Penyimpangan-Penyimpangan Dalam Masalah Takdir – Iman Kepada Takdir 4

Penyimpangan-Penyimpangan Dalam Masalah Takdir – Iman Kepada Takdir 4

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Beriman kepada takdir butuh terhadap ketundukan terhadap dalil-dalil, sebab kemampuan akal manusia yang terbatas jika dipaksa untuk memahami takdir maka tidak akan mampu. Hal ini telah diingatkan oleh para ulama sejak dahulu, mereka mengatakan bahwa,

القَدَرُ سِرُّ اللهِ المَكْتُوْم

“Takdir adalah rahasia Allah yang tersembunyi.”([1])

Perkara takdir tidak Allah ﷻ buka kepada siapa pun, tidak kepada malaikat dan juga tidak kepada para nabi. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

إِذَا ذُكِرَ القَدَرُ فَأَمْسِكُوْا

Apabila disebutkan tentang takdir maka tahanlah diri kalian (untuk berbicara).” ([2])

Mengapa Nabi Muhammad ﷺ mengatakan demikian? Hal ini karena akal manusia memiliki keterbatasan sebagaimana indra manusia yang lainnya. Jika mata memiliki keterbatasan, pendengaran memiliki keterbatasan, maka akal pun demikian. Terlalu banyak hal yang tidak dapat dipahami oleh akal. Allah ﷻ berfirman,

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan tidaklah kamu diberi ilmu melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra’: 85)

Bagaimana mungkin seseorang dapat memikirkan tentang perbuatan Allah ﷻ, seperti memikirkan mengapa Allah ﷻ berbuat begini dan begitu, sedang ilmu Allah ﷻ sangat luas. Tentunya akal manusia tidak akan sampai untuk memikirkannya. Oleh karenanya Allah ﷻ berfirman,

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ

“Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan.” (QS. Al-Anbiya’: 23)

Oleh karena itu, seseorang hendaknya tidak menerjang hal-hal di luar ranah akal yang ia miliki. Imam Abu Hanifah rahimahullah pernah menjelaskan bahwa seseorang yang semakin dalam membahas takdir maka dia seperti melihat matahari, semakin lama dia menatap matahari maka matanya akan semakin sakit, semakin dalam dia membahas takdir maka dia semakin bingung.([3])

Ibnu Daqiq Al-‘Ied rahimahullah dalam kitabnya syarah Al-Arbain An-Nawawiyah menukil perkataan As-Sam’ani rahimahullah yang menyebutkan bahwasanya barang siapa yang berusaha menggunakan akalnya untuk memikirkan takdir maka ia tidak akan merasa puas.([4])

Inilah kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang Qodariyah yang mana mereka menggunakan akal mereka untuk memahami takdir sehingga mereka banyak terjerumus di dalam kesalahan dan penyimpangan. Oleh karenanya kesimpulan dari pendapat-pendapat mereka dalam masalah ini sangat aneh dan tidak masuk akal. Mereka berusaha untuk menetapkan keadilan bagi Allah ﷻ tetapi pada akhirnya mereka tidak bisa membuktikan hal tersebut.

Sikap seseorang yang benar dalam masalah takdir adalah menerima apa yang disampaikan oleh Allah ﷻ  dan Rasul-Nya. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

وتُؤْمِنَ بالقَدَرِ خَيْرِهِ وشَرِّهِ

“Engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.”([5])

Mengapa Allah menakdirkan sesuatu yang buruk?

Di antara sebab utama terjadinya penyimpangan dalam masalah takdir adalah karena akal tidak menerima jika Allah ﷻ menghendaki dan menciptakan sesuatu yang buruk. Sehingga timbul pertanyaan kenapa Allah menakdirkan sesuatu yang buruk?

