Mizan – Iman Kepada Hari Akhir 19

Mizan

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

Peristiwa mizan adalah salah satu di antara kondisi-kondisi berat yang akan dirasakan oleh seseorang pada hari kiamat kelak, karena peristiwa itu adalah salah satu kondisi-kondisi yang menentukan tentang derajat seseorang di surga atau di neraka. Oleh karenanya Hasan Al-Bashri ﷺ meriwayatkan dari ‘Aisyah i,

قَالَتْ عَائِشَةُ: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلْ تَذْكُرُونَ أَهْلِيكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ قَالَ: أَمَّا فِي مَوَاطِنَ ثَلَاثَةٍ فَلَا: الْكِتَابُ، وَالْمِيزَانُ، وَالصِّرَاطُ

Aisyah berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau akan mengingat keluargamu pada hari kiamat?’ Rasulullah , ‘Adapun di tiga tempat maka saya tidak mengingat mereka, yaitu ketika pembagian kitab amal, di mizan (timbangan amal), dan di sirat’.”([1])

Makna hadits ini yaitu ‘Aisyah i bertanya kepada Rasulullah bahwa apakah beliau akan mengingat istri-istrinya kelak di hari kiamat? Maka Rasulullah ﷺ memberikan jawaban bahwasanya dia akan mengingat mereka kecuali di tiga tempat pada hari kiamat kelak, yaitu ketika pembagian kitab amal, ketika di mizan, dan ketika di sirat. Dalam riwayat yang lain, Nabi ﷺ mendapati istrinya ‘Aisyah i menangis, maka beliau bertanya,

مَا يُبْكِيكِ؟» قَالَتْ: ذَكَرْتُ النَّارَ فَبَكَيْتُ، فَهَلْ تَذْكُرُونَ أَهْلِيكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَمَّا فِي ثَلَاثَةِ مَوَاطِنَ فَلَا يَذْكُرُ أَحَدٌ أَحَدًا: عِنْدَ الْمِيزَانِ حَتَّى يَعْلَمَ أَيَخِفُّ مِيزَانُهُ أَوْ يَثْقُلُ، وَعِنْدَ الْكِتَابِ حِينَ يُقَالُ {هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَابِيَهْ} حَتَّى يَعْلَمَ أَيْنَ يَقَعُ كِتَابُهُ أَفِي يَمِينِهِ أَمْ فِي شِمَالِهِ أَمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِهِ، وَعِنْدَ الصِّرَاطِ إِذَا وُضِعَ بَيْنَ ظَهْرَيْ جَهَنَّمَ

Apa yang membuatmu menangis?” ‘Aisyah menjawab, ‘Aku ingat dengan neraka, lalu aku menangis. Apakah kalian mengingat keluarga kalian pada hari kiamat?’ Beliau bersabda, ‘Ada tiga tempat seseorang tidak akan lagi ingat kepada orang lain, (1) saat berada di atas mizan (timbangan amal) sampai ia tahu apakah timbangannya lebih ringan atau berat, (2) ketika menerima buku amalan, yaitu saat dikatakan kepadanya: Ambillah, bacalah kitabku (ini), hingga ia tahu dari mana bukunya akan diberikan dari sebelah kanan atau sebelah kiri atau dari belakang punggungnya. (3) Dan ketika di atas sirat, yaitu titian di antara dua punggung Jahanam’.”([2])

Inilah riwayat-riwayat yang menunjukkan bahwasanya kondisi Al-Mizan pada hari kiamat adalah kondisi yang berat.

Mizan atau timbangan adalah proses setelah hisab. Al-Qurthubi dalam kitabnya Tadzkirah menyebutkan bahwasanya fungsi hisab adalah untuk mengklasifikasikan mana yang amal saleh dan mana yang amal keburukan, sehingga barulah setelah itu kemudian masuk proses mizan, yaitu ditimbang. Oleh karenanya sangat logis kalau proses Al-Mizan setelah hisab.([3]) Sebagian ulama berpendapat, sebagaimana dijelaskan dalam sebagian riwayat, bahwasanya ketika hisab telah selesai, maka seseorang akan diberikan rapor dari catatan amalnya, sehingga sebagian mereka gembira menerima catatan amal dengan tangan kanan, Allah ﷻ berfirman,

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَيَقُولُ هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَابِيَهْ، إِنِّي ظَنَنْتُ أَنِّي مُلَاقٍ حِسَابِيَهْ

Adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kanannya, maka dia berkata, ‘Ambillah, bacalah kitabku (ini)’. Sesungguhnya aku yakin, bahwa (suatu saat) aku akan menerima perhitungan terhadap diriku.” (QS. Al-Haqqah: 19-20)

Adapun sebagian mereka ketakutan tatkala mereka menerima catatan amal dengan tangan kiri mereka, Allah ﷻ berfirman,

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ، وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ، يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ، مَا أَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ، هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ

Dan adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kirinya, maka dia berkata, ‘Alangkah baiknya jika kitabku (ini) tidak diberikan kepadaku. Sehingga aku tidak mengetahui bagaimana perhitunganku. Wahai, kiranya (kematian) itulah yang menyudahi segala sesuatu. Hartaku sama sekali tidak berguna bagiku. Kekuasaanku telah hilang dariku’.” (QS. Al-Haqqah: 25-29)

Makna Al-Mizan (الْمِيْزَانُ)

            Secara bahasa, الْمِيْزَانُ (mizan) bisa berarti آلَةُ الْوَزنِ (alat timbangan), namun juga bisa berarti الْعَدلُ (keadilan), sebagaimana firman Allah ﷻ,

وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ

Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan (keadilan).” (QS. Ar-Rahman: 7)

Akan tetapi yang dimaksud dengan Al-Mizan yang akan kita bahas di sini adalah makna yang pertama, yaitu mizan sebagai alat timbangan.

