Berkata Yang Baik

Berkata Yang Baik

Sebagaimana yang kita ketahui bahwasanya di dalam kehidupan ini kita berinteraksi dengan Allah ﷻ dan juga kita berinteraksi dengan manusia di sekitar kita. Dan syariat mengatur keduanya bagaimana cara kita berinteraksi dengan pencipta kita dengan berbagai macam ibadah yang harus kita tujukan kepada Allah ﷻ dan juga syariat mengajarkan kita bagaimana beribadah dengan berakhlak yang mulia dan bermuamalah yang baik dengan sesama manusia. Di antara bentuk muamalah dengan sesama manusia yang diperintahkan oleh Allah ﷻ di dalam Al-Quran adalah firman Allah ﷻ,

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kalian menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kalian tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kalian, dan kalian selalu berpaling.” (QS. Al-Baqarah: 83)

Dalam firman-Nya لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ “Janganlah kalian menyembah selain Allah” ini menjelaskan hubungan seorang hamba dengan Allah ﷻ. Kemudian disebutkan setelahnya menjelaskan tentang hubungan sesama manusia. Dan setelah menyebutkan hubungan-hubungan sesama manusia Allah ﷻ menyebutkan sebuah kaidah وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا “dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia”. Ini menunjukkan bagaimana perhatian syariat terhadap kata-kata karena ucapan atau kata-kata sangat penting dalam kehidupan kita sampai-sampai Nabi  ﷺ bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya, barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia memuliakan tamunya dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia berkata baik atau diam.” ([1])

Maka hendaknya seseorang tidak asal berbicara dan hendaknya dia renungkan apa yang hendak dia utarakan, ungkapkan, tulis, atau komentari. Hendaknya seseorang merenungkan terlebih dahulu dan hendaknya dia memilih kata-kata yang baik sebagaimana yang Allah ﷻ perintahkan وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا “dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia”. Terlebih lagi ucapan itu bisa mengungkapkan bagaimana akhlak seseorang dan bagaimana tingkat akal seseorang. Kita bisa mengetahui akhlak seseorang baik atau buruk dari ungkapan kata-katanya. Terkadang kita terperdaya dengan penampilan seseorang namun ketika dia berkata-kata kita bisa mengetahui akan hatinya yang busuk dan akhlaknya yang buruk. Oleh karenanya hendaknya seseorang berhati dalam berkata-kata karena dengan kata-katanya bisa terungkap akhlaknya dan  akalnya. Diriwayatkan dari Al-Imam Abu Hanifah ketika beliau berhadapan dengan murid-muridnya dan beliau dalam keadaan kakinya sakit sehingga beliau tidak bisa duduk dengan bersila sehingga dia meminta izin kepada murid-muridnya untuk menjulurkan kakinya. Ketika beliau menyampaikan tentang materi fikih lalu tiba-tiba datang seseorang dengan penampilan yang luar biasa lalu duduk di majelis Abu Hanifah. Dan Abu Hanifah ketika melihat lelaki tersebut yang penampilannya seperti orang yang alim maka beliau pun merasa tidak enak dan akhirnya kaki yang tadinya di julurkan dia lipat kembali menjadi posisi duduk bersila walaupun dia merasa sakit karena dia merasa ada orang besar di hadapannya. Orang yang berpenampilan luar biasa tersebut pun bertanya kepada Abu Hanifah: “wahai Abu Hanifah kapan orang yang puasa berbuka? Beliau menjawab: jika matahari tenggelam. Lelaki tersebut kembali bertanya: bagaimana jika matahari tersebut tidak terbenam? Akhirnya Abu Hanifah berkata: sekarang saatnya bagi Abu Hanifah untuk menjulurkan kembali kedua kakinya([2]). Jadi seseorang dari perkataannya akan terlihat kadar pikirannya. Oleh karenanya kita harus berhati-hati dalam berbicara dan ini merupakan perintah Allah وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا “dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia”. Pada asalnya kita dilarang berbicara kecuali dengan yang baik, dan ternyata Allah ﷻ sangat banyak menyebutkan tentang kaidah di dalam Al-Quran, Allah ﷻ berfirman,

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا

“Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS. Al-Isra: 53)

