Takut Kepada Allah – Iman Kepada Hari Akhir 34

Takut Kepada Allah([1])

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Di awal perjalanan : Surga adalah harapan

Ketika aku pertama kali mulai mengenal Islam, tepatnya di tahap awal masa mudaku, aku merasa bahwa surga firdaus merupakan tempat yang wajib bagiku untuk menggantungkan impianku kepadanya. Mungkin waktu itu aku memang merasa surga firdaus adalah tempat yang pantas bagiku. Aku tidak pernah berpikir tentang neraka  dan keselamatan dari neraka karena hal itu bukanlah prioritas dan bahkan tidak pernah aku sebutkan dalam doaku. Orang sepertiku tidaklah pantas masuk neraka -insya Allah- oleh karenanya aku tidak pernah takut dengan siksa api neraka. Aku juga tidak pernah berlindung kepada Allah dari siksa api neraka. Kalaupun aku berdoa untuk selamat dari neraka itu pun sebagai bentuk mengikuti petunjuk Nabi ﷺ  yang mana beliau senantiasa berdoa agar diselamatkan dari api neraka padahal sudah pasti beliau tidak akan masuk neraka.

Setiap kali aku beristigfar aku merasa bahwa tidak ada hal yang semestinya aku sesali. Kalaupun aku terjatuh pada suatu dosa maka aku merasa bahwa Allah selalu memberikan aku taufik untuk mengetahui dosa-dosa tersebut dan segera bertobat kepada-Nya. Tentu menurutku ini sudah cukup dikatakan sebagai tobat.

Prasangka ini terus berlanjut beberapa waktu. Hingga ketika aku mulai memahami Al-Qur’an dan aku mulai mengenal hakikat makna iman dan hakikat makna maksiat dan aku juga mempelajari akhlak para rasul dan orang-orang saleh serta para ahli iman, prasangka ini pun sedikit-sedikit mulai terkikis sehingga obsesiku sekarang adalah bagaimana caranya selamat dari neraka dan lari dari kedahsyatan yang terjadi sebelum fase dimasukkannya seseorang ke dalam neraka.

Adapun surga, terlebih surga firdaus, merupakan perkara lain dan mendapatkannya pun harus diupayakan dengan cara lain karena aku melihat bahwa upayaku, tekadku dan amalanku sangat jauh dari impian tersebut. Di sisi lain kemaksiatan dan dosa yang telah aku perbuat seandainya aku tangisi mulai dari hari ini hingga aku mati, maka seluruh tangisan tersebut tidak cukup untuk menutupi dosa-dosaku. Sungguh jika aku tidak mendapatkan rahmat dari Allah maka aku akan termasuk orang-orang yang merugi. Lantas bagaimana mungkin aku akan mendapatkan surga jika bukan karena rahmat-Nya?!

Memahami definisi dosa

Banyak hal yang menjadikanku rujuk dari prasangkaku yang telah lalu dan menjadikanku menilik masalah ini dengan sudut pandang yang berbeda. Hal pertama yang menjadikanku sadar dari prasangkaku yang salah tentang surga dan neraka adalah di saat aku mulai memahami hakikat dosa dan bahwasanya perbuatan maksiat merupakan perkara yang besar.

Di antara yang menjadikanku mulai memahami hakikat dosa adalah perkataan salah seorang yang saleh. Beliau berkata,

لَا تَنظُرْ إِلَى صِغَرِ الذَّنبِ وَلَكِن انْظُرْ مَنْ عَصَيتَ

“Janganlah kau melihat kepada kecilnya suatu dosa akan tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat”

Aku paham bahwa poin dari perkataan tersebut bahwa Allah adalah Dzat yang Maha sempurna sifat-sifatnya. Maha sempurna pula kenikmatan dan karunia-Nya kepada para hamba-Nya. Atas dasar inilah hendaknya para hamba senantiasa bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Hendaknya mereka taat dan tidak bermaksiat kepada-Nya, bersyukur dan tidak kufur terhadap nikmat-nikmat-Nya serta senantiasa ingat kepada-Nya dan tidak melupakan-Nya. Maka siapakah yang mampu menunaikan semua itu secara sempurna?

Aku dapati juga bahwa Allah selalu memperingatkan hamba-Nya terhadap hukuman-Nya. Allah juga akan menghukum dosa kecil maupun dosa besar. Aku juga yakin bahwa hak Allah atas para hamba-Nya lebih besar dari segalah perintah-Nya. Sesungguhnya semua berada dalam rahmat-Nya dan ketundukan terhadap perintah-Nya. Allah ﷻ berfirman,

فَيَوْمَئِذٍ لَا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ

Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengazab seperti azab-Nya (yang adil), (QS. Al-Fajr: 25)

Kenapa maksiat merupakan perkara yang besar?

