Bersabarlah

Bersabarlah

Para hadirin dan hadirat yang semoga dirahmati oleh Allah ﷻ, Imam Al-Bukhori meriwayatkan dalam shahihnya dari Atho’ bin Abi Rabah r beliau berkata,

قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ: أَلاَ أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ؟ قُلْتُ: بَلَى، قَالَ: هَذِهِ المَرْأَةُ السَّوْدَاءُ، أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: إِنِّي أُصْرَعُ، وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللَّهَ لِي، قَالَ: «إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ» فَقَالَتْ: أَصْبِرُ، فَقَالَتْ: إِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللَّهَ لِي أَنْ لاَ أَتَكَشَّفَ، فَدَعَا لَهَا

“Ibnu Abbas berkata kepadaku maukah aku tunjukkan kepadamu seorang wanita ahli surga, maka aku berkata tentu saja, dia berkata inilah wanita berkulit hitam yang datang kepada nabi kemudian dia berkata “sesungguhnya saya mengalami epilepsi, dan apabila kambuh penyakit saya sebagian aurat saya tersingkap, maka doakanlah saya wahai rasulullah”. Maka rasulullah berkata “ kalau engkau ingin bersabar maka bagimu surga, dan kalau engkau ingin aku berdoa kepada Allah maka engkau akan disembuhkan”. Maka wanita itu berkata “ Aku bersabar, tetapi berdoalah kepada Allah agar auratku tidak tersingkap” maka Nabipun mendoakannya.” ([1])

Ini adalah contoh wanita yang masuk surga karena kesabarannya, dia memilih untuk bersabar dari pada kesembuhannya terhadap penyakit, karena dibalik kesabaran tersebut Nabi menjanjikan surga. Lihatlah bagaimana wanita ini berkulit hitam, bukan wanita yang cantik jelita, tidak menawan penampilannya, tidak mewah tasnya atau sepatunya ataupun mobilnya, tetapi seorang wanitaa hitam yang mungkin jika orang memandang tidak tertarik padanya. Tetapi ternyata dia penghuni surga, karena dia seorang wanita yang sabar, dia tidak ingin auratnya sedikitpun terlihat maka dia meminta kepada Nabi agar berdoa kepada Allah untuk menutupi auratnya ketika dia sedang kambuh.

Ini adalah dalil yang paling besar bahwasaannya kesabaran mendatangkan surga, dan sangat banyak dalil dari Al-Quran yng menunjukkan bahwa sebab masuk surga adalah sabar. Diantaranya adalah firman Allah tatkala Allah bercerita tentang Ibadurrahman yang Allah puji di akhir surat Al-Furqan,

أُولَٰئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَامًا

“Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya.” (QS. Al-Furqan: 75)

Mereka diberi balasan oleh Allah dengan surga karena kesabaran mereka, sabar dalam menghadapi gangguan, sabar tatkala diuji, dan sabar dalam menjalani ketaatan. Demikian juga Allah sebutkan dalam surat Ar Ra’d tentang orang-orang yang masuk surga karena kesabaran Allah berfirman,

وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

“Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. (sambil mengucapkan): “Keselamatan bagi kalian atas kesabaran kalian”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 21-24)

Ini adalah dalil tentang penghuni surga yang masuk surga dengan kesabaran. oleh karenanya apabila kita berbicara tentang sabar, terlalu banyak ayat dalam Al-Quran bebicara tentang sabar. Imam Ahmad berkata “bahwasannya sabar dalam Al-Quran disebutkan lebih banyak dari 90 kali”. Di antaranya disebutkan sebagai pujian untuk sifat sabar, perintah untuk bersabar atau pujian bagi orang yang bersabar, tentang surga bagi mereka. Sembilan puluh kali lebih disebutkan tentang sabar. Apabila sabar disebutkan sekali saja dalam Al-Quran sudah sangat agung kededukannya, maka apalagi sembilan puluh kali.

Karenanya hadirin yang dimuliakan oleh Allah ﷻ, kali ini kita sedang membahas suatu ibadah yang sangat mulia yaitu ibadah sabar. Pembahasan ini perlu untuk kita ulang ulang, karena kita menyadari kondisi kita untuk hidup di atas muka bumi ini penuh dengan ujian. Bahkan kita diciptakan diatas dunia ini memang untuk diuji oleh Allah ﷻ, kita harus menyaadari tentang hal tersebut, dan kita perlu untuk mengingatkan diri kita tentang sabar yang merupakan ibadah yang sangat agung.

