Bidadari Surga – Surga Bag.5

BIDADARI SURGA

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Mukadimah

Surga diliputi dengan perkara-perkara yang dibenci, sebaliknya neraka diliputi dengan perkara-perkara yang disenangi. Nabi ﷺ bersabda,

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهْوَاتِ

“Surga dikelilingi oleh perkara-perkara yang dibenci, dan neraka dikelilingi oleh perkara-perkara syahwat.”([1])

Seseorang jika ingin masuk surga, maka ia harus melewati hal-hal yang dibencinya. Berbeda dengan orang yang ingin masuk neraka, maka ia tinggal mengikuti hawa nafsunya. Oleh karenanya Allah ﷻ memuji orang-orang yang bisa menahan hawa nafsunya kemudian berusaha mensucikan dirinya. Allah ﷻ berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا، وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotori jiwanya” (QS As-Syams: 9-10)

Allah ﷻ juga berfirman,

فَأَمَّا مَنْ طَغَى، وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى، وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ، فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka Sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS An-Nazi’at: 37-41)

Di dunia ini banyak perkara-perkara yang menyenangkan akan tetapi diharamkan oleh Allah ﷻ. Contohnya adalah khamar, Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ لَمْ يَتُبْ مِنْهَا حُرِمَهَا فِي الآخِرَةِ

“Barang siapa yang meminum khamar di dunia –kemudian ia tidak bertaubat darinya- maka ia akan terhalangi dari meminumnya di akhirat.”([2])

Begitu juga sutra dan bejana emas, keduanya diharamkan oleh Allah ﷻ. Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ لَبِسَ الْحَرِيْرَ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَلْبَسْهُ فِي الآخِرَةِ وَمَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَشْرَبْهُ فِي الآخِرَةِ وَمَنْ شَرِبَ فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَشْرَبْ بِهَا فِي الآخِرَةِ، ثُمَّ قَالَ: لِبَاسُ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَشَرَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَآنِيَةِ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Barang siapa yang memakai pakaian sutra (bagi lelaki-pen) di dunia maka ia tidak akan memakainya di akhirat, barang siapa yang meminum khamar di dunia maka dia tidak akan meminumnya di akhirat, dan barang siapa yang  minum memakai bejana emas dan perak di dunia maka ia tidak akan meminum memakai bejana emas dan perak di akhirat. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sutra adalah pakaian penduduk surga, khamar adalah minuman penduduk surga, dan bejana emas dan perak adalah bejana para penduduk surga.”([3])

Hadits-hadits di atas menunjukkan di antara hal yang bisa memotivasi kita untuk menahan diri kita dari perkara-perkara yang haram adalah mengingat-ingat kenikmatan akhirat.

Tidak diragukan lagi bahwasanya fitnah terbesar bagi para lelaki adalah fitnah wanita. Nabi ﷺ bersabda

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةُ أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Aku tidak pernah meninggalkan –setelahku- sebuah fitnah yang lebih berbahaya dari fitnah wanita.”([4])

Saat ini sebagaimana kita saksikan, wanita ditampakkan dimana-mana. Setiap acara apa pun, kegiatan apa pun, iklan apa pun, untuk menarik daya tarik, maka dipajanglah wanita-wanita. Hal ini karena memang wanita adalah fitnah yang menyenangkan bagi kaum lelaki. Begitu dahsyatnya fitnah wanita, sampai kaum lelaki sangat mudah terjatuh dalam fitnah ini. Maka sangat penting bagi kita untuk mengetahui sebab-sebab yang bisa menjauhkan dan menyelamatkan kita dari fitnah tersebut.

Di antara sebab tersebut adalah menundukkan pandangan dan mengingat-ingat kenikmatan bidadari. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin membahas tentang bidadari surga. Hal ini sebagai motivasi agar kita bisa menundukkan pandangan sehingga menjauh dari dahsyatnya fitnah wanita. Jangan sampai karena sebab mengumbar pandangan di dunia, maka seseorang terhalang dari kenikmatan bidadari di akhirat.