Jawabannya adalah karena Allah ﷻ menghendaki sesuatu yang baik (hikmah) di balik keburukan tersebut. Terkadang hikmah tersebut diketahui oleh manusia dan juga terkadang tidak diketahui oleh manusia karena keterbatasan akal. Walaupun begitu, setiap muslim harus meyakini bahwa di balik keburukan itu ada kebaikan-kebaikan yang Allah ﷻ kehendaki. Oleh karenanya, Iblis, Firaun, Abu Jahal adalah keburukan. Akan tetapi Allah ﷻ menciptakan mereka bukanlah keburukan, sebab dibalik penciptaan mereka ada hikmah yang indah yang akal manusia tidak bisa mencapainya. Nabi Muhammad ﷺ dalam doa istiftah-nya berkata,

والشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ

“Tidak ada keburukan bagi-Mu.”([6])

Hal ini karena takdir baik dan buruk adalah berkaitan dengan makhluk. Adapun perbuatan Allah ﷻ menciptakan keburukan, di balik itu ada hikmah yang Allah ﷻ kehendaki. Allah ﷻ berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Kerusakan berupa bencana alam yang terjadi di dunia adalah keburukan. Akan tetapi Allah ﷻ sebutkan bahwa Allah ﷻ lah yang menciptakan hal tersebut, padahal di sisi lain Allah ﷻ tidak menyukai kerusakan. Allah ﷻ berfirman,

وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ

“Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS. Al-Baqarah: 205)

Lalu mengapa Allah ﷻ menciptakan kerusakan? Jawabannya karena Allah ﷻ ingin membuat orang-orang yang berbuat kerusakan merasakan sebagian akibat dari perbuatan ulah mereka, sehingga mereka sadar kemudian kembali ke jalan Allah ﷻ. Jadi, ternyata Allah ﷻ menciptakan keburukan untuk menghendaki kebaikan yang ada di balik keburukan tersebut. Keburukannya adalah kerusakan bumi, adapun kebaikan di balik kerusakan bumi adalah agar mereka sadar dan kembali ke jalan Allah ﷻ.

Seseorang hendaknya mencukupkan dirinya pada empat rangkaian tahapan takdir (yang telah lalu penjelasannya di awal makalah) dalam memahami takdir, sebab jika ia keluar dari empat rangkaian ini maka ia akan terjerumus pada penyimpangan-penyimpangan. Oleh karenanya pada pembahasan ini penulis akan menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam masalah takdir.

  1. Penyimpangan Dari Agama-Agama atau Kelompok-Kelompok di luar Islam Dalam Masalah Takdir
  • Yahudi

Disebutkan di Taurat beberapa kali bahwasanya Allah ﷻ menyesal. Tentu penyesalan bukanlah hal yang pantas disematkan kepada Allah ﷻ, karena penyesalan menunjukkan bahwa dzat tersebut tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Berbeda dengan Islam, di dalam Islam segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Allah ﷻ dan Allah ﷻ maha mengetahui apa saja yang akan terjadi.

Berikut nukilan dari perjanjian lama

  • kejadian 6 : 5-12

6:5 Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, 6:6 maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. 6:7 Berfirmanlah TUHAN: “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka. “

  • Samuel 1 : 15-11

Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku”. Maka sakit hatilah Samuel dan ia berseru-seru kepada TUHAN semalam-malaman.

 

  • Samuel 2 24:14-16

Maka sekarang, pikirkanlah dan timbanglah, jawab apa yang harus kusampaikan kepada Yang mengutus aku.” 24:14 Lalu berkatalah Daud kepada Gad: “Sangat susah hatiku, biarlah kiranya kita jatuh ke dalam tangan TUHAN, sebab besar kasih sayang-Nya; tetapi janganlah aku jatuh ke dalam tangan manusia.” 24:15 Jadi TUHAN mendatangkan penyakit sampar kepada orang Israel dari pagi hari sampai waktu yang ditetapkan, maka matilah  dari antara bangsa itu, dari Dan sampai Bersyeba, tujuh puluh ribu orang. 24:16 Ketika malaikat mengacungkan tangannya ke Yerusalem untuk memusnahkannya, maka menyesallah TUHAN karena malapetaka itu, lalu Ia berfirman kepada malaikat yang mendatangkan kemusnahan kepada bangsa itu: “Cukup! Turunkanlah sekarang tanganmu itu.” Pada waktu itu malaikat TUHAN  itu ada dekat tempat pengirikan Arauna, orang Yebus.

Penyesalan Allah ﷻ ini berkonsekuensi bahwa tidak adanya takdir dari Allah ﷻ, sebab penyesalan Allah ﷻ menunjukkan Allah ﷻ tidak tahu apa yang akan terjadi di masa datang.

