Bertobat Sebelum Terlambat

Bertobat Sebelum Terlambat

Oleh DR. Firanda Andirja, MA.

Taubat merupakan suatu ibadah yang sangat Agung. Taubat tidak hanya diperlukan oleh orang-orang yang tenggelam dalam kemaksiatan. Bahkan setiap dari kita membutuhkan pertobatan kepada Allah ﷻ. Jangankan kita, manusia terbaik Rasulullah ﷺ yang telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang Beliau bersabda,

وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Demi Allah Sesungguhnya aku beristigfar dan bertobat kepada Allah setiap hari lebih daripada 70 kali”([1])

Bahkan dalam sebagian riwayat sahabat pernah menghitung Nabi ﷺ dalam sekali majelis beliau beristigfar 100 kali, beliau ﷺ membaca,

رَبِّ اغْفِرْ لِى وَتُبْ عَلَىَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Ya Robbi ampunilah aku dan aku bertobat kepada engkau Sesungguhnya engkau adalah Maha Penerima Taubat dan maha pengasih lagi maha penyayang”.([2])

Jika Nabi ﷺ yang luar biasa imannya, yang surga tidak akan terbuka kecuali beliau yang mengetuknya sangat berantusias dan semangat dalam melakukan pertobatan kepada Allah ﷻ, maka bagaimana dengan kita”?

Allah menakdirkan manusia memiliki sifat untuk berdosa, sifat tersebut adalah sifat bawaan. Bagaimanapun dia berusaha untuk bertakwa kepada Allah suatu saat hatinya pasti akan menyimpang. Nabi ﷺ bersabda,

استَقِيمُوا وَلَن تُحصُوا

“Istiqomahlah kalian dan kalian tidak akan mampu”([3]) 

Nabi  ﷺ pernah berkata kepada salah seorang sahabat beliau,

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah dimana pun kau berada kemudian jika kau melakukan amalan keburukan maka sertakanlah dengan amalan kebaikan”([4])

Bagaimanapun seseorang berusaha untuk bertakwa semaksimal mungkin, pasti suatu saat dia akan bersalah. Pasti ada suatu saat dia akan menyimpang dan saat itu dia harus kembali kepada Allah ﷻ. Sifat berdosa adalah sifat yang menyertai seorang manusia dalam hadis Nabi ﷺ  menyebutkan,

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Seluruh anak Adam khatta’ (sering berdosa) dan sebaik-baik hamba yang sering berdosa adalah yang sering bertobat kepada Allah ”.  ([5])

Dalam Hadits Qudsi Allah ﷻ berfirman,

يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخطِئُونَ بِاللَّيلِ والنَّهَارِ، وَأَنَا أَغفِرُ الذُّنُوبَ جميعًا، فَاستَغفِرُونِي أَغفِرْ لَكُم

“Wahai hamba-hambaku kalian senantiasa berbuat dosa siang dan malam”([6]) 

Dosa adalah sifat manusiawi yang celaka adalah apabila seseorang berdosa kemudian tidak bertobat kepada Allah ﷻ. Padahal dengan bertobat dan kembali kepada Allah ﷻ maka ia akan menjadi mulia disisi-Nya.

Rasulullah ﷺ  juga pernah bersabda,

الَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

“Jikalau kalian tidak berdosa niscaya Allah akan memusnahkan kalian semua  lantas Allah akan datangkan manusia-manusia yang baru yang mereka berdosa kemudian mereka bertobat kepada Allah dan Allah ampuni dosa-dosa mereka”([7]) 

Bertobat merupakan ibadah yang dicintai oleh Allah ﷻ sehingga Allah menakdirkan sebagian hamba-hambanya terjerumus dalam kesalahan supaya mereka bertobat kepada Allah  .ﷻSeorang hamba ketika bertobat kepada Allah dia akan tahu tentang mulianya sifat-sifat Allah ﷻ. Akan tampak  padanya rahasia sifat-sifat dan nama-nama Allah yang terindah (Asmaul Husna).