Bukan hanya sekedar kata yang baik akan tetapi kata yang terbaik, jika ada banyak kata-kata yang baik maka kita pilih kata yang terbaik. Kemudian dalam Al-Quran juga Allah ﷻ berfirman,

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 44)

Kemudian juga seperti firman Allah ﷻ,

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ

“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.” (QS. Ad-Dhuha: 9-10)

Begitu juga Allah ﷻ berfirman tentang sikap kepada kedua orang tua

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra: 23)

Dan ayat-ayat ini sangat banyak di dalam Al-Quran. Dan semuanya kembali kepada kaidah وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا “dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia” dan ini adalah kaidah umum kemudian Allah perinci bagaimana jika dengan kedua orang tua, kepada orang yang di dakwahi kepada orang yang meminta-minta, atau kepada anak yatim. Maka semuanya kembali kepada kaidah وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا “dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia” yaitu agar kita mengucapkan kata-kata yang baik, dan ini adalah ibadah. Kita beribadah tidak hanya dengan membaca Al-Quran atau shalat malam akan tetapi ketika memilih kata-kata untuk menyenangkan orang lain maka ini juga ibadah, oleh karenanya Rasulullah ﷺ bersabda,

«كُلُّ سُلَامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ، كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ» قَالَ: «تَعْدِلُ بَيْنَ الِاثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا، أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ» قَالَ: «وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ خُطْوَةٍ تَمْشِيهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ، وَتُمِيطُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ»

“Setiap anggota tubuh manusia memiliki keharusan sedekah pada setiap harinya. Yaitu seperti mendamaikan dua orang yang berselisih, adalah sedekah. Menolong orang yang naik kendaraan, atau menolong mengangkatkan barangnya ke atas kendaraan, itu pun termasuk sedekah. Ucapan atau tutur kata yang baik, juga sedekah. Setiap langkah yang Anda ayunkan untuk menunaikan shalat, juga sedekah. Dan menyingkirkan sesuatu yang membahayakan di jalanan umum, adalah sedekah.”([3])

Dalam hadits ini Rasulullah ﷺ mengatakan bahwa kata-kata yang baik adalah sedekah dan ini menunjukkan bahwa kata-kata yang baik berpahala. Ketika kita memilih kata-kata maka kita sedang memilih kata-kata saja sudah berpahala begitu juga ketika kita ungkapkan kata-kata baik tersebut maka kita mendapatkan pahala, ketika kita ingin menulis lalu memilih ungkapan-ungkapan yang baik maka kita akan mendapatkan pahala. Hal ini dikarenakan kita telah melakukan apa yang Allah ﷻ perintahkan. Tidak seperti sebagian orang yang ketika membaca Al-Quran mereka semangat dan ketika shalat malam mereka semangat namun ketika mereka berbicara ternyata kata-katanya kotor, berbicara dan berkomentar sembarangan. Mungkin ini semua karena dia menyangka semuanya itu tidak dicatat dalam catatan amalnya padahal pada hari kiamat kelak akan diungkapkan kembali oleh Allah ﷻ. Dalam sebuah hadits Nabi  ﷺ bersabda:

” إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرْفَةً يُرَى ظَاهِرُهَا مِنْ بَاطِنِهَا، وَبَاطِنُهَا مِنْ ظَاهِرِهَا “، فَقَالَ أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ: لِمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: ” لِمَنْ أَلَانَ الْكَلَامَ، وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ، وَبَاتَ لِلَّهِ قَائِمًا وَالنَّاسُ نِيَامٌ ”

“Sesungguhnya di dalam surga itu ada sebuah kamar yang bagian luarnya dapat terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar.” Lalu Abu Musa Al Asy’ari bertanya: “Wahai Rasulullah, ia diperuntukkan untuk siapa?” Beliau menjawab: “Untuk orang yang lemah lembut tutur katanya, yang memberikan makanan, dan yang melaksanakan qiyamullail (shalat malam) saat manusia tertidur lelap.” ([4])

Demikian juga dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad Rasulullah ﷺ bersabda

«أَفْشِ السَّلَامَ، وَأَطِبِ الْكَلَامَ وَصِلِ الْأَرْحَامَ وَقُمْ بِاللَّيْلِ، وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلِ الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ»