Maksiat merupakan perkara yang sangat besar karena merupakan bentuk penyelisihan terhadap perintah Allah ﷻ yang tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Dia. Dialah yang sang pencipta langit dan bumi, Dzat yang telah menciptakan segala sesuatu. Dialah Rabb yang segala sesuatu tunduk dan patuh di hadapan-Nya. Dialah Dzat yang Maha perkasa atas para hamba-Nya. Maha bijaksana lagi Maha teliti, tiada suatu perkara yang tersembunyi dari-Nya baik kecil maupun besar. Dialah Dzat yang Maha menjaga setiap jiwa terhadap apa yang diperbuatnya, tak ada yang tersembunyi dari-Nya sesuatu apa pun dilangit dan di bumi. Dzat yang ditakuti para Malaikat yang perkasa lagi mulia. Hampir-hampir langit runtuh dan hancur karena takut akan kebesaran-Nya.

Dialah Dzat yang menahan langit dan bumi agar tidak bergeser. Dzat yang ilmu para makhluknya tidak mampu untuk meliputi-Nya. Dialah Dzat yang ilmu-Nya meliputi seluruh makhluk-Nya. Tak ada yang luput dari-Nya apa yang terbetik pada hati-hati mereka dan apa yang terlintas dalam benak-benak mereka serta bisikan-bisikan pada dada-dada mereka.

Dzat yang Maha luas ilmu dan rahmat-Nya. Dzat yang tidak menerima dari makhluk-Nya kecuali ketundukan dan kepatuhan atas segala perintah-Nya.

Dialah Dzat yang memuliakan siapa saja dari makhluk-Nya sesuai yang Ia kehendaki. Karunia dan kenikmatan-Nya tak terbatas.

Dialah Dzat yang menghinakan siapa saja dari hamba-Nya yang Ia kehendaki. Tidak ada yang mampu menghinakan dan mengazab layaknya Allah ﷻ. Dialah dzat yang mengazab siapa saja dari hamba-Nya yang Ia kehendaki. Tidak ada yang serupa dengan azab-Nya yang tiada henti. Allah berfirman,

فَيَوْمَئِذٍ لَا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ

Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengazab seperti azab-Nya (yang adil), (QS. Al-Fajr: 25)

Dialah Dzat yang segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Tidak ada yang menciptakan kecuali Dia. Tidak ada yang mampu menciptakan meskipun hanya sekecil biji zarah, biji gandum maupun seekor lalat. Dzat yang dapat memberi manfaat dan mudarat kepada para makhluknya. Sedangkan makhluknya tidak mampu memberikan manfaat ataupun mudarat kepada dirinya sendiri kecuali jika Ia berkehendak. Dialah Rabb yang telah menciptakan langit dan bumi serta memelihara keduanya agar tetap seimbang, semua pengurusan tersebut tidaklah menjadikan-Nya lelah sedikitpun.

Sipakah yang mampu meletakkan matahari, bulan dan bintang di luar garis edarnya? Sipakah yang mampu meletakkan semua benda langit tersebut di tempatnya secara sempurna? Allah ﷻ berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

Sungguh, Allah yang menahan langit dan bumi agar tidak lenyap; dan jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang mampu menahannya selain Allah. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun. (QS. Fatir: 41)

Dzat yang menguasai seluruh kerajaan, mengatur alam semesta dan tidak ada yang membantunya dalam hal penciptaan, pemeliharaan. Dialah Dzat yang menciptakan, memelihara, dan mengurus semuanya. Dialah Dzat yang mampu mengakhiri kehidupan alam semesta ini kapan saja sesuai yang ia kehendaki serta mengganti langit dan bumi kapan saja Ia kehendaki. Allah ﷻ berfirman,

إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ، وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ، وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ، وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ، عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ

“Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan menjadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.” (QS. Al-Infitar: 1-5)

Demikianlah, sesungguhnya bermaksiat kepada Rabb yang sangat agung merupakan perkara yang sangat besar dan menyelisihi apa saja yang diwajibkan oleh Allah merupakan dosa yang sangat amat besar.

