Pokok Pertama : Mengenal Allah – Syarh al-Ushul Ats-Tsalatsah

الأَصْلُ الأَوَّلُ : مَعْرِفَةُ اللهِ

(Pokok Pertama : Mengenal Allah)

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

 Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah berkata :

فَإِذَا قِيلَ لَكَ: مَنْ رَبُّكَ؟ فَقُلْ: رَبِّيَ اللهُ الَّذِي رَبَّانِي، وَرَبَّى جَمِيعَ الْعَالَمِينَ بِنِعَمِهِ

“Apabila ditanyakan kepadamu, ‘Siapa Tuhanmu?’ Maka jawablah, ‘Tuhanku adalah Allah yang telah mentarbiyahku dan seluruh alam semesta dengan nikmat-nikmat-Nya.”

Syarah:

الرَّبُّ di dalam bahasa Arab berasal dari الرُّبُوْبِيَّةُ (ar-rububiyah) yang maknanya kembali kepada sifat rububiyah Allah ﷻ, yaitu menciptakan, memiliki/menguasai, dan mengatur seluruh alam semesta.([1])

Oleh karena itu, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menggunakan kata tarbiah untuk menjelaskan sifat Allah ﷻ berkaitan dengan pengurusannya terhadap makhluk, sebab tarbiah merupakan salah satu di antara makna Rabb.

Adapun makna tarbiah secara bahasa Indonesia adalah memelihara dan mengurusi. Sebagaimana kita tahu, jika dikatakan kita menarbiah anak, maka maknanya adalah kita memeliharanya sejak kecil, seluruh kebutuhannya akan kita penuhi dan serta kita ayomi.

Demikian pula Allah ﷻ. Allah ﷻ menarbiah kita artinya Allah ﷻ yang mengurusi kita, mulai dari menciptakan kita dari tidak ada menjadi ada, kemudian Allah ﷻ memberikan segala kebutuhan yang kita perlukan, Allah ﷻ juga memberikan nikmat-nikmat yang begitu besar nan melimpah seperti kita dapat melihat, mendengar, berpikir, dan yang lainnya.

Tidak cukup sampai di situ, tarbiah Allah ﷻ tersebut tidak hanya berlaku pada kita saja, namun berlaku pada seluruh makhluk yang ada di alam semesta.

 

Matan:

وَهُوَ مَعْبُودِي لَيْسَ لِي مَعْبُودٌ سِوَاهُ؛ وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: الْحَمْدُ للَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَكُلُّ مَنْ سِوَى اللهِ عَالَمٌ، وَأَنَا وَاحِدٌ مِنْ ذَلِكَ الْعَالَمِ.

“Dia adalah sesembahanku. Aku tidak memiliki sesembahan selain Dia. Dalilnya adalah firman Allah (yang artinya), ‘Segala puji milik Allah tuhan semesta alam’. (QS. Al-Fatihah: 2) Segala sesuatu selain Allah adalah alam (makhluk).”

Syarah:

Tauhid rububiyah adalah meyakini bahwa hanya Allah ﷺ lah yang menciptakan, memiliki, dan mengatur seluruh alam semesta. Adapun tauhid uluhuiyah adalah beribadah hanya kepada Allah ﷻ semata.

Karena Allah ﷺ yang menciptakan, memiliki, dan mengatur seluruh alam semesta, maka Allah ﷻ saja lah yang berhak disembah. Para ulama menyebutnya dengan ungkapan, “Tauhid rububiyah membawa konsekuensi tauhid uluhiyah”.

Hal ini merupakan perkara yang sangat logis. Jika saja yang mengandung, menyusui, mengurusi kita hingga dewasa adalah ibu kandung kita, maka dialah yang berhak untuk kita berbakti kepadanya, bukan kepada ibu-ibu yang lain. Begitu juga halnya, seorang wanita yang kita lamar dan nikahi dengan memberikannya mahar, kemudian memberinya nafkah, segala kebutuhannya, bahkan hadiah, dan yang lainnya, lantas ia berbakti dan melayani lelaki lain, maka tentu wanita tersebut telah berperilaku kurang ajar.

Begitulah Allah ﷻ, karena Dia adalah satu-satunya yang menciptakan kita, maka Dia saja lah yang berhak kita sembah. Jika saja ada pencipta dan pengatur selain Allah ﷻ, baik itu para malaikat, para nabi, para jin, para wali, maka tentunya mereka berhak untuk kita sembah. Namun kenyataannya tidak demikian, hanya Allah ﷻ lah satu-satunya pencipta alam semesta, tidak ada campur tangan selain-Nya.

Karena itu, orang-orang yang melakukan kesyirikan dengan menyembah penghuni kubur merupakan orang-orang yang tidak menggunakan akal sehatnya. Bagaimana mungkin mereka meminta, bahkan sampai menangis-nangis meminta kepada penghuni kubur sedang penghuni kubur tersebut tidak bisa berbuat apa-apa. Jika saja para penghuni kubur tersebut saat masih hidup tidak boleh kita sembah, apalagi setelah mati yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Jangankan para penghuni kubur, para malaikat pun yang diperintahkan oleh Allah untuk mengatur sebagian alam semesta tidak boleh kita sembah.

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah kemudian mendatangkan dalil bahwasanya Allah ﷻ adalah Rabb seluruh alam semesta, yaitu firman Allah ﷻ,

﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾

“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Fatihah: 2)

Disebutkan pada ayat ﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ﴾  “Segala puji bagi Allah ﷻ”. Artinya, yang benar-benar berhak untuk dipuji hanya Allah ﷻ, dan yang benar-benar berhak untuk dipuji dari segala sisi hanyalah Allah ﷻ.([2])

Adapun selain Allah ﷻ (makhluk) hanya dapat dipuji karena bisa melakukan ini dan itu, sementara yang bisa membuat mereka melakukan ini dan itu adalah Allah ﷻ. Jadi harusnya yang berhak untuk mendapatkan pujian adalah Allah ﷻ, sebab Allah ﷻ lah yang menciptakan mereka. Karenanya, jika kita kagum melihat sesuatu, kita disyariatkan untuk mengucapkan “Masyaallah Tabarakallah”.

Selain itu juga, selain Allah ﷻ yang kita puji pasti memiliki kekurangan dari sisi yang lain. Berbeda dengan Allah ﷻ, Allah ﷻ sempurna sehingga berhak dipuji dari segala sisi.

Disebutkan juga pada ayat ﴿رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾ “Tuhan semesta alam”. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa Rabb adalah penguasa. Adapun الْعَالَمِينَ maknanya adalah semua selain Allah ﷻ, sebagaimana penjelasan Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah di atas.

فَإِذَا قِيلَ لَكَ: بِمَ عَرَفْتَ رَبَّكَ؟ فَقُلْ: بِآيَاتِهِ وَمَخْلُوقَاتِهِ، وَمِنْ آيَاتِهِ: اللَّيْلُ، وَالنَّهَارُ، وَالشَّمْسُ، وَالْقَمَرُ، وَمِنْ مَخْلُوقَاتِهِ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأَرَضُونَ السَّبْعُ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَمَا بَيْنَهُمَا؛ وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لاَ تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلاَ لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ﴾. وَقَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ﴾

“Jika ditanyakan kepadamu, ‘Dengan apa engkau mengenal Tuhanmu?’ Maka jawablah, ‘Dengan ayat-ayat-Nya dan makhluk-makhluk-Nya. Di antara tanda adanya Allah dari ayat-ayatnya adalah malam, siang, matahari, dan bulan. Di antara tanda adanya Allah dari makhluk-makhluk-Nya adalah tujuh lapis langit, tujuh lapis bumi, dan apa yang ada di antara keduanya. Dalilnya adalah firman Allah: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kalian sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, jika kalian benar-benar beribadah kepada-Nya (QS. Fusshilat: 37). Juga firman Allah: Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ketahuilah bahwa bagi Allah segala penciptaan dan segala perintah, Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam (QS. Al-A’raf: 54)’.”