Allah ﷻ menciptakan alam semesta dan menciptakan mausia di dalamnya adalah untuk menguji manusia di dalam alam semesta. Dalil tentang hal ini sangatlah banyak, diantaranya Allah ﷻ berfirman,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Jadi Allah ﷻ menciptakan kehidupan, kematian dan menciptakan antum untuk menguji manusia. Allah ﷻ menciptakan alam semesta untuk menguji manusia Dia berfirman,

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Hud: 7)

Allah ﷻ menghiasi muka bumi ini juga untuk menguji manusia, Allah ﷻ berfirman,

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (QS. Al-Kahfi: 7)

Maka kita harus sadar bahwasannya selama hidup dimuka bumi ini kita sedang diuji oleh Allah ﷻ.

Allah ﷻ berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35)

Ini adalah peringatan dari Allah ﷻ. Selama anda masih hidup maka anda pasti akan diuji, entah diuji dengan keburukan atau diuji dengan kemewahan, kemiskinan, kesusahan, harta, kesehatan, kepintaran dan yang lainnya, namun Allah ﷻ peringatkan diakhir ayat “dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” untuk dimintai pertanggungjawaban. Jadi intinya selama kita diatas muka bumi ini kita pasti akan diuji.

Lihatlah kenyataan manusia yang ada, semua orang pasti diuji, siapaun strata ekonominya, apapun jabatannya semuanya pasti diuji oleh Allah ﷻ. Sebagian orang diuji dengan suaminya, sebagian yang lain diuji dengan orangtuanya, ada juga yang diuji dengan mertuanya seperti itulah kehidupan. Ada seorang wanita yang diuji dengan kesendirian, tidak ada yang melamarnya, wanita yang lain diuji dengan pernikahan, sudah menikah lama tidak kunjung juga diberi anak. Jangan disangka bahwa tidak ada orang yang diuji. Apalagi jika kita beriman kepada Allah ﷻ lebih lagi dijanjikan akan diuji oleh Allah ﷻ,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut: 2-3)

Allah ﷻ juga berfirman

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” (QS. Al-Baqarah: 214)

Inilah tabiat kehidupan, sesungguhnya tidak ada orang yang tidak diujidalam kehidupan ini. Allah menekankan

لَآ أُقْسِمُ بِهٰذَا الْبَلَدِ {} وَأَنْتَ حِلٌّۢ بِهٰذَا الْبَلَدِ {} وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ {} لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسٰنَ فِى كَبَدٍ

“Aku bersumpah dengan negeri ini (Mekah), dan engkau (Muhammad), bertempat di negeri (Mekah) ini, dan demi (pertalian) bapak dan anaknya. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 1-4)

Manusia diciptakan dalam kesusah payahan, tidak ada yang selalu senang, karena Allah sudah bersumpah “Kami telah ciptakan manusia berada dalam susah payah”. Dalam perut ibunya manusia membuat ibu dan bapaknya dalam keadaan susah. Begitupun ketika lahir, dia lahir dengan tangisan kepayahan dan seterusnya sampai dia mati. Sesudah mati pun akan ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir, mengalami kehidupan di alam barzah, lalu dibangkitkan juga dalam keadaan kepayahan, demikianlah manusia.

Semua dalil yang telah disebutkan menunjukkan bahwa kita harus siap diuji dan apabila kita sanggup melewati ujian tersebut dengan suatu ibadah yang bernama sabar, maka kita akan mendapat surga yang sangat tinggi.

Apa itu sabar?