Dalil-dalil tentang Al-Mizan

Dalil-dalil tentang mizan bisa kita bagi menjadi dua sumber, yaitu dari Al-Quran dan hadits-hadits.

  1. Dalil Al-Quran

Di antara ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang mizan adalah,

  • Al-Qari’ah: 6-9

Allah ﷻ berfirman,

فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ، فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ، وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ، فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ

Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang). Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.” (QS. Al-Qari’ah: 6-9)

  • Al-Mu’minun: 102-103

Allah ﷻ berfirman,

فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ، وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ

Barangsiapa berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam.” (QS. Al-Mu’minun: 102-103)

  • Al-Anbiya’: 47

Allah ﷻ berfirman,

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ

Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat (adil) pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit; sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya’: 47)

Inilah beberapa dalil-dalil yang menunjukkan tentang adanya Al-Mizan pada hari kiamat kelak.

  1. Dalil hadits

Dalil tentang Al-Mizan dalam hadits-hadits sangat banyak sekali. Di antaranya,

  • Hadits tentang dua kalimat yang berat di timbangan

Nabi ﷺ bersabda,

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي المِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ، سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيمِ

Dua kalimat ringan dilisan, berat di timbangan, dan disukai Ar-Rahman, yaitu: Subhanallah wabihamdihi, subhanallahil ‘Adziim.” (Muttafaqun ‘alaih)([4])

  • Hadits tentang keutamaan bersuci

Nabi ﷺ bersabda,

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ

Bersuci adalah setengah dari iman, dan kalimat ‘alhamdulillah’ memenuhi timbangan.”([5])

  • Hadits tentang keutamaan akhlak yang baik

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ المُؤْمِنِ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ

Tidak sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin kelak pada hari kiamat daripada akhlak yang baik.”([6])

Inilah beberapa hadits-hadits yang menyebutkan tentang adanya mizan pada hari kiamat, dan tentu masih banyak lagi hadits-hadits lain yang tidak bisa kita sebutkan semuanya.

Sifat-sifat Al-Mizan

Ada beberapa sifat mizan di antaranya:

  1. Al-Mizan adalah hakiki, bukan majaz

Al-Mizan adalah hakiki, benar adanya, bukan majas sebagaimana yang dikatakan dan diyakini oleh orang-orang Mu’tazilah. Orang-orang Mu’tazilah mengatakan bahwasanya Mizan adalah keadilan. Mereka mengatakan demikian karena menurut logika mereka tidak mungkin sesuatu yang abstrak bisa menjadi konkret untuk ditimbang. Mereka mengatakan bahwasanya amal adalah sesuatu yang abstrak, sehingga tidak mungkin datang pada hari kiamat dalam keadaan kongkret untuk ditimbang. Adapun bantahan terhadap Mu’tazilah dalam hal ini adalah sebagai berikut:

Pertama: Mu’tazilah menyelisihi ijmak para ulama. Hal ini dinukil dalam banyak buku para ulama bahwasanya para salaf ijmak Al-Mizan adalah sesuatu yang hakiki, dan bukan majasi.

Kedua: Terlalu banyak dalil yang menunjukkan bahwa Allah mengubah sesuatu yang abstrak kepada sesuatu yang kongkret. Contohnya seperti sabda Nabi ﷺ tentang surah Al-Baqarah dan surah Ali-‘Imran,

اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ، وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ، فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ، تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا

Bacalah Az-Zahrawain, yakni surat Al-Baqarah dan Ali-‘Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat nanti, seperti dua tumpuk awan menaungi pembacanya, atau seperti dua kelompok burung yang sedang terbang dalam formasi hendak membela pembacanya.”([7])

Contoh juga seperti seseorang dalam alam barzakh, di mana Al-Bara’ bin ‘Azib meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ tentang orang yang beramal saleh,

وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ، حَسَنُ الثِّيَابِ، طَيِّبُ الرِّيحِ، فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ، هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ، فَيَقُولُ لَهُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ، فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ

Selanjutnya, datang kepadanya orang yang berwajah tampan, berpakaian bagus dan harum mewangi. Ia (orang berwajah tampan) berkata, ‘Bergembiralah dengan semua yang menyenangkanmu. Inilah hari yang dijanjikan untukmu’. Maka ia (mayat) pun bertanya, ‘Siapa Anda yang wajahmu membawa kebaikan?’ Maka ia menjawab, ‘Aku adalah amalmu yang saleh’.”