Syarah

            Dalil-dalil atau ayat-ayat yang disebutkan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, jika kita membahasnya secara panjang lebar, maka ayat-ayat tersebut akan menunjukkan tentang adanya Tuhan. Pembahasan panjang lebar tentang ini telah penulis bahas dalam beberapa pengajian penulis, serta bantahan terhadap orang-orang Ateis.

Salah satu tanda yang menunjukkan adanya Tuhan adalah teraturnya matahari dan bulan. Hal ini menunjukkan adanya Tuhan, karena matahari dan bulan tidak terjadi dengan sendirinya. Buktinya, kita melihat adanya tanggalan, kita bisa mengetahui gerhana matahari ataupun gerhana bulan, kita bisa mengetahui jadwal perubahan musim, itu semua menunjukkan bahwa matahari dan bulan memiliki sistem peredaran yang teratur dan tidak berubah.

Jika sekiranya matahari atau bulan bukan makhluk, melainkan Tuhan, maka seharusnya masing-masing memiliki kehendak, namun kita sama-sama tahu bahwa matahari dan bulan tidak bisa berkehendak, bahkan keduanyalah yang dikehendaki dan diatur sehingga tidak bisa keluar dari orbitnya, Allah ﷻ berfirman,

﴿لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ﴾

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yasin: 40)

Maka, sudah sangat jelas bahwa yang mengatur matahari dan bulan adalah penciptanya, pencipta seluruh alam semesta.

Logika sederhana, sebagaimana kisah tentang orang-orang Ateis dan Abu Hanifah rahimahullah. Orang-orang Ateis tersebut berdialog dengan Abu Hanifah tentang adanya Tuhan atau tidak. Maka Abu Hanifah berkata bahwa renungkanlah tentang sebuah kapal yang bersandar di sungai Dajlah, kemudian barang dari kapal tersebut turun dengan sendirinya, tanpa ada awak kapal yang mengangkutnya, kemudian naik pula barang-barang yang baru tanpa ada awak kapal yang mengangkutnya, kemudian kapal tersebut berlabuh ke pelabuhan berikutnya, apakah itu bisa terjadi? Orang-orang Ateis pun mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin terjadi. Maka Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa jika kapal saja yang kecil tidak bisa beroperasi dengan sendirinya, maka bagaimana lagi dengan alam semesta yang teratur dengan aturannya.([3])

Dialog yang terjadi antara Abu Hanifah dan orang-orang Ateis adalah salah satu dalil di antara sekian banyak dalil yang menunjukkan adanya Tuhan. Namun, kita tidak bisa membahas hal ini panjang lebar, karena pembahasan ini telah penulis bahas dalam kajian penulis tentang dalil-dalil adanya Tuhan([4]).

وَالرَّبُ هُوَ الْمَعْبُودُ، وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ، الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَآء بِنَآءً وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَّكُمْ فَلاَ تَجْعَلُواْ لِلّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ﴾

“Dan Rabb (pengatur alam semesta ini), Dialah satu-satunya yang berhak disembah. Adapun dalilnya adalah firman Allah, ‘Wahai manusia, sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui’ (QS. Al-Baqarah: 21-22).”

Syarah

Fokus pembahasan kita di sini adalah bukan hanya sekadar penegasan bahwa Allah ﷻ yang menciptakan alam semesta ini, namun juga untuk menegaskan bahwa Allah ﷻ juga mengatur alam semesta. Segala hukum yang berlaku secara hukum adalah hukum-Nya, dan segala perintah yang berlaku adalah perintah-Nya, sehingga Allah ﷻ-lah yang berhak untuk disembah sebagaimana dalil yang dibawakan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Kita sebagai manusia diciptakan oleh Allah ﷻ, maka sudah sepantasnya Allah ﷻ kita sembah. Jika sekiranya ada selain Allah ﷻ yang bersama-Nya dalam menciptakan manusia, maka tentu dia juga berhak di sembah. Misalnya, jika sekiranya ada tiga Tuhan yang menciptakan kita, maka kita punya hak untuk menyembah ketiga Tuhan tersebut, dan ketiga Tuhan tersebut berhak untuk disembah. Namun, yang menciptakan kita hanyalah Allah ﷻ semata, tidak ada yang bersama dengan Allah ﷻ dalam menciptakan kita. Maka dari itu, Allah ﷻ mengingatkan kita untuk hanya menyembah-Nya.

Pada dalil yang Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah bawakan di atas, menunjukkan bahwasanya Allah ﷻ tidak hanya menciptakan manusia seluruhnya, akan tetapi Allah ﷻ juga menciptakan seluruh sarana prasarana bagi manusia. Sarana prasarana tersebut berupa bumi dengan hamparannya, sungai-sungai yang mengalir, laut yang begitu luasnya, pepohonan yang indah, dan sarana prasarana lainnya yang sesuai dengan kebutuhan manusia. Tidak hanya bumi, Allah ﷻ juga menciptakan langit bagi manusia sebagai atap, yang darinya diturunkan air hujan, dan dari air hujan itu kemudian menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan di bumi sebagai rezeki bagi manusia.

Dengan semua yang Allah ﷻ ciptakan, manusia beserta sarana prasarananya, maka janganlah kita mengambil tandingan-tandingan dan sekutu bagi Allah ﷻ. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengambil tandingan-tandingan dan menyekutukan Allah ﷻ sementara Dia-lah yang menciptakan seluruh alam semesta ini?

Secara umum, manusia di atas muka bumi ini lebih banyak orang-orang musyrik. Orang-orang yang kufur kepada Allah, yang menyembah nabi Isa álaihis salam, yang menyembah dewa, yang menyembah patung, yang menyembah matahari, jauh lebih banyak daripada orang-orang Islam, bahkan kaum muslimin pun sendiri masih ada sebagian yang terjerumus ke dalam model-model kesyirikan. Padahal, yang menciptakan seluruh manusia beserta prasarananya adalah Allah ﷻ, maka sudah sepantasnya hanya Allah ﷻ yang manusia sembah. Tidak heran jika Nabi Muhammad ﷺ mengatakan bahwa dosa kesyirikan adalah dosa yang paling besar.

Oleh karenanya, sangat logis apabila dikatakan bahwa hanya Allah ﷻ yang berhak untuk disembah karena Dialah yang menciptakan kita dan segala penunjang kebutuhan hidup kita, dan tidak diciptakan oleh selain Dia.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda ketika ditanya tentang dosa yang paling besar,

أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ

Yaitu kamu menyekutukan Allah, sementara Dialah yang menciptakanmu.”([5])

Ibnu Katsir rahimahullah([6]) berkata,

الخَالِقُ لِهَذِهِ الأَشْيَاءَ هُوَ الْمُسْتَحِقُّ لِلْعِبَادَةِ

“Yang menciptakan ini semua, dialah yang berhak untuk disembah (dan bukan yang lainnya).”