Sabar dalam Bahasa arab artinya “al habsu” (اَلْحَبْسُ) yang artinya adalah menahan. Artinya orang yang sabar menahan lisannya, menahan hatinya dan menahan anggota tubuhnya. Dia menahan hatinya jangan sampai bersu’udhon kepada Allah ﷻ menahan untuk tidak protes dengan keputusan Allah maka dia ridho dengan ketetapan Allah, dia tahu ini semua datangnya dari Allah. Kemudian dia bersabar dengan lisannya, jangan sampai dia mengucapkan kata-kata yang menunjukkan protes dengan takdir Allah ﷻ. Kemudian dia menahan anggota tubuhnya, jangan sampai dia melakukan hal hal yang menunjukkan protes dengan keputusan Allah ﷻ. Nabi ﷺ bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الخُدُودَ، وَشَقَّ الجُيُوبَ

“Bukan dari golongan kami, orang yang apabila tertimpa musibah lalu dia menampar pipinya, merobek-robek bajunya.” ([2])

Hadits diatas menunjukan sifat orang yang tidak bersabar. Maka orang yang ingin melaksanakan sabar dia harus menahan hatinya, llisannya dan anggota tubuhnya. Ini memang ibadah yang tidak mudah. Oleh karena itu orang yang bisa mencapai derajat sabar, dia telah mendapat karunia yang besar, sabda Nabi ﷺ,

وَمَا أَعْطَى اللَّهُ أَحَدًا مِنْ عَطَاءٍ أَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

“Tidaklah seorang diberi suatu anugrah yang lebih baik dan lebih luas daripada sabar.” ([3])

Siapa yang memiliki sifat sabar, dia tenang dalam menghadapi masalah, bisa menahan hatinya, bisa menahan lisannya, dan bisa menahan anggota tubuhnya, maka telah diberi anugrah yang sangat luar biasa, karena ganjaran yang sangat besar. Allah berfirman

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Qs. Az-Zumar: 10)

Kebanyakan orang apabila berbicara tentang sabar, mereka menyangka bahwasannya sabar hanyalah sabar tatkala tertimpa musibah. Padahal sabar itu ada tiga, yang pertama sabar dalam ketaatan, yang kedua sabar dalam menghindari maksiat, dan yang ketiga sabar tatkala mendapat musibah. Ini adalah tiga jenis kesabaran yang disebutkan oleh para ulama’. Tiga hal ini membutuhkan kesabaran.

Para ulama’ berbeda pendapat, manakah sabar yang paling baik diantara jenis sabar tesebut. Ada yang mengatakan sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam menghidari maksiat lebih baik daripada sabar dalam mendapat musibah karena itu adanya keterpaksaan dan tidak ada pilihan lain untuk menjalaninya. Adapun sabar dalam ketaatan dan menghindari maksiat maka seseorang dapat memilih antara sabar ataupun tidak. Contohnya ketika seseorang mendengar adzan subuh, maka dihadapannya ada dua pilihan, yaitu sholat atau melanjutkan tidurnya, apabila dia memilih sholat maka dia telah melakukan sabar. Maka dengan itu menurut para ulama’ yang berpendapat dengan ini melihat dalam kisah nabi Yusuf, mereka mengatakan sabarnya ketika digoda oleh wanita lebih afdhol dari pada sabarnya ketika dilempar ke sumur oleh saudara saudaranya.

Pendapat di atas ditinjau dari sisi jenis kesabaran. Tetapi bila ditinjau dari praktek nyatanya, bisa jadi sabar dalam mendapat musibah lebih afdhal dari pada sabar dalam ketaatan dan sabar dalam menghindari maksiat. Contohnya seseorang yang putranya meninggal, tentu itu lebih berat dan pahalanya lebih besar daripada ia hanya bangun untuk pergi shalat subuh, padahal keduanya membutuhkan kesabaran.

Intinya dalam kehidupan ini kita harus siap dalam menerima tiga ujian Allah, ujian untuk menjalankan perintah Allah, ujian meninggalkan larangan Allah dan ujian untuk menerima apa yang Allah tentukan untuk kita dari musibah musibah yang Allah tetapkan.

Agar kita bisa bersabar maka kita harus berusaha untuk bersabar semaksimal mungkin, walaupun terkadang kita tidak sabar, maka itu manusiawi dan tatkala kita tidak sabar maka harus segera iistighfar kepada Allah ﷻ.

Pembahasan kali ini akan lebih fokus kepada sabar tatkala mendapat musibah. Apa yang kita harus lakukan, apa yang perlu kita renungkan agar tatkala kita mendapat musibah kita bisa lebih bersabar.

