Cahaya Di Atas Cahaya

Cahaya Di Atas Cahaya

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Allah ﷻ berfirman,

﴿اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ﴾

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan seperti bintang yang bercahaya, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Nur: 35)

Inilah salah satu perumpamaan yang disebutkan di dalam Al-Qur’an. Allah ﷻ berfirman tentang perumpamaan yang Allah ﷻ buat,

﴿ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ ﴾

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (QS. Al-Ankabut: 43)

Ketika Allah ﷻ membuat perumpamaan-perumpamaan maka hendaknya kita berusaha memahami makna-maknanya. Karena di balik perumpamaan tersebut terdapat kandungan makna yang sangat luas.

Penulis akan menjelaskan secara sederhana makna dari  ayat ini baru kemudian penulis akan menjelaskan tentang cahaya. Allah ﷻ berfirman,

﴿ كَمِشْكَاةٍ ﴾

“seperti sebuah lubang yang tak tembus”

Makna مِشْكَاةٍ yaitu seperti jendela yang terbuka sehingga bisa melihat keluar. Atau مِشْكَاةٍ adalah seperti lubang pada dinding  yang biasa disebut dengan كَوَّة yang lubang tersebut digunakan untuk meletakkan lampu([1]). Oleh karenanya Allah ﷻ berfirman,

﴿ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ﴾

“Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar.”

Allah ﷻ berfirman,

﴿ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ﴾

“Pelita itu di dalam kaca

Lampu tersebut ternyata berada di dalam kaca. Sebagaimana lampu pelita yang kita ketahui bahwa lampu tersebut ditutup oleh kaca.

Allah ﷻ berfirman,

﴿ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ ﴾

“kaca itu seakan-akan seperti bintang yang bercahaya.”

Jadi kaca tersebut bersih dan tidak ada kotoran berupa noda hitam dan lainnya. Sehingga kaca itu sendiri sudah mengilat seperti bintang yang memiliki cahaya.

Allah ﷻ berfirman,

﴿ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ ﴾

“yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya).”

Bahan bakar lampu/pelita tersebut adalah pohon zaitun yang diberkahi yang posisinya tidak di timur dan tidak di barat. Para ahli tafsir menjelaskan maksudnya pohon zaitun tersebut yang letaknya berada di tengah-tengah sehingga ia senantiasa terkena cahaya matahari([2]). Mereka mengatakan pohon zaitun yang seperti ini akan menghasilkan minyak sangat jernih dan sangat baik untuk menyalakan lampu. Oleh karenanya Allah ﷻ menjelaskan tentang minyak tersebut,

﴿ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ﴾

“yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api.”

Hal ini dikarenakan saking bersih dan mengilatnya minyak tersebut

Allah ﷻ berfirman,

﴿ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ﴾

“Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Ada yang mengatakan maksudnya adalah cahaya pelita/lampu di atas cahaya minyak dan misykat.

Apa yang dimaksud dengan perumpamaan dalam ayat ini? mayoritas ahli tafsir mengatakan maksudnya adalah cahaya yang Allah ﷻ berikan kepada hati seorang mukmin([3]). Sehingga makna dari ayat ini adalah:

﴿ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ﴾

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.”

Allah ﷻ adalah cahaya bagi langit, bumi, dan seluruh alam semesta. Allah ﷻ menjadi sumber cahaya bagi segalanya.

﴿ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ﴾

“Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar.”

Maksud dari perumpamaan cahaya Allah ﷻ adalah cahaya keimanan. Adapun مِشْكَاةٍ dijelaskan oleh sebagian ulama maksudnya adalah hati seorang mukmin([4]). Jadi perumpamaan cahaya Allah ﷻ seperti misykat atau hati seorang mukmin yang kokoh yang siap menerima cahaya. Di dalam misykat tersebut ada lampu yang disebut dengan lampu keimanan.

﴿ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ﴾

“Pelita itu di dalam kaca

Lampu keimanan tersebut tersimpan di dalam kaca. Sebagaimana yang kita tahu bahwa lampu ditutup oleh kaca. Kaca tersebut adalah kaca yang spesial, Allah ﷻ berfirman,

﴿ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ ﴾

“kaca itu seakan-akan seperti bintang yang bercahaya yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya).” yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api.”