Bidadari Adalah Nikmat Yang Paling Diimpikan

Kita tahu bahwa nikmat di surga sangat banyak, bahkan tak terhitung dan tak terhingga. Oleh karenanya, barang siapa masuk surga maka apa pun permintaan yang ia minta akan dikabulkan. Allah ﷻ berfirman,

وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

“Di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.” (QS. Fushilat: 31)

Walau begitu banyak kenikmatan yang Allah ﷻ siapkan di surga, ternyata ada satu kenikmatan yang Allah ﷻ sering sebutkan berulang-ulang kali. Kenikmatan tersebut adalah bidadari surga.

Nikmat bidadari merupakan nikmat yang sangat diimpikan oleh kaum lelaki. Memang benar di surga sangat banyak kenikmatan seperti makan, minum, menjadi seperti raja dan yang lainnya. Akan tetapi kenikmatan memiliki istri yang jelita, patuh, ramah, selalu menyenangkan adalah impian setiap lelaki. Hal ini sangat wajar, sebab jika di dunia wanita adalah impian kaum lelaki maka demikian juga di surga. Oleh karenanya, menjadi wajar juga jika fitnah terbesar bagi kaum lelaki adalah fitnah wanita. Nabi ﷺ bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةُ أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Aku tidak pernah meninggalkan –setelahku- sebuah fitnah yang lebih berbahaya dari fitnah wanita.”([5])

Jika wanita adalah impian kaum lelaki di dunia, maka di akhirat kelak Allah ﷻ akan siapkan kenikmatan tersebut berupa bidadari. Di antara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Allah ﷻ menyiapkan kenikmatan bidadari secara khusus adalah:

firman Allah ﷻ,

إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ، هُمْ وَأَزْوَاجُهُمْ فِي ظِلَالٍ عَلَى الْأَرَائِكِ مُتَّكِئُونَ

“Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan” (QS Yasin: 55-56)

Kebanyakan salaf ketika menafsirkan فِي شُغُلٍ (dalam kesibukan) mereka mengatakan maknanya adalah اِفْتِضَاضُ الأَبْكَارِ (menggauli para bidadari).([6]) Jadi pada ayat di atas Allah ﷻ sebutkan bahwasanya dari sekian banyak kenikmatan surga, di antara kenikmatan yang membuat kaum lelaki  sibuk adalah menggauli para bidadari.

Dalam hadits juga Nabi ﷺ sebutkan bahwasanya Allah ﷻ siapkan bidadari yang banyak bagi penghuni surga. Nabi ﷺ bersabda,

إِنَّ لِلْمُؤْمِنِ فِي الْجَنَّةِ لَخَيْمَةً مِنْ لُؤْلُؤَةٍ وَاحِدَةٍ مُجَوَّفَةٍ طُولُهَا سِتُّونَ مِيلاً لِلْمُؤْمِنِ فِيهَا أَهْلُونَ يَطُوفُ عَلَيْهِمُ الْمُؤْمِنُ فَلاَ يَرَى بَعْضُهُمْ بَعْضًا

 “Bagi seorang mukmin di surga sebuah kemah dari sebuah mutiara yang berongga, panjangnya 60 mil, dan bagi seorang mukmin dalam kemah mutiara tersebut istri-istrinya, sang mukmin berkeliling mengitari mereka sehingga sebagian mereka tidak melihat sebagian yang lain”([7])

Al-Munawi berkata, “Sang mukmin memiliki banyak istri, ia mengelilingi istri-istri tersebut untuk menjimak mereka atau yang semisalnya, sehingga sebagian bidadari tidak melihat bidadari yang lain karena besarnya kemah mutiara tersebut”([8])

Selanjutnya, di antara dalil yang menunjukkan bahwa Allah ﷻ siapkan bidadari untuk kaum lelaki adalah hadits Nabi ﷺ yang menyebutkan bahwa penghuni surga (lelaki) diberi oleh Allah ﷻ kekuatan 100 lelaki. Nabi ﷺ bersabda,

يُعْطَى الْمُؤْمِنُ فِي الْجَنَّةِ قُوَّةَ كَذَا وَكَذَا مِنَ الْجِمَاعِ، قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَوَ يُطِيْقُ ذَلِكَ؟ قَالَ: يُعْطَى قُوَّةَ مِائَةٍ