  • Nasrani

Perihal keyakinan kaum Nasrani terhadap takdir, penulis belum memeriksa secara jelas tentang keyakinan mereka. Tetapi sebagian para ulama menyebutkan bahwa sebagian kaum muslimin terpengaruh dengan akidah mereka, seperti halnya Ma’bad Al-Juhani dan yang lainnya. ([7])

Para ulama menyebutkan bahwa sebagian kaum Nasrani menetapkan takdir dan sebagian lainnya menolak takdir. Mereka yang menetapkan takdir seperti halnya Jabariyah, dan mereka yang menolak takdir seperti halnya Qodariyah. Bahkan disebutkan bahwa kelompok Qodariyah Ghulah (Qodariyah ekstrem) itu terpengaruh dari keyakinan Nasrani terhadap takdir.

  • Ahli filsafat

Ahli filsafat meyakini bahwa Allah ﷻ hanya mengetahui dengan ilmu global (العِلْمُ الكُلِّيُّ) bukan dengan ilmu yang terperinci (العِلْمُ التَّفْصِيْلِيُّ). Inilah keyakinan yang diyakini oleh Ibnu Sina. Oleh karenanya Al-Ghazali rahimahullah dalam kitabnya Tahafut Al-Falasifah, ia mengafirkan Ibnu Sina karena tiga kesalahan, salah satu kesalahan tersebut adalah keyakinan ini. ([8])

Tentunya keyakinan Ahli filsafat ini bertentangan dengan takdir yang berkonsekuensi bahwa Allah ﷻ harus mengetahui segala sesuatu secara terperinci. Allah ﷻ berfirman,

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al-Qamar: 49)

Apa pun yang ada di dunia ini Allah ﷻ tahu secara terperinci dan Allah ﷻ lah yang menakdirkannya.

  • Musyrikin Arab

Musyrikin Arab meyakini adanya takdir, akan tetapi mereka menjadikan takdir sebagai dalil untuk melegalkan kemaksiatan mereka. Hal yang seperti ini mirip dengan apa yang dilakukan oleh kelompok Jabariyah ekstrem. Allah ﷻ berfirman,

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّى ذَاقُوا بَأْسَنَا

“Orang-orang musyrik akan berkata, ‘Jika Allah menghendaki, tentu kami tidak akan mempersekutukan-Nya, begitu pula nenek moyang kami, dan kami tidak akan mengharamkan apa pun.’ Demikian pula orang-orang sebelum mereka yang telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan azab Kami.” (QS. Al-An’am: 148)

Pada ayat ini disebutkan bahwa orang-orang musyrikin Arab mengakui bahwa perbuatan mereka melakukan kesyirikan ataupun tidak adalah atas kehendak Allah ﷻ. Jadi di sini seakan-akan mereka berkata, “Kami berbuat syirik adalah karena kehendak Allah ﷻ”. Mereka berdalil dengan takdir untuk melegalkan kesyirikan dengan menunjukkan bahwa kesyirikan yang mereka lakukan adalah atas kehendak Allah ﷻ.  Allah ﷻ pun bantah perkataan mereka tersebut dengan menjelaskan bahwa hal yang demikian itu telah dilakukan oleh orang-orang sebelum mereka untuk mendustakan para rasul.

Allah ﷻ juga berfirman,

وَقَالَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا عَبَدْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ نَحْنُ وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ كَذَلِكَ فَعَلَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

“Dan orang musyrik berkata, “Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak (pula) kami mengharamkan sesuatu pun tanpa (izin)-Nya.” Demikianlah yang diperbuat oleh orang sebelum mereka. Bukankah kewajiban para rasul hanya menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas?” (QS. An-Nahl: 35)

Kandungan dari ayat ini sama seperti ayat sebelumnya yaitu berdalil dengan takdir untuk melegalkan perbuatan syirik mereka dan juga nenek moyang mereka.

  • Qodariyah Ekstrem

Kelompok ini dipelopori oleh Ma’bad Al-Juhani yang mana ia hidup di zaman Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma. Ma’bad Al-Juhani meyakini bahwa,

الأَمْرُ أُنُفٌ

“Allah mengetahui segala perkara setelah terjadi.”([9])

Keyakinan ini adalah kufur, sebab konsekuensinya adalah mengingkari ilmu Allah ﷻ As-Saabiq (sebelumnya). Oleh karenanya, banyak para ulama mengafirkan Ma’bad Al-Juhani.([10]) Sebab tergelincirnya Ma’bad Al-Juhani dalam masalah ini adalah karena ia terlalu berdalam-dalam di dalam masalah takdir. Hal ini sebagaimana telah penulis jelaskan di awal bahwasanya penyebab seseorang menyimpang dalam masalah takdir adalah terlalu menggunakan akal pada perkara yang tidak akal mampui, padahal akal memiliki keterbatasan.

Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma ketika dikabarkan tentang keberadaan kelompok seperti ini maka Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata,

فَإنْ لَقِيتَهُمْ فَأَعْلِمْهُمْ أَنِّي مِنْهُمْ بَرِيءٌ وَهُمْ مِنِّي بُرَآءُ

“Jika kalian bertemu dengan mereka maka sampaikanlah bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku.

Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma kemudian bersumpah dengan berkata,

لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا ثُمَّ لَمْ يُؤمِنْ بِالقَدَرِ لَمْ يُقبَلْ مِنْهُ

“Jika salah seorang di antara mereka berinfak dengan emas sebesar gunung Uhud akan tetapi ia tidak beriman kepada takdir, maka Allah tidak menerima infak tersebut.”([11])

Inilah dalil yang menjadikan para ulama mengafirkan kelompok Qodariyah ekstrem.

  • Jabariyah ekstrem

Ibnul Qayyim rahimahullah ketika membahas kelompok Jabariyah beliau menjelaskan bahwa kelompok ini jatuh pada banyak kesalahan. Di antaranya adalah meyakini akidah Jahmiyah yaitu menganggap seluruh perbuatan hamba adalah terpaksa,([12]) seperti halnya daun yang terombang-ambing karena ditiup angin. Tidak sampai di sini, sebagian mereka terus semakin mendalam sehingga pada akhirnya harus menolak syariat karena menjalankan konsekuensi dari akidah ini. Hal ini karena jika saja semua perbuatan manusia adalah keterpaksaan maka melakukan maksiat adalah suatu hal yang boleh-boleh saja, sebab hal tersebut adalah bagian dari keterpaksaan.

Sebuah kisah yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah bahwasanya ada seseorang mendapatkan istrinya berzina dengan laki-laki lain, maka ia pun marah kemudian ingin membunuh lelaki tersebut.  Lelaki yang berzina ini pun berkata kepada suami wanita yang berzina, “perkara ini adalah takdir Allah ﷻ, apakah kau beriman dengan takdir?”. Ia pun menjawab, “iya saya beriman dengan takdir”. Akhirnya ia pun menerima kejadian ini dan seakan rida dan melegalkan perbuatan zina tersebut([13]). Kisah ini menggambarkan bahwa syariat Allah ﷻ seakan-akan menjadi terbengkalai tidak memiliki fungsi, sebab semua terjadi karena kehendak Allah ﷻ dan semua terjadi karena terpaksa.

Orang-orang Jabariyah yang telah sampai pada derajat contoh di atas yaitu menjalankan konsekuensi dari akidah Jahmiyah dengan menganggap bahwa semua yang terjadi adalah keterpaksaan sehingga pada akhirnya menolak syariat, maka mereka adalah kelompok Jabariyah ekstrem yang telah terjatuh pada kekufuran. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :

أَنَّ مَنْ أَثْبَتَ الْقَدَرَ وَاحْتَجَّ بِهِ عَلَى إبْطَالِ الْأَمْرِ وَالنَّهْيِ فَهُوَ شَرٌّ مِمَّنْ أَثْبَتَ الْأَمْرَ وَالنَّهْيَ وَلَمْ يُثْبِتْ الْقَدَرَ وَهَذَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ وَغَيْرِهِمْ مِنْ أَهْلِ الْمِلَلِ بَلْ بَيْنَ جَمِيعِ الْخَلْقِ فَإِنَّ مَنْ احْتَجَّ بِالْقَدَرِ … وَلَمْ يُفَرِّقْ بَيْنَ الْمَأْمُورِ وَالْمَحْظُورِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْكُفَّارِ وَأَهْلِ الطَّاعَةِ وَأَهْلِ الْمَعْصِيَةِ لَمْ يُؤْمِنْ بِأَحَدِ مِنْ الرُّسُلِ وَلَا بِشَيْءِ مِنْ الْكُتُبِ وَكَانَ عِنْدَهُ آدَمَ وَإِبْلِيسُ سَوَاءً وَنُوحٌ وَقَوْمُهُ سَوَاءً وَمُوسَى وَفِرْعَوْنُ سَوَاءً وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ وَكُفَّارُ مَكَّةَ سَوَاءً.