Seorang hamba mungkin bersalah kepada ibunya atau bersalah kepada kedua orang tuanya kemudian dia minta maaf namun orang tuanya tidak memaafkannya, akan tetapi jikalau seseorang bersalah kepada Rabb-nya kemudian meminta maaf kepada-Nya Sebesar apapun dan sebanyak apapun dosanya maka Allah akan ampuni kesalahannya. Ini merupakan bukti bahwasanya Allah lebih sayang kepada hamba-Nya daripada orang tua terhadap anaknya. Nabi ﷺ bersabda,

للهُ أَرحَمُ بِعِبَادِهِ مِن هَذِهِ بِوَلَدِهَا

“Allah lebih sayang kepada hamba-Nya daripada seorang ibu ini terhadap anaknya”([8]) 

Beliau bersabda demikian ketika melihat seorang ibu yang sedang mencari-cari bayinya di antara rombongan tawanan perang. Ketika si ibu berhasil menemukan bayinya di antara tawanan itu, maka ia pun segera memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan menyusuinya. Melihat hal itu, Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat, “Apakah menurut kalian ibu ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?” Para sahabat pun menjawab bahwa tidak mungkin si ibu akan melakukan hal tersebut. Maka Rasulullah ﷺ  menjelaskan bahwa Allah ﷻ jauh lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.

Keutamaan bertobat dan beristigfar

Bertobat dan beristigfar memiliki beberapa keutamaan, di antaranya :

Pertama :  Orang yang sering bertobat adalah orang yang dicintai oleh Allah .  

Al Imam Ibnu Qayyim rahimahullah pernah berkata,

فَلَيْسَ الشَّأْنُ فِي أَنْ تُحِبَّ اللَّهَ، بَلِ الشَّأْنُ فِي أَنْ يُحِبَّكَ اللَّهُ

“Bukanlah perkara nya engkau mencintai tetapi yang lebih penting Apakah kau dicintai oleh Allah ”.([9])

Kita mungkin cinta kepada Allah tapi apakah cinta kita ternyata dibalas oleh Allah ataukah Cinta Kita hanya bertepuk sebelah tangan? Kalau kita ingin dicintai oleh Allah hendaknya memperbanyak bertobat kepada Allah .ﷻ Allah ﷻ berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ

“Sesungguhnya Allah mencintai hamba hamba-Nya yang bertobat” (QS. Al-Baqarah: 222)

Oleh karenanya hamba-hamba Allah yang sangat beruntung di hari kiamat kelak adalah yang paling banyak beristigfar kata Nabi ﷺ ,

طُوْبَى ِلمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيْفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيْرًا

 “Sungguh beruntung seorang hamba yang dia mendapati dalam catatan amalnya Istigfar yang banyak”([10])

Kedua : Bertobat merupakan salah satu sebab untuk masuk surga.

Ini adalah keutamaan yang seharusnya kita renungkan. Betapa Mulianya dan betapa baiknya Rabb Kita ﷻ. Seharusnya seorang kalau bermaksiat kemudian dia bertobat kepada Allah ﷻ dihitung impas. Sebagaimana orang yang bersalah kepada orang lain dia akan meminta maaf dan urusannya pun selesai namun Allah ﷻ tidaklah demikian, Allah ﷻ hapuskan dosa dosanya bahkan Allah ﷻ beri bonus-bonus yang menjadikannya masuk surga dan ini tidaklah terjadi pada makhluk.

Apakah ada seorang manusia ketika kita bersalah kemudian kita datang ke rumahnya kita katakan, “Ya akhi saya punya salah dan saya ingin meminta maaf”, kemudian saudaranya berkata kepadanya, “Saya maafkan engkau dan ini mobil sebagai hadiah buat kamu karena sudah meminta maaf”. Jawaban seperti itu rasanya hampir tidak mungkin, tapi kalau kita berbuat salah kemudian bertobat kepada Allah  ﷻ maka Allah ﷻ akan ampuni dosa-dosa kita dan Allah akan berikan kita bonus untuk masuk surga-Nya.