Minyak dari lampu tersebut berasal dari pohon yang spesial. Minyak tersebut hampir bercahaya meskipun tidak terkena api. Sehingga dalam ayat ini Allah ﷻ menyebutkan beberapa sumber cahaya: cahaya lampu, cahaya kaca, cahaya minyak zaitun, dan cahaya misykat. Sehingga cahaya-cahaya tersebut berkumpul dalam sebuah misykat yang merupakan hati seorang yang beriman. Dari sini seseorang jika ingin hatinya bercahaya maka ia harus membersihkan kaca dan misykatnya. Juga dia harus mengambil bahan bakar cahaya dari minyak zaitun yang spesial sehingga bisa menghasilkan cahaya yang baik untuk penerangan. Inilah maksud dari ayat ini yang menjelaskan bahwa ada di antara hamba-hamba Allah ﷻ yang hatinya diberikan cahaya dan ada hamba-hamba Allah ﷻ yang hatinya tidak diberikan cahaya. Oleh karenanya dalam ayat ini Allah ﷻ berfirman,

﴿ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ ﴾

“Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki.”

Ada orang yang diberikan petunjuk oleh Allah ﷻ sehingga cahaya bisa masuk ke dalam hatinya. Sementara ada orang lain yang tidak mendapatkan cahaya, Allah ﷻ berfirman,

﴿ وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ ﴾

“(dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.” (QS. Nur: 40)

Inilah perumpamaan yang sederhana yang dijelaskan oleh ulama ahli tafsir tentang ayat ini. Kita harusnya bersyukur jika ada cahaya dalam dada kita, kita harus membersihkan kacanya agar siap menerima cahaya Allah ﷻ sehingga cahaya Allah ﷻ bisa semakin bersinar. Kita juga harus mencari bahan bakar berupa minyak zaitun terbaik sehingga bisa menghasilkan cahaya yang lebih baik.

Allah Adalah Cahaya

Terdapat dua pembahasan yang berkaitan dengan masalah ini:

Pertama: Allah ﷻ memiliki sifat cahaya

Banyak dalil yang menyatakan tentang hal ini. Dalil dari Al-Qur’an di antaranya ayat yang sedang kita bahas,

﴿ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ﴾

“Allah cahaya langit dan bumi.”

Para ulama mengatakan bahwa Allah ﷻ adalah cahaya dan Allah ﷻ memberikan cahaya bagi langit dan bumi. ([5])

Allah ﷻ berfirman,

﴿ وَأَشْرَقَتِ الْأَرْضُ بِنُورِ رَبِّهَا وَوُضِعَ الْكِتَابُ وَجِيءَ بِالنَّبِيِّينَ وَالشُّهَدَاءِ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ﴾

“Dan terang benderanglah bumi (padang mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan.” (QS. Az-Zumar: 69)

Hadis-hadis juga sangat banyak yang menjelaskan hal ini, di antaranya sabda Rasulullah ﷺ,

حِجَابُهُ النُّورُ، لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ

“Hijab-Nya adalah Cahaya. Seandainya Dia menyingkapkannya, pasti cahaya-cahaya Wajah-Nya akan membakar makhluk yang dipandang oleh-Nya.” ([6])

Hijab Allah ﷻ yang berupa cahaya merupakan makhluk yang Allah ﷻ ciptakan dan hijab tersebut bukanlah dzat Allah ﷻ. Di dunia ini tidak akan ada yang mampu untuk melihat wajah Allah ﷻ. Berbeda dengan ketika di akhirat kelak maka seseorang akan bisa untuk melihat wajah Allah ﷻ. Hadits ini menunjukkan bahwa dzat Allah ﷻ adalah cahaya.

Dalam hadits lain juga disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ  berdoa,

أَسْأَلُكَ بِنُورِ وَجْهِكَ

“aku memohon kepada-Mu dengan cahaya wajah-Mu.” ([7]

Kita tahu bahwasanya dzat Allah ﷻ bercahaya akan tetapi tidak sama dengan cahaya makhluk. Di antara perbedaannya adalah yang disebutkan pada hadis di atas,

لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ

“Seandainya Dia menyingkapkannya, pasti cahaya-cahaya Wajah-Nya akan membakar makhluk yang dipandang oleh-Nya”

Oleh karenanya cahaya Allah ﷻ tidak sama dengan cahaya makhluk. Sebagaimana ketika Rasulullah ﷺ  ditanya,

هَلْ رَأَيْتَ رَبَّكَ

“apakah engkau melihat Rabbmu?”