“Seorang mukmin di surga diberi kekuatan untuk berjimak sekian dan sekian”, maka dikatakan, “Wahai Rasulullah, apakah ia mampu?”. Rasulullah berkata, “Ia diberi kekuatan 100 orang dalam berjimak.”([9])

Dalam hadits lain Nabi ﷺ bersabda,

إنَّ الرَّجُلَ لَيصِلُ فِي اليَوْمِ إِلَى مِئَةِ عَذْرَاءَ

“Sungguh seorang lelaki penghuni surga sehari bisa menggauli 100 bidadari.”([10])

Sifat-Sifat Bidadari

            Sifat-sifat bidadari bisa kita klasifikasikan menjadi dua yaitu sifat-sifat bidadari secara umum dan sifat-sifat bidadari secara terperinci.

Sifat-sifat bidadari secara umum

Sifat-sifat bidadari secara umum seperti firman Allah ﷻ dalam hadits qudsi,

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنُ رَأَتْ، وَلَا أُذنٌ سَمِعَتْ، ولَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Aku telah menyiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh, kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik dalam hati manusia.”([11])

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata,

لَيْسَ فِي الجنَّةِ شَيْءٌ مِمَّا الدُّنْيَا إلَّا الأَسْمَاءَ

“Tidak ada satu pun di surga dibandingkan dengan dunia kecuali hanya sekadar nama.”([12])

Jadi, walaupun sama-sama disebut dengan wanita, akan tetapi hakikat dari wanita dunia dan wanita surga berbeda.  Di antara hal yang menunjukkan hal ini adalah sabda Nabi ﷺ,

لَوْ أنَّ امْرَأَةً مِن نِسَاءِ أهْلِ الجَنَّةِ اطَّلَعَتْ إلى الأرْضِ لَأَضَاءَتْ ما بيْنَهُمَا، ولَمَلَأَتْ ما بيْنَهُما رِيحًا، ولَنَصِيفُهَا – يَعْنِي الخِمَارَ – خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وما فِيهَا

“Seandainya ada seorang wanita penghuni surga hadir di dunia, maka ia akan menerangi langit dan bumi, dan ia juga akan mewangikan seluruh isi langit dan bumi, dan khimarnya (jilbabnya) lebih baik dari dunia dan seisinya.”([13])

Jangankan bidadari, ternyata jilbab yang dipakai oleh bidadari pun tidak bisa kita logikakan, yang mana jilbab tersebut lebih baik dari dunia dan seisinya. Terbuat dari apa jilbab tersebut, maka tidak bisa kita logikakan. Lalu bagaimana lagi dengan bidadari, yang disebutkan cahaya tubuhnya bisa menerangi seluas langit dan bumi, kemudian bagaimana wangi bidadari yang disebutkan bisa mewangikan seluruh isi langit dan bumi. Ini semua memberi kesimpulan bahwa kita tidak akan bisa mengkhayalkan bagaimana hakikat bidadari sebagaimana mestinya, sebab otak kita tidak mampu untuk mengkhayalkan hal tersebut.

Perkara ini sama halnya dengan ketampanan nabi Yusuf ‘alaihissalam. Para wanita di zaman nabi Yusuf ‘alaihisalam, saking takjub dengan ketampanan nabi Yusuf ‘alaihissalam mereka sampai mengiris-iris tangan mereka tanpa sadar. Padahal kenyataannya yang kita saksikan saat ini, seorang wanita jika melihat lelaki yang sangat tampan, mungkin saja ia takjub dan histeris. Akan tetapi jika sampai mengiris tangan, maka wanita pasti akan sadar. Kenapa? Karena ketampanan tersebut terbatas. Berbeda dengan ketampanan yang Allah ﷻ berikan kepada nabi Yusuf ‘alaihissalam yang mana  Nabi ﷺ pernah menggambarkan ketampanan tersebut dengan sabdanya,

أُعطِيَ يُوْسُفُ شَطْرَ الحُسْنِ

“Telah diberikan setengah ketampanan bagi nabi Yusuf ‘alaihissalam.”([14])

