Syafa’at – Iman Kepada Hari Akhir 21

SYAFA’AT (الشَّفَاعَةُ)

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Sesungguhnya di antara keagungan Allah ﷻ adalah pada hari kiamat kelak adalah tidak ada seorang pun yang berani memberikan syafaat kecuali dengan izin Allah ﷻ. Lain halnya jika kita berbicara di dunia. Adapun di dunia banyak orang bawahan yang berani memberi syafaat tanpa izin, lantaran orang yang berada di atasannya, baik pemimpin atau kepala negara tidak mampu bergerak seorang sendiri dan dia membutuhkan orang-orang di bawahnya yang membantunya, seperti menteri ataupun pembesar-pembesarnya. Sehingga syafaat yang terjadi di dunia, terkadang dari para menteri tersebut dengan memberi titah atau rekomendasi kepada penguasa-penguasa yang berada di bawahnya. Akibatnya, terkadang para penguasa tersebut merasa sungkan ketika harus menerima syafaat tersebut, karena keperluannya kepada bawahannya. Namun, hal ini tidak terjadi kepada Allah ﷻ. Allah ﷻ Maha Esa dalam segala hal dan mengatur alam semesta ini. Tidak ada satu makhluk pun yang membantu Allah dalam mengatur alam semesta. Tidak ada satu makhluk pun yang sibuk ikut mengatur bersama Allah dalam mengurusi hari kiamat. Sebagaimana firman Allah ﷻ,

لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْواحِدِ الْقَهَّارِ

“Milik siapakah kerajaan pada hari ini?” Milik Allah Yang Maha Esa, Maha Mengalahkan.” (QS. Ghafir: 16)

Oleh karenanya, gambaran keadaan pada hari itu, sebagaimana firman Allah ﷻ,

فَلا تَسْمَعُ إِلاَّ هَمْساً

“Sehingga yang kamu dengar hanyalah bisik-bisik.” (QS. Taha: 108)

Tidak ada yang berani bicara pada hari itu, kecuali hanya berupa bisikan-bisikan saja, karena hari itu adalah hari yang sangat agung. Saking agungnya hari tersebut, tatkala di padang mahsyar, para nabi tidak ada yang berani memberikan syafaat. Tatkala matahari turun dalam jarak satu mil, orang-orang dalam kondisi kepayahan dan kesulitan, keringat mereka bercucuran, mereka harus menanti di bawah matahari yang amat panas, maka mereka pun datang kepada para nabi.

Yang pertama kali mereka datangi adalah nabi Adam u, namun beliau tidak mampu memberikan syafaat, kemudian mereka mendatangi nabi Nuh u, kemudian nabi Ibrahim u, kemudian nabi Musa u, kemudian nabi ‘Isa u, namun semuanya tidak mampu untuk memberikan syafaat. Akhirnya, mereka pun mendatangi nabi Muhammad ﷺ.

Mereka datang kepada Nabi ﷺ, sedangkan Nabi ﷺ tidak bisa langsung memberikan syafaat, saking agungnya hari tersebut. Yang dilakukan beliau ketika itu adalah sujud dengan sujud yang lama, lalu beliau memuji Allah ﷻ dengan pujian-pujian dimana ketika beliau ﷺ hidup tidak pernah mengetahui pujian-pujian tersebut. Akan tetapi, Allah ﷻ membukakan pujian-pujian itu kepada Nabi ﷺ tatkala di padang mahsyar, hingga dikatakan kepada beliau ﷺ,

يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ سَلْ تُعْطَهْ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ

“Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, mintalah, maka engkau akan diberikan, dan berilah syafaat, maka engkau akan diberikan syafaat”. ([1])

Setelah itu, Nabi ﷺ memberikan syafaat kepada manusia, dimana untuk mendapatkan itu beliau sujud terlebih dahulu dalam waktu yang sangat lama dan meminta izin terlebih dahulu kepada Allah ﷻ, sementara nabi-nabi yang lain tidak ada yang berani meminta izin, apalagi memberi syafaat. Oleh karenanya, dalam keadaan yang demikian, dapat diketahui begitu agungnya kedudukan Nabi ﷺ.

Hari kiamat adalah hari yang dahsyat, dimana pada hari itu yang mengatur semuanya adalah Allah ﷻ, hingga dalam perkara syafaat pun, tidak ada yang berani memberi syafaat, kecuali dengan izin dari Allah ﷻ. Sebagaimana firman Allah ﷻ,

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ

“Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255)

Berbeda dengan keadaan dunia, siapapun bisa memberikan syafaat kepada orang lain, layaknya seorang menteri yang mampu memberikan syafaatnya untuk bertemu kepala negara. Karena tabiat manusia adalah saling membutuhkan. Akan tetapi, di dunia dan di akhirat kelak, Allah ﷻ sedikitpun tidak membutuhkan siapapun dari makhluk-Nya.

Pengertian Syafaat

Syafaat berasal dari bahasa arab شَفَعَ يَشْفَعُ ‘genap’, lawan dari kata وِتْر ‘ganjil’, sebagaimana firman Allah ﷻ,

وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ

“Demi yang genap dan yang ganjil.” (QS. Al-Fajr: 3)

Adapun secara istilah adalah,

التَّوَسُّطُ لِلغَيْرِ بِجَلْبِ مَنْفَعَةٍ أَوْ دَفْعِ مَضَرَّةٍ

“Memberikan perantara bagi orang lain untuk memberikan manfaat atau menghindari kerusakan.”([2])

Maksudnya adalah menggenapkan sesuatu yang sebelumnya ganjil. Ilustrasinya seperti seseorang yang masuk ke dalam urusan dua orang dalam rangka untuk memberikan manfaat atau menolak madharat. Misalnya, si A (الْمَشْفُوع) hendak meminta sesuatu kepada si B, akan tetapi si A tidak layak untuk mendapatkan sesuatu dari si B. Namun, karena si B memiliki hubungan dekat dengan si C (الشَّافِع), maka untuk mempermudah permasalahan, si A harus mendapatkan bantuan dari si C. Oleh karenanya, dengan bantuan dari si C, maka si A dapat memohon sesuatu dari si B tersebut. Sebagaimana di akhirat kelak, ketika seluruh manusia membutuhkan syafaat dari Allah ﷻ, maka mereka dibantu oleh Nabi ﷺ yang menjadi pemberi syafaat dan memohon kepada Allah, agar mengabulkan permohonan Nabi ﷺ dan seluruh manusia yang berhak mendapatkan syafaat tersebut.

Pembagian Syafaat

Secara umum, syafaat dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Syafaat yang ditetapkan (الشَّفَاعَة الْمُثْبَتَّة), yaitu syafaat yang memenuhi persyaratan. Di antara persyaratannya adalah:
  2. Izin Allah kepada pemberi syafaat. Berdasarkan firman Allah ﷻ,

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ

“Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255)

Adapun pemberi syafaat ini, di antaranya adalah:

  • Malaikat. Sebagaimana firman Allah ﷻ,

وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئاً إِلاّ مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى

“Dan betapa banyak malaikat di langit, syafaat (pertolongan) mereka sedikit pun tidak berguna kecuali apabila Allah telah mengizinkan (dan hanya) bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridai.” (QS. An-Najm: 26)

Begitu juga dengan firman Allah ﷻ,

وَلا يَشْفَعُونَ إِلاّ لِمَنِ ارْتَضَى

“Dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai (Allah), dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (QS. Al-Anbiya’: 28)

Pada ayat ini, Allah ﷻ berbicara tentang malaikat, dimana mereka tidak mampu memberikan syafaat, kecuali hanya kepada orang-orang yang diridai oleh Allah ﷻ. Begitu pun sebagaimana disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, bahwa Allah ﷻ berfirman,

شَفَعَتِ الْمَلَائِكَةُ، وَشَفَعَ النَّبِيُّونَ، وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُونَ

“Malaikat memberi syafaat, para nabi memberi syafaat dan orang-orang yang beriman memberi syafaat.”([3])

  • Para nabi, di antaranya adalah Nabi Muhammad ﷺ,
  • Para syuhada’. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Al-Miqdam bin Ma’dikarib Radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللَّهِ سِتُّ خِصَالٍ: يُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دَفْعَةٍ، وَيَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الجَنَّةِ، وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ، وَيَأْمَنُ مِنَ الفَزَعِ الأَكْبَرِ، وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الوَقَارِ، اليَاقُوتَةُ مِنْهَا خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، وَيُزَوَّجُ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ زَوْجَةً مِنَ الحُورِ العِينِ، وَيُشَفَّعُ فِي سَبْعِينَ مِنْ أَقَارِبِهِ

“Orang yang mati syahid mendapatkan enam keutamaan di sisi Allah: diampuni dosanya sejak pertama kali dibunuh dan melihat tempatnya di surga, dilindungi dari azab kubur, aman dari rasa takut yang besar, diletakkan mahkota kemuliaan terbuat dari yaqut di atas kepalanya yang nilainya lebih baik dari pada dunia dan seisinya, akan dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari, dan akan diterima permintaan syafaatnya bagi tujuh puluh kerabatnya.” ([4])

  • Anak-anak. Sebagaimana disebutkan di dalam hadits bahwa anak-anak yang meninggal dunia akan menjadi penghalang dari neraka bagi orang tuanya pada hari kiamat, di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Anas Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

مَا مِنَ النَّاسِ مِنْ مُسْلِمٍ، يُتَوَفَّى لَهُ ثَلاَثٌ لَمْ يَبْلُغُوا الحِنْثَ، إِلَّا أَدْخَلَهُ اللَّهُ الجَنَّةَ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمْ

“Tidaklah seorang muslim yang telah diwafatkan tiga anaknya dalam keadaan belum mencapai usia baligh, melainkan Allah akan memasukkannya ke dalam surga dengan kasih sayang Allah kepadanya.” ([5])

Kemudian hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ,

مَنْ مَاتَ لَهُ ثَلاَثَةٌ مِنَ الوَلَدِ، لَمْ يَبْلُغُوا الحِنْثَ، كَانَ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ أَوْ دَخَلَ الجَنَّةَ

“Barang siapa telah meninggal tiga anaknya yang belum mencapai usia baligh, maka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka atau dia akan masuk surga.” ([6])

Apabila ada seseorang yang anaknya meninggal dunia, maka dia boleh bersedih, namun sejatinya dibalik kesedihannya terdapat kebahagiaan. Karena jika dia rida terhadap musibah tersebut, maka kelak anaknya akan menghalanginya dari siksaan neraka Jahanam.