Maka Rasulullah ﷺ  menjawab,

نُورٌ أَنَّى أَرَاهُ

“cahaya, bagaimana aku bisa memandang-Nya.” ([8])

Jadi dzat Allah ﷻ adalah cahaya yang cahaya-Nya tidak sama dengan makhluk, hijab Allah ﷻ adalah cahaya, dan Allah ﷻ yang menciptakan cahaya.

Kedua: Allah ﷻ menciptakan cahaya

Cahaya-cahaya yang Allah ﷻ ciptakan terbagi menjadi 2 bagian:

  1. Cahaya-cahaya yang konkret (النُّوْرُ الْحِسِّي)
  • Cahaya matahari
  • Cahaya rembulan

Allah ﷻ berfirman,

﴿ هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا ﴾

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya.” (QS. Yunus: 5)

  • Cahaya bintang dan cahaya-cahaya lainnya. Allah ﷻ berfirman,

﴿ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ﴾

“Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir menyekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.” (QS. Al-An’am: 1)

Jadi, semua cahaya-cahaya yang ada di langit dan bumi adalah ciptaan Allah ﷻ.

  • Cahaya di atas sirath

Allah ﷻ berfirman,

﴿ يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ﴾

“(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar”.” (QS. Al-Hadid: 12)

  • Cahaya di kuburan

Sebagaimana doa Rasulullah ﷺ  kepada Abu Salamah,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَبِي سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ، وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِينَ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ رَبَّ الْعَالَمِينَ، اللَّهُمَّ افْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ، وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ

“Ya Allah, ampunilah dosa Abu Salamah, angkatlah derajatnya di tengah-tengah kaum yang mendapat hidayah, berilah dia penggantinya di dalam orang-orang yang ditinggalkan sesudahnya, ampunilah dosa-dosa kami dan dosanya, wahai Tuhan semesta alam, lapangkanlah kuburnya dan sinarilah dia di dalamnya.” ([9])

  1. Cahaya-cahaya yang abstrak (النُّوْرُ الْمَعْنَوِي)
  • Agama Islam disebut sebagai cahaya oleh Allah ﷻ.

Allah ﷻ berfirman,

﴿ يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ﴾

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS. At-Taubah: 32)

Maksud dari cahaya Allah ﷻ dalam ayat ini adalah agama Allah ﷻ ([10]). Sebagian ulama ketika membahas ayat ini mengatakan bahwa orang-orang kafir tidak memiliki hujah yang kuat. Perumpamaan mereka seperti orang yang hendak memadamkan cahaya matahari dengan meniupnya. Maka bagaimana bisa cahaya matahari bisa dipadamkan dengan sekedar tiupan?([11]) Tentunya tidak mungkin karena terlalu jauh jarak antara cahaya matahari dengan mereka. Mereka hanya bisa mengucapkan kata-kata yang kata-kata tersebut tidak akan pernah bisa memadamkan cahaya matahari.

  • Al-Qur’an,

Allah ﷻ berfirman,

﴿ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا ﴾

“dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Quran).” (QS. An-Nisa: 174)

Cahaya dalam ayat ini maksudnya adalah Al-Qur’an. Begitu juga pada firman Allah ﷻ,

﴿ الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ ﴾

“Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrahim: 1)

Dalam ayat ini disebutkan bahwa kitab Al-Qur’an adalah cahaya yang dengan cahaya tersebut maka Rasulullah ﷺ  bisa membimbing manusia dari kegelapan menuju cahaya.

  • Taurat dan Injil juga Allah ﷻ sebut dengan cahaya.

Allah ﷻ berfirman,

﴿ إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ﴾

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya.” (QS. Al-Maidah: 44)

Taurat disebut dengan cahaya karena kitab Taurat membimbing Bani Israil keluar dari kegelapan menuju jalan yang terang benderang.