Syarah

            Untuk orang-orang yang menyembah para wali, apakah wali tersebut yang memberikan rezeki kepada Anda? Apakah wali tersebut yang membuat matahari sehingga menjadikan pagi awal Anda jadi lebih indah? Apakah wali tersebut yang membuat gelap gulita di malam hari sehingga Anda bisa istirahat dengan nyenyak di malam hari? Sama sekali bukan wali tersebut, melainkan Allah ﷻ yang menjadikan itu semua bagi kalian. Lantas, bagaimana kemudian kalian dengan begitu mudahnya meminta kepada para wali yang hakikatnya tidak bisa memberikan apa-apa?

Syaikh Muhammad bin Adbul Wahab rahimahullah berkata :

وَأَنْوَاعُ الْعِبَادَةِ الَّتِي أَمَرَ اللهُ بِهَا مِثْلُ: الإِسْلامِ، وَالإِيمَانِ، وَالإِحْسَانِ، وَمِنْهُ: الدُّعَاءُ، وَالْخَوْفُ، وَالرَّجَاءُ، وَالتَّوَكُّلُ، وَالرَّغْبَةُ، وَالرَّهْبَةُ، وَالْخُشُوعُ، وَالْخَشْيَةُ، وَالإِنَابَةُ، وَالاسْتِعَانَةُ، وَالاسْتِعَاذَةُ، وَالاسْتِغَاثَةُ، وَالذَّبْحُ، وَالنَّذْرُ، وَغَيْرُ ذَلَكَ مِنْ أَنْوَاعِ الْعِبَادَةِ الَّتِي أَمَرَ اللهُ بِهَا. كُلُّهَا للهِ تَعَالَى.

“Macam-macam ibadah yang diperintahkan kepada kita seperti Islam, iman, dan ihsan. Di antaranya pula adalah berdoa, al-khauf, raja’, bertawakal, raghbah, rahbah, khusyuk, khasyah, inabah, istianah, istiazah, istigasah, az-zabh (menyembelih), bernazar, dan model-model ibadah lain yang Allah perintahkan kepada kita, semuanya hanya untuk Allah Ta’ala.”

وَالدَّلِيلُ: قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلاَ تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا﴾. فَمَنْ صَرَفَ مِنْهَا شَيْئًا لِغَيْرِ اللهِ؛ فَهُوَ مُشْرِكٌ كَافِرٌ؛ وَالدَّلِيلُ: قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمَن يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إلهًا آخَرَ لاَ بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِندَ رَبِّهِ إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ﴾. وَفِي الْحَدِيثِ: (الدُّعَاءُ مخ الْعِبَادَةِ). وَالدَّلِيلُ: قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ﴾

“Adapun dalil doa adalah firman Allah, ‘Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu berdoa kepada seorang pun disertakan bersama doamu kepada Allah’ (QS. Al-Jin: 18). Barang siapa memalingkan doa kepada selain Allah, maka dia telah musyrik dan kafir, dalilnya adalah firman Allah, ‘Dan barang siapa berdoa kepada Allah bersama dengan sembahan yang lain, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung’ (QS. Al-Mu’minun: 117). Adapun dalil hadis, ‘Doa adalah inti sari ibadah’. Dan juga dalilnya adalah firman Allah Ta’ala: Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina’.”

وَدَلِيلُ الْخَوْفِ: قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿فَلاَ تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ﴾

“Adapun dalil tentang khauf adalah firman Allah, ‘Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar beriman’ (QS. Ali Imran: 175).”

وَدَلِيلُ الرَّجَاءِ: قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Adapun dalil raja’ adalah firman Allah, ‘Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya’ (QS. Al-Kahfi: 110).”

وَدَلِيلُ التَّوَكُلِ: قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَعَلَى اللّهِ فَتَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ﴾. وقوله: ﴿وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Adapun dalil tawakal adalah firman Allah, ‘Dan hanya kepada Allah-lah kalian bertawakal jika kalian beriman’ (QS. Al-Maidah: 23). Dan juga firman Allah, ‘Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah maka Allah cukup baginya’ (QS. Ath-Thalaq: 3).”

وَدَلِيلُ الرَّغْبَةِ، وَالرَّهْبَةِ، وَالْخُشُوعِ: قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ﴾

“Adapun dalil tentang raghbah, rahbah, dan khusyuk adalah firman Allah, ‘Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami’ (QS. Al-Anbiya’: 90).”

وَدَلِيلُ الْخَشْيَةِ: قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي﴾

“Adapun dalil tentang khasyah adalah firman Allah, ‘Maka jangan takut kepada mereka, tapi takutlah kepadaku’ (QS. Al-Baqarah: 150).”

وَدَلِيلُ الإِنَابَةِ: قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ﴾

“Adapun dalil tentang inabah adalah firman Allah, ‘Dan kembalilah kalian kepada Rabb kalian, dan berserah dirilah kepada-Nya’ (QS. Az-Zumar: 54).”

وَدَلِيلُ الاسْتِعَانَةِ: قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾. وَفِي الْحَدِيثِ: (وإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ)

“Adapun dalil istianah adalah firman Allah, ‘Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan’ (QS. Al-Fatihah: 5). Juga dalam hadis kata Nabi , ‘Apabila kalian meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah’.”

وَدَلِيلُ الاسْتِعَاذَةِ: قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ﴾ وَ﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ﴾

“Adapun dalil istiazah adalah firman Allah, ‘Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai waktu fajar’ (QS. Al-Falaq: 1). Juga firman Allah, ‘Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabbnya manusia’ (QS. An-Nas: 1).”

وَدَلِيلُ الاسْتِغَاثَةِ: قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ﴾

“Adapun dalil tentang istigasah adalah firman Allah, ‘(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu’ (QS. Al-Anfal: 9).”

وَدَلِيلُ الذَّبْحِ: قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ * قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ * لاَ شَرِيكَ لَه وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ﴾. وَمِنَ السُنَّةِ: (لعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ).

“Adapun dalil tentang az-zabh (menyembelih) adalah firman Allah, ‘Katakanlah: Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Katakanlah: Sesungguhnya salatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)’ (QS. Al-An’am: 161-131). Adapun dalil dari hadis adalah sabda Nabi Muhammad , ‘Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah’.”

ودليل النذر قوله تعالى: ﴿يُوْفُوْنَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا﴾

“Adapun dalil nazar adalah firman Allah, ‘Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana’ (QS. Al-Insan: 7).”

Syarah

Setelah Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan tentang Allah ﷻ adalah Rabb yang mencipta sehingga Dialah yang berhak disembah, selanjutnya Syekh menjelaskan kepada kita untuk mengetahui apa saja model-model ibadah. Mengetahui model-model ibadah ini sangat penting untuk kita ketahui karena ibadah ini adalah suatu perkara yang tidak boleh diserahkan kepada selain Allah ﷻ.

Sebagian orang menyangka bahwa dirinya tidak berbuat syirik, dia tidak beribadah kepada Allah ﷻ, padahal dia tidak sadar bahwa dirinya telah beribadah kepada selain Allah ﷻ. Di antara buktinya adalah dia meminta kepada penghuni kubur. Dia merasa bahwa meminta kepada penghuni kubur bukan termasuk ibadah, padahal meminta dan berdoa itu adalah ibadah, dan tidak boleh dipanjatkan kepada selain Allah ﷻ.