  • Orang-orang yang beriman. Sebagaimana disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

حَتَّى إِذَا خَلَصَ الْمُؤْمِنُونَ مِنَ النَّارِ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ بِأَشَدَّ مُنَاشَدَةً لِلَّهِ فِي اسْتِقْصَاءِ الْحَقِّ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ لِلَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِإِخْوَانِهِمُ الَّذِينَ فِي النَّارِ، يَقُولُونَ: رَبَّنَا كَانُوا يَصُومُونَ مَعَنَا وَيُصَلُّونَ وَيَحُجُّونَ، فَيُقَالُ لَهُمْ: أَخْرِجُوا مَنْ عَرَفْتُمْ، فَتُحَرَّمُ صُوَرُهُمْ عَلَى النَّارِ، فَيُخْرِجُونَ خَلْقًا كَثِيرًا قَدِ أَخَذَتِ النَّارُ إِلَى نِصْفِ سَاقَيْهِ، وَإِلَى رُكْبَتَيْهِ، ثُمَّ يَقُولُونَ: رَبَّنَا مَا بَقِيَ فِيهَا أَحَدٌ مِمَّنْ أَمَرْتَنَا بِهِ، فَيَقُولُ: ارْجِعُوا فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ دِينَارٍ مِنْ خَيْرٍ فَأَخْرِجُوهُ، فَيُخْرِجُونَ خَلْقًا كَثِيرًا، ثُمَّ يَقُولُونَ: رَبَّنَا لَمْ نَذَرْ فِيهَا أَحَدًا مِمَّنْ أَمَرْتَنَا. ثُمَّ يَقُولُ: ارْجِعُوا فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ نِصْفِ دِينَارٍ مِنْ خَيْرٍ فَأَخْرِجُوهُ، فَيُخْرِجُونَ خَلْقًا كَثِيرًا، ثُمَّ يَقُولُونَ: رَبَّنَا لَمْ نَذَرْ فِيهَا مِمَّنْ أَمَرْتَنَا أَحَدًا، ثُمَّ يَقُولُ: ارْجِعُوا فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ فَأَخْرِجُوهُ، فَيُخْرِجُونَ خَلْقًا كَثِيرًا ثُمَّ يَقُولُونَ: رَبَّنَا لَمْ نَذَرْ فِيهَا خَيْرًا

“Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak orang-orang yang beriman untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka berkata: Wahai Rabb kami, mereka itu berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji. Dikatakan kepada mereka, ‘Keluarkanlah (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal’. Maka wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka, mereka mengeluarkan banyak saudaranya yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada juga yang sampai lututnya, kemudian mereka berkata, ‘Wahai Rabb kami, tidak tersisa lagi orang yang Engkau perintahkan untuk dikeluarkan dari neraka’. Allah berfirman, ‘Kembalilah, siapa saja yang kalian dapati di dalam hatinya memiliki kebaikan seberat dinar, maka keluarkanlah’, lalu mereka mengeluarkan banyak saudaranya, kemudian mereka berkata, ‘Wahai Rabb kami, kami tidak meninggalkan seorang pun yang Engkau perintahkan untuk dikeluarkan’. Allah berfirman, ‘Kembalilah, siapa saja yang kalian dapati di dalam hatinya memiliki kebaikan seberat setengah dinar, maka keluarkanlah’, lalu mereka mengeluarkan banyak saudaranya, kemudian mereka berkata, ‘Wahai Rabb kami, kami tidak meninggalkan seorang pun yang Engkau perintahkan untuk dikeluarkan’. Allah berfirman, ‘Kembalilah, siapa saja yang kalian temui di dalam hatinya memiliki kebaikan seberat biji zarah, maka keluarkanlah’, lalu mereka mengeluarkan banyak saudaranya, kemudian mereka berkata, ‘Wahai Rabb kami, kami tidak meninggalkan kebaikan di dalamnya’.”([7])

Mereka adalah para penghuni surga yang kelak dapat memberikan syafaat atas izin Allah kepada siapa saja yang diridai-Nya. Apakah kita termasuk orang yang mampu memberikan syafaat? Tentu kita tidak mengetahuinya, karena tidak ada satupun dari kita yang dapat memastikan tempat kembali kita di surga atau neraka. Jangan sampai seseorang merasa percaya diri bahwa dia akan menjamin dan memberikan syafaat kepada orang lain pada hari kiamat. Padahal, Nabi ﷺ sujud dan meminta izin terlebih dahulu, sebelum memberikan syafaat. Para nabi pun tidak ada yang berani memberikan syafaat, kecuali setelah diizinkan oleh Allah ﷻ.

Karenanya tidak benar pernyataan sebagian kiyai yang dengan pongahnya berujar bahwa kelak di hari kiamat dia akan menunggu di pintu surga lalu mempersilahkan murid-muridnya untuk masuk surga terlebih dahulu, setelah itu baru dia yang akan memasukinya. Subhanallah, padahal tidak ada satupun yang menjaminnya untuk masuk surga. Nabi ﷺ pun tidak berpikir demikian. Tidak ada satu hadits pun yang menjelaskan bahwa umat Nabi ﷺ akan masuk surga terlebih dahulu, kemudian Nabi ﷺ adalah yang terakhir masuk ke dalam surga.

Hari kiamat adalah hari yang dahsyat, hari yang mengerikan, bukan seperti hari-hari biasa lainnya. Oleh karenanya, jangan sampai seseorang berujar dengan merasa sangat percaya diri bahwa kelak pada hari kiamat dirinya mampu memberikan syafaat kepada orang lain atau menuntunnya untuk masuk ke dalam surga, seraya berkata, ‘Kelak aku akan membawamu ke surga’. Siapa Anda? Dengan yakin mengatakan akan membawa orang lain masuk surga. Padahal, Anda sendiri belum tentu masuk surga. Siapakah yang menjamin pahala salat, dakwah dan ibadah anda diterima? Siapakah yang menjamin ibadah Anda telah ikhlas untuk Allah ﷻ? Banyaknya pengikut tidak menunjukkan apa pun pada seseorang. Hendaknya seseorang mengetahui hakekat jati dirinya, karena hari kiamat adalah hari yang dahsyat, hingga para nabi pun ketakutan untuk memberikan syafaat pada hari tersebut.

  1. Rida Allah kepada yang diberi syafaat. Allah ﷻ berfirman,

وَلا يَشْفَعُونَ إِلاّ لِمَنِ ارْتَضَى

“Dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai (Allah), dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (QS. Al-Anbiya’: 28)

Untuk mendapatkan syafaat Allah ﷻ, maka dua syarat tersebut harus terpenuhi. Oleh karenanya, Allah ﷻ berfirman di dalam ayat yang lain,

وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئاً إِلاّ مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى

“Dan betapa banyak malaikat di langit, syafaat (pertolongan) mereka sedikit pun tidak berguna kecuali apabila Allah telah mengizinkan (dan hanya) bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridai.” (QS. An-Najm: 26)

Di dalam ayat ini, Allah ﷻ menggabungkan dua syarat untuk mendapatkan dan menerima syafaat dari-Nya, yaitu izin dan rida dari Allah ﷻ untuk orang yang diberikan syafaat.

  1. Syafaat yang dinafikan (الشَّفَاعَة الْمَنْفِيَّة), artinya adalah syafaat yang tidak memenuhi dua persyaratan. Sebagaimana dua contoh berikut:
  • Pemberi syafaat adalah para pelaku maksiat dan dosa besar, mereka tidak mungkin memberikan syafaat, karena mereka tidak mungkin mendapatkan izin dari Allah ﷻ. Berdasarkan hadits riwayat Abu Darda’ Radhiallahu ‘anhu, Rasullah ﷻ bersabda,

إِنَّ اللَّعَّانِينَ لَا يَكُونُونَ شُهَدَاءَ، وَلَا شُفَعَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang gemar melaknat tidak akan menjadi saksi dan pemberi syafaat pada hari kiamat kelak.”([8])

Mereka tidak akan diberikan izin oleh Allah untuk memberikan syafaat. karena mereka adalah para pelaku dosa besar yang banyak melaknat

  • Yang diberi syafaat adalah orang-orang musyrikin yang tidak mungkin mendapatkan syafaat karena mereka tidak diridai oleh Allah . Sebagaimana firman Allah ﷻ,

فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ

“Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat (pertolongan) dari orang-orang yang memberikan syafaat.” (QS. Al-Muddassir: 48)

Maksud dari ‘orang-orang yang memberikan syafaat’ adalah orang-orang musyrikin, karena mereka tidak mendapatkan rida Allah ﷻ.

Syafaat khusus Nabi Muhammad ﷺ

Syafaat Rasulullah ﷺ terbagi menjadi dua bagian, yaitu:

  1. Syafaat khusus bagi Nabi , terbagi menjadi beberapa bentuk, di antaranya:
  • (الشَّفَاعَةُ العُظْمَى) Syafaat Nabi ﷺ di padang mahsyar agar Allah segera datang dan memulai persidangan hari kiamat.