“Sebarkan olehmu salam, baguskanlah kata-katamu, sambunglah silaturahmi, shalat malamlah di waktu manusia tertidur maka engkau akan masuk surga dengan selamat.” ([5])

Maka ini adalah ibadah yang agung yang seseorang selalu berhias dengan kata-kata yang terbaik dalam kesehariannya dalam berbicara dengan siapa pun sesuai dengan perintah Allah وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا “dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia”. Dan “manusia” di sini umum mencakup siapa saja entah itu kawan maupun musuh, entah itu teman dekat ataupun teman jauh, orang tua ataupun anak kecil, entah itu muslim maupun kafir maka kita diperintahkan untuk memilih kata-kata yang baik. Contoh yang Allah ﷻ sebutkan bagaimana cara berbicara dengan orang-orang kafir terutama dengan mereka yang kita berniat untuk mendakwahi mereka. Allah ﷻ memerintahkan Nabi  Musa dan Nabi  Harun untuk berkata-kata kepada Firaun yaitu orang yang paling bejat di alam semesta ini yang pernah hidup di dunia ini dan orang yang paling sombong yang pernah mengaku sebagai tuhan, Allah berfirman,

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 44)

Allah ﷻ tidak memerintahkan untuk membentak Firaun atau maki-maki dia, akan tetapi Allah ﷻ memerintahkan untuk berkata-kata lembut kepadanya. Artinya jangan sampai terpancing emosi dalam berdakwah dan jangan sampai terprovokasi karena dakwah adalah ibadah yang memiliki aturan. Dan dalam ayat yang lain dalam surah An-Naziat Allah ﷻ berfirman,

فَقُلْ هَلْ لَكَ إِلَىٰ أَنْ تَزَكَّىٰ وَأَهْدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخْشَىٰ

“dan katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?” (QS. An-Naziat: 18-19)

Dalam ayat ini Allah ﷻ memerintahkan untuk berkata kepada Firaun dengan berupa tawaran هَلْ لَكَ إِلَىٰ أَنْ تَزَكَّىٰ  “maukah kamu untuk membersihkan jiwamu?” bukan berupa perintah “berimanlah!”. Intinya Nabi  Musa diperintahkan untuk berkata-kata yang lembut kepada Firaun lalu bagaimana lagi dengan orang yang kejahatannya jauh di bawah Firaun. Tidak seperti sebagian orang yang bangga dengan kata-katanya yang kasar yang kemudian tersebar di media sosial dengan memaki sana-sini. Adapun kita dalam berdakwah ada aturannya bukan sekedar melepaskan apa yang ada di hati kita. Kita berdakwah bukan hanya sekedar menegakkan hujjah yaitu yang penting kita telah menyampaikan akan tetapi tujuan kita berdakwah juga adalah kita ingin agar dia mendapatkan hidayah. Oleh karenanya jika seseorang berdakwah dengan tujuan agar orang lain mendapatkan hidayah maka ini semua ada aturan mainnya, dan jika tidak mengetahui aturan main dalam berdakwah maka tidak perlu terjun dalam bidang berdakwah.

Contoh lain adalah Nabi  Ibrahim ketika berkata kepada bapaknya dengan penuh lemah lembut dia mengatakan,

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَٰنِ عَصِيًّا يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا

“Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan.” (QS. Maryam: 42-44)

Perhatikan kata-kata yang Nabi  Ibrahim pilih إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ “sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu” dan dia tidak mengatakan “wahai bapakku engkau bodoh atau jahil”, dan ini adalah kata yang sangat halus. Dan juga ucapannya yang menunjukkan kata-katanya yang lembut يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ “Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah” yang seharusnya ketika kita berbicara tentang azab mengatakan “aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang begitu keras azab-Nya”, namun Nabi  Ibrahim mengatakan يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ “Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah” seakan-akan dia berbicara kepada ayahnya: Allah ﷻ sangat sayang kepada engkau jika engkau kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Demikian juga Allah ﷻ memerintahkan untuk berdebat dengan Ahlul Kitab dengan kata-kata yang baik, Allah ﷻ berfirman,