Sebagian orang mengatakan bahwa dirinya tidak pernah berbuat syirik kepada Allah ﷻ, akan tetapi dalam praktiknya dia menyembelih hewan untuk diserahkan kepada jin. Menyembelih adalah ibadah, dan tidak boleh ditujukan kepada selain Allah ﷻ. Apabila menyembelih ditujukan kepada selain Allah, maka itulah yang dinamakan perbuatan syirik.

Oleh karena itu, inilah mengapa pentingnya untuk kita ketahui, untuk kita ajarkan kepada masyarakat tentang apa-apa saja yang dinamakan ibadah. Agar ketika kita sudah tahu yang mana saja yang dinamakan ibadah, kita pun tidak menyerahkannya kepada selain Allah ﷻ. Maka mulailah Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab menjelaskan tentang macam-macam ibadah beserta dalil-dalilnya.

  1. Doa

Di antara dalil yang dibawakan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah yang menunjukkan bahwasanya doa adalah ibadah yaitu firman Allah ﷻ,

﴿وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا﴾

“Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu berdoa kepada seorang pun disertakan bersama doamu kepada Allah.” (QS. Al-Jin: 18)

Pada firman Allah ﷻ ini, kata مَعَ artinya adalah bersama. Adanya kata tersebut dalam firman Allah ini menunjukkan bahwa berdoa kepada selain Allah ﷻ adalah kesyirikan. Mengapa demikian? Karena yang dimaksud dengan kesyirikan adalah seseorang berdoa kepada Allah ﷻ dan berdoa pula kepada selain Allah ﷻ, seseorang beribadah kepada Allah ﷻ dan juga kepada selain Allah ﷻ. Jika sekiranya seseorang tidak mengenal Allah, lantas dia menyembah dan hanya beribadah kepada selain Allah tersebut, maka asalnya dia tidak dikatakan berbuat syirik secara bahasa, karena yang dimaksud syirik secara bahasa adalah seseorang menyekutukan Allah dengan selain-Nya, seperti seseorang yang beribadah kepada Allah dan juga beribadah kepada selain Allah.

Namun, demikianlah yang terjadi pada orang-orang musyrikin, mereka berdoa kepada Allah ﷻ, dan juga berdoa kepada selain Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ﴾

“Maka apabila mereka (kaum musyrikin) naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (QS. Al-‘Ankabut: 65)

Lihatlah Abu Jahal, ketika dalam perang Badar dia berdoa,

اللَّهُمَّ أَيُّنَا كَانَ أَقْطَعَ لِلرَّحِمِ، وَآتَانَا بِمَا لَا نَعْرِفُ، فَاحْنِهِ الْغَدَاةَ

Ya Allah, siapa di antara kami (Muhammad atau saya) yang memutuskan silaturahmi, dan membawa sesuatu yang kami tidak ketahui, binasakanlah dia hari ini.”([7])

Masih ada banyak dalil-dalil lagi yang menunjukkan bahwasanya orang-orang musyrikin itu berdoa kepada Allah ﷻ. Maka, ketika mereka berdoa kepada Allah ﷻ dan juga berdoa kepada selain Allah ﷻ, maka itulah kesyirikan.

Mungkin orang-orang bertanya tentang mengapa ketika dia berdoa kepada penghuni kubur dikatakan perbuatan syirik? Maka kita jawab bahwa apabila dia berdoa dengan mengatakan, “Ya wali fulan, berilah kepadaku ini dan itu, tolonglah aku!” maka itulah doa menurut bahasa Arab, dan doa tidak boleh dipanjatkan kepada selain Allah ﷻ.

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengatakan bahwasanya orang yang berdoa kepada Allah ﷻ dan juga kepada selain Allah ﷻ itu adalah kesyirikan dan perbuatan kekufuran. Beliau berdalil dengan firman Allah ﷻ dalam surah Al-Mu’minun, di mana Allah ﷻ berfirman,

﴿وَمَن يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إلهًا آخَرَ لاَ بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِندَ رَبِّهِ إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ﴾

“Dan barang siapa berdoa kepada Allah bersama dengan sembahan yang lain, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (QS. Al-Mu’minun: 117)

Lihatlah dalam ayat ini, Allah ﷻ juga menggunakan kata مَعَ untuk menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah seseorang yang berdoa kepada Allah dan juga berdoa kepada sembahan selain Allah ﷻ. Ketahuilah bahwa semua yang ditujukan doa/ibadah kepadanya selain Allah ﷻ itulah yang dimaksud dengan إلهًا آخَرَ ‘sembahan yang lain’. Maka orang yang berdoa kepada nabi, berdoa kepada wali, berdoa kepada malaikat, berdoa kepada jin, maka ia telah beribadah kepada “sembahan yang lain”, maka tentu itu adalah syirik.

Lihatlah orang-orang Nasrani yang mereka berdoa kepada Nabi Isa ‘alaihissalam. Apakah itu kesyirikan? Itu sangat jelas kesyirikan, dan mereka telah kafir dengan sebab ini. Oleh karenanya, hendaknya kita tidak bermain-main dan bermudah-mudah dalam masalah ibadah ini.

Ketika kita telah tahu bahwa ibadah doa ini merupakan hak Allah ﷻ, maka jangan serahkan doa tersebut kepada selain-Nya. Sesungguhnya hubungan antara seorang hamba dengan Tuhan adalah sang hamba beribadah kepada sang Tuhan. Lantas bagaimana kemudian seorang hamba berani beribadah kepada hamba Tuhan yang lain seperti api, matahari, nabi, wali-wali, sementara kedudukannya sama-sama sebagai hamba?

Selain dua firman Allah ﷻ yang telah disebutkan, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah juga membawakan dalil dari hadis Nabi Muhammad ﷺ, bahwasanya beliau ﷺ bersabda,

الدُّعَاءُ مخ الْعِبَادَةِ

Doa adalah inti sari ibadah.”([8])

Secara derajat hadis, hadis tersebut lemah, namun secara makna benar bahwasanya doa adalah inti sari ibadah, karena telah datang dalam riwayat yang lain bahwasanya Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

إِنَّ الدُّعَاءَ هُوَ الْعِبَادَةُ

Sesungguhnya doa adalah ibadah.”([9])

Dari sini, benarlah bahwasanya doa merupakan inti sari ibadah. Hal ini juga disebabkan karena orang yang berdoa itu menunjukkan dirinya sebagai hamba. Bukti kalau seseorang itu adalah hamba adalah ketika dia merasa butuh kepada sang pencipta. Maka, ketika seseorang mengangkat tangannya dan berdoa, menunjukkan bahwa dia sedang menampakkan dirinya sebagai hamba, dia menampakkan dirinya sangat butuh kepada Allah ﷻ.