Syafaat ini menunjukkan keistimewaan Nabi ﷺ. Berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata,

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي دَعْوَةٍ، فَرُفِعَ إِلَيْهِ الذِّرَاعُ، وَكَانَتْ تُعْجِبُهُ فَنَهَسَ مِنْهَا نَهْسَةً فَقَالَ: ” أَنَا سَيِّدُ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَهَلْ تَدْرُونَ بِمَ ذَاكَ؟ يَجْمَعُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ، فَيُسْمِعُهُمُ الدَّاعِي، وَيَنْفُذُهُمُ الْبَصَرُ، وَتَدْنُو الشَّمْسُ فَيَبْلُغُ النَّاسَ مِنَ الْغَمِّ وَالْكَرْبِ مَا لَا يُطِيقُونَ، وَمَا لَا يَحْتَمِلُونَ، فَيَقُولُ بَعْضُ النَّاسِ لِبَعْضٍ: أَلَا تَرَوْنَ مَا أَنْتُمْ فِيهِ؟ أَلَا تَرَوْنَ مَا قَدْ بَلَغَكُمْ؟ أَلَا تَنْظُرُونَ مَنْ يَشْفَعُ لَكُمْ إِلَى رَبِّكُمْ؟ فَيَقُولُ بَعْضُ النَّاسِ لِبَعْضٍ: ائْتُوا آدَمَ، فَيَأْتُونَ آدَمَ، فَيَقُولُونَ: يَا آدَمُ أَنْتَ أَبُو البَشَرِ، خَلَقَكَ اللَّهُ بِيَدِهِ، وَنَفَخَ فِيكَ مِنْ رُوحِهِ، وَأَمَرَ المَلاَئِكَةَ فَسَجَدُوا لَكَ، اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ، أَلاَ تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ، أَلاَ تَرَى إِلَى مَا قَدْ بَلَغَنَا؟ فَيَقُولُ آدَمُ: إِنَّ رَبِّي قَدْ غَضِبَ اليَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ، وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ، وَإِنَّهُ قَدْ نَهَانِي عَنِ الشَّجَرَةِ فَعَصَيْتُهُ، نَفْسِي نَفْسِي نَفْسِي، اذْهَبُوا إِلَى غَيْرِي، اذْهَبُوا إِلَى نُوحٍ، فَيَأْتُونَ نُوحًا فَيَقُولُونَ: يَا نُوحُ، إِنَّكَ أَنْتَ أَوَّلُ الرُّسُلِ إِلَى أَهْلِ الأَرْضِ، وَقَدْ سَمَّاكَ اللَّهُ عَبْدًا شَكُورًا، اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ، أَلاَ تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ؟ فَيَقُولُ: إِنَّ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ قَدْ غَضِبَ اليَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ، وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ، وَإِنَّهُ قَدْ كَانَتْ لِي دَعْوَةٌ دَعَوْتُهَا عَلَى قَوْمِي، نَفْسِي نَفْسِي نَفْسِي، اذْهَبُوا إِلَى غَيْرِي، اذْهَبُوا إِلَى إِبْرَاهِيمَ، فَيَأْتُونَ إِبْرَاهِيمَ فَيَقُولُونَ: يَا إِبْرَاهِيمُ أَنْتَ نَبِيُّ اللَّهِ وَخَلِيلُهُ مِنْ أَهْلِ الأَرْضِ، اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ أَلاَ تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ، فَيَقُولُ لَهُمْ: إِنَّ رَبِّي قَدْ غَضِبَ اليَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ، وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ، وَإِنِّي قَدْ كُنْتُ كَذَبْتُ ثَلاَثَ كَذِبَاتٍ نَفْسِي نَفْسِي نَفْسِي، اذْهَبُوا إِلَى غَيْرِي، اذْهَبُوا إِلَى مُوسَى، فَيَأْتُونَ مُوسَى فَيَقُولُونَ: يَا مُوسَى أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ، فَضَّلَكَ اللَّهُ بِرِسَالَتِهِ وَبِكَلاَمِهِ عَلَى النَّاسِ، اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ، أَلاَ تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ؟ فَيَقُولُ: إِنَّ رَبِّي قَدْ غَضِبَ اليَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ، وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ، وَإِنِّي قَدْ قَتَلْتُ نَفْسًا لَمْ أُومَرْ بِقَتْلِهَا، نَفْسِي نَفْسِي نَفْسِي، اذْهَبُوا إِلَى غَيْرِي، اذْهَبُوا إِلَى عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ، فَيَأْتُونَ عِيسَى، فَيَقُولُونَ: يَا عِيسَى أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ، وَكَلَّمْتَ النَّاسَ فِي المَهْدِ صَبِيًّا، اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ أَلاَ تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ؟ فَيَقُولُ عِيسَى: إِنَّ رَبِّي قَدْ غَضِبَ اليَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ قَطُّ، وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ، وَلَمْ يَذْكُرْ ذَنْبًا، نَفْسِي نَفْسِي نَفْسِي اذْهَبُوا إِلَى غَيْرِي اذْهَبُوا إِلَى مُحَمَّدٍ، فَيَأْتُونَ مُحَمَّدًا فَيَقُولُونَ: يَا مُحَمَّدُ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ وَخَاتِمُ الأَنْبِيَاءِ، وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ، اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ أَلاَ تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ، فَأَنْطَلِقُ فَآتِي تَحْتَ العَرْشِ، فَأَقَعُ سَاجِدًا لِرَبِّي عَزَّ وَجَلَّ، ثُمَّ يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ مَحَامِدِهِ وَحُسْنِ الثَّنَاءِ عَلَيْهِ شَيْئًا، لَمْ يَفْتَحْهُ عَلَى أَحَدٍ قَبْلِي، ثُمَّ يُقَالُ: يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ سَلْ تُعْطَهْ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ

“Suatu hari kami bersama Nabi dalam suatu undangan, lalu dihidangkan paha kambing kepada beliau, beliau menyukainya, maka beliau menggigitnya, beliau bersabda, ‘Aku adalah pemimpin seluruh manusia pada hari kiamat, apakah kalian tahu karena apa? Karena (pada hari itu) Allah mengumpulkan semua manusia dari golongan pertama hingga golongan terakhir di atas satu dataran tanah (padang mahsyar), maka setiap orang bisa mendengarkan suara mereka, setiap orang pun bisa melihat mereka dan matahari didekatkan kepada mereka([9]), maka manusia mengalami kepayahan dan kesulitan yang tidak kuat untuk mereka hadapi dan mereka pikul([10]), lalu sebagian manusia berkata, ‘Tidakkah kalian melihat keadaan kalian? Tidakkah kalian melihat apa yang telah kalian rasakan? Tidakkah kalian melihat siapa yang bisa memberikan syafaat kepada kalian di sisi Rabb kalian?’, maka sebagian manusia berkata kepada sebagian yang lain, ‘Datanglah kepada Adam, maka mereka mendatangi nabi Adam. Mereka berkata, ‘Wahai Adam, engkau adalah nenek moyang manusia, Allah menciptakan engkau dengan tangannya, meniupkan ruh ke dalam jasadmu, memerintahkan malaikat agar bersujud kepadamu([11]), berikanlah syafaat kepada kami terhadap Rabb-mu, tidakkah engkau tidak melihat keadaan kami, tidakkah engkau melihat apa yang menimpa kami?’ lalu nabi Adam berkata, ‘Sesungguhnya Rabb-ku telah murka pada hari ini dengan kemurkaan yang tidak pernah murka sebelumnya seperti pada hari ini dan tidak pernah murka sesudahnya seperti hari ini. Sesungguhnya Dia melarangku untuk mendekati sebuah pohon, lalu aku melanggarnya, jiwaku jiwaku jiwaku (butuh syafaat)([12]). Pergilah kepada selainku! Pergilah kepada Nuh!’. Mereka mendatangi nabi Nuh, seraya berkata, ‘Wahai Nuh, sesungguhnya engkau adalah rasul yang pertama diutus kepada penduduk bumi, Allah telah memberikanmu julukan hamba yang paling bersyukur, mintakanlah syafaat untuk kami kepada Rabb-mu, tidakkah engkau melihat keadaan kami?’ lalu nabi Nuh berkata, ‘Sesungguhnya Rabb-ku telah telah murka pada hari ini dengan kemurkaan yang tidak pernah murka sebelumnya seperti pada hari ini dan tidak pernah murka sesudahnya seperti hari ini. Sesungguhnya aku memilki doa yang telah aku panjatkan untuk mebinasakan kaumku dahulu, jiwaku jiwaku jiwaku (butuh syafaat), Pergilah kepada selainku! Pergilah kepada Ibrahim!’. Maka mereka pun mendatangi nabi Ibrahim, seraya berkata, ‘Wahai Ibrahim, engkau adalah nabi Allah dan kekasih Allah di antara penduduk bumi([13]), mintakanlah syafaat untuk kami kepada Rabb-mu, tidakkah engkau melihat keadaan kami?’, lalu nabi Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya Rabb-ku telah telah murka pada hari ini dengan kemurkaan yang tidak pernah murka sebelumnya seperti pada hari ini dan tidak pernah murka sesudahnya seperti hari ini. Sesungguhnya aku telah berbohong sebanyak tiga kal), jiwaku jiwaku jiwaku (butuh syafaat), Pergilah kepada selainku! Pergilah kepada Musa!’. Maka, mereka mendatangi nabi Musa, seraya berkata, ‘Wahai Musa, engkau adalah utusan Allah, Allah memilihmu di antara manusia dengan risalah-Nya dan berbicara kepada-Nya, mintakanlah syafaat untuk kami kepada Rabb-mu, tidakkah engkau melihat keadaan kami?’, maka nabi Musa berkata, ‘Sesungguhnya Rabb-ku telah telah murka pada hari ini dengan kemurkaan yang tidak pernah murka sebelumnya seperti pada hari ini dan tidak pernah murka sesudahnya seperti hari ini. Sesungguhnya aku telah membunuh jiwa yang aku tidak diperintahkan untuk membunuhnya, jiwaku jiwaku jiwaku (butuh syafaat), Pergilah kepada selainku! Pergilah kepada ‘Isa bin Maryam!’. Mereka pun mendatangi nabi ‘Isa, seraya berkata, ‘Wahai ‘Isa, engkau adalah utusan Allah, dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya, engkau berbicara kepada manusia ketika masih di dalam buaian, mintakanlah syafaat untuk kami kepada Rabb-mu, tidakkah engkau melihat keadaan kami?’, maka nabi ‘Isa berkata, ‘Sesungguhnya Rabb-ku telah telah murka pada hari ini dengan kemurkaan yang tidak pernah murka sebelumnya seperti pada hari ini dan tidak pernah murka sesudahnya seperti hari ini -beliau tidak menyebutkan dosa atau kesalahannya sama sekali- jiwaku jiwaku jiwaku (butuh syafaat), Pergilah kepada selainku! Pergilah kepada Muhammad’. Mereka pun mendatangi nabi Muhammad , seraya berkata, ‘Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah dan penutup para nabi, Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang, mintakanlah syafaat untuk kami kepada Rabb-mu, tidakkah engkau melihat keadaan kami?’. Aku pun pergi dan datang menuju bawah ‘Arsy, lalu aku tertunduk sujud kepada Rabb-ku, kemudian Allah membukakan kepadaku sesuatu tentang pujian-pujian dan sanjungan yang baik, yang tidak pernah dibukakan kepada siapa pun sebelumku’, kemudian dikatakan, ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, mintalah, maka engkau akan dikabulkan, dan berilah syafaat, maka syafaatmu akan diterima’.”([14])