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ ۖ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَٰهُنَا وَإِلَٰهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri”.” (QS. Al-Ankabut: 46)

Maka jika kita sudah bertemu dan berdialog dengan Ahli Kitab maka hendaknya kita memilih kata-kata yang baik untuk mendebat mereka karena tujuan dari debat ini adalah agar mereka mendapat hidayah. Jadi ketika Allah ﷻ memerintahkan وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا “dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia” maka ini mencakup seluruh strata manusia entah itu kepada orang kafir maka Allah ﷻ telah menjelaskannya atau kepada sahabat-sahabat dan teman-teman dekat kita maka hendaknya kita berkata-kata yang lembut kepada mereka semua sebagaimana yang Allah ﷻ katakan kepada Nabi  ﷺ,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran: 159)

Allah ﷻ menekankan dalam ayat ini bahwa Nabi  ﷺ menjadi lembut karena karunia rahmat dari Allah ﷻ. Dalam firman-Nya فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ  seharusnya secara bahasa Arab فَبِرَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ “dengan rahmat Allah”, namun dalam ayat ini terdapat tambahan huruf مَا di sini yang dia tidak ada I’rabnya akan tetapi maknanya untuk penekanan sehingga kalau kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “maka benar-benar karena kasih sayang Allah kepadamu wahai Muhammad engkau menjadi lembut kepada mereka dan jika hatimu kasar mulutmu dan keras hatimu maka mereka akan kabur darimu”. Allah ﷻ mengatakan ini kepada Nabi  ﷺ yang berhadapan dengan para sahabat yang mereka adalah orang-orang yang lembut, cerdas, dan akhlaknya mulia maka jika Nabi  ﷺ akhlaknya kasar tentunya mereka akan kabur. Maka hukum asal seseorang adalah berkata-kata dengan lembut jangan sampai dia terprovokasi karena terkadang seseorang berbicara tanpa dia pikirkan karena muncul perasaan “mentang-mentang”, yaitu merasa mentang-mentang dia adalah seorang ustadz, pendakwah, atau orang yang memiliki ilmu. Yang benar bahwasanya dakwah memiliki aturan dan ketika berdakwah harus memilih kata-kata yang baik. Terkadang “mentang-mentang” itu muncul dengan sendirinya, yaitu merasa mentang-mentang dirinya adalah seorang mudir, imam masjid, atau donatur maka perasaan ini harus dilawan. Karena dalam berdakwah ada aturannya Nabi  ﷺ saja ditegur oleh Allah ﷻ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ “Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”. Jadi hendaknya kita memilih-milih kata ketika berbicara kepada orang lain. Terlebih lagi berbicara dengan istri, harus berbicara dengan perkataan selembut-lembutnya dan harus memilih panggilan terbaik karena istri orang yang lebih utama untuk kita berkata-kata baik kepadanya. Betapa banyak orang-orang berkata baik kepada orang lain namun ketika berkata kepada istrinya dia berkata dengan sembarangan, ngomong seenaknya, dan seakan dia tidak mengetahui bahwa ada aturan antara seseorang dengan istrinya sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi  ﷺ,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” ([6])

Jika Anda ingin mencapai derajat yang terbaik maka berbuat baiklah kepada istri. Jika Anda mampu berkata-kata baik kepada orang lain maka yang lebih utama untuk Anda berkata baik adalah kepada istri. Jika Anda bisa bercanda senda gurau dengan orang lain mana mungkin Anda tidak bisa bercanda dengan istri? Istri kita adalah orang yang lebih utama untuk kita berbuat baik kepadanya, dia adalah orang yang melahirkan dan mengurus anak-anak kita dan juga membantu kita ketika kita sedang sakit bahkan yang terkadang mengurusi keluarga kita. Sebagian wanita mengeluh dari suaminya karena tidak pernah mendengar kata-kata penghormatan dari suaminya. Jadi apa susahnya kita untuk memuji istri dan mengobral kata-kata kepada istri padahal kita bisa mengobral kata dengan kawan-kawan? Betapa sering kita mengobrol dengan teman-teman dengan berniat untuk menyenangkan hati mereka mengapa kita tidak bisa mengobrol dengan niat menyenangkan hati istri? Dan menggombal kepada istri diperbolehkan dalam syariat bahkan bohong saja diperbolehkan dalam syariat, sebagaimana yang diriwayatkan dari Ummu Kultsum binti ‘Uqbah ia berkata:

مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَخِّصُ فِي شَيْءٍ مِنَ الْكَذِبِ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ، كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” لَا أَعُدُّهُ كَاذِبًا، الرَّجُلُ يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ، يَقُولُ: الْقَوْلَ وَلَا يُرِيدُ بِهِ إِلَّا الْإِصْلَاحَ، وَالرَّجُلُ يَقُولُ: فِي الْحَرْبِ، وَالرَّجُلُ يُحَدِّثُ امْرَأَتَهُ، وَالْمَرْأَةُ تُحَدِّثُ زَوْجَهَا ”

“Tidaklah aku mendengar Rasulullah memberikan keringanan sedikit pun berkaitan dengan perkataan dusta kecuali dalam tiga perkara. Rasulullah berkata: aku tidaklah menganggapnya termasuk kebohongan: seseorang (berbohong) untuk mendamaikan di antara manusia, dia mengatakan suatu perkataan yang tidaklah dia maksudkan kecuali hanya untuk mengadakan perdamaian (perbaikan), seseorang yang berkata (bohong) ketika dalam peperangan, dan seorang suami yang berkata kepada istri dan istri yang berkata kepada suami.” ([7])

Ini menunjukkan perhatian syariat agar seorang suami berkata-kata baik kepada istrinya sampai-sampai diperbolehkan untuk berbohong. Demikian juga kepada anak-anak kita maka kita bimbing mereka dengan kata-kata yang baik dan jangan sampai mengucapkan kata-kata yang menyakiti hatinya. Sesekali kita tegur dan kita marahi tidaklah mengapa akan tetapi itu keluar dari hukum asalnya. Karena hukum asalnya adalah kita berbicara kepada anak-anak dengan kata-kata yang baik. Kita jaga perasaan mereka, kita beri semangat mereka, dan kita beri motivasi mereka. jika mereka salah maka kita bicara dengan baik kepada mereka secara empat mata agar mereka sadar. Begitulah, asalnya adalah kita berbicara dengan kata-kata yang baik bukan mencela atau memaki mereka.

Begitu juga Allah ﷻ mengajarkan kita bagaimana berkata-kata yang baik kepada orang yang memiliki keperluan. Contohnya kepada anak yatim Allah ﷻ berfirman,

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ

“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.” (QS. Ad-Dhuha: 9-10)

Sungguh kasihan anak yatim. Bayangkan anak yatim yang misalnya ketika di sekolah dia mendapati teman-temannya dikunjungi oleh bapak dan ibunya sedangkan dia tidak memiliki bapak. Terkadang dia iri melihat bapak temannya begitu lembut kepada temannya. Maka kita bisa bayangkan bagaimana perasaannya? Maka kita harus berusaha membayangkan jika kita berada di posisi dia maka bagaimana perasaan kita? Sesungguhnya mereka sangat membutuhkan sentuhan kepala. Oleh karenanya banyak kita dapati anak yatim nakal, hal ini dikarenakan tidak ada yang perhatian kepada dirinya dan dia juga tidak memiliki tempat untuk menyampaikan perasaannya. Oleh karenanya jika kita mendapati anak yatim melakukan kesalahan maka Allah ﷻ melarang untuk berlaku sewenang-wenang terhadapnya. Sebagaimana firman Allah ﷻ,

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ

“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.” (QS. Ad-Dhuha: 9-10)

Sudah cukup dia mendapati kesedihan yang bergejolak di hatinya yang dia rasakan. Maka jangan kita tambahkan kesedihan lagi di atas kesedihannya. Oleh karenanya kita harus mengajari anak kita jika dia memiliki teman seorang yatim maka kita perintahkan agar berbuat baik kepadanya dan memberikan uzur kepadanya karena tidak ada yang memperhatikannya. Tidak perlu jauh-jauh kita berbicara tentang anak yatim, kita saja jika kita sedang menerima raport lalu kita dapati teman-teman kita ayah mereka semuanya telah datang sedangkan ayah kita belum datang maka kita akan mendapati suatu perasaan sedih di hati kita maka terlebih lagi jika kita tidak memiliki ayah. Oleh karenanya anak yatim jangan dibentak, dihardik, atau dimarahi.