Sebagian ulama mengatakan makna hadits ini adalah setengah ketampanan di dunia diberikan kepada nabi Yusuf ‘alaihissalam.([15]) Oleh karenanya jika kita memaksakan diri kita untuk mengkhayalkan bagaimana tampannya Nabi Yusuf ‘alaihissalam, maka kita tidak akan mampu mengkhayalkan ketampanan beliau. Kita hanya bisa mengkhayalkan lelaki tertampan yang pernah kita lihat di dunia ini. Demikian juga dengan wanita, jika kita mengkhayalkan tentang wanita tercantik, maka akan terkhayalkan wanita tercantik yang pernah kita lihat. Hanya itu yang bisa kita bayangkan, lebih dari itu otak kita tidak mampu. Lalu bagaimana lagi dengan bidadari? Tentu otak kita lebih tidak mampu, sebab ini di luar kemampuan kita untuk mengkhayal.

Sifat-sifat bidadari secara terperinci

Adapun sifat-sifat bidadari secara terperinci, maka bisa juga kita klasifikasikan menjadi dua bagian yaitu sifat-sifat akhlak dan sifat-sifat fisik para bidadari.

  • Pertama: Sifat-sifat Akhlak para bidadari

Nas-nas yang menjelaskan hal ini di antaranya adalah firman Allah ﷻ,

وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ

“Bagi mereka di dalamnya ada istri-istri yang disucikan.” (QS. Al-Baqarah: 25)

Makna disucikan pada ayat ini adalah disucikan secara fisik dan juga secara akhlak.([16]) Istri-istri penghuni surga ada dua model. Pertama adalah bidadari yang Allah ﷻ ciptakan langsung di surga, kedua adalah bidadari yang asalnya mereka adalah istri-istri di dunia. Para bidadari yang kedua inilah Allah ﷻ sucikan akhlak mereka, sehingga akhlak-akhlak buruk mereka ketika di dunia akan hilang dan berubah menjadi wanita-wanita yang memiliki akhlak perangai yang baik.

Di antara sifat akhlak para bidadari adalah:

  • Menundukkan pandangan.

Allah ﷻ berfirman,

وَعِنْدَهُمْ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ عِينٌ

“Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya.” (QS. Ash-Shaffat: 48)

Jangankan berbincang dengan lelaki lain atau sampai selingkuh, ternyata melirik kepada lelaki lain saja bidadari tidak pernah melakukan itu. Pandangan mereka hanya tertuju kepada suami mereka, sehingga mereka tidak membandingkan suami mereka dengan lelaki lain. Oleh karenanya jangankan manusia, bahkan jin pun tidak pernah menyentuh mereka. Allah ﷻ berfirman,

لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ

“Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin.” (QS. Ar-Rahman: 74)

  • Para bidadari adalah wanita yang baik

Allah ﷻ berfirman,

فِيهِنَّ خَيْرَاتٌ حِسَانٌ

“Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.” (QS. Ar-Rahman: 70)

  • Para bidadari tidak pergi ke sana-sini

Allah ﷻ berfirman,

حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ

“(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, tertahan dalam rumah.” (QS. Ar-Rahman: 72)

Ibnul Qayyim rahimahullah pernah membuat bait-bait syair yang menggambarkan tentang akhlak bidadari. Bait-bait syair tersebut adalah,

وَرَأَوْا عَلَى بُعْدٍ خِيَامًا مُشْرِفا … تٍ مُشْرِقَاتِ النُّوْرِ وَالْبُرْهَانِ

Dan mereka (para lelaki penghuni surga) melihat dari kejauhan kemah-kemah yang tinggi dan memancarkan cahaya dan petunjuk

فَتَيَمَّمُوْا تِلْكَ الْخِيَامَ فَآنَسُوْا … فِيْهِنَّ أَقْمَارَا بِلاَ نُقْصَانِ

Mereka pun menuju ke kemah-kemah tersebut maka mereka mendapati dalam kemah-kemah tersebut rembulan-rembulan yang sempurna tanpa kekurangan sedikit pun

مِنْ قَاصِرَاتِ الطَّرْفِ لاَ تَبْغَى سِوَى … مَحْبُوْبِهَا مِنْ سَائِرِ الشُّبَّانِ