Inilah syafaat yang telah dimaksudkan di dalam Al-Quran,

عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

  • “Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’: 79)

Syafaat ini berkaitan dengan seluruh umat manusia, baik orang-orang yang beriman maupun kafir, semuanya mendapatkan manfaat dari syafaat ini, karena dengannya Allah ﷻ akan segera memulai persidangan hari kiamat dan memberi keputusan kepada manusia. Sejatinya syafaat ini diperuntukkan kepada orang-orang yang beriman, yang dengannya kaum muslimin segera dihisab dan diberikan keputusan oleh Allah ﷻ untuk masuk ke dalam surga atau neraka. Sedangkan, orang-orang kafir akan segera diantarkan kepada neraka Jahanam selama-lamanya. Mereka tidak menyadari bahwa berada di bawah terik matahari saat itu lebih baik daripada berada di dalam neraka yang kekal selama-lamanya.

Adapun firman Allah ﷻ,

فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ

“Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat (pertolongan) dari orang-orang yang memberikan syafaat.” (QS. Al-Muddassir: 48)

Di antara maksud dari ayat ini adalah orang-orang kafir tidak mendapatkan syafaat untuk keluar dari siksa neraka Jahanam.

  • Syafaat untuk paman beliau, yaitu Abu Thalib.

Paman beliau ﷺ telah meninggal dunia dalam keadaan musyrik, sedangkan seluruh orang-orang musyrik tidak akan mendapatkan syafaat pada hari kiamat. Namun, Nabi ﷺ diberikan kekhususan oleh Allah ﷻ untuk memberikan syafaat kepada pamannya, berupa diangkatnya tempat siksaannya yang berada di dasar neraka dengan siksaan yang begitu berat menuju tempat yang paling atas yang berada di neraka dengan siksaan yang ringan. Berdasarkan riwayat Al-‘Abbas bin Abdul Muththalib Radhiallahu ‘anhu ketika berkata kepada Nabi ﷺ,

مَا أَغْنَيْتَ عَنْ عَمِّكَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغْضَبُ لَكَ؟ قَالَ: هُوَ فِي ضَحْضَاحٍ([15]) مِنْ نَارٍ، وَلَوْلاَ أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرَكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ

“Tidakkah engkau bisa menolong pamanmu, sesungguhnya dia dahulu membela engkau dan marah karena engkau?” Beliau bersabda, “Dia berada di permukaan neraka, seandainya bukan karena aku, niscaya dia berada di neraka yang paling dasar.”([16])

Akan tetapi, syafaat ini tidaklah mampu mengeluarkannya dari siksa api neraka, karena syafaat tersebut hanya meringankan siksaan Abu Thalib di dalam neraka, yaitu dari azab neraka yang paling bawah menuju azab neraka yang berada di permukaan. Begitu juga disebutkan dalam riwayat yang lain, dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ menyebutkan paman beliau, seraya bersabda,

لَعَلَّهُ تَنْفَعُهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، فَيُجْعَلُ فِي ضَحْضَاحٍ مِنَ النَّارِ يَبْلُغُ كَعْبَيْهِ، يَغْلِي مِنْهُ دِمَاغُهُ

“Semoga dia (Abu Thalib) mendapatkan nmanfaat dari syafaatku pada hari kiamat, maka dia diletakkan pada permukaan neraka yang hampir mencapai mata kakinya, membuat otaknya mendidih.” ([17])

Selain itu, adalah riwayat Ibnu ‘Abbas i, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا أَبُو طَالِبٍ، وَهُوَ مُنْتَعِلٌ نَعْلَيْنِ مِنْ نَارٍ، يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ

“Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan azabnya adalah Abu Thalib, dia memakai dua sandal dari api, yang membuat otaknya mendidih.” ([18])

Semua hadits yang menjelaskan hal ini dengan riwayat-riwayat para sahabat adalah hadits-hadits yang sahih. Akan tetapi, orang-orang Syiah mengingkari hadits-hadits ini. Mereka meyakini bahwa Abu Thalib masuk surga, bahkan mereka mengatakan bahwa Abu Thalib lebih utama dari pada Abu Bakr Radhiallahu ‘anhu dan ‘Umar Radhiallahu ‘anhu (karena keyakinan mereka bahwa Abu Bakr dan Umar di neraka). Di samping itu mereka meyakini bahwa Abu Thalib lebih berjasa dari pada kaum Anshar dan Muhajirin. ([19])

  • Syafaat untuk masuk surga.

Syafaat ini diberikan agar penghuni surga masuk ke dalam surga. Surga tidak akan terbuka, kecuali yang mengetuknya adalah nabi Muhammad ﷺ. Sebagaimana hadits riwayat Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

آتِي بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتفْتِحُ، فَيَقُولُ الْخَازِنُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَأَقُولُ: مُحَمَّدٌ، فَيَقُولُ: بِكَ أُمِرْتُ لَا أَفْتَحُ لِأَحَدٍ قَبْلَكَ

“Aku mendatangi pintu surga pada hari kiamat, lalu aku meminta (izin) agar dibukakan, maka penjaga surga berkata, ‘Siapa engkau?’, lalu aku berkata, ‘(Aku) Muhammad’, lalu dia berkata, ‘Karena engkau aku diperintahkan, aku tidak membukakan untuk seorang pun sebelum engkau’.” ([20])

Di dalam hadits yang lain riwayat Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

أَنَا أَوَّلُ النَّاسِ يَشْفَعُ فِي الْجَنَّةِ وَأَنَا أَكْثَرُ الْأَنْبِيَاءِ تَبَعًا

“Aku adalah manusia pertama yang memberi syafaat di surga dan aku adalah nabi yang paling banyak pengikutnya.”([21])

  • Syafaat bagi umat Nabi yang masuk surga tanpa hisab

Berdasarkan hadits riwayat Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

يَدْخُلُ الجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي زُمْرَةٌ هُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا، تُضِيءُ وُجُوهُهُمْ إِضَاءَةَ القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ» وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ الأَسَدِيُّ يَرْفَعُ نَمِرَةً([22]) عَلَيْهِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ، قَالَ: اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ مِنْهُمْ ثُمَّ قَامَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ، فَقَالَ: سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ

“Akan masuk surga satu golongan dari umatku yang berjumlah tujuh puluh ribu orang, dimana wajah mereka bercahaya bagaikan cahaya bulan di malam bulan purnama.” Abu Hurairah berkata, ‘Lalu Ukkasyah bin Mihshan Al-Asadiy berdiri dan mengangkat kainnya, seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikan aku termasuk dari mereka’. Beliau pun berdoa, ‘Wahai Allah, jadikanlah dia termasuk dari mereka’, kemudian ada seseorang dari Anshar berdiri seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikan aku termasuk dari mereka’, lalu beliau bersabda, ‘Ukkasyah telah mendahuluimu’.” ([23])

Maksud dari hadits tersebut adalah Nabi ﷺ berdoa sekaligus memberi syafaat agar ‘Ukkasyah termasuk dari golongan tujuh puluh ribu orang yang masuk surga dengan tanda azab dan hisab.

  1. Syafaat Nabi dan selain Nabi (Syafaat umum)

Adalah syafaat umum, yang dimiliki oleh Nabi ﷺ dan dimiliki oleh selain beliau ﷺ. Di antaranya adalah para nabi, malaikat, para syuhada dan orang-orang yang beriman. Terkadang orang tua kepada anaknya, atau anak kepada orang tuanya. Berdasarkan hadits riwayat Abu Sa’id Al-Khudriy Radhiallahu ‘anhu yang telah disebutkan sebelumnya, begitu juga dengan hadits Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

حَتَّى إِذَا أَرَادَ اللَّهُ رَحْمَةَ مَنْ أَرَادَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، أَمَرَ اللَّهُ المَلاَئِكَةَ: أَنْ يُخْرِجُوا مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ، فَيُخْرِجُونَهُمْ وَيَعْرِفُونَهُمْ بِآثَارِ السُّجُودِ، وَحَرَّمَ اللَّهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَأْكُلَ أَثَرَ السُّجُودِ، فَيَخْرُجُونَ مِنَ النَّارِ، فَكُلُّ ابْنِ آدَمَ تَأْكُلُهُ النَّارُ إِلَّا أَثَرَ السُّجُودِ، فَيَخْرُجُونَ مِنَ النَّارِ

“Sehingga ketika Allah menghendaki untuk memberikan rahmat kepada orang yang Dia kehendaki dari penduduk neraka, maka Allah memerintahkan para malaikat agar mengeluarkan orang-orang yg menyembah Allah, maka para malaikat mengeluarkan mereka, mereka dikenali dari bekas sujudnya, Allah mengharamkan api neraka untuk menyentuh bekas sujud, lalu mereka keluar dari neraka, setiap anak Adam terbakar oleh api neraka kecuali bekas sujudnya, maka mereka keluar dari neraka.” ([24])

Hadits ini menunjukkan bahwa orang-orang yang mengerjakan salat pun masuk ke dalam neraka, akibat dosa dan kemaksiatan yang mereka kerjakan.