Hak Allah atas para hamba-Nya lebih besar dari pada perintah yang dibebankan kepada para hamba

Perkara yang menjadikan bentuk penyelisihan terhadap perintah Allah merupakan perkara yang besar dan dosa besar dikarenakan hak Allah yang harus ditunaikan lebih besar dari pada perintah yang dibebankan kepada para hamba-Nya. Dialah Allah yang telah menciptakan para makhluk-Nya dan mengatur segala urusan mereka. Dialah Allah ﷻ yang telah memberikan kenikmatan kepada para hamba-Nya. Dimulai dari nikmat diciptakannya makhluk dan segala bentuk kenikmatan lain, semuanya datang dari Allah ﷻ. Dialah Allah yang Maha memberi rezeki kepada setiap hamba, memelihara, menjaga dan menarbiah dengan rahmat-Nya. Mereka tidak memiliki Rabb selain Dia dan tidak ada sembahan yang  berhak untuk diibadahi kecuali Dia.

Perintah Allah kepada para hamba-Nya merupakan hak Allah atas para hamba yang harus ditunaikan, karena Allah adalah pencipta mereka. Dzat yang telah mewujudkan mereka dari sesuatu yang tidak ada. Meskipun demikian Allah tidaklah membebani hamba-Nya di atas kemampuan mereka. Allah juga tidak pernah memerintahkan sesuatu kecuali perintah tersebut memberikan manfaat kepada mereka. Jikalau Allah memberikan perintah, sesungguhnya Allah tidak butuh atas perintah tersebut. Allah tidak pernah butuh dengan makhluk-Nya. Ibadah para hamba kepada-Nya merupakan karunia yang Allah berikan kepada para hamba-Nya. Hal ini dikarenakan beribadah hanya kepada-Nya merupakan bentuk pembersihan jiwa-jiwa mereka dan merupakan sebab yang dapat mendatangkan keridhaan, rahmat dan pahala dari-Nya. Dari sinilah kemaksiatan dinilai sebagai perkara yang besar disisi Allah dan merupakan dosa yang besar kepada-Nya karena maksiat merupakan bentuk menyelisihi perintah Rabb yang telah berbuat baik, memuliakan, menciptakan, memberikan rezeki dan menyayangi mereka.

Definisi dosa yang menyeluruh

Apabila seorang hamba benar-benar mengenal Allah, bahwa Allah adalah penciptanya, sang pemberi rezeki dan mengurusi segala urusan makhluknya. Dzat yang dapat memberikan manfaat dan mudarat, Dzat yang mengetahui apa yang dibuka dan disembunyikan, kehidupan dan kematian para hamba-Nya. Bahwasanya seorang hamba selalu membutuhkan Allah ﷻ. Jika semua itu bisa diterapkan niscaya dia akan tahu bahwa hak Allah atas para hamba-Nya adalah  agar Allah ﷻ senantiasa ditaati dan tidak dimaksiati, disyukuri dan tidak dikufuri, senantiasa diingat dan tidak dilupakan dan agar para hamba-Nya senantiasa bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benarnya ketakwaan.

Sungguh setiap kekurangan dalam menunaikan hak-hak Allah merupakan bentuk kelalaian dan kemaksiatan. Kelalaian dari berzikir meskipun hanya sejenak adalah dosa. Tidak bersyukur terhadap satu kenikmatan di antara banyaknya kenikmatan Allah yang tak terhingga merupakan dosa. Begitu pula kemaksiatan baik kecil maupun besar adalah dosa.

Allah ﷻ telah memerintahkan para hamba-Nya untuk senantiasa bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benarnya takwa. Yaitu ketakwaan yang memang sepantasnya diberikan kepada Allah ﷻ. Dialah Rabb yang mengurusi segala urusan makhluk-Nya.  Allah ﷻ berfirman,

وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَلَا أَصْغَرَ مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْبَرَ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan tidakkah engkau (Muhammad) berada dalam suatu urusan, dan tidak membaca suatu ayat Al-Qur’an serta tidak pula kamu melakukan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya. Tidak lengah sedikit pun dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah, baik di bumi ataupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar daripada itu, melainkan semua tercatat dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yunus: 61)

Sesungguhnya Allah Maha mengetahui bahwa hamba-Nya tidak akan sanggup untuk menunaikan hak-Nya sebagaimana mestinya. Allah juga tahu bahwa mereka tidak akan bisa untuk bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benarnya  ketakwaan. Oleh karenanya Allah tidaklah memerintahkan mereka kecuali sebatas apa yang mereka mampu. Allah ﷻ berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah  (QS. At-Tagabun: 16)

Barang siapa yang lalai dari berzikir kepada Allah yang sifatnya wajib dan mampu untuk dia lakukan maka dia adalah orang yang berdosa. Rasulullah ﷺ  bersabda,

مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ فِيهِ وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةً فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ

“Tidaklah suatu kaum duduk dalam suatu majlis kemudian bangkit dan belum berzikir kepada Allah dan bersholawat atas nabi  melainkan mereka akan mendapatkan tirah (penyesalan) jika Allah berkehendak Allah akan azab atau mengampuni mereka ”([2])

Barang siapa lalai untuk bersyukur atas kenikmatan yang telah ia dapatkan maka ia berdosa meskipun hanya seteguk air yang ia minum. Allah ﷻ berfirman,

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu). (QS. At-Takasur: 8)

Rasulullah ﷻ pernah berkata kepada Abu bakar dan Umar ketika mereka berdua keluar dari rumah mereka karena lapar kemudian mereka dijamu Oleh Al-Anshari dengan kurma dan ruthab maka mereka pun memakannya kemudian disajikan air dingin dan mereka pun meminumnya, tatkala itu Rasulullah bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya sesungguhnya kenikmatan ini kalian akan ditanya tentangnya pada hari kiamat”([3])

Barang siapa bermaksiat kepada Allah baik kemaksiatan kecil ataupun besar maka akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ﷻ dan akan dihisab dan diazab kecuali jika Allah ﷻ berkehendak untuk mengampuni dosa tersebut. Jika seseorang mengetahui hal ini dengan benar maka sungguh ia telah memahami makna dosa yang disandarkan kepada para nabi dan rasul. Sesungguhnya dosa-dosa tersebut bukanlah dosa yang besar dan bukan pula dosa yang disengaja dengan tujuan untuk bermaksiat kepada Allah ﷻ.  Dosa-dosa tersebut terkadang terjadi karena bentuk lari dari hal yang lebih utama atau terputus sejenak dari zikir dan bersyukur kepada Allah ﷻ . Rasulullah ﷺ  bersabda,

إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلىَ قَلْبِي وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللهَ فِي اْليَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

Sesungguhnya hatiku pernah terlalaikan dan sungguh aku memohon ampunan kepada Allah dalam satu hari seratus kali ([4])

Rasulullah ﷺ  dahulu pernah melaksanakan salat malam hingga kedua kakinya bengkak, ketika beliau ditanya kenapa beliau melakukan hal tersebut? Beliau menjawab,

أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أكُونَ عبْداً شكُوراً

“Adakah aku tidak senang untuk menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”([5])

Barang siapa tahu tentang hak Allah atas para hamba-Nya dan tahu bahwa hak tersebut semakin besar sebagaimana besarnya kenikmatan yang telah Ia berikan kepada hamba-hamba-Nya serta tahu bahwa hendaknya ia selalu mengingat Allah dan tidak melalaikan-Nya, bersyukur kepadanya dan tidak kufur, taat kepada-Nya dan tidak bermaksiat, takut dan bertakwa kepada-Nya sesuai dengan kebesaran dan kemuliaan derajat-Nya serta keagungan kekuasaannya, maka seorang hamba akan tahu apa sebenarnya arti kemaksiatan dan dosa ?

Hukuman atas kemaksiatan

Setiap hamba yang bermaksiat kepada Allah ﷻ maka ia berada dalam ancaman azab Allah ﷻ sampai Allah ﷻ mengampuni dosa-dosanya. Seorang mukmin terkadang akan mendapatkan hukuman dari kemaksiatannya di dunia dan mendapatkan ujian yang dapat menggugurkan dosa-dosanya dan menaikkan derajatnya. Terkadang Allah ﷻ juga menghukum para nabi ketika di dunia karena sebab kemaksiatan yang kecil yang mereka lakukan.

  • Nabi Adam ‘alaihissalam dan kemaksiatannya terhadap perintah ilahi

Nabi Adam tidaklah bermaksiat melainkan hanya menyelisihi perintah Allah dengan memakan buah dari pohon terlarang. Maksiat tersebut wallahu a’lam bukanlah bentuk perbuatan yang keji secara dzatnya dan bukan merupakan dosa jikalau bukan karena bentuk menyelisihi perintah Allah ﷻ. Hal ini karena Allah telah membolehkan bagi Adam untuk memakan semua makanan dari pohon-pohon yang ada di surga . begitu pula buah tersebut juga tidak merusak akal atau memberikan mudarat lain pada badannya. Beliau juga mendapatkan buah tersebut bukan dengan merampas hak orang lain, dst. kemaksiatan yang beliau lakukan sebagaimana yang Allah kabarkan kepada kita wallahu a’lam adalah karena beliau telah menaati setan yang mana Allah telah mewanti-wanti agar tidak jangan ditaati selain itu beliau telah menyelisihi perintah Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka, “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (QS. Al-A’raf:22)

Meskipun demikian ternyata pengaruh kemaksiatan tersebut merupakan rasa sakit yang berkepanjangan di dunia. Di antaranya, keluarnya Adam dan istri beliau dari surga dan terancamnya beliau dan anak keturunan beliau dari berbagai macam ujian di dunia hingga hari kiamat kelak.