Para bidadari yang membatasi lirikan mata mereka, bidadari tidak menginginkan melainkan kekasihnya dari para pemuda yang ada

قَصَرَتْ عَلَيْهِ طَرْفَهَا مِنْ حُسْنِهِ … وَالطَّرْفُ فِي ذَا الْوَجْهِ لِلنِّسْوَانَ

Sang bidadari membatasi pandangannya (hanya kepada kekasihnya) karena tampannya sang kekasih. Karenanya lirikan mata yang tertunduk adalah lirikan mata para bidadari

أَوْ أَنَّهَا قَصَرَتْ عَلَيْهِ طَرْفَهُ … مِنْ حُسْنِهَا فَالطَّرْفٌ لِلذُّكْرَانَ

Atau sang bidadari membatasi pandangan sang kekasih (penghuni surga) karena cantiknya sang bidadari, maka dalam hal ini lirikan mata yang tunduk adalah lirikan mata sang kekasih

وَالْأَوَّلُ الْمَعْهُوْدُ مِنْ وَضْعِ الْخِطَا … بِ فَلاَ تَحِدْ عَنْ ظَاهِرِ الْقُرْآنِ

Pendapat pertama (yaitu lirikan mata yang tertunduk adalah lirikan mata bidadari) itulah pendapat yang merupakan zahir dari ayat Al-Quran, maka janganlah engkau berpaling dari zahirnya Al-Quran

وَلَرُبَّمَا دَلَّتْ إِشَارَتُهُ عَلَى الثَّـ … ـانِي فَتِلْكَ إِشَارَةٌ لِمَعَانِ

Dan bisa jadi pendapat yang kedua (bahwasanya lirikan mata yang tertunduk adalah lirikan mata para lelaki penghuni surga) ditunjukkan oleh pendapat yang pertama, maka itu adalah penunjukan ayat dan bukan makna dari zahirnya ayat Al-Quran([17])

Kedua: Sifat-sifat fisik bidadari

            Nas-nas yang menjelaskan tentang sifat-sifat fisik bidadari sangat banyak. Sifat-sifat tersebut di antaranya adalah:

  • Bidadari langsung diciptakan dewasa

Allah ﷻ berfirman,

إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً

“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung.” (QS. Al-Waqi’ah: 35)

  • Selalu perawan

Allah ﷻ berfirman,

فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا

“Dan Kami jadikan para bidadari senantiasa gadis.” (QS. Al-Waqi’ah: 36)

As-Syaikh As-Sa’di berkata, “Sifat ini –yaitu keperawanan- selalu menyertai mereka dalam berbagai kondisi.”([18])

  • Berkulit putih

Allah ﷻ berfirman,

وَحُورٌ عِينٌ. كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ.

“Dan para bidadari, laksana mutiara yang tersimpan dalam cangkangnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 22-23)

Ibnu Abbas berkata اللُّؤْلُؤْ الْمَكْنُوْنُ : “yaitu mutiara-mutiara putih yang tersimpan.”([19])

Hal ini menunjukkan bagaimana sempurnanya putih para bidadari, karena putihnya mereka adalah putih yang terjaga dari segala sentuhan. Ibarat mutiara-mutiara yang putih yang tersimpan kokoh dalam cangkangnya, terjaga dari segala sentuhan, terjaga dari sinar matahari, terjaga dari segala sesuatu yang bisa mencoreng murninya dan bersihnya warna putih tersebut.

Dalam ayat yang lain juga Allah ﷻ sebutkan,

كَأَنَّهُنَّ بَيْضٌ مَكْنُونٌ

“Seakan-akan mereka adalah telur yang tersimpan dengan baik.” (QS As-Shaffat : 49)

Tentu beda halnya dengan kulit putih wanita di dunia. Seputih apa pun kulit wanita di dunia pasti akan terkontaminasi dengan hal-hal yang mengotori. Adapun putih bidadari adalah putih yang bersih, seakan-akan seperti putih mutiara yang tidak pernah terkontaminasi dengan apa pun. Bahkan karena begitu putihnya, sampai-sampai putih kulit bidadari terlihat walau dibalik lapisan 70 gaun. Nabi ﷺ bersabda,