Syafaat dalam hal ini terbagi menjadi tiga bagian, di antaranya:

  • Syafaat untuk orang yang seharusnya masuk neraka, namun tidak jadi masuk ke dalam neraka.

Di antara hadits yang menunjukkan hal ini adalah riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda,

مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ، فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا، لَا يُشْرِكُونَ بِاللهِ شَيْئًا، إِلَّا شَفَّعَهُمُ اللهُ فِيهِ

“Tidaklah ada seorang muslim yang meninggal dunia, lalu yang menyalatinya adalah empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, melainkan Allah akan memberikan syafaat kepada mereka untuknya.” ([25])

Maka dari itu, tatkala ada keluarga kita yang meninggal dunia, hendaknya kita berusaha agar yang menyalatinya adalah orang-orang yang sungguh-sungguh mengamalkan tauhid dan menjauhi hal-hal yang berbau kesyirikan.

  1. Syafaat untuk penghuni neraka, agar keluar dari neraka.

Sebagaimana hadits riwayat Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

حَتَّى إِذَا خَلَصَ الْمُؤْمِنُونَ مِنَ النَّارِ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ بِأَشَدَّ مُنَاشَدَةً لِلَّهِ فِي اسْتِقْصَاءِ الْحَقِّ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ لِلَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِإِخْوَانِهِمُ الَّذِينَ فِي النَّارِ، يَقُولُونَ: رَبَّنَا كَانُوا يَصُومُونَ مَعَنَا وَيُصَلُّونَ وَيَحُجُّونَ، فَيُقَالُ لَهُمْ: أَخْرِجُوا مَنْ عَرَفْتُمْ، فَتُحَرَّمُ صُوَرُهُمْ عَلَى النَّارِ، فَيُخْرِجُونَ خَلْقًا كَثِيرًا قَدِ أَخَذَتِ النَّارُ إِلَى نِصْفِ سَاقَيْهِ، وَإِلَى رُكْبَتَيْهِ، ثُمَّ يَقُولُونَ: رَبَّنَا مَا بَقِيَ فِيهَا أَحَدٌ مِمَّنْ أَمَرْتَنَا بِهِ، فَيَقُولُ: ارْجِعُوا فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ دِينَارٍ مِنْ خَيْرٍ فَأَخْرِجُوهُ، فَيُخْرِجُونَ خَلْقًا كَثِيرًا، ثُمَّ يَقُولُونَ: رَبَّنَا لَمْ نَذَرْ فِيهَا أَحَدًا مِمَّنْ أَمَرْتَنَا. ثُمَّ يَقُولُ: ارْجِعُوا فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ نِصْفِ دِينَارٍ مِنْ خَيْرٍ فَأَخْرِجُوهُ، فَيُخْرِجُونَ خَلْقًا كَثِيرًا، ثُمَّ يَقُولُونَ: رَبَّنَا لَمْ نَذَرْ فِيهَا مِمَّنْ أَمَرْتَنَا أَحَدًا، ثُمَّ يَقُولُ: ارْجِعُوا فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ فَأَخْرِجُوهُ، فَيُخْرِجُونَ خَلْقًا كَثِيرًا ثُمَّ يَقُولُونَ: رَبَّنَا لَمْ نَذَرْ فِيهَا خَيْرًا. وَكَانَ أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ يَقُولُ: إِنْ لَمْ تُصَدِّقُونِي بِهَذَا الْحَدِيثِ فَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ: {إِنَّ اللهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا}، فَيَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: شَفَعَتِ الْمَلَائِكَةُ، وَشَفَعَ النَّبِيُّونَ، وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُونَ وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ، فَيَقْبِضُ قَبْضَةً مِنَ النَّارِ، فَيُخْرِجُ مِنْهَا قَوْمًا لَمْ يَعْمَلُوا خَيْرًا قَطُّ قَدْ عَادُوا حُمَمًا، فَيُلْقِيهِمْ فِي نَهَرٍ فِي أَفْوَاهِ الْجَنَّةِ يُقَالُ لَهُ: نَهَرُ الْحَيَاةِ، فَيَخْرُجُونَ كَمَا تَخْرُجُ الْحِبَّةُ فِي حَمِيلِ السَّيْلِ

“Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak orang-orang yang beriman untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka berkata: Wahai Rabb kami, mereka itu berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji. Dikatakan kepada mereka, ‘Keluarkanlah (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal’. Maka wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka, mereka mengeluarkan banyak saudaranya yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada juga yang sampai lututnya, kemudian mereka berkata, ‘Wahai Rabb kami, tidak tersisa lagi orang yang Engkau perintahkan untuk dikeluarkan dari neraka’. Allah berfirman, ‘Kembalilah, siapa saja yang kalian dapati di dalam hatinya memiliki kebaikan seberat dinar, maka keluarkanlah’, lalu mereka mengeluarkan banyak saudaranya, kemudian mereka berkata, ‘Wahai Rabb kami, kami tidak meninggalkan seorangpun yang Engkau perintahkan untuk dikeluarkan’. Allah berfirman, ‘Kembalilah, siapa saja yang kalian dapati di dalam hatinya memiliki kebaikan seberat setengah dinar, maka keluarkanlah’, lalu mereka mengeluarkan banyak saudaranya, kemudian mereka berkata, ‘Wahai Rabb kami, kami tidak meninggalkan seorangpun yang Engkau perintahkan untuk dikeluarkan’. Allah berfirman, ‘Kembalilah, siapa saja yang kalian temui di dalam hatinya memiliki kebaikan seberat biji zarrah, maka keluarkanlah’, lalu mereka mengeluarkan banyak saudaranya, kemudian mereka berkata, ‘Wahai Rabb kami, kami tidak meninggalkan kebaikan di dalamnya’. Abu Sa’id Al-Khudri berkata, ‘Jika kalian tidak mempercayai hadits ini, maka bacalah firman Allah, “Sungguh, Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun sebesar dzarrah, dan jika ada kebajikan (sekecil dzarrah). (QS. An-Nisa: 40)”, lalu Allah berfirman, ‘Malaikat memberi syafaat, para nabi memberi syafaat dan orang-orang yang beriman memberi syafaat dan tidak ada yang tersisa kecuali Dzat yang Maha Penyayang dari semua penyayang’, lalu Allah menggenggam satu genggaman dari penghuni neraka, lalu mengeluarkan satu kaum yang tidak pernah melakukan kebaikan sedikit pun yang telah menjadi lava/arang yang hitam, Allah melemparkan mereka ke dalam sungai dari sumber air surga yang disebut dengan ‘sungai kehidupan’, lalu mereka keluar dari sungai tersebut seperti benih yang tumbuh di aliran sungai.”([26])

Mereka yang disebutkan di dalam hadits tersebut dikenal dengan Jahannamiyun, yaitu orang-orang yang pernah masuk ke dalam neraka Jahanam([27]).

Selain itu disebutkan juga di dalam riwayat Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

فَيَأْتُونِي، فَأَقُولُ: أَنَا لَهَا، فَأَسْتَأْذِنُ عَلَى رَبِّي، فَيُؤْذَنُ لِي، وَيُلْهِمُنِي مَحَامِدَ أَحْمَدُهُ بِهَا لاَ تَحْضُرُنِي الآنَ، فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ المَحَامِدِ، وَأَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا، فَيَقُولُ: يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ، وَسَلْ تُعْطَ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ، فَأَقُولُ: يَا رَبِّ، أُمَّتِي أُمَّتِي، فَيَقُولُ: انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مِنْهَا مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ شَعِيرَةٍ مِنْ إِيمَانٍ، فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ، ثُمَّ أَعُودُ، فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ المَحَامِدِ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا، فَيُقَالُ: يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ، وَسَلْ تُعْطَ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ، فَأَقُولُ: يَا رَبِّ، أُمَّتِي أُمَّتِي، فَيَقُولُ: انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مِنْهَا مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ – أَوْ خَرْدَلَةٍ – مِنْ إِيمَانٍ فَأَخْرِجْهُ، فَأَنْطَلِقُ، فَأَفْعَلُ، ثُمَّ أَعُودُ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ المَحَامِدِ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا، فَيَقُولُ: يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ، وَسَلْ تُعْطَ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ، فَأَقُولُ: يَا رَبِّ أُمَّتِي أُمَّتِي، فَيَقُولُ: انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ أَدْنَى أَدْنَى أَدْنَى مِثْقَالِ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ، فَأَخْرِجْهُ مِنَ النَّارِ، فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ

“Mereka mendatangiku (Nabi Muhammad ), lalu aku berkata, ‘Aku adalah orang yang memiliki hak untuk memberi syafaat, lalu aku pergi meminta izin kepada Rabb-ku, lalu diizinkanlah kepadaku (untuk menghadap), Allah telah memberikan ilham kepadaku pujian-pujian yang mana aku tidak tidak mampu mengucapkannya sekarang, aku memuji-Nya dengan pujian-pujian itu, aku menyungkur sujud kepada-Nya, lalu Allah berfirman, ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, dan berkatalah niscaya kamu didengar, mintalah niscaya kamu diberi, mintalah syafa’at niscaya kamu diberikan syafaat’, aku berkata, ‘Wahai Rabbku, umatku-umatku’, maka Allah berfirman, ‘Pergilah, keluarkanlah dari neraka siapa saja yang di dalam hatinya ada iman seberat biji gandum, maka aku pergi dan melakukan perintah-Nya, kemudian kembali menemui Rabb-ku, aku memujinya dengan puji-pujian tersebut, kemudian aku menyungkur bersujud kepada-Nya, lalu Allah berfirman, ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, dan berkatalah niscaya kamu didengar, mintalah niscaya kamu diberi, mintalah syafa’at niscaya kamu diberikan syafaat’, aku berkata, ‘Wahai Rabbku, umatku-umatku’, maka Allah berfirman, ‘Pergilah, keluarkanlah dari neraka siapa saja yang di dalam hatinya ada iman seberat biji dzarrah atau atom, maka aku pergi dan melakukan perintah-Nya, kemudian aku kembali kepada Rabb-ku, lalu aku memujinya dengan puji-pujian tersebut, kemudian aku menyungkur bersujud kepada-Nya, lalu Allah berfirman, ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, dan berkatalah niscaya kamu didengar, mintalah niscaya kamu diberi, mintalah syafa’at niscaya kamu diberikan syafaat’, aku berkata, ‘Wahai Rabb-ku, umatku-umatku’, maka Allah berfirman, ‘Pergilah, keluarkanlah siapa saja yang di dalam hatinya ada iman yang beratnya lebih rendah, lebih rendah dan lebih rendah lagi dari biji atom, maka keluarkanlah dia dari neraka, maka aku pergi dan melakukan perintah-Nya.” ([28])

Hadits ini menjadi dalil bahwa Rasulullah ﷺ memberikan syafaat dan mengeluarkan penghuni neraka dari neraka Jahanam. Bahkan, disebutkan di dalam hadits riwayat Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ bersabda,

شَفَاعَتِي لِأَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِي

“Syafaatku bagi pelaku dosa besar dari umatku.” ([29])

  • Syafaat untuk penghuni surga agar naik derajatnya.

