidak buru-buru dan betah untuk beribadah kepada Allah ﷻ.

حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ ‘menjaga (hak suaminya) pada saat suaminya tidak ada’. Allah ﷻ menyebutkan tentang ciri wanita salihah, di mana di antara cirinya adalah mengumpulkan hak Allah ﷻ dengan hak suaminya. Dia taat beribadah untuk menjaga hak Allah ﷻ dan dia menjaga hak suaminya meskipun suaminya tidak ada, apalagi kalau suaminya ada di hadapannya. Ini sebagai isyarat baginya, meskipun suaminya tidak ada/hadir di rumah, tetapi dia tetap harus menjaga harga diri suaminya dan menjaga harta suaminya. Inilah yang disebut dengan wanita salihah.

Jadi, barometer hubungan seseorang dengan Allah ﷻ dapat dilihat dari ibadahnya kepada Allah ﷻ. Bagaimana salat subuhnya? Bagaimana salat zuhurnya? Bagaimana bacaan Al-Qur’annya? Apakah sudah menjaga pandangannya? Apakah sudah menjaga pendengarannya? Sudahkah dia meninggalkan gibah ataupun namimah? Sudahkah dia meninggalkan sikap berburuk sangka kepada wanita-wanita yang lain? Inilah di antara barometer agar hubungannya dengan Allah ﷻ semakin baik. Selain itu, hendaknya dia meluangkan waktunya untuk membaca Al-Qur’an, meluangkan waktunya untuk salat duha, ataupun waktu untuk berzikir pagi/petang sebagaimana rutinitas sehari-hari.

Tidak kalah pentingnya dari itu adalah agar setiap muslim  menjaga hubungannya dengan orang-orang terdekatnya. Terutama bagi seorang muslimat bahwa orang yang paling dekat dengan dirinya adalah suaminya. Hendaknya dia introspeksi diri, bagaimana hubungannya dengan suaminya. Apakah dia sudah menunaikan hak suaminya? Apakah dia terlihat tersenyum ketika suaminya datang kepadanya? Apakah suaminya merindukan kedatangannya? Apakah suaminya betah berbicara dengannya? Ataukah ternyata dia tidak menunaikan hak suaminya? Atau dia malah menggunakan harta suaminya tidak sebagaimana yang seharusnya? Hendaknya hal ini dia tanyakan kepada dirinya. Karena hak yang harus dikerjakan dan yang paling utama bagi seorang wanita adalah suaminya,  kalau dia ingin menjadi wanita yang salihah.

Setelah dia mampu menunaikan hak-hak suaminya, maka hendaknya dia melihat hak orang terdekat yang lain, entah anak-anaknya, ibu dan ayahnya, maupun saudara-saudaranya. Janganlah melupakan juga orang-orang terdekat yang harus ditunaikan hak mereka.

Lihatlah bagaimana anak anaknya, sudahkah ditunaikan hak anak-anaknya? Sudahkah dia memberi nasihat kepada anak-anaknya dengan cara yang terbaik? Ataukah anak-anaknya dibiarkan begitu saja dengan diberi kekayaan dan kesenangan tanpa dinasihati? Sehingga mereka melakukan apa yang mereka kehendaki sesuka hatinya. Jika demikian, artinya dia tidak amanah kepada anak-anaknya, tidak menunaikan hak anak-anaknya, sedangkan anak-anaknya akan menuntutnya pada hari kiamat kelak.

Lihatlah bagaimana hubungannya dengan ayah dan ibunya. Kalau masih punya ayah dan ibu, maka hendaknya dia introspeksi diri, bagaimana hubungannya dengan ayah dan ibunya. Sudahkah berbakti kepada mereka? Sudahkah melakukan yang seharusnya kepada keduanya?