Oleh karenanya, kondisi orang yang berdoa adalah kondisi yang sangat Allah ﷻ sukai. Allah ﷻ berfirman sebagaimana dalil yang disebutkan,

﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ﴾

“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina’.” (QS. Ghafir: 60)

Dalam ayat ini, Allah ﷻ menyebutkan bahwa orang yang enggan untuk berdoa kepada Allah ﷻ, maka dia termasuk orang-orang yang sombong dan akan masuk neraka dalam keadaan terhina. Dalam hadis juga disebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللَّهَ غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ

Barang siapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah murka kepadanya.”([10])

Kita tentu bisa membayangkan, bagaimana kiranya jika kondisi yang paling disukai oleh Allah ﷻ ini kita serahkan pula kepada selain-Nya? Kita datang ke kuburan salah seorang wali lalu meminta dan berdoa kepadanya, kita datang ke kubur Nabi Muhammad ﷺ lalu berdoa dan meminta tolong kepadanya. Ini semua adalah syirik, bahkan berdoa dan meminta kepada selain Allah adalah syirik yang paling besar di antara syirik-syirik yang lain. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ﴾

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah (berdoa) kepada sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan doanya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?” (QS. Al-Ahqaf: 46)

Bukti seseorang merupakan hamba Allah adalah berdoa dan mengakui keagungan Tuhan yang ditempati meminta, dengan mengakui kelemahan diri sehingga meminta kepada Tuhan. Namun ketika pengakuan-pengakuan itu diberikan kepada selain Allah, diberikan kepada malaikat, kepada wali, kepada jin, kepada nabi, kepada matahari, kepada batu keramat, maka ini adalah kesyirikan, dan tidak ada syirik yang lebih parah daripada syirik berdoa kepada selain Allah ﷻ.

  1. Al-Khauf (الْخَوْفُ) – Takut yang disertai pengagungan

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah membawakan dalil tentang hal ini dari firman Allah ﷻ,

﴿فَلاَ تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ﴾

“Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar beriman.” (QS. Ali Imran: 175)

Seseorang yang takut kepada Allah ﷻ bisa terjerumus ke dalam kesyirikan. Lantas, takut seperti apa yang dimaksud di sini? Maksud dari al-khauf ini adalah takut ibadah, yaitu takut yang disertai bentuk pengagungan. Oleh karenanya, takut itu terbagi menjadi dua:

  • Khauf tabi’i (الْخَوْفُ الطَّبِيعِي) – Takut yang merupakan tabiat

Rasa takut yang merupakan tabiat (bukan ibadah), ini asalnya boleh selama rasa takut tersebut tidak melanggar syariat. Rasa takut yang merupakan tabiat ini seperti rasa takut terhadap hewan-hewan buas, takut terhadap ketinggian, takut ketika melihat benda-benda seperti senjata dan semisalnya, hal ini boleh selama tidak membuat dia melanggar syariat.

Hal ini sebagaimana yang dialami oleh Nabi Musa ‘alaihissalam ketika diancam untuk dibunuh oleh Firaun, beliau kabur ke luar kota Mesir dalam kondisi ketakutan. Allah ﷻ berfirman,

﴿فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ﴾

“Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu’.” (QS. Al-Qashash: 21)

Takut yang merupakan tabiat ini tidak boleh sampai membuat seseorang melanggar syariat. Contoh, jika ada seseorang laki-laki yang tidak salat berjamaah di masjid karena takut dikatakan orang-orang dengan sebutan ‘sok alim’, maka dia telah berdosa dengan meninggalkan salat berjamaah tersebut. Atau jika ada seorang wanita tidak memakai jilbab karena takut dicaci dan dihina oleh teman-temannya, maka dia telah berdosa dengan menanggalkan jilbabnya. Takut yang seperti ini membuat seseorang akhirnya bermaksiat kepada Allah ﷻ, sehingga takut yang seperti ini hukumnya haram.

  • Takut yang merupakan ibadah

Takut yang merupakan ibadah ini adalah takut yang disertai pengagungan, sehingga rasa takut ini hanya milik Allah ﷻ, dan tidak boleh diserahkan kepada selain Allah ﷻ.

Di antara jenis takut yang syirik adalah al-khauf as-sirr (الْخَوْفُ السِّرِّيُّ), yaitu takut yang tidak terlihat sebabnya untuk seseorang merasa takut.

Contoh yang disebutkan oleh para ulama seperti takut kepada ancaman orang-orang musyrikin bahwasanya sembahan-sembahan mereka akan memberikan kemudaratan baginya. Hal ini seperti kisah Nabi Hud ‘alaihissalam. Ketika Nabi Hud ‘alaihissalam berdakwah kepada kaumnya, kaumnya yaitu kaum ‘Ad menakut-nakuti Nabi Hud ‘alaihissalam. Mereka berkata,

﴿إِنْ نَقُولُ إِلَّا اعْتَرَاكَ بَعْضُ آلِهَتِنَا بِسُوءٍ قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ﴾

“Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu”. Hud menjawab, ‘Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sekutukan’.” (QS. Hud: 54)

Jika sekiranya Nabi Hud ‘alaihissalam takut dengan ancaman kaumnya tersebut sehingga tidak lagi berdakwah, maka itulah yang dinamakan takut syirik.

Contoh takut syirik yang lain adalah ungkapan seseorang seperti “Kalau kita tidak beri sajen kepada penjaga laut selatan, kita akan celaka, akan ada musibah”. Demikian pula perkataan seseorang, “Wahai fulan, jangan engkau mengejek wali-wali kami, nanti engkau akan celaka”. Jika ketakukan tersebut mengantarkan mereka untuk memberikan sajen, atau membuat seseorang tidak berhenti mengejek mereka yang berbuat kesyirikan karena takut ancaman dari wali-wali mereka yang telah tiada, maka dia telah terjatuh pada perbuatan syirik.

Ketahuilah bahwa yang mengatur seluruh alam semesta ini adalah Allah ﷻ. Maka apakah penjaga laut selatan, atau wali-wali mereka yang telah terkubur di bawah tanah bisa memberikan kemudaratan kepada kita, sementara wujud mereka sendiri tidak ada? Tidak sama sekali! Oleh karenanya, ketakutan seperti ini adalah ketakutan yang syirik, karena sebab untuk takut tidak tampak dan bahkan tidak jelas.

  1. Raja’ (الرَّجَاءُ) – Berharap

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab menyebutkan dalil ibadah raja’ ini berdasarkan firman Allah ﷻ,

﴿فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾

“Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Kata يَرْجُو dalam ayat ini maksudnya adalah berharap bertemu dengan Allah ﷻ di surga, yang sebagian ulama menafsirkannya dengan kenikmatan melihat wajah Allah ﷻ, karena itu adalah puncak dari segala kenikmatan. Maka dalam ayat ini Allah ﷻ menegaskan bahwa barang siapa yang ingin berjumpa dengan Allah ﷻ di surga, maka hendaknya dia beramal saleh dan tidak berbuat syirik sama sekali.

Berharap juga bisa menjadi ibadah apabila rasa harap tersebut disertai dengan pengagungan, dan keyakinan bahwasanya segala keputusan itu hanya pada Allah ﷻ. Maka seseorang tidak boleh menggantungkan harapan kepada selain Allah ﷻ dengan disertai pengagungan, karena yang demikian merupakan kesyirikan. Adapun apabila seseorang berharap kepada selain Allah ﷻ sebagai sebab semata dan tidak menggantungkan hati kepadanya, maka yang demikian tidak mengapa.

Islam telah mengajarkan kepada kita untuk hanya berharap kepada Allah ﷻ. Sebab-sebab yang tampak di hadapan kita hanyalah sekadar sebab, karena akibat hanya ditentukan oleh Allah ﷻ, sehingga seseorang hanya boleh menggantungkan harapan kepada Allah ﷻ, tidak kepada selain Allah ﷻ.