Sebagaimana doa Nabi ﷺ kepada ‘Ubaid Abu ‘Amir Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ berdoa,

اللهُمَّ اغْفِرْ لِعُبَيْدٍ أَبِي عَامِرٍ حَتَّى رَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: اللهُمَّ اجْعَلْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَوْقَ كَثِيرٍ مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ مِنَ النَّاسِ

“‘Wahai Allah, ampunilah ‘Ubaid Abu ‘Amir” (perawi berkata,) sehingga aku melihat putih kedua ketiak beliau, kemudian melanjutkan berdoa, ‘Wahai Allah, jadikanlah dia pada hari kiamat di atas banyak makhluk-Mu atau hamba-hamba-Mu’.”([30])

Begitu juga dengan doa beliau e kepada Abu Salamah Radhiallahu ‘anhu,

اللهُمَّ اغْفِرْ لِأَبِي سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ

“Wahai Allah, ampunilah Abu Salamah, angkatlah derajatnya bersama golongan yang mendapatkan petunjuk.”([31])

Menggapai syafaat nabi Muhammad ﷺ

Terdapat amalan-amalan khusus untuk bisa meraih syafaat Nabi ﷺ. Sebagaimana disebutkan di dalam hadits bahwa amalan tersebut dibagi menjadi dua bagian, di antaranya:

A. Amalan-amalan yang disebutkan di dalam hadits-hadits sahih.

Tentu saja yang bersumber dari hadits-hadits sahih adalah yang menjadi patokan. Di antara amalan yang disebutkan adalah:

  • Mentauhidkan Allah dan tidak berbuat syirik sedikitpun.

Ini merupakan sebab yang paling utama. Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ، فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ، وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا

“Setiap nabi memiliki doa yang dikabulkan, setiap nabi bersegera untuk dikabulkan doanya tersebut. Sesungguhnya aku menangguhkan doaku sebagai syafaat umatku pada hari kiamat. Syafaatku akan mengenai seluruh umatku dengan kehendak Allah bagi siapa saja yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun.”([32])

Apabila seorang muslim hendak mendapatkan syafaat dengan rida dari Allah ﷻ, maka hendaknya dia menjadi seorang hamba yang bertauhid. Percuma saja bagi seseorang yang meminta syafaat, akan tetapi tidak dia tidak bertauhid, maka tidak akan mendapat izin dan rida dari Allah ﷻ. Maka dari itu, orang yang paling utama mendapatkan syafaat Nabi ﷺ adalah orang yang paling menjauhkan diri dari kesyirikan. Selain itu, ada banyak hadits yang menjelaskan tentang hal ini, di antaranya adalah hadits riwayat Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ القِيَامَةِ؟ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لاَ يَسْأَلُنِي عَنْ هَذَا الحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الحَدِيثِ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ، أَوْ نَفْسِه

“‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling bahagia dengan syafaatmu pada hari kiamat?’ Rasulullah bersabda, ‘Wahai Abu Hurairah, sungguh aku telah menduga tidak ada seorang pun yang menanyakan tentang hal ini sebelum engkau, karena aku tahu semangatmu bertanya tentang hadits. Orang yang paling bahagia dengan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan La ilaha illa Allah murni dari dalam hatinya atau jiwanya’.”([33])

Ibnu Al-Mulaqqin ﷻ di dalam kitabnya At-Taudhih Syarh Sahih Al-Bukhari menjelaskan bahwa orang yang mendapatkan syafaat itu bertingkat-tingkat, di antara mereka ada yang mendapatkan bagian yang besar dan ada juga yang mendapatkan bagian kecil. Semakin tinggi tauhid seseorang kepada Allah ﷻ, maka semakin banyak syafaat yang dia dapatkan dari Nabi ﷺ.([34])

  • Meminta kedudukan (al-wasilah) untuk Nabi ketika selesai mendengar dan menjawab azan.

Sebagaimana hadits Jabir bin Abdullah i, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ

“Barang siapa yang berdoa ketika mendengar azan; ‘Allahumma rabba hadzihid da’watit tammah wash-shalatil qaimah aati muhammadanil washilata wal fadhilah, wab’atshu maqamam mahmudanil-ladzi wa’adtah’ (Wahai Rabb (Pemilik) seruan yang sempurna ini dan salat yang didirikan ini, berikanlah perantara dan keutamaan kepada Muhammad, bangkitkanlah beliau pada kedudukan yang terpuji sebagaimana yang telah Engkau janjikan), maka ia berhak mendapatkan syafaatku pada hari kiamat.”([35])

  • Bersabar tinggal di kota Madinah.

Berdasarkan hadits Nabi ﷺ,

إِنِّي أُحَرِّمُ مَا بَيْنَ لَابَتَيِ الْمَدِينَةِ أَنْ يُقْطَعَ عِضَاهُهَا، أَوْ يُقْتَلَ صَيْدُهَا، وَقَالَ: الْمَدِينَةُ خَيْرٌ لَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ، لَا يَدَعُهَا أَحَدٌ رَغْبَةً عَنْهَا إِلَّا أَبْدَلَ اللهُ فِيهَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ، وَلَا يَثْبُتُ أَحَدٌ عَلَى لَأْوَائِهَا وَجَهْدِهَا إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا، أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya aku telah menjadikan tanah di antara dua bukit bebatuan hitam di arah timur dan barat Madinah haram untuk dipotong duri-durinya atau dibunuh hewan buruannya.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya kota Madinah lebih baik bagi mereka jika mereka mengetahuinya. Tidaklah seorang pun meninggalkannya karena tidak menyukainya, melainkan Allah akan menggantikan dengan orang yang lebih baik daripadanya. Tidaklah seorang pun yang bersabar atas sulitnya hidup atau tinggal di Madinah, kecuali aku akan memberikan syafaat atau saksi baginya pada hari kiamat.” ([36])

Para ulama mengatakan bahwa jika orang yang tinggal di kota tersebut adalah termasuk orang yang saleh, maka Nabi ﷺ akan menjadi saksi atas kebaikannya dan apabila dia memiliki dosa-dosa, maka Nabi ﷺ akan memberikan syafaat kepadanya pada hari kiamat. Maka dari itulah Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَمُوتَ بِالْمَدِينَةِ فَلْيَمُتْ بِهَا، فَإِنِّي أَشْفَعُ لِمَنْ يَمُوتُ بِهَا

“Barang siapa yang mampu untuk meninggal dunia di kota Madinah, maka hendaknya dia meninggal di kota tersebut, karena sesungguhnya aku akan memberikan syafaat bagi siapa saja yang meninggal di kota tersebut.” ([37])

Banyak orang yang berdoa kepada Allah ﷻ agar meninggal dunia di kota Madinah, maka Allah akan mengabulkan doanya. Semoga kelak kita bisa meninggal dunia di kota Madinah.

  • Memperbanyak sujud atau salat

Terutama pada saat salat-salat fardu, lalu yang salat sunah. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ziyad bin Abu Ziyad -maula Bani Mahzum- dari pembantu Nabi ﷺ berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّا يَقُولُ لِلْخَادِمِ: أَلَكَ حَاجَةٌ؟ قَالَ: حَتَّى كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، حَاجَتِي قَالَ: وَمَا حَاجَتُكَ؟ قَالَ: حَاجَتِي أَنْ تَشْفَعَ لِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ، قَالَ: وَمَنْ دَلَّكَ عَلَى هَذَا؟ قَالَ: رَبِّي قَالَ: إِمَّا لَا، فَأَعِنِّي بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“Di antara hal yang Nabi tanyakan kepada pembantunya adalah, ‘Apakah engkau memiliki keperluan?’ dia berkata, ‘Sampai pada suatu hari dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya memiliki keperluan’. Beliau bersabda, ‘Apa keperluanmu?’ dia berkata, ‘Keperluanku adalah agar engkau memberi syafaat kepadaku pada hari kiamat’, beliau bersabda, ‘Apa yang membuatmu untuk meminta hal ini?’ dia berkata, ‘Rabb-ku (yang telah menunjukkan hal ini)’, beliau bersabda, ‘Jika memang tidak ada (keperluan yang lain), maka bantulah aku dengan memperbanyak sujud’.” ([38])

Disebutkan di dalam riwayat yang lain dari Rabi’ah bin Ka’b Radhiallahu ‘anhu berkata, ‘Rasulullah ﷺ berkata kepadaku’,