Adapun bagi orang yang kafir,

وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ، قَبِيحُ الثِّيَابِ، مُنْتِنُ الرِّيحِ، فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوءُكَ، هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ، فَيَقُولُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالشَّرِّ، فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ

Kemudian datang kepadanya seorang yang berwajah jelek, berpakaian jelek dan berbau busuk. Orang itu berkata, ‘Berbahagialah dengan apa yang menyakitimu, inilah hari yang dijanjikan padamu’. Lalu ia (mayat) bertanya, ‘Siapa engkau yang berwajah jelek?’ Ia menjawab, ‘Aku adalah amalanmu yang keji’.”([8])

Demikian juga seperti sabda Nabi ﷺ tentang kematian. Nabi ﷺ bersabda,

يُؤْتَى بِالْمَوْتِ كَهَيْئَةِ كَبْشٍ أَمْلَحَ، فَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا أَهْلَ الجَنَّةِ، فَيَشْرَئِبُّونَ وَيَنْظُرُونَ، فَيَقُولُ: هَلْ تَعْرِفُونَ هَذَا؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، هَذَا المَوْتُ، وَكُلُّهُمْ قَدْ رَآهُ

Kematian didatangkan pada hari kiamat seperti kambing amlah (yaitu yang warna bulunya ada hitam dan ada putihnya -red). Kemudian dikatakan, ‘Wahai penduduk surga!’ Maka mereka melihat dengan mendongak, lalu dikatakan, ‘Apa kalian mengetahui ini?’ Mereka menjawab, ‘Ya, itu adalah kematian’. Dan semuanya telah melihatnya.”([9])

Ini semua menunjukkan bahwa sesuatu yang abstrak seperti bacaan Al-Quran, amalan seseorang, bahkan kematian pun bisa didatangkan oleh Allah ﷻ dalam bentuk yang kongkret. Oleh karena itu, mengubah amal saleh menjadi sesuatu yang kongkret untuk ditimbang pada hari kiamat adalah hal mudah bagi Allah ﷻ.

Ketiga: Jika kita mau menakwil, maka akan banyak hal yang harus ditakwil. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Qurthubi bahwa jika mizan ini mau ditakwil maka akan ada banyak hal yang juga harus ditakwil, contohnya seperti sirat, surga dan neraka, jin, syaithan, malaikat, dan yang lainnya. Kalau ini harus ditakwil maka semua juga bisa ditakwil kepada makna yang tidak seharusnya. Oleh karenanya mengatakan bahwa Al-Mizan hanyalah majasi karena merupakan simbol keadilan adalah tidak benar.

Keempat: Dalil-dalil menunjukkan bahwa catatan amal dan bahkan pelakunya akan ditimbang, dan keduanya adalah sesuatu yang kongkret.

Inilah beberapa bantahan terhadap Mu’tazilah yang mengatakan bahwa Al-Mizan adalah majasi, maka kita katakan bahwa Al-Mizan adalah hakiki.

  1. Al-Mizan memiliki dua daun timbangan

Dari Salman Al-Farisi, dari Nabi ﷺ,

يُوضَعُ الْمِيزَانُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَلَوْ وُزِنَ فِيهِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ لَوَسِعَتْ، فَتَقُولُ الْمَلَائِكَةُ: يَا رَبِّ لِمَنْ يَزِنُ هَذَا؟ فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: لِمَنْ شِئْتُ مِنْ خَلْقِي، فَتَقُولُ الْمَلَائِكَةُ: سُبْحَانَكَ مَا عَبَدْنَاكَ حَقَّ عِبَادَتِكَ، وَيُوضَعُ الصِّرَاطُ مِثْلَ حَدَّ الْمُوسَى فَتَقُولُ الْمَلَائِكَةُ: مَنْ تُجِيزُ عَلَى هَذَا؟

Al-Mizan diletakkan pada hari kiamat. Seandainya ditimbang padanya langit dan bumi, maka akan cukup. Maka malaikat berkata, ‘Wahai Rabbku, timbangan ini untuk apa?’ Allah menjawab, ‘Untuk menimbang siapa yang Aku kehendaki dari makhluk ciptaan-Ku’. Kemudian malaikat berkata, ‘Maha Suci Engkau, kami tidak menyembahmu sebagaimana yang Engkau mestinya’.”([10])

Intinya, mizan memiliki dua daun timbangan, satu daun timbangan untuk meletakkan amal keburukan, dan satu daun timbangan lainnya untuk meletakkan amal kebaikan. Dan dari hadits ini menunjukkan bahwa dua daun timbangan mizan tersebut sangat besar, sampai-sampai malaikat kagum melihat timbangan tersebut. Adapun berbicara bagaimana detail dari daun timbangan tersebut maka kita katakan bahwa hanya Allah ﷻ yang tahu hakikatnya. Oleh karenanya datang suatu riwayat dari Malik bin Habib, dia berkata,

كُنَّا عِنْدَ زِيَادٍ، إِذْ جَاءهُ كِتَابٌ مِنْ بَعْضِ المُلُوْكِ، فَكَتَبَ فِيْهِ، وَخَتَمَهُ، ثُمَّ قَالَ لَنَا زِيَادٌ: إِنَّهُ سَأَلَ عَنْ كَفَّتَي المِيْزَانِ: أَمِنْ ذَهَبٍ أَمْ مِنْ فِضَّةٍ؟ فكَتَبتُ إِلَيْهِ: مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

Suatu ketika kami sedang berada di sisi Ziyad Al-Khamiy([11]), tiba-tiba datang surat dari sebagian raja-raja. Kemudian dia membalasnya dan memberi stempel. Kemudian Ziyad berkata kepada kami, ‘Sesungguhnya surat tersebut berisi pertanyaan tentang bagaimana dua daun timbangan mizan, apakah keduanya terbuat dari emas atau perak? Maka aku menjawabnya: Di antara keelokan Islam seseorang adalah dia meninggal perkara yang bukan urusannya’.”([12])

Artinya, bukan urusan kita apakah daun timbangan mizan terbuat dari perak atau emas, yang terpenting adalah kita bisa selamat dari proses mizan tersebut.