  1. Tawakal

Tawakal juga merupakan ibadah. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَعَلَى اللّهِ فَتَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ﴾

“Dan hanya kepada Allah-lah kalian bertawakal jika kalian beriman.” (QS. Al-Maidah: 23)

﴿وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ﴾

“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah maka Allah cukup baginya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Tawakal merupakan di antara amalan hati, dan para ulama telah menegaskan bahwa seorang hamba tidak boleh sama sekali bertawakal kepada makhluk. Makhluk hanyalah sebab, dan sebab hanyalah sebab, adapun tawakal seseorang hanya kepada Allah ﷻ. Barang siapa yang bertawakal kepada makhluk, maka dia terjerumus dalam syirik kecil. Adapun jika seseorang benar-benar bertawakal kepada makhluk dengan sepenuh hati, maka dia terjerumus dalam syirik besar.

Tawakal itu menyerahkan hati, lantas bagaimana mungkin seseorang itu bisa menyerahkan hatinya kepada makhluk yang tidak bisa mengatur hidupnya? Lihatlah Nabi Muhammad ﷺ, beliau adalah manusia yang paling bertawakal dalam segala hal. Ketika keluar rumah beliau bertawakal dengan membaca doa,

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Dengan menyebut nama Allah aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali izin Allah.”([11])

Setelah makan pun beliau bertawakal kepada Allah dengan berdoa,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا، وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي، وَلَا قُوَّةٍ

Segala puji bagi Allah, yang telah memberiku makanan ini dan memberiku rezeki ini dengan tidak ada daya dan kekuatan dariku.”([12])

Sebelum tidur pun Nabi Muhammad ﷺ bertawakal kepada Allah ﷻ dengan berdoa,

بِاسْمِكَ رَبِّ وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَرْفَعُهُ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ

Dengan nama-Mu wahai Tuhanku, aku baringkan punggungku, dan atas nama-Mu aku mengangkatnya, dan jika Engkau menahan diriku maka rahmatilah dia, dan jika Engkau melepaskannya maka jagalah sebagaimana Engkau menjaga hamba-Mu yang saleh.”([13])

Juga Nabi Muhammad ﷺ berdoa ketika hendak tidur,

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَهْبَةً وَرَغْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dalam keadaan harap dan cemas, karena tidak ada tempat berlindung dan tempat yang aman dari azab-Mu kecuali dengan berlindung kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan aku beriman kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.”([14])

Inilah di antara beberapa kalimat tawakal yang Nabi Muhammad ﷺ sebutkan dalam keseharian beliau. Oleh karena itu, hendaknya kita pun bertawakal kepada Allah ﷻ dalam segala hal. Tentu kita melakukan sebab-sebab untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, akan tetapi jangan bertawakal pada sebab yang kita lakukan, tapi bertawakallah kepada Allah ﷻ, karena Dia-lah yang memberi rezeki, karena Dia-lah yang membuat kita mudah untuk melakukan suatu pekerjaan, karena Dia-lah yang membuat segala urusan kita menjadi mudah.

Maka dari itu, beribadahlah hanya kepada Allah, dan bertawakallah hanya kepada-Nya. Jangan bertawakal kepada penghuni kubur, jangan bertawakal kepada jin, apalagi bertawakal kepada dukun, karena hal yang demikian dapat mengantarkan kepada kesyirikan.

  1. Raghbah, rahbah, dan khusyuk

Dalil yang dibawakan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah untuk raghbah, rahbah, dan khusyuk adalah firman Allah ﷻ,

﴿إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ﴾

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)

Raghbah merupakan buah dari raja’. Ibnul Qoyyim berkata :

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الرَّغْبَةِ وَالرَّجَاءِ أَنَّ الرَّجَاءَ طَمَعٌ. وَالرَّغْبَةُ طَلَبٌ. فَهِيَ ثَمَرَةُ الرَّجَاءِ. فَإِنَّهُ إِذَا رَجَا الشَّيْءَ طَلَبَهُ

“Dan perbedaan antara ar-Raghbah dan Ar-Raja’, Ar-Raja’ adalah طَمَعٌ tamak (sangat berharap) adapun Ar-Raghbah adalah طَلَبٌ mencari, maka ar-Raghbah merupakan buah dari ar-Raja’. Karena jika seseorang mengharapkan sesuatu maka ia akan mencarinya” ([15])

Rahbah pun demikian maknanya mirip dengan khauf, yaitu rasa takut atau cemas. Ibnul Qoyyim berkata :

وَالْوَجَلُ وَالْخَوْفُ وَالْخَشْيَةُ وَالرَّهْبَةُ أَلْفَاظٌ مُتَقَارِبَةٌ غَيْرُ مُتَرَادِفَةٍ

“Al-Wajal, al-Khauf, al-Khosyah, dan Ar-Rahbah merupakan lafal-lafal yang mirip namun tidak sama persis (yaitu ada perbedaan diantaranya)” ([16])

Ayat ini menyebutkan empat ibadah sekaligus, yaitu doa, raghbah, rahbah, dan khusyuk. Ayat ini menyebutkan tentang bagaimana para nabi itu senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan. Selain itu, para nabi juga senantiasa berdoa kepada Allah ﷻ dengan tiga kondisi sekaligus, yaitu dengan raghbah (penuh harap), rahbah (takut), dan khusyuk.

Dalil ini bisa menjadi pertanyaan yang besar bagi sebagian orang yang menyembah para nabi. Kalau ternyata Allah ﷻ menyebutkan bahwa para nabi itu berdoa dengan kondisi raghbah, rahbah, dan khusyuk, maka bagaimana mungkin seseorang bisa bertawakal dan berdoa kepada nabi, sementara para nabi saja berdoa kepada Allah ﷻ?

  1. Al-Khasyah (الْخَشْيَةُ) – rasa takut yang dibarengi dengan ilmu

Khasyah -sebagaimana telah lalu- adalah rasa takut yang dibarengi dengan ilmu tentang yang ditakuti. Mungkin khasyah tampak mirip dengan khauf, akan tetapi khasyah sendiri merupakan rasa takut yang lebih spesifik([17]).

Dalil akan hal ini adalah firman Allah ﷻ,

﴿فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي﴾

“Maka jangan takut kepada mereka, tapi takutlah kepadaku.” (QS. Al-Baqarah: 150)

Oleh karenanya, kita dapati bahwa orang paling takut kepada Allah ﷻ adalah para ulama, karena mereka adalah yang paling tahu tentang Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

﴿إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ﴾

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28)

  1. Inabah (الْإِنَابَةُ) – Kembali kepada Allah

Dalil akan hal ini adalah firman Allah ﷻ dalam surah Az-Zumar,

﴿وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ﴾

“Dan kembalilah kalian kepada Rabb kalian, dan berserah dirilah kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar: 54)

  1. Istianah (الْإِسْتِعَانَةُ) – Meminta tolong kepada Allah

Istianah, yaitu meminta tolong kepada Allah ﷻ juga merupakan ibadah yang seharusnya hanya kita berikan kepada Allah ﷻ. Hal ini sebagaimana ayat yang senantiasa kita ulang-ulang dalam setiap salat kita, yaitu firman Allah ﷻ,

﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)

Demikian juga dalilnya dalam hadis, di mana Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

وإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ

“Apabila kalian meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah.”([18])

  1. Istiazah (الْإِسْتِعَاذَةُ) – Meminta perlindungan kepada Allah

Dalil tentang istiazah merupakan ibadah sangatlah banyak. Di antara dalil yang dibawakan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah adalah firman Allah ﷻ,

﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ﴾

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai waktu fajar.” (QS. Al-Falaq: 1)

﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ﴾

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabbnya manusia.” (QS. An-Nas: 1)

Ketika ada seseorang yang beristiazah, meminta perlindungan kepada selain Allah ﷻ, misalnya kepada jin, maka dia telah berbuat syirik. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا﴾

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin semakin sombong.” (QS. Al-Jin: 6)

Sebagian orang Arab dahulu, ketika mereka singgah di sebuah lembah, mereka sangat takut diganggu oleh jin, sehingga mereka pun berkata,

نَعُوْذُ بِسَيِّدِ هَذَا الْوَادِي مِنْ سُفَهَاءِ قَوْمِهِ

Kami berlindung kepada pimpinan lembah ini dari gangguan jin-jin bodoh kaumnya  (anak buahnya).”([19])

Perbuatan meminta perlindungan kepada selain Allah ﷻ seperti kasus ini adalah syirik, dan hendaknya seseorang hanya meminta perlindungan hanya kepada Allah ﷻ.