سَلْنِي أُعْطِكَ “، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَنْظِرْنِي أَنْظُرْ فِي أَمْرِي، قَالَ: ” فَانْظُرْ فِي أَمْرِكَ “، قَالَ: فَنَظَرْتُ فَقُلْتُ: إِنَّ أَمْرَ الدُّنْيَا يَنْقَطِعُ فَلَا أَرَى شَيْئًا خَيْرًا مِنْ شَيْءٍ آخُذُهُ لِنَفْسِي لِآخِرَتِي، فَدَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ” مَا حَاجَتُكَ؟ “، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، اشْفَعْ لِي إِلَى رَبِّكَ عَزَّ وَجَلَّ، فَلْيُعْتِقْنِي مِنَ النَّارِ، فَقَالَ: ” مَنْ أَمَرَكَ بِهَذَا؟ “، فَقُلْتُ: لَا وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ، مَا أَمَرَنِي بِهِ أَحَدٌ، وَلَكِنِّي نَظَرْتُ فِي أَمْرِي فَرَأَيْتُ أَنَّ الدُّنْيَا زَائِلَةٌ مِنْ أَهْلِهَا، فَأَحْبَبْتُ أَنْ آخُذَ لِآخِرَتِي، قَالَ: ” فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“‘Mintalah kepadaku, maka aku akan berikan kepadamu’, Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, tangguhkanlah aku, sementara aku melihat perkara yang aku butuhkan’, maka beliau berkata, ‘Lihatlah perkara yang kau butuhkan’, dia berkata, ‘Maka aku berpikir, lalu aku berkata bahwa sesungguhnya perkara dunia akan terputus, tidaklah aku melihat hal yang lebih baik dari apa yang bisa aku dapatkan untuk diriku pada perkara akhiratku, lalu aku menemui Nabi , maka beliau bertanya, ‘Apa keperluanmu?’’ lalu aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, berikanlah kepadaku syafaat di sisi Rabb-mu, agar Allah membebaskan aku dari neraka’. Beliau bertanya, ‘Siapa yang telah memerintahkanmu dengan permintaan ini?’ lalu aku berkata, ‘Demi Allah, tidak ada wahai Rasulullah! Tidak ada seorangpun yang memerintahkanku untuk meminta hal ini. Namun, aku melihat urusanku, maka melihat bahwa dunia akan pergi dari penghuninya, maka aku lebih menyukai agar aku mendapatkan perkara untuk akhiratku’, maka beliau bersabda, ‘bantulah aku atas dirimu dengan memperbanyak sujud’.” ([39])

Inilah di antara hadits-hadits yang sahih jika kita hendak mendapatkan syafaat Nabi ﷺ

  1. Amalan-amalan yang disebutkan di dalam hadits-hadits lemah/palsu.

Namun, amalan-amalan ini tidak bisa menjadi sandaran, karena meskipun amalan-amalan tersebut adalah baik, namun hadits-hadits yang menyebutkannya merupakan hadits yang lemah. Di antaranya adalah :

  • Banyak bersalawat kepada Nabi .

Tentu saja amalan ini mendatangkan pahala yang besar, akan tetapi hadits yang menjelaskan hal ini merupakan hadits yang lemah.([40])

  • Mencintai Ahli bait Nabi ([41]).

Perkara ini adalah ibadah, karena Rasulullah ﷺ bersabda,

أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي

“Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli bait-ku.” ([42])

Artinya jika ada keluarga Nabi ﷺ yang saleh, maka hendaknya kita menghormatinya, memberikan keutamaan lebih kepadanya dari pada yang lainnya, dengan syarat jika dia termasuk orang yang saleh. Namun, apabila tidak saleh, maka lebih utama orang biasa yang saleh. Karena terkadang para habib bermacam-macam, di antara mereka ada yang banyak mengamalkan sunah, pelaku bid’ah, pemeluk Syi’ah, pelaku kemaksiatan ataupun mengamalkan kebaikan. Adapun hadits yang menjelaskan bahwa mencintai ahli bait mendatangkan syafaat Nabi ﷺ adalah hadits lemah.

  • Bersahabat karena Allah. ([43])
  • Membantu keperluan saudaranya.([44])
  • Menghafalkan empat puluh hadits. ([45])
  • Menziarahi kuburan Nabi .

Tentu saja, seorang muslim ketika berada di Madinah, disyariatkan untuk menziarahi kuburan Nabi ﷺ. Namun, hadits yang menjelaskan bahwa menziarahi kuburan Nabi ﷺ akan mendapatkan syafaat Nabi ﷺ adalah hadits yang lemah.([46])

Amalan yang menghalangi syafaat Nabi

Terdapat hadits-hadits yang menyebutkan tentang amalan-amalan yang dapat menghalangi seseorang dari syafaat Nabi ﷺ. Di antaranya adalah:

  • Setiap pemimpin yang zalim dan orang yang berlebih-lebihan dalam beragama

Kezaliman pemimpin serta berlebih-lebihan dalam masalah beragama dapat mengeluarkan pelakunya dari ajaran Nabi ﷺ. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِي لَنْ تَنَالَهُمَا شَفَاعَتِي: إِمَامٌ ظَلُومٌ([47])، وَكُلُّ غَالٍ مَارِقٍ

“Ada dua golongan dari umatku yang tidak akan mendapatkan syafaatku (pada hari kiamat), pemimpin zalim yang sering merampas hak rakyatnya dan setiap orang yang berlebih-lebihan dalam beragama, keluar dari jalur agama([48]).”([49])

  • Mendustakan syafaat Nabi .

Disebutkan di dalam hadits yang da’if, sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu berkata, Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ كَذَّبَ بِالشَّفَاعَةِ لَمْ يَنَلْهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang mendustakan syafaat, maka dia tidak mendapatkannya pada hari kiamat.” ([50])

Di antara kelompok yang mendustakan syafaat Nabi ﷺ adalah Khawarij dan Mu’tazilah. Mu’tazilah tidak beriman dengan syafaat, mereka mengatakan bahwa apabila penghuni neraka sudah masuk ke dalam neraka, maka mereka tidak akan bisa keluar darinya. Selain itu, mereka beranggapan bahwa hadits yang menjelaskannya adalah hadits Ahad, sehingga mereka mendustakan syafaat. Padahal, terdapat hadits-hadits yang menjelaskan bahwa Nabi ﷺ, malaikat dan orang-orang beriman mampu mengeluarkan orang-orang dari neraka, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya.

Adapaun hadits-hadits lain –selain dua hadits di atas– yang menjelaskan tentang hal-hal yang mampu menghalangi seseorang dari syafaat Nabi e adalah hadits-hadits yang da’if, di antaranya :

  • Pelaku Bid’ah.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bakr bin Abdullah Al-Muzanni, bahwa Nabi ﷺ bersabda,

حَلَّتْ شَفَاعَتِي لِأُمَّتِي إِلَّا صَاحِبَ بِدْعَةٍ

“Syafaatku akan didapatkan oleh seluruh umatku kecuali pelaku bid’ah.” ([51])

Begitu juga dengan hadits yang riwayat Abu Bakr Radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِي لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ، وَلَا تَنَالُهُمْ شَفَاعَتِي: الْمُرْجِئَةُ، وَالْقَدَرِيَّةُ

“Ada dua golongan dari umatku yang tidak masuk surga dan tidak mendapatkan syafaatku, yaitu Murji’ah dan Qadariyah.”([52])

  • Orang yang membenci dan merendahkan sahabat Nabi .

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah i berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

نِعْمَ الرَّجُلِ أَنَا لِشِرَارِ أُمَّتِيْ قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ! فَكَيْفَ أَنْتَ لِخِيَارِهِمْ! قَالَ: خِيَارُ أُمَّتِيْ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ بِأَعْمَالِهِمْ وَشِرَارُ أُمَّتِيْ يَنْتَظِرُوْنَ شَفَاعَتِيْ، أَلَا! إِنَّهَا مُبَاحَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِجَمِيْعِ أُمَّتِيْ إِلَّا رَجُلٌ يَنْتَقِصُ أَصْحَابِيْ

“‘Sebaik-baik manusia adalah aku, karena orang-orang yang buruk dari umatku’, dikatakan kepadaku, ‘Wahai Rasulullah! Bagaimana kedudukan orang-orang pilihan dari umatmu?’ beliau bersabda, ‘Orang-orang pilihan dari umatku akan memasuki surga karena amal mereka, sedangkan orang-orang yang buruk dari umatku akan menunggu syafaatku. Ketahuilah! Sesungguhnya syafaatku akan diperkenankan bagi seluruh umatku, kecuali orang yang merendahkan sahabat-sahabatku’.”([53])

  • Menipu orang Arab.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh ‘Utsman bin ‘Affan Radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ غَشَّ الْعَرَبَ لَمْ يَدْخُلْ فِي شَفَاعَتِي

“Barang siapa yang menipu orang Arab, maka dia tidak mendapatkan syafaatku.”([54])

Masih banyak hadits-hadits da’if yang menjelaskan tentang amalan-amalan yang dapat menghalangi seseorang dari syafaat Nabi ﷺ. Namun, secara umum orang yang berbuat kesyirikan tidak akan diridai oleh Allah ﷻ untuk mendapatkan syafaat. Adapun untuk menggapai syafaat Nabi ﷺ adalah hendaknya sungguh-sungguh dalam mentauhidkan Allah ﷻ, memperbanyak sujud atau salat, berdoa setelah mendengarkan azan dan berusaha tinggal di Madinah.

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Rukum Iman Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________
([1]) HR. Bukhari no. 4712 dan Muslim no. 194

([2]) Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyah Li Al-‘Utsaimin 2/168

([3]) HR. Muslim no. 183

([4]) HR. Tirmizi no. 1663 dan disahihkan oleh Al-Albani

([5]) HR. Bukhari no. 1248

([6] HR. Bukhari 2/100

([7]) HR. Muslim no. 183

([8]) HR. Muslim no. 2598

([9]) Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa jaraknya adalah satu mil. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Miqdad bin Al-Aswad berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah r bersabda,

تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ، حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ

“Matahari akan didekatkan pada hari kiamat kepada seluruh makhluk hingga jarak mereka satu mil.” (HR. Muslim no. 2864)

([10]) Disebutkan di dalam hadits bahwa keringat mereka bercucuran, sebagaimana lanjutan hadits riwayat Al-Miqdad bin Al-Aswad sebelumnya,

فَيَكُونُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِي الْعَرَقِ، فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى كَعْبَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى حَقْوَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا» قَالَ: وَأَشَارَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ إِلَى فِيهِ

“Maka (kondisi) manusia berdasarkan amalan mereka terhadap keringat mereka (yang bercucuran). Di antara mereka ada yang air keringatnya mencapai kedua mata kakinya, ada di antara mereka yang keringatnya hingga kedua lututnya, ada yang hingga ke pinggangnya, dan ada di antara mereka yang keringatnya hingga ke mulutnya.” Rasulullah mengisyaratkan dengan tangannya kepada mulut beliau . (HR. Muslim no. 2864)

Masing-masing menanggung sesuai dengan kadar amalnya di dunia. Semakin buruk amalnya, maka keringatnya semakin memenuhinya.