Selain itu, jangan melupakan saudara-saudaranya, bagaimana hubungannya dengan saudara-saudaranya. Ada sebagian orang beribadah kepada Allah ﷻ dengan tekun dan istikamah, begitu juga hubungan dengan suami/istrinya juga sangat baik. Akan tetapi, sering bertengkar dan selalu bermasalah dengan saudara-saudaranya. Sifat yang demikian ini, bukanlah termasuk wanita salihah dan jika dia adalah seorang lelaki, maka dia bukan lelaki yang saleh. Dia akan dituntut oleh saudara-saudaranya pada hari kiamat kelak, karena dia tidak menunaikan hak mereka.

Ini adalah barometer sederhana yang harus kita perhatikan, meskipun kita berada di masa pandemi. Karena sejatinya, semua itulah yang kita harapkan, tatkala kita masih hidup, sedangkan Allah ﷻ masih memberikan kesehatan dan umur kepada kita, terutama di tengah musim pandemi seperti ini. Maka dari itu, janganlah kita membuat kesempatan itu menjadi sia-sia.

Apabila kita sudah memperhatikan hal ini, baik itu berupa hubungan kita dengan Allah ﷻ, hubungan kita dengan suami, ayah dan ibu, anak-anak dan saudara-saudara kita, maka hendaknya kita juga meningkatkan iman kita. Hal ini harus selalu diingat, karena di antara kita masih ada yang punya hubungan yang kurang baik dengan kerabat kita. Hendaknya kita segera memperbaikinya sebelum kita menyesal di hari kiamat kelak di mana mereka akan menuntut keadilan kepada kita.

  1. Di antara ibadah-ibadah yang bisa dilakukan oleh para muslimat, tatkala di masa pandemi adalah dengan berdiam di rumah dan mensyukuri nikmat waktu.

Apabila kita meniatkan berdiam diri di rumah karena ibadah, maka kita akan mendapatkan pahala. Hal itu disebabkan karena diamnya wanita di rumah diperintahkan oleh Allah ﷻ. Berdasarkan firman Allah ﷻ terhadap istri-istri Nabi Muhammad ﷺ,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Ini adalah amalan yang terbaik bagi para wanita. Tidaklah mereka keluar dari rumahnya, kecuali dalam kondisi darurat atau ada keperluan. Adapun jika tidak ada keperluan, maka yang terbaik adalah mereka menetap di rumah. Mereka tidak keluyuran, tidak keluar rumah tanpa ada keperluan, apalagi di musim pandemi. Jadi, keberadaan seorang wanita di rumah jika diniatkan bahwa dia menetap di rumah karena Allah ﷻ, maka akan mendapatkan pahala. Berdasarkan perintah Allah ﷻ yang telah disebutkan sebelumnya.

Terutama wanita-wanita yang masih muda. Hendaknya berhati-hati ketika keluar rumah, karena setan mengintai mereka untuk menjadikan mereka sebagai bahan untuk menggoda para lelaki. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ

“Wanita itu aurat, jika dia keluar maka setan pun mengintainya.”([4])

Setiap kali seorang wanita keluar dari rumahnya, maka setan mengintainya untuk dijadikan bahan untuk menggoda para lelaki.

Kondisi pandemi ini seharusnya menjadi sarana bagi kita untuk banyak beribadah. Keadaan seperti ini benar-benar dirasakan oleh penulis pribadi. Kebiasaan penulis pun banyak berubah. Yang tadinya setiap hari keluar rumah untuk beraktivitas, namun pada saat pandemi tidak bisa melakukan hal tersebut dan hanya berdiam diri di rumah saja. Akan tetapi, ketika harus di rumah penulis merasakan banyak manfaat yang didapatkan di balik musibah ini. Di antara kenikmatan luar biasa yang Allah ﷻ berikan adalah nikmat waktu. Pada hari-hari biasa penulis merasa sangat kekurangan waktu, banyak tugas tertunda sehingga tidak bisa dikerjakan. Karena setiap kali keluar beraktivitas, maka banyak waktu yang terpotong, baik ketika dalam perjalanan, menuju lokasi pengajian, ataupun ketika meninggalkan lokasi tersebut. Bisa jadi dalam sekali beraktivitas waktu 2/3 jam akan terbuang sia-sia.

