Syarah 4 Kaidah Penting Memahami Tauhid شَرْحُ الْقَوَاعِدِ الأَرْبَعِ – Prolog dan Mukadimah

شَرْحُ الْقَوَاعِدِ الأَرْبَعِ

(Syarah 4 Kaidah Penting Memahami Tauhid)

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

PROLOG :

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas suatu risalah karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah yang berjudul al-Qawa’id al-Arba’ (empat kaidah). Kitab ini adalah kelanjutan dari kitab al-Ushul ats-Tsalatsah, yang berkaitan dengan empat kaidah penting tentang tauhid. Buku ini merupakan mukadimah sebelum seseorang mempelajari kitab Tauhid.

Empat kaidah ini berkaitan dengan hakikat syirik yang terjadi di zaman Nabi Muhammad ﷺ di kalangan kaum musyrikin Arab.

Di antara faedah dari mempelajari kitab atau risalah semisal ini adalah menyusun ilmu kita secara teratur. Untuk mendalami suatu disiplin ilmu tertentu maka kita perlu belajar secara teratur dari satu kitab ke kitab lainnya, hal ini bisa membuat ilmu kita lebih mendalam. Oleh karenanya, seseorang yang hanya mengikuti kajian secara tematik maka dia hanya mendapati potongan-potongan ilmu secara global, dan untuk memahaminya secara terperinci maka dia butuh mempelajari kajian-kajian kitab secara tertib dan teratur. Dengan demikian, orang yang telah lama mempelajari ilmu secara tertib dan teratur maka dia akan memiliki pola pikir yang baik yang mungkin bisa dia sampaikan kepada orang lain.

Kajian secara tematik memang penting, akan tetapi ilmu yang didapati dari kajian tematik tidak tertata dengan baik. Sehingga penulis menganjurkan kepada para pembaca untuk menggabungkan kajian tematik dan kajian bersambung.

Al-Qawa’id al-Arba’ adalah risalah tipis yang berisi tentang empat kaidah yang perlu kita ketahui. Penulis berharap pembaca bisa memahami  risalah ini secara global karena ini penting dalam memahami tauhid.

Risalah ini bertujuan untuk menjelaskan hakikat tauhid yang sesungguhnya. Karena tidak memahami hakikat tauhid dapat menyebabkan seseorang terjerumus ke dalam kesyirikan sedangkan dia tidak merasa. Sehingga perlu bagi kita untuk mengetahui perbedaan hakikat tauhid dan syirik.

الْقَوَاعِدُ الأَرْبَعُ (Empat Kaidah Dasar Dalam Memahami Tauhid)

Pertama: Mukadimah.

  1. Tujuan kita diciptakan, yaitu untuk beribadah kepada Allah ﷻ. Ini adalah hakikat agama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang kita diperintahkan untuk mengikutinya.
  2. Ibadah syaratnya adalah tauhid, dan bisa batal dengan kesyirikan, sebagaimana salat syaratnya adalah taharah, dan bisa batal dengan hadas.

Kedua: Isi (empat kaidah).

  1. Kaum musyrikin mengakui rububiyah Allah ﷻ, yaitu mengakui Allah ﷻ ada, Allah ﷻ Esa dalam mencipta, Allah ﷻ memberi rezeki, dan lainnya.
  2. Hakikat kesyirikan mereka adalah menjadikan sembahan mereka sebagai:
  • Pemberi syafaat bagi mereka di sisi Allah ﷻ.
  • Perantara untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah ﷻ.
  1. Model kesyirikan kaum musyrikin di zaman Nabi Muhammad ﷺ diutus sangat banyak.

Ada yang menyembah malaikat, nabi, orang-orang saleh, batu, pohon,  jin, matahari, dan rembulan. Jangan sampai disangka model kesyirikan mereka hanya satu, yaitu menyembah berhala saja. Lebih dari itu, mereka menyembah berhala pun hanya sebagai simbol dari orang saleh.

