Syarah Qawaidul Arba’ 3 – Kaidah Kedua

شَرْحُ الْقَوَاعِدِ الأَرْبَعِ

(Syarah 4 Kaidah Penting Memahami Tauhid)

Kaidah Kedua

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,

الْقَاعِدَةُ الثَّانِيَةُ:

أُنَّهُمْ يَقُولُونَ: مَا دَعَوْنَاهُمْ وَتَوَجَّهْنَا إِلَيْهِمْ إِلا لِطَلَبِ الْقُرْبَةِ وَالشَّفَاعَةِ، فَدَلِيلُ الْقُرْبَةِ؛ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ ﴾. وَدَلِيلُ الشَّفَاعَةِ، قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿ وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـؤُلاء شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللّهِ ﴾.

وَالشَّفَاعَةُ شَفَاعَتَانِ: شَفَاعَةٌ مَنْفِيَّةٌ، وَشَفَاعَةٌ مُثْبَتَةٌ.

فَالشَّفَاعَةُ الْمَنْفِيَّةُ: مَا كَانَتْ تُطْلَبُ مِنْ غَيْرِ اللهِ فِيمَا لا يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلا اللهُ؛ وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لاَّ بَيْعٌ فِيهِ وَلاَ خُلَّةٌ وَلاَ شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ﴾.

وَالشَّفَاعَةُ الْمُثْبَتَةُ: هِيَ الَّتِي تُطْلَبُ مِنَ اللهِ، وَالشَّافِعُ مُكَرَّمٌ بِالشَّفَاعَةِ، وَالْمَشْفُوعُ لَهُ مَنْ رَضِيَ اللهُ قَوْلَهُ وَعَمَلَهُ بَعْدَ الإِذْنِ؛ كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ﴾ [البقرة: 255].

“Kaidah kedua:

Mereka (Kaum Musyrikin Arab) berkata: “Tidaklah kami berdoa dan menghadap kepada mereka kecuali dalam rangka mencari kedekatan kepada Allah dan meminta syafaat. Dalil mereka berdoa dalam rangka mencari kedekatan adalah firman Allah ,

“Dan orang-orang yang mengambil sembahan selain Allah (berkata):”Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar” (QS. Az-Zumar: 3).

Adapun dalil tentang syafaat adalah firman Allah ,

“Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka (sembahan selain Allah) itu adalah pemberi-pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah” (QS. Yunus: 18).

Syafaat ada dua macam: Syafaat manfiyah (yang ditolak keberadaannya) dan syafaat mutsbatah (yang ditetapkan keberadaannya).

Syafaat manfiyah (ditolak) adalah syafaat yang diminta kepada selain Allah, dalam perkara yang tidak satu pun yang mampu memberikannya kecuali Allah. Dalilnya adalah firman Allah ,

“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim” (QS. Al-Baqarah: 254).

Syafaat mutsbatah (ditetapkan) adalah syafaat yang diminta dari Allah. Pemberi syafaat itu dimuliakan (oleh Allah) dengan syafaat tersebut, sedangkan yang diberi syafaat adalah orang yang Allah ridai, baik ucapan maupun perbuatannya, sesudah Allah mengizinkannya. Sebagaimana firman Allah ,

“Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya?” (QS. Al- Baqarah: 255).

Syarah

Pada kaidah pertama telah dijelaskan bahwa kaum musyrikin Arab mengakui adanya Allah, bahkan mengakui rububiyah Allah (Allah maha pencipta, maha pengatur, dan maha pemberi rizki). Maka akan muncul pertanyaan, jika mereka mengakui bahwa Allah adalah Tuhan mereka, lantas kenapa mereka menyembah sesembahan-sesembahan selain Allah?.

Maka pada kaidah kedua ini Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan alasan mereka (kaum musyrikin arab) menyembah selain Allah ﷻ. Ternyata mereka menyembah selain Allah karena ada dua sebab :

Pertama: Agar sembahan tersebut mendekatkan diri mereka kepada Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar: 3).

Kedua: Agar sembahan tersebut memberi syafaat bagi mereka di sisi Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ

“Mereka (sembahan selain Allah) itu adalah pemberi-pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah” (QS. Yunus: 18).

Inilah dua sebab yang menjadikan mereka menyembah selain Allah ﷻ, padahal mereka mengetahui bahwa yang menciptakan seluruh alam semesta hanyalah Allah ﷻ. Oleh karenanya, jika kita membaca sejarah maka kita dapati mereka menyembah nabi, malaikat, jin, atau orang-orang saleh seperti Lata.

Orang-orang musyrikin memiliki logika bahwa mereka tidak pantas meminta kepada Allah ﷻ. Sehingga untuk meminta kepada-Nya harus melalui perantara-perantara yang mendekatkan diri mereka kepada Allah ﷻ atau memberi mereka syafaat di sisi Allah ﷻ. Ini adalah syubhat yang sangat berbahaya yang membuat seseorang terjerumus ke dalam kesyirikan. Intinya secara umum mereka tidak meyakini selain Allah ﷻ adalah yang mengatur alam semesta. Mereka menyembah selain Allah ﷻ adalah untuk dua perkara ini.

Ibaratnya seseorang yang ingin meminta kepada Raja. Untuk memudahkan urusannya maka dia meminta melalui perantara menterinya. Sehingga menteri tersebutlah yang akan mendekatkan dirinya kepada Raja. Atau menterinya menyampaikan kebutuhan yang meminta, kemudian raja memberikan apa yang kita butuh. Di sini lah letak bahaya kesyirikan. Karena ketika dia meminta maka hatinya bukan lagi membutuhkan kepada raja, akan tetapi hatinya bergantung kepada menteri.

Begitu juga dalam beribadah, ketika kita meminta kepada pemberi-pemberi syafaat maka hati kita tidak lagi bergantung kepada Allah ﷻ, akan tetapi hati kita hanya bergantung kepada para pemberi syafaat. Inilah hal-hal yang banyak orang salah paham tentang syafaat.

Kita katakan bahwa Tuhan kita Allah ﷻ sangatlah mudah dalam hal meminta kepada-Nya. Allah ﷻ berfirman,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Tidak perlu kita meminta melalui perantara, tidak perlu untuk pergi ke wali-wali, atau meminta melalui perantara malaikat. Cukup bagi kita untuk meminta langsung kepada Allah ﷻ, karena Allah ﷻ Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa.

Inilah syubhat mereka, jangan disangka bahwasanya mereka menyembah patung-patung berarti mereka menganggap patung-patung tersebut yang menciptakan alam semesta. Patung-patung ini menurut mereka hanyalah perantara untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah ﷻ atau untuk mempermudah mereka mendapatkan apa yang mereka butuh dari Allah ﷻ. Hal ini dikarenakan mereka menyangka patung-patung ini hanyalah simbol dari ruh orang shalih atau yang lainnya yang akan menjadi syafaat bagi mereka di sisi Allah ﷻ sehingga Allah ﷻ akan mengabulkan permintaan mereka. Inilah hakikat kesyirikan orang-orang terdahulu.

Oleh karenanya jika ada orang-orang sekarang yang ketika meminta kepada Allah ﷻ melalui mayat-mayat atau wali-wali, maka ini sangat mirip dengan kesyirikan orang-orang terdahulu.

mengapa mereka menyembah selain Allah

Setelah itu Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan bahwa syafaat ada dua model:

Pertama: Syafaat yang ditetapkan.

Yaitu syafaat yang memenuhi dua persyaratan:

  1. Izin Allah ﷻ bagi yang memberi syafaat.
  2. Rida Allah ﷻ kepada yang diberi syafaat.

Nabi Muhammad ﷺ ketika meminta agar diberi izin untuk memberikan syafaat, datang di bawah arasy Allah ﷻ  dan sujud dalam waktu yang lama. Hal ini dikarenakan masalah syafaat  bukanlah masalah yang ringan. Allah ﷻ menceritakan tentang hari kiamat,

يَوْمَئِذٍ يَتَّبِعُونَ الدَّاعِيَ لَا عِوَجَ لَهُ وَخَشَعَتِ الْأَصْوَاتُ لِلرَّحْمَنِ فَلَا تَسْمَعُ إِلَّا هَمْسًا . يَوْمَئِذٍ لَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلًا

“Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru dengan tidak berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja. Pada hari itu tidak berguna syafaat, kecuali (syafaat) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridai perkataannya.” (QS. Thaha: 108)

Allah ﷻ berfirman,

يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ

“Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia.” (QS. Hud: 105)

Mungkin di dunia seseorang bisa memberi syafaat tanpa izin karena dia memiliki kedudukan atau memiliki hubungan kekerabatan. Adapun di akhirat, tidaklah demikian. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ yang bersujud menunggu izin dari Allah ﷻ hingga Allah ﷻ berkata kepadanya,

ارْفَعْ رَأْسَكَ وَسَلْ تُعْطَهْ، وَقُلْ يُسْمَعْ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ، فَأَرْفَعُ رَأْسِي، فَأَحْمَدُهُ بِتَحْمِيدٍ يُعَلِّمُنِيهِ، ثُمَّ أَشْفَعُ

“Angkatlah kepalamu, dan mintalah maka engkau akan diberikan! Dan berbicaralah maka engkau akan didengarkan! dan mintalah syafaat maka engkau akan diberi.” Maka aku mengangkat kepalaku dan memuji-Nya dengan pujian yang Dia ajarkan kepadaku, kemudian aku memberikan syafaat.” ([1])

Juga tidak semua orang mendapatkan syafaat Rasulullah ﷺ. Ketika Rasulullah ﷺ berada di shirath beliau berdoa agar umatnya selamat, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari,

وَكَلاَمُ الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ: اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ

“Dan perkataan para rasul di hari itu, ‘Ya Allah! selamatkan-selamatkan’.” ([2])

Apakah semua umatnya selamat? Tidak. Tidak semua orang mendapatkan syafaat Nabi Muhammad ﷺ ketika melewati shirath, hanya orang-orang yang Allah ﷻ ridai lah yang mendapatkan syafaat.

Kedua: Syafaat yang ditolak

Yaitu syafaat yang tidak memenuhi persyaratan. Jangan sampai seseorang pergi ke kuburan atau ke tempat Wali Fulan untuk meminta syafaat. Karena wali tersebut belum tentu bisa memberikan syafaat pada hari kiamat. Juga kita tidak tahu apakah wali tersebut masuk surga atau neraka. Terlebih lagi, dia belum berhak untuk memberi syafaat, dan belum tentu juga dia mendengar perkataan yang meminta.

Pada hari kiamat yang memberi syafaat ada banyak, ada malaikat, para nabi, kaum mukminin, bahkan anak-anak kecil juga memberi syafaat. Allah ﷻ berfirman,

شَفَعَتِ الْمَلَائِكَةُ، وَشَفَعَ النَّبِيُّونَ، وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُونَ

“Para malaikat, para nabi, dan kaum mukminin memberikan syafaat.” ([3])

Rasulullah ﷺ  bersabda,

مَا مِنَ النَّاسِ مُسْلِمٌ، يَمُوتُ لَهُ ثَلاَثَةٌ مِنَ الوَلَدِ لَمْ يَبْلُغُوا الحِنْثَ، إِلَّا أَدْخَلَهُ اللَّهُ الجَنَّةَ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمْ

“Tidak seorang muslim pun yang ditinggal wafat oleh tiga orang anaknya yang belum balig, kecuali akan Allah masukkan dia ke dalam surga karena limpahan rahmat-Nya kepada mereka.” ([4])

Apakah masuk akal jika ada seorang yang anaknya meninggal lalu berkata, “Wahai anakku, tolong nanti berikan ayah syafaat”? Tentu hal ini tidak diperbolehkan, karena meminta syafaat hanya kepada Allah ﷻ. Allah ﷻ lah yang memberikan izin untuk memberi syafaat atau tidaknya. Jika Allah ﷻ tidak mengizinkan maka tidak ada seorang pun yang bisa memberikan syafaat.

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Qawaidul Arba’ Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________

([1]) HR. Bukhari No. 4476 dan Muslim No. 193.

([2]) HR. Bukhari No. 806.

([3]) HR. Muslim No. 183.

([4]) HR. Bukhari No. 1381.