  1. Yang pertama kali kita harus ingat ketika mendapat musibah yaitu inilah tabiat kehidupan. Bahwasannya kehidupan isinya adalah ujian dan semua pasti orang diuji, sebagian orang pernah diuji, sebagian orang akan diuji dan sebagian orang sedang diuji. Tatkala diuji yakinlah bahwa tidak hanya anda yang diuji, bahkan terkadang ujian orang lain lebih berat dari pada ujian anda. Maka harus direnungkan bahwa sifat kehidupan adalah ujian dan bukan hanya anda yang sedang diuji serta tidak mungkin untuk menghindar dari ujian tersebut.
  2. Yang kedua ini berkaitan dengan iman kepada takdir. Semua ini telah ditakdirkan lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Maka kita tidak mungkin menghindar kalau Allah sudah takdirkan. Jika Allah telah takdirkan musibah tersebut maka tidak mungkin untuk menghindar walaupun orang sedunia ingin menyelamatkan maka mereka tidak akan mampu. Sebagaimana dikatakan

أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ

“Sesungguhnya apa yang akan menimpamu tidak akan meleset darimu, dan apa yang meleset darimu tidak akan menimpamu.” ([4])

Nabi juga bersabda

رُفِعَتِ الأقلامُ و جَفَّتِ الصُّحفُ

“Pena sudah diangkat dan lembaran telah kering.” ([5])

Maka semuanya sedah tercatat. Allah berfirman

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.” (QS. Al Hadid: 22)

Sebelum Allah menimpakan musibah tersebut, maka kejadian tersebut telah tercatat semua itu agar tidak manusia tidak terlalu bersedih jika musibah menimpanya. Musibah apapun itu kita tidak akan bisa merubahnya karena sudah ditakdirkan lima puluh ribu tahun yang lalu. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi musibah tersebut.

  1. Berikutnya hal yang bisa membantu untuk bersabar dalam menghadapi musibah adalah yakin apabila kita menghadapinya dengan sabar akan memperoleh dua manfaat, pertama mengugurkan dosa, yang kedua meninggkatkan derajat. Inilah yang harus kita yakini agar kita dapat bersabar. Rasulullah ﷺ bersabda

لَا تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ، كَمَا يُذْهِبُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Janganlah kamu mencela demam, karena demam itu dapat menghilangkan dosa dosa, sebagaimana alat pandai besi menghilangkan karat di besi.” ([6])

Maka seorang yang tertimpa penyakit demam, dosa dosanya akan berguguran sampai dia sembuh. Oleh karena itu nabi mengajarkan kepada kita saat berkunjung kepada orang yang sakit hendaknya kita mengucapkan,

طَهُورٌ إنْ شَاءِ الله

“Penyakit ini akan mensucikanmu dari dosa in sya Allah (apabila kamu sabar).”

Ini adalah kepastian dari Allah. Disini nabi baru berbicara tentang penyakit demam, lalu bagaimana dengan penyakit yang lain. Penyakit yang diderita orang selama berbulan bulan, atau bertahun tahun. Bagaimana juga dengan musibah yang lain seperti banjir yang menghilangkan harta, sampai ada yang meninggal, kalau demam saja menghilangkan dosa apalagi yang lebih dari itu maka jelas juga menghilangkan dosa dosa, begitulah apabila musibahnya lebih berat. Misalnya seseorang yang ditinggal mati anaknya. Dalam hadits yang diriwayatkan sahabat Abu Musa Al Asy’ary rasulullah ﷻ bersabda,

إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلائِكَتِهِ قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيَقُولُ قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيَقُولُ مَاذَا قَالَ عَبْدِي فَيَقُولُونَ حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ فَيَقُولُ اللَّهُ : ” ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ

“Jika anak seorang hamba meninggal dunia, Allah berkata kepada malaikat “apakah kalian telah mencabut ruh anak hambaku?” malaikat berkata “iya” Allah berkata “apakah kau telah mengambil buah hati dari hambaku?”  malaikat berkata “iya” Allah berkata “apa yang dikatakan hambaku?” malaikat berkata “dia memujimu dan dia mengatakan Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” Allah berkata “bangunkanlah untuknya rumah dalam surga dan namakan dengan rumah Al Hamd” ([7])

Hendaknya perkataan seorang hamba yang ditimpa musibah adalah

اَلْحِمْدُ لِلهِ عَلىَ كُلِّ حَال , إِنَّأ لِلهِ و إنّأ إِلَيهِ رَاجِعُون

“Segala puji bagi Allah atas semua hal, sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.”