إِنَّ الْمَرْأَةَ مِنْ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ لَيُرَى بَيَاضُ سَاقِهَا مِنْ وَرَاءِ سَبْعِيْنَ حُلَّةً

“Sesungguhnya seorang wanita surga sungguh terlihat putih betisnya di balik 70 gaun.” ([20])

Jangankan bidadari, para pembantu di surga pun Allah ﷻ sebutkan juga mereka seperti mutiara yang bertaburan. Allah ﷻ berfirman,

وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ إِذَا رَأَيْتَهُمْ حَسِبْتَهُمْ لُؤْلُؤًا مَنْثُورًا

“Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan.” (QS. Al-Insan: 19)

Jika para pembantu saja mereka putih seperti mutiara, maka bagaimana lagi dengan bidadari yang Allah ﷻ memang siapkan khusus bagi penghuni surga.

  • Tubuh yang bening

Allah ﷻ berfirman,

كَأَنَّهُنَّ الْيَاقُوتُ وَالْمَرْجَانُ

     “Seakan-akan para bidadari itu permata yakut dan mutiara.” (QS Ar-Rahman: 58)

Qotadah dan Al-Hasan Al-Bashri rahimahumallahu berkata tentang ayat ini,

فِي صَفَاءِ الْيَاقُوْتِ وَبَيَاضِ اللُّؤْلُؤِ

“Para bidadari seperti permata dalam hal bening tubuh mereka dan seperti mutiara dalam putihnya.”([21])

Kulit bidadari seperti mutiara dari sisi putihnya dan seperti permata dari sisi beningnya. Karena begitu beningnya sampai-sampai hati bidadari adalah cermin bagi suaminya. Nabi ﷺ bersabda,

كَبِدُهَا مِرْآتُهُ

     “Hati bidadari adalah cermin bagi suaminya.”([22])

     Nabi ﷺ juga pernah bersabda,

يُرَى مُخُ سَاقِهَا مِنْ وَرَاءِ لَحْمِهَا مِنَ الْحُسْنِ

“Bidadari tersebut terlihat sum-sum tulang betisnya di belakang dagingnya karena indahnya.”([23])

Jika kita bayangkan bidadari berdasarkan konteks hadits ini, maka akan tergambar suatu hal yang aneh atau mengerikan. Tetapi untuk menutup kesalahpahaman itu semua, maka Nabi ﷺ tutup hadits ini dengan mengatakan “karena saking indahnya”. Ini semakin menguatkan bahwa kita tidak bisa membayangkan kecantikan bidadari.

  • Buah dada bidadari tegak dan tidak terjulur

Allah ﷻ berfirman,

وَكَوَاعِبَ أَتْرَابًا

“Bagi penghuni surga para bidadari) yang buah dada mereka bulat melingkar serta remaja yang sebaya.” (An-Naba’: 33)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu menjelaskan bahwa makna dari كَوَاعِبَ adalah buah dada para bidadari tegak dan tidak terjulur ke bawah, karena mereka adalah gadis-gadis perawan.([24])

  • Sangat harum

Nabi ﷺ bersabda,

لَوْ أنَّ امْرَأَةً مِن نِسَاءِ أهْلِ الجَنَّةِ اطَّلَعَتْ إِلىَ الأرْضِ لَأَضَاءَتْ مَا بيْنَهُمَا، ولَمَلَأَتْ مَا بَيْنَهُمَا رِيحًا، ولَنَصِيفُهَا – يَعْنِي الخِمَارَ – خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Seandainya ada seorang wanita penghuni surga hadir di dunia, maka ia akan menerangi langit dan bumi, dan ia juga akan mewangikan seluruh isi langit dan bumi, dan khimarnya (jilbabnya) lebih baik dari dunia dan seisinya.”([25])

Karena begitu harumnya para bidadari, maka Ibnu Abbas berkata,

إِنَّ الرَّجُلَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ لَيُعَانِقُ الْحَوْرَاءَ سَبْعِينَ سَنَةً، لَا يَمَلُّهَا وَلَا تَمَلُّهُ

“Sungguh seorang penghuni surga benar-benar memeluk seorang bidadari selama 70 tahun. Dia tidak bosan terhadap bidadari tersebut, dan bidadari tersebut pun tidak bosan kepada dia.”([26])