([11]) Artinya manusia saat itu menyebutkan keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki oleh nabi Adam u. Beliau diciptakan langsung oleh tangan Allah I, Allah I meniupkan ruh ke dalam jasadnya, Allah I memerintahkan para malaikat untuk sujud kepadanya, dimana hal ini tidak terjadi kepada nabi-nabi yang lain.

([12]) Padahal, ketika nabi Adam u melanggar perintah Allah dengan mendekati sebuah pohon, beliau bertobat. Sebagaimana firman Allah I,

فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 37)

Akhirnya, Allah menerima taubat nabi Adam u. Meskipun dosa-dosanya telah diampuni oleh Allah I, nabi Adam u tidak berani memberikan syafaat, karena teringat dengan dosa-dosanya. Satu-satunya kesalahan itu membuat beliau tidak berani untuk meminta syafaat kepada Allah I.

([13]) Kekasih Allah r ada dua, yaitu nabi Ibrahim u dan nabi Muhammad r. Pujian Allah I kepada nabi Ibrahim u sangat banyak disebutkan di dalam Al-Quran, sehingga nabi Muhammad r diperintahkan untuk mengikuti syariat nabi Ibrahim u.

([14]) HR. Bukhari no. 4712 dan Muslim no. 194

([15]) الضَّحْضَاحَ مِنَ الْمَاءِ maksudnya adalah permukaan air yang hampir mencapai mata kaki seseorang. (Lihat: Fathul Bari Li Ibnu Hajar 7/194)

([16]) HR. Bukhari no. 3883 dan Muslim no. 209

([17]) HR. Bukhari no. 3885 dan Muslim no. 210

([18]) HR. Ahmad no. 2636 sanadnya sahih sesuai syarat Muslim

([19]) Penulis telah menulis dalam desertasi beliau beberapa nukilan-nukilan yang berisi keyakinan sesat orang-orang Syiah dalam hal ini.

([20]) HR. Muslim no. 197

([21]) HR. Muslim no. 196

([22]) Baju yang bergaris dan berwarna seakan-akan terbuat dari kulit harimau. (Lihat: Fathul Bari Li Ibnu Hajar 10/276)

([23]) HR. Bukhari no. 6542 dan Muslim no. 216

([24]) HR. Bukhari no. 806

([25]) HR. Muslim no. 948

([26]) HR. Muslim no. 183

([27]) Lihat: Fathul Bari li Ibnu Hajar 11/429

([28]) HR. Bukhari no. 7510

([29]) HR. Abu Dawud no. 4739 dan Tirmizi no. 2435 dan disahihkan oleh Al-Albani

([30]) HR. Bukhari no. 4323 dan Muslim no. 2498

([31]) HR. Muslim no. 920

([32]) HR. Muslim no. 199

([33]) HR. Bukhari no. 99

([34]) At-Taudhih 3/486

([35]) HR. Bukhari no. 4719

([36]) HR. Muslim no. 1363

([37]) HR. Tirmizi 3917 hadits hasan sahih gharib dan disahihkan oleh Al-Albani

([38]) HR. Ahmad no. 16076, sanadnya sahih, perawi-perawinya tsiqah

([39]) HR. Ahmad no. 16578, hadits hasan.

([40]) Seperti hadits yang berbunyi,

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ حِيْنَ يُصْبِحُ عَشْراً، وَحِيْنَ يُمْسِيْ عَشْراً؛ أَدْرَكَتْهُ شَفَاعَتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang ketika pagi bersalawat kepadaku sepuluh kali dan ketika sore sepuluh kali, maka dia kan dikenai syafaatku pada hari kiamat.”

Namun, hadits ini adalah hadits yang dha’if. Al-Albani pernah menghasankan hadits tersebut, akan tetapi beliau kemudian menelaahnya kembali dan mendha’ifkannya di dalam Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah 12/633 no. 5788.

Bersalawat kepada Nabi r adalah amalan yang saleh, hendaknya setiap muslim bersalawat kapan saja. Akan tetapi, hadits khusus yang menjelaskan bahwa salawat menjadikan seseorang mendapatkan syafaat Nabi r adalah hadits yang dha’if.

([41]) Seperti hadits yang berbunyi,

مَنْ أحَبَّكَ نَالتْهُ شَفَاعَتِى، وَمَنْ أبغَضَكَ فَلَا نَالتْهُ شَفَاعَتِى قَالهُ لِلعَبَّاسِ

“‘Barang siapa yang mencintaimu, maka dia akan mendapatkan syafaatku dan barang siapa yang membencimu, maka dia tidak mendapatkan syafaatku’, beliau r mengatakannya kepada Al-Abbas bin Abdul Muththalib.” (Jam’ul Jawami’ Li As-Suyuthi no. 18478/1431 7/390)

Sebagaimana diketahui bahwa Al-‘Abbas bin Abdul Muththalib adalah keturunan bani Hasyim yang termasuk ahli bait sekaligus paman beliau r.

([42]) HR. Muslim no. 2408

([43]) Sebagaimana disebutkan di dalam hadits, bahwa Rasulullah r bersabda,

أَنَا شَفِيْعٌ لِكُلِّ رَجُلَيْنِ اتَّخَيَا فِيْ الله

“Aku memberi syafaat kepada setiap dua orang yang saling bersahabat karena Allah.”

Disebutkan di dalam riwayat lain bahwa,

أَنَا شَفِيعٌ لِكُلِّ رَجُلَيْنِ تَحَابَّا فِي اللهِ

“Aku memberi syafaat kepada setiap dua orang yang saling mencintai karena Allah.” (Lihat: Hilyatul Auliya’ 1/367)

Disebutkan oleh Al-Albani bahwa hadits tersebut maudhu’ di dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah 4/212 no. 1723.

([44]) Seperti di dalam hadits yang berbunyi,

مَنْ قَضَى لِأَخِيْهِ حَاجَةً كُنْتُ وَاقِفًا عِنْدَ مِيْزَانِهِ فَإِنْ رَجَحَ وَإِلَّا شَفَعْتُ لَهُ

“Barang siapa yang membantu keperluan saudaranya, maka aku akan berdiri di timbangan amalnya. Jika berat (timbangan) kebaikannya, namun jika tidak, maka aku akan memberikan syafaat baginya.” (Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah 2/173 no. 751)

Sanad hadits tersebut dha’if jiddan. Ad-Daruquthni mengatakan bahwa hadits tersebut munkar

([45]) Sebagaimana hadits,

من حَفِظَ عَلَى أُمَّتِي أَرْبَعِينَ حَدِيثًا مِنَ السُّنَّةِ، كُنْتُ لَهُ شَفِيْعاً يَوْمَ القِيَامَةِ

“Barang siapa yang menjaga empat puluh hadits sunah-ku bagi umatku, maka aku akan menjadi pemberi syafaat baginya pada hari kiamat.” (Al-Albani menyebutkan bahwa hadits tersebut maudhu’, disebutkan di dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah 10/97 no. 4589)

([46]) Sebagaimana disebutkan di dalam hadits,

مَنْ زَارَ قَبْرِيْ وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِيْ

“Barang siapa yang menziarahi kuburanku, maka wajib baginya untuk mendapatkan syafaatku.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dengan sanad dha’if. Al-Albani mengatakan bahwa sanadnya dha’if jiddan di dalam Irwa’ul Ghalil 4/336.

([47]) Di dalam riwayat lain disebutkan (غَشُومٌ) merampas hak rakyat, (عَسُوْفٌ) merepotkan rakyat.

([48]) Sebagaimana orang-orang khawarij yang berlebih-lebihan dalam beragama hingga mengeluarkannya dari agama.

([49]) HR. Ath-Thabrani no. 8079

([50]) Musnad Asy-Syihab no. 399 1/248. Sanad haditsnya dha’if jiddan sebagaimana dijelaskan oleh Adz-Dzahabi di dalam Mizanul I’tidal 2/217. Namun, menurut Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari 11/426 menyebutkan bahwa sanadnya disahihkan dengan redaksi dari perkataan Anas bin Malik t,

مَنْ كَذَّبَ بِالشَّفَاعَةِ فَلَا نَصِيبَ لَهُ فِيهَا

“Barang siapa yang mendustakan syafaat, maka dia tidak akan mendapatkan bagiannya.” (HR. Baihaqi 344/1 di dalam kitabnya Al-Ba’tsu wa An-Nusyur )

([51]) Al-bida’ li Ibnu Waddhah no. 85 2/77. Hadits munkar disebutkan oleh Al-Albani bahwa hadits tersebut munkar di dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah no. 209 1/376.

([52]) Al-Amaliy no. 288 1/134. Disebutkan oleh Al-Albani di dalam Dha’iful Jami’ Ash-Shagir no. 3496 1/511 bahwa hadits tersebut dha’if dengan redaksi sebagai berikut,

صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِي لَا تَنَالُهُمْ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَة: الْمُرْجِئَةُ، وَالْقَدَرِيَّةُ

([53]) Kanzul ‘Amal no. 39755 14/635. Sanadnya lemah karena salah satu perawinya (Lihat: Dzail Tarikh Baghdad no. 515 6/18)

([54]) Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no. 32471 6/410, Ahmad no. 520 di dalam Musnadnya, disebutkan bahwa sanadnya dha’if jiddan, sedangkan Imam Al-Bukhari mengatakan hadits munkar