  • Nabi Nuh ‘alaihissalam dan nasehat Allah kepada beliau

Nabi Nuh ‘alaihissalam yang Allah beri julukan sebagai ‘hamba yang bersyukur’ dan beliau juga termasuk ulul ‘azmi dari kalangan para rasul. Beliau telah beribadah kepada Allah ﷻ selama 950 tahun (seribu kurang lima puluh tahun) selama itu pula beliau menahan beban kesulitan dan gangguan dari kaumnya. Allah ﷻ berfirman,

وَلَقَدْ نَادَانَا نُوحٌ فَلَنِعْمَ الْمُجِيبُونَ، وَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ

“Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami, maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami), dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar.” (QS. As-shaffat 75-76)

Ketika Nabi Nuh berdoa kepada Allah dengan doanya,

رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ

“Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku, dan janji-Mu itu pasti benar. Engkau adalah hakim yang paling adil.” (QS. Hud: 45)

Allah ﷻ menjawab,

قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, karena perbuatannya sungguh tidak baik, sebab itu jangan engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Aku menasihatimu agar (engkau) tidak termasuk orang yang bodoh.” (QS. Hud: 46)

Kemudian nabi ini berkata,

رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya). Kalau Engkau tidak mengampuniku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang yang rugi.” (QS. Hud: 47)

Beliau pun mengakui kesalahan beliau yang telah mengatakan sesuatu tanpa ilmu.

  • Nabi Yunus ‘alaihissalam yang terkurung dalam perut ikan paus

Inilah Nabi Yunus ‘alaihissalam yang dihukum oleh Allah ﷻ karena meninggalkan kaumnya yang telah mendustakannya dan mengganggunya tanpa seizin Allah ﷻ. Maka beliau pun terkurung dalam perut ikan paus sampai datang rahmat Allah kepada beliau sehingga beliau dapat keluar dari perut ikan tersebut dalam keadaan lemah dan sakit. Allah ﷻ berfirman,

فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ، لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berzikir (bertasbih) kepada Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari kebangkitan.” (QS. As-Saffat: 143-144)

Allah ﷻ juga berfirman,

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, ”Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim, Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya’: 87-88)

 

  • Terancam azab karena telah menerima tebusan para tawanan.

Nabi ﷻ pernah ditegur oleh Allah ﷻ  karena menerima tebusan  para tawanan. Beliau bersabda, “Sungguh telah ditampakkan kepadaku sisksa kalian lebih dekat ketimbang pohon yang paling dekat ini”([6])