Kerena waktu yang sangat sempit, terkadang begitu pulang ke rumah tidak sempat berbincang santai dengan istri, dan terkadang tidak sempat memeluk anak-anak. Semua dalam kondisi letih dan lelah. Namun, dalam kondisi pandemi seperti ini semua itu berubah. Setiap waktu, penulis bisa berkumpul dengan keluarga. Banyak waktu yang didapatkan untuk bisa mengulang-ulang hafalan atau bacaan Al-Qur’an, belajar, silaturahmi dengan keluarga, baik melalui virtual atau media komunikasi yang lain.

Inilah nikmat yang jangan sampai kita sia-siakan, yaitu nikmat waktu. Pada musim pandemi ini, terutama bagi para muslimat, sejatinya telah diberikan nikmat oleh Allah ﷻ, berupa waktu yang luang. Jangan sampai terlena dengan waktu tersebut, sehingga tidak bisa memanfaatkan dengan baik. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ

“Dua nikmat yang banyak orang tertipu/terperdaya merugi pada keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”([5])

مَغْبُونٌ ‘teperdaya’ atau tertipu. Dalam bahasa arab غَبْن/Ghabn dimisalkan seperti seorang yang menjual barangnya kepada orang lain seharga Rp 100.000,-. Namun, setelah akad jual beli selesai ternyata dia sadar bahwa harga pasaran barang yang dijualnya adalah Rp 200.000,-. Akhirnya, dia merasa menyesal dengan jual beli tersebut. Begitu juga dengan seseorang yang melalaikan waktunya, sejatinya dia telah tertipu sebagaimana penjual yang tertipu dengan transaksinya.

Oleh karenanya, Allah ﷻ menyebutkan di antara nama hari kiamat adalah يَوْمُ التَغَابُن ‘hari penyesalan’ atau hari kerugian. Demikian ini dirasakan oleh orang-orang beriman, karena mereka benar-benar merasa rugi tatkala mereka tahu bahwa waktu mereka terbuang sia-sia dan tidak ada manfaatnya.

Allah ﷻ telah memberikan kepada orang-orang yang beriman anugerah berupa memiliki waktu yang lapang, yang luang, dan banyak. Maka dari itu, hendaknya setiap orang memanfaatkan waktunya ketika di rumah agar tidak ada hal-hal yang berlalu begitu saja tanpa berpahala. Terutama bagi setiap wanita muslimat, dia bisa memperbaiki hubungannya dengan suami, anak-anak, maupun keluarga. Di samping itu, dia bisa memperbaiki hubungannya dengan Allah ﷻ. Dia bisa memperbaiki waktunya, baik dengan mengisinya dengan membaca Al-Qur’an, muraja’ah, atau menghafal ayat-ayat Allah ﷻ. Hendaknya selalu menghindari terlalu banyak berinteraksi dengan media sosial apa pun itu bentuknya.

Sudah banyak di antara kaum wanita  yang berumur 50/60 tahun ke atas. Kalau nikmat yang berharga ini (waktu) ternyata digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, niscaya mereka akan merugi. Tentu saja, setiap individu tidak dilarang mengikuti setiap berita yang beredar. Waktu untuk mengikuti berita ada waktunya sendiri, mungkin dalam sehari bisa mengikuti berita selama setengah jam. Tentu saja itu tidak dilarang. Akan tetapi, kalau berulang-ulang hingga berjam-jam yang seandainya waktu itu digunakan untuk membaca Al-Qur’an sebagai bekalnya di akhirat kelak, tentu waktu tersebut akan semakin membawa keberkahan bagi kehidupannya.