  1. Mizan itu adil

Di antara sifat mizan adalah adil. Sebagaimana firman Allah ﷻ yang juga telah kita sebutkan sebelumnya yang berbunyi,

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ

Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat (adil) pada hari Kiamat.” (QS. Al-Anbiya’: 47)

الْقِسْطَ dalam ayat ini artinya adalah adil. Hanya saja Ibnu Hajar dalam Fathul Bari membahas tentang perbedaan para ulama tentang mengapa dibaca الْقِسْطَ. Yaitu apakah الْقِسْطَ merupakan bentuk sifat dari kata الْمَوَازِينَ, atau sebagai maf’ul li-ajlih.([13]) Akan tetapi intinya, semua para ulama sepakat bahwa maksud dari الْقِسْطَ di sini adalah adil, yaitu Allah ﷻ meletakkan mizan dengan seadil-adilnya.

  1. Detail

Di antara sifat mizan adalah detail. Oleh karenanya dalam ayat yang sama Allah ﷻ juga mengatakan,

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ

Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat (adil) pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit; sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya’: 47)

Oleh karenanya seseorang hendaknya tidak ragu dalam berbuat kebaikan, karena sifat mizan itu adil dan detail. Dan Nabi ﷺ telah bersabda,

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

Janganlah kamu menganggap remeh sedikit pun suatu kebaikan, walaupun kamu hanya bermanis muka kepada saudaramu (sesama muslim) ketika bertemu.”([14])

Maka janganlah khawatir, senyuman yang kita lemparkan kepada saudara kita kelak akan ada timbangannya, dan akan berpengaruh bagi kita di akhirat. Demikian pula sabda Nabi ﷺ,

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

Jagalah kalian dari neraka sekalipun dengan bersedekah dengan sepenggal kurma.”([15])

Inilah beberapa sifat-sifat yang berkaitan dengan Al-Mizan.

Berapa jumlah mizan?

Para ulama khilaf dalam hal ini, ada yang mengatakan mizan jumlahnya hanya satu, dan sebagian yang lain mengatakan bahwa mizan berbilang (banyak).

  1. Mizan jumlahnya satu

Para ulama yang berpendapat bahwa mizan jumlahnya hanya satu, mereka berdalil berdasarkan riwayat-riwayat yang datang dalam bentuk lafal mufrad (tunggal). Di antaranya seperti hadits yang telah kita sebutkan,

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ

Dan kalimat ‘alhamdulillah’ memenuhi timbangan.”([16])

Adapun menurut mereka, lafal-lafal yang datang dalam bentuk jamak itu ditinjau dari banyaknya model orang yang ditimbang amalnya, atau karena banyaknya model amal itu sendiri.

  1. Mizan jumlahnya berbilang

Para ulama berpendapat bahwasanya mizan itu berbilang berdasarkan lafal yang datang berbilang. Yaitu firman Allah ﷻ,

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ

Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat (adil) pada hari Kiamat.” (QS. Al-Anbiya’: 47)

Di antaranya juga firman Allah ﷻ,

فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ، فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ، وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ، فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ

Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang). Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.” (QS. Al-Qari’ah: 6-9)

Kata الْمَوَازِينَ dalam ayat ini menunjukkan jumlah jamak, sehingga sebagian ulama berpendapat bahwasanya mizan itu banyak, dan bukan hanya satu. Ada dua pendapat tentang mengapa mizan itu berbilang. Pendapat pertama mengatakan bahwa mizan itu berbilang karena berdasarkan jumlah orang, yaitu masing-masing orang akan dihadirkan baginya timbangan. Pendapat kedua mengatakan bahwa mizan itu berbilang karena berdasarkan model amal, sehingga setiap amal ada timbangannya.

Wallahu a’lam bishshawwab, inilah di antara khilaf di kalangan para ulama Ahlussunnah tentang apakah mizan itu satu atau berbilang, dan masing-masing punya dalil. Akan tetapi intinya, proses mizan itu adalah sesuatu yang pasti terjadi.

Apa yang ditimbang?

Kalau kita memperhatikan dalil-dalil yang ada, maka dalil-dalil tersebut menunjukkan bahwa yang ditimbang ada tiga hal,

Pertama: Amal itu sendiri. Sebagaimana hadits-hadits yang telah kita sebutkan di antaranya,

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي المِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ، سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيمِ

Dua kalimat ringan dilisan, berat di timbangan, dan disukai Ar-Rahman, yaitu: Subhanallah wabihamdihi, subhanallahil ‘Adziim.”([17])

Demikian juga sabda Nabi ﷺ,

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ

Dan kalimat ‘alhamdulillah’ memenuhi timbangan.”([18])

Ini menunjukkan bahwa zikir yang ditimbang. Demikian juga sabda Nabi ﷺ,

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ المُؤْمِنِ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ

Tidak sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin kelak pada hari kiamat daripada akhlak yang baik.”([19])

Ini menunjukkan bahwa yang ditimbang adalah amalan itu sendiri.