Perkataan ini akan menimbulkan efek yang luar biasa untuk menguatkannya dan bersisi besar dihadapan Allah. Maka dari itu Allah memuji mereka dalam firman-Nya

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ{}أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 156-157)

Jadi kita harus ingat bahwa ujian itu mengurangi dosa apabila seorang hamba menjalaninya dengan sabar. Jika tidak bersabar maka mengurangi dosanya, maka musibah tersebut tidak mengurangi dosa malah membuat seorang semakin terpuruk. Ingatlah bahwa musibah dapat mendatangkan nikmat dan bisa juga mendatangkan adzab. Mendatangkan nikmat apabila seorang hamba semakin dekat dengan Allah dengan musibah tersebut. Mendatangkan adzab jika membuat seorang hamba semakin jauh dari Allah, berarti musibah tersebut merupakan hukuman dan mendatangkan adzab baginya.

Inilah yang perlu kita renungkan apabila tertimpa musibah, bahwasannya musibah sekecil apapun akan menggugurkan dosa. Nabi ﷻ menekankan

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حَزَن وَلاَ أَذًى وَلاَ غمٍّ، حتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُها إِلاَّ كفَّر اللَّه بهَا مِنْ خطَايَاه

Tidaklah menimpa seorang mu’min dari keletihan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan orang lain, kegelisahan hati, , bahkan duri yang menganainya kecuali Allah menggugurkan dosa dosanya.([8])

Jadi intinya semua yang tidak kita sukai dalam kehidupan ini jika menimpa kita lalu kita sabar, maka itu akan menggugurkan dosa kita.

Di antara faidah musibah selain menggugurkan dosa adalah mengangkat derajat. Karenanya datang dalam suatu hadits, ketika Allah melihat seorang hamba, lalu Allah ingin mengangkat derajatnya dan sudah ditakdirkan dia berada di surge yang tinggi, ternyata ketika dilihat pada amalannya ternyata tidak mencukupi, maka Allah beri dia musibah sehingga pahalanya banyak dan dia bisa masuk ke surge tersebut. Karena dengan musibah hati seseorang akan ternyuh, rasa tawakalnya tinggi sehingga banyak ibadah yang dia lakukan dan mengangkat derajatnya.

Walaupun seorang hamba sering beristighfar kerena teringat dengan dosa dosanya. Tidak ada orang yang ragu bahwa dirinya penuh dengan dosa, maka dia memperbanyak beristighfar. Tetapi kita perlu ingat bahwa tidak setiap istighfar kita diterima oleh Allah, dan kita tidak tahu apakah istighfar yang kita lakukan dapat menggugurkan dosa. Belum lagi apabila ada sebuah dosa yang kita tidak beristighfar karena terlalu sering dilakukan dan dianggap sepele, maka Allah tatkala ingin meghapuskan dosa kita tersebut Allah memberikan musibah, dan dengan begitu dosa kita gugur apabila bersabar.

  1. Yang perlu kita renungkan pula bahwasanya dibalik musibah itu ada yang terbaik bagi kita, entah kita tidak melihatnya sekarang atau tidak akan terlihat sama sekali, yakinlah dibalik musibah pasti ada hikmah yang Allah kehendaki bagi kita. Allah berfirman

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Dalam ayat yang lain Allah berfirman

فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“(maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19)

Para ulama ketika menafsirkan ayat ini, mereka menyebutkan sebuah kisah tentang seseorang hidup memiliki anak yang sangat sholeh dan sangat berbakti padanya. Lalu dia ditanya bagaimana kamu bisa mempunyai anak yang sholih, maka dia jawab dan ternyata istrinya menjengkelkan dan dari Rahim tersebut lahirlah anak yang sholih ini. Ternyata dibalik sifat istrinya yang menjengkelkan, dia melahirkan anak yang sholih.