Kemudian juga orang yang meminta-minta yang mereka adalah orang yang memiliki kebutuhan dan kesusahan maka hati-hati ketika berbicara dengan mereka jangan sampai kita menyakiti  hati mereka,

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ

“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.” (QS. Ad-Dhuha: 9-10)

Jika kita memberikannya bantuan maka hendaknya kita ucapkan kata-kata yang baik dan jangan sampai kita membentaknya atau menyakiti hatinya. Allah ﷻ berfirman

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى ۙ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى ۗ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah: 262)

مَنًّا artinya mengungkit-ungkit dan أَذًى artinya menyakiti hati seseorang([8]). Contohnya jika ada seseorang membantu orang lain dengan memberikan baju lalu dia berkata: wah kamu terlihat lebih gagah dengan baju baru”, dan baju tersebut adalah baju yang dia yang memberikan. Tentunya ini membuat tidak enak hati orang yang telah diberikan hadiah. Tidak perlu kita memberikan sesuatu lalu menyakitinya dengan mengungkitnya kembali. Jika kita telah memberikan sesuatu maka hendaknya kita lepaskan begitu saja tanpa perlu mengungkitnya kembali. Kemudian Allah ﷻ menjelaskan selanjutnya قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan” yaitu jika kita tidak mampu memberikan sesuatu maka ucapkan penolakan dengan kata-kata yang baik bukan membentak. Dan mengampuni atau memberikan maaf lebih baik dari pada sedekah yang diiringi sesuatu yang menyakitkan. Dan ini benar, sebagian ulama mengatakan bahwa orang yang meminta-minta terkadang mereka mengganggu kita, contohnya kita istirahat lalu dia mengetuk-ketuk pintu rumah kita karena dia memiliki keperluan maka temui saja dan jika ingin memberikan maka berikan dan jika tidak maka tidak perlu sakiti hatinya. Karena orang yang meminta-minta pasti memiliki kesalahan mungkin karena mereka tidak tahu cara mengungkapkan lalu datang di waktu yang tidak tepat misalnya dan mengganggu maka ini wajar. Mungkin jika kita berada di posisinya juga akan melakukan hal yang sama karena ini dalam kondisi susah, dan orang jika dalam kondisi susah dia akan pusing dan susah berpikir apa yang harus dia lakukan karena pikirannya hanya bagaimana agar kebutuhannya bisa segera terpenuhi.

Inilah kaidah umum وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا “dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia”. Terlebih lagi kepada orang tua Allah ﷻ berfirman,

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra: 23)

Maka hendaknya kita berhati-hati dalam berbicara, setinggi apa pun gelar atau derajat yang kita raih kita tetaplah seorang anak dan kita harus memilih kata-kata yang baik kepada orang tua. Jangan sampai kita menyakiti hati orang tua, merendahkan ibu kita, atau merendahkan bapak kita seakan-akan kita terpelajar dan orang tua kita tidak terpelajar. Jika kita bisa memilih kata-kata yang baik untuk bos kita maka orang tua lebih utama untuk mendapatkan kata-kata yang baik dan dengan selembut-lembutnya.

Footnote:
_________

([1]) HR. Bukhori no. 6018 dan Muslim no. 47

([2]) Lihat: Fashlul Khitab Fiz Zuhdi War Roqooiq Wal Aadaab 1/930 dan Syarh ‘Umdatul Ahkam milik Abdul Karim Al-Khudhoir 23/29

([3]) HR. Muslim no. 1009

([4]) HR. Ahmad no. 6615 dan dikatakan oleh Syu’aib Al-Arnauth hadits ini hasan lighoirih

([5]) HR. Ahmad no. 10399 dan dikatakan oleh Syu’aib Al-Arnauth hadits ini shohih

([6]) HR. Ibnu Majah no. 1977. Dan Al-Albani mengatakan hadits ini shohih

([7]) HR. Abu Dawud no. 4921 dan dishohihkan oleh Al-Albani

([8]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 3/308