Syarah Qawaidul Arba’ 2 – Kaidah Pertama

شَرْحُ الْقَوَاعِدِ الأَرْبَعِ

(Syarah 4 Kaidah Penting Memahami Tauhid)

Kaidah Pertama

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,

الْقَاعِدَةُ الأُولَى:

أَنْ تَعْلَمَ أَنَّ الْكُفَّارَ الَّذِينَ قَاتَلَهُمْ رَسُولُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -مُقِرُّونَ بِأَنَّ اللهَ –تَعَالَى-هُوُ الْخَالِقُ، الْمُدَبِّرُ، وَأَنَّ ذَلِكَ لَمْ يُدْخِلَهُمْ فِي الإِسْلامِ؛ وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللّهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ﴾ [يونس: 31].

“Kaidah pertama:

Kamu perlu mengetahui bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta dan Pengatur. Namun demikian, hal itu tidaklah menyebabkan mereka masuk ke dalam agama Islam. Dalilnya adalah firman Allah ,

“Katakanlah: ‘Siapa yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati (menghidupkan) dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup (mematikan), dan siapa yang mengatur segala urusan? ‘Maka mereka (kaum musyrikin) akan menjawab: ’Allah’. Maka katakanlah: ’Mengapa kalian tidak bertakwa (kepada-Nya)” (QS. QS. Yunus: 31).

Syarah

Pengakuan mereka akan rububiyah Allah ﷻ menjadi batal dengan perbuatan syirik mereka. Seperti orang-orang Yahudi dan Nasrani ketika ditanya siapa yang menciptakan alam semesta maka mereka akan  menjawab Allah ﷻ. Akan tetapi mereka berbuat kesyirikan. Orang-orang Yahudi mengangkat Uzair sebagai anak Allah ﷻ dan orang-orang Nasrani menyembah Nabi Isa ‘alaihissalam. Keyakinan mereka terhadap rububiyah Allah ﷻ tidak menyebabkan mereka masuk Islam karena mereka melakukan kesyirikan.

Kaidah (1): Orang-Orang Musyrikin Arab Mengakui Rububiyah Allah (Allah Pencipta Dan Pengatur Alam) Akan Tetapi Pengakuan Tersebut Tidak Menjadikan Mereka Muslim.

Dalil-dalilnya:

  1. Pengakuan mereka

Allah ﷻ berfirman,

﴿قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ﴾

“Katakanlah: ‘Siapa yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati (menghidupkan) dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup (mematikan), dan siapa yang mengatur segala urusan? ‘Maka mereka (kaum musyrikin) akan menjawab: ’Allah’. Maka katakanlah: ’Mengapa kalian tidak bertakwa (kepada-Nya)” (QS. QS. Yunus: 31).

Allah ﷻ memerintahkan Rasulullah ﷺ  untuk berdalil dengan rububiyah, “jika kalian mengakui bahwa Allah pencipta maka mengapa kalian berbuat syirik?”

Dalam ayat yang lain Allah ﷻ berfirman,

﴿ وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ﴾

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”.” (QS. Luqman: 25)

Dalam ayat yang lain Allah ﷻ berfirman,

﴿ وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ﴾

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”.” (QS. Az-Zukhruf: 87)

Dalam ayat yang lain Allah ﷻ berfirman,

﴿قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ . سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ . قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ . سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ . قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ . سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ﴾

“Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” (QS. Al-Mu’minun: 84-89)

  1. Dalam kondisi genting mereka ikhlas dalam berdoa kepada Allah ﷻ.

Allah ﷻ berfirman,

﴿ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ ﴾

“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (QS. Al-Ankabut: 65)

Ini adalah fitrah yang mereka miliki. Jangankan orang-orang musyrikin, orang-orang ateis pun dalam kondisi genting mencari Tuhan. Oleh karenanya terdapat pepatah dalam bahasa Inggris yang maknanya “Dalam kondisi genting tidak ada ateis”.

Dalam ayat yang lain Allah ﷻ berfirman,

﴿ وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ . ثُمَّ إِذَا كَشَفَ الضُّرَّ عَنْكُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْكُمْ بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ ﴾

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudaratan itu dari pada kamu, tiba-tiba sebahagian dari pada kamu mempersekutukan Tuhannya dengan (yang lain).” (QS. An-Nahl: 53-54)

Semua ayat-ayat ini menunjukkan bahwasanya mereka mengetahui Allah ﷻ yang mengatur lautan. Ayat-ayat yang semisal ini sangat banyak, dan ini bukanlah karangan Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Oleh karenanya beliau mengatakan, “Pengetahuan tentang syirik bisa didapatkan dengan memahami empat kaidah yang telah Allah sebutkan dalam Kitab-Nya”.

  1. Mereka juga beribadah seperti ibadah haji dan umrah.

Jika kita membaca sirah maka kita akan mendapati mereka melaksanakan ibadah haji, tawaf, umrah setiap tahunnya, dan iktikaf. Akan tetapi, dalam ibadahnya tersebut mereka melakukan syirik dan bidah.

Ibadah mereka berupa iktikaf sebagaimana disebutkan tentang nazar Umar untuk iktikaf ketika Jahiliah. Disebutkan dalam Shahih Bukhari, Umar berkata,

كُنْتُ نَذَرْتُ فِي الجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِي المَسْجِدِ الحَرَامِ، قَالَ: «فَأَوْفِ بِنَذْرِكَ»

“Aku pernah bernazar di zaman jahiliah untuk melakukan iktikaf semalam di Masjidilharam? Rasulullah  menjawab, ‘penuhi nazarmu!’” ([1])

Dalil tentang ibadah haji mereka sangat banyak sekali. Akan tetapi mereka melakukan bidah dalam ibadah haji mereka. Orang-orang musyrik Quraisy wukuf di Muzdalifah (daerah haram) karena mereka menganggap diri mereka adalah orang-orang yang rajin beribadah, sehingga mereka tidak mau keluar ke Arafah (daerah halal). Adapun orang-orang musyrikin selain Quraisy wukufnya di Arafah.

Di antara bidah yang mereka lakukan adalah ketika mereka tawaf adalah mereka melakukannya sambil telanjang. Hal ini dikarenakan mereka menganggap bahwa pakaian yang mereka kenakan penuh maksiat, sehingga tidak pantas melakukan tawaf di hadapan Allah menggunakan pakaian yang pernah dipakai bermaksiat. Akhirnya mereka meminjam pakaian kepada orang-orang Quraisy, jika tidak mendapatinya maka mereka akan membeli baju baru, jika tidak mendapatinya juga maka mereka akan tawaf dalam keadaan telanjang.

Mereka juga bertalbiah, sebagaimana diriwayatkan dalam sahih Muslim ketika tawaf mereka mengucapkan,

لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، قَالَ: فَيَقُولُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَيْلَكُمْ، قَدْ قَدْ» فَيَقُولُونَ: إِلَّا شَرِيكًا هُوَ لَكَ، تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ، يَقُولُونَ هَذَا وَهُمْ يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ

“Aku memenuhi panggilan-Mu wahai Dzat yang tiada sekutu bagi-Mu. Maka Rasulullah bersabda: ‘Celakalah kalian, cukuplah ucapan itu dan jangan diteruskan.’ Tapi mereka meneruskan ucapan mereka, ‘kecuali sekutu bagi-Mu yang Kau kuasai dan ia tidak menguasai.’ Mereka mengatakan ini sedang mereka tawaf di Baitullah.” ([2])

Dari hadis ini kita dapati bahwa mereka dalam kondisi syirik tetap bertalbiah. Ini menunjukkan bahwasanya mereka ketika menyembah berhala tidak meyakini berhala tersebut menciptakan alam semesta. Berhala ini hanyalah sekutu Allah ﷻ yang Allah ﷻ izinkan.

Oleh karenanya selama 13 tahun Rasulullah ﷺ selalu berdakwah, beliau berkata,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، قُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ تُفْلِحُوا

“Wahai manusia sekalian ucapkanlah laa ilaaha illlallah maka kalian akan beruntung.” ([3])

  1. Banyak di antara kaum musyrikin yang bernama Abdullah.

Mereka adalah orang-orang musyrik, bahkan sebagian mereka meninggal dalam kondisi musyrik. Akan tetapi mereka menamakan anak mereka dengan Abdullah, seperti ayahnya Rasulullah ﷺ  yang bernama Abdullah.

  1. Allah ﷻ menyebut kaum musyrik Quraisy beriman.

Allah ﷻ berfirman,

﴿ وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ ﴾

“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf: 106)

Dalam ayat ini Allah ﷻ menamakan mereka beriman juga menamakan mereka dengan syirik. Dalam kitab-kitab Tafsir disebutkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata dalam menafsirkan ayat ini, “Mereka beriman bahwa Allah ﷻ yang mencipta, memberi rezeki, dan lainnya” ([4]). Maksudnya mereka beriman dengan rububiyah Allah ﷻ. Akan tetapi mereka juga berbuat syirik dalam masalah uluhiyah, yaitu selain menyembah Allah ﷻ mereka juga menyembah selain Allah ﷻ. Dari sinilah muncul istilah tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah.

  1. Mereka bersumpah dengan nama Allah ﷻ, bahkan Abu Jahal berdoa kepada Allah ﷻ.

Sebagaimana dalam tafsir firman Allah ﷻ,

﴿إِنْ تَسْتَفْتِحُوا فَقَدْ جَاءَكُمُ الْفَتْحُ وَإِنْ تَنْتَهُوا فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَإِنْ تَعُودُوا نَعُدْ وَلَنْ تُغْنِيَ عَنْكُمْ فِئَتُكُمْ شَيْئًا وَلَوْ كَثُرَتْ وَأَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ﴾

“Jika kamu (orang-orang musyrikin) mencari keputusan, maka telah datang keputusan kepadamu; dan jika kamu berhenti; maka itulah yang lebih baik bagimu; dan jika kamu kembali, niscaya Kami kembali (pula); dan angkatan perangmu sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sesuatu bahaya pun, biarpun dia banyak dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anfal: 19)

Ayat ini berkaitan dengan doa Abu Jahal pada perang Badar, dia berdoa,

اللَّهُمَّ أَقْطَعنا لِلرَّحِمِ، وَآتَانَا بِمَا لَا نَعْرِفُ، فَأَحِنْهُ لِلْغَدَاةِ

“Ya Allah! siapakah di antara kami yang paling memutuskan silaturahmi dan mendatangkan sesuatu yang tidak kami kenal maka binasakanlah dia di waktu pagi.” ([5])

Abu Jahal berdoa kepada Allah ﷻ sebelum perang Badar dan doanya dikabulkan oleh Allah ﷻ dengan dibinasakan dirinya. Hal ini dikarenakan dialah yang menghancurkan silaturahmi dan menolak kebaikan yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ untuk kembali kepada agama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Di dalam buku-buku sejarah banyak sekali disebutkan bahwa orang-orang musyrik bersumpah dengan nama Allah ﷻ.

  1. Kisah Abdul Mutthalib dengan Raja Abrahah

Ketika Raja Abrahah datang ke kota Makkah, dia mengambil unta-unta Abdul Mutthalib sebanyak 200 ekor. Lalu Abdul Mutthalib datang menemui Raja Abrahah. Abdul Mutthalib adalah orang yang memiliki karismatik, sehingga ketika Raja Abrahah melihatnya maka dia pun duduk dari singgasananya untuk duduk bersama Abdul Mutthalib. Raja Abrahah pun bertanya tentang tujuannya datang menemuinya, maka Abdul Mutthalib menjawab bahwa tujuannya adalah agar Raja Abrahah  mengembalikan unta-untanya. Maka Raja Abrahah pun terheran, dia menyangka kedatangan Abdul Mutthalib untuk membela agama dan menjaga Ka’bah, ternyata dia datang hanya untuk menanyakan untanya. Namun, Abdul Mutthalib menjawab dengan jawaban yang mengagumkan,

إِنِّي أَنَا رَبُّ الْإِبِلِ، وَإِنَّ لِلْبَيْتِ رَبًّا سَيَمْنَعُهُ

“Aku adalah pemilik unta, adapun Ka’bah ada Tuhan yang akan mencegahmu dari menghancurkannya.” ([6])

Ini semua dalil yang menunjukkan bahwa mereka mengenal Allah ﷻ. Rahasia mereka mengenal Allah ﷻ adalah karena mereka orang Quraisy, dan nenek moyang Quraisy adalah Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim ‘alaihimassalam. Keduanyalah yang membangun Ka’bah. Oleh karenanya mereka sangat mengagungkan Ka’bah.

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Qawaidul Arba’ Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________

([1]) HR. Bukhari No. 2032.

([2]) HR. Muslim No. 1185.

([3]) HR. Ahmad No. 16603, dikatakan oleh al-Arnauth sanadnya sahih.

([4]) Lihat: Tafsir ath-Thabari (16/286).

([5]) Lihat: Tafsir ath-Thabari (11/94).

([6]) Lihat: Tafsir ath-Thabari (24/162).