Allah  ﷻberfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ يَوْمَ لا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat nasuhaa (tobat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS At-Tahriim : 8)

Bayangkan betapa baiknya Rabb kita! betapa Mulianya Rabb kita! Seorang   membangkang kepada Tuhannya melanggar larangan-larangan-Nya kemudian dia kembali kepada Allah dan Allah pun ampuni dosa dosanya bahkan Allah berikan bonus masuk ke dalam surga-Nya.

Ketiga : Orang yang bertobat didoakan oleh malaikat

Allah ﷻ berfirman,

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ

“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala,”

رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدتَّهُمْ وَمَن صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS Ghoofir : 7-8)

Lihatlah yang mendoakan mereka bukan manusia, akan tetapi para malaikat bahkan malaikat-malaikat spesial yaitu malaikat-malaikat yang memikul Arsy Allah ﷻ. Mereka menyempatkan diri untuk mendoakan orang-orang yang bertobat kepada Allah ﷻ. sungguh semua ini menunjukkan bahwasanya tobat adalah ibadah yang agung, ibadah yang sangat mulia, ibadah yang sangat dicintai oleh Allah ﷻ.

Ketiga: Orang yang bertobat ditambahkan rezekinya oleh Allah .

Allah berfirman tentang perkataan Nabi Nuuh ‘alaihissalam kepada kaumnya,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا

“Aku (Nuuh) katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai” (QS Nuuh : 10-12)

Demikian juga perkataan Nabi Huud ‘alaihissalam kepada kaumnya,

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

“Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS Huud : 52)

Keempat: Orang yang bertobat dari kemaksiatan yang dia lakukan maka keburukan-keburukannya akan diubah oleh Allah menjadi kebaikan dan dapat memperberat timbangan kebaikannya pada hari kiamat kelak.

Allah berfirman ﷻ,

إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Al-Furqan: 70)

Nabi ﷺ bersabda,

إِنِّي لَأَعْلَمُ آخِرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ دُخُولًا الْجَنَّةَ، وَآخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجًا مِنْهَا، رَجُلٌ يُؤْتَى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُقَالُ: اعْرِضُوا عَلَيْهِ صِغَارَ ذُنُوبِهِ، وَارْفَعُوا عَنْهُ كِبَارَهَا، فَتُعْرَضُ عَلَيْهِ صِغَارُ ذُنُوبِهِ، فَيُقَالُ: عَمِلْتَ يَوْمَ كَذَا وَكَذَا كَذَا وَكَذَا، وَعَمِلْتَ يَوْمَ كَذَا وَكَذَا كَذَا وَكَذَا، فَيَقُولُ: نَعَمْ، لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُنْكِرَ وَهُوَ مُشْفِقٌ مِنْ كِبَارِ ذُنُوبِهِ أَنْ تُعْرَضَ عَلَيْهِ، فَيُقَالُ لَهُ: فَإِنَّ لَكَ مَكَانَ كُلِّ سَيِّئَةٍ حَسَنَةً، فَيَقُولُ: رَبِّ، قَدْ عَمِلْتُ أَشْيَاءَ لَا أَرَاهَا هَا هُنَا

“Sesungguhnya aku mengetahui penduduk surga yang paling terakhir masuk surga dan penduduk neraka yang paling terakhir keluar dari neraka. Seorang lelaki yang dihadirkan pada hari kiamat, maka dikatakan, “Paparkanlah kepadanya dosa-dosa kecilnya dan angkatlah (sembunyikanlah dulu) dosa-dosa besarnya!”. Maka dipaparkanlah kepadanya dosa-dosa kecilnya, maka dikatakan, “Engkau telah melakukan pada hari itu demikian dan demikian, dan pada hari itu demikian dan demikian”. Maka ia berkata, “Benar”, ia tidak mampu mengelak, sementara ia khawatir jika dibentangkan kepadanya dosa-dosa besarnya. Maka dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya bagi engkau setiap keburukan yang kau lakukan digantikan posisinya dengan kebaikan”. Maka ia berkata, “Wahai Robku, sungguh aku telah melakukan dosa-dosa yang lain (yaitu dosa-dosa besar-pen) akan tetapi saya tidak melihatnya dipaparkan kepadaku di sini”.([11]) Nabi ﷺ tertawa hingga tampak gigi beliau tatkala meriwayatkan hadis ini([12]).