  1. Istigasah (الْإِسْتِغَاثَةُ) – Meminta pertolongan kepada Allah dalam kondisi genting

Istigasah di sini berbeda dengan istianah, karena istigasah di sini adalah meminta tolong kepada Allah ﷻ dalam kondisi genting. Dalil untuk istigasah ini diantaranya firman Allah ﷻ,

﴿إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ﴾

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu.” (QS. Al-Anfal: 9)

Yaitu ketika Nabi Muhammad ﷺ dalam kondisi genting ketika perang Badar, maka Nabi Muhammad ﷺ berdoa sambil mengangkat tangannya kepada Allah ﷻ meminta pertolongan. Inilah istigasah, yaitu meminta tolong tatkala dalam kondisi genting.

Kita perlu untuk memperhatikan masalah ini, karena banyak sekali orang yang terjerumus dalam syirik dalam hal ini. Hal tersebut disebabkan karena ada sebagian para dai yang mengajarkan agar orang-orang beristigasah kepada para wali-wali ketika dalam kondisi genting. Akhirnya, sebagian dari orang-orang pun berdoa ketika dalam kondisi genting, “Wahai Abdul Qadir Jailani, tolonglah kami, wahai wali Badawi, tolonglah kami!”.

Ini jelas-jelas merupakan kesyirikan yang sangat nyata. Bagaimana mungkin seseorang bisa beristigasah kepada para wali-wali, sementara Nabi Muhammad ﷺ yang lebih pantas disebut pemimpin para wali adalah orang yang beristigasah kepada Allah dalam kondisi genting? Apakah mereka mengira para wali-wali yang telah meninggal itu bisa mendengar perkataan mereka? Sungguh khurafat telah dibuat oleh penganut sufi ekstrem, sehingga membuat orang-orang beristigasah kepada wali-wali yang telah meninggal dunia, padahal itu adalah kesyirikan yang sangat nyata.

  1. Adz-Dzabh (الذَّبْحُ) – Menyembelih

Menyembelih adalah salah satu ibadah yang harus dilakukan hanya untuk Allah ﷻ. Dalilnya adalah firman Allah ﷻ,

﴿قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ١٦١ قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ١٦٢ لاَ شَرِيكَ لَه وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ﴾

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah ditunjukkan oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik’. Katakanlah, ‘Sesungguhnya salatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya’. Dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’am: 161-131)

Kata وَنُسُكِي dalam ayat ini maknanya adalah menyembelih. Oleh karenanya, seseorang tatkala menyembelih, hendaknya dia menyembelih karena Allah ﷻ. Baik itu ketika menyembelih untuk akikah, ketika menyembelih ketika berhaji, dan ketika berkurban saat Idul Adha, maka hendaknya itu semua dilakukan karena Allah ﷻ.

Sungguh sangat menyedihkan ketika datang orang-orang setelah ditetapkannya syariat ini kemudian menyembelih hewan untuk jin atau penunggu suatu tempat. Ketika hendak membangun rumah, menyembelih hewan karena takut gangguan jin. Ketika sakit, disarankan oleh dukun untuk menyembelih tiga ekor ayam hitam lalu dialirkan darahnya, dan dia pun melakukannya. Ini dia antara bentuk-bentuk kesyirikan dalam masalah menyembelih. Oleh karenanya Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

لعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ

Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.”([20])

  1. Nazar (النَّذر)

Nazar adalah bersumpah atas nama Allah untuk melakukan sesuatu. Seperti misalnya orang yang berkata “Ya Allah, jika Engkau berikan aku kelulusan, aku akan bersedekah”, atau perkataan “Ya Allah, kalau aku dapat rezeki dari sini, aku akan berangkatkan haji kedua orang tuaku”. Nazar merupakan bagian dari sumpah. Oleh karenanya, ketika nazar tidak dikerjakan, maka kafaratnya sama dengan kafarat sumpah.

Nazar ini hanya untuk Allah ﷻ, dan tidak boleh seseorang bernazar kepada selain Allah ﷻ seperti nazar kepada para wali dan yang lainnya, karena bernazar kepada selain Allah adalah perbuatan syirik.

Penulis pernah diceritakan, bahwasanya ada seseorang datang kepada kuburan sunan tertentu dan berkata, “Saya bernazar kepadamu wahai Sunan, kalau saya lulus, saya akan berjalan sekian kilometer”. Orang tersebut bernazar bukan kepada Allah, tapi kepada sunan tersebut yang telah meninggal. Pertanyaan kita, apakah ketika dia bernazar tersebut hatinya bertawakal kepada Allah atau kepada sunan tersebut? Tentunya hatinya bertawakal kepada sunan tersebut, maka jelas itu adalah perbuatan syirik.

Allah ﷻ berfirman tentang nazar,

﴿يُوْفُوْنَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا﴾

Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” (QS. Al-Insan: 7)

Pada ayat ini, Allah ﷻ memuji orang-orang yang menunaikan nazarnya karena Allah ﷻ, sehingga menunjukkan bahwasanya nazar adalah ibadah.

Inilah sebagian dari contoh-contoh ibadah yang disebutkan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Kita telah menyebutkan di awal sebuah kaidah bahwasanya yang namanya suatu ibadah (dan ada dalil yang menunjukkan hal itu adalah ibadah) maka tidak boleh hal tersebut kita serahkan kepada selain Allah ﷻ, karena yang berhak untuk diibadahi hanyalah Allah ﷻ.

Bagaimana mungkin seseorang bisa menyerahkan ibadahnya kepada selain Allah ﷻ sementara dia sendiri diciptakan oleh Allah ﷻ semata? Apakah makhluk yang dia sembah itu yang menciptakan dia sehingga dia bernazar dan berdoa kepadanya? Apakah makhluk yang dia sembah itu dapat mengatur alam semesta sehingga dia meminta pertolongan dan perlindungan kepada dia? Apakah makhluk yang dia sembah memiliki segala perbendaharaan langit dan bumi sehingga dia bertawakal kepadanya? Tentu semua jawabannya adalah tidak sama sekali. Makhluk yang dia sembah itu tidak memiliki apa-apa, tidak bisa berbuat apa-apa.

Oleh karenanya, sangat menyedihkan ketika penulis mendengar ada sebagian orang yang mengatakan bahwa benua Asia ini dijaga oleh wali quthub si fulan. Kita tentu khawatir apabila orang-orang yang mendengar hal tersebut jadi terpengaruh dan bertawakal kepada wali tersebut. Ini semua adalah khurafat-khurafat yang dibuat oleh sebagian orang.