Dalam satu hadits yang diriwayatkan dari Thalhah bin ‘Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu berkata,

أَنَّ رَجُلَيْنِ مِنْ بَلِيٍّ قَدِمَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَ إِسْلَامُهُمَا جَمِيعًا، فَكَانَ أَحَدُهُمَا أَشَدَّ اجْتِهَادًا مِنَ الْآخَرِ، فَغَزَا الْمُجْتَهِدُ مِنْهُمَا فَاسْتُشْهِدَ، ثُمَّ مَكَثَ الْآخَرُ بَعْدَهُ سَنَةً، ثُمَّ تُوُفِّيَ، قَالَ طَلْحَةُ: فَرَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ: بَيْنَا أَنَا عِنْدَ بَابِ الْجَنَّةِ، إِذَا أَنَا بِهِمَا، فَخَرَجَ خَارِجٌ مِنَ الْجَنَّةِ، فَأَذِنَ لِلَّذِي تُوُفِّيَ الْآخِرَ مِنْهُمَا، ثُمَّ خَرَجَ، فَأَذِنَ لِلَّذِي اسْتُشْهِدَ، ثُمَّ رَجَعَ إِلَيَّ، فَقَالَ: ارْجِعْ، فَإِنَّكَ لَمْ يَأْنِ لَكَ بَعْدُ، فَأَصْبَحَ طَلْحَةُ يُحَدِّثُ بِهِ النَّاسَ، فَعَجِبُوا لِذَلِكَ، فَبَلَغَ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَحَدَّثُوهُ الْحَدِيثَ، فَقَالَ: مِنْ أَيِّ ذَلِكَ تَعْجَبُونَ؟ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ ‍ هَذَا كَانَ أَشَدَّ الرَّجُلَيْنِ اجْتِهَادًا، ثُمَّ اسْتُشْهِدَ، وَدَخَلَ هَذَا الْآخِرُ الْجَنَّةَ قَبْلَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَلَيْسَ قَدْ مَكَثَ هَذَا بَعْدَهُ سَنَةً؟ قَالُوا: بَلَى، قَالَ: وَأَدْرَكَ رَمَضَانَ فَصَامَ، وَصَلَّى كَذَا وَكَذَا مِنْ سَجْدَةٍ فِي السَّنَةِ؟ قَالُوا: بَلَى، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَمَا بَيْنَهُمَا أَبْعَدُ مِمَّا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Sesungguhnya ada dua orang laki-laki dari Baliy (suku Qudha’ah) datang kepada Rasulullah dan keduanya masuk Islam bersama-sama. Salah seorang dari keduanya lebih giat daripada yang lain. Orang yang sangat giat dari keduanya itu ikut berperang lalu mati syahid, sedangkan yang lainnya hidup setahun setelahnya, lalu meninggal dunia. Thalhah berkata, ‘Aku bermimpi, ketika aku sedang berada di pintu surga, aku melihat keduanya. Tiba-tiba ada seseorang keluar dari dalam surga, lalu mengizinkan orang yang mati terakhir dari keduanya (untuk masuk surga lebih dahulu), kemudian dia keluar lagi, lalu mengizinkan orang yang mati syahid (untuk masuk surga), lalu dia menemuiku dan berkata, ‘Kembalilah, karena sesungguhnya belum datang waktu untukmu (boleh masuk surga)’. Keesokan harinya Thalhah menceritakan kepada orang-orang, lalu mereka keheranan terhadapnya. Hal itu sampai kepada Rasulullah ,mereka menyampaikan cerita itu kepada beliau , lalu beliau bersabda, ‘Dari sisi mana kalian heran?’, mereka menjawab, ‘Wahai Rasulullah, orang yang satu ini lebih giat dari yang lain, lalu dia juga mati syahid, tetapi orang yang terakhir (meninggal dunia) itu masuk surga lebih dahulu’, maka Rasulullah bersabda, ‘Bukankah dia yang masih hidup setahun setelahnya?’, mereka menjawab, ‘Iya’, beliau pun melanjutkan bersabda, ‘Dan (bukankah) dia telah mendapati bulan Ramadan lalu berpuasa, dia telah melakukan salat dan sujud sekian banyak di dalam setahun?’, mereka menjawab, ‘Iya’, maka Rasulullah bersabda, ‘Jarak antara keduanya lebih jauh dari jarak antara langit dan bumi’.”([6])

Di dalam hadits tersebut menjelaskan tentang dua sahabat yang meninggal dunia. Orang pertama meninggal dunia  dan syahid karena berjihad di jalan Allah ﷻ, kemudian orang yang kedua meninggal dunia satu tahun setelahnya. Ternyata derajat orang yang kedua lebih tinggi daripada orang yang pertama, padahal dia terlebih dahulu meninggal dunia dalam kondisi mati syahid. Akhirnya Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa orang kedua mengisi waktunya dengan amalan-amalan saleh di sisa umurnya, akhirnya dia memiliki kedudukan yang tinggi dari pada sahabatnya.