  1. Sebagian orang musyrik di zaman sekarang lebih parah dari kaum musyrikin di zaman Nabi Muhammad ﷺ. Hal ini ditinjau ketika mereka dalam keadaan genting, orang-orang musyrik di zaman sekarang tetap melakukan kesyirikan dalam keadaan genting. Adapun kaum musyrikin Arab dalam keadaan genting mereka bertauhid.

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

أَسْأَلُ اللهَ الْكَرِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَتَوَلاكَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأَنْ يَجْعَلَكَ مُبَارَكًا أَيْنَمَا كُنْتَ، وَأَنْ يَجْعَلَكَ مِمَّنْ إِذَا أُعْطِيَ شَكَرَ، وَإِذَا ابْتُلِيَ صَبَرَ، وَإِذَا أذَنبَ اسْتَغْفَرَ. فَإِنَّ هَؤُلاءِ الثَّلاثَ عُنْوَانُ السَّعَادَةِ.

“bismillahirrahmanirrahim

Aku memohon kepada Allah Yang Maha Mulia Pemilik arasy yang agung untuk menolongmu di dunia dan akhirat, agar Allah menjadikanmu berkah di mana pun dirimu berada, dan agar Allah menjadikanmu (para pembaca) termasuk orang-orang yang jika diberikan kenikmatan bersyukur, jika diberikan ujian bersabar, dan jika berdosa dia beristigfar, karena tiga perkara ini merupakan tanda-tanda kebahagiaan.”

Syarah

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah membuka risalahnya dengan mendoakan para pembaca. Hal ini agar para pembaca tahu bahwa niat dari Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah adalah baik, yaitu agar para pembaca tidak salah dalam memahami tauhid dan tidak terjerumus ke dalam kesyirikan. Betapa banyak orang yang terjerumus ke dalam kesyirikan disebabkan mereka tidak mengetahui hakikat kesyirikan orang-orang Arab Jahiliah dahulu. Mereka menyangka bahwa orang-orang Arab Jahiliah dahulu hanya menyembah batu yang dianggap sebagai pencipta, padahal tidak demikian. Ternyata, orang-orang Arab Jahiliah mengenal Allah ﷻ, mengakui Allah ﷻ adalah Pencipta, melakukan ibadah haji dan umrah, dan mereka menjadikan berhala hanya sebagai simbol dari orang saleh. Ketika kita mengetahui hakikat kesyirikan zaman dahulu maka akan lebih mudah bagi kita untuk merealisasikan tauhid dan menghindari kesyirikan.

Terdapat tiga doa yang dipanjatkan Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah untuk para pembaca:

Pertama: Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mendoakan agar Allah ﷻ menolong kita di dunia dan akhirat dan mengurus urusan kita. Karena barang siapa yang dipegang urusannya oleh Allah ﷻ maka urusannya akan mudah. Di antara doa Nabi Muhammad ﷺ,

اَللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah, rahmat-Mu yang aku harapkan, maka jangan Engkau serahkan urusanku kepada diriku meskipun sekejap mata (tanpa pertolongan atau rahmat dari-Mu). Perbaikilah seluruh urusanku, tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Engkau.” ([1])

Kedua: Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mendoakan para pembaca agar menjadi orang yang berkah. Seseorang dikatakan berkah jika di mana pun dia berada, waktunya bermanfaat dan tidak ada waktu yang terbuang-buang, sehingga dia senantiasa memberikan manfaat untuk dirinya mau pun orang lain. Oleh karenanya, Nabi Isa ‘alaihissalam menyebutkan di antara anugerah yang Allah ﷻ berikan kepadanya ketika beliau masih kecil adalah Allah ﷻ menjadikannya berkah,

﴿ وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ ﴾

“dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada.” (QS. Maryam: 31)