Allah ﷻ berfirman,

﴿ وَآتَيْنَاهُ الْإِنْجِيلَ فِيهِ هُدًى وَنُورٌ ﴾

“Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya.” (QS. Al-Maidah: 46)

  • Nabi Muhammad ﷺ beliau juga disebut dengan cahaya.

Allah ﷻ berfirman,

﴿ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ ﴾

“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan.” (QS. Al-Maidah: 15)

Cahaya dalam ayat ini maksudnya adalah Rasulullah ﷺ ([12]). Allah ﷻ menamakan Nabi Muhammad ﷺ dengan cahaya karena Nabi Muhammad ﷺ memberikan penerangan. Dalam ayat yang lain Allah ﷻ berfirman,

﴿ وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا ﴾

“dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” (QS. Al-Ahzab: 46)

 

  • Allah ﷻ juga menamakan iman dalam hati mukmin dengan cahaya.

Allah ﷻ berfirman,

﴿ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ﴾

“Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar.”

  • Begitu juga Rasulullah ﷺ menamakan salat dengan cahaya.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

وَالصَّلَاةُ نُورٌ

“salat adalah cahaya.” ([13])

Sebagian ahli bidah dari kalangan Muktazilah dan Jahmiyah mengingkari dzat Allah ﷻ bercahaya. Mereka mengatakan jika dzat Allah ﷻ cahaya maka Allah ﷻ akan terlihat. Padahal  Imam Ahmad dalam kitabnya Ar-Radd ‘Ala Al-Jahmiyah Wa Az-Zanadiqah menyebutkan bahwa Allah ﷻ memiliki sifat cahaya([14]). Bahkan sebagian Asya’irah mutaqaddimin (yang terdahulu) seperti Kullabiyah mereka menetapkan sifat cahaya bagi Allah ﷻ. Berbeda dengan Asya’irah Mutaakkhirin yang menolak sifat cahaya Allah ﷻ. Mereka menakwil sifat cahaya Allah ﷻ dengan makna Allah ﷻ memberikan cahaya kepada langit dan bumi. Ada juga yang menakwil bahwa artinya adalah Allah ﷻ yang maha mengatur langit dan bumi. Padahal di antara doa Rasulullah ﷺ  adalah,

اللهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ قَيَّامُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ

“Ya Allah, bagi-Mu segala puji, Engkau adalah cahaya langit dan bumi. Bagi-Mu segala puji Engkau penegak langit dan bumi. Bagi-Mu lah segala puji, Engkaulah Rabb pengatur langit, bumi, dan apa yang ada padanya….” ([15])

Dalam doa ini Rasulullah ﷺ  membedakan antara makna cahaya dengan makna mengatur. Sehingga tidak bisa ditakwilkan cahaya kepada makna mengatur.

Sebab-Sebab  Meraih Cahaya Dari Allah

Terkadang Allah ﷻ berikan cahaya yang konkret kepada hamba-Nya di dunia. Sebagaimana disebutkan dalam suatu hadis tentang dua orang sahabat yaitu Usaid bin Khudair dan Abbad bin Bisyr yang keluar dari majelis Rasulullah ﷺ  di malam yang gelap gulita. Ternyata Allah ﷻ berikan mereka cahaya yang menemani mereka berdua. Ketika mereka harus berpisah jalannya maka cahaya tersebut terbelah menjadi dua([16]). Mereka benar-benar mendapatkan cahaya yang nyata dari Allah ﷻ.

Amalan apakah yang bisa membuat kita bisa meraih cahaya dari Allah ﷻ?

Pertama: bertakwa kepada Allah ﷻ

Allah ﷻ berfirman,

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ﴾

“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hadid: 28)

Ini adalah cahaya di dunia, ketika seseorang bertakwa kepada Allah ﷻ maka Allah ﷻ akan memberikan cahaya kepadanya sehingga ia berjalan di atas cahaya. Ia mendapatkan cahaya yang membimbingnya dalam menghadapi kehidupannya di dunia ini.

Kedua: membaca surah Al-Kahfi

إِنَّ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ

“Barang siapa yang membaca surat al-Kahfi pada Jumat, maka Allah akan menyinarinya dengan cahaya di antara dua Jumat.” ([17]

Maksudnya dengan membaca surah  Al-Kahfi maka seseorang akan dibimbing hingga pada hari Jumat berikutnya. Oleh karenanya seseorang hendaknya membaca surah Al-Kahfi pada hari Jumat atau malamnya agar dibimbing oleh Allah ﷻ.

Ketiga: menundukkan pandangan غَضُّ الْبَصَر

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan dalam kitabnya Majmu’ Al-Fatawa dan Ibnul Qayyim dalam kitabnya Al-Jawab Al-Kafi dan Raudhatul Muhibbin menyebutkan keutamaan dari menundukkan pandangan. Di antara keutamaan tersebut adalah Allah ﷻ memberi cahaya pada hati hamba yang menundukkan pandangan([18]). Hal ini dikarenakan ia telah meninggalkan sesuatu yang ia senangi karena Allah ﷻ. Sebagaimana kaidah,

مَنْ تَرَكَ لِلَّهِ شَيْئًا عَوَّضَهُ اللهُ خَيْرًا مِنْهُ

“Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik “

Berdasarkan sabda Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan lafal,

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ إِلَّا بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

“Sesungguhnya engkau tidaklah meninggalkan sesuatu pun karena Allah, melainkan Allah akan memberikan ganti kepadamu sesuatu yang lebih baik darinya.” ([19])

Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa orang yang menundukkan pandangan maka ia akan merasakan kelezatan ibadah hingga hari kiamat. Hal ini dikarenakan ketika dia meninggalkan sesuatu yang lezat yang haram karena Allah ﷻ maka Allah ﷻ akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih indah. Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim mengatakan bahwa sesuatu yang indah tersebut berupa cahaya keimanan pada hatinya dan kelezatan dalam ibadahnya. Bisa jadi seseorang tidak merasakan kelezatan dalam ibadahnya karena ia mengumbar  pandangannya.

Pada surah An-Nur ketika Allah ﷻ berfirman tentang cahaya,

﴿ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ﴾

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.”  (QS. An-Nur: 35)

Di mana sebelumnya Allah ﷻ menyebutkan tentang masalah menundukkan pandangan. Allah ﷻ berfirman,

﴿قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ . وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا﴾

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya.” (QS. An-Nur: 30-31)

Jadi perintah menundukkan pandangan berlaku untuk lelaki dan wanita disebutkan pada ayat ke 30 dan 31. Sedangkan perumpamaan cahaya keimanan disebutkan pada ayat ke 35. Ibnul Qayyim mengatakan bahwa cahaya keimanan berkaitan dengan perintah untuk menundukkan pandangan.

Perintah ini bukan hanya untuk lelaki saja, namun wanita juga diperintahkan untuk menundukkan pandangan. Jika seorang wanita terkagum ketika melihat seorang lelaki maka hendaknya ia menundukkan pandangannya. Pendapat yang kuat dalam masalah hukum asal wanita melihat lelaki adalah tidak haram. Namun, para ulama sepakat jika pandangan tersebut menimbulkan fitnah maka hukumnya berubah menjadi haram. Berbeda dengan pandangan lelaki kepada wanita yang hukum asalnya tidak boleh kecuali jika ada kebutuhan.

Oleh karenanya jika seseorang bisa menjaga pandangannya maka Allah ﷻ akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik yaitu berupa kuatnya firasat, kelezatan dalam beribadah, dan cahaya keimanan.

Di zaman sekarang banyak hal yang bisa membuat mendapatkan cahaya. Karena ketika setiap kali kita membuka telepon genggam maka sangat banyak yang memancing kita untuk melihat yang haram. Maka hendaknya kita segera untuk memalingkannya agar mendapatkan cahaya dari Allah ﷻ.

Keempat: perbanyak salat baik yang wajib dan yang sunah

Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

وَالصَّلَاةُ نُورٌ

“dan salat adalah cahaya.” ([20])

Para ulama berbeda pendapat tentang cahaya ini, apakah cahaya ini hanya di dunia atau untuk akhirat juga? Pendapat yang kuat bahwa cahaya ini umum mencakup cahaya di dunia, di alam barzakh, dan di padang mahsyar([21]). Rasulullah ﷺ  ditanya oleh seorang Yahudi,

أَيْنَ يَكُونُ النَّاسُ يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ؟

“Di manakah manusia berada pada hari bumi diganti dengan bumi yang lain dan begitu pula langit?”

Maka Rasulullah ﷺ  menjawab,

هُمْ فِي الظُّلْمَةِ دُونَ الْجِسْرِ

“Mereka berada di dalam kegelapan sebelum jembatan (sirath).” ([22])

Kelima: berjalan ke Masjid untuk salat berjamaah terutama salat isya dan subuh

Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

بَشِّرِ الْمَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ، بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berilah kabar gembira bagi orang yang berjalan pada malam gelap gulita menuju masjid (untuk salat berjamaah) bahwa bagi mereka cahaya yang sempurna pada hari kiamat nanti”.” ([23])

Maksudnya adalah salat isya dan salat subuh di mana mereka berjalan di kegelapan malam.

Keenam: tobat nasuhah

Allah ﷻ berfirman,

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ﴾

“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat nasuhah (tobat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.” (QS. At-Tahrim: 8)

Ketujuh: Berdoa meminta cahaya terutama ketika pergi ke masjid

اللهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا، وَفِي سَمْعِي نُورًا، وَفِي بَصَرِي نُورًا، وَعَنْ يَمِينِي نُورًا، وَعَنْ شِمَالِي نُورًا، وَأَمَامِي نُورًا، وَخَلْفِي نُورًا، وَفَوْقِي نُورًا، وَتَحْتِي نُورًا، وَاجْعَلْ لِي نُورًا»، أَوْ قَالَ: «وَاجْعَلْنِي نُورًا»

“Ya Allah, berilah cahaya dalam hatiku, cahaya dalam pendengaranku, cahaya dalam penglihatanku, cahaya dari sebelah kananku, cahaya dari sebelah kiriku, cahaya dari depanku, cahaya dari belakangku, cahaya dari atasku, cahaya dari bawahku, dan berilah untukku cahaya/jadikanlah aku cahaya.” ([24])

Ini di antara hal-hal yang mungkin bisa membuat kita meraih cahaya Allah ﷻ di dunia maupun di akhirat, di alam barzakh ataupun di padang mahsyar. Secara umum seluruh bentuk ketakwaan bisa membuat kita meraih cahaya.

Footnote:
_________

([1]) Lihat: Tafsir Ibnu Athiyah (4/138).

([2]) Lihat: Tafsir Ibnu Athiyah (4/185).

([3]) Lihat: Tafsir Ibnu Athiyah (4/138).

([4]) Lihat: Tafsir Ibnu Athiyah (4/138-139).

([5]) Lihat: TafsirAs-Sa’di (1/568).

([6]) HR. Muslim No. 179.

([7]) HR. Ath-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Kabir No. 8027.

([8]) HR. Muslim No. 178.

([9]) HR. Abu Dawud No. 3118. Dinyatakan sahih oleh Al-Albani.

([10]) Lihat: Tafsir Al-Baghawi (2/340).

([11]) Lihat: Tafsir Ibnu Katsir (4/136).

([12]) Lihat: Tafsir

([13]) HR. Muslim No. 223.

([14]) Ar-Radd ‘Ala Al-Jahmiyah Wa Az-Zanadiqah (1/171).

([15]) HR. Muslim No. 769.

([16]) HR. Bukhari No. 3805.

([17]) HR. Hakim No. 3392, dinyatakan hasan oleh Al-Albani. [lihat: Al-Misykat No. 2175 (1/667)].

([18]) Lihat: Majmu’ Al-Fatawa (15/397) dan Al-Jawab Al-Kafi (1/178).

([19]) HR. Ahmad no. 23074, hadis dengan sanad sahih.

([20]) HR. Muslim No. 223.

([21]) Lihat: Al-Minhaj/Syarh An-Nawawi ‘Ala Muslim (3/101).

([22]) HR. Muslim No. 315.

([23]) HR. Ibnu Majah No. 781, dinyatakan sahih oleh Al-Albani.

([24]) HR. Bukhari No. 6361 dan Muslim No. 763.