“Sesungguhnya siapa yang menetapkan takdir lalu berdalil dengan takdir untuk membatalkan perintah dan larangan (syariat) maka ia lebih buruk dari orang yang mengakui syariat (perintah dan larangan). Dan ini adalah perkara yang disepakati oleh kaum muslimin dan penganut agama yang lain, bahkan disepakati oleh seluruh manusia.

Karena barang siapa yang berdalil dengan takdir … dan tidak membedakan antara yang diperintah dan yang dilarang, antara kaum mukminin dan kaum kafir, antara orang yang taat dengan tukang maksiat, maka sesungguhnya ia tidak beriman kepada seluruh Rasul, dan tidak beriman sama sekali dengan kitab-kitab suci, dan menurutnya Adam dan Iblis sama saja, Nuh dan kaumnya sama saja, Musa dan Firaun saja, para sahabat (Muhajirin dan Anshor) sama saja dengan kaum musyrikin Mekkah.”([14])

Beliau rahimahullah juga berkata :

مَنْ يُقِرُّ بِتَقَدُّمِ عِلْمِ اللَّهِ وَكِتَابِهِ لَكِنْ يَزْعُمُ أَنَّ ذَلِكَ يُغْنِي عَنْ الْأَمْرِ وَالنَّهْيِ وَالْعَمَلِ وَأَنَّهُ لَا يَحْتَاجُ إلَى الْعَمَلِ بَلْ مَنْ قُضِيَ لَهُ بِالسَّعَادَةِ دَخَلَ الْجَنَّةَ بِلَا عَمَلٍ أَصْلًا وَمَنْ قُضِيَ عَلَيْهِ بِالشَّقَاوَةِ شَقِيَ بِلَا عَمَلٍ فَهَؤُلَاءِ لَيْسُوا طَائِفَةً مَعْدُودَةً مِنْ طَوَائِفِ أَهْلِ الْمَقَالَاتِ وَإِنَّمَا يَقُولُهُ كَثِيرٌ مِنْ جُهَّالِ النَّاسِ….وَمَضْمُونُ قَوْلِ هَؤُلَاءِ تَعْطِيلُ الْأَمْرِ وَالنَّهْيِ وَالْحَلَالِ وَالْحَرَامِ وَالْوَعْدِ وَالْوَعِيدِ وَهَؤُلَاءِ أَكْفَرُ مِنْ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى بِكَثِيرِ

“Siapa yang mengakui ilmu Allah yang qadim dan mengakui pencatatan takdir akan tetapi ia menyangka bahwa hal itu sudah cukup tidak perlu lagi perintah dan larangan serta amal, tidak perlu beramal saleh, bahkan siapa yang telah ditakdirkan masuk surga maka ia akan masuk surga tanpa perlu amal Saleh sama sekali. Sebaliknya siapa yang ditakdirkan masuk neraka maka ia akan masuk neraka meski tidak beramal buruk, maka mereka ini bukan termasuk dari firqah-firqah dalam Islam, akan tetapi pendapat seperti ini hanyalah diucapkan oleh orang-orang bodoh… inti dari pendapat mereka adalah peniadaan syariat (perintah dan larangan, halal dan haram, janji dan ancaman). Mereka ini jauh lebih kafir daripada Yahudi dan Nasrani” ([15])

Hal ini karena konsekuensi dari akidah seperti ini banyak([16]), di antaranya adalah:

  • Manusia terpaksa, sehingga tidak berdosa.
  • Penyamaan antara ketaatan dan kemaksiatan, sebab keduanya sama-sama dilakukan dengan terpaksa.

Sampai sebagian orang dari kelompok ini berkata,

إِنْ كُنْتُ عَصَيْتُ أَمْرَهُ فَقَدْ أَطَعْتُ إِرَادَتَهُ وَمُطِيْعُ الإِرَادَةِ غَيْرُ مَلُوْمٍ

 “Jika aku membangkang (bermaksiat) kepada perintah Allah maka sungguh aku telah taat kepada kehendak-Nya, dan orang yang taat kepada kehendak-Nya tidaklah tercela.”([17])

Demikian juga berkonsekuensi menyamakan antara iman dan kufur.