Ibnul Qoyyim berkata renungkanlah kisah nabi Khadir bersama nabi musa tatkala mereka melewati seorang anak kemudian nabi Khadir membunuhnya, padahal anak tersebut tidaklah berdosa tetapi dibunuh nabi Khadir atas perintah Allah. Maka nabi Musa bertanya “kenapa engkau bunuh anak tersebut?” nabi Khadir menjelaskan bahwa anak ini di kemudain dari akan menggelincirkan kedua orang tuanya dalam kemaksiatan atau kekufuran, maka dia dimatikan dan bisa jadi Allah menggantikan dengan anak yang lebih baik darinya.

Ini adalah logika yang sederhana, bisa jadi kita mencintai sesuatu tapi Allah cabut dan digantikan dengan yang lebih baik karena dibalik yang kita cintai terdapat keburukan. Terkadang kita terkena musibah agar kita tidak sombong atau angkuh, karena sudah lama tidak beribadah kepada Allah lalu Allah berikan musibah agar kembali beribadah. Oleh karena itu bila Allah memberi musibah kita harus husnuzan, pasti dibalik musibah itu ada kebaikan yang Allah kehendaki.

  1. Hal lain yang memudahkan kita untuk meringankan kita terhadap musibah adalah mengingat kebaikan yang telah Allah beri untuk kita. Sedangkan musibah datangnya hanya sesekali dan tidak terus menerus. Jika dibandingkan antara nikmat dan musibah yang Allah berikan tentu saja musibah itu kecil sekali.

Di antara sifat manusia yaitu selalu mengingat musibah dan lupa terhadap nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya. Maka hendaknya orang yang tertimpa musibah segera mengingat nikmat Allah yang telah dia rasakan, dengan demikian dia akan merasa ringan. Allah berfirman,

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (QS. An-Nahl: 18)

Maka dengan mengingat nikmat nikmat Allah yang kita rasakan musibah akan menjadi ringan. Lihatlah orang yang lebih parah musibahnya dari kita. Nabi bersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هو أَسفَل مِنْكُمْ وَلا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوقَكُم؛ فهُوَ أَجْدَرُ أَن لا تَزْدَرُوا نعمةَ اللَّه عَلَيْكُمْ

“Lihatlah kepada orang yang dibawah kalian dan janganlah kalian lihat orang yang diatas kalian, yang demikian itu agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah kepada kalian.” ([9])

Orang yang tertimpa musibah apapun itu, pasti ada orang yang lebih parah musibahnya. Tatkala merenungkan tersebut dia akan tahu bahwa musibah itu bertingkat tingkat dan akan lebih ringan jika mengetahui bahwa ada yang lebih parah musibahnya.

Inilah yang bisa disampaikan pada kesempatan kali ini, semoga saudara kita yang diberi musibah oleh Allah dapat selalu bersabar dan mendapat ganjaran yang besar dai Allah ﷻ. Dan yang diberi kemudahan oleh Allah bisa terus membantu, karena membantu disaat kesulitan itu pahalanya lebih besar disisi Allah. Allah berfirman,

أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ

“atau memberi makan pada hari kelaparan.” (QS. Al-Balad: 14)

Firman Allah tersebut menunjukan sedekah di saat kesulitan itu lebih afdhol dari pada disaat lapang. Begitu juga membantu orang miskin yang dia tidak memiliki apa apa. Sehingga Allah berfirman

أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ

atau kepada orang miskin yang sangat fakir.” (QS. Al-Balad: 16)

Maka disaat saudara kita tertimpa musibah itu adalah kesempatan yang sangat baik untuk kita membantu.

والله تعالى أعلم بالصواب

Footnote:
_______

([1]) HR. Bukhari No. 5652 dan Muslim No. 2576

([2]) HR. Bukhori No. 1297 dan Muslim No. 103

([3]) HR. Abu Dawud No. 1644 disahihkan oleh Al-Albani

([4]) HR. Ibnu Majah No. 77, disahihkan oleh Al-Albani

([5]) HR. Tirmidzi No. 2516 disahihkan oleh Al-Albani

([6]) HR. Muslim No. 2575

([7]) HR. TirmidzI No. 1021 dihasankan oleh Al Albani

([8]) HR. Bukari No. 5641

([9]) HR. Ibnu Majah no. 4142, disahihkan oleh Al-Albani