Jadi, umur ini sangat mempengaruhi kehidupan setiap orang, dalam meninggikan derajatnya di sisi Allah ﷻ di akhirat kelak. Di dunia ini adalah saatnya untuk menanam, sedangkan pada hari kiamat kelak adalah saat memetik buah yang ditanam. Oleh karenanya, disebutkan tentang orang yang terbaik adalah orang yang panjang umurnya dan terbaik amalannya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu berkata,

أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ، قَالَ: مَنْ طَالَ عُمُرُهُ، وَحَسُنَ عَمَلُهُ، قَالَ: فَأَيُّ النَّاسِ شَرٌّ؟ قَالَ: مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ

“Seseorang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang terbaik?’, beliau bersabda, ‘Orang yang panjang umurnya dan bagus amalnya’. Dia bertanya lagi, ‘Siapakah manusia yang paling buruk?’, beliau bersabda, ‘Orang yang panjang umurnya dan buruk amalnya’.”([7])

Di antara hikmah di balik musim pandemi ini adalah seseorang memiliki banyak waktu luang. Di samping para wanita yang memiliki pekerjaan rumah tangga, tentu mereka juga memiliki banyak waktu luang. Apalagi bagi sebagian orang yang sudah memasuki masa tuanya dan anak-anaknya sudah mempunyai rumah tangga sendiri, maka waktu luangnya semakin banyak. Karena waktu kalau kita tidak gunakan untuk kebaikan, maka akan digunakan untuk keburukan. Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

الْوَقْتُ سَيْفٌ، فَإِنْ قَطَعْتَهُ وَإِلَّا قَطَعَكَ. وَنَفْسُكَ إِنْ لَمْ تَشْغَلْهَا بِالْحَقِّ وَإِلَّا شَغَلَتْكَ بِالْبَاطِلِ

“Waktu ibarat pedang, jika engkau tidak menebasnya maka ialah yang akan menebasmu. Jiwamu jika tidak kau sibukkan di dalam kebenaran maka ia akan menyibukkanmu dalam kebatilan.” ([8])

Kenyataannya pun demikian. Apabila kita mulai membuka media sosial dan tidak kita gunakan untuk hal yang baik, maka kita pasti akan menggunakannya kepada hal yang tidak bermanfaat, entah itu gibah, namimah, atau terkadang hal-hal yang sangat tidak perlu. Jika yang dibuka bukan termasuk hal yang bermanfaat, pasti hal yang berbau maksiat. Sangat disayangkan jika waktu itu terbuang sia-sia. Seandainya kita menggunakannya untuk membaca Al-Qur’an atau mendengar suatu pengajian atau nasihat yang bermanfaat atau merenungkan ayat-ayat Allah ﷻ, maka hal itu lebih baik.

Ada saatnya kita bersenda gurau atau kebersamaan dengan keluarga dan teman-teman dengan tujuan untuk menghilangkan kepenatan dan itu pun hendaknya kita niatkan karena Allah ﷻ. Yang sangat dikhawatirkan adalah kita diberikan kenikmatan waktu di musim pandemi seperti ini, di mana seharusnya kita menggunakannya untuk semakin dekat dengan Allah ﷻ, tetapi malah kita semakin jauh dari Allah ﷻ. Kita semakin khusyuk dengan menonton drama atau sinetron kesukaan kita. Bahkan, ada yang sibuk dengan berita atau polemik politik. Padahal, kita sendiri tahu bahwa kita bukanlah ahli dalam bidang tersebut. Selain itu pun, kita tidak mengetahui secara pasti kebenaran dari sumber berita itu.