  • Memerintahkan manusia untuk menjalankan syariat berarti التَّكْلِيْفُ بِمَا لاَ يُطَاقُ membebani mereka dengan apa yang mereka tidak mampui karena semua perbuatan mereka adalah terpaksa.
  • Ini juga menjadikan orang untuk malas beramal karena bersandar kepada takdir.
  • Ini juga berkonsekuensi bahwa Allah mencintai kekufuran, kesyirikan, dan kemaksiatan.
  • Jabariyah lebih parah kesesatannya dari Qodariyah yang menjalankan syariat. Bahkan lebih parah juga dari Yahudi dan Nasrani yang mengakui syariat.
  • Syiah Rafidhah

Syiah Rafidhah memiliki sebuah akidah yang disebut dengan Al-Bada’. Tentang akidah ini penulis telah menjelaskan secara panjang lebar pada buku penulis yang berjudul, “33 Banyolan Akidah Syiah” (pada banyolan ke 16).

Secara ringkas Al-Bada’ artinya adalah tampak, maksudnya adalah tampak bagi Allah ﷻ untuk mengubah keputusan-Nya. Akidah ini diambil dari Yahudi yang menyatakan bahwa Allah ﷻ menyesal. Kenapa Allah ﷻ menyesal? Karena tampak bagi Allah ﷻ kemaslahatan yang baru, sehingga Allah ﷻ menyesal atas perbuatan sebelumnya.

Akidah Al-Bada ada pada orang-orang Syiah karena mereka meyakini bahwa imam-imam mereka yang 12 mengetahui ilmu gaib. Ketika imam-imam mereka menyampaikan sesuatu tentang hal gaib dan kemudian hal tersebut tidak terjadi, maka pengikut imam-imam tersebut akan bertanya tentang hal itu, mengapa tidak terjadi? Menjawab pertanyaan ini sang imam kemudian berkata, “بَدَا لله” (Tampaknya Allah ﷻ mengubah keputusan-Nya).

Inilah akidah-akidah yang menyimpang dalam masalah takdir berkaitan dengan kelompok-kelompok yang divonis oleh para ulama bahwa mereka keluar dari Islam.

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Rukum Iman Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________

([1]) Risalah Fi Al-Qadha’ wa Al-Qadar (6).

([2]) HR. ‘Abdurrazzaq, Al-Amali Fi Atsari As-Shahabah No. 51, At-Thabarani, Al-Mu’jamu Al-Kabir, No. 1427. Berkata Syaikh Al-Albani: “diriwayatkan dari jalur Ibnu Mas’ud, Tsauban, Ibnu ‘Umar, Thawus, radhiallahu ‘anhum ajma’in secara mursal, dan semuanya diriwayatkan dengan sanad yang daif. Akan tetapi, satu dengan yang lainnya saling menguatkan”. (Lihat: Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah No.34).

([3]) Lihat: Ushul Ad-Diin ‘inda Abi Hanifah (521).

([4]) Lihat: Syarah Al-Arbain An-Nawawiyah (39).

([5]) HR. Muslim No. 8.

([6]) HR. Muslim No. 771.

([7]) Lihat: Al-Ibanah Al-Kubra (2/298).

([8]) Lihat: Tahafut Al-Falasifah (1/307).

([9]) Majmu’ Al-Fatawa (8/150).

([10]) Majmu’ Al-Fatawa (8/150).

([11]) HR. Ibnu Hibban No. 168, dan dinyatakan sahih oleh Al-Arnauth.

([12]) Lihat: Syifaa’ Al-‘Aliil (49).

([13]) Lihat: Tariqat Al-Hijratain, Ibnul Qayyim (84).

([14]) Majmu’ Al-Fatawa (8/100).

([15]) Majmu’ Al-Fatawa (8/288).

([16]) Lihat: Majmu’ Al-Fatawa (8/256).

([17]) Lihat: Syifaa’ Al-‘Aliil (4)

Maksud dari perkataan ini adalah melegalkan maksiat. Di satu sisi ia bermaksiat, tetapi di sisi yang lain ia tunduk kepada kehendak Allah ﷻ. Jadi tidak ada perbedaan antara kemaksiatan dan ketaatan. Syariat tidak berlaku (Halal dan Haram tidak dipakai).