حَدَّثَنَا أَبُو نُوحٍ قُرَادٌ حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا سِمَاكٌ الْحَنَفِيُّ أَبُو زُمَيْلٍ حَدَّثَنِي ابْنُ عَبَّاسٍ حَدَّثَنِي عُمَرُ قَالَ لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ قَالَ نَظَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أَصْحَابِهِ وَهُمْ ثَلَاثُ مِائَةٍ وَنَيِّفٌ وَنَظَرَ إِلَى الْمُشْرِكِينَ فَإِذَا هُمْ أَلْفٌ وَزِيَادَةٌ فَاسْتَقْبَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقِبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَهُ وَعَلَيْهِ رِدَاؤُهُ وَإِزَارُهُ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ أَيْنَ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ أَنْجِزْ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ فَلَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ أَبَدًا قَالَ فَمَا زَالَ يَسْتَغِيثُ رَبَّهُ وَيَدْعُوهُ حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ فَأَتَاهُ أَبُو بَكْرٍ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ فَرَدَّاهُ ثُمَّ الْتَزَمَهُ مِنْ وَرَائِهِ ثُمَّ قَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ كَفَاكَ مُنَاشَدَتُكَ رَبَّكَ فَإِنَّهُ سَيُنْجِزُ لَكَ مَا وَعَدَكَ وَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى { إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنْ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ } فَلَمَّا كَانَ يَوْمُئِذٍ وَالْتَقَوْا فَهَزَمَ اللَّهُ الْمُشْرِكِينَ فَقُتِلَ مِنْهُمْ سَبْعُونَ رَجُلًا وَأُسِرَ مِنْهُمْ سَبْعُونَ رَجُلًا فَاسْتَشَارَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبَا بَكْرٍ وَعَلِيًّا وَعُمَرَ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ يَا نَبِيَّ اللَّهِ هَؤُلَاءِ بَنُو الْعَمِّ وَالْعَشِيرَةُ وَالْإِخْوَانُ فَأَنَا أَرَى أَنْ تَأْخُذَ مِنْهُمْ الْفِدَاءَ فَيَكُونُ مَا أَخَذْنَا مِنْهُمْ قُوَّةً لَنَا عَلَى الْكُفَّارِ وَعَسَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَهْدِيَهُمْ فَيَكُونُونَ لَنَا عَضُدًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا تَرَى يَا ابْنَ الْخَطَّابِ فَقَالَ قُلْتُ وَاللَّهِ مَا أَرَى مَا رَأَى أَبُو بَكْرٍ وَلَكِنِّي أَرَى أَنْ تُمَكِّنَنِي مِنْ فُلَانٍ قَرِيبٍ لِعُمَرَ فَأَضْرِبَ عُنُقَهُ وَتُمَكِّنَ عَلِيًّا مِنْ عَقِيلٍ فَيَضْرِبَ عُنُقَهُ وَتُمَكِّنَ حَمْزَةَ مِنْ فُلَانٍ أَخِيهِ فَيَضْرِبَ عُنُقَهُ حَتَّى يَعْلَمَ اللَّهُ أَنَّهُ لَيْسَ فِي قُلُوبِنَا هَوَادَةٌ لِلْمُشْرِكِينَ هَؤُلَاءِ صَنَادِيدُهُمْ وَأَئِمَّتُهُمْ وَقَادَتُهُمْ فَهَوِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا قَالَ أَبُو بَكْرٍ وَلَمْ يَهْوَ مَا قُلْتُ فَأَخَذَ مِنْهُمْ الْفِدَاءَ فَلَمَّا كَانَ مِنْ الْغَدِ قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ غَدَوْتُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا هُوَ قَاعِدٌ وَأَبُو بَكْرٍ وَإِذَا هُمَا يَبْكِيَانِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي مَاذَا يُبْكِيكَ أَنْتَ وَصَاحِبَكَ فَإِنْ وَجَدْتُ بُكَاءً بَكَيْتُ وَإِنْ لَمْ أَجِدْ بُكَاءً تَبَاكَيْتُ لِبُكَائِكُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي عَرَضَ عَلَيَّ أَصْحَابُكَ مِنْ الْفِدَاءِ وَلَقَدْ عُرِضَ عَلَيَّ عَذَابُكُمْ أَدْنَى مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ لِشَجَرَةٍ قَرِيبَةٍ وَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى { مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَى حَتَّى يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ إِلَى قَوْلِهِ لَمَسَّكُمْ فِيمَا أَخَذْتُمْ } مِنْ الْفِدَاءِ ثُمَّ أُحِلَّ لَهُمْ الْغَنَائِمُ فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ أُحُدٍ مِنْ الْعَامِ الْمُقْبِلِ عُوقِبُوا بِمَا صَنَعُوا يَوْمَ بَدْرٍ مِنْ أَخْذِهِمْ الْفِدَاءَ فَقُتِلَ مِنْهُمْ سَبْعُونَ وَفَرَّ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكُسِرَتْ رَبَاعِيَتُهُ وَهُشِمَتْ الْبَيْضَةُ عَلَى رَأْسِهِ وَسَالَ الدَّمُ عَلَى وَجْهِهِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ { أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا إِلَى قَوْلِهِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ } بِأَخْذِكُمْ الْفِدَاءَ