       Bagaimanapun cantik dan harumnya wanita dunia, maka jika dipeluk selama seminggu tentu akan menimbulkan kebosanan dan kegelisahan. Adapun bidadari dunia meskipun dipeluk selama 70 tahun tidak akan menimbulkan kebosanan

  • Bersih dari segala kotoran

Allah ﷻ berfirman,

وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ

“Bagi mereka di dalamnya ada istri-istri yang disucikan.” (QS. Al-Baqarah: 25)

Selain disucikan akhlak mereka, para bidadari juga disucikan fisik tubuh mereka. Ibnu Mas’ud, Mujahid, ‘Ato’, dan Qotadah berkata,

لاَ يَحِضْنَ وَلاَ يُمْنِيْنَ وَلاَ يَلِدْنَ وَلاَ يَتَغَوَّطْنَ وَلاَ يَبُلْنَ وَلاَ يَبْزُقْنَ

 “(Istri-istri yang disucikan yaitu) mereka tidak haid, tidak mengeluarkan air mani, tidak melahirkan, tidak buang air besar, tidak buang air kecil, dan tidak meludah.”([27])

  • Bidadari bermacam model dan bertingkat-tingkat

Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ، دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ

“Barangsiapa yang dapat menahan kemarahan, padahal dia mampu untuk melakukannya. Maka Allah akan memanggilnya di hadapan orang-orang di hari kiamat, sehingga dia disuruh memilih bidadari yang dia sukai.”([28])

Hadits ini menunjukkan bahwa bidadari itu bermacam-macam. Semakin seseorang bertakwa kepada Allah ﷻ, maka ia akan mendapatkan bidadari yang paling indah.

  • Bidadari dari wanita dunia lebih afdal dari bidadari yang diciptakan di akhirat

Wanita dunia jika ia bertakwa kepada Allah ﷻ dan patuh kepada suaminya, maka ia akan menjadi bidadari surga yang lebih afdal dari bidadari yang Allah ﷻ ciptakan di akhirat. Kenapa demikian? Para ulama menjelaskan bahwa bidadari dunia lebih utama dari bidadari akhirat karena ketika di dunia mereka diuji oleh Allah ﷻ dengan berbagai macam ujian, dan perkara tersebut tidaklah mudah. ([29]) Menjadi wanita yang salihah harus melalui berbagai macam rintangan dan cobaan. Oleh karena inilah maka Allah ﷻ jadikan mereka lebih utama dari bidadari-bidadari yang Allah ﷻ ciptakan di akhirat.

Nasihat untuk para suami

Penulis ingin menyampaikan bahwa para suami hendaknya bertakwa kepada Allah ﷻ dengan menjaga pandangan terhadap hal-hal yang haram, terlebih melihat wanita-wanita yang tidak halal baginya. Benar ada sedikit kenikmatan yang dirasakan saat mengumbar pandangan dengan melihat perkara-perkara yang haram, akan tetapi itu hanya sesaat, dan setelah itu yang tersisa hanyalah siksa terhadap diri. Tersiksa karena tidak bisa meraih hal tersebut, kemudian tersiksa dengan azab Allah ﷻ yang pedih kelak di akhirat. Jika hal tersebut telah menjadi kebiasaan, maka hendaklah bertaubat. Dikhawatirkan hati menjadi hitam dan kotor sehingga akan terjerumus kepada maksiat-maksiat yang lebih parah dan akhirnya bidadari akan terhalang darinya. Ketahuilah bidadari dapat diraih oleh siapa saja, Akan tetapi adamahar yang harus ditebus yaitu ketakwaan kepada Allah ﷻ.