3 Sebab kenapa seseorang harus bertobat kepada Allah

            Tobat tidak hanya diperuntukkan bagi para pendosa saja. Terdapat beberapa sebab kenapa kita harus terus bertobat kepada Allah ﷻ hal ini sebagaimana  diisyaratkan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Madarij as-Salikin, di antaranya :

  1. Perbuatan Dosa

Tidak ada di antara kita yang terlepas dari dosa-dosa. Di antara contoh dosa yang tersebar dan kita semua melakukannya yang selalu diremehkan dan dianggap biasa adalah dosa mengumbar pandangan. Allah ﷻ berfirman,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

”Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, ’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (QS. An-Nur: 30).

Kemudian di akhir ayat ke-31 Allah menutupnya dengan perintah untuk senantiasa bertobat kepada-Nya. Allah ﷻ berfirman,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. (QS. An-Nur: 31)

Syekh Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa ayat ini merupakan dalil wajibnya seseorang bertobat kepada Allah ﷻ dari dosa mengumbar pandangan([13]). Siapakah di antara kita yang selamat dari dosa ini? Terlebih di era di mana akses internet mudah untuk didapatkan. Seseorang berniat untuk menonton ceramah di youtube misalnya, namun tiba-tiba muncul iklan yang mengumbar aurat dan lain sebagainya. Jika dahulu orang mengatakan bahwa jika ingin selamat dari dosa-dosa sebaiknya jangan keluar rumah. Hal ini bisa jadi lebih berbahaya jika diterapkan di zaman ini. Seseorang yang bersendirian di rumahnya dapat melihat apapun yang dia mau karena kemudahan akses internet.

Ini baru dosa yang terkait dengan mata saja. Bagaimana dengan dosa yang disebabkan oleh lisan kita? seperti ; ghibah, adu domba, menyebarkan hoaks dll.

bagaimana juga dengan dosa yang disebabkan oleh telinga kita? seperti mendengar hal-hal yang diharamkan secara syariat. Bagaimana dengan dosa-dosa yang disebabkan oleh hati, tangan dst? dari satu poin ini saja kita sudah tahu betapa urgennya seseorang dalam bertobat kepada Allah ﷻ.

  1. Tidak sebandingnya rasa syukur seorang hamba terhadap nikmat-nikmat Allah

Allah ﷻ berfirman,

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34)

Allah menutup ayat ini dengan menyebutkan bahwa manusia itu zalim dan selalu mengingkari nikmat Allah ﷻ. Allah berikan kepadanya kenikmatan justru ia gunakan kenikmatan tersebut untuk bermaksiat kepada-Nya. Allah menyebutkan juga bahwa yang diingat oleh manusia hanyalah musibah-musibah yang ia timpa, adapun nikmat Rabb-Nya selalu saja dilupakan. Allah ﷻ berfirman,

إِنَّ الإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودُ

“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya” (QS. Al-Adiyat: 5)

Hasan Al-Bashri ketika mengomentari ayat ini beliau mengatakan bahwa makna الكَنُودُ adalah يَذكُرُ المُصَائِبَ وَيَنسَى النِّعَمَ yaitu senantiasa mengingat-ingat musibah yang menimpanya dan melupakan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada-Nya([14]).