Telah menceritakan kepada kami Abu Nuh Qurad telah memberitakan kepada kami Ikrimah Bin ‘Amma Telah menceritakan kepada kami Simak Al Hanafi Abu Zumail Telah menceritakan kepadaku Ibnu Abbas Telah menceritakan kepadaku Umar Bin Al Khaththab, dia berkata, “Ketika terjadi perang Badar” Umar berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memandang kepada para sahabatnya dan mereka berjumlah tiga ratus lima puluh orang, kemudian melihat kepada orang-orang Musyrik dan jumlah mereka seribu lebih, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap Qiblat kemudian mengangkat kedua tangannya dan beliau mengenakan kain selendang dan sarungnya kemudian beliau berdoa, “Ya Allah manakah yang telah Engkau janjikan kepadaku, ya Allah tunjukkan apa yang telah Engkau janjikan kepadaku, ya Allah sesungguhnya jika Engkau binasakan kelompok kecil dari orang-orang Islam ini, maka Engkau tidak akan disembah di bumi ini untuk selamanya.” Umar berkata, “Maka Nabi tidak henti hentinya memohon pertolongan kepada Rabbnya dan berdoa kepada-Nya hingga selendangnya terjatuh, maka Abu Bakar mendatanginya dan mengambil selendang beliau dan mengembalikannya kemudian mendampinginya dari belakangnya dan berkata, “Wahai Nabiyullah sudah cukup pengaduanmu kepada Rabbmu, karena Dia akan mengabulkan apa yang dijanjikan kepadamu, ” maka Allah menurunkan; ” (Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS Al Anfal ayat 9). Maka ketika terjadi hari itu dan bertemulah dua pasukan, Allah menghancurkan orang-orang musyrik sehingga terbunuhlah dari mereka tujuh puluh orang tentara dan tertawan tujuh puluh orang tentara, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bermusyawarah dengan Abu Bakar, Ali dan Umar. Abu Bakar berkata, “Wahai Nabiyullah mereka adalah anak anak paman, kerabat dekat dan masih saudara, maka saya berpendapat hendaknya Engkau mengambil dari mereka harta tebusan, dan apa yang kita ambil dari mereka menjadi kekuatan kita mengahadapi orang-orang kafir, semoga Allah akan memberikan hidayah kepada mereka sehingga mereka menjadi pendukung kita.” kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Apa pendapat kamu wahai Ibnul Khaththab?” Umar menjawab; “Aku berkata, “Demi Allah aku tidak berpendapat seperti pendapat Abu Bakar, akan tetapi aku berpendapat Engkau serahkan fulan kerabat Umar kepadaku untuk aku penggal lehernya, dan Engkau serahkan Aqil kepada Ali untuk dia penggal lehernya, dan Engkau serahkan fulan saudara Hamzah kepada Hamzah untuk dia penggal lehernya, sehingga Allah mengetahui bahwa tidak ada kasih sayang dalam hati kita kepada orang-orang musyrik, mereka adalah para pembesar, para tetua dan para pemimpin mereka.’ Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam condong kepada pendapat Abu Bakar dan tidak kepada pendapatku.” Kemudian beliau mengambil tebusan dari mereka, maka pada hari esoknya Umar berkata, “Pagi-pagi aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tiba tiba beliau dan Abu Bakar duduk dan keduanya menangis, maka aku bertanya; “Wahai Rasulullah beritahukan kepadaku apa yang membuat Engkau dan sahabatmu menangis, jika aku bisa menangis, aku akan menangis dan jika aku tidak bisa menangis aku akan menangis nangiskan diri karena kalian berdua menangis”. Umar berkata, “Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Pendapat yang diajukan sahabatmu berupa tebusan, sungguh telah ditampakkan kepadaku sisksa kalian lebih dekat ketimbang pohon yang paling dekat “Dan Allah menurunkan firman-Nya “Tidak patut, bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi” (QS Al Anfal ayat 67), sampai firman-Nya; “Niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar Karena tebusan yang kamu ambil” (QS Al Anfal ayat 68). yaitu tebusan, kemudian dihalalkan bagi mereka harta ghanimah (rampasan perang), maka ketika terjadi perang Uhud di tahun berikutnya mereka dihukum akibat apa yang mereka lakukan pada perang Badar berupa mengambil tebusan, sehingga di antara mereka gugur tujuh puluh orang, dan pada saat peperangan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lari dari beliau, sehingga kedua gigi geraham beliau pecah, kening kepala beliau sobek dan mengalir darah di muka beliau, kemudian Allah menurunkan firman-Nya, “Dan Mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu Telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar ” (QS Ali Imran ayat 165) sampai firman-Nya: “Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Ali Imran ayat 165) disebabkan kalian mengambil tebusan.([7])

Para rasul takut terhadap dosa yang mana dosa tersebut jika disandarkan kepada salah satu dari kita niscaya ia akan menganggapnya sebagai suatu ketaatan

Siapakah dari kita yang tidak berangan-angan memiliki perilaku seperti perilakunya Nabi Ibrahim ‘alahissalam yang telah berdusta terhadap kaumnya para penyembah berhala ketika beliau berkata kepada mereka,