Kedua: Catatan amal. Hal ini sebagaimana hadits tentang pemilik kartu. Nabi ﷺ bersabda,

يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ، فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: هَلْ تُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ فَيَقُولُ: لَا، يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ فَيَقُولُ: لَا، ثُمَّ يَقُولُ: أَلَكَ عُذْرٌ، أَلَكَ حَسَنَةٌ؟ فَيُهَابُ الرَّجُلُ، فَيَقُولُ: لَا، فَيَقُولُ: بَلَى، إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَاتٍ، وَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ، فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، قَالَ: فَيَقُولُ: يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ، مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ فَيَقُولُ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ، فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كِفَّةٍ، وَالْبِطَاقَةُ فِي كِفَّةٍ، فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ، وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى: ” الْبِطَاقَةُ: الرُّقْعَةُ، وَأَهْلُ مِصْرَ يَقُولُونَ لِلرُّقْعَةِ: بِطَاقَةً

Pada hari kiamat akan di teriakan seorang laki-laki dari umatku di atas kepala seluruh makhluk. Maka di sebarkanlah untuknya sembilan puluh sembilan buku catatan (yang isinya seluruhnya maksiat), setiap buku catatan yang panjangnya sejauh mata memandang. Kemudian Allah U berfirman, ‘Apakah kamu mengingkari sesuatu dari catatan ini?’ Dia menjawab, ‘Tidak wahai Rabbku’. Allah bertanya lagi, ‘Apakah Malaikat penulis-Ku menzalimimu (salah catat)?’ Dia menjawab, ‘Tidak’. Kemudian Allah berfirman, ‘Apakah kamu punya alasan? Apakah kamu punya kebaikan?’ Maka dengan rasa takut, laki-laki itu menjawab, ‘Tidak’. Allah berfirman, ‘Ya, sesungguhnya kamu memiliki beberapa kebaikan di sisi Kami. Sesungguhnya pada hari ini tidak ada lagi kezaliman bagi dirimu’. Maka di keluarkanlah untuknya kartu yang bertuliskan, ‘Laa ilaaha illallah wa anna Muhammadan ‘Abduhu wa rasuuluhu (Tidak ada Tuhan yang berhak di sembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya)’. Maka Lelaki itu berkata, ‘Wahai Rabbku, apa pengaruhnya kartu ini dengan buku catatan ini?’ Allah menjawab, ‘Sesungguhnya kamu tidak akan dizalimi’. Maka di letakkanlah catatan-catatan itu di atas satu bagian (di sisi) timbangan, dan kartu di bagian lain (sisi yang lain) dari timbangan, ternyata catatan-catatan itu lebih ringan dan kartu itu lebih berat.”([20])

Ini adalah dalil yang menunjukkan bahwasanya yang diletakkan di timbangan adalah catatan amal seseorang.

Ketiga: Pelaku. Di antara yang akan ditumbang adalah pelaku (seorang hamba). Hal ini berdasarkan hadits tentang Ibnu Mas’ud h. Disebutkan dalam hadits tersebut,

أَنَّهُ كَانَ يَجْتَنِي سِوَاكًا مِنَ الْأَرَاكِ، وَكَانَ دَقِيقَ السَّاقَيْنِ، فَجَعَلَتِ الرِّيحُ تَكْفَؤُهُ، فَضَحِكَ الْقَوْمُ مِنْهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مِمَّ تَضْحَكُونَ؟ قَالُوا: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، مِنْ دِقَّةِ سَاقَيْهِ، فَقَالَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَهُمَا أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ أُحُدٍ

Ia (Ibnu Mas’ud) memetik siwak dari pohon Arak dan ia memiliki betis yang kecil. Tiba-tiba angin menyingkap kedua kakinya lalu orang-orang menertawakannya. Rasulullah bertanya, ‘Apa yang kalian tertawakan?’ Mereka menjawab, ‘Wahai Nabi Allah, kami menertawakan betisnya yang kecil’. Maka beliau bersabda, ‘Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kedua betisnya lebih berat timbangannya dari gunung Uhud’.”([21])

Kemudian juga datang dalam sebuah hadits,

إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ العَظِيمُ السَّمِينُ يَوْمَ القِيَامَةِ، لاَ يَزِنُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ

Sungguh pada hari kiamat akan datang seseorang yang berbadan gemuk namun di sisi Allah timbangannya tidak dapat melebihi berat sayap seekor nyamuk.” ([22])

Dua hadits ini menunjukkan bahwasanya di antara yang ditimbang adalah pelakunya sendiri, yaitu seorang hamba. Dan di sini kita melihat bahwa sebesar apa pun badan orang kafir, tidak ada nilainya ketika di timbangan nanti karena kekafirannya. Berbeda dengan Ibnu Mas’ud h yang kurus, tapi karena tubuhnya penuh keimanan maka  kedua betisnya saja sudah bisa lebih berat daripada gunung Uhud.