Waktu sangat penting, terutama bagi kaum wanita agar menjadi wanita yang salihah. Karena, di akhirat kelak kita akan ditanya tentang umur dan waktu kita. Diriwayatkan dari Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

لَنْ يَزُولَ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ شَبَابِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ، وَعَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ، وَفِيمَا أَنْفَقَهُ

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba sehingga dia akan ditanya tentang empat perkara: tentang masa mudanya untuk apa dia habiskan, tentang umurnya untuk apa dia gunakan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan untuk apa dia infakkan.”(([9]))

Maksud dari umur adalah hari demi hari, jam demi jam, dan bahkan detik demi detik. Itulah sejatinya umur kita dan itu juga yang sangat menentukan bagaimana masa depan kita di akhirat kelak.

  1. Menciptakan suasana yang baik di rumah

Seorang wanita muslimat, terutama seorang istri bisa mengajarkan kesabaran kepada suami dan anak-anak. Sebagian kaum wanita pada musim pandemi, justru sering mengeluh atau bahkan ribut dengan suaminya. Bisa jadi, suaminya mendapatkan banyak kesulitan di dalam pekerjaannya. Oleh karena itu, hendaknya pada musim wabah seperti ini seharusnya dia bisa menguatkan keadaan suaminya ataupun menghiburnya bukan sebaliknya. Jangan sampai istri semakin menuntut suaminya hingga di luar batas kemampuan suaminya. Sehingga, akibat ulahnya tersebut, suaminya semakin berat untuk mencari nafkah ataupun bekerja.

Apabila di masa-masa sulit, seorang istri mampu menjadi pelipur lara bagi suaminya, maka sejatinya dia adalah wanita yang salihah. Bukan seperti perkataan orang ‘Ada uang, abang disayang. Tidak ada uang, abang ditendang’. Kaum wanita yang seperti itu pun tidak sedikit.

Di saat musim pandemi seperti ini, banyak orang yang menemukan kesusahan dan kesulitan. Hal ini pun banyak dirasakan terutama bagi orang yang mempunyai tanggungan, hutang, angsuran yang seharusnya dilunasi tertunda, proyek-proyek berhenti dan terbengkalai. Tingkat kesulitan bukan hanya dialami orang yang berada di level bawah saja, tetapi orang-orang yang berada di level atas pun demikian. Jangankan di negeri Indonesia, negara Amerika saja yang katanya disebut sebagai negara adidaya pun tidak sanggup menghadapi wabah ini. Apalagi seorang suami yang hanya sebagai kepala rumah tangga.

Maka dari itu, sebagai seorang istri, hendaknya harus legawa menghadapi musibah ini. Hendaknya dia berusaha mengatur ekonomi keluarga agar menjadi lebih baik, entah dengan membuat penghematan atau yang semisalnya. Selain itu, dia berusaha memberikan siraman rohani kepada anak-anaknya, sehingga dia mampu menciptakan suasana yang nyaman ketika beribadah di rumah.

Footnote:
________

([1]) Lihat: At-Tahriir Wa At-Tanwiir, Li Ibnu ‘Asyur, 30/136

([2]) Lihat: Ash-Shihhah, Li Al-Farabi, 1/261 dan Maqaayis Al-Lughah, Li Ibnu Faris, 5/31

([3]) HR. Muslim no. 756

([4]) HR. Tirmizi, no. 1173, hadits hasan sahih gharib dan disahihkan oleh Al-Albani

([5]) HR. Bukhari no. 6412

([6]) HR. Ibnu Majah no. 3925, Al-Baihaqi no. 6530 di dalam As-Sunan Al-Kubra dan disahihkan oleh Al-Albani

([7])  HR. Tirmizi no. 2330, hadits hasan sahih dan menurut Al-Albani hadits sahih lighairihi

([8]) Dinukil oleh Al-Imam Ibnul Qayyim r dalam kitabnya Al-Jawaab Al-Kaafi hal 109 dan Madaarijus Saalikiin 3/129

([9]) HR. Ath-Thabrani no. 4710 di dalam Al-Mu’jam Al-Ausath