Di antaranya seperti dalam buku Jawahir al-Ma’ani, mereka mengatakan bahwasanya Abdul Qadir Jailani telah diberikan “Kun” oleh Allah ﷻ, sehingga ketika Abdul Qadir Jailani berkata “Kun” maka jadilah apa yang dia kehendaki. Ketahuilah bahwa Abdul Qadir Jailani adalah seorang wali yang saleh, namun orang-orang telah berlebihan kepadanya. ([21])

Kita bisa tanyakan bahwa sejak kapan Allah ﷻ memberikan “Kun” kepada makhluk-Nya? Nabi Muhammad ﷺ adalah nabi yang paling utama, rasul yang terbaik, manusia yang paling terbaik yang pernah Allah ﷻ ciptakan di atas muka bumi ini, akan tetapi Allah ﷻ tidak memberikan “Kun” kepada beliau. Lalu bagaimana bisa seorang wali bisa mendapatkan keutamaan melebihi Nabi Muhammad ﷺ?

Demikian pula ada seorang dai di televisi pernah mengatakan bahwa wali itu bisa saja mencipta dengan izin Allah. Tentu pernyataan tersebut tidak kita salahkan begitu saja, karena jika Allah ﷻ mengizinkan, hewan pun bisa menciptakan. Akan tetapi, pertanyaan kita adalah, izin Allah untuk mencipta itu mana? Mana dalil yang menunjukkan bahwa Allah dengan izin-Nya Abdul Qadir Jailani bisa mencipta? Mana dalil-dalil yang menunjukkan bahwa mayat-mayat yang telah berada di bawah tanah itu bisa menyampaikan doa mereka kepada Allah ﷻ? Atau mana dalil bahwasanya wali-wali yang telah meninggal itu bisa mengabulkan permintaan mereka?

Saudara pembaca sekalian, ketahuilah bahwa kita bukannya ragu tentang kekuasaan Allah ﷻ, akan tetapi kita merujuk kepada dalil-dalil yang ada. Bagaimana mungkin bisa dikatakan bahwa mayat tersebut lebih hebat daripada ketika mereka masih hidup sehingga mereka bisa boleh dipanjatkan permohonan kepada mereka? Maka sangat jelas bahwa meminta kepada penghuni kubur adalah hal yang tidak masuk akal dan bertentangan dengan akal sehat. Justru syariát menganjurkan kita untuk mendoakan orang yang telah meninggal bukan sebaliknya meminta kepada yang sudah meninggal.

Maka dari itu, kita berlindung kepada Allah ﷻ dari segala macam bentuk kesyirikan, dan segala sebab yang bisa mengantarkan kepada kesyirikan.

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Al Ushul Ats-Tsalatsah Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________

([1]) Lihat: Mu’jam Maqayis al-Lughah (2/313).

([2]) Lihat: Tafsir as-Sa’di hal. 39.

([3]) Lihat: Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyah  (1/35) dan Tafsir Ibnu Katsir (1/197).

([4]) Silahkan baca buku penulis “Syarah rinci rukun iman” pada pembahasan tauhid Ar-Rububiyah, tentang dalil-dalil adanya Tuhan.

([5]) HR. Bukhari No. 4477.

([6]) Ibnu Katsir rahimahullah adalah seorang mufasir yang sangat familier di telinga kita. Dia adalah seorang ahli tafsir yang bermazhab syafi’i dalam masalah fikih, dan bermazhab salaf dalam masalah akidah, sehingga sangat direkomendasikan agar dimiliki dan dipelajari oleh kaum muslimin.

([7]) HR. Al-Hakim No. 3264 dalam al-Mustadrak (2/357), dia mengatakan bahwa hadis ini sahih berdasarkan syarat Imam Bukhari dan Imam Muslim.

([8]) HR. Tirmizi No. 3371, dinyatakan daif oleh Syekh al-Albani.

([9]) HR. Ibnu Majah No. 3828, Abu Daud No. 1479, Tirmizi No. 2969, dan dinyatakan sahih oleh Syekh al-Albani.

Hadis semacam ini merupakan metode Nabi Muhammad ﷺ ketika ingin menekankan sesuatu. Seperti sabda Nabi Muhammad ﷺ,

الْحَجُّ عَرَفَةُ

Haji adalah Arafah.” (HR. Ibnu Majah No. 3015, dinyatakan sahih oleh Syekh al-Albani).

Sabda Nabi Muhammad ﷺ ini tidak sedang menjelaskan bahwa haji itu hanya wukuf di padang Arafah, karena kita tahu bahwa kegiatan haji itu banyak dan bukan hanya wukuf di Arafah. Namun, ketika Nabi Muhammad ﷺ mengatakan “Haji adalah Arafah”, maka maksudnya adalah wukuf di padang Arafah merupakan rukun haji yang paling penting daripada yang lainnya.

([10]) HR. Bukhari No. 658 dalam al-Adab al-Mufrad, dinyatakan sahih oleh Syekh al-Albani.

([11]) HR. Abu Daud No. 5905, Tirmizi No. 3429, dinyatakan sahi oleh Syekh al-Albani.

([12]) HR. Ibnu Majah No. 3285, dinyatakan hasan oleh Syekh al-Albani.

([13]) HR. Bukhari No. 6320.

([14]) HR. Bukhari No. 6311.

([15]) Madarij as-Salikin, Ibnul Qoyyim 2/55

([16]) Madarij as-Salikin, Ibnul Qoyyim 1/507

Ibnul Qoyyim menjelaskan perbadaan lafal-lafal tersebut sebagai berikut :

Pertama : الْخَوْفُ هَرَبُ الْقَلْبِ مِنْ حُلُولِ الْمَكْرُوهِ عِنْدَ اسْتِشْعَارِهِ “Al-Khauf adalah larinya hati ketika dari tertimpa perkara yang dibenci ketika merasakannya”

Kedua : Adapun الْخَشْيَةُ al-Khosyah maka ia lebih spesifik dari pada al-Khauf, al-Khosyah adalah خَوْفٌ مَقْرُونٌ بِمَعْرِفَةٍ “rasa khauf yang dibarengi dengan ilmu”, فَالْخَوْفُ حَرَكَةٌ، وَالْخَشْيَةُ انْجِمَاعٌ، وَانْقِبَاضٌ وَسُكُونٌ “maka al-Khauf adalah gerakan hati adapun al-Khosyah adalah terkumpulnya ketakutan sehingga menimbulkan ketenangan jiwa”

Ketiga : Adapun الرَّهْبَةُ ar-Rahbah  فَهِيَ الْإِمْعَانُ فِي الْهَرَبِ مِنَ الْمَكْرُوهِ”maka ia adalah sikap menekuni pelarian dari perkara yang dibenci”. Ia adalah lawan dari ar-Raghbah yang merupakan sikap tekun dalam mencari perkara yang diharapkan. (Lihat Madaarij As-Salikin 1/508)

([17]) Lihat catatan kaki sebelumnya.

([18]) HR. Tirmizi No. 2516, dinyatakan sahih oleh Syekh al-Albani.

([19]) Tafsir as-Sam’ani (6/65).

([20]) HR. Muslim No. 1978.

([21]) Sebagaimana yang telah disebutkan di pembahasan yang telah lalu.