Bagaimana mengompromikan ketiga bentuk perkara yang ditimbang di atas? Sebagian ulama mengatakan bahwa ketiga-tiganya akan ditimbang seluruhnya, seperti pendapat Al-Hafidz Al-Hakami([23]). Dalam sebagian riwayat hadits pemilik kartu, disebutkan bahwa seseorang akan ditimbang pada hari kiamat, kemudian akan ditambahkan lagi catatan amalnya.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِي، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” تُوضَعُ الْمَوَازِينُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُؤْتَى بِالرَّجُلِ، فَيُوضَعُ فِي كِفَّةٍ، فَيُوضَعُ مَا أُحْصِيَ عَلَيْهِ، فَتَمَايَلَ بِهِ الْمِيزَانُ “، قَالَ: ” فَيُبْعَثُ بِهِ إِلَى النَّارِ، فَإِذَا أُدْبِرَ بِهِ إِذَا صَائِحٌ يَصِيحُ مِنْ عِنْدِ الرَّحْمَنِ، يَقُولُ: لَا تَعْجَلُوا، لَا تَعْجَلُوا، فَإِنَّهُ قَدْ بَقِيَ لَهُ، فَيُؤْتَى بِبِطَاقَةٍ فِيهَا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ،، فَتُوضَعُ مَعَ الرَّجُلِ فِي كِفَّةٍ، حَتَّى يَمِيلَ بِهِ الْمِيزَانُ

Dari Abdillah bin Ámr bin al-Áash ia berkata, Rasulullah bersabda, “Diletakan mizan-mizan pada hari kiamat, lalu dihadirkan seorang lelaki, lalu diletakan lelaki tersebut di daun timbangan, lalu diletakan catatan keburukannya (di daun timbangan satunya) maka mizan (timbangan) pun menjadi miring ke catatan keburukannya. Lalu iapun dikirim ke neraka, ketika dia dibalikan (hendak dibawa ke neraka) tiba-tiba ada suara teriakan dari sisi Ar-Rahman (Allah) yang berkata, “Jangan buru-buru, jangan buru-buru (dilempar ke neraka) !. sesungguhnya masih tersisa baginya satu kartunya yang tertulis Laa ilaaha illallahu”. Lalu kartu tersebut diletakan bersama lelaki tersebut di daun timbangan (kebaikan) maka lebih beratlah daun timbangan kebaikan tersebut”([24])

Adapun sebagian ulama yang lain mengatakan tidak demikian, akan tetapi masing-masing dari ketiga bentuk tersebut akan ditimbang sesuai kondisi. Sehingga ada yang kondisinya hanya ditimbang amalnya, ada kondisi yang hanya ditimbang adalah catatan amalnya, dan ada kondisi yang hanya ditimbang dirinya. Akan tetapi baik yang ditimbang adalah amalnya, atau catatan amalnya, atau bahkan dirinya, berat atau ringannya tetap kembali kepada kualitas amal. Contohnya seperti kartu “Laa Ilaha Illallah”. Setiap mukmin memiliki kartu tersebut. Akan tetapi apakah beratnya kartu masing-masing orang seperti yang digambarkan dalam hadits? Tentu tidak, karena kualitas tauhid seseorang berbeda-beda. Semakin tinggi tauhid seseorang, maka kualitas kartunya akan semakin berat di timbangan kelak. Demikian pula dengan akhlak yang baik, semua orang punya, akan tetapi tingkatannya juga berbeda-beda. Demikian pula amalan shalat juga akan ditimbang, akan tetapi tentu shalat seseorang tentu berbeda dengan orang yang lainnya. Oleh karenanya, apa pun yang ditimbang dari ketiga bentuk perkara ini, tetap saja kembali (penilaian) kepada kualitas amal itu sendiri.

Oleh karena itu, karena umur yang terbatas, maka hendaknya seseorang berusaha beramal dengan amal yang berkualitas tinggi, baik dalam sedekah, dalam dakwah, dalam berbakti kepada orang tua, dalam berbuat baik kepada keluarga, dan dalam berbagai macam amal kebaikan lainnya. Ketahuilah bahwa kita terkadang mengerjakan ibadah yang sama, dalam waktu yang sama, di tempat yang sama, namun kualitasnya berbeda. Maka jangan sampai waktu yang terus berjalan ini kita sisipkan amalan yang tidak berkualitas. Teruslah berusaha untuk mencapai amal yang berkualitas, karena yang demikian akan tampak pengaruhnya di timbangan kelak pada hari kiamat.

timbangan mizan

Apakah orang kafir ditimbang amalnya?

Perkara ini juga merupakah perkara yang khilaf di kalangan para ulama. Wallahu a’lam bishshawwab, pembahasan ini khilafnya kembali kepada khilaf tentang masalah apakah orang kafir dihisab atau tidak. Namun pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah orang kafir juga ditimbang sebagaimana mereka juga dihisab. Hal ini sebagaimana firman Allah ﷻ,

وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ، تَلْفَحُ وُجُوهَهُمُ النَّارُ وَهُمْ فِيهَا كَالِحُونَ، أَلَمْ تَكُنْ آيَاتِي تُتْلَى عَلَيْكُمْ فَكُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ

Dan barang siapa ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam. Wajah mereka dibakar api neraka, dan mereka di neraka dalam keadaan muram dengan bibir yang cacat. Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu, tetapi kamu selalu mendustakannya?” (QS. Al-Mu’minun: 103-105)

Yang mendustakan ayat Allah yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang-orang kafir. Maka ini dalil yang sangat tegas menunjukkan bahwasanya orang-orang kafir juga ditimbang. Adapun untuk apa mereka ditimbang? Maka kita katakan bahwa ada banyak hikmahnya. Mungkin di antaranya untuk menunjukkan keadilan Allah ﷻ, mungkin untuk mengetahui derajatnya di neraka, dan yang lainnya.

Adakah orang yang tidak ditimbang?