Banyak Ahli tafsir mengatakan bahwa Allah ﷻ menjadikan Nabi Isa ‘alaihissalam sebagai mualim (pengajar) ([2]). Jika kita buka Injil, maka kita akan sering dapati Nabi Isa ‘alaihissalam disebutkan sebagai guru([3]). Nabi Isa ‘alaihissalam, di mana pun dia berada maka dia selalu menyampaikan kebaikan, sehingga dia selalu membawa keberkahan bagi orang-orang di sekitarnya.  Oleh karenanya, guru-guru kita seperti Syekh Abdurrazzaq hafizhahullah ta’ala, beliau selalu menyempatkan menyampaikan ilmu meskipun yang mendengar hanya sedikit. Tidak ada waktu yang berlalu begitu saja tanpa ada nasihat.

Ketika seseorang diberkahi oleh Allah ﷻ maka dia akan diberkahi dalam banyak urusan, hartanya akan menjadi berkah, umurnya menjadi berkah, waktunya menjadi berkah, pandangan menjadi berkah, pendengaran menjadi berkah, ucapannya menjadi berkah, dan lain-lain.

Oleh karenanya, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mendoakan kita dengan doa yang sangat penting ini, yaitu menjadikan kita berkah.

Demikian juga diri kita, di mana pun kita berada hendaknya kita berusaha menjadi orang yang berkah. Maksudnya keberadaan kita selalu mendatangkan manfaat bagi orang-orang di sekitar kita. Rasulullah ﷺ  menyamakan keberkahan seorang mukmin seperti sebuah pohon, Rasulullah ﷺ  bersabda,

«إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ لَمَا بَرَكَتُهُ كَبَرَكَةِ المُسْلِمِ»….«هِيَ النَّخْلَةُ»

“Sesungguhnya terdapat satu pohon, keberkahannya seperti bekahnya seorang muslim….ia adalah pohon kurma” ([4])

Para ulama mengatakan bahwa pohon kurma dari ujung akar hingga ujung daunnya memberikan manfaat. Tidak ada satu pun bagian dari pohon kurma yang terbuang. Demikianlah seorang mukmin, dia bermanfaat untuk siapa pun dan di mana pun berada. Sehingga kehadirannya dirindukan banyak orang, hal ini dikarenakan dia selalu membawa kebahagiaan kepada orang  lain.

Ini merupakan doa yang luar biasa dari Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Kenyataan yang ada, sebagian kaum muslimin tidak membawa keberkahan di sebagian waktunya sehingga selalu menimbulkan kegaduhan di tempatnya. Kita ingin agar kita menjadi orang berkah, membawa manfaat, kedamaian, mengajarkan umat, dan memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain.

Ketiga: Di antara doanya rahimahullah adalah,

“semoga Allah menjadikanmu (para pembaca) termasuk orang-orang yang (1) jika diberikan kenikmatan bersyukur, (2) jika diberikan ujian bersabar, dan (3) jika berdosa dia beristigfar.”

Seseorang yang tidak keluar dari tiga kondisi ini maka dia adalah orang yang bahagia. Hal ini dikarenakan manusia hanya menghadapi tiga kondisi ini: diberi kenikmatan maka hendaknya bersyukur, diberi ujian maka hendaknya bersabar, dan jika bermaksiat maka hendaknya beristigfar. Selama seseorang berputar dalam tiga kondisi ini maka dia adalah manusia yang bahagia. Oleh karenanya beliau berkata, “karena tiga perkara ini merupakan tanda-tanda kebahagiaan”. Ketika kita diberikan nikmat apa pun maka jangan ragu untuk mengucapkan alhamdulillah. Rasulullah ﷺ  bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ يَأْكُلُ الْأَكْلَةَ، أَوْ يَشْرَبُ الشَّرْبَةَ يَحْمَدُهُ عَلَيْهَا

“Sesungguhnya Allah rida terhadap seorang hamba jika dia memakan suatu makanan atau meminum suatu minuman kemudian dia memuji atasnya.” ([5])

Jika dalam kenikmatan makanan dan minuman dia mampu untuk memuji Allah ﷻ, maka terlebih lagi dalam kenikmatan yang lain.