اِنِّيْ سَقِيْمٌ

“Sesungguhnya aku sakit.” (QS. As-Saffat: 89)

Begitu juga perkataan beliau,

قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ

Dia (Ibrahim) menjawab, “Sebenarnya (patung) besar itu yang melakukannya” (QS. Al-Anbiya’:63)

Sehingga beliau berhasil menghancurkan patung mereka dan mengembalikan akal sehat mereka? Siapakah dari kita yang tidak berangan-angan untuk berkata, “Ini adalah saudariku” untuk menyelamatkan istrinya dan dirinya dari raja yang sombong lagi kafir yang hendak membunuhnya  dan merampas istrinya? Meskipun demikian Nabi Ibrahim tetap meminta ampun terhadap tindakan tersebut dan meminta uzur untuk tidak memohon syafaat kepada Allah karena takut atas kemaksiatan yang ia lakukan. Tatkala itu beliau berkata, “Sesungguhnya aku telah berdusta dengan tiga kedustaan”([8]).

Sama halnya yang terjadi terhadap Nabi Musa ‘alaihissalam yang mana beliau termasuk ulul ‘azmi dari kalangan para rasul. Beliau telah membunuh secara tidak sengaja dan tanpa ada niat sama sekali untuk membunuh. Beliau tidak sengaja membunuh demi melindungi seorang yang terzalimi. Perbuatan tersebut juga beliau lakukan sebelum beliau diangkat sebagai seorang rasul . Meskipun demikian beliau tetap berkata,

رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.” Maka Dia (Allah) mengampuninya. Sungguh, Allah, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Al-Qasas: 16)

Karena perbuatan ini beliau takut akan azab Allah ﷻ, beliau berkata,

إنَّ رَبِّي قدْ غَضِبَ اليومَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ، ولَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ، وإنِّي قَتَلْتُ نَفْسًا لَمْ أُومَرْ بقَتْلِها

“Sesungguhnya Rabbku marah pada hari ini dengan kemarahan yang tidak pernah didapati sebelumnya dan tidak akan marah setelahnya dengan kemarahan yang semisal, sungguh aku telah bermaksiat kepada Rabbku, aku telah membunuh jiwa yang aku tidak diperintahkan untuk membunuhnya”([9])

Siapakah di antara kita yang tidak berharap agar bertindak seperti tindakan beliau dalam membela salah seorang dari kaumnya yang terzalimi??

Bertambahnya rasa takut kepada Allah disebabkan karena bertambahnya keimanan sebaliknya berkurangnya rasa takut karena kurangnya keimanan seorang hamba kepada Rabbnya

Setiap kali perasaan sedang carut marut dan jauhnya jiwa dari sumber-sumber hidayah maka hilang pula lah sensitivitas terhadap perbuatan dosa. Orang kafir mereka melakukan kekufuran, tindak kriminal, kefasikan sedangkan mereka tertawa dengannya. Seorang yang buruk lagi munafik ia melihat dosanya bagaikan lalat yang hinggap di hidungnya dia cukup mengusirnya dengan jarinya saja. adapun orang mukmin ia melihat dosanya bagaikan gunung yang ia khawatirkan suatu saat akan menimpanya. Dahulu Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu sahabat yang telah dipanjangkan umur beliau setelah wafatnya nabi ﷺ, pernah berkata,

إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا، هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ، إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ ﷺ مِنَ الْمُوبِقَاتِ

“Sesungguhnya kalian beramal dengan amalan yang mana amalan tersebut di mata kalian lebih ringan dari pada sehelai rambut namun dahulu kami anggap amalan itu  di zaman Rasulullah merupakan mubiqaat (penghancur)”([10])

([1]) Pembahasan ini diambil dari cuplikan-cuplikan dari kitab Al-Jahiim Ru‎’yah Min Ad-Daakhil, karya Abdurrahman Abdul Khaliq rahimahullah. Sengaja penulis menukil dari kitab tersebut karena uslub (metode) penulisannya yang sangat baik dan merasuk ke hati.

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Rukum Iman Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________

([2]) HR.  Tirmidzi No. 3380

([3]) HR.  Muslim No. 2038

([4]) HR.  Muslim No. 2702

([5]) HR.  Bukhari No. 4837

([6]) HR.  Ahmad No. 216

([7])  HR. Ahmad No. 216

([8]) HR. Tirmidzi No. 3148

([9]) HR.  Muslim No. 194

([10]) HR.  Bukhari No. 6127