Oleh karenanya kita disyariatkan untuk salat dhuha yang dengannya kita bersedekah atas  360 sendi yang kita miliki. Bayangkan ketika seseorang bangun dari tidurnya kemudian ia dapati ada satu sendinya yang tidak berfungsi maka ia akan merasakan kesulitan yang luar biasa. Terkadang kita tidak menyadari bahwa berfungsinya organ tubuh kita merupakan kenikmatan yang Allah berikan kepada kita, kita sering menyangka bahwa itu semua merupakan tugas Allah ﷻ  kepada para hamba-Nya.

Sama halnya ketika kita disyariatkan untuk membaca غُفرَانَكَ setiap selesai membuang hajat yang artinya “Aku meminta ampunan-Mu”, sebagian ulama menjelaskan bahwa disyariatkannya kita membaca doa ini karena tidak mampunya kita untuk bersyukur kepada Allah dengan yang semestinya, ketika kita telah mampu mengeluarkan kotoran-kotoran dari tubuh kita. Dari sisi inilah kita wajib bertobat kepada Allah ﷻ.

  1. Ketidakmampuan seseorang dalam beribadah kepada Allah dengan semestinya

Hal inilah yang menjadi salah satu sebab kenapa kita disyariatkan oleh Allah ﷻ untuk beristigfar setiap kali selesai menunaikan salat. Kita sering kali tidak khusyuk ketika mengerjakan salat. Padahal Allah ﷻ berfirman,

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS.Thaha: 14)

Namun acapkali kita mengingat hal-hal yang sifatnya duniawi dan bahkan hal-hal yang tidak penting sama sekali dalam salat kita.

Hal yang lebih menakjubkan dalam poin ini bahwa Nabi ﷺ sekitar 23 tahun beliau berdakwah di jalan Allah ﷻ. Seluruh kegiatan beliau dikerjakan karena Allah ﷻ. Tidaklah beliau berdiri, duduk, berucap dan diam kecuali karena Allah ﷻ. Banyaknya peperangan yang beliau ikuti dan musibah yang beliau alami semuanya itu beliau lakukan karena Allah ﷻ. Ternyata di akhir hayatnya, beliau masih saja diperintahkan oleh Allah untuk beristigfar kepada Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ . وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا . فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.” (QS. An-Nasr: 1-3)

Dari sisi inilah kita wajib bertobat kepada Allah ﷻ. Hal ini juga semakin menguatkan bahwa bertobat tidak hanya ditujukan bagi para pelaku maksiat.

Kisah-kisah pertobatan para pendosa

            Di antara nama-nama Allah adalah Al-Ghaffar, Al-Ghafur dan Al-Ghafir. Nama-nama ini menunjukkan bahwa Allah adalah Dzat yang Maha mengampuni segala dosa. Sebanyak apa pun dosa yang dilakukan oleh seorang hamba maka sesungguhnya ampunan Allah jauh lebih besar.

Berikut merupakan kisah yang menunjukkan betapa Maha pengampunnya Rabb kita Allah ﷻ;

  1. Kisah Ashabul Ukhdud

Disebutkan dalam kisah ashabul ukhdud bahwa raja yang saat itu murka ia berencana untuk membakar orang-orang yang beriman. Ribuan orang dibakar hanya karena mereka beriman kepada Allah ﷻ. Sedangkan sang raja bersama kawanannya duduk dan menyaksikan pembakaran tersebut. Allah ﷻ sebutkan dalam fiman-Nya.

قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ * النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ * إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ * وَهُمْ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

“Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” (QS. Al-Buruj: 4-8)

 

Perbuatan sang raja tersebut merupakan perbuatan yang sangat zalim. Akan tetapi jika kita cermati ternyata orang tersebut masih memiliki kesempatan untuk bertobat kepada Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُوا۟ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا۟ فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ ٱلْحَرِيقِ

“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” (QS. Al-Buruj: 10)

Di sini Allah memberikan syarat jika mereka tidak bertobat maka Allah akan bakar mereka di neraka Jahannam. Hal ini menunjukkan bahwa pelakunya masih memiliki kesempatan untuk tidak diazab oleh Allah ﷻ apabila bertobat kepada-Nya. Oleh karenanya Hasan Al-Bashri rahimahullah ketika membaca ayat ini beliau berkata,