Sebagai nasihat penulis ingin menyampaikan bait-bait syair yang ditulis oleh Ibnul Qayyim rahimahullah tentang orang-orang yang tidak perhatian terhadap bidadari yang akhirnya ia merugi. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

ذَاكَ النِّكَاحُ عَلَيْكَ أَيْسَرُ إِنْ يَكُنْ … لَكَ نِسْبَةٌ لِلْعِلْمِ وَالْإِيْمَانِ

Pernikahan dengan bidadari lebih mudah bagimu jika engkau memiliki ilmu dan keimanan

وَاللهِ لَمْ تَخْرُجْ إِلَى الدُّنْيَا لِلَذَّ … ةِ عَيْشُهَا أَوْ لِلْحُطاَمِ الْفَانِي

Demi Allah, engkau tidaklah keluar di dunia ini hanya untuk menikmati kelezatan kehidupan dunia atau harta benda dunia yang akan sirna

لَكِنْ خَرَجْتَ لِكَيْ تُعِدَّ الزَّادَ لِلْـ … أُخْرَى فَجِئْتَ بَأَقْبَحِ الْخُسْرَانِ

Akan tetapi engkau keluar di muka bumi ini untuk mempersiapkan bekal akhirat, akan tetapi engkau malah menjadi orang yang sangat merugi

أَهْمَلْتَ جَمْعَ الزَّادِ حَتَّى فَاتَ بَلْ … فَاتَ الَّذِي أَلْهَاكَ عَنْ ذَا الشَّانِ

Engkau lalai dari mengumpulkan bekal akhirat hingga lenyaplah kesempatan bahkan sirnalah dunia yang melalaikan engkau dari perkara yang penting (akhirat)

وَاللهِ لَوْ أَنَّ الْقُلُوْبَ سَلِيْمَةٌ … لَتَقَطَّعَتْ أَسَفًا مِنَ الْحِرْمَانِ

Demi Allah kalau seandainya hati-hati itu bersih maka tentu hati-hati akan tercabik-cabik bersedih karena terhalangnya (dari meraih akhirat)

لَكِنَّهَا سَكْرَى بِحُبِّ حَيَاتِهَا الدُّ … نْيَا وَسَوْفَ تُفِيْقُ بَعْدَ زَمَانِ

Akan tetapi karena sikap mabuk kepayang kepada kehidupan dunia (sehingga hati tidak bersedih tatkala terhalang dari kabaikan akhirat dan amal sholeh), akan tetapi suatu saat engkau akan sadar (yaitu tatkala datang kematian)([30])

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Rukum Iman Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________

([1]) HR. Muslim no. 2822

([2]) HR. Bukhari no. 5575 dan Muslim no. 2003

([3]) HR. Hakim dalam Al-Mustadrok 4/141 dan disahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no. 384

([4]) HR Al-Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2740

([5]) HR. Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2740

([6]) Lihat Tafsir Ath-Thobari 20/534-535, Ad-Dur Al-Mantsur 7/64, dan Tafsir Ibnu Katsir 6/82

([7]) HR. Bukhari no. 3243 dan Muslim no. 7337

([8]) At-Taisiir Bi Syarh Al-Jaami’ As-Shagir, 1/685

([9]) HR. Tirmidzi no. 2536 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani

([10]) Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Sifatul Jannah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no. 367

([11]) HR. Bukhari no. 3244

([12]) Shahih At-Targhib Wat-Tarhib 3/530

([13]) HR. Bukhari no. 6567

([14]) HR. Muslim no. 162

([15]) Lihat Badai’ Al-Fawaid 3/206

([16]) Lihat Taisir Ar-Karim Ar-Rahman 46

([17]) Nuniyah Ibnil Qayyim 332

([18]) Taisir Ar-Karim Ar-Rahman 833

([19]) Lihat Ad-Dur Al-Mantsur 7/89

([20]) HR. Tirmidzi no. 2533 ini didaifkan oleh Syaikh Al-Albani

([21]) Lihat Ad-Dur Al-Mantsur 7/712

([22]) HR. Hakim dalam Mustadrok ‘Ala Shahihain 5/812 dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Atarghib no. 3591

([23]) HR. Bukhari no. 3074 dan Muslim  no. 7330

([24]) Lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/308

([25]) HR. Bukhari no. 6567

([26]) Tafsir Al-Qurthubi 15/45

([27]) Ad-Dur Al-Mantsur 1/97-98

([28]) HR. Abu Dawud no. 4777 dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Ath-Thargib no. 2753

([29]) Lihat Ad-Dur Al-Mantsur 7/718

([30]) Nuniyah Ibnil Qayyim 333