Perintah Shalat Lima Waktu dengan Bilangan Dua Rakaat

Perintah Shalat Lima Waktu dengan Bilangan Dua Rakaat

Oleh DR. Firanda Andirja, MA.

Bilangan rakaat pada shalat yang diperintahkan dari peristiwa isra’ dan mi’raj adalah dua rakaat dan dilaksanakan pada lima waktu yaitu pada waktu dzuhur, ashar, isya’, shubuh dan tiga rakaat pada shalat maghrib. Kemudian ketika Rasulullah berhijrah ke Madinah diwajibkan menjadi empat rakaat kecuali maghrib dan shubuh, yaitu setelah kedatangan beliau ke Madinah.

Aisyah berkata :

فَرَضَ اللَّهُ الصَّلاَةَ حِينَ فَرَضَهَا رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ فِي الحَضَرِ وَالسَّفَرِ فَأُقِرَّتْ صَلاَةُ السَّفَرِ وَزِيدَ فِي صَلاَةِ الحَضَرِ

“Pertama kali Allah memerintahkan salat adalah dua rakaat dua rakaat([1]), baik saat muqim maupun saat perjalanan. Setelah itu, ditetapkanlah ketentuan itu untuk shalat safar dan ditambahkan lagi untuk shalat disaat muqim. ([2])

Dan dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa ‘Aisyah berkata:

فُرِضَتِ الصَّلاَةُ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ هَاجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَفُرِضَتْ أَرْبَعًا، وَتُرِكَتْ صَلاَةُ السَّفَرِ عَلَى الأُولَى

Shalat telah diwajibkan (pertama kali) sebanyak dua rakaat, kemudian ketika Nabi hijrah diwajibkan menjadi empat rakaat. Sedangkat shalat safar dibiarkan seperti semula. ([3])

Dalam riwayat yang lain ‘Aisyah berkata:

فُرِضَتْ صَلَاةُ السَّفَرِ وَالْحَضَرِ رَكْعَتَيْنِ، فَلَمَّا أَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ زِيدَ فِي صَلَاةِ الْحَضَرِ رَكْعَتَانِ رَكْعَتَانِ، وَتُرِكَتْ صَلَاةُ الْفَجْرِ لِطُولِ الْقِرَاءَةِ، وَصَلَاةُ الْمَغْرِبِ لِأَنَّهَا وِتْرُ النَّهَارِ

Shalat ketika safar dan muqim diwajibkan sebanyak dua rakaat. Ketika Rasulullah berada di Madinah ditambahkan dua rakaat dua rakaat pada shalat ketika muqim. Sedangkan shalat shubuh dibiarkan (seperti semula) karena bacaannya yang panjang, begitu juga dengan shalat maghrib karena ia merupakan witr (shalat) siang hari. ([4])

Kemudian setelah ditetapkan perintah shalat dengan empat rakaat, diberikan keringanan dalam mengerjakan shalat ketika safar. Hal itu terjadi ketika Allah menurunkan firman-Nya:

فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ

Maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalat(mu). ([5])

Kesimpulannya, shalat fardu (Dzuhur, Ashar, dan Isya) pertama kali diwajibkan ketika al-Israa’ adalah 2 raka’at, lalu ketika Nabi berhijrah berubah diwajibkan menjadi 4 raka’at, lalu Allah beri keringanan jika dalam safar menjadi 2 raka’at lagi. Sehingga statusya sekarang shalat safar 2 raka’at bukanlah ‘azimah([6]) akan tetapi rukhsah.([7])

Dapatkan Informasi Seputar Shalat di Daftar IsiPanduan Tata Cara Sholat Lengkap Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________

([1]) Penyebutan ‘dua rakaat’ diulang dua kali untuk menjelaskan bahwa setiap shalat dikerjakan sebanyak dua rakaat. (Fathul Bari Li Ibni Hajar 1/464). Kecuali shalat maghrib maka sejak awal sudah diwajibkan 3 raka’at.

([2]) H.R. Bukhari no.350.

([3]) H.R. Bukhari no.3935.

([4]) An-Nisa’: 101.

([5]) H.R. Ibnu Khuzaimah no.305 dan Ibnu Hibban no.2738.

([6]) ‘Azimah adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh As-Syathibi, yaitu:

مَا شُرِعَ مِنَ الْأَحْكَامِ الْكُلِّيَّةِ ابْتِدَاءً

Artinya: Hukum-hukum yang berlaku umum yang disyariatkan sejak semula. (Al-Muwafaqat Li As-Syathibiy 1/464).

([7]) Lihat : Fathul Bari Li Ibn Hajar 1/465.