Para ulama mengatakan bahwasanya ada dua model orang yang tidak akan ditimbang pada hari kiamat kelak,

Pertama: Yaitu seorang mukmin yang masuk surga tanpa hisab. Telah kita sampaikan bahwasanya mizan adalah cabang daripada hisab, dan proses setelah hisab adalah mizan. Maka jika seseorang tidak dihisab, maka dia pasti langsung masuk surga tanpa melalui proses mizan.

Kedua: Yaitu orang kafir yang masuk neraka tanpa hisab. Mereka orang-orang kafir masuk surga tanpa hisab dan mizan karena dosanya sudah sangat banyak sekali, dan kebaikannya tidak ada dan tidak dianggap sama sekali, sehingga tidak perlu dihisab dan ditimbang. Adapun orang-orang kafir yang memiliki kebaikan, maka mungkin dia akan ditimbang terlebih dahulu untuk diketahui derajatnya di neraka.

Hasil dari Al-Mizan

Ada tiga kemungkinan dalam hal ini,

  1. Jika lebih berat kebajikan seseorang daripada keburukannya, maka dia masuk surga.
  2. Jika berat kebaikan dan keburukannya sama, maka dia menjadi Ashabul A’raa Siapakah mereka? Sebagaimana yang Allah ﷻ sebutkan dalam surah Al-A’raf, mereka adalah orang-orang yang timbangannya sama. Maka mereka kemudian ditahan di suatu tempat yang tinggi karena الأَعْرَافُ al-A’raaf secara bahasa berasal merupakan kata plural dari عُرْفٌ yang artinya sesuatu yang tinggi([25]), sementara orang-orang sudah masuk surga dan neraka. Akan tetapi setelah itu Allah ﷻ kemudian memasukkan mereka ke dalam surga. Mereka di tahan di tempat tinggi tersebut antara surga dan neraka sehingga mereka bisa melihat penghuni surga dan penghuni neraka.

Allah berfirman :

وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ، وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَارُهُمْ تِلْقَاءَ أَصْحَابِ النَّارِ قَالُوا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ، وَنَادَى أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُمْ بِسِيمَاهُمْ قَالُوا مَا أَغْنَى عَنْكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ، أَهَؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ

Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A´raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga: “Salaamun ´alaikum”. Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).

Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu”. Dan orang-orang yang di atas A´raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan: “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu”.

(Orang-orang di atas A´raaf bertanya kepada penghuni neraka): “Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?”. (Kepada orang mukmin itu dikatakan): “Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati” (QS Al-A’rof : 46-49)

Ibnu Katsir berkata :

وَاخْتَلَفَتْ عِبَارَاتُ الْمُفَسِّرِينَ فِي أَصْحَابِ الْأَعْرَافِ مَنْ هُمْ، وَكُلُّهَا قَرِيبَةٌ تَرْجِعُ إِلَى مَعْنًى وَاحِدٍ، وَهُوَ أَنَّهُمْ قَوْمٌ اسْتَوَتْ حَسَنَاتُهُمْ وَسَيِّئَاتُهُمْ. نَصَّ عَلَيْهِ حُذَيْفَةُ، وَابْنُ عَبَّاسٍ، وَابْنُ مَسْعُودٍ، وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ، رَحِمَهُمُ اللَّهُ

“Ungkapan-ungkapan para ahli tafsir bervariasi tentang siapakah Ashaabul A’roof?. Semua ungkapan tersebut mirip dan kembali kepada satu makna, yaitu mereka adalah suatu kaum yang kebaikan-kebaikan mereka sama dengan keburukan-keburukan mereka. Makna ini sebagaimana telah dinyatakan oleh Hudzaifah, Ibnu Ábbas, dan Ibnu Ábbas radhiallahu ánhum, dan juga banyak dari kalangan salaf dan kholaf (ulama belakangan)” ([26])

Thahir bin Ásyur berkata :

وَالَّذِي يَنْبَغِي تَفْسِيرُ الْآيَةِ بِهِ: أَنَّ هَذِهِ الْأَعْرَافَ جَعَلَهَا اللَّهُ مَكَانًا يُوقِفُ بِهِ مَنْ جَعَلَهُ اللَّهُ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ قَبْلَ دُخُولِهِ إِيَّاهَا، وَذَلِكَ ضَرْبٌ مِنَ الْعِقَابِ خَفِيفٌ، فَجَعَلَ الدَّاخِلِينَ إِلَى الْجَنَّةِ مُتَفَاوِتِينَ فِي السَّبْقِ تَفَاوُتًا يَعْلَمُ اللَّهُ أَسْبَابَهُ وَمَقَادِيرَهُ

“Tafsir ayat ini yang semestinya adalah al-A’roof Allah jadikan sebagai tempat untuk menahan sebagian penghuni surga sebelum masuk surga. Dan ini semacam hukuman ringan. Allah menjadikan orang-orang yang akan masuk surga bertingkat-tingkat dalam waktu memasukinya (siapa yang lebih dahulu-ed), yang Allah telah tahu sebab-sebab perbedaan tersebut dan waktu perbedaan tersebut” ([27])

  1. Jika lebih ringan kebajikannya daripada keburukannya (artinya keburukannya lebih berat), maka dia harusnya masuk neraka, kecuali dia mendapat syafaat, atau diampuni oleh Allah, dan pengecualian-pengecualian yang lainnya.

hasil timbangan mizan

Penutup

Ath-Thabari meriwayatkannya dalam tafsirnya bahwa Ibnu Mas’ud h berkata tentang hisab dan mizan,