انْظُرُوا إِلَى هَذَا الْكَرَمِ وَالْجُودِ، قَتَلُوا أَوْلِيَاءَهُ وَهُوَ يَدْعُوهُمْ إِلَى التَّوْبَةِ والرحمة

“lihatlah kepada kemuliaan dan kedermawanan Allah, mereka telah membunuh wali-wali Allah, sementara Allah tetap menyeru kepada mereka untuk bertobat kepada-Nya” ([15])

  1. Kisah Firaun dan para penyihirnya

Kita tahu bahwa Firaun telah melakukan pembangkangan kepada Allah ﷻ dengan sikapnya dan pernyataannya yang telah mengklaim bahwa dia adalah Rabb yang paling tinggi. Akan tetapi sikapnya yang demikian itu tidak lantas menjadikan Allah ﷻ murka kepadanya. Allah utus Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimassalam untuk mendakwahinya dengan lemah lembut agar Firaun bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Seandainya saja Firaun bertobat maka tentu saja Allah akan mengampuninya, namun ternyata dia memilih untuk tetap membangkang perintah-perintah Allah ﷻ.

Lain halnya dengan para penyihir Firaun yang berpuluh-puluh tahun bekerja dan mencari nafkah dengan cara yang diharamkan bahkan merupakan salah satu dosa kesyirikan. Mereka juga melawan utusan Allah ﷻ yaitu Nabi Musa dan Harun ‘alaihimassalam. Akan tetapi mereka sadar ketika sihir mereka dikalahkan oleh mukjizat Nabi Musa ‘alaihissalam dan seketika itu pula mereka langsung bertobat kepada Allah ﷻ. Mengetahui hal itu Firaun pun membunuh mereka. Keimanan mereka baru sebentar jika dibandingkan dengan kehidupan mereka yang selama ini penuh dengan kesyirikan, namun Allah ﷻ menerima tobat mereka dan memasukkan mereka ke dalam surga-Nya.

  1. Kisah tobatnya pembunuh 100 nyawa

Dahulu ada seseorang yang pernah membunuh 99 jiwa. Lalu ia bertanya tentang keberadaan orang-orang yang paling alim di muka bumi. Namun ia ditunjuki pada seorang rahib. Lantas ia pun mendatanginya dan berkata, ”Jika seseorang telah membunuh 99 jiwa, apakah tobatnya diterima?” Rahib pun menjawabnya, ”Orang seperti itu tidak diterima tobatnya.” Lalu orang tersebut membunuh rahib itu dan genaplah 100 jiwa yang telah ia renggut nyawanya.

Kemudian ia kembali lagi bertanya tentang keberadaan orang yang paling alim di muka bumi. Ia pun ditunjuki kepada seorang ‘alim. Lantas ia bertanya pada ‘alim tersebut, ”Jika seseorang telah membunuh 100 jiwa, apakah tobatnya masih diterima?” Orang alim itu pun menjawab, ”Ya masih diterima, siapakah yang akan menghalangi antara dirinya dengan tobat? Beranjaklah dari tempat ini dan ke tempat yang jauh di sana karena di sana terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allahﷻ, maka sembahlah Allah bersama mereka. Ia pun segera bergegas menuju tempat tersebut, namun di tengah perjalanan orang tersebut meninggal. Ia belum sempat bersujud kepada Allah dan beribadah kepada-Nya akan tetapi Allah menerima tobatnya dan memasukkannya ke dalam surga.([16])

  1. Kisah ahli ibadah dan tukang maksiat

Alkisah, ada dua orang bersaudara dari kalangan Bani Israil. Salah seorang dai keduanya sering berbuat dosa, sementara yang lain sebaliknya, sangat tekun beribadah. Saudaranya yang tekun beribadah rupanya tak henti-hentinya menyaksikan saudaranya itu melakukan dosa hingga mulutnya tak betah untuk tidak menegur.