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,

اعْلَمْ أَرْشَدَكَ اللهُ لِطَاعَتِهِ: أَنَّ الْحَنِيفِيَّةَ مِلَّةُ إِبْرَاهِيمَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ، وَحْدَهُ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ،وَبِذَلِكَ أَمَرَ اللهُ جَمِيْعَ النَّاس وَخَلَقَهُمْ لَهَا، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ ﴾.

“Ketahuilah, semoga Allah membimbingmu agar bisa menaati Allah , sesungguhnya Hanifiyah agama Ibrahim adalah kamu menyembah Allah semata dengan mengikhlaskan niat seluruh agama untuk Allah , dengan itulah Allah memerintahkan seluruh manusia dan Allah menciptakan manusia untuk menyembah-Nya semata. Sebagaimana Allah berfirman,

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)”

Syarah

Pada mukadimah pertama ini Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah ingin menjelaskan tujuan kita diciptakan, yaitu sebagaimana yang diajarkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Al-Hanifiyah dalam bahasa Arab bermakna kecondongan atau miring. Seperti orang yang memiliki kaki miring maka dia disebut sebagai hanif. Sebagian ulama mengatakan bahwa hanif bermakna miring bukan bermakna lurus, maksudnya miring kepada tauhid dan jauh dari kesyirikan. Oleh karenanya, kita dapati Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah orang yang sangat keras terhadap kesyirikan, dan dia juga sangat takut akan terjatuh ke dalam kesyirikan.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah nenek moyang Nabi Muhammad ﷺ, karena Nabi Muhammad ﷺ adalah keturunan Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim ‘alaihimassalam. Allah ﷻ menyifati Nabi Ibrahim dengan banyak pujian, Allah ﷻ berfirman,

﴿إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ . شَاكِرًا لِأَنْعُمِهِ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ . وَآتَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ . ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ﴾

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. An-Nahl: 120-123)

Di dalam surah An-Nahl ini Allah ﷻ memerintahkan Rasulullah ﷺ  untuk mengikuti ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Demikian juga Allah ﷻ memerintahkan kita untuk mengikuti ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Allah ﷻ berfirman,

﴿ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ﴾

“Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Ali Imran: 95)

Mengapa Allah ﷻ mengulang-ulang penyebutan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan memerintahkan Rasulullah ﷺ  untuk mengikuti ajarannya?

Pertama: Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah nenek moyang dari Quraisy, Nasrani, dan Yahudi. Semuanya sangat memuliakan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memiliki anak yang bernama Nabi Ishaq dan Nabi Isma’il. Di antara keturunan Nabi Ismail adalah Quraisy, adapun di antara Nabi Ishaq adalah Nabi Ya’qub, dan seluruh keturunan Bani Israil adalah keturunan Ya’qub. Sehingga semuanya berujung kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Kedua: Karena hakikat agama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah tauhid dan jauh dari syirik. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak seperti Yahudi, Nasrani, atau orang-orang musyrikin. Allah ﷻ berfirman,

﴿ مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴾

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67)

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga menentang kesyirikan. Beliau berdakwah kepada dua model kaum, pertama: kaum yang menyembah benda-benda bumi seperti patung dan berhala yang berada di Babel, kedua: kaum yang melakukan kesyirikan dengan menyembah benda-benda langit yang berada di Syam. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mendebat kedua kaum ini, ketika beliau menghancurkan patung-patung, maka orang-orang bertanya,

﴿ قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ . قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ ﴾

“Mereka bertanya: “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?” Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”.” (QS. Al-Anbiya’: 62-63)

Begitu juga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berdialog dengan para penyembah matahari, rembulan, dan bintang. Sebagaimana Allah ﷻ sebutkan dalam surah Al-An’am,

﴿فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ . فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ . فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ﴾

“Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam” Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat”. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Al-An’am: 76-78)

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika berdakwah di negeri Babel atau pun di negeri Syam dia hanya seorang diri. Oleh karenanya ketika beliau dan Sarah (istrinya) melewati Mesir, beliau berkata kepada istrinya,

إِنَّ هَذَا الْجَبَّارَ، إِنْ يَعْلَمْ أَنَّكِ امْرَأَتِي يَغْلِبْنِي عَلَيْكِ، فَإِنْ سَأَلَكِ فَأَخْبِرِيهِ أَنَّكِ أُخْتِي، فَإِنَّكِ أُخْتِي فِي الْإِسْلَامِ، فَإِنِّي لَا أَعْلَمُ فِي الْأَرْضِ مُسْلِمًا غَيْرِي وَغَيْرَكِ

“Sesungguhnya Raja yang sewenang-wenang ini, jika dia mengetahui kamu adalah istriku maka dia akan merebutmu dariku. Seandainya dia bertanya kepadamu, maka katakanlah kamu adalah saudariku, sesungguhnya kamu adalah saudariku dalam Islam. Sungguh aku tidak mengetahui di muka bumi ini yang muslim kecuali diriku dan dirimu.”  ([6])

Meskipun dia sendiri, akan tetapi dia tidak peduli, dia tetap mendakwahkan tauhid walaupun penduduk negeri seluruhnya dalam keadaan musyrik. Inilah hakikat ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang agama kita mengikuti ajarannya.

Oleh karenanya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah membawakan mukadimah yang indah dengan menampilkan sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sebelum membicarakan hakikat kesyirikan orang-orang musyrikin.

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,

فَإِذَا عَرَفْتَ أَنَّ اللهَ خَلَقَكَ لِعِبَادَتِهِ؛ فَاعْلَمْ أَنَّ الْعِبَادَةَ لا تُسَمَّى عِبَادَةً إِلا مَعَ التَّوْحِيدِ، كَمَا أَنَّ الصَّلاةَ لا تُسَمَّى صَلاةً إِلا مَعَ الطَّهَارَةِ، فَإِذَا دَخَلَ الشِّرْكُ فِي الْعِبَادَةِ فَسَدَتْ، كَالْحَدَثِ إِذَا دَخَلَ فِي الطَّهَاَرِة، فَإِذَا عَرَفْتَ أَنَّ الشِّرْكَ إِذَا خَالَطَ الْعِبَادَةِ أَفْسَدَهَا، وَأَحْبَطَ الْعَمَلَ، وَصَاَر صَاحِبُهُ، مِنَ الْخَالِدِينَ فِي النَّارِ. عَرَفْتَ أَنَّ أَهَمَّ مَا عَلَيْكَ مَعْرِفَةُ ذَلِكَ لَعَلَّ اللهَ أَنْ يُخَلِّصَكَ مِنْ هَذِهِ الشَّبَكَةِ، وَهِيَ الشِّرْكُ بِاللهِ الَّذِي قَالَ الله تَعَالَى فِيهِ: ﴿ إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ ﴾ [النساء: 116]. وَذَلِكَ بِمَعْرِفَةِ أَرْبَعِ قَوَاعِدَ ذَكَرَهَا اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ.

“Jika kamu telah mengetahui bahwa Allah menciptakanmu untuk beribadah kepada-Nya, maka ketauhilah bahwa ibadah tidaklah dikatakan sebagai ibadah kecuali jika disertai tauhid. Sebagaimana salat, tidaklah dikatakan sebagai salat kecuali jika disertai dengan bersuci. Oleh karena itulah, jika syirik mencampuri ibadah, maka rusaklah ibadah itu, sebagaimana hadas bila mencampuri kesucian. Jika kamu sudah mengetahui kalau syirik bercampur dengan ibadah, maka akan merusaknya, menyebabkan gugurnya semua amalan pelakunya dan menyebabkan pelakunya (syirik akbar) menjadi orang yang kekal di dalam Neraka, tentulah kamu akan mengetahui bahwa perkara yang paling penting bagimu adalah mengetahui masalah kesyirikan ini, semoga dengannya Allah menyelamatkanmu dari jaring kesyirikan ini, yaitu kesyirikan kepada Allah, yang Allah telah berfirman tentangnya,

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang berada di bawah (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS.An-Nisaa`: 116).