يُحاسَبُ النّاسُ يَوْمَ القِيَامَةِ، فَمَن كَانَتْ حَسَناتُهُ أَكْثَرَ مِنْ سَيِّئاتِهِ بِوَاحِدَةٍ دَخَلَ الجَنَّةَ، وَمَن كَانَتْ سَيِّئاتُهُ أَكْثَرَ مِنْ حَسَناتِهِ بِوَاحِدَةٍ دَخَلَ النّارَ. ثُمَّ قَرَأَ قَوْلُ اللَّهِ: (فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ، وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ) . . . فَمَن اسْتَوَتْ حَسَناتُهُ وَسَيِّئاتُهُ كَانَ مِنْ أَصْحابِ الأَعْرافِ

Manusia akan dihisab pada hari kiamat kelak. Barang siapa yang kebaikannya lebih banyak daripada keburukannya meskipun satu kebaikan saja, maka dia masuk surga. Dan barang siapa keburukannya lebih banyak daripada kebaikannya meskipun satu keburukan saja, maka dia masuk surga.” Kemudian dia (Ibnu Mas’ud) membaca firman Allah: Maka barangsiapa berat timbangan (kebaikan)nya, mereka itulah orang yang beruntung, dan barangsiapa ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri’ (QS. Al-A’raf: 89). Kemudian dia (Ibnu Mas’ud) berkata, ‘Barang siapa yang kebaikan dan keburukannya sama beratnya maka dia termasuk Ashabul A’raf’.”([28])

Maka dari sini kita tahu bahwasanya jangan seseorang meremehkan kebaikan, dan jangan pula meremehkan kemaksiatan. Maka jangan lagi kita menzalimi orang lain dengan gibah, namimah dan menghinanya. Sesungguhnya dengan kezaliman itu, kita akan mentransfer kebaikan kita kepada orang yang kita zalimi, dan itu akan mempersulit kita pada hari kiamat kelak, karena pada saat itu kita sangat butuh dengan yang namanya pahala amal kebaikan. Ingatlah bahwa kelak seorang ayah akan lupa pada anaknya, seorang anak akan lupa pada orang tuanya, hanya karena pada waktu itu dia sendiri butuh keselamatan. Maka ingatlah bahwa kebaikan sekecil dan sedikit apa pun itu akan sangat bermanfaat pada hari kiamat kelak.

Artikel ini penggalan dari Buku Syarah Rukum Iman Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

_______________________

([1])  HR. Ahmad No. 24696

Hadits ini diperselisihkan oleh para ulama tentang derajat haditsnya. Sebagian ulama mendha’ifkannya karena Hasan Al-Bashri meriwayatkan dari ‘Aisyah, sementara Hasan Al-Bashri tidak bertemu dengan ‘Aisyah i, sehingga riwayatnya terputus. Akan tetapi sebagian ulama menghasankan hadits ini seperti Al-‘Iraqi, karena hadits ini dikuatkan dengan hadits Asy-Sya’bi dari ‘Aisyah yang juga haditsnya terputus, karena Asy-Sya’bi juga seorang tabiin yang tidak bertemu dengan ‘Aisyah i.

([2])  HR. Abu Daud No. 4775, hadits ini juga dinilai dha’if karena diriwayat dari Hasan Al-Bashri, dari ‘Aisyah i. Sementara Hasan Al-Bashri tidak bertemu dengan ‘Aisyah i.

([3])  Lihat At-Tadzkirah hal. 715

([4])  HR. Bukhari No. 6682 dan HR. Muslim No. 2694

([5])  HR. Muslim No. 223

([6])  HR. At-Tirmidzi No. 2002, dinyatakan sahih oleh Syaikh Al-Albani.

([7])  HR. Muslim No. 804

([8])  HR. Ahmad No. 18534, hadits ini sanadnya sahih.

([9])  HR. Bukhari No. 4730

([10]) HR. Al-Hakim No. 8739 dalam Al-Mustadrak, dinyatakan sahih menurut syarat Imam Muslim oleh Syaikh Al-Abani dalam Silsilah Ash-Shahihah No. 941.

([11]) Seorang ulama yang juga merupakan sahabat Imam Malik r

([12])  Siyar A’lam An-Nubala’ 9/312

([13])  Lihat Fathul Baari 13/538

([14])  HR. Muslim No. 2626

([15])  HR. Bukhari No. 1417

([16])  HR. Muslim No. 223

([17])  HR. Bukhari No. 6682 dan HR. Muslim No. 2694

([18])  HR. Muslim No. 223

([19])  HR. At-Tirmidzi No. 2002, dinyatakan sahih oleh Syaikh Al-Albani.

([20])  HR. Ibnu Majah No. 4300

([21])  HR. Ahmad No. 3991, dinyatakan sahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah No. 3192

([22])  HR. Bukhari No. 4279 dan HR. Muslim 2785

([23])  Lihat Maáarij al-Qobuul 2/849

([24])  Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad no 7066 dan dinilai sanadnya kuat oleh para pentahqiq al-Musnad

([25])  Lihat Gharib al-Qurán, Ibnu Qutaibah hal 168 dan al-Mufrodaat, Ar-Raghib hal 562

([26])  Tafsir Ibnu Katsir 3/418

([27])  At-Tahrir wa At-Tanwir 8-b/142

([28])  Tafsir Ath-Thabari 12/453-454