“Berhentilah!” tegurnya kepada saudaranya yang ahli maksiat. Akan tetapi teguran tersebut seolah hanya masuk melalui telinga kanan dan keluar lagi lewat telinga kiri. Perbuatan dosa berlanjut dan sekali lagi tak luput dari mata saudaranya yang rajin beribadah. “Berhentilah!” Sergahnya kembali. Si pendosa lantas berucap, “Tinggalkan aku bersama Tuhanku. Apakah kau diutus untuk mengawasiku?” Saudara yang ahli ibadah pun menimpali, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu. Allah tidak akan memasukkanmu ke surga.”

Tatkala keduanya meninggal dunia, keduanya pun dikumpulkan di hadapan Allah ﷻ. Kepada yang sungguh-sungguh beribadah, Allah mengatakan, “Apakah kau telah mengetahui tentang-Ku? Apakah kau sudah memiliki kemampuan atas apa yang ada dalam genggaman-Ku?”

“Pergi dan masuklah ke surga dengan rahmat-Ku,” kata Allah kepada si pendosa. Sementara kepada ahli ibadah, Allah mengatakan, “(Wahai malaikat) giringlah ia menuju neraka.”([17])

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, “Orang tersebut telah berkata dengan perkataan yang menghancurkan kehidupan dunia dan akhiratnya”.([18])

  1. Kisah pertobatan Hajaj bin Yusuf di akhir hayatnya

Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi beliau hidup di zaman para sahabat. Dikenal sebagai seorang pembunuh yang kejam suka menumpahkan darah, ribuan orang telah ia bunuh. Bahkan sahabat Said bin Zubair radhiyallahu ‘anhu meninggal karena dibunuh olehnya. Akan tetapi di akhir hayatnya ketika menjelang sakaratul maut dia berdoa, “Ya Allah ampunilah aku karena mereka menyangka engkau tidak akan mengampuni aku” ([19])

Di antara pelajaran yang dapat dipetik dari kisah ini bahwasanya , seseorang ketika telah terjatuh ke lubang kemaksiatan sesegera mungkin untuk kembali kepada Allah ﷻ dan memenuhi hatinya dengan prasangka yang baik bahwa Allah ﷻ akan menerima tobatnya. Sungguh tidak ada yang dapat menghalangi dirinya dari ampunan Allah ﷻ jika ia jujur dalam pertobatannya.

Footnote:
_______

([1]) HR.  Bukhari no. 6307

([2]) HR.  Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad No. 621 dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Sahih al-Jami’ No. 3005

([3]) HR. . Ibnu Hibban No. 226 dan dinyatakan Sahih oleh Al-Albani dalam Sahih Ibnu Hibban

([4]) HR.  Tirmidzi no. 1987 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Sahih al-Jami’ No. 97

([5]) HR.  Tirmidzi No. 2499 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani Sahih at-Targhib No. 3139

([6]) HR.  Muslim no. 2577

([7]) HR.  Muslim 2749

([8]) HR.  Bukhari No. 5999 dan Muslim No. 2754

([9]) Lihat: Madarij as-Salikin (3/39)

([10]) HR Ibnu Maajah no 3818, dan dishahihkan oleh syaikh Al-Albani rahimahullah

([11]) HR. Muslim no. 190

([12]) Sahih Muslim (1/177)

([13]) Lihat: Syarah Riyadhu as-Shalihin karya Ibnu Utsaimin (1/96)

([14]) Lihat : Tafsir Al-Qurthubi (20/160)

([15]) Lihat: Tafsir Ibnu Katsir (2/535)

([16]) HR.  Bukhari No. 3470 dan Muslim No. 2766

([17]) HR.  Muslim No. 2621

([18]) HR.  Abu Dawud No. 4901 dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani  No. 4901

([19]) Lihat: Tarikh al-Islam karya Ad-Dzahabi 6/325.