Pengetahuan tentang syirik bisa didapatkan dengan memahami empat kaidah yang telah Allah sebutkan dalam Kitab-Nya.”

Syarah

Dalam mukadimah kedua ini Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah ingin menjelaskan beberapa hal:

  • Amal hanya sah dengan tauhid sebagaimana salat hanya sah dengan taharah.
  • Amal menjadi gugur jika dicampur dengan syirik sebagaimana salat tidak sah taharahnya jika tercampuri hadas.

Ini adalah logika antara salat dan ibadah yang ingin disampaikan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Salat dan ibadah memiliki syarat dan pembatal. Syarat salat adalah taharah dan syarat ibadah adalah tauhid. Adapun pembatal ibadah adalah syirik sedangkan pembatal salat adalah hadas. Oleh karenanya beliau mengatakan,

“Ibadah tidaklah dikatakan sebagai ibadah kecuali jika disertai tauhid. Sebagaimana salat, tidaklah dikatakan sebagai salat kecuali jika disertai dengan bersuci. Oleh karena itulah, jika syirik mencampuri ibadah, maka rusaklah ibadah itu, sebagaimana hadas bila mencampuri kesucian.”

Kita diperintahkan untuk beribadah kepada Allah ﷻ sebagaimana yang Allah ﷻ firmankan,

﴿ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ ﴾

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)”

Akan tetapi, ibadah ini memiliki syarat yaitu tauhid. Jika seseorang beribadah tanpa tauhid maka tidak akan diterima ibadahnya. Sebagaimana keadaan orang-orang musyrikin yang tertolak ibadahnya, Allah ﷻ berfirman,

وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ

“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. At-Taubah: 54)

Amal saleh tidak mungkin diterima kecuali disertai tauhid, jika tauhid tersebut tercampur kesyirikan maka amal saleh tersebut menjadi gugur. Dalilnya adalah firman Allah ﷻ,

﴿وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ، بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ﴾

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”.” (QS. Az-Zumar: 65-66)

Dalam ayat ini sangat jelas bahwa jika suatu amal tercampur dengan syirik maka seluruh amal tersebut menjadi gugur. Ini menunjukkan bahwa syirik penghalang dari diterimanya amal sebagaimana hadas menjadi penghalang dari diterimanya salat. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

لاَ يَقْبَلُ اللَّهُ صَلاَةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Allah tidak menerima salat salah seorang dari kalian jika berhadas hingga ia berwudu.” ([7])

Dalam ayat yang lain Allah ﷻ berfirman,

﴿وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا﴾

“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)

Ini adalah kondisi orang-orang kafir di hari kiamat, Allah ﷻ menjadikan amalan mereka seperti debu-debu yang beterbangan. Amalan mereka tidak berfaedah sama sekali karena tercampur dengan kesyirikan. Oleh karenanya, mau tidak mau kita harus mengenal hakikat kesyirikan. Untuk mengenal hakikat kesyirikan maka kita harus mengenal empat kaidah di dalam Al-Qur’an.

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Qawaidul Arba’ Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________

([1]) HR. Abu Dawud No. 5090 dan Al-Albani mengatakan sanad hadis ini hasan.

([2]) Lihat: Tafsir al-Baghawi (3/233).

([3]) Lihat: Matius (7:28-29).

([4]) HR. Bukhari No. 5444.

([5]) HR. Nasai, Amal al-Yaum wa al-Lailah No. 486.

([6]) HR. Muslim No. 2371.

([7]) HR. Bukhari No. 6954